BETANEWS.ID, SEMARANG – Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang mencatat, sepanjang tahun 2022 kasus balita stunting di Semarang mencapai angka 1.465 kasus. Kasus tertinggi berada di Kecamatan Semarang Utara, yaitu mencapai 236 kasus.
Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat (Kesma) DKK Semarang Yuli Kurniasih menerangkan, secara keseluruhan ada 95.447 balita di Kota Semarang. Sedangkan balita yang terkena stunting mencapai 1.465 anak atau 1,53 persen.
“Dibanding tahun sebelumnya, kasus tersebut sampai Agustus 2022 sudah mengalami penurunan. Tahun 2020 kasus mencapai 3,13 persen dan cut of Agustus 2022 sebesar 1,53 persen,” ujarnya.
Baca juga: Kasus Stunting di Kecamatan Semarang Utara Tertinggi di Kota Semarang
Yuli menerangkan, menurut catatan DKK Semarang, kasus stunting terbanyak berada di Kecamatan Semarang Utara dengan 236 kasus, Kecamatan Banyumanik ada 127 kasus dan Kecamatan Semarang Barat 123 kasus. Penyebab balita mengalami stunting rata-rata karena kurangnya pemenuhan gizi.
“Faktornya macam-macam, bisa dari asupan makanan tidak bergizi atau kurang dari kebutuhan satu hari dan hygiens sanitasi yang tidak baik, serta pola asuh yang tidak tepat,” katanya.
Menangapi hal tersebut, beberapa cara diupayakan DKK Semarang untuk menurunkan angka kasus stunting. Antaranya pendampingan stunting dan keluarga berisiko stunting hingga memaksimalkan kelas ibu hamil dan kelas balita.
“Kita juga melakukan upaya agar kasus cepat menurun. Antaranya dengan melakukan pendampingan bumil dan bufas (Ibu Nifas), pemeriksaan secara rutin anak-anak stunting, peningkatan kapasitas kader pada posyandu dan edukasi gizi,” ujarnya.
Sementara itu, Camat Semarang Utara Margo Hariadi, mengatakan kasus yang berada di wilayahnya, rata-rata anak yang terkena stunting masih berumur dua tahun.
“Faktornya karena kondisi wilayah yang dekat dengan pesisir. Terus sebagian besar masyarakat merupakan kalangan mengah ke bawah. Beberapa anak juga banyak dititipkan oleh pengasuh, karena orang tuanya sibuk bekerja. Sehingga makanya kurang teratur,” kata Margo beberapa waktu lalu.
Akibat faktor-faktor itu, sembilan kelurahan di Kecamatan Semarang Utara, dua di antaranya memiliki kasus tinggi. Yaitu Kelurahan Bandarharjo dan Kelurahan Tanjung Mas.
Baca juga:Â Cegah Stunting, Wakil Wali Kota Semarang Blusukan untuk Edukasi Warga
Lebih rinci, Kelurahan Bulu Lor ada 2 kasus, Dadapsari 16 kasus, Kuningan 23 kasus, Panggung Kidul 5 kasus, Purwosari 3 kasus, Plombokan 0 kasus, dan Panggung Lor 0 kasus. Kendati sebagai kecamatan dengan kasus tertinggi, pihaknya tetap berupaya agar kasus tersebut kian menurun, yakni dengan memberikan fasilitas edukasi di dua puskesmas Semarang Utara.
“Sejauh ini total di Semarang Utara ada 211 kasus stunting. Tertinggi di Kelurahan Bandarharjo sebanyak 75, sedangkan Tanjung Emas 87,” rincinya.
Editor: Kholistiono

