Beranda blog Halaman 114

Bupati Kudus Sam’ani Angkat Suara Terkait Relokasi Pedagang Sayur ke Pasar Saerah

0
Pedagang sayur Pasar Bitingan saat menjajakan jualannya. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, menegaskan bahwa rencana pemindahan pedagang sayur dari Pasar Bitingan bukan tindakan pengusiran, melainkan upaya penataan kawasan agar aktivitas jual beli berlangsung lebih aman dan nyaman. Menurutnya, langkah ini juga menjadi solusi agar pedagang tidak lagi berjualan di area jalan.

Sam’ani menjelaskan bahwa sebagian pedagang selama ini berjualan di badan jalan sehingga rentan kehujanan dan mengganggu arus lalu lintas. Kondisi tersebut dinilai memprihatinkan dan membuat pemerintah mengambil langkah penataan agar pedagang mendapatkan tempat yang lebih layak.

Baca Juga: Begini Capaian Kinerja Kejari Kudus Sepanjang 2025

“Dan ada kolaborasi dengan pihak swasta, yaitu PT Sukun, yang menyediakan tempat di Pasar Saerah. Silakan dimanfaatkan. Pemerintah hadir untuk mendukung dan memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan,” ujar Sam’ani di Pendopo Kudus belum lama ini.

Proses pemindahan pedagang, lanjutnya, mengedepankan pendekatan persuasif. Pemkab Kudus terus melakukan sosialisasi agar pedagang memahami tujuan kebijakan, yakni menciptakan lingkungan berdagang yang aman, tertib, dan manusiawi.

“Teman-teman yang berjualan di jalan itu kalau musim hujan kehujanan, kasihan. Kami ingin mereka naik kelas, tidak lagi berjualan di pinggir jalan yang mengganggu lalu lintas,” kata Sam’ani.

Terkait tarif sewa di lokasi baru, Sam’ani memastikan pemerintah telah meminta pengelola untuk tidak mematok harga berlebihan. Pemerintah mendorong agar biaya sewa ramah bagi pedagang kecil.

“Informasinya sudah banyak pedagang sayur yang bersedia pindah ke Pasar Saerah,” bebernya.

Pemkab Kudus, kata Sam’ani juga mewacanakan untuk membangun pasar baru lagi di Wergu atau kawasan Balai Jagong. Dana pembangunan diusulkan dari pemerintah pusat. Nantinya pasar tersebut rencananya untuk menampung para pedagang yang ada di dalam Pasar Bitingan.

“Wacana ini masih berproses. Sosialisasi kepada pedagang juga sudah dilakukan. Kalau nanti pengajuan dananya disetujui oleh pemerintah pusat baru kita bangun pasar baru. Minimal pedagang sudah kami beri informasi agar siap-siap,” tuturnya.

Baca Juga: Pembangunan Pasar Babe Kudus Capai 80 Persen, Target Rampung Sepekan ke Depan

Sam’ani juga menyoroti kondisi pasar-pasar tradisional yang mulai sepi pengunjung. Ia mengaku prihatin dan menegaskan bahwa upaya penataan ini justru bertujuan membangkitkan kembali aktivitas pasar, bukan mematikan usaha pedagang.

“Saya tegaskan, pemerintah tidak mengusir pedagang. Mengusir itu kalau tidak memberi solusi. Kalau kami memindahkan dan menyediakan tempat yang lebih baik, itu namanya memberdayakan,” tegasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Hadapi Kebutuhan Telur MBG, Ketua DPRD Kudus Usulkan Bantuan Ayam Petelur bagi Warga Miskin

0
Ketua DPRD Kudus, Masan. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus, Masan, mendorong pemerintah daerah menyalurkan bantuan ayam petelur kepada keluarga kurang mampu sebagai langkah strategis menghadapi kebutuhan telur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, program ini bukan hanya soal pemenuhan gizi, tetapi juga peluang ekonomi baru bagi warga.

“Kebutuhan telur harian untuk menunjang 101 SPPG (Satuan Penyelenggara Program Gizi) di Kudus bakal sangat besar. Jika pasokan hanya bertumpu pada beberapa peternak, suplai akan berisiko mengalami kekurangan,” ujar Masan di gedung DPRD Kudus belum lama ini.

Baca Juga: Begini Capaian Kinerja Kejari Kudus Sepanjang 2025

Karena itu, ia menilai pelibatan keluarga miskin dalam budidaya ayam petelur dapat memperkuat produksi telur lokal. Dengan skema pemberdayaan yang tepat, suplai daerah bisa meningkat signifikan dan lebih stabil.

“Skema bantuan ideal adalah pemberian 30 ekor ayam petelur per keluarga. Dari jumlah tersebut, rata-rata produksi harian bisa mencapai 25 butir telur, cukup untuk kebutuhan internal keluarga sekaligus menambah penghasilan,” bebernya.

Ia memaparkan, jika satu desa memiliki 200 keluarga penerima bantuan, maka produksi telur harian dapat mencapai ribuan butir. Jumlah sebesar itu bukan hanya menopang program MBG, tetapi juga membuka ruang tumbuhnya komoditas unggulan baru di tingkat desa.

“Oleh karena itu, pentingnya pelatihan teknis sebelum program dijalankan. Penerima bantuan harus memahami perawatan ayam, kebersihan kandang, hingga manajemen pakan agar produksi berjalan optimal dan risiko kematian ternak dapat ditekan,” tuturnya.

Ia meminta Dinas Pertanian Kudus memprioritaskan usulan tersebut sebagai bagian dari kesiapan menyambut pelaksanaan MBG. Kolaborasi antar-instansi diperlukan untuk memastikan rantai suplai telur tetap aman dan tidak bergantung dari daerah luar.

Lebih jauh, Masan menegaskan bahwa keberlanjutan program harus menjadi perhatian. Bantuan ayam tidak cukup diberikan sekali, tetapi wajib diikuti supervisi dan pendampingan berkala agar keluarga miskin benar-benar naik kelas ekonomi.

“Ketika warga merasakan manfaat nyata, mereka akan terdorong memperbanyak populasi ayam secara mandiri. Kemandirian ini nantinya akan meringankan beban anggaran pemerintah sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah,” ungkapnya.

Baca Juga: Pembangunan Pasar Babe Kudus Capai 80 Persen, Target Rampung Sepekan ke Depan

Masan menilai Kudus memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi rumah tangga berbasis peternakan. Dengan dukungan pemerintah dan semangat pemberdayaan, program MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan gizi anak sekolah, tetapi juga menjadi jalan baru menuju kesejahteraan masyarakat.

“Kami berharap gagasan ini segera ditindaklanjuti. Dan, pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2026 atau APBD murin 2027, gagasan iki akan kita dorong untuk bisa direalisasikan,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Kalah di Dua Laga Awal, Persipa Siap Bangkit Hadapi Nusantara Lampung FC Sore Nanti

0
Latihan tim Persipa Pati. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Persipa Pati bakal meladeni Nusantara Lampung FC di lanjutan Liga Nusantara 2025/2026. Laskar Saridin siap bangkit usai kalah dalam dua laga sebelumnya.

Persipa bakal melawan Nusantara Lampung FC di Stadion Moch Soebroto, Magelang, Jawa Tengah, Kamis (11/12/2025) sore nanti. Laga ketiga ini wajib dimenangkan untuk menambah asa agar terhindar dari degradasi.

Baca Juga: Hotel D’Ayana Puncel Disegel, Operasional Permanen Dihentikan

”Yang jelas dua pertandingan kemarin kita ada evaluasi. Bagaimana kelemahan tim kita. bagaimana kelebihan kita juga,” ujar pelatih sementara Persipa, Eduard Tjong.

Ia mengaku sudah menemukan titik kelemahan di dua laga sebelumnya. Organisasi menyerang maupun organisasi bertahan belum tertata sempurna. Kondisi ini membuat Persipa kalah lawan Dejan FC dan Batavia FC.

”Pelatih menemukan ada satu masalah yang perlu kita perbaiki. Yaitu, organisasi. Itu yang kita siapkan untuk pertandingan besok,” ucapnya.

Selain itu, jajaran pelatih juga mengantisipasi menurunnya mental pemain usai bergantinya pelatih. Dirinya berharap pemain fokus di dalam lapangan tanpa mempedulikan masalah di luar lapangan.

”Kedua, ada peralihan pelatih tentunya sedikit berpengaruh terhadap pemain. Kita harus antisipasi agar tak terbawa di pertandingan berikutnya. Untuk menaikkan mental, percaya diri itu kita perlu poin. Kita harus dapat poin,”  katanya.

Baca Juga: SD Muhammadiyah Pati Gelar Salat Gaib dan Galang Donasi untuk Korban Bencana Sumatra

Sementara itu, salah satu pemain Persipa Pati Ahmed Syuhada mengaku dirinya dan pemain lainnya sudah siap menghadapi laga nanti. Laskar Saridin mempunyai misi untuk bangkit dan meraih poin penuh.

”Kami semuanya sudah siap. Tidak ada masalah serius cedera atau hal lain. Insya Allah kita akan fokus laga nanti. Dengan terpukulnya di dua laga kemarin kita akan bangkit. Terutama di pertandingan bsok lawan Nusantara,”  pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Begini Capaian Kinerja Kejari Kudus Sepanjang 2025

0
Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus membeberkan rekapitulasi capaian kinerja Bidang Tindak Pidana Khusus (Pidsus) sepanjang tahun 2025.

Kasi Intel Kejari Kudus, Wisnu N Widodo menyebut Bidang Pidana Khusus (Pidsus) Kejaksaan Negeri (Kejari) Kudus selama tahun 2025 menangani berbagai tahapan perkara. Antara lain, ada 3 perkara pada tahap penyelidikan, 2 perkara masuk penyidikan, 3 perkara pra-penuntutan, dan 5 perkara tahap penuntutan.

Baca Juga: SMK NU Al Hidayah Kudus Kembangkan TERA, Aplikasi Ujian Digital Anti-Nyontek

“Serta satu perkara upaya hukum dan empat perkara yang sudah kami eksekusi,” ujarnya di Kantot Kejari Kudus, Rabu (10/12/2025).

Wisnu menjelaskan bahwa capaian terbesar Pidsus tahun ini terlihat pada penyelamatan keuangan negara dari sejumlah perkara tindak pidana korupsi. Salah satunya berasal dari kasus penyimpangan APBDes Cendono Kecamatan Dawe dan lelang sewa tanah kas desa pada tahun anggaran 2022–2023.

“Pada tahap penuntutan, kejaksaan menerima penitipan uang pengganti sebesar Rp571,2 juta. Jumlah tersebut terdiri atas penitipan dari terdakwa UM sebesar Rp559,1 juta dan penitipan dari Panitia Lelang Desa Cendono sekitar Rp12,1 juta,” bebernya.

Selain itu, lanjut Wisnu, terdapat capaian dari tahap eksekusi. Menurutnya, sepanjang tahun 2025 terdapat pembayaran denda dari tiga terpidana yakni AAP, HY, dan RKHA, yang totalnya mencapai Rp300 juta.

Dia menambahkan, Bidang Pidsus Kejari Kudus juga berhasil mengeksekusi uang pengganti dari sejumlah terpidana. Untuk setoran ke kas negara melalui Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBK) Kejaksaan RI, jumlahnya mencapai Rp397,8 juta, berasal dari terpidana IT, mantan Ketua KONI Kudus.

“Kejari Kudus juga mampu mengeksekusi uang pengganti yang berhasil disetorkan ke kas Daerah Kabupaten Kudus sebesar Rp107,7 juta, serta Rp100 juta dari terpidana RKHA. Jadi totalnya adalah Rp300 juta,” sebutnya.

Sepanjang tahun 2025, tutur Wisnu, ketika dijumlahkan dari seluruh komponen penitipan, denda, dan eksekusi uang pengganti, total potensi kerugian negara yang berhasil diselamatkan Kejari Kudus mencapai sekitar Rp1,07 miliar.

Baca Juga: Masuk 25 Perusahaan Besar, RS Mardi Rahayu Terima Penghargaan Pamakarya 2025 

Wisnu menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan bukti nyata komitmen Kejari Kudus dalam mendukung agenda nasional pemberantasan korupsi.

“Kami terus meningkatkan kinerja dan transparansi, sesuai semangat Hakordia. Penegakan hukum tidak boleh berhenti, dan kami berkomitmen menjaga keuangan negara maupun daerah dari praktik korupsi,” tegasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Hotel D’Ayana Puncel Disegel, Operasional Permanen Dihentikan

0
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati menyegel Hotel D’Ayana di Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, setelah dinilai melanggar regulasi perizinan. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati menyegel Hotel D’Ayana di Desa Puncel, Kecamatan Dukuhseti, setelah dinilai melanggar regulasi perizinan. Tindakan yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pati itu sekaligus menghentikan operasional hotel secara permanen.

Kuasa hukum warga Desa Puncel, Izzudin Asarlan menyatakan, masyarakat menyambut baik penyegelan tersebut. Ia menilai pemerintah daerah hadir menjawab keresahan warga yang sejak awal menolak aktivitas hotel.

Baca Juga: SD Muhammadiyah Pati Gelar Salat Gaib dan Galang Donasi untuk Korban Bencana Sumatra

“Satpol PP sudah melakukan penyegelan, warga Puncel senang atas hadirnya pemerintah daerah yang menjawab keresahan warga Puncel. Warga akan selalu mengawal, jangan sampai sifatnya sementara karena warga pingin ya penutupan permanen hotel ini,” ujarnya, Rabu (12/2025).

Izzudin menegaskan, warga akan mengawal proses penindakan hingga tuntas. Mereka memastikan tetap kondusif dan mematuhi regulasi.

“Warga kondusif taat regulasi yang ada dan memenuhi regulasi yang akan dilakukan pemerintah daerah,” ucapnya.

Sementara, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Pati, Sutikno Edi mengatakan, proses penyegelan berlangsung kondusif. Ia menyebut pihak pelapor dan pemilik hotel sudah bersepakat menutup operasional usaha tersebut tanpa memicu ketegangan.

“Pertimbangannya kondusifitas, sudah kesepakatan kedua belah pihak supaya berimbang, sudah tabayyun. Dan kedua belah pihak pelapor dan terlapor sudah bersama berangkulan, tidak ada masalah,” ungkapnya.

DPMPTSP selanjutnya akan menyusun berita acara penutupan dan mengunggah dokumen pendukung ke sistem One Single Submition (OSS). Sutikno menegaskan, bahwa secara hukum hotel tidak boleh lagi beroperasi sejak penyegelan dilakukan.

“Ini sudah disegel Satpol PP, secara hukum sudah ndak boleh beroperasi, kemarin kan belum (disegel), sekarang kan sudah berhenti beroperasi,” tegasnya.

Baca Juga: Tanggul di Ketitangwetan Pati Kembali Jebol, Jalur Pantura Sempat Terendam

Berdasarkan data Pemkab Pati, bangunan yang kini menjadi Hotel D’Ayana awalnya merupakan koperasi pada 2016–2017. Fungsinya baru berubah menjadi hotel pada 2024 tanpa sosialisasi kepada warga maupun pemerintah daerah.

“Awalnya bukan hotel, bisa dikonfirmasi bangunan koperasi itu di 2016-2017 ada bangunan. Pada 2024 dijadikan hotel, tidak ada sosialisasi bangunan hotel,” pungkasnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Bantuan KIP Bagi 17 Ribu Pelajar di Jepara Cair Bulan Ini, Segini Nominalnya 

0
Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid saat menyerahkan Bantuan Sosial PIP pada Rabu (10/12/2025). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Sebanyak 17.799 siswa madrasah mulai dari tingkat MI, MTs hingga MA di Kabupaten Jepara menjadi penerima Progam Indonesia Pintar (PIP) pada akhir tahun ini. Bantuan PIP itu dipastikan tanpa potongan sepeserpun karena langsung masuk ke rekening siswa penerima.

Hal itu seperti disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Abdul Wachid saat menyerahkan Bantuan Sosial PIP pada Rabu (10/12/2025).

Baca Juga: Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Jepara Banyak Terkendala Lahan

Terdapat empat perwakilan madrasah yang siswanya menerima PIP. Yaitu MTs Darul Ulum Bandungharjo Donorojo, MTs KRM Marzuki Cepogo dan MA Hasyim Asy’ari Bangsri serta MTs Matholibul Huda Mlonggo.

Abdul Wachid mengungkapkan PIP di Jepara mencapai 17.799 penerima, jumlah tertinggi dibandingkan dua kabupaten tetangga, Kudus dan Demak.

“Setelah menerima, bantuan bisa langsung dicairkan dan tanpa pungutan atau potongan apapun,” katanya. 

PIP untuk siswa MI sebesar Rp450 ribu. Lalu untuk MTs Rp750 ribu dan MA sebesar Rp1,8 juta. 

Saat menyerahkan bantuan, Abdul Wachid mengaku terkejut pada saat terdapat siswa madrasah yang belum tersentuh PIP. Hal itu seperti di wilayah Donorojo yang baru kali ini mendapatkan PIP.

Ia memastikan evaluasi akan terus dilakukan agar pemerataan lebih maksimal.

“Tahun depan jumlah penerima PIP akan kita perbanyak menjadi 25 ribu siswa. Tahun ini baru 17 ribu, meskipun angka ini sudah menunjukkan lonjakan signifikan karena sebelumnya hanya 3 ribu siswa penerima,” paparnya.

Selain PIP, Abdul Wachid juga menyampaikan bahwa pemerintah menyiapkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) untuk tahun mendatang, sebagai perluasan dukungan pendidikan berkelanjutan.

“Jadi nanti yang masuk IAIN atau UIN juga bisa mendapat KIP, mulai dari masuk awal hingga lulus kuliah. Makanya yang mau lulus MA persiapkan berkasnya mulai sekarang agar bisa mendapat KIP,” terangnya. 

Baca Juga: Gerai Kopdes Merah Putih di Bandungrejo Jepara Terancam Gagal Dibangun 

Ia juga memastikan pihaknya akan terus meminta penambahan anggaran agar PIP dan KIP bisa diberikan tidak hanya satu kali, tetapi berlanjut hingga siswa lulus, dengan evaluasi berkala setiap tahun.

“Untuk siswa yang saat ini masih duduk di kelas 7, akan menerima hingga kelas 9. Begitu juga dengan siswa yang saat ini duduk di kelas 8. Meskipun tiap tahun akan ada evaluasi untuk memastikan bantuan itu tepat sasaran,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pembangunan Pasar Babe Kudus Capai 80 Persen, Target Rampung Sepekan ke Depan

0
Revitalisasi Pasar Barang Bekas (Babe) Kudus terus dikebut. Foto: Kaerul Umam

BETANEWS.ID, KUDUS – Revitalisasi Pasar Barang Bekas (Babe) Kudus terus dikebut. Hingga Rabu (10/12/2025), progres pembangunannya mencapai 80 persen. Pengerjaan pasar yang mengalami kebakaran pada 2024 lalu itu kini memasuki tahap akhir.

Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Djati Sholehah menyampaikan, pembangunan tinggal menyisakan tahapan pemasangan atap serta pengecoran lantai.

Baca Juga: SMK NU Al Hidayah Kudus Kembangkan TERA, Aplikasi Ujian Digital Anti-Nyontek

“Kalau target sebenarnya sampai 30 Desember 2025, tapi kami harapkan dalam sepekan ke depan bisa selesai seluruhnya. Saat ini tinggal atap dan ngecor lantai,” jelasnya.

Proyek pembangunan pasar ini didanai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) murni Kudus dengan total anggaran sebesar Rp1,1 miliar. Setelah selesai, bangunan baru tersebut akan menampung seluruh pedagang terdampak kebakaran, sebanyak 187 pedagang, termasuk bangunan yang sudah dikerjakan pada akhir 2024 lalu.

Djati menegaskan bahwa pemerintah memberikan keleluasaan kepada para pedagang dalam menentukan penempatan lapak. Hal itu diupayakan agar pedagang bisa menempati pasar tersebut dengan nyaman.

“Penempatan pedagang melalui undian, tetapi biar pedagang yang mengatur sendiri teknisnya. Yang penting tempatnya nanti sudah siap,” ujarnya.

Menurutnya, sesuai kontrak masa pengerjaan proyek ini dikerjakan selama 70 hari terhitung mulai 22 Oktober 2025. Jika tidak ada kendala cuaca maupun teknis di lapangan, pasar baru diharapkan segera dapat digunakan sehingga aktivitas ekonomi para pedagang bisa kembali pulih.

Baca Juga: Masuk 25 Perusahaan Besar, RS Mardi Rahayu Terima Penghargaan Pamakarya 2025 

“Intinya setelah pembangunan pasar ini selesai, nanti bisa digunakan para pedagang. Yang jelas awal tahun nanti bisa difungsikan,” tuturnya.

Revitalisasi Pasar Babe menjadi salah satu proyek prioritas pemerintah daerah sebagai bentuk pemulihan pasca kebakaran, sekaligus upaya memperbaiki fasilitas bagi pedagang barang bekas di Kudus.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

SD Muhammadiyah Pati Gelar Salat Gaib dan Galang Donasi untuk Korban Bencana Sumatra

0
Ratusan siswa SD Muhammadiyah Pati didampingi guru melaksanakan salat gaib berjemaah dan dilanjutkan dengan aksi penggalangan donasi sebagai wujud solidaritas terhadap para korban bencana yang melanda wilayah Sumatra. Foto: Kholistiono

BETANEWS.ID, PATI – Rasa empati dan kepedulian sosial ditunjukkan oleh siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah Pati. Bertempat di halaman sekolah, ratusan siswa didampingi guru melaksanakan salat gaib berjemaah dan dilanjutkan dengan aksi penggalangan donasi sebagai wujud solidaritas terhadap para korban bencana yang melanda wilayah Sumatra.

Acara yang dilaksanakan pada Rabu (10/12/2025) ini, merupakan respons cepat pihak sekolah terhadap musibah kemanusiaan yang menimpa saudara sebangsa di Sumatra. Kegiatan ini bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai kepedulian sejak dini, sesuai dengan ajaran Islam dan nilai-nilai kemuhammadiyahan.

Baca Juga: Tanggul di Ketitangwetan Pati Kembali Jebol, Jalur Pantura Sempat Terendam

Salat gaib dilaksanakan dengan khusyuk, ditujukan untuk mendoakan korban jiwa yang meninggal dunia dalam bencana tersebut agar mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

Kepala SD Muhammadiyah Pati, Sunarto menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah edukasi spiritual bagi anak-anak.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki hati yang peka. Salat Gaib ini adalah cara kita mengajarkan mereka bahwa batas geografis tidak menghalangi kita untuk mendoakan dan membantu sesama,” ujarnya.

Setelah Salat Gaib, para siswa bersemangat untuk memulai aksi penggalangan donasi. Dengan membawa kotak-kotak infak, mereka menyisihkan uang saku dan sebagian juga membawa sumbangan dari rumah.

Sumbangan yang terkumpul berasal dari seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga staf tata usaha. Total donasi yang terkumpul mencapai Rp 22.012.000.

Rencananya, donasi yang terkumpul ini akan disalurkan melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) untuk memastikan bantuan sampai tepat sasaran kepada korban yang membutuhkan di Sumatra.

Baca Juga: Bayi Perempuan di Pati Dibuang di Tempat Sampah, Lebih 20 Keluarga Berebut Adopsi

Luthfi Mujtami’ah, Salah satu wali siswa menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah melaksanakan salat gaib dan penggalangan donasi untuk korban bencana di Sumatra.

“Harapan kami dengan pengajaran keagamaan seperti ini, bisa memberikan edukasi kepada anak-anak kami agar bisa menjadi  pribadi yang empati dan akhlakul karimah,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Realisasi Pajak Kudus 2025 Capai Rp308 M, 9 Warga Dapat Hadiah Motor

0
Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar gebyar hadiah pajak tahun 2025 di Pendopo, Rabu (10/12/2025). Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar gebyar hadiah pajak tahun 2025 di Pendopo, Rabu (10/12/2025). Pada ajang ini, warga Kudus baik yang individu maupun perusahaan diberikan apresiasi atau hadiah karena kepatuhan mereka dalam membayar pajak.

Selain perusahaan, restoran, hotel dan pengelolaan parkir yang mendapatkan penghargaan, ada 9 warga taat pajak dari sembilan kecamatan di Kudus juga mendapatkan hadiah motor. Penentuan pemberian hadiah dilakukan dengan cara diundi.

Baca Juga: SMK NU Al Hidayah Kudus Kembangkan TERA, Aplikasi Ujian Digital Anti-Nyontek

Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Birton menyampaikan, pemberian hadiah memang perlu diberikan bagi wajib pajak yang tertib membayar. Selain untuk apresiasi, pemberian hadiah diharapkan mampu menginspirasi wajib pajak lainnya.

“Agar wajib pajak yang selama ini kurang tertib bisa termotivasi dan membayar pajaknya tepat waktu,” ujar Bellinda di Pendopo Kudus, Rabu (10/12/2025).

Realisasi capaian pendapatan daerah dari sektor pajak meningkat sekira 65,63 persen dibanding tahun 2024.

“Target PAD dari sektor pajak tahun 2025 kurang lebih sebesar Rp326,4 miliar. Hingga hari ini, realisasi capaiannya sebesar Rp308,05 miliar atau ada peningkatan Rp185,9 miliar dibanding tahun sebelumnya,” beber Bellinda.

Wabup Kudus mengungkapkan, adanya peningkatan realisasi pendapatan dari sektor pajak dikarenakan tahun ini ada sektor pajak baru. Di antaranya, Opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Opsen Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).

“Ketika ada peningkatan pendapatan, artinya kinerja pemerintah sudah cukup bagus. Kami pun optimis, hingga akhir tahun target pajak bisa tercapai 100 persen,” katanya optimis.

Baca Juga: Masuk 25 Perusahaan Besar, RS Mardi Rahayu Terima Penghargaan Pamakarya 2025 

Bellinda pun mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Kudus untuk tertib untuk membayar pajaknya. Jika ada yang belum membayar, bisa segera untuk melunasinya.

“Mari masyarakat Kudus jadi warga yang taat pajak. Sebab, salah satu kegunaan uang pajak adalah untuk pembangunan,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Resmi Ditutup, Selter JPTP Pemkab Kudus Kebanjiran Peminat

0
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKPSDM Kudus, Zulfa Kurniawan. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Pendaftaran seleksi terbuka (selter) pengisian Jabatan Pimpinan Tinggi Pratama (JPTP) di enam Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus resmi ditutup, Selasa (9/12/2025). Jumlah minimal 4 pendaftar di masing-masing formasi sudah terpenuhi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKPSDM Kudus, Zulfa Kurniawan, menyampaikan, dengan terpenuhinya jumlah pendaftar di masing-masing formasi maka dipastikan tidak ada perpanjangan waktu pendaftaran. Nama-nama pendaftar bakal dilakukan verifikasi administrasi oleh panitia seleksi (pansel).

Baca Juga: SMK NU Al Hidayah Kudus Kembangkan TERA, Aplikasi Ujian Digital Anti-Nyontek

“Besuk, Kamis (11/12/2025) akan dilaksanakan rapat pansel sekaligus pengumuman peserta yang lolos syarat adminitrasi seleksi pengisian JPTP,” ujar Iwan kepada Betanews.id di ruang kerjanya, Rabu (10/12/2025).

Dia kemudian merinci jumlah pendaftar yang ikut selter pengisian JPTP di masing-masing formasi. Antara lain, di Asisten Administrasi Umum Setda Kudus ada 5 pendaftar. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ada 4 pendaftar.

Kemudian di Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) ada 4 pendaftar. Di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) ada 4 pendaftar.

“Serta di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) dan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol), masing-masing 5 pendaftar,” rincinya.

Iwan mengungkapkan, dari semua pendaftar hampir semua mayoritas adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus. Hanya ada satu pendaftar yang berasal dari Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah.

“peluang pelamar dari Kabupaten Kapuas bergantung pada aturan pansel terkait ketentuan wilayah pendaftar. Jika aturannya khusus regional Jawa Tengah, otomatis yang dari luar daerah tak bisa lolos tahapan selanjutnya,” jelas Iwan.

Setelah nama pendaftar diumumkan, kata dia, tahap selanjutnya adalah asesmen yang dijadwalkan pada 15–16 Desember di Mabes Polri, Jakarta. Selanjutnya, peserta akan mengikuti penyusunan makalah dan wawancara pada 22–24 Desember 2025.

Baca Juga: Masuk 25 Perusahaan Besar, RS Mardi Rahayu Terima Penghargaan Pamakarya 2025 

Ketika seluruh tahapan selesai, tambahnya, nanti akan dipilih tiga nama berdasarkan nilai tertinggi di masing-masing formasi untuk diusulkan kepada Bupati Kudus. Setelah itu, nama-nama tersebut dikirim ke Badan Kepegawaian Nasional (BKN).

“Targetnya akhir Desember 2025 tiga nama di masing-masing OPD sudah dikirim ke BKN. Namun, memang untuk pelantikan kemungkinan tetap di tahun depan,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

17 Ribu Warga Kudus Nganggur di 2025

0
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, Eko Suharto. Foto: Rabu Sipan

BETANEWS.ID, KUDUS – Jumlah pengangguran terbuka di Kabupaten Kudus pada tahun 2025 tercatat sebesar 3,23 persen atau setara 17 ribu jiwa. Angka tersebut mengalami sedikit kenaikan yakni 0,04 persen dibanding tahun 2024.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus, Eko Suharto menyampaikan, warga Kota Kretek yang menganggur di tahun lalu berjumlah 16.510 jiwa.

Baca Juga: SMK NU Al Hidayah Kudus Kembangkan TERA, Aplikasi Ujian Digital Anti-Nyontek

“Artinya sepanjang tahun 2025 ada kenaikan jumlah pengangguran kurang lebih 490 jiwa atau sekira 0,04 persen,” ujar Eko kepada Betanews.id di ruang kerjanya, Rabu (10/12/2025).

Eko menuturkan, angka pengangguran tersebut berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) yang dilaksanakan pada Agustus tahun 2025. Berdasarkan survei tersebut, kenaikan pengangguran di Kudus dipengaruhi oleh jumlah angkatan kerja yang juga meningkat.

“Kami mencatatat pada tahun 2025 jumlah angkatan kerja di Kudus sebanyak 525,810 jiwa. Jumlah tersebut meningkat sekira 7.590 dibanding tahun lalu yang sebanyak 518.220 jiwa,” rincinya.

Angkatan kerja baru sebanyak 7.590.jiwa tersebut, kata Eko, ada 7.100 di antaranya mampu terserap dunia kerja di sepanjang tahun 2025. Sementara yang 490 jiwa jadi penambah daftar pengangguran.

Meski angka pengangguran naik tetapi warga Kudus yang bekerja juga naik pada tahun 2025, yakni sebanyak 508.810 jiwa. Jumlah tersebut ketambahan angkatan kerja baru yang terserap dunia kerja yakni sebanyak 7.100 jiwa.

Baca Juga: Masuk 25 Perusahaan Besar, RS Mardi Rahayu Terima Penghargaan Pamakarya 2025 

Dia menuturkan, Penduduk Usia Kerja (PUK) merupakan orang yang berumur 15 tahun ke atas dan jumlahnya cenderung meningkat seirinh bertambahnya jumlah penduduk di Kabupaten Kudus. Pada tahun 2025, PUK di Kota Kretek sebanyak 694.490 jiwa. Jumlah tersebut bertambah 8.330 jiwa dibanding tahun 2024.

“Sebagain besar PUK itu adalah angkatan kerja yang mencapai 525.810 jiwa. Sedangkan sisanya 168.650 jiwa tidak termasuk dalam angkatan kerja,” imbuhnya. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih di Jepara Banyak Terkendala Lahan 

0
Peletakan batu pertama pembangunan gerai kopdes di Desa Tubanan pada Jumat (17/10/2025). Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pembangunan gerai Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Jepara saat ini belum merata sebab banyak desa/kelurahan yang mengalami kendala lahan. 

Dandim 0719/Jepara, Letkol (Arm) Khoirul Cahyadi mengatakan dari 195 KDKMP di Kabupaten Jepara yang sudah resmi berbadan hukum, baru 80 desa/kelurahan yang melaksanakan pembangunan gerai. 

Baca Juga: Pemkab Jepara Targetkan Seribu Bantuan Tenda UMKM dalam Setahun 

Sisanya, 115 desa/kelurahan masih dalam tahap menunggu untuk dilaksanakan pembangunan.  

“Saat ini 80 dari 195 titik sedang pembangunan. Sisanya yang akan dibangun masih menunggu, karena sebagian besar masih terkendala lahan,” katanya melalui pesan tertulis pada Betanews.id, Rabu (10/12/2025).  

Letkol Khoirul Cahyadi melanjutkan, kendala lahan tersebut disebabkan oleh berbagai hal. Diantaranya terdapat desa yang tidak mempunyai lahan untuk dibangun. Kemudian, jika pun ada, lahan tersebut berada di lokasi yang kurang strategis. 

Sehingga, pemerintah desa (pemdes) atau pemerintah daerah (pemda), jika lahan tersebut berstatus bukan milik desa, maka diwajibkan untuk menguruk lahan di lokasi tersebut agar mudah diakses. 

“Menguruk tanah itu kewajiban Pemda atau Desa,dan tidak semua mampu. Beberapa titik ada Petinggi Desa yg mau uruk, sehingga bisa dibangun,” jelasnya. 

Kemudian kendala lainnya yaitu, beberapa lokasi lahan yang rencananya akan dibangun gerai, berstatus tanah milik Pemda, BUMN, Perhutani, atau Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) sehingga saat ini masih menunggu proses perijinan. 

“Ada juga yang luasan lahannya tidak sesuai,” tambahnya. 

Dari 80 desa atau kelurahan yang saat ini sedang berjalan, progres pembangunannya menurutnya bervariasi. Sebab dalam pelaksanaannya tidak berlangsung serentak. 

“(Progresnya) bervariasi, karena nggak bisa serentak, ada yg harus nimbun dulu, ada yg musdesnya lambat. Tertinggi sudah diatas 30 persen,” sebutnya. 

Baca Juga: Wujudkan UMKM Naik Kelas, Pemkab Jepara Bakal Salurkan Ratusan Tenda 

Sementara terkait penentuan lokasi lahan, Letkol Khoirul Cahyadi mengatakan, pihaknya sangat mendorong agar pemilihan lokasi pembangunan gerai didasarkan pada hasil Musyawarah Desa (Musdes).  

“Penentuan lokasi kita kedepankan berdasar hasil musdes,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Tanggul di Ketitangwetan Pati Kembali Jebol, Jalur Pantura Sempat Terendam

0
Tanggul darurat Sungai Widodaren di Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, kembali jebol setelah diterjang banjir, Rabu (10/12/2025). Foto: Kholoistiono

BETANEWS.ID, PATI — Tanggul darurat Sungai Widodaren di Desa Ketitangwetan, Kecamatan Batangan, Kabupaten Pati, kembali jebol setelah diterjang banjir, Rabu (10/12/2025) dini hari. Akibatnya, air melimpas dan sempat merendam jalur Pantura Pati-Rembang dan puluhan rumah dengan kedalaman antara 30 hingga 40 sentimeter.

Selain merusak tanggul darurat sepanjang 10 meter, debit air yang tinggi juga merusak jembatan di dekat tanggul jebol. Kini, jembatan tersebut rusak parah dan memutus akses warga di sekitar lokasi.

Baca Juga: Bayi Perempuan di Pati Dibuang di Tempat Sampah, Lebih 20 Keluarga Berebut Adopsi

Salah satu warga setempat Sujono mengatakan, banjir mulai datang sekitar pukul 23.00 WIB. Tanggul dan jembatan mulai ambrol sekitar pukul 2.30 dini hari. Saat kejadian, wilayah tersebut tidak sedang diguyur hujan.

“Kejadian jam 11 malam. Di sini nggak ada hujan. Hujannya dari daerah atas. Yang jebol sekitar 10 meter,” ungkapnya.

Ia menyebut, banjir kiriman dan banyaknya sampah menjadi penyebab utama air tidak mengalir normal. Kondisi tersebut membuat tanggul dan jembatan tak kiat menahan derasnya arus banjir.

“Jembatan tiba-tiba runtuh tidak kuat menahan air. Jembatan tak bisa dilewati. Ini sudah jebol semua, kok,” ucapnya.

Meski air di permukiman sudah surut, lanjut dia, endapan lumpur setebal sekitar 5 sentimeter masih memenuhi lantai rumah dan halaman warga. Kini warga mulai membersihkan lumpur sisa-sisa banjir.

“Ini semua rumah di dekat lokasi tanggul ambrol sempat terendam banjir. Ini sudah surut, menyisakan lumpur setebal sekitar 5 sentimeter,” kata Sujono.

Dengan terus berulangnya tanggul darurat jebol ini, warga berharap pemerintah dapat melakukan perbaikan permanen dan penanganan menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus terulang.

“Banjir ini selalu berulang tiap tahun. Harapannya pemerintah bisa melakukan penanganan yang maksimal,” kata Sujono.

Baca Juga: Dirawat di RS Mitra Bangsa Pati, Begini Kondisi Bayi yang Ditemukan Warga di Tempat Sampah

Diketahui, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB) membangun tanggul darurat di Sungai Widodaren pada 3 November 2025 lalu. Pembangunan difokuskan di tiga titik tanggul yang jebol dan selesai pada 14 November.

Namun, tanggul darurat tersebut jebol setelah diterjang banjir kiriman pada 19 November 2025. Tanggul kemudian jebol lagi di titik berbeda pada 10 Desember 2025.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Banjir dan “Mitos Resiliensi” Perkotaan: Pelajaran untuk Semarang

0
Sejumlah kendaraan merobos genangan banjir di kawasan Kaligawe, Kota Semarang, Kamis (22/10/2025). Foto: Ist

Ahmad Fauzan Hidayatullah, Pegiat Forum Kamis Legen Kudus

Gelombang banjir dan longsor yang baru-baru ini melanda beberapa provinsi di Pulau Sumatra seharusnya menjadi alarm bagi seluruh kebijakan tata ruang nasional. Laporan awal menunjukkan dampak kemanusiaan yang masif, dan peristiwa itu mengingatkan kita bahwa hujan ekstrem hanyalah pemicu, akar masalah sesungguhnya terletak pada kerusakan ekologis, tata kelola ruang yang lemah, dan pilihan pembangunan yang menempatkan kepentingan ekonomi di atas daya dukung lingkungan (BNPB, 4 Des 2025).

Di tengah peristiwa ini, Kota Semarang tidak boleh merasa aman. Kota pesisir ini menghadapi problematika ganda: penurunan muka tanah (land subsidence) yang berlangsung bertahun-tahun dan tekanan pembangunan di area rawan, yang bersama-sama memperbesar eksposur terhadap genangan dan rob (Studi Universitas Diponegoro, 2016).

Berbagai pengukuran menunjukkan laju penurunan muka tanah di Semarang bervariasi namun nyata — beberapa penelitian mencatat angka antara 1,33 hingga 34,9 cm per tahun pada lokasi tertentu, dengan rata-rata signifikan pada periode pemantauan terakhir (Undip, 2016). Fenomena ini diperparah oleh ekstraksi air tanah, konversi ruang resapan, dan infrastruktur pesisir yang tidak sensitif ekologi. Ketika kenaikan muka air laut ditambah dengan intensifikasi hujan ekstrem, kombinasi itu menjadi resep krisis genangan sistemik (BMKG, Nov–Des 2025).

Di sinilah problematik “resiliensi perkotaan” muncul. Dalam wacana perencanaan modern, resiliensi sering dipromosikan sebagai jaminan bahwa kota mampu bertahan terhadap segala gangguan melalui sejumlah solusi teknis: normalisasi sungai, pembangunan tanggul, dan instalasi pompa. Namun, ketika pendekatan ini dijalankan tanpa penyesuaian ekologis dan keadilan spasial, resiliensi berubah menjadi citra—sebuah mitos yang menutupi kerentanan struktural.

Pendekatan teknokratis yang berfokus pada infrastruktur keras mengabaikan akar penyebab: degradasi daerah aliran sungai (DAS), pengurangan ruang resapan, komodifikasi pesisir, dan ketidaksetaraan sosial yang menempatkan komunitas paling rentan di lokasi paling berbahaya. Banjir di Sumatra menyerukan pembelajaran bahwa investasi semata pada beton tidak mengurangi risiko jangka panjang jika ekosistem hulu dan tata ruang tidak direstorasi.

Lantas, apa yang harus dilakukan Semarang? Pertama, arah kebijakan harus beralih dari dominasi solusi struktural menjadi kombinasi strategis antara restorasi ekosistem dan infrastruktur adaptif. Pemulihan mangrove dan zona pesisir, rehabilitasi ruang resapan, serta perlindungan bantaran sungai harus diposisikan setara dengan pembangunan tanggul dan pompa.

Kedua, tata ruang mesti ditegakkan secara tegas. Zonasi risiko harus diterapkan dan ditegakkan, dengan penalti nyata terhadap konversi ruang resapan dan relokasi terencana untuk pemukiman yang berada di zona paling rawan. Ketidakadilan ruang—di mana rumah tangga berpendapatan rendah menempati lahan paling rentan—harus menjadi fokus kebijakan mitigasi sosial.

Ketiga, tata kelola harus berbasis data terbuka dan partisipatif. Peta risiko, data pemantauan muka tanah, dan informasi genangan harus tersedia secara transparan sehingga warga, akademisi, dan organisasi sipil dapat berkontribusi pada perencanaan dan pengawasan kebijakan (BNPB; BMKG).

Keempat, program resiliensi perlu mengintegrasikan langkah non-struktural: edukasi komunitas, mekanisme peringatan dini yang menjangkau kelompok rentan, dan pengurangan ketergantungan pada ekstraksi air tanah.

Banjir Sumatra adalah panggilan agar Semarang berhenti memperdagangkan resiliensi sebagai label pembangunan modern dan mulai memperlakukannya sebagai komitmen ekologis, spasial, dan sosial. Resiliensi yang jujur bukan sekadar jumlah pompa atau panjang tanggul, melainkan rekonsiliasi ulang antara kota dan ekosistemnya — sebuah proses yang menuntut reparasi ekologis, reformasi tata ruang yang adil, dan partisipasi demokratis dalam setiap langkah mitigasi.

Hanya dengan demikian, Semarang akan mampu mengubah resiliensi dari mitos menjadi praktik nyata yang melindungi kehidupan dan ruang kota.

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -

Gerai Kopdes Merah Putih di Bandungrejo Jepara Terancam Gagal Dibangun 

0
Lokasi pembangunan Gerai Kopdes Merah Putih di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara yang ditolak warga. Foto: Umi Nurfaizah

BETANEWS.ID, JEPARA – Pembangunan Gerai Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara terancam gagal dilaksanakan. 

Lokasi yang rencananya akan dibangun gerai yaitu bertempat di lapangan desa ditolak oleh warga. Penolakan itu terjadi pada Rabu, (3/12/2025) lalu saat petugas dari Koramil 04/Pecangaaan Jepara sedang menggali tanah untuk pondasi bangunan.  

Baca Juga: Pemkab Jepara Targetkan Seribu Bantuan Tenda UMKM dalam Setahun 

Dandim 0719/Jepara, Letkol (Arm) Khoirul Cahyadi mengatakan untuk sementara pembangunan Gerai Kopdes di Desa Bandungrejo tidak dilanjutkan. Pembangunan itu akan dilanjut menunggu hasil kesepakatan warga. 

“Sementara KDMP (Koperasi Desa Merah Putih) Bandungrejo tidak dibangun dulu, sebelum satu desa sepakat,” katanya melalui pesan tertulis pada Rabu, (10/12/2025).  

Terpisah, Kepala Desa Bandungrejo, Suratmin bercerita dari hasil Musyawarah Desa (Musdes) yang dilaksanakan pada 27 November 2025, pihaknya mengusulkan lapangan desa sebagai tempat pembangunan Gerai Kopdes. 

Namun, dari hasil Musdes itu terjadi pro kontra di masyarakat. Sehingga ia mengadakan Musdes yang kedua. Hasilnya hanya tiga dari 27 RT dan satu dari 9 RW yang menyatakan tidak setuju. 

“Melihat hasil dari usulan yang sebagian besar setuju, pada Rabu (3/12/2025) itu kita adakan selametan dan gali pondasi. Ternyata ada masyarakat yang tidak setuju, sekitar 50 orang datang ke lapangan menyatakan menolak,” katanya saat ditemui di Balai Desa Bandungrejo.  

Suratmin melanjutkan, lapangan desa yang tadinya akan digunakan untuk Gerai Kopdes Merah Putih yaitu yang berada di sebelah timur lapangan. Dari garis lapangan hingga batas jalan, menurutnya masih terdapat sisa luasan tanah sekitar 35 meter. 

Dari sisa luasan itu, 25 meter akan dibangun gerai Kopdes dan sisanya 10 meter untuk tempat penonton. 

“Sehingga tidak seluruhnya dipakai, hanya sebagian. Sekitar 25 x 30 meter,” sebut Suratmin. 

Akan tetapi, karena ditolak oleh warga, Suratmin mengatakan ia tidak berani memutuskan apakah pembangunan Gerai Kopdes nantinya tetap dilakukan di lapangan atau tidak. 

“Kami selaku pemerintah desa tidak berani untuk mengambil keputusan tetap di lapangan atau tidak. Kami mau musdes lagi juga bagaimana, rasanya kok sudah tidak bisa,” ujarnya. 

Selain di lapangan, Suratmin mengatakan sebenarnya terdapat opsi lokasi lain, yaitu di tanah bengkok petinggi atau bengkok perangkat. Akan tetapi lokasinya berada di area persawahan dan diapit perkampungan warga. 

Sehingga pihak desa diminta mengeluarkan tambahan anggaran untuk menguruk jalan menuju lokasi. Setelah dihitung, anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp200 juta. 

“Kalau diminta tambahan anggaran, kami tidak ada. Anggaran sebesar itu kami darimana? Sedangkan APBDes 2026 sudah ada penetapan,” katanya. 

Baca Juga: Wujudkan UMKM Naik Kelas, Pemkab Jepara Bakal Salurkan Ratusan Tenda 

Untuk itu saat ini, Suratmin mengaku menyerahkan keputusan kepada pihak berwenang. Namun, ia berharap Gerai Kopdes Merah Putih di desanya tetap jadi dibangun. 

“Harapan kami koperasi tetap dibangun. Tempatnya dimana monggo, karena di lapangan masyarakat menolak, yang tersedia ya apa adanya disitu,” tegas Suratmin. 

Editor: Haikal Rosyada

- advertisement -