BETANEWS.ID, KUDUS – Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana memastikan penanganan longsoran (sledding) di tanggul Sungai Wulan akan mulai dilakukan pada pekan depan. Saat ini, proses persiapan alat dan material tengah dikebut agar penanganan bisa segera dilaksanakan.
Pelaksana Teknik (Peltek) UPSDA 2 BBWS Pemali Juana, Agus Yanto mengatakan, tim lapangan telah melakukan pengecekan lokasi sejak pagi hingga siang hari, sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat terkait rencana penanganan tanggul.
“Dari teman-teman lapangan sudah cek lokasi dan koordinasi dengan desa. Insya Allah penanganan mulai minggu depan. Untuk alat dan bahan, minggu ini kita siapkan, semoga bisa segera datang,” bebernya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (27/3/2026).
Agus menjelaskan, titik longsoran tersebut merupakan lokasi baru, meskipun di bagian hulu sebelumnya pernah terjadi kejadian serupa dan telah dilakukan perbaikan. Kondisi ini menjadi perhatian karena berada di kawasan bantaran tanggul yang mayoritas dimanfaatkan untuk lahan pertanian.
Menurutnya, salah satu faktor pemicu longsoran adalah kondisi tanah tanggul yang jenuh akibat curah hujan tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, adanya saluran air (afur) di kaki tanggul juga dinilai memengaruhi stabilitas struktur tanah di kaki tanggul.
Baca juga: Dinas PUPR Kudus Bakal Perketat Izin Galian Fiber Optik
“Tanah tanggul jenuh karena hujan terus dan terendam air. Ditambah ada saluran pertanian di kaki tanggul yang bisa mengganggu stabilitas,” jelasnya.
Sebagai langkah antisipasi, pihak BBWS berencana menggeser saluran air tersebut ke bagian tengah agar tidak lagi membebani kaki tanggul. Koordinasi dengan pemerintah desa akan terus dilakukan untuk mendukung rencana tersebut.
Selain itu, Agus juga mengimbau masyarakat agar tidak menanam tanaman seperti pisang dan jagung di area tanggul. Sebaliknya, vegetasi seperti rumput vetiver atau rumput gajah dinilai lebih aman karena mampu memperkuat struktur tanah.
“Kami sudah komunikasi dengan desa dan kecamatan. Kalau bisa tanggul jangan ditanami pisang atau jagung. Lebih baik rumput seperti vetiver yang bisa membantu mengikat tanah,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada pembangunan di area bantaran sungai, karena dapat mengurangi kapasitas tampung dan berpotensi memperparah kondisi tanggul.
Meski terjadi longsoran, Agus memastikan kondisi tanggul secara umum masih dalam kategori aman. Namun, penanganan tetap perlu segera dilakukan untuk mencegah kerusakan yang lebih luas.
Editor: Kholistiono

