Kisah Agus, 22 Tahun Dipercaya Jadi Pembuat Miniatur Kapal Tradisi Lomban di Jepara

BETANEWS.ID, JEPARA – Miniatur Kapal yang menjadi tempat pelarungan kepala kerbau menjadi salah satu bagian penting dalam pelaksanaan tradisi pesta lomban di Kabupaten Jepara.

Miniatur kapal tersebut dibuat oleh Agus Mardiko (54), Warga RT 4 RW 4, Gang Sari Samudera, Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan Jepara. Sosoknya sudah 22 tahun dipercaya oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara untuk membuat miniatur kapal lomban.

Ditemui di kediamannya, Agus mengatakan, ia membuat miniatur kapal meneruskan dari perawangan atau juru kunci Makam Mbah Ronggo.

-Advertisement-

Agus mengaku ada rasa kebanggan tersendiri, bisa turut ambil bagian dalam pelaksanaan pesta lomban yang menjadi tradisi masyarakat pesisir Jepara.

“Yah seneng, bangga pastinya, sudah 22 tahun Alhamdulillah dipercaya membuat miniatur kapal lomban,” katanya saat ditemui pada Kamis, (26/3/2026).

Dalam pembuatan miniatur kapal, Agus mengatakan, terdapat tradisi khusu yang harus dilakukan sebelum merakit kapal. Yaitu melaksanakan puasa, sehari sebelum membuat kapal dan membaca doa sebelum mulai merakit kapal. Akan tetapi, Agus mengaku sudah meminta izin untuk tidak melaksanakan puasa.

Baca juga: Dibuat dengan Ritual Khusus, Ini Tata Cara Pembuatan Miniatur Kapal Tradisi Lomban di Jepara

Kemudian dalam pembuatannya, kapal tidak boleh meninggalkan tiga bahan utama. Yaitu pohon pisang raja, bambu apus, dan kain putih. Ketiganya memiliki makan filosofi tersendiri.

“Pohon pisang itu diibaratkan ratunya setan lautan, kalau bambu apus itu biar apes. Pohon pisangnya ditusuk pakai bambu apus biar setan di laut yang jahil bisa apes,” jelasnya.

Sedangkan untuk kain putih memiliki makna agar setelah pelaksanaan tradisi lomban, masyarakat bisa kembali suci.

Selama 22 tahun membuat miniatur kapal, Agus mengatakan, belum pernah mengalami kejadian khusus. Hanya saja pada saat ia mulai memasangkan kain putih di bagian badan kapal, terdapat beberapa warga yang melihat sosok yang menunggu kapal tersebut.

“Kalau saya sih nggak pernah ngalami kejadian aneh, tapi dari cerita warga kalau saya mulai masang kain putih, itu ada warga yang diliatin sosok penunggu. Ada dua versi, ada yang bilang itu utusane Mbah Ronggo, ada yang bilang utusane setan lautan,” ungkapnya.

Mbah Ronggo sendiri merupakan sosok yang dipercaya sebagai cikal bakal yang membuat tradisi lomban. Makamnya yang berada di Kelurahan Pengkol, Kecamatan Jepara juga menjadi salah satu makam yang diziarahi sebelum pelaksanaan Tradisi Pesta Lomban.

Agus melanjutkan, selama 22 tahun dipercaya sebagai pembuat miniatur kapal lomban, Agus mengatakan, terdapat banyak hal baik yang ia rasakan.

“Semuanya kayak dimudahkan, karena hal yang diniati dengn baik pasti juga mendatangkan kebaikan,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER