Merdeka Bagi Para Difabel yang Mampu Bangkit dari Masa Sulit

0

Setiap orang memiliki perspektif sendiri dalam memaknai kemerdekaan Indonesia. Bagi para pejuang dan para pendahulu, kemerdekaan dimaknai lepas dari penjajahan. Bagi generasi sekarang, makna kemerdekaan tentu disesuaikan dengan latar belakang dan kehidupannya masing-masing.

Lalu, apa makna kemerdekaan bagi mereka para penyandang disabilitas di Kudus, yang memiliki keterbatasan secara fisik, akses yang terbatas, dan sering dipandang sebelah mata oleh sebagian orang? Berikut ini kisah perjuangan hidup dan makna kemerdekaan bagi mereka.

Merdeka Bagi Arif Loper Koran

Muhammad Arif dan istrinya, Anik Makmudah. Foto: Kaerul Umam

Tak ada kata menyerah bagi Muhammad Arif (36). Warga Desa Bakalan Krapyak, RT 04, RW 01, Kaliwungu, Kudus, itu harus berjuangan melewati masa-masa sulit sejak usia 16 tahun. Kakinya tak lagi bisa berjalan, setelah terjatuh dari sepeda.

Kemerdekaan adalah kemandirian, meski memiliki keterbatasan. Jangan menyerah, karena semangat kita menentukan masa depan kita

Muhammad Arif, penyandang disabilitas

Tak mudah bagi pria yang akrab disapa Arif itu untuk berdamai dengan keadaan sebagai difabel. Namun, Arif bisa melewati masa sulit dan terus berjuang melanjutkan hari-hari dengan keterbatasan.

Meski memiliki keterbatasan, semangatnya untuk mandiri tidak membuatnya berdiam diri. Tujuh tahun lebih berbaring di kamar setelah jatuh, Arif akhir nya bisa merangkak, dan keluar rumah menggunakan kursi roda untuk mencari pekerjaan.

- advertisement -

Loper koran, akhirnya dipilih anak kedua dari delapan bersaudara itu untuk mendiri. Meski hanya menggunakan kursi roda dan menempuh jarak yang jauh dari rumahnya, menjual koran bisa menjadi upaya untuk tidak menggantungkan hidup pada keluarganya.

Bahkan, pekerjaan dengan menjadi loper koran, dirinya bisa membantu ekonomi keluarganya dan membantu pendidikan bagi adik-adiknya.

Tak hanya itu, dari pekerjaannya itulah Arif juga menemukan belahan jiwa dan membiayai biaya pernikahannya sendiri pada tahun 2018. Hingga Arif berhenti berjualan koran di tahun 2020 dan memilih fokus usaha berjualan pakaian bersama istrinya, yang juga seorang difabel.

Sebagai difabel, kemerdekaan baginya adalah semangat untuk bangkit dan mampu mandiri. Sebagai orang yang merdeka, menurut Arif tidak boleh menyerah dengan keadaan apapun.

“Kemerdekaan adalah kemandirian, meski memiliki keterbatasan. Jangan menyerah, karena semangat kita menentukan masa depan kita,” ungkap Arif.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini