BETANEWS.ID, KUDUS – Sore itu, di sebuah kafe yang bernuansa rumah tahun 70an yang berada di Desa Mlati Norowito Gang 3, Kecamatan Kota, Kudus tampak ramai oleh pengunjung. Di luar bangunan tampak seorang pria sedang asyik mengobrol dengan temannya di bawah pohon yang rindang. Pria tersebut adalah Bagus Gunawan Wibisono (38), pemilik kafe Jasmine Coffee & Tea.
Saat ditemui, Bagus sapaan akrabnya bersedia berbagi cerita terkait usahanya yang berdiri sejak Oktober 2021 lalu. Ia menjelaskan, tempatnya tersebut bukan usaha pertama yang didirikannya. Sebelumnya, Bagus sempat mendirikan usaha kafe di daerah Purwosari pada awal 2020, tapi tutup karena permasalahan kerja sama. Ditambah, ia merintis di awal pandemi yang ketika itu diterapkan jam malam sehingga kerap terjaring razia satpol PP.

Keputusannya membangun usaha kafe di awal pandemi bukan tanpa alasan. Pasalnya di awal 2020 dirinya menjadi salah satu karyawan yang di-PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja selama 9 tahun.
Baca juga: Jasmine Coffee & Tea, Kafe Berkonsep 70an yang Jadi Tempat Nongkrong Asyik Anak Muda Kudus
“Setelah terkena pengurangan karyawan, saya berpikir bikin usaha apa. Karena saya ikut dua komunitas mobil di Kudus yang sering kumpul bareng terus muncul ide, kenapa tidak bikin tempat buat saya dan mereka saja. Lalu bikin kafe saja,” bebernya, Kamis (25/8/2022).
Bagus menambahkan, pembukaan kafe kedua ini sengaja dipilih masuk ke dalam gang. Hal tersebut tak lain untuk menghindari adanya razia satpol PP kembali. Selain itu, dirinya mendirikan kafe secara mandiri agar tidak mengalami permasalahan yang sama ketika merintis kafe pertamanya.
“Yang menarik ketika buka kafe untuk yang kedua kalinya di sini, itu memang pilih yang agak masuk ke gang. Jadi waktu itu saya matikan lampu depan setiap di atas jam 8, ketika satpol PP datang seolah tidak ada aktivitas dan memang efektif,” lanjutnya sambil tertawa kecil.
Dari situ lah, banyak kedai dan kafe yang mulai bermunculan dengan lokasi yang mirip dengannya yaitu masuk ke dalam pemukiman warga. Meski banyak kafe atau kedai yang serupa, dirinya tidak merasa tersaingi sebab kafe miliknya memiliki keunikan dan peminatnya sendiri.
Baca juga: Nganggur Usai Lulus SMA, Aziz Ikuti Jejak Sang Ayah Jualan Bubur Kacang Hijau di Jepara
Kafe Jasmine Coffee & Tea miliknya mengusung konsep rumahan tahun 70an serta menu utama yang ditonjolkan berbeda dari kafe dan kedai pada umumnya, yakni menu teh sebagai minuman utama.
“Meskipun di Kudus ada lebih dari 270 kafe atau kedai, belum yang tidak terdaftar. Tetapi setiap tempat termasuk punya saya ini sudah ada keunikan dan pasarnya tersendiri. Contohnya teman-teman komunitas yang sering ke sini, anak kuliah juga ada,” pungkasnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

