Beranda blog Halaman 28

Soal Aturan WFH Sehari dalam Sepekan, Pemkab Jepara Masih Tunggu Arahan Pusat

0

BETANEWS.ID, JEPARA– Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara masih menunggu peraturan teknis dari pemerintah pusat terkait wacana penerapan Work From Home (WFH) sehari dalam satu pekan bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Sebagaimana diketahui, ditutupnya Selat Hormuz akibat perang antara Amerika Serikat – Israel melawan Iran, membuat jalur distribusi minyak global menjadi terganggu.

Sehingga untuk menghemat stok Bahan Bakar Minyak (BBM), Pemerintah Pusat berencana untuk menerapkan skema WFH dalam sepekan bagi ASN.  

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Jepara, Ary Bachtiar mengatakan, penerapan WFH di lingkungan Pemkab Jepara sudah diterapkan dua hari sebelum dan tiga hari setelah Liburan Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.

“Kebijakan WFH yang kita anut itu kan yang kemarin, yang sebelum dan setelah lebaran. Kalau yang wacana itu, masih menunggu pusat, karena hitam di atas putih (petunjuk teknis)-nya dari pemerintah pusat juga belum ada,” kata Ary melalui sambungan telepon pada Senin, (30/3/2026).

Baca juga : Diikuti Sembilan Calon, Empat Desa di Jepara Gelar Pemilihan Petinggi PAW

Akan tetapi Ary menilai Jepara tidak perlu menerapkan aturan tersebut sebab dinilai tidak efektif. Sehingga Ary mengungkapkan sejak wacana itu digulirkan di Jepara belum ada rencana untuk menerapkan skema tersebut.

“Kalau sejauh ini sih belum ada kebijakan untuk WFH. Kalau saya kira malah tidak efektif, saya lihat malah baiknya tidak memberlakukan,” ungkap Ary.

Akan tetapi keputusan untuk apakah nantinya Pemkab Jepara akan menerapkan aturan tersebut atau tidak, Ary mengatakan, pihaknya akan melakukan kajian terlebih dahulu setelah petunjuk teknis dari pemerintah pusat sudah keluar. Hasil dari kajian tersebut nantinya akan disampaikan kepada Bupati Jepara.

“Tapi nanti kita lihat dulu, kita kaji dulu setelah petunjuknya keluar, efektivitasnya seperti apa nanti kita kaji, sehingga tidak serta merta sebagai suatu keharusan,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

GOR Pesantenan Pati Perdana Gelar Turnamen Badminton se-Jateng

0
Sejumlah atlet bulu tangkis dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah bersaing menjadi yang terbaik dalam ajang Karang Taruna Jateng Open Cup 2026 pada 30 Maret-2 April 2026.. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Ratusan atlet bulu tangkis dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Tengah bersaing menjadi yang terbaik dalam ajang Karang Taruna Jateng Open Cup 2026 pada 30 Maret-2 April 2026. Kejuaraan yang digelar Pengurus Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kabupaten Pati ini memperebutkan total hadiah puluhan juta rupiah.

Ajang ini menjadi tonggak sejarah baru bagi dunia olahraga Bumi Mina Tani karena untuk pertama kalinya menggunakan GOR Pesantenan sebagai venue kejuaraan bulu tangkis tingkat provinsi. Pemilihan lokasi ini menjadi bukti kesiapan infrastruktur olahraga di Kabupaten Pati dalam menyambut turnamen berskala besar serta memberikan pengalaman tanding baru bagi para atlet yang berlaga.

Ketua PBSI Pati, Imbang Setiawan menjelaskan, kejuaraan ini menjadi ajang pembinaan atlet usia dini agar skill, pengalaman, dan mental bertandingnya semakin terasah. Dari seringnya mereka mengikuti kejuaraan, harapannya nanti akan lahir atlet-atlet yang berprestasi dari Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Pati.

“Selain itu, ajang ini juga jadi momen bersejarah bagi kami BPSI Pati, karena untuk pertama kalinya kami bisa mengadakan perlombaan Badminton Open se Jawa Tengah di GOR Pesantenan,” katanya seusai pembukaan turnamen, Senin (30/3/2026).

Baca juga: Latih Kondisi Fisik Usai Libur Lebaran, Persijap Targetkan Poin Penuh Lawan Persik

Dalam ajang ini, PBSI Pati mempertandingkan 12 nomor. Untuk tunggal ada kategori usia dini putra-putri, anak putra-putri, pemula putra-putri, remaja putra-putri, dan taruna putra-putri.

Kemudian untuk ganda ada nomor anak putra-putri, pemula putra-putri, remaja putra-putri, dan taruna putra-putri. Selanjutnya kategori dewasa ada ganda dewasa dasar, ganda dewasa madya, dan ganda dewasa veteran.

“Kejuaraan ini digelar empat hari, pesertanya 300 atlet lebih. Finalnya Kamis (2/4/2026). Siang ini untuk pertandingan kategori usia dini dan untuk nanti malam kami adakan pertandingan bagi kelompok dewasa,” beber Imbang.

Untuk hadiah, pihaknya menyediakan total Rp65 juta. Hadiah tersebut bervariasi berupa piala, piagam, dan uang pembinaan mulai Rp800 ribu untuk juara satu usia dini hingga Rp1,5 juta di kategori ganda.

Salah satu peserta, Pradikha Rizki Setiawan, mengaku jauh-jauh datang dari Kabupaten Klaten dengan membawa misi juara. Atlet dari Simple Badminton Academy Klaten akan bertanding di dua nomor yaitu tunggal anak putra dan ganda anak putra.

“Ikut main di sini biar mainnya tambah bagus. Targetnya optimis juara,” pungkas siswa kelas IV Sekolah Dasar (SD) itu.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Pemkab Kudus Tunggu Juknis WFH, Pastikan Layanan Publik Tetap Berjalan

0
Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kudus, Tulus Tri Yatmika. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus menyatakan siap mengikuti kebijakan pemerintah pusat terkait rencana penerapan work from home (WFH). Namun hingga kini, petunjuk teknis pelaksanaan kebijakan tersebut masih belum diterima.

Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kudus, Tulus Tri Yatmika mengatakan, daerah pada prinsipnya akan mengikuti kebijakan pusat. Ia menegaskan, bahwa pemerintah daerah tidak memiliki pilihan selain menjalankan kebijakan tersebut.

“Kalau itu memang kebijakan pusat, mau tidak mau daerah harus ikut melaksanakan. Tapi sampai sekarang juknisnya belum ada,” ujar Tulus, Senin (30/3/2026).

Meski demikian, Pemkab Kudus memastikan layanan publik tetap berjalan normal dan tidak terdampak kebijakan WFH. Hal ini dilakukan agar pelayanan kepada masyarakat tetap optimal.

“Yang terkait dengan layanan publik tidak boleh di-WFH-kan, seperti kependudukan dan pencatatan sipil, layanan kesehatan, perizinan, serta pendidikan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung secara tatap muka di sekolah. Dengan demikian, tenaga pendidik tetap bekerja seperti biasa di tempat tugasnya.

Baca juga: Cegah Praktik Korupsi, Ahmad Luthfi Hadirkan KPK untuk Bekali Kepala Daerah dan DPRD

“Karena tidak ada pembelajaran daring, otomatis guru tetap harus masuk,” katanya.

Tulus juga mengungkapkan, bahwa upaya efisiensi anggaran telah dilakukan sejak awal. Salah satunya melalui pemangkasan anggaran perjalanan dinas hingga lebih dari 50 persen.

Ia menyebutkan, bahwa rapat kini lebih banyak dilakukan secara daring untuk menekan pengeluaran. Bahkan, konsumsi dalam kegiatan rapat juga telah ditiadakan sebagai bagian dari efisiensi.

“Sekarang rapat sudah banyak dilakukan secara daring, perjalanan dinas juga berkurang, bahkan konsumsi rapat sudah tidak ada. Kalau harus berhemat lagi, kami juga bingung bagian mana yang bisa dikurangi,” ungkapnya.

Terkait kebijakan ke depan, Pemkab Kudus masih menunggu arahan resmi dari pemerintah pusat. Pemerintah daerah memastikan kualitas pelayanan publik tidak akan menurun meskipun ada penyesuaian sistem kerja.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Pemkab Kudus Permudah Perizinan, Dorong Investasi Guna Serap Tenaga Kerja

0
Bupati Kudus Sam'ani Intakoris. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus di bawah kepemimpinan Bupati Sam’ani Intakoris dan Wakil Bupati Bellinda Putri Sabrina Birton terus mendorong percepatan perizinan guna meningkatkan investasi daerah.

Langkah ini dilakukan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus menekan angka pengangguran di Kabupaten Kudus.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan, pemerintah daerah saat ini fokus menghadirkan proses perizinan yang lebih cepat dan mudah bagi masyarakat maupun pelaku usaha.

“Fokus kami bagaimana proses pengurusan perizinan bisa lebih cepat. Selama ini masyarakat menganggap pengurusan izin itu lama, padahal sekarang sudah ada regulasi baru yang mempermudah,” ujar Sam’ani belum lama ini.

Ia menambahkan, Pemkab Kudus juga memberikan perhatian khusus pada aspek teknis, seperti kemudahan dalam pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) dan Sertifikat Laik Fungsi (SLF), agar tidak lagi menjadi hambatan bagi dunia usaha.

“Sekarang sudah berubah. Pengurusan PBG dan SLF jauh lebih mudah dibanding sebelumnya,” katanya.

Menurut Sam’ani, kemudahan perizinan menjadi salah satu faktor utama yang menarik minat investor untuk menanamkan modal di suatu daerah.

“Kalau perizinan dipermudah dan dipercepat, investor akan lebih tertarik masuk ke Kudus,” jelasnya.

Ia menilai, masuknya investasi baru akan berdampak langsung pada peningkatan penyerapan tenaga kerja, khususnya bagi lulusan baru dan angkatan kerja produktif.

“Kemudahan perizinan akan mendorong investasi dan membuka lapangan kerja baru. Ini menjadi perhatian utama kami,” tambahnya.

Lebih lanjut, Sam’ani menyebut tren investasi di Kudus menunjukkan perkembangan positif. Hal ini ditandai dengan mulai dibangunnya dua hotel berbintang serta meningkatnya minat investor terhadap sejumlah aset yang sebelumnya mangkrak.

“Beberapa bangunan seperti Ngasirah dan eks SMP 3 Kudus mulai diminati investor. Jika terealisasi, tentu akan membuka banyak lapangan kerja baru,” tegasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Diikuti Sembilan Calon, Empat Desa di Jepara Gelar Pemilihan Petinggi PAW

0
Proses pemilihan Petinggi Pengganti Antarwaktu (PAW) di Jepara. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Sebanyak empat desa di Kabupaten Jepara menggelar pemilihan petinggi atau kepala desa Pengganti Antarwaktu (PAW) pada Senin (30/3/2026).

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Masyarakat dan Desa ( Dinsospermades) Kabupaten Jepara, Muh Ali mengatakan, empat desa tersebut yaitu Desa Bugel dan Tedunan, Kecamatan Kedung, Desa Bandung, Kecamatan Mayong, dan Desa Platar, Kecamatan Tahunan.

Muh Ali melanjutkan, pemilihan Petinggi PAW itu dilakukan untuk mengisi kekosongan jabatan akibat petinggi yang sebelumnya meninggal. Selama kekosongan jabatan, posisi tersebut diisi oleh penjabat petinggi dari Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ditugaskan.

“Pemilihan ini untuk mengisi jabatan petinggi sampai dengan pemilihan petinggi serentak yang ditentukan oleh Pemkab Jepara,” kata Muh Ali.

Pemilihan Petinggi PAW itu dilakukan melalui skema Musyawarah Desa (Musdes). Sebelum Musdes pemilihan petinggi, masing-masing desa telah melaksanakan Musdes Pendahuluan Pemilihan Petinggi Antarwaktu pada Kamis (26/3/2026).

”Dari Musdes pendahuluan itu ditentukan calon petinggi dan calon pemilih yang merupakan tokoh masyarakat dan tokoh agama,” ujarnya.

Muh Ali menyebutkan, total terdapat sembilan calon kandidat dari empat desa yang mendaftar sebagai Petinggi PAW.

Baca juga: Kisah Agus, 22 Tahun Dipercaya Jadi Pembuat Miniatur Kapal Tradisi Lomban di Jepara

Rinciannya, di Desa Platar, jumlah calon petinggi yang mendaftar sebanyak tiga orang yaitu Nur Khamid, Maskuri, dan Ridwan dengan jumlah warga yang memiliki hak pilih sebanyak 63 orang.

Kemudian Desa Bugel terdapat dua orang yang mendaftar calon petinggi yaitu Ali musyafa’ dan Fandeli dengan jumlah warga yang memiliki hak pilih sebanyak 133 orang.

Selanjutnya di Desa Tedunan terdapat dua orang yang mendaftar yaitu Miftakhul dan Wiji Widiyawati dengan jumlah warga yang memiliki hak pilih sebanyak 109 orang.

Terakhir, Desa Bandung terdapat dua calon petinggi yang mendaftar yaitu Suwoto dan Rofi’i dengan jumlah warga yang memiliki hak pilih sebanyak 89 orang.

”Semua menggelar musdes dengan sistem pemungutan suara secara langsung,” bebernya.

Usai pemilihan, Dinsospermades akan mengecek kembali keabsahan pemilihan. Setelah dipastikan sesuai ketentuan, Petinggi terpilih akan dilantik dalam waktu dekat. Mereka nantinya akan menjabat sebagai petinggi hingga 4 Desember 2027.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Konsumsi BBM dan Elpiji Warga Jateng Naik, Pertamina Pastikan Pasokan Tetap Aman

0
PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah mencatat lonjakan konsumsi energi selama periode Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri (Satgas RAFI) 2026. Foto: Ist

BETANEWS.ID, KUDUS – PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah mencatat lonjakan konsumsi energi selama periode Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri (Satgas RAFI) 2026. Peningkatan ini sejalan dengan tingginya mobilitas masyarakat pada arus mudik hingga arus balik Lebaran.

Berdasarkan data realisasi harian, konsumsi BBM ritel jenis gasoline naik 28,4 persen, dari rata-rata normal 12.943 Kilo Liter (KL) menjadi 16.625 KL per hari. Sebaliknya, konsumsi gasoil justru turun 10,2 persen, dari 7.069 KL menjadi 6.350 KL per hari.

Puncak konsumsi gasoline terjadi pada 19 Maret 2026 dengan volume mencapai 20.681 KL, didorong meningkatnya penggunaan kendaraan pribadi selama periode mudik.

Pada sektor elpiji, konsumsi juga mengalami kenaikan. Rata-rata penyaluran harian elpiji meningkat 6,7 persen dari 4.854 metrik ton (MT) menjadi 5.179 MT.

Untuk elpiji subsidi 3 kilo gram, konsumsi naik 7,2 persen dari 4.630 MT menjadi 4.965 MT per hari, sementara elpiji non-subsidi turun 4,7 persen dari 224 MT menjadi 214 MT. Puncak konsumsi elpiji tercatat pada 18 Maret 2026 dengan volume 5.424 MT.

Area Manager Communication, Relations, & CSR Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan Pertamina telah mengantisipasi lonjakan kebutuhan energi sejak awal periode Satgas RAFI, termasuk menghadapi puncak arus balik.

Baca juga: DPRD Kudus Soroti Warung Madura Buka 24 Jam, Minta Pemkab Susun Regulasi

“Secara regional, Pertamina memastikan ketahanan energi tetap terjaga, dengan ketersediaan stok mencapai 29,2 kali lipat dari rata-rata konsumsi harian,” ujar Taufiq melalui siaran tertulisnya, Senin (30/3/2026).

Sebagai dukungan terhadap kelancaran perjalanan masyarakat, lanjutnya, Pertamina juga menghadirkan layanan Serambi MyPertamina di 19 titik strategis jalur mudik. Fasilitas ini menyediakan ruang istirahat ber-AC, musala, layanan kesehatan, area bermain anak, hingga takjil gratis untuk berbuka puasa.

Khusus di Regional Jawa Bagian Tengah, terdapat enam titik Serambi MyPertamina yang berlokasi di Rest Area 379 A, Rest Area KM 260 B, Rest Area KM 19 A, Bandara Ahmad Yani, Bandara Yogyakarta International Airport, dan Stasiun Purwokerto,” rincinya.

Selain itu, kata dia, masyarakat dapat memanfaatkan aplikasi MyPertamina untuk mengetahui lokasi SPBU terdekat, ketersediaan BBM, serta berbagai promo yang ditawarkan.

“Pertamina mengajak masyarakat menggunakan energi secara bijak dan efisien selama perjalanan, serta tidak melakukan panic buying karena stok dalam kondisi aman dan distribusi berjalan normal,” tegas Taufiq.

Melalui berbagai langkah tersebut, Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menegaskan komitmennya dalam menjaga keandalan pasokan energi, tidak hanya selama periode mudik dan arus balik Lebaran, tetapi juga setelah Satgas RAFI berakhir.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Cegah Praktik Korupsi, Ahmad Luthfi Hadirkan KPK untuk Bekali Kepala Daerah dan DPRD

0
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menghadirkan langsung pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk memberikan arahan dan pembekalan kepada para kepala daerah dan DPRD di wilayahnya agar tidak melakukan praktik korupsi.

Hal ini menyusul adanya peristiwa operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan oleh KPK kepada sejumlah bupati di Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Dalam pembekalan itu, Ahmad Luthfi mengumpulkan seluruh Bupati-Wakil Bupati, Walikota-Wakil Walikota, serta Ketua DPRD kabupaten/kota di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang pada Senin (30/3/2026).

Acara itu juga dihadiri oleh Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, Ketua DPRD Jateng Sumanto, Sekda Jateng Sumarno, serta seluruh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemprov Jateng.

Adapun pimpinan daerah yang dihadirkan adalah Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto. Selain itu juga Deputi Koordinasi dan Supervisi KPK Ely Kusumastuti untuk memberikan arahan khusus terkait upaya pencegahan tindak pidana korupsi.

Dalam acara itu juga dilakukan penandatanganan pakta integritas dalam rangka mendukung terwujudnya tata kelola pemerintahan yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pakta integritas itu ditantatangani oleh Gubernur Jateng, Wakil Ketua DPRD Jateng, Bupati, Walikota, dan Ketua DPRD Kabupaten/kota.

Dalam kesempatan itu, Luthfi menekankan kepada kepala daerah maupun pejabat publik di wilayahnya untuk menanamkan integritas dalam menajalankan tugas-tugasnya.

Baca juga: Hemat Ongkos Usai Lebaran, Program Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng Disambut Antusiasme Peserta

Menurut dia, integritas merupakan tanggung jawab diri sebagai seorang pejabat publik, agar tidak melakukan tindakan yang menyimpang, apalagi mengarah ke tindak pidana korupsi. Tujuannya jelas, yaitu menciptakan clear and good governance.

“Saya mohon kepada KPK agar pencegahan lebih didahulukan. Penindakan itu yang terakhir. Kami perlu adanya pegangan, penerangan, dan pengawalan sehingga tidak menyimpang,” ujarnya.

Apabila ke depan setelah penandatanganan pakta integritas dan mendapatkan arahan dari KPK namun masih ada yang menyimpang atau tertangkap korupsi, Ahmad Luthfi menegaskan itu menjadi risiko dan tanggung jawab personal.

“Melanggar hukum itu azasnya personal. (Subyek hukumnya) barang siapa. Jadi sudah tanggung jawab pribadi bukan tanggung jawab institusi,” tegasnya.

Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto mengapresiasi langkah Gubernur Ahmad Luthfi yang mengumpulkan seluruh Bupati dan Walikota untuk diberikan arahan terkait kesadaran pencegahan korupsi.

Pencegahan memang menjadi salah satu kegiatan KPK selain kegiatan penindakan. KPK juga sudah cukup masif melakukan upaya-upaya pencegahan untuk mengingatkan agar tidak melakukan tindakan-tindakan korupsi.

“Sosialisasi pencegahan korupsi ini inisiatifnya Gubernur. Sebagaimana diketahui, kegiatan penindakan di wilayah Jawa Tengah cukup banyak, sehingga dengan melakukan upaya pencegahan yang terus-menerus, serta sinergitas antara penegak hukum yang ada di daerah dan juga pihak-pihak pemerintah diharapkan mampu mengurangi perilaku koruptif,” katanya.

Ia menjelaskan, KPK telah melakukan monitoring ke seluruh daerah, tidak hanya di Jawa Tengah.

“Harapannya, setelah melakukan pencegahan dan menandatangani komitmen atau pakta integritas. Maka itu harus dilakukan, bukan sekadar formalitas,” tegasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Jalur Utama Desa Tempur Jepara Masih Rawan Longsor, Pemkab Kebut Pembuatan Jalur Baru

0
Bupati Jepara Witiarso Utomo saat meninjau lokasi longsor di jalan utama menuju Tempur. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Jalur utama menuju Desa Tempur melalui Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara saat ini masih rawan terjadi longsor susulan.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, pada Bulan Maret ini sudah terdapat lima kali peristiwa longsor. Dua di antaranya terjadi pada Kamis dan Sabtu, (27&28/3/2026).

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik pada BPBD Kabupaten Jepara, Muh Ali Wibowo mengatakan saat ini pihaknya masih fokus pada pembersihan material longsor berupa batu besar yang menutup badan jalan.

Titik lokasi badan jalan yang tertutup material longsor juga masih sama seperti sebelumnya. Yaitu di jalur Kajang, Damarwulan- Kaliombo.

“Hari ini fokus kita pembersihan material longsor, jalurnya masih kita tutup, kalau sudah kita bersihkan baru nanti kita buka kembali,” kata Bowo melalui sambungan telepon, Senin (30/3/2026).

Bowo mengatakan, meskipun setelah dibersihkan jalur utama menuju Desa Tempur akan dibuka, namun saat terjadi hujan, jalur tersebut akan kembali di tutup.

Baca juga: Akses Jalan Utama Desa Tempur Jepara Kembali Putus Akibat Longsor

“Karena kita khawatir potensi longsor susulan ini masih ada. Di atas ini masih banyak material longsor yang berpotensi untuk jatuh ke bawah. Jadi kalau hujan memang harus ditutup,” ungkap Bowo.

Terpisah, Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan, selain membersihkan material longsoran yang menutup badan jalan, saat ini ia juga fokus pada pembukaan jalur baru menuju Desa Tempur.

Jalur baru tersebut yaitu melalui Desa Sumanding, Kecamatan Kembang dengan panjang sekitar 6 kilometer.

Saat ini, pembukaan jalur baru tersebut sudah hampir lima kilometer. Dalam waktu satu bulan mendatang jalur baru tersebut ditargetkan rampung sehingga bisa dilewati oleh kendaraan.

“Saat ini progresnya sekitar 80 persen. Empat pekan lagi atau sebulanan sudah clear,” kata Wiwit.

Rencananya, badan jalan jalur baru itu akan dilakukan pengerasan oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Jepara. Nantinya juga akan dilakukan penataan saluran air di kawasan jalur baru tersebut.

“Pengerjaannga nanti dianggarkan di APBD Perubahan tahun ini,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Grosir Tumbang, Puji Bangkit Bersama Angkringan Mas Peje

0
Dwi sedang melayani pembeli di warung angkringan miliknya di Jalan Menara, Desa Langgardalem, Kecamatan Kudus. Foto: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Sebuah kedai angkringan dengan tampilan sederhana tampak berisi beraneka ragam makanan dan minuman. Ada sate-satean seperti sate usus, jeroan ayam, telur puyuh, dan lainnya. Selain itu, terdapat berbagai pilihan nasi kucing dengan lauk-pauk berbeda, juga aneka gorengan yang baru saja diambil dari penggorengan. Nama kedai itu ialah Angkringan Mas Peje, salah satu angkringan yang letaknya tidak jauh dari Menara Kudus, tepatnya di Jalan Menara, Desa Langgardalem, Kecamatan Kudus.

Menurut pemilik usaha, Dwi Pujianto (30), angkringan ini sudah ada sejak dua tahun lalu. Pria yang akrab disapa Mas Puji itu merintis usaha angkringan bersama istrinya, Hardianti Riski Lestari. Sebelumnya, sepasang suami istri tersebut memiliki usaha grosir sembako pada 2016. Hingga akhirnya, pada tahun 2022 mereka terpaksa gulung tikar karena kalah persaingan dengan banyaknya grosir sembako yang lebih besar dan lebih lengkap.

Dengan modal yang pas-pasan, mereka berputar haluan dari usaha sembako ke usaha angkringan. Meskipun lapak dagangnya terlihat sederhana, namun di dalamnya terdapat berbagai menu makanan dan minuman yang beraneka ragam dengan harga ramah di kantong.

Baca juga: Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang

Untuk rasa sendiri tidak perlu diragukan. Puji sengaja tidak menerima penitipan makanan dari mana pun. Hal itu ia lakukan untuk menjaga konsistensi rasa makanan yang ia jual, sehingga semua dagangannya ia peroleh dari masakan karyawannya yang sudah terpercaya.

“Selain itu, keuntungannya juga nipis kalau pada nitip. Kalau masak sendiri keuntungannya bisa sampai tiga kali lipat,” ujar ayah satu anak itu saat ditemui beberapa waktu lalu.

Harga makanan yang ada di angkringannya Puji dibanderol dengan harga yang relatif terjangkau. Untuk nasi bungkus, ia jual dengan harga Rp 3.000, sate-satean mulai dari Rp 3.000 sampai dengan Rp 5.000, dan gorengan mulai dari Rp 1.000 sampai dengan Rp 2.500. Selain itu, angkringan Puji juga menyediakan berbagai minuman hangat seperti jahe geprek, teh hangat, juga aneka kopi.

Puji mengaku pelanggannya berasal dari berbagai daerah. Bahkan, sering juga yang dari luar kota seperti Pati dan Jepara. Beberapa dari mereka mengaku sudah menjadi pelanggan tetap Angkringan Peje.

“Puncak ramainya itu mulai pukul 20.00 WIB hingga tengah malam. Sering juga kawan-kawan kami waktu sekolah datang. Kadang pula anak-anak geng motor mampir,” ujarnya.

Baca juga: Diminati Warga Kudus, 2 Kilogram Serabi Asmoro Ludes Setiap Hari

Angkringan Puji buka mulai pukul 15.30 WIB hingga tengah malam. Selain usaha angkringan, ia juga memulai usaha seblak baru-baru ini. Lapak usaha seblaknya berada pas di depan angkringan. Ke depannya, ia juga berencana akan membuka cabang angkringan baru di daerah Kudus Kota.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Berawal dari Pasar Kliwon, Es Dawet Sido Mampir Kini Punya Tiga Cabang

0
Ayuk Atmawati, karyawan warung es dawet Sido Mampir sedang melayani pembeli yang datang. Foto: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Seorang perempuan dengan jilbab berwarna hijau tua tampak cekatan memasukkan santan ke dalam gelas. Setelah itu, disusul dengan gula jawa yang sudah dicairkan sebelumnya. Di sela kesibukannya menyiapkan es dawet pesanan, perempuan itu juga menyempatkan diri bercanda ria dengan para pelanggan yang datang.

Perempuan itu ialah Ayuk Atmawati (39), salah satu karyawan Es Dawet Sido Mampir. Perempuan yang akrab disapa Ayuk itu menjelaskan bahwa pemilik usaha Es Dawet Sido Mampir adalah Nur Arif, iparnya. Nur Arif sendiri adalah salah satu alumnus UDINUS yang kini sudah memiliki tiga cabang es dawet juga usaha bengkel.

Es dawet yang letaknya tidak jauh dari Kampus UIN Sunan Kudus ini merupakan cabang ketiganya. Lokasi tepatnya berada di Jl. Conge Ngembalrejo, Kecamatan Bae. Selain itu, letak Es Dawet Sido Mampir juga tidak jauh dari pabrik Djarum.

Baca juga: Diminati Warga Kudus, 2 Kilogram Serabi Asmoro Ludes Setiap Hari

Es Dawet Sido Mampir buka dari pukul 09.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Pelanggannya pun cukup beragam. Namun, mayoritas berasal dari mahasiswa, dosen, serta karyawan pabrik. Beberapa dari mereka bahkan sudah menjadi pelanggan tetap Es Dawet Sido Mampir.

“Banyak karyawan pabrik yang mampir ke sini mbak, bahkan kalau mereka bisa pulang pagi kami juga akan tutup lebih awal,” ujar Ayuk saat ditemui beberapa waktu lalu.

Kedai Es Dawet Sido Mampir ini bukan hanya menyediakan es dawet saja. Menu lain selain es dawet yaitu es gempol. Variasinya pun berbeda-beda. Mulai dari es dawet original, es gempol original, es dawet gempol, es gempol dengan tape ketan, juga es dawet tape ketan. Selain itu, terdapat juga menu jajanan lain seperti tape dan aneka gorengan.

Dalam sehari ibu dua anak itu bisa menghabiskan kurang lebih 100 buah kelapa untuk santan. Sedangkan untuk omsetnya sendiri bisa mencapai Rp1.700.000 saat hari Minggu atau saat ramai pelanggan.

Baca juga: Laris Manis, Gultik Mantan Pertama di Kudus Setiap Hari Ludes

“Tapi kalau sepi ya mungkin cuma sekitar Rp800.000 omsetnya. Apalagi waktu musim hujan, omsetnya makin sedikit,” ujar Ayuk.

Menurut penuturan Ayuk, resep yang digunakan untuk membuat Es Dawet Sido Mampir ini adalah resep turun-temurun. Pada awalnya, kedai Es Dawet Sido Mampir berada di Pasar Kliwon. Namun, kurang lebih pada tahun 2020 Es Dawet Sido Mampir berpindah pengelola menjadi Nur Arif. Semenjak itu, Es Dawet Sido Mampir berkembang hingga memiliki tiga cabang. Kabarnya, Nur Arif akan membuka cabang keempat setelah ini.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Berdiri Sejak 1976, Usaha Batu Bata Choirun Kini Mulai Sepi Pesanan

0
Seorang pekerja sedang merapikan bagian tepi tanah yang telah dicetak untuk dijadikan batu bata. Foto: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Seorang pria bercaping terlihat tengah sibuk meratakan bentuk batu bata yang telah dikeringkan. Satu per satu batu bata itu dikerik menggunakan sebuah pisau untuk dirapikan bentuknya agar kotak sempurna. Dengan teliti ia memperhatikan agar tidak ada satu pun batu bata yang terlewatkan.

Pria itu ialah salah satu karyawan Choirun, pengusaha batu bata yang sudah berdiri sejak tahun 1976. Pada betanews.id Choirun bercerita bahwasannya kini ia sudah memiliki lima tempat pembuatan batu bata. Beberapa dari tempat itu masih berada dalam satu lokasi. Per tempat pembuatan terdiri dari satu sampai dua karyawan.

Choirun mengaku usaha batu bata ini mulanya hanya sebagai pekerjaan sampingan saat ia masih bertani. Namun, setelah ditekuni, ia mendapat banyak sekali pesanan dari dalam maupun luar kota. Hingga pada akhirnya, usaha ini menjadi pekerjaan utama yang mampu menopang perekonomian keluarganya hingga saat ini.

Baca juga: Berkat Dorongan Sang Anak, Elok Sukses Buka Gultik Mantan Pertama di Kudus

“Dulu hanya sampingan, kalau ada waktu saya ambil tanah saat sedang tidak bertani. Sempat juga coba ikut jual beli tanah tapi ya tidak lanjut,” ujar pria kelahiran 1952 itu saat ditemui beberapa waktu lalu.

Choirun mengatakan batu bata buatannya masih dibuat dengan cara yang manual. Karena itu, tentu produk yang dihasilkannya pun akan lebih kuat dan tahan lama dibanding dengan pembuatan dengan mesin. Itulah salah satu yang membedakan batu bata miliknya dengan yang lain.

Salah satu karyawan Choirun menjelaskan beberapa proses yang harus dilalui dalam membuat batu bata. Pertama, pembakaran. Pembakaran ini mampu memakan waktu sampai dengan satu minggu. Dilanjut dengan proses ngidak sehari kemudian baru dikeringkan. Setelah itulah, batu bata akan mengalami proses finishing hingga menghasilkan bentuk yang sempurna.

“Ya kurang lebih memakan waktu sekitar dua minggu untuk sekali pembuatan,” ujarnya.

Baca juga: Cuma Rp500 Per Biji, Omzet Gethuk Goreng Kandar Tembus Rp2,5 Juta Sehari

Dulu saat usahanya masih naik daun, pemesanan batu bata Choirun bisa sampai Jakarta. Selain itu, ia banyak mendapat pesanan dari kota sekitar seperti Jepara dan Demak. Namun sekarang usaha batu bata Choirun tidak seeksis dulu. Hal itu dikarenakan, batu bata mulai tergantikan dengan kehadiran batako.

“Sekarang mulai sepi pesanan, jadi tidak pasti buatnya. Saya juga sudah tua, sejalannya saja,” ujar pria yang berdomisili di Bakalan, Krapyak, Kudus itu.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Bertahan 20 Tahun, Kedai Sarapan Ini Jadi Jalan Dua Anak Raih Sarjana

0
Pemilik Warung Mbak Puji sedang melayani pembeli di warungnya, di dekat lapangan Desa Rendeng, Kota, Kudus. Foto: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Di dalam kedai sederhana samping Lapangan Rendeng, tampak tersaji beberapa lauk pauk dengan menu masakan yang berbeda-beda. Beberapa menu di kedai itu antara lain, nasi pecel, gudangan, rames, lodeh, opor ayam, serta beberapa pelengkap seperti aneka gorengan dan kerupuk.

Pemilik kedai itu ialah Pujianti Irianingsih (55). Menurut penjelasannya pada betanews.id, kedai sarapan sederhana miliknya itu sudah ada sejak 2002. Tepat saat anak keduanya menginjak TK.

“Saat itu kedai saya di sana mbak. Tapi karena dibangun GOR Djarum, akhirnya saya pindah” terangnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Baca juga: Berkat Dorongan Sang Anak, Elok Sukses Buka Gultik Mantan Pertama di Kudus

Awalnya, ia bersama sang suami, Gunawan (52), memiliki usaha bengkel. Namun, usahanya terpaksa harus berhenti. Hingga akhirnya, ia berganti haluan dengan membuka kedai sarapan sederhana setiap paginya.

“Dulu mikir, ini tempat mendukung. Sepertinya ramai kalau bisa buka tempat sarapan di sini,” ujarnya.

Pujianti tentu tidak sendiri dalam mengelola kedainya. Bersama sang suami mereka saling membagi tugas satu sama lain. Berkat ketekunan mereka, kedai sarapan sederhana itu bisa bertahan sampai sekarang dengan usia lebih dari 20 tahun.

Meski hanya usaha sederhana, Puji tidak pernah menyangka apa yang ia tekuni mampu mengantarkan kedua buah hatinya berhasil meraih gelar sarjana. Alumnus SMA Katolik Kudus itu awalnya ragu saat kedua anaknya mengatakan ingin berkuliah. Tapi, ia mencoba meyakinkan dirinya.

Seperti kata pepatah, hasil tidak mengkhianati usaha. Dengan ketekunannya membuka warung sarapan sederhana itu, akhirnya usahanya membuahkan hasil yang memuaskan. Anak pertamanya, Sevila Ayu (27), berhasil lulus dari Universitas Pelita Harapan (UPH) yang sebelumnya mengambil jurusan biologi.

“Puji Tuhan, Natrista saat ini sedang mengajar di Independent School, salah satu sekolah internasional yang ada di Bandung,” ujar Puji.

Baca juga: Cuma Rp500 Per Biji, Omzet Gethuk Goreng Kandar Tembus Rp2,5 Juta Sehari

Sedangkan anak kedua Puji, Natrista Ayu Listiana (24), baru saja lulus dari Universitas Semarang (USM) dengan jurusan psikologi. Dari penuturannya, anak keduanya kini sedang mencoba merintis usaha geprek bakar.

“Meski anak saya sarjana, saya tidak keberatan jika ia ingin membuka usaha kecil-kecilan dulu. Yang penting dia tekun dan yakin dengan pilihannya,” tambahnya.

Penulis: Prih Nur Fia Istiqomah, Mahasiswa Magang PBSI UMK

Editor: Ahmad Rosyidi

- advertisement -

Ribuan Kupat dan Lepet di Tradisi Pesta Lomban Jepara Ludes Diserbu Warga

0
Warga berebut ketupat dan lepet. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Usai menggelar larungan kepala kerbau dalam tradisi pesta lomban, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara kembali mengadakan Festival Kupat Lepet di Lapangan Pantai Kartini pada Sabtu, (28/3/2026).

Dua buah gunungan berisi sekitar masing-masing seribu kupat dan lepet langsung habis diserbu warga dalam waktu tidak sampai 15 menit usai Bupati Jepara, Witiarso Utomo bersama Forkompinda Jepara memotong tali dari janur kuning. Warga berebut kupat dan lepet sebagai simbol keberkahan dan rasa syukur.

Salah satu warga yang turut berebut gunungan, Ika Prasetya (35), Asal Desa Wedung, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak mengaku sudah tiga kali ikut berebut gunungan kupat dan lepet. Hasilnya ia mendapat 11 lepet dan tiga ketupat.

“Tadi kesini mau wisata, ternyata ada acara ini (Festival Kupat Lepet), ikut rebutan karena seneng, cuma setahun sekali,” katanya saat ditemui di Lapangan Pantai Kartini.

Salah satu warga lainnya, Anton (40) juga mengaku senang bisa mendapatkan bagian dari gunungan tersebut. Ia bersama keluarganya telah bersiap sejak awal di barisan depan.

Baca juga: Wujud Syukur Nelayan, Pesta Lomban Larungan Kepala Kerbau di Jepara Berlangsung Meriah

“Alhamdulillah dapat banyak. Tadi nunggu di depan, panas-panasan tapi akhirnya dapat juga. Nanti mau digantung di kendaraan,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Jepara, Witiarso Utomo menjelaskan makna filosofis di balik tradisi kupat dan lepet.

“Kupat dari kata ngaku lepat, artinya mengakui kesalahan. Lepet melambangkan kebersamaan yang erat. Setelah Idulfitri, kita diajak untuk saling memaafkan, saling menguatkan, dan kembali menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.

Ia menambahkan tradisi ini merupakan wujud syukur masyarakat pesisir Jepara, khususnya para nelayan, atas rezeki yang diberikan dari laut.

“Dari laut, kita belajar tentang kerja keras tanpa kenal lelah, keberanian menghadapi tantangan, serta pentingnya kebersamaan,” lanjutnya.

Wiwit berharap Pesta Lomban, termasuk Festival Kupat Lepet, dapat semakin dikenal luas dan menjadi daya tarik wisata unggulan daerah.

“Kita ingin Pesta Lomban ini semakin ramai, semakin dikenal, dan tentunya membawa berkah bagi masyarakat Jepara,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Melihat Bulus Keramat di Kudus yang Diberi Uang oleh Para Pengalap Berkah

0
Sejumlah warga tampak memadati punden Bulusan di Desa Hadipolo, Jekulo, Kudus. Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Bulusan yang berada di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus menjadi salah satu lokasi yang dikeramatkan masyarakat. Di tempat ini terdapat punden serta kolam berisi bulus yang dipercaya memiliki nilai spiritual.

Keberadaan bulus tersebut tidak lepas dari cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat. Konon, bulus-bulus itu merupakan jelmaan murid Sunan Muria yang terkena sabda.

Pada momen-momen tertentu, lokasi ini ramai dikunjungi warga dari berbagai daerah. Mereka datang dengan tujuan ngalap berkah, terutama saat tradisi Bulusan digelar.

Di dalam kolam, terlihat banyak uang koin hingga uang kertas pecahan kecil. Uang tersebut diberikan oleh pengunjung sebagai bentuk harapan agar mendapatkan keberkahan.

Sebagian pengunjung melemparkan uang ke dalam kolam sambil memanjatkan doa. Praktik ini sudah menjadi pemandangan umum dan bagian dari tradisi yang berlangsung sejak lama.

Juru kunci Bulusan, Sudasih (73) menjelaskan, bahwa tradisi ini berawal dari kisah masa lalu yang berkaitan dengan Sunan Muria. Ia menyebut, bulus yang ada di lokasi tersebut diyakini masyarakat setempat sebagai jelmaan murid Sunan Muria.

Ketika itu, Mbah Dudo dan Sunan Muria sedang mengajarkan warga sekitar untuk bercocok tanam. Kemudian muridnya berinisiatif mengambil benih.

Baca juga: Tradisi Bulusan Kudus Kembali Digelar, Ribuan Warga Berebut Gunungan

Saat Sunan Muria dan Mbah Dudo istirahat dan berbincang-bincang. Ada suara kresek-kresek, spontan Sunan Muria tanpa melihat berkata “bengi-bengi kok kresek-kresek koyok bulus.

” Seketika murid Sunan Muria pun menjadi bulus. Karena sudah terlanjur terkena sabda, kemudian Sunan Muria bertitah bahwa kelak bulus itu akan dihauli masyarakat,” cerita Sudasih, Sabtu (28/3/2026).

Menurutnya, tradisi Bulusan ini tidak hanya diikuti warga sekitar, tetapi juga dari luar daerah. Pengunjung datang dari berbagai kota seperti Pati, Rembang, Blora, hingga Surabaya.

“Selain sebagai tempat spiritual, kawasan Bulusan juga menjadi ruang berkumpul masyarakat. Tradisi ini sekaligus menjadi momen mempererat kebersamaan antarwarga,” bebernya..

Terkait uang yang ada di dalam kolam, Sudasih menegaskan bahwa hal tersebut pengertian yang keliru oleh masyarakat. Uang tersebut seharusnya dimasukkan ke kotak amal dan nantinya dibelikan ayam untuk para bulus.

“Karena yang datang itu banyak orang, jadi ada yang percaya khajatnya akan lebih terkabul jika membuang uang ke dalam kolam bulus. Jadi kita tidak bisa melarang kepercayaan tersebut,” sebutnya.

Ia mengungkapkan, tradisi Bulusan sendiri biasanya digelar setiap 8 Syawal dengan berbagai rangkaian kegiatan. Mulai dari kirab, kenduren, hingga pertunjukan seni yang menarik antusias masyarakat.

“Keberadaan tradisi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih terjaga di tengah perkembangan zaman. Bulusan tidak hanya menjadi simbol kepercayaan, tetapi juga warisan budaya yang terus dilestarikan,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Program Balik Rantau Gratis 2026 Pemprov Jateng Fasilitasi Kelompok Rentan

0
Sejumlah kelompok rentan terlihat saat pemberangkatan program tersebut di di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Sabtu (28/3/2026). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, BOYOLALI – Program Balik Rantau Gratis 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menaungi berbagai segmen, termasuk peserta dari kalangan kelompok rentan.

Sejumlah kelompok rentan terlihat saat pemberangkatan program tersebut di di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Sabtu (28/3/2026).

Di titik Asrama Haji Donohudan tercatat 74 orang dari kelompok rentan yang difasilitasi, terdiri atas 7 difabel, 25 lansia, dan 42 pendamping. Di Terminal Bulupitu Banyumas terdapat 11 orang, terdiri atas 5 lansia dan 6 difabel termasuk pendamping. Di Terminal Mangkang Kota Semarang terdapat 4 orang, terdiri atas 1 lansia dan 3 pendamping. Sementara untuk moda kereta api terdapat 9 orang, yakni 3 lansia dan 6 pendamping.

Bahkan, terdapat satu penumpang berkebutuhan khusus dengan kondisi hidrosefalus tujuan Bandung yang difasilitasi Dinas Kesehatan menggunakan ambulans dari Kabupaten Karanganyar menuju titik keberangkatan di Asrama Haji Donohudan Boyolali, kemudian dikoordinasikan dengan Dinas Kesehatan Bandung.

Orang tua dari anak berkebutuhan khusus, Sudiman mengaku, seneng adanya program tersebut, ia dan keluarganya merasa sangat terbantu.

“Terima kasih Pak Gubernur dan Paguyuban Jawa Tengah (PJT) yang memberi bantuan bus sehingga saya bisa mudik dan balik rantau. Mudah-mudahan bisa difasilitasi terus apalagi buat anak tidurnya nyaman,” ucapnya.

Baca juga: Hemat Ongkos Usai Lebaran, Program Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng Disambut Antusiasme Peserta

Selain itu, program balik rantau ini pun dirasakan manfaatnya bagi pasangan suami istri Lendra dan Ambar. Bersama kedua anaknya, mereka menghemat biaya pengeluaran dan bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya.

“Dari Solo mau ke Jakarta. Ini kali kedua kami ikut program ini. Kami sangat terbantu, karena bisa menghemat pengeluaran, sehingga bisa dialihkan keperluan yang lain,” ucap Lendra yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, program mudik dan balik rantau gratis merupakan bentuk kehadiran negara untuk meringankan beban para perantau, terutama bagi pekerja sektor informal.

“Negara perlu hadir untuk memberikan fasilitas, tidak hanya pada saat mudik, tetapi saat balik pun kita lakukan,” kata Luthfi.

Menurut dia, program tersebut bukan sekadar layanan transportasi, melainkan upaya menjaga tradisi mudik sekaligus membantu para perantau, agar tetap bisa pulang tanpa terbebani ongkos perjalanan. Dengan biaya perjalanan yang ditanggung pemerintah, mereka bisa menggunakan tabungannya untuk kebutuhan keluarga di kampung halaman.

Luthfi menyebut, para penerima manfaat program ini umumnya adalah pekerja informal, mulai dari tukang bakso, pekerja pabrik, tukang ojek, pekerja bangunan, hingga pedagang kecil. Bagi mereka, ongkos perjalanan pulang-pergi menjadi pengeluaran besar yang bisa sangat membebani ekonomi keluarga.

“Dengan negara hadir memberikan sumbangan, meskipun itu kecil, tetapi sangat berharga bagi mereka,” ujar Luthfi.

Luthfi menambahkan, mudik dan balik rantau gratis juga memberi dampak lain, yakni membantu pengaturan lalu lintas agar perjalanan pemudik lebih tertib, terkonsentrasi, dan terawasi.

Editor: Kholistiono

- advertisement -