BETANEWS.ID, KUDUS – Mendapatkan bantuan bongkar ratoon, petani tebu di wilayah Kabupaten Kudus semakin semangat. Penyerahan bantuan berupa benih 60.000 mata tunas per hektar, bantuan biaya bongkar ratoon, pengolahan, dan penanaman 40 hari orang kerja (HOK) per hektar itu diberikan langsung Kementerian Pertanian RI dalam rangka kegiatan Tanam Bersama dan Bongkar Ratoon, di lahan Karsono, Ketua Gapoktan Bangun Harjo, Desa Honggosoco, Kecamatan Jekulo, Kamis (27/11/2025).
Menurut Karsono, adanya bantuan itu sangat meringankan beban para petani, khususnya petani tebu. Sebab biaya bongkar ratoon membutuhkan biaya yang cukup mahal, yakni sekitar Rp34 juta per hektar.
Baca Juga: Pemkab Kudus Revitalisasi 6 Pasar, Tiga Rampung Lainnya Masih Dikebut
“Alhamdulillah saya senang dapat bantuan, karena ini sangat membantu petani, terutama untuk kebutuhan bibit. Tenaga kerja juga dibantu sedikit. Memang biayanya besar, tapi bantuan seperti ini sangat meringankan,” ungkapnya.
Dirinya memiliki lahan dua hektar, yang saat ini telah ditanami tebu. Di mana satu hektare sebelumnya ditanami ketela dan saat ini dialihkan ditanami tebu. Ia mengaku, terakhir kali melakukan bongkar ratoon pada empat tahun yang lalu.
“Harapannya dengan bongkar ratoon ini bisa meningkatkan produktivitas tebu. Karena kalau tidak ada peremajaan, hasil semakin menurun,” bebernya.
Dalam kondisi normal, kata dia, produktivitas tebu di lahannya mampu menghasilkan 60–70 ton per hektare. Tentunya setelah dilakukan bongkar ratoon, produktivitas tebu bisa meningkat menjadi 80-90 ton per hektar.
“Mudah-mudahan hasilnya meningkat, pendapatan lebih banyak. Selain itu petani juga butuh diperhatikan seperti saat ini, agar semakin sejahtera,” ujarnya.
Selama ini, hasil tebu dari lahan Karsono dikirim ke PG Rendeng dan PG Trangkil dengan harga jual terakhir sekitar Rp75 ribu per kuintal. Dengan meningkatnya produktivitas tebu di lahannya sehingga bisa mengembalikan modal hingga meraup keuntungan.
“Untuk satu hektare tebu dibutuhkan biaya sekitar Rp34 juta, mulai dari pembelian bibit, tenaga kerja, hingga pupuk. Proses budidaya tebu hingga panen memakan waktu 10–11 bulan,” jelasnya.
Untuk ketersediaan pupuk, Karsono mengaku lancar dan bahkan ada penurunan harga hingga 20 persen dari sebelumnya. Dia berharap, kondisi tersebut bisa bertahan agar petani semakin terbantu dan hasil produksi meningkat.
“Pupuk bagus dan lebih murah, membantu petani. Ada penurunan harga sekitar 20 persen dari sebelumnya Rp2.500 per kilogram,” jelasnya.
Sementara itu, Sekertaris Direktorat Jendral Perkebunan pada Kementrian Pertanian RI, Heru Tri Widarto menjelaskan, bahwa bantuan diberikan sebagai upaya untuk tujuan swasembada gula. Menurutnya, pemerintah terus mendorong adanya peningkatan produktivitas tebu dalam penguatan ketahanan pangan nasional.
Baca Juga: Pilih Kerja di Perusahaan Swasta, Satu PPPK Paruh Waktu Pemkab Kudus Mengundurkan Diri
“Kami meminta dukungan penuh dari pemerintah daerah dalam memperkuat hilirisasi tebu. Indonesia memiliki peluang besar mencapai swasembada gula, mengingat dulunya Indonesia pada tahun 1993 menjadi eksportir terbesar di dunia,” jelasnya.
Sebagai informasi, Gapoktan di tujuh kecamatan yakni Jekulo, Gebog, Jati, Kaliwungu, Dawe, Bae, dan Mejobo masing-masing mendapatkan bantuan bongkar ratoon dengan berbeda luasan. Untuk Gapoktan Bangun Harjo sendiri, mendapat bantuan untuk 25 hektar.
Editor: Haikal Rosyada

