5 Kisah Inspiratif Bangkit dari Pandemi

BETANEWS.ID – Sudah dua tahun pandemi Covid-19 melanda dan menghantam sektor ekonomi di Jawa Tengah. Meski saat ini sudah berangsur pulih, tak sedikit pelaku UMKM yang mengeluh karena merugi bahkan hingga gulung tikar. Berikut lima kisah inspiratif para pelaku UMKM yang mampu bangkit dari pandemi Covid-19.

Isnaini Pebisnis Roti Hantaran

Tri Isnaini, Pemilik Sari Rasa Bakery Pati yang punya produk andalan Roti Gulung Keju. Foto: Kartika Wulandari

Tri Isnaeni (46), seorang pebisnis roti yang mampu bangkit dari pandemi Covid-19. Warga Randukuning RT 03 RW 03, Kelurahan Pati Lor, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati itu memulai usahanya pada tahun 2008. Ia mengawali dengan menjual roti sus, donat, roti pisang dan coklat. Setelah itu, Isnaeni merambah ke roti hantaran yang membuat bisnisnya makin melejit.

Imbas pandemi, Isnaeni pernah mengalami kerugian hingga Rp 300 juta. Berkat kesabaran dan kegigihannya, usaha roti yang digeluti bersama suaminya itu bisa kembali bangkit. Bahkan, sejak didatangi Ganjar, penjualan rotinya melonjak tajam hingga 70 persen.

-Advertisement-

Berita selengkapnya: Pernah Rugi Rp 300 Juta di Awal Pandemi, Isnaini Buktikan Bisa Bangkit di Bisnis Roti

Wawan Pebisnis Konveksi  Dylhan Fashion

Wawan sedang mempersiapkan kain yang akan dipotong untuk dijadikan seragam. Foto: Kartika Wulandari.

Wawan Subandono (34), nekat resign dari pekerjaannya demi mengembangkan usaha konveksinya pada 2019. Baru beberapa bulan fokus mengembangkan usaha, warga Dukuh Pedak, Desa Klumpit, Gebog, Kudus itu, justru dihadapkan dengan pandemi Covid-19 di awal tahun 2020. Situasi itu memukul bisnis yang baru saja digelutinya. Padahal, bisnis konveksi yang diberi nama Dylhan Fashion saat itu tengah gencar-gencarnya promosi.

Tempat produksinya itu terpaksa vakum selama sembilan bulan. Namun, ia tak patah arang dan mencoba bangkit untuk kembali membesarkan Dylhan Fashion. Buah dari kesabarannya kini sudah ia tuai hasilnya. Saat ini usahanya mulai berkembang lagi dan mulai menerima banyak pesanan seragam. Bahkan kini dia bisa menjual 1.200 hingga 1.500 pesanan tiap bulannya.

Berita selengkapnya: Sempat Merana di Awal Corona, Wawan Bangkit Besarkan Lagi Bisnis Konveksinya

Yusril Pebisnis Tas Souvenir 

Yusril sedang memotong bahan pembuatan tas souvenir. Foto: Kaerul Umam.

Yusril Ihza Mahendra (20) pemilik toko Ulfiya Souvenir yang berada di Jalan Lingkar Utara, Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Pemuda yang dirumahkan akibat pandemi Covid-19 di tahun 2020 itu kemudian mulai membuka usaha produksi tas souvenir. Bermula dari modal pinjaman Rp 1,5 juta untuk membeli kain satu rolll, ia memulai usaha tersebut dengan memproduksi sendiri dan dipasarkan secaran online.

Kini usaha milik warga Desa Papringan RT 1 RW 1, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu terus berkembang. Berkat keuletannya dalam mempromosikan produk, kini dalam sehari, ia bisa menerima pesanan antara tiga sampai empat pesanan. Bahkan, saat ini Ulfiya Souvenir sudah memiliki 17 karyawan.

Baca Selengkapnya: Tak Punya Kerjaan Sejak Pandemi, Yusril Bangkit di Bisnis Tas Souvenir yang Kini Banyak Diminati

Suhadi Produsen Panel Dinding Kayu

Panel dinding kayu produksi Suhadi yang tembus pasar mancanegara. Foto: Hani Aturrohmah

Suhadi (34) pemilik usaha Panel Dinding Kayu yang mampu menembus pasar luar negeri. Di tengah sulitnya mengais rezeki di masa pandemi Covid-19, dirinya malah mendapat berkah akibat pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Suhardi mendapat ide bisnis mengolah limbah kayu untuk dijadikan panel dinding.

Olahan limbah kayu warga Desa Logung, Kecamatan Sumber, Kabupaten Rembang itu dipasarkan secara online. Dari berbagai jenis penel dinding, Suhadi membuat jenis colorado yang sekarang sedang ramai di pasaran dan banyak diminati.

Baca selengkapnya : Terdampak Pandemi, Suhadi Bangkit Produksi Panel Dinding Kayu yang Kini Makin Laris

Najib Produsen Hiasan Dinding

Najib sedang menyusun hiasan dinding karyanya. Foto: Dafi Yusuf

M Syafiun Najib sempat kalut karena terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) di perusahaannya. Namun, kekalutannya tak bertahan lama. Dia mencari jalan keluar agar bisa mendapatkan penghasilan di tengah pandemi dengan menjual hiasan dinding.

Usaha yang ditekuninya kini mulai membawa hasil yang cukup signifikan. Dari bisnis hiasan dinding itu, Najib bisa mendapatkan omzet Rp 20 juta dalam sebulan. Sebenarnya, bisnis hiasan dinding sudah dia lakukan sejak masih kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo. Namun, saat itu dia belum serius, karena masih ada penghasilan lain dari bekerja kantoran.

Baca selengkapnya: Kisah Najib Bangkit dari PHK Karena Corona, Kini Punya Omzet Puluhan Juta dari Bisnis Barunya

Editor : Ahmad Rosyidi

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER