BETANEWS.ID, JEPARA– Pada hari ke-delapan Idulfitri, masyarakat pesisir di Kabupaten Jepara selalu menjalankan tradisi bernama Pesta Lomban. Dalam tradisi itu, kepala kerbau beserta sejumlah sesaji yang ditempatkan dalam miniatur kapal dilarung ke tengah laut.
Miniatur kapal yang digunakan untuk melarung kepala kerbau tersebut, dalam pembuatannya ternyata tidak boleh asal. Terdapat ritual khusus yang harus dilakukan sebelum merakit kapal.
Agus Mardiko, warga RT 4 RW 4, Gang Sari Samudera, Kelurahan Ujungbatu, Kecamatan Jepara merupakan sosok yang sudah 22 tahun dipercaya untuk membuat miniatur kapal tersebut.
Ditemui di kediamannya, Agus bercerita, sebelum membuat kapal ia sebenernya diharuskan untuk melaksanakan puasa sehari sebelum membuat kapal. Kemudian pada saat akan memulai merakit kapal, juga terdapat doa khusus yang ia baca.
“Tapi kalau untuk puasanya, saya nggak. Sudah izin sama sesepuh yang membuat sebelum saya, karena ini saya kan meneruskan,” kata Agus saat ditemui pada Kamis, (26/3/2026).
Tidak hanya ritual khusus, bahan yang digunakan untuk membuat kapal juga tidak boleh meninggalkan tiga bahan utama. Yaitu pohon pisang raja, bambu apus, dan kain putih.
Setiap bahan memiliki makna tersendiri. Pohon pisang raja diibaratkan sebagai ratunya makhluk halus di laut. Pohon pisang itu kemudian ditusuk menggunakan bambu apus dengan harapan agar makhluk halus di laut yang bersifat jahil bisa apes atau malang.
“Kalau kain putih itu melambangkan kesucian, supaya bersih, kembali suci,” jelas pria berusia 54 tahun itu.
Baca juga: Berkah Lebaran Ketupat, Penjual Janur di Kudus Kantongi Cuan Jutaan per Hari
Agus membuat kapal itu atas pesanan dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Jepara. Pada tahun ini, anggaran pembuatan kapal yang ia terima naik, menjadi Rp6,6 juta.
Saat dipesan, Agus mengatakan, pihak Disparbud sebenarnya tidak memiliki permintaan khusus. Namun, untuk menyesuaikan momentum, kapal yang ia buat pada tahun ini sedikit berbeda dibanding sebelumnya.
Yaitu dari segi ukuran kapal. Miniatur kapal itu menurut Agus memiliki lebar sekitar satu meter dengan panjang 4,5 meter.
“Lebih panjang sekitar 30 sentimeter dibanding tahun lalu. Sebenarnya bukan karena permintaan, tapi menyesuaikan kondisi dan saran dari anak-anak muda, karena ini kan musim ombak, jadi kapalnya dibuat lebih panjang,” tutur Agus.
Selama proses pembuatan, Agus dibantu oleh para pemuda yang biasanya berjumlah 5-15 orang. Proses pembuatan miniatur kapal itu ia mulai sekitar pertengahan Bulan Ramadhan.
Saat mengawali pembuatan kapal, Agus mengatakan memang tidak ada hari khusus. Namun, sesuai warisan dari sesepuh yang dahulu membuat kapal, proses pembuatannya dijatuhkan pada pasaran hari Legi.
“Ngawali pembuatannya, kalau saya, dipaskan waktu Legi (hari pasaran Jawa) biar tibo manis, supaya segalanya jadi dimudahkan,” jelasnya.
Setelah selesai dibuat, miniatur kapal itu akan diantarkan ke kediaman sesepuh desa. Disana juga akan digelar ritual dan doa khusus yang kemudian dilanjutkan dengan peletekan sesaji ke atas kapal.
Editor: Kholistiono

