BETANEWS.ID, SEMARANG – Untuk menekan angka stunting, Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu melakukan blusukan di beberapa kecamatan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.
Setelah sebelumnya menyambangi Gajahmungkur dan Semarang Timur , kini Wakil Walikota yang kerap disapa Ita itu melakukan edukasi terkait stunting di Kantor Kecamatan Semarang Utara.

Baca juga: Angka Stunting Capai 17,21, Pemkab Kudus Anggarkan Rp94 M untuk Penanganan
Pada kesempatan itu, Ita dibantu beberapa warga yang hadir, membuat sop bola udang dan kudapan bola ubi jalar untuk ibu hamil dan anak-anak stunting.
“Kita memilih dua menu ini sengaja menyesuaikan wilayahnya. Karena Semarang Utara inikan pesisir, jadi kita memilih udang. Sementara untuk ubi jalar juga mudah untuk didapatkan,” katanya.
Kemudian untuk menunjang makanan yang bergizi, pihaknya pun menyebut punya rencana dengan TNI-Polri, akan melakukan gerakan menanam.
“Kita juga akan melakukan gerakan menanam untuk menunjang makanan bergizi. Nanti salah satunya yang akan dicoba adalah menanan ubi jalar. Sehingga dengan demikian, apa yang menjadi masakan-masakan adalah yang saat ini mudah didapat, gizinya tercukupi, murah harganya dan bisa dimakan oleh keluarga,” jelasnya.
Kemudian, terkait dengan kasus stunting yang ada di Semarang Utara, Margo Haryadi, Camat Semarang Utara mengatakan, saat ini tercatat ada 211 kasus di wilayahnya.
“Di Semarang Utara sendiri ada dua kelurahan yang mempunyai kasus stunting paling tinggi, yaitu Kelurahan Bandarharjo dan Tanjung Mas. Sehingga fokusnya sekarang bagaimana menurunkan angka di dua kelurahan tersebut,”katanya.
Lanjutnya, di Semarang Utara juga ada dua kelurahan yang zero stunting. Yaitu Kelurahan Plombokan dan Kelurahan Panggung Lor.
Baca juga: Genjot Penurunan Angka Stunting di Jateng, Ganjar Bentuk Tim Khusus
Pihaknya berharap, dengan gerakan bersama seperti ini, ibu-ibu bisa mengambil edukasi yang diberikan, bahwa memasak sehat itu mudah.
Sementara itu, salah satu warga, Minarsih (39) mengaku senang, karena dengan adanya edukasi seperti itu, ia bisa mendapatkan ilmu tambahan tentang gizi makanan. Sehingga nanti bisa diterapkan di rumah.
“Tentunya senang karena dapat ilmu baru, untuk memasak makanan yang bergizi tapi tetap mudah, agar anak saya cepat sembuh. Saat ini anak saya berumur 4,5 tahun tapi BB-nya masih 10 kilo,” katanya.
Editor : Kholistiono

