BETANEWS.ID, JEPARA – Abdul Aziz (35) tampak dengan cekatan meracik pesanan bubur kacang hijau ke dalam mangkuk bergambar ayam jago yang ada di tangannya. Satu mangkuk bubur kacang hijau lengkap itu terdiri dari bubur kacang hijau, bubur ketan merah, santan dan es serut. Setelahnya ia memberikannya kepada pelanggan yang menunggu di bangku panjang yang disediakan.
Usai melayani pembeli, Aziz panggilan akrabnya bersedia berbagi cerita tentang usaha yang dilakoninya sejak tahun 2007 lalu. Ia menjelaskan, karena menggangur lama setelah lulus SMA, dirinya akhrinya pilih jualan bubur kacang hijau mengikuti jejak sang ayah.

Baca juga: Kisah Rofi’i, Pemuda 18 Tahun yang Punya Omzet hingga 9 Juta Sebulan dari Telur Gulung
“Karena setelah lulus sekolah SMA tidak dapat kerja di Cirebon, nganggur lama, terus ya udah ikut merantau bapak ke sini (Jepara) jualan bubur kacang hijau,” jelasnya kepada Bentaews.id, Sabtu (20/8/2022).
Saat itu, dirinya berjualan bubur kacang hijau keliling menggunakan gerobak roda tiga di daerah Kalinyamatan selama beberapa tahun. Setelah sang ayah pensiun karena usia lanjut, ia menggantikan sang ayah yang biasa berjualan di lapak depan toko yang berada di Pasar Kalinyamat.
“Setelah bapak berhenti jualan karena sudah tua, saya jualan di sini (depan toko pasar Kalinyamat) tempat bapak sebelumnya. Tetapi kalau sudah jam 08.00 WIB, yang punya toko buka saya tetep keliling menghabiskan sisa dagangan ke sekolah-sekolah,”ungkapnya.
Selama 15 tahun berjualan bubur kacang hijau, banyak suka duka yang ia lalui. Meskipun tak mudah ia mengaku selalu bersyukur dan tak pernah menyalahkan keadaan. Terbukti saat dagangannya tidak laku dan masih banyak, ia memanfaatkannya dengan berbagai kepada tetangga dekat kontrakannya yang berada di Desa Margoyoso.
“Namanya jualan ya begitu, kadang laku kadang masih banyak. Kalau masih banyak gitu pas siang dibawa pulang lalu saya begikan ke tetangga kontrakan. Karena tetangganya banyak juga biar mereka ikut merasakan bubur kacang hijau daripada dibuang,”akunya.
Tak hanya itu, saat Aziz berjualan kacang hijau, tak jarang banyak pembeli yang menawar dan membeli seharga uang yang tersedia. Sedangkan harga bahan baku untuk pembuatan kacang hijau selalu naik. Karena tak ingin mengecewakan pembeli ia tak pernah menolak berapapun uang pembeli.
“Ini harganya cuma Rp 2.500, tapi kalau pembeli ada yang minta Rp 2 ribu, atau Rp1.500 tetap saya layani. Namanya rezeki, berapapun gak boleh ditolak kalaupun kurang anggap saling membantu dan berbagi,”jelasnya.
Baca juga: Kisah Taufiq Rintis Usaha Baki Lamaran Sejak SMA hingga Mampu Biayai Kuliah Sampai S2
Setiap hari Aziz selalu bangun pukul 02.00 WIB untuk memasak bubur kacang hijau. Kemudian setelah subuh pukul 05.00 WIB, ia mulai berjualan di lapaknya yang berada di depan toko pasar Kalinyamat, kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara. Bubur kacang hijau miliknya selalu fresh karena dibuat setiap hari.
“Alhamdulillah, sekarang sudah banyak langganan ada bakul yang ambil bungkusan plastik, terus posyandu dan pesanan juga. Buburnya juga tiap hari bikin fresh bukan yang dipanaskan. Sekali bikin bisa 2,5 sampai 3 kilo untuk kacang hijau dan ketannya,”tandasnya.
Editor: Kholistiono

