Merdeka Bagi Agus Pengukir Kayu

Semangat yang sama juga dimiliki Agus Salim (42), seorang difabel yang kini memiliki usaha pembuatan grbyok, joglo dan berbagai macam ukiran. Memiliki keterbatasan fisik bukanlah pilihannya, namun Agus tidak mengutuk keadaannya dan berkarya demi kemandirian yang diinginkan.
Meski memiliki keterbatasan, tapi kita harus semangat dan percaya diri. Jangan minder karena kita sudah merdeka
Agus Salim, penyandang disabilitas
Sejak usia sembilan bulan, kaki kiri Agus tidak tumbuh secara normal. Sama seperti yang dialami penyandang difabel lainnya, Agus juga tidak bisa bermain layaknya anak-anak seusianya kala itu.
Saat ditemui di rumahnya di Jalan Serang Lusi, Dukuh Tuang, RT 05, RW 03, Desa Kedungdowo, Kaliwungu, Kudus, pria yang akrab disapa Agus mengaku melewati masa-masa sulit saat masih kecil.
Mata Salim tampak berkaca-kaca saat mengenang masa kecilnya. Dia sempat tidak mau sekolah karena merasa malu. Namun setelah dibujuk orang tuanya, akhirnya Salim setuju meski hanya sekolah dasar (SD). Di sekolah, Agus tak jarang mendapat ejekan dari teman-temannya, namun hanya bisa memendam sakit hati karena tak bisa berbuat apa-apa.
“Di-bully ya sering saat sekolah. Pernah ada yang menirukan saya berjalan. Dalam hati ya sakit, tapi hanya bisa memendam,” kenang Agus.
Setelah lulus SD, Agus memilih tidak melanjutkan sekolah. Dia memilih belajar mengukir ke Jepara. Tak bertahan lama, akhirnya dia pulang dan ikut pelatihan ke Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof Dr Soeharso, Solo.
Menurutnya, kepercayaan dirinya mulai terbentuk saat di sana. Setelah lebih dari satu tahun belajar di Solo, Agus kemudian pulang dan melamar kerja di Kudus.
Namun tidak mudah mendapat pekerjaan bagi seorang pemuda yang memiliki keterbatasan seperti dirinya. Tidak ada bengkel yang mau menerimanya.
Setelah susah payah mencari kerja, akhirnya Agus kembali belajar mengukir ke Jepara. Satu tahun berselang, dirinya diterima kerja di tempatnya belajar mengukir. Dan akhirnya, kini dia membuka usaha sendiri di rumahnya, menerima pesanan produk ukiran, joglo dan gebyok.
Bagi Salim, merdeka adalah menerima keadaan dan bisa percaya diri. Meski memiliki keterbatasan bukan alasan untuk berdiam diri, difabel harus semangat menghadapi semua keadaan.
“Meski memiliki keterbatasan, tapi kita harus semangat dan percaya diri. Jangan minder karena kita sudah merdeka,” ucapnya.




