Beranda blog Halaman 29

Jadi Penggerak Ekonomi UMKM, DPRD Kudus Dorong Pelestarian Tradisi Bulusan

0
Anggota DPRD Kudus dari Fraksi Gerindra, Galih Saputro. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus kembali digelar pada Sabtu (28/3/2026). Kegiatan tahunan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga terbukti mampu menggerakkan perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM.

Anggota DPRD Kudus dari Fraksi Gerindra, Galih Saputro, menilai Tradisi Bulusan memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi lokal. Selain sarat nilai budaya, kegiatan ini juga mampu menarik banyak pengunjung yang berdampak langsung pada peningkatan aktivitas ekonomi warga.

Galih yang juga merupakan warga setempat mengatakan, pelaksanaan tahun ini terasa lebih ramai dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini tidak lepas dari kebijakan panitia yang menggratiskan tiket masuk bagi pengunjung.

“Untuk tahun ini memang berbeda karena kita gratiskan tiket masuk. Harapannya ke depan bisa tetap gratis, tapi tetap akan kita evaluasi,” ujar Galih saat ditemui di lokasi acara.

Menurutnya, meningkatnya jumlah pengunjung turut berdampak pada geliat UMKM di sekitar lokasi kegiatan. Ratusan lapak pedagang yang disediakan panitia dilaporkan terisi penuh oleh pelaku usaha lokal.

Ia menyebut, jumlah UMKM yang berpartisipasi tahun ini bahkan lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa Tradisi Bulusan mampu menjadi ruang ekonomi bagi masyarakat.

“Lapak yang kita sediakan hampir ratusan dan semuanya terisi. Ini menunjukkan antusiasme pelaku UMKM sangat tinggi,” jelasnya.

Baca juga: Tradisi Bulusan Kudus Kembali Digelar, Ribuan Warga Berebut Gunungan

Galih menambahkan, keberadaan UMKM dalam kegiatan tradisi seperti ini perlu terus didukung agar mampu memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan. Ia juga menegaskan bahwa sektor budaya dan ekonomi dapat berjalan beriringan.

Selain itu, pihaknya juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas terkait dalam pengembangan tradisi tersebut. Langkah ini dinilai penting agar pelaksanaan ke depan bisa lebih tertata dan memberikan dampak yang lebih luas.

“Ke depan kita akan terus koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dinas pariwisata dan Forkopimda. Tujuannya agar pelaksanaan Tradisi Bulusan semakin baik dan memberikan manfaat maksimal,” ungkapnya.

Ia juga memastikan bahwa kebijakan penggratisan tiket tidak berdampak pada pendapatan daerah. Menurutnya, potensi ekonomi tetap bisa didorong melalui aktivitas UMKM yang terlibat dalam kegiatan tersebut.

Tradisi Bulusan sendiri diisi dengan berbagai rangkaian acara, mulai dari kirab, pemberian makan bulus, hingga pentas seni dan pertunjukan wayang kulit. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk datang dan berpartisipasi.

“Dengan potensi yang dimiliki, Tradisi Bulusan diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya sekaligus penggerak ekonomi masyarakat. Dukungan berbagai pihak dinilai menjadi kunci agar tradisi ini tetap hidup dan berkembang di masa mendatang,” harapnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Lentog Tanjung Diserbu Pemudik saat Libur Lebaran, Pedagang Panen Cuan

0
Lentog Tanjung. Kuliner khas Kabupaten Kudus. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Momentum mudik Lebaran Idulfitri 2026 membawa berkah tersendiri bagi para penjual kuliner khas Kudus, Lentog Tanjung. Pusat kuliner yang berada di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, dipadati pelancong dari luar daerah yang ingin mencicipi hidangan legendaris tersebut.

Sejak hari kedua Lebaran, jumlah pembeli disebut mengalami peningkatan signifikan. Para pedagang mulai melayani pelanggan sejak pagi hingga sore hari, menyesuaikan dengan aktivitas silaturahmi para pemudik yang memadati wilayah Tanjungkarang dan sekitarnya.

Salah satu penjual, Karmisih (61), mengaku lonjakan pembeli mulai terasa sejak Sabtu (21/3/2026) atau awal Lebaran. Ia menyebut, mayoritas pelanggan justru berasal dari luar kota, seperti Jepara, Demak, Pati hingga Jakarta.

“Kalau Lebaran, yang beli justru banyak dari luar kota. Mereka yang pulang kampung ingin makan lentog, untuk nostalgia,” katanya.

Perempuan yang telah berjualan selama 15 tahun itu mengatakan, dalam sehari ia mampu menjual hingga ratusan porsi, baik dengan tambahan telur maupun tanpa telur. Ia juga dibantu oleh putrinya dalam melayani pembeli yang terus berdatangan.

Menurutnya, momen Lebaran selalu menjadi waktu panen bagi pedagang lentog. Omzet penjualan pun meningkat drastis dibandingkan hari biasa.

Baca juga: Berkat Dorongan Sang Anak, Elok Sukses Buka Gultik Mantan Pertama di Kudus

“Lumayan ramai, jauh lebih banyak dari hari biasa. Soalnya banyak yang memang cari kuliner khas ini,” ungkapnya.

Lentog Tanjung sendiri merupakan makanan berbahan dasar lontong yang disajikan dengan sayur gori (nangka muda) serta lodeh tahu dan tempe. Di tangan Karmisih, satu porsi makanna khas Kudus itu dibanderol dengan harga Rp8 ribu.

Di balik namanya, lentog menyimpan cerita unik yang diwariskan secara turun-temurun. Konon, dahulu warga Desa Tanjungkarang tidak diperbolehkan berjualan nasi karena dianggap mengganggu oleh seorang wali. Sebagai gantinya, masyarakat kemudian beralih menjual lontong dengan sayur nangka.

“Biar tidak disebut bubur, akhirnya dinamakan lentog. Sampai sekarang tetap dilestarikan,” jelasnya.

Selain cita rasa, ciri khas lain dari Lentog Tanjung adalah penggunaan wakul atau tempat nasi dari anyaman bambu. Dahulu, para penjual memikul wakul sambil berkeliling kampung. Kini, meski banyak yang berjualan di warung, identitas tersebut masih dipertahankan sebagai bagian dari tradisi.

Kehadiran Lentog Tanjung tidak hanya menjadi pelepas rindu bagi para perantau, tetapi juga menjadi bukti bahwa kuliner tradisional tetap bertahan dan diminati lintas generasi.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tenggelam saat Berenang di Air Terjun Watu Bobot, Dua Remaja di Jepara Ditemukan Meninggal

0
Proses pencarian korban tenggelam di area air terjun. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, JEPARA– Peristiwa pilu menimpa dua orang remaja asal Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara. Mereka ditemukan meninggal dunia akibat tenggelam saat berenang di air terjun.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto mengatakan peristiwa itu terjadi di Air Terjun Watu Bobot, Dukuh Sepando, Desa Somosari, Kecamatan Batealit pada Sabtu, (28/3/2026).

Dua remaja yang dilaporkan meninggal yaitu Muhammad Zubaitul Kharim (18) dan Ahmad Sahlus Sulvi (19). Keduanya merupakan warga Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Jepara.

Arwin menjelaskan awalnya dua remaja yang ditemukan meninggal itu datang rombongan bersama dua temannya yang lain untuk berwisata.

Mereka tiba di lokasi air terjun sekitar pukul 08.30 WIB. Setibanya di lokasi salah satu korban bernama Azka berenang di lokasi namun tenggelam.

“Mengetahui temannya tenggelam, korban yang kedua berusaha menolong namun malah ikut tenggelam,” kata Arwin dalam laporan resmi yang diterima Betanews.id.

Baca juga : Miris! Santri di Jepara Diduga Jadi Korban Pencabulan Pimpinan Ponpes

Korban pertama ditemukan sekitar pukul 11.30 WIB. Lokasinya di sekitar titik korban tenggelam. Korban pertama ditemukan dengan bantuan jangkar, sedangkan korban kedua ditemukan tim penyelam sekitar 10 menit dari evakuasi korban yang pertama.

Pencarian korban melibatkan personel SAR dan Tim BPBD Jepara yang menyelam ke dasar sungai dengan kedalaman sekitar lima meter.

Arwin mengimbau agar masyarakat lebih berhati-hati saat berwisata di lokasi wisata air sebaba kondisi alam sering kali tidak sepenuhnya aman. Salah satu risiko yang terkadang tidak disadari yaitu arus bawah.

Terlebih saat peristiwa terjadi, arus bawah di lokasi kejadian cukup kuat. Kondisi itu juga menjadi salah satu kendala dalam proses pencarian dan evakuasi korban.

“Di lokasi arus bawahnya kencang banget. Intinya hati-hati jaga keselamatan,” ujarnya.

Arwin mengingatkan agar masyarakat maupun wisatawan tidak lengah saat bermain air di kawasan wisata alam. Terlebih di lokasi yang memiliki kedalaman tidak merata, bebatuan licin, serta pusaran atau arus bawah yang sulit terlihat dari permukaan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Wujud Syukur Nelayan, Pesta Lomban Larungan Kepala Kerbau di Jepara Berlangsung Meriah

0
Warga melakukan larung kepala kerbau. Foto: Umi Nurfaizah.

BETANEWS.ID, JEPARA– Sebagai wujud rasa syukur, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara kembali mengadakan larungan kepala kerbau sebagai bagian dari perayaan pesta lomban pada Sabtu (28/3/2026).

Tradisi yang rutin digelar setiap tahun pada hari ke tujuh setelah Lebaran Idulfitri itu juga selalu disambut antusias oleh ribuan masyarakat.

Dengan menaiki kapal nelayan, masyarakat turut hadir langsung mengikuti prosesi larungan kepala kerbau. Total terdapat sekitar 300 kapal nelayan yang ikut melarung.

Prosesi larungan sendiri dimulai dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Batu sekitar pukul 07.00 WIB.
Di sana, miniatur kapal berisi kepala kerbau dan sejumlah sesaji lainnya sudah disiapkan sehari sebelum pelaksanaan tradisi lomban.

Dibawa menggunakan kapal, miniatur kapal berisi kepala kerbau tersebut kemudian dilarung ke tengah laut tidak jauh dari sekitar Pulau Panjang.

Pelarungan dilakukan sekitar pukul 08.00 WIB. Berbeda dibanding tahun sebelumnya, setelah dilarung, miniatur kapal tidak langsung diperebutkan oleh ribuan masyarakat yang hadir. Namun, diberi jeda sekitar satu menit.

Baca juga: Kirab Kerbau Bule Meriahkan Rangkaian Tradisi Pesta Lomban di Jepara 

Baru setelahnya, miniatur kapal beserta seluruh isi sesajinya diperebutkan oleh masyarakat. Akan tetapi, sesaji itu tidak dibawa pulang. Biasanya hanya miniatur kapal yang dibawa pulang.

Kegiatan larungan kepala kerbau tersebut berakhir di Pantai Kartini Jepara dan dilanjut dengan Festival Kupat Lepet.

Bupati Jepara, Witiarso Utomo mengatakan, sebelum pelaksanaan larungan kepala kerbau, pada hari sebelumnya juga sudah dilakukan rangkaian kegiatan. Yaitu kirab kerbau bule dari TPI Ujung Batu ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jobokuto pada Jumat (27/3/2026). Kegiatan kemudian dilanjut dengan ziarah ke Makam Cik Lanang dan Mbah Ronggo.

Lalu dilanjut dengan wayangan semalam suntuk dengan lakon Wahyu Sandang Pangan di TPI Ujung Batu. Kemudian pada hari ini, selain larungan, juga kembali diadakan pentas wayang dengan lakon Dewa Ruci.

“Kegiatan Tradisi Pesta Lomban ini sebagai wujud syukur kita kepada alam dan Allah SWT, sudah diberikan rezeki pada tahun lalu dan semoga rejeki tahun depan lebih melimpah,” kata Wiwit saat ditemui di Pantai Kartini.

Wiwit melanjutkan, untuk menarik minat wisatawan, pada tahun-tahun depan, ia berancana untuk membuat rangkaian kegiatan tradisi pesta lomban berjalan lebih meriah.

“Sudah saya sampaikan ke Pak Sekda supaya tahun depan ada hiburan air, supaya lebih menarik. Bule-bule juga akan kita ajak supaya kegiatan ini lebih go internasional,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Program Mudik-Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng Jangkau 21.975 Orang

0
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melepas peserta Program Balik Rantau Gratis 2026 di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Sabtu (28/3/2026). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, BOYOLALI — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melepas peserta Program Balik Rantau Gratis 2026 di Asrama Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, Sabtu (28/3/2026).

Program tersebut menjadi bagian dari fasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bagi warga yang kembali ke perantauan usai merayakan Lebaran di kampung halaman masing-masing.

Selain di Asrama Haji Donohudan, kegiatan serupa juga dilaksanakan di Terminal Mangkang Kota Semarang, dan Terminal Bulupitu Kabupaten Banyumas.

Luthfi menyatakan, program mudik dan balik rantau gratis merupakan bentuk kehadiran negara untuk meringankan beban para perantau, terutama bagi pekerja sektor informal.

“Negara perlu hadir untuk memberikan fasilitas, tidak hanya pada saat mudik, tetapi saat balik pun kita lakukan,” kata Luthfi.

Menurut dia, program tersebut bukan sekadar layanan transportasi, melainkan upaya menjaga tradisi mudik sekaligus membantu para perantau, agar tetap bisa pulang tanpa terbebani ongkos perjalanan. Dengan biaya perjalanan yang ditanggung pemerintah, mereka bisa menggunakan tabungannya untuk kebutuhan keluarga di kampung halaman.

Luthfi menyebut, para penerima manfaat program ini umumnya adalah pekerja informal, mulai dari tukang bakso, pekerja pabrik, tukang ojek, pekerja bangunan, hingga pedagang kecil. Bagi mereka, ongkos perjalanan pulang-pergi menjadi pengeluaran besar yang bisa sangat membebani ekonomi keluarga.

“Dengan negara hadir memberikan sumbangan, meskipun itu kecil, tetapi sangat berharga bagi mereka,” ujar Luthfi.

Luthfi menambahkan, mudik dan balik rantau gratis juga memberi dampak lain, yakni membantu pengaturan lalu lintas agar perjalanan pemudik lebih tertib, terkonsentrasi, dan terawasi.

“Dengan adanya mudik bersama yang terkoordinasi dari sisi lalu lintas, maka pergerakan pemudik menjadi lebih terkonsentrasi dan terawasi, sehingga bisa meminimalkan adanya black spot maupun titik rawan terkait lalu lintas,” katanya.

Ia juga berpesan kepada warga Jawa Tengah yang kembali ke perantauan agar tetap menjaga semangat bekerja dan membawa nama baik daerah asal. “Jawa Tengah itu pekerja keras, sopan, dan toleran,” ujar Luthfi.

Baca juga: Pemprov Jateng, Pemkot Semarang, dan Pemkab Kendal Bakal Olah Sampah Jadi Listrik

Sebagai informasi, Pemprov Jateng pada Program Balik Rantau Gratis 2026 menyiapkan total 84 armada bus dengan kapasitas 4.181 penumpang, serta 4 gerbong kereta api berkapasitas 320 penumpang.

Moda kereta api telah lebih dahulu diberangkatkan pada 27 Maret 2026 dari Stasiun Tawang, Semarang, menuju Stasiun Pasar Senen, Jakarta, menggunakan KA Tawang Jaya Premium.

Dari total armada bus tersebut, 41 bus diberangkatkan dari Asrama Haji Donohudan, 21 bus dari Terminal Bulupitu Banyumas, 11 bus dari Terminal Mangkang Semarang, serta 11 bus melalui pemberangkatan mandiri di Magelang, Kendal, Kudus, dan Blora. Adapun tujuan keberangkatan meliputi 76 bus menuju Terminal Terpadu Pulo Gebang, Jakarta, dan 8 bus menuju Bandung.

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah Arif Djatmiko mengatakan, program Balik Rantau Gratis diselenggarakan sebagai wujud kehadiran pemerintah bagi warga Jateng yang merantau ke Jabodetabek dan Bandung, terutama yang bekerja di sektor informal, agar memperoleh sarana transportasi yang pasti, mudah, aman, dan nyaman.

“Balik Rantau Gratis ini adalah sebagai wujud kehadiran pemerintah, khususnya bagi warga Jawa Tengah yang merantau ke Jabodetabek dan Bandung, agar mendapatkan sarana transportasi secara pasti, mudah, aman, dan nyaman,” ujarnya.

Ia menambahkan, antusiasme masyarakat terhadap program ini sangat tinggi. Pendaftaran yang dibuka pada 13 hingga 14 Maret 2026 bahkan langsung penuh dalam waktu singkat.

“Pendaftaran Balik Rantau ini dilakukan pada 13 sampai dengan 14 Maret 2026. Pendaftaran hanya 10 menit, langsung penuh,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah menjalankan program mudik gratis. Secara keseluruhan, rangkaian program mudik-balik rantau gratis Pemprov Jateng tahun ini menjangkau 21.975 orang, terdiri dari 1.288 penumpang kereta api mudik, 16.186 penumpang bus mudik, 320 penumpang kereta api balik rantau, dan 4.181 penumpang bus balik rantau.

Untuk menjamin keselamatan perjalanan, seluruh armada dan kru juga telah melalui pemeriksaan kelayakan atau ramp check sebelum diberangkatkan.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

18 Gunungan Meriahkan Parade Sewu Kupat, Tradisi Syawalan di Kudus yang Terus Lestari

0
Belasan gunungan diarak dalam Parades Sewu Kupat di Colo, Kudus. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Ribuan warga banjiri Parade Sewu Kupat, di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Sabtu (28/3/2026). Kegiatan yang merupakan perayaan Syawalan itu selalu digelar setiap tahun, setelah tujuh hari Lebaran Idulfitri.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, antusias pengunjung dalam perayaan tradisi ini sangat tinggi. Bahkan tradisi yang dipercaya warga untuk mencari keberkahan dari Kanjeng Sunan Muria itu ada belasan gunungan yang dibawa oleh desa-desa di Kecamatan Dawe, khususnya Desa Colo.

Ketua Panitia Parade Sewu Kupat, Suwanto menyebut, bahwa perayaan tradisi Parade Sewu Kupat tahun ini jauh lebih meriah dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan perayaan yang rutin digelar setiap tahun itu menyasar semua elemen masyarakat secara umum warga Kabupaten Kudus dan secara khusus masyarakat Kecamatan Dawe.

“Baik dari ormas (organisasi masyarakat) hingga semua kalangan, khususnya warga Desa Colo. Yang membedakan mungkin, tahun ini tidak mengadakan lomba gunungan seperti tahun-tahun sebelumnya,” bebernya usai acara, Sabtu (28/3/2026).

Sedikitnya ada sebanyak 18 gunungan yang diarak mulai Makam Sunan Muria hingga Taman Ria yang menjadi titik kumpul perayaan Parade Sewu Kupat. Belasan gunungan itu berasal dari masing-masing desa di Kecamatan Dawe, yang berisikan kupat, lepet, dan sejumlah hasil bumi di wilayah tersebut.

Ia menuturkan, terkait wacana tradisi pemecahan Museum Rekor Dunia-Indonesia (MURI), pihaknya mengaku belum bisa melaksanakan. Karena jumlah kupat pemecahan MURI sudah ada di tempat lain dengan jumlah hingga 67 ribu kupat.

Baca juga: Kirab Kerbau Bule Meriahkan Rangkaian Tradisi Pesta Lomban di Jepara 

Sehingga dengan hanya seribu kupat, hal itu belum cukup untuk memecahkan rekor sebelumnya. Untuk itu pihak panitia hingga Pemerintah Kabupaten (Pemkab) harus berpikir ulang.

“Kemarin kita sudah berkoordinasi dengan pihak MURI, tapi jumlah dari seribu kupat itu sudah ada yang memecahkan hingga mencapai 67 ribu kupat. Maka dari itu, untuk MURI kita masih berpikir lagi apa yang harus kita lakukan selanjutnya,” ujarnya.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris turut mengapresiasi pelaksanaan tradisi yang selalu digelar tersebut. Menurutnya, adanya kegiatan secamam itu dapat meningkatkan kunjungan wisatawan dan dampaknya ekonomi kerakyatan berjalan dengan sangat baik.

“Ini sebagai bentuk destinasi wisata, juga sebagai bentuk peningkatan ekonomi masyarakat, ya. Semoga dengan adanya kegiatan ini, yang tiap tahun diadakan ini menarik wisatawan di Kabupaten Kudus dan efeknya akan meningkatkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, bahwa antusias warga dalam perayaan Lebaran Ketupat di Kudus sangat tinggi. Mengingat ada sebanyak 6-7 titik perayaan yang tersebar di sejumlah daerah, seperti Parade Sewu Kupat di Colo, ada Lomban di Kesampi, tradisi Bulusan di Hadipolo, kirab Sendang Jodo di Purworejo, dan lain sebagainya.

Sementara itu, Komisi IX DPRD Provinsi Jawa Tengah, Musthofa turut mengapresiasi penyelenggaraan tradisi tersebut yang didukung oleh pemangku kebijakan, dalam hal ini Pemkab Kudus. Tradisi yang dibentuk sejak 2007 itu merupakan salah satu wujud dan hormat kepada Kanjeng Sunan Muria, dalam ajarannya sebagai wujud syukur hasil panen dan ajang silaturrahmi.

“Selepas siapapun pemangku wilayah yang menjabat, masih atau tidaknya (tradisi) adalah kewajiban masyarakat Colo dan sekitarnya untuk terus digelar setiap tahun,” terangnya.

Musthofa menegaskan, tradisi itu bukan milik perorangan, tapi milik warga Kecamatan Dawe. Ia berpesan untuk selalu menjaga kebersamaan, saling gotong royong antarwarga.

“Terlebih Colo ini sekarang jadi PCB (Persatuan Colo Bersatu). Jadi tidak ada lagi kelompok-kelompokan, saat ini menjadi guyub rukun antar warga. Saya tekankan lagi, tradisi ini bukan milik siapa-siapa, tapi milik warga Kecamatan Dawe,” pungkasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Pemprov Jateng, Pemkot Semarang, dan Pemkab Kendal Bakal Olah Sampah Jadi Listrik

0
Penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Penyelenggaraan Pengolahan Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, dan Pemerintah Kabupaten Kendal di Gubernur Jawa Tengah, Sabtu (28/3/2026). Foto: Ist

BETANEWS.ID, SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, dan Pemrintah Kabupaten Kendal akan berkolaborasi melakukan pengolahan sampah menjadi energi listrik.

Kolaborasi itu ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama tentang Penyelenggaraan Pengolahan Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Kota Semarang, dan Pemerintah Kabupaten Kendal di Gubernur Jawa Tengah, Sabtu (28/3/2026).

Penandatanganan itu dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Walikota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti, dan Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari.

Hanif menyampaikan apresiasinya kepada Gubernur Jateng atas keseriusan dan langkah operasional yang dinilai konkret dalam penanganan sampah di Jawa Tengah. Upaya yang dilakukan sejalan dengan upaya pemerintah pusat untuk mengurangi praktik open dumping (pembuangan sampah di tanah terbuka) di daerah.

“Melalui kepemimpinan Bapak Gubernur, harapan kami tahun 2026 akan terjadi lonjakan tingkat pengelolaan sampahnya,” ucapnya.

Menurut dia, langkah itu penting untuk menjawab persoalan sampah di kawasan perkotaan dengan timbulan tinggi.

Hanif menyebut, pembangunan pengolahan sampah menjadi energi listrik merupakan langkah fundamental untuk mengakhiri persoalan pengelolaan sampah secara nasional.

Untuk wilayah seperti Semarang Raya, pendekatan berbasis teknologi tinggi dinilai menjadi pilihan yang efektif, karena volume sampah yang besar tidak lagi memadai ditangani dengan pola konvensional.

Ia menambahkan, pembangunan fasilitas waste to energy di Jawa Tengah memerlukan waktu sedikitnya tiga tahun. Karena itu, selama masa transisi tersebut, pemerintah daerah tetap harus melakukan berbagai upaya pengurangan dan pengolahan sampah, agar beban di tempat pemrosesan akhir tidak semakin berat.

Baca juga: Tinjau Lokasi Tanah Bergerak di Brebes, Wagub Jateng Upayakan Percepatan Pembangunan Huntara

Hanif secara khusus menyinggung langkah Pemprov Jateng yang mulai mengembangkan refuse derived fuel (RDF) di sejumlah daerah. Upaya itu dinilai sebagai bentuk tata kelola yang tidak semata menunggu proyek besar berjalan, melainkan juga menyiapkan solusi bertahap yang bisa segera dioperasikan.

“Bapak Gubernur juga telah mengembangkan pembangunan refuse derived fuel, yaitu sampah menjadi bahan bakar, pada tiga kabupaten dan akan dikembangkan lagi pada enam kabupaten,” kata Hanif.

Ia mengaku optimistis, dengan kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan dukungan kepala daerah di kabupaten/kota, akan ada lonjakan signifikan dalam pengelolaan sampah di Jawa Tengah pada 2026.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi menegaskan, percepatan penanganan sampah di Jawa Tengah merupakan tindak lanjut atas kebijakan Presiden yang menargetkan persoalan sampah tuntas pada 2029.

“Provinsi Jawa Tengah telah membentuk Satgas Sampah untuk menjabarkan perintah Bapak Presiden sesuai RPJMN, bahwa pada 2029 harus zero sampah,” kata Luthfi.

Ia menjelaskan, strategi penanganan sampah di Jawa Tengah disusun berdasarkan skala timbulan sampah di masing-masing wilayah. Daerah dengan volume sampah di atas 1.000 ton per hari didorong menggunakan pendekatan regional, sementara daerah dengan timbulan lebih kecil diarahkan ke pengolahan berbasis RDF.

“Sudah ada tiga kabupaten membentuk RDF, lalu bekerja sama dengan pabrik semen, yaitu Banyumas, Cilacap, dan Magelang. Kemudian enam kabupaten juga kita menuju ke RDF,” ujarnya.

Luthfi mengungkapkan, timbulan sampah di Jawa Tengah mencapai hampir 6,4 juta ton per tahun. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 30 persen yang terkelola, sementara sisanya belum tertangani maksimal.

Dengan adanya kesepakatan bersama antara Pemprov Jateng, Pemkot Semarang, dan Pemkab Kendal dalam pembangunan pengolahan sampah menjadi energi listrik pun menjadi salah satu langkah penting dalam peta jalan penanganan sampah di Jawa Tengah.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tradisi Bulusan Kudus Kembali Digelar, Ribuan Warga Berebut Gunungan

0
Warga berebut gunungan pada acara Bulusan di Desa Hadipolo, Jekulo, Kudus, Sabtu (28/3/2026). Foto: Rabu Sipan.

BETANEWS.ID, KUDUS – Tradisi Bulusan di Dukuh Sumber, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus kembali digelar pada Sabtu (28/3/2026). Ribuan warga tampak memadati lokasi untuk mengikuti rangkaian acara dan berebut gunungan sebagai simbol mencari berkah.

Tradisi tahunan ini menjadi salah satu kearifan lokal yang masih terjaga hingga kini. Selain kirab gunungan, acara juga diwarnai dengan prosesi pemberian makan bulus atau kura-kura oleh juru kunci setempat.

Panitia tradisis Bulusan, Nur Kholis mengatakan, bahwa pelaksanaan tahun ini memiliki perbedaan dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satunya adalah tidak adanya pungutan biaya atau tiket masuk bagi pengunjung.

Menurutnya, konsep tahun ini lebih menekankan pada kebersamaan masyarakat. Seluruh warga dilibatkan secara aktif tanpa adanya unsur komersialisasi dalam pelaksanaan tradisi tersebut.

“Kalau sebelumnya ada kepanitiaan dengan sistem tiket, sekarang kami ingin semuanya gratis. Tujuannya agar masyarakat bisa ikut serta tanpa beban dan benar-benar merasakan kebersamaan,” ujarnya.

Baca juga: Kirab Kerbau Bule Meriahkan Rangkaian Tradisi Pesta Lomban di Jepara 


Ia menjelaskan, seluruh kebutuhan acara berasal dari partisipasi masyarakat. Mulai dari gunungan hingga konsumsi kenduren berasal dari sumbangan warga di masing-masing RT.

Jumlah gunungan yang dikirab dalam tradisi kali ini sebanyak sembilan hingga sepuluh. Isinya terdiri dari ketupat, lepet, sayuran, serta berbagai hasil bumi yang melambangkan kemakmuran.

Selain kirab gunungan, rangkaian acara juga diawali dengan kenduren pada malam sebelumnya. Kegiatan ini dilanjutkan dengan pentas seni pada siang hari dan pertunjukan wayang kulit pada malam harinya.

Nur Kholis berharap, tradisi ini dapat terus memperkuat kebersamaan warga. Ia juga menargetkan ke depan kegiatan ini bisa mendukung perbaikan lingkungan dan fasilitas di wilayah setempat.

Salah satu warga, Riris (17), mengaku turut ikut berebut gunungan bersama warga lainnya. Ia berhasil mendapatkan beberapa sayuran seperti wortel, kacang panjang, sawi, dan terong.

Menurutnya, hasil yang didapat akan dimasak untuk konsumsi keluarga. Selain itu, ia juga percaya bahwa hasil gunungan membawa berkah bagi kehidupan.

“Buat makan keluarga saja, biar dapat berkahnya. Harapannya bisa selamat dan rezekinya lancar,” ujarnya.

Riris mengaku selalu mengikuti tradisi Bulusan setiap tahun. Ia menilai kegiatan ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga bagian dari tradisi yang harus dilestarikan.

Tradisi Bulusan sendiri dikenal sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur masyarakat. Hingga kini, tradisi tersebut tetap menjadi daya tarik yang mampu mengundang antusiasme warga setiap tahunnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tinjau Lokasi Tanah Bergerak di Brebes, Wagub Jateng Upayakan Percepatan Pembangunan Huntara

0
Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Taj Yasin Maimoen meninjau lokasi bencana tanah bergerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes pada Jumat (27/3/2026). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, BREBES – Wakil Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Taj Yasin Maimoen meninjau lokasi bencana tanah bergerak di Dukuh Bojongsari, Desa Sridadi, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes pada Jumat (27/3/2026).

Pihaknya terus mengupayakan proses pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak bencana tanah gerak di wilayah tersebut.

Taj Yasin menyampaikan, huntara warga bagi warga terdampak saat ini masih dalam proses pengadaan. Sebab, lahan yang akan dibangun merupakan lahan milik Perhutani. Tak ayal, perlu hati-hati dalam penggunaannya.

“Kami akan sangat berhati-hati, sehingga lokasinya nanti akan disurvey, dan dilihat supaya tidak membahayakan lingkungan,” katanya.

Salah seorang warga, Asro berharap, agar huntara segera dibangun, karena mereka sudah lama tinggal di pengungsian.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak terutama Ponpes Bahrul Quran yang bersedia menyediakan fasilitas sementara untuk tempat beristirahat. Harapannya, pembangunan huntara bisa dipercepat,” katanya.

Baca juga: Hemat Ongkos Usai Lebaran, Program Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng Disambut Antusiasme Peserta

Warga lainnya, Masripah, juga berharap segera dibangun huntara. Terlebih, tempat tinggal asalnya sudah tidak bisa lagi ditempati.Meskipun saat ini berada di lokasi aman, Masripah berharap segara dibangunkan huntara biar lebih nyaman.

Masripah juga sangat bersedih karena Lebaran tahun ini urung bersua dengan dua anaknya yang berada di perantauan. Mereka yang tinggal di luar kota tahun ini tidak bisa pulang karena tidak memiliki rumah tujuan.

Kepala Desa Sridadi, Sudiryo, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang memberikan perhatian kepada warga terdampak. “Harapan kami pertama huntara dipercepat, ” kata Sudiryo.

Dijelaskan dia, huntara yang dibutuhkan sebanyak 143 unit, untuk mengakomodasi 176 KK. Adapun jumlah warga terdampak sebanyak 533 jiwa.

Sudiryo mengatakan, sejauh ini sudah ada rencana lahan yang dipergunakan sebagai huntara. Yakni, lahan milik Perhutani di petak 34 G tepatnya di Dusun Susunda.

“Warga menghendaki rumah untuk huntara memanfaatkan material bekas rumah yang ada,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Tanggul Sungai Wulan Longsor, BBWS Pemali Juana Sebut Penanganan Dilakukan Pekan Depan

0
Petugas melakukan pengecekan lokasi tanggul longsor di Sungai Wulan. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana memastikan penanganan longsoran (sledding) di tanggul Sungai Wulan akan mulai dilakukan pada pekan depan. Saat ini, proses persiapan alat dan material tengah dikebut agar penanganan bisa segera dilaksanakan.

Pelaksana Teknik (Peltek) UPSDA 2 BBWS Pemali Juana, Agus Yanto mengatakan, tim lapangan telah melakukan pengecekan lokasi sejak pagi hingga siang hari, sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat terkait rencana penanganan tanggul.

“Dari teman-teman lapangan sudah cek lokasi dan koordinasi dengan desa. Insya Allah penanganan mulai minggu depan. Untuk alat dan bahan, minggu ini kita siapkan, semoga bisa segera datang,” bebernya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (27/3/2026).

Agus menjelaskan, titik longsoran tersebut merupakan lokasi baru, meskipun di bagian hulu sebelumnya pernah terjadi kejadian serupa dan telah dilakukan perbaikan. Kondisi ini menjadi perhatian karena berada di kawasan bantaran tanggul yang mayoritas dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

Menurutnya, salah satu faktor pemicu longsoran adalah kondisi tanah tanggul yang jenuh akibat curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, adanya saluran air (afur) di kaki tanggul juga dinilai memengaruhi stabilitas struktur tanah di kaki tanggul.

Baca juga: Dinas PUPR Kudus Bakal Perketat Izin Galian Fiber Optik

“Tanah tanggul jenuh karena hujan terus dan terendam air. Ditambah ada saluran pertanian di kaki tanggul yang bisa mengganggu stabilitas,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, pihak BBWS berencana menggeser saluran air tersebut ke bagian tengah agar tidak lagi membebani kaki tanggul. Koordinasi dengan pemerintah desa akan terus dilakukan untuk mendukung rencana tersebut.

Selain itu, Agus juga mengimbau masyarakat agar tidak menanam tanaman seperti pisang dan jagung di area tanggul. Sebaliknya, vegetasi seperti rumput vetiver atau rumput gajah dinilai lebih aman karena mampu memperkuat struktur tanah.

“Kami sudah komunikasi dengan desa dan kecamatan. Kalau bisa tanggul jangan ditanami pisang atau jagung. Lebih baik rumput seperti vetiver yang bisa membantu mengikat tanah,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan agar tidak ada pembangunan di area bantaran sungai, karena dapat mengurangi kapasitas tampung dan berpotensi memperparah kondisi tanggul.

Meski terjadi longsoran, Agus memastikan kondisi tanggul secara umum masih dalam kategori aman. Namun, penanganan tetap perlu segera dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Latih Kondisi Fisik Usai Libur Lebaran, Persijap Targetkan Poin Penuh Lawan Persik

0
Persijap kembali melakukan latihan usai libur Lebaran. Foto: Ist.

BETANEWS.ID, JEPARA– Tim Persijap Jepara kembali menjalani sesi latihan usai libur Lebaran Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi dan jeda pertandingan.

Pelatih Persijap Jepara, Mario Lemos mengatakan, jeda pertandingan dan libur Lebaran memberikan dampak positif bagi para pemain, baik secara mental maupun fisik. Sehingga tim kini kembali dalam kondisi segar untuk menghadapi sisa musim kompetisi.

Lemos menegaskan, bahwa Persijap siap mendorong dan berjuang maksimal dalam dua bulan terakhir musim ini.

Persijap saat ini masih memiliki waktu sekitar sembilan hari sebelum pertandingan berikutnya, yang akan dimanfaatkan secara optimal untuk memastikan para pemain berada dalam kondisi terbaik, dari sisi kebugaran fisik maupun kesiapan taktik.

Lemos melanjutkan, fokus utamanya saat ini yaitu membawa skuad mencapai hari pertandingan dalam kondisi sempurna, dengan target jelas meraih tiga poin saat bertandang ke markas Persik Kediri, Brawijaya Stadium pada Senin, (6/4/2026) mendatang.

Baca juga: Gagal Curi 3 Poin, Persijap Jepara Ditahan Imbang PSIM pada Detik Terakhir 

“Kami masih punya sembilan hari sebelum pertandingan berikutnya. Fokus kami adalah memastikan tim mencapai hari pertandingan dalam kondisi terbaik, dari sisi kebugaran maupun kesiapan mental serta taktik” ujar Mario pada Jumat, (27/3/2026).

Selain itu, Lemos juga menyoroti evaluasi dari pertandingan sebelumnya. Ia mengakui tim sempat kebobolan dua gol ketika mewalan PSIM, sehingga diperlukan beberapa penyesuaian dalam aspek pertahanan.

Namun di sisi lain, ia melihat banyak hal positif, seperti kemampuan tim bangkit di babak kedua, mencuri poin di laga tandang, serta produktivitas dengan mencetak tiga gol.

Evaluasi tersebut kini langsung diterapkan dalam sesi latihan, dengan harapan Persijap tampil lebih solid dan efektif saat kembali bertanding melawan Persik Kediri.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Hemat Ongkos Usai Lebaran, Program Balik Rantau Gratis Pemprov Jateng Disambut Antusiasme Peserta

0
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyapa warga saat memberangkatkan peserta program balik rantau gratis dengan moda kereta api dari Stasiun Tawang, Semarang, Jumat (27/3/2026). Foto: Ist.

BETANEWS.ID, SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memberangkatkan peserta program balik rantau gratis dengan moda kereta api dari Stasiun Tawang, Semarang, Jumat (27/3/2026).

Program tersebut menjadi bagian dari fasilitasi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk membantu masyarakat, khususnya pekerja informal, kembali ke perantauan usai merayakan Lebaran di kampung halaman.

Luthfi menjelaskan, program balik rantau gratis ini difasilitasi dengan moda kereta api dan bus. Khusus pada hari ini, pemberangkatan dilakukan dengan kereta api dari Stasiun Tawang. Ada sebanyak 320 penumpang diberangkatkan menggunakan empat gerbong kereta api.

Program ini merupakan bagian dari skema pelayanan Pemprov Jateng bersama sejumlah pemerintah kabupaten/kota, Bank Jateng, dan para pemangku kepentingan lainnya.

Menurutnya, bantuan transportasi gratis sangat berarti bagi warga yang bekerja di sektor informal. Sebab, bisa jadi mereka telah mengeluarkan banyak anggaran selama mudik di kampung halaman.

“Mereka yang sudah mudik di Jawa Tengah, sudah belanja di kampungnya masing-masing, dia pulang itu uangnya sudah tipis. Sehingga dengan adanya program balik rantau gratis ini, mereka sangat senang sekali,” kata Luthfi disela acara pelepasan.

Luthfi menyatakan, program ini merupakan wujud kehadiran Pemprov Jateng, di tengah kebutuhan masyarakat, terutama kelompok pekerja informal.

Dalam kesempatan itu, Luthfi berharap, kepada warga Jawa Tengah yang kembali bekerja di perantauan agar tetap menjaga semangat, bekerja keras, dan menaati hukum. Menurutnya, keluarga di kampung halaman menaruh harapan besar kepada mereka.

Ia menambahkan, karakter masyarakat Jawa Tengah yang guyub, rukun, rajin bekerja, dan menjunjung toleransi harus terus dijaga. Karekter tersebut sebagai modal sosial saat kembali ke perantauan.

Salah seorang peserta program balik rantau gratis, Susanto mengaku,senang dengan program tersebut, karena membantu pengeluaran keluarganya. Tahun ini ia mudik bersama istri dan dua anaknya.

“Ini menghemat banget, membantu kami menekan pengeluaran,” ujar warga asal Pati yang hendak merantau di Bekasi ini.

Ia menyatakan, sudah berulangkali menikati program tersebut, namun sebelumnya selalu menggunakan armada bus. Adapun perjalanan balik rantau dengan kereta api kali ini menjadi pengalaman pertama bagi keluarganya.

Baca juga: Gus Yasin Kunjungi Masjid Bersejarah yang Ludes Terbakar di Boyolali, Salurkan Bantuan Rp80 Juta

Ia mengaku senang karena kedua anaknya bisa merasakan pengalaman naik kereta jarak jauh untuk pertama kali.

“Senang, soalnya bisa mengajak anak-anak yang belum pernah naik kereta,” ucapnya.

Hal senada disampaikan Nani Rusmalani, perantau asal Demak yang sehari-hari tinggal di Bogor. Ia bersama suaminya, Zainal Mubarok, mengikuti program balik gratis kereta api untuk pertama kalinya.

Menurut Nani, sebelumnya saat mudik ke kampung halaman ia menempuh perjalanan menggunakan bus. Karena itu, pengalaman mengikuti program balik gratis dengan kereta api kali ini terasa berbeda dan menyenangkan.

“Baru pertama kali ikut balik rantau gratis kereta ini. Kemarin mudik pulang naik bus. Pengalamannya seru,” ujarnya.

Sementara itu, Zainal Mubarok mengaku biasanya ia mudik secara mandiri dengan biaya perjalanan yang tidak sedikit. Karena itu, program balik rantau gratis sangat membantu dari sisi ekonomi.

“Biasanya mudik umum, habisnya sampai Rp1 juta per orang. Jadi ini sangat membantu,” ucapnya.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Jateng dan berharap ke depan jumlah gerbong yang disediakan untuk program mudik dan balik rantau gratis bisa ditambah.

“Saya ucapkan terima kasih kepada Pak Luthfi atas dukungannya. Harapan ke depan mudah-mudahan lebih banyak gerbong yang disediakan untuk yang mudik gratis,” tandasnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Atap Aula Kelurahan Mlatinorowito Ambruk Usai Diterjang Hujan dan Angin

0
Sejumlah warga dan petugas saat meninjau kondisi atap aula Kelurahan Mlatinorowito yang ambruk. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Atap gedung aula Kelurahan Mlatinorowito, Kecamatan/Kabupaten Kudus roboh, pada Jumat (27/3/2026) dini hari. Atap yang berbahan baja ringan tersebut ambruk diduga disebabkan dampak hujan lebat disertai angin pada Kamis (26/3/2026) hingga Jumat dini hari.

Beruntungnya tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hanya saja, ambrolnya atap aula mengakibatkan beberapa kerusakan material yang ada di dalam gedung tersebut.

Lurah Mlatinorowito, Ainnur Sri Yulianing Sutrisno mengatakan, bahwa kejadian ambrolnya atap aula terjadi sekitar pukul 4.00 WIB dini hari tadi. Pihaknya mendapat laporan kejadian tersebut dari penjaga kelurahan yang mendapati seluruh atap aula roboh.

“Informasi dari rekan penjaga, kejadian terjadi pukul 4.00 WIB menjelang subuh dan kami baru dapat info seperti itu pagi tadi,” bebernya saat ditemui di lokasi, Jumat (27/3/2026). 

Baca juga : DPRD Kudus Soroti Warung Madura Buka 24 Jam, Minta Pemkab Susun Regulasi

Ia menuturkan, bangunan aula sebenarnya dibangun sejak 1990-an, namun untuk atap baru diperbaiki pada 2022 dengan menghabiskan anggaran sekitar Rp186 juta. Material atap menimpa seisi ruangan di dalam aula kantor kelurahan tersebut.

“Untuk bangunan ini biasanya dibuat untuk ruang pertemuan. Jadi material dan sarana prasana di dalamnya seperti kursi, meja hingga kipaa angin rusak akibat reruntuhan atap itu,” terangnya. 

Untuk menindaklanjuti kejadian itu, pihaknya langsung melaporkan peristiwa tersebut kepada pemerintah kecamatan hingga Inspektorat Kabupaten Kudus. Menurutnya, pagi tadi, pihak Inspektorat Kabupaten Kudus juga telah mengaudit dan pihaknya kini masih menunggu hasil keluar. 

“Tindak lanjut kami, melaporkan ke kecamatan dan inspektorat, dan sudah dilakukan audit di lokasi,” terangnya.

Sementara itu, Kasi Kedaruratan BPBD Kudus Ahmad Munaji menyampaikan, cuaca ekstrem terjadi di wilayah Kudus pada Kamis (26/3/2026) hingga Jumat (27/3/2026) dini hari. 

Akibatnya, beberapa titik di wilayah Kecamatan Kota mengalami pohon tumbang hingga atap roboh di Aula Kantor Kelurahan Mlatinorowito.

“Termasuk di Pladen, Jekulo juga ada tanggul hebol,” bebernya.

Pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tetap waspada pada cuaca hidrometeorologi basah yang terjadi sampai pertengahan April 2026 nanti.

“Ancaman bencana hidrometeorologi masih berpotensi terjadi sampai April, serta menuju pancaroba atau pergantian musim. Kami imbau supaya tetap waspada dan berhati-hati,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

- advertisement -

Ribuan Wisatawan Kunjungi Kudus Selama Libur Lebaran, Destinasi Wisata Air Masih Jadi Primadona

0
Salah satu lokasi wisata di Kudus yang ramai dikunjungi wisatawan. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Pengunjung di sejumlah lokasi wisata di Kabupaten Kudus tercatat mengalami lonjakan selama momentum libur Lebaran 1447 Hijriyah. Terutama lokasi wisata yang berbasis wisata air sangat diburu para wisatawan, baik dari lokal maupun luar daerah.

Lonjakan wisatawan yang datang ke Kudus itu mulai terlihat sejak lebaran kedua atau 22 Maret 2026, dengan total pengunjung sebanyak 2.900 orang. Total itu tercatat telah memadati di empat titik destinasi wisata, seperti Taman Krida, Kawasan Rahtawu, ARS Waterpark, dan wisata Waduk Logung.

Bahkan sehari setelahnya pengunjung melonjak hingga 4.170 orang. Sementara, di Wisata Pijar Park yang berlokasi di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, diserbu hingga 3.000 pengunjung dalam sehari. Keramaian pengunjung diprediksi hingga Lebaran Ketupat atau pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Subkoordinator Destinasi Wisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Muhammad Aflah menyebut, wisata air dan panorama pegunungan masih menjadi destinasi wisata primadona yang diburu oleh pengunjung.

“Di libur lebaran kali ini, wisata air masih menjadi primadona bagib pengunjung, seperti waterboom. Tak hanya itu, ada panorama pegunungan seperti di Rahtawu dan Pijar Park yang juga menjadi dambaan pengunjung,” bebernya.

Ia memprediksi, lonjakan pengunjung akan terus berlangsung hingga akhir pekan ini tepatnya pada Lebaran Ketupat. Disbudpar Kudus, lanjut Aflah, pun telah melakukan monitoring dan langkah antisipasi untuk menyambut peningkatan kunjungan wisata.

“Tagline tahun ini adalah Wisata Aman, Nyaman, dan Menyenangkan. SE (Surat Edaran) dari Kementerian dan Provinsi Jawa Tengah juga sudah ada untuk antisipasi lonjakan pengunjung,” ungkapnya.

Pihaknya juga melibatkan berbagai stakeholder lain untuk membantu langkah monitoring wisata selama libur lebaran. Salah satunya, dengan pihak kepolisian untuk membantu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus juga diajak untuk membantu serta mengawasi apabila terjadi bencana di lokasi wisata, dengan mendirikan posko pengamanan di beberapa lokasi.

“Seperti di Logung itu ada posko sendiri untuk BPBD dan Destana, untuk membantu keamanan wisatawan,” tambahnya.

Sementara itu, CEO Pijar Park, Yusuf menyebut, bahwa lonjakan pengunjung di momentum libur Lebaran mengalami kenaikan hingga 100 persen. Tiap harinya, ada sekitar 2.000 hingga 4.000 pengunjung yang datang berwisata.

Baca juga: Kirab Kerbau Bule Meriahkan Rangkaian Tradisi Pesta Lomban di Jepara 

“Ini (keramaian) akan berlangsung sampai Kupatan. Puncaknya pas Sabtu dan Minggu itu,” imbuhnya.

Ribuan Wisatawan Kunjungi Kudus Selama Libur Lebaran, Destinasi Wisata Air Masih Jadi Primadona

BETANEWS.ID, KUDUS – Pengunjung di sejumlah lokasi wisata di Kabupaten Kudus tercatat mengalami lonjakan selama momentum libur Lebaran 1447 Hijriyah. Terutama lokasi wisata yang berbasis wisata air sangat diburu para wisatawan, baik dari lokal maupun luar daerah.

Lonjakan wisatawan yang datang ke Kudus itu mulai terlihat sejak lebaran kedua atau 22 Maret 2026, dengan total pengunjung sebanyak 2.900 orang. Total itu tercatat telah memadati di empat titik destinasi wisata, seperti Taman Krida, Kawasan Rahtawu, ARS Waterpark, dan wisata Waduk Logung.

Bahkan sehari setelahnya pengunjung melonjak hingga 4.170 orang. Sementara, di Wisata Pijar Park yang berlokasi di Desa Kajar, Kecamatan Dawe, diserbu hingga 3.000 pengunjung dalam sehari. Keramaian pengunjung diprediksi hingga Lebaran Ketupat atau pada Sabtu, 28 Maret 2026.

Subkoordinator Destinasi Wisata pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Muhammad Aflah menyebut, wisata air dan panorama pegunungan masih menjadi destinasi wisata primadona yang diburu oleh pengunjung.

“Di libur lebaran kali ini, wisata air masih menjadi primadona bagib pengunjung, seperti waterboom. Tak hanya itu, ada panorama pegunungan seperti di Rahtawu dan Pijar Park yang juga menjadi dambaan pengunjung,” bebernya.

Ia memprediksi, lonjakan pengunjung akan terus berlangsung hingga akhir pekan ini tepatnya pada Lebaran Ketupat. Disbudpar Kudus, lanjut Aflah, pun telah melakukan monitoring dan langkah antisipasi untuk menyambut peningkatan kunjungan wisata.

“Tagline tahun ini adalah Wisata Aman, Nyaman, dan Menyenangkan. SE (Surat Edaran) dari Kementerian dan Provinsi Jawa Tengah juga sudah ada untuk antisipasi lonjakan pengunjung,” ungkapnya.

Pihaknya juga melibatkan berbagai stakeholder lain untuk membantu langkah monitoring wisata selama libur lebaran. Salah satunya, dengan pihak kepolisian untuk membantu keamanan dan ketertiban masyarakat.

Selain itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus juga diajak untuk membantu serta mengawasi apabila terjadi bencana di lokasi wisata, dengan mendirikan posko pengamanan di beberapa lokasi.

“Seperti di Logung itu ada posko sendiri untuk BPBD dan Destana, untuk membantu keamanan wisatawan,” tambahnya.

Sementara itu, CEO Pijar Park, Yusuf menyebut, bahwa lonjakan pengunjung di momentum libur Lebaran mengalami kenaikan hingga 100 persen. Tiap harinya, ada sekitar 2.000 hingga 4.000 pengunjung yang datang berwisata.

“Ini (keramaian) akan berlangsung sampai Kupatan. Puncaknya pas Sabtu dan Minggu itu,” imbuhnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -

Pemkab Kudus Siap 6 Bus Gratis untuk Fasilitasi Warga Balik ke Perantauan

0
Salah satu armada bus yang digunakan untuk mudik gratis beberapa hari lalu. Foto: Kaerul Umam.

BETANEWS.ID, KUDUS – Bekerja sama dengan pihak swasta, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus kembali memfasilitasi sejumlah armada bus untuk arus balik gratis ke Jakarta. Sebanyak enam unit bus disiapkan untuk mengangkut ratusan warga Kudus yang kembali ke perantauan.

Kepala Seksi (Kasi) Sarana dan Prasana Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) pada Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus, Muchlisin mengatakan, bahwa jadwal pemberangkatan fasilitas bus arus balik untuk warga Kudus bakal diselenggarakan Sabtu (28/3/2026). Adapun untuk waktu pelepasan pukul 10.00 WIB di Pendapa Kabupaten Kudus.

“Program fasilitas bus arus balik gratis akan dilepas langsung oleh Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris di Pendapa Kabupaten Kudus,” katanya.

Enam unit tersebut, lanjut Muchlisin, disediakan oleh PT Djarum, PT Nojorono, dan PT Pura. Masing-masing perusahaan asal Kudus itu memberikan fasilitas balik ke perantauan dengan bus gratis.

Ia menyebut, untuk kuota kursi balik ke Jakarta disediakan sebanyak 300 orang khusus warga Kudus maupun yang tergabung dalam Forum Komunikasi Masyarakat Kudus (FKMK). Kuota tersebut saat ini sudah terisi penuh oleh masyarakat yang biasa merantau.

Baca juga: Viral Tarif Parkir Ambulans Capai Rp80 Ribu di RSUD Loekmonohadi Kudus, Pihak Rumah Sakit Angkat Bicara

”Kuota yang kami sediakan ada sebanyak 300 orang, saat sudah full booking,” sebutnya.

Pihaknya bahkan menjamin keselamatan pemudik, dengan upaya melakukan ramp chek pada kendaraan yang akan diberangkatkan tersebut. Ramp chek akan dilaksanakan, hari ini, Jumat (27/3/2026) di Kantor Dishub Kudus.

Terkait jadwal keberangkatan yang dipilih disamakan dengan Pemrov Jateng yang menggelar arus mudik dan balik gratis ke perantauan. Sejumlah titik keberangkatan dilaksanakan di Banyumas, Donohudan, dan Mangkang.

Muchlisin berharap, fasilitas balik gratis yang diberikan bisa meringankan pemudik. Serta warga Kudus bisa selamat sampai tujuan dan beraktivitas kembali.

Sebelumnya, Pemkab Kudus melaksanakan dan memberikan fasilitas mudik gratis warga yang hendak pulang ke Kudus. Dalam mudik gratis itu, Pemkab Kudus menyediakan sebanyak 12 bus untuk warganya yang merantau di Jakarta dan sekitarnya.

Editor: Kholistiono

- advertisement -