Semarak Ramadan Anak Istimewa di Pati, Puluhan Penyandang Disabilitas Tampil Penuh Percaya Diri

BETANEWS.ID, PATI – Suasana haru dan kebahagiaan menyelimuti kegiatan buka puasa bersama yang digelar Griya Harapan di Desa Winong, Kecamatan Winong, Kabupaten Pati, Sabtu (28/2/2026). Tawa ceria anak-anak berpadu dengan hangatnya kebersamaan, menghadirkan momen Ramadan yang penuh makna.

Kegiatan bertajuk “Sinkronisasi Energi dengan yang Istimewa” ini menjadi agenda tahunan untuk merangkul anak-anak berkebutuhan khusus atau yang akrab disebut anak istimewa. Tak sekadar buka bersama, acara ini menjadi ruang bagi mereka untuk tampil, berekspresi, dan merasakan dukungan tanpa batas.

Griya Harapan yang berada di bawah naungan Yayasan Dermaga Family Indonesia merupakan tempat belajar bagi ratusan anak disabilitas di Kabupaten Pati. Saat ini, Griya Harapan memiliki empat cabang, yakni Winong, Trangkil, Pati, dan Tayu.

-Advertisement-

Salah satu siswa, Lili (15), warga Sambilawang, mengaku senang mengikuti kegiatan Ramadan di Griya Harapan. Lili yang memiliki saudara kembar bernama Lala ini tetap semangat menjalani puasa.

Baca juga: Merdeka Bagi Para Difabel yang Mampu Bangkit dari Masa Sulit

“Senang selama Ramadan ini. Pagi sekolah di SLB, sore belajar di Griya Harapan. Hari ini puasa,” ucapnya dengan wajah ceria.

Hal senada disampaikan Fachri, siswa asal Sukolilo. Ia mengaku bahagia bisa ikut meramaikan kegiatan Semarak Ramadan bersama teman-teman lainnya.

Founder Griya Harapan, Jasmudi, mengatakan, kegiatan buka bersama ini merupakan agenda rutin setiap Ramadan sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan suci sekaligus mempererat tali silaturahmi.

“Ini agenda tahunan Griya Harapan Sahabat Anak Istimewa. Kami menaungi hampir 350 lebih anak usia 3 sampai 26 tahun. Setiap tahun sekali kami adakan buka puasa bersama untuk menyambung rasa dengan anak-anak istimewa,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kegiatan perdana digelar di Cabang Winong pada 28 Ramadan dan diikuti sekitar 87 anak, gabungan dari Winong dan Trangkil. Selanjutnya, kegiatan serupa akan dilaksanakan di Trangkil (4 Ramadan), Tayu (7 Ramadan), dan Pati (12 Ramadan).

Di Winong, kegiatan juga diisi dengan Mabit (malam bina iman dan takwa) dengan menginap satu malam. Anak-anak pun menunjukkan bakat terbaiknya, mulai dari mengaji, praktik pembelajaran huruf hijaiyah, hingga modeling busana islami secara otodidak. Penampilan tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.

“Yang penting anak-anak istimewa itu percaya diri. Selama ini mereka sering mengalami bullying, bahkan yang tidak terlihat. Kami ingin membangun energi positif agar mereka tidak menutup diri, tapi berani tampil,” tegas Jasmudi.

Adapun jenis disabilitas yang dibina di Griya Harapan meliputi Cerebral Palsy, autisme, ADHD (hiperaktif), hingga tuna rungu.

Melalui Semarak Ramadan Anak Istimewa ini, Griya Harapan berharap anak-anak berkebutuhan khusus dapat menjalani hidup layaknya masyarakat pada umumnya tanpa stigma dan diskriminasi.

“Kami hanya ingin mereka bisa hidup layaknya orang hidup. Jangan dimarginalkan, jangan dipandang sebelah mata,” kata Jasmudi.

Sementara itu, Novi Oktaviana, Ketua Yayasan Dermaga Family Indonesia mengungkapkan, dirinya mulai fokus mendampingi anak-anak istimewa sejak 2022 saat masa pandemi Covid-19.

“Awalnya hanya 20 anak. Sekarang alhamdulillah sudah 400 lebih anak berkebutuhan khusus yang kami bimbing di empat cabang di Kabupaten Pati,” jelasnya.

Menurut Novi, ketertarikannya mendampingi anak-anak istimewa muncul setelah melihat langsung perjuangan para orang tua yang kerap menghadapi stigma dan perundungan.

Baca juga: Kisah Wanto, Pembuat Motor Roda 3 Difabel yang Dapat Apresiasi dari Anne Avantie

“Banyak yang dibully, diremehkan. Ibu-ibunya sampai menangis. Itu yang mengetuk hati saya untuk membuat wadah agar mereka bisa berkarya dan orang tuanya juga punya tempat untuk saling menguatkan,” katanya.

Berbeda dengan pendidikan formal di SLB, Griya Harapan lebih menekankan pada penggalian potensi, pembentukan karakter, etika, dan penguatan hubungan anak dengan orang tua.

“Kalau di SLB fokus akademik, di sini kami tekankan attitude, kebiasaan baik, dan rasa saling menyayangi. Pengobatan paling kuat itu dari orang tua. Jadi kami gandeng orang tua sekaligus membimbing anaknya,” jelas Novi.

Saat ini, Griya Harapan didukung 24 tenaga pendidik. Seluruh operasional awal dibiayai secara mandiri dari unit usaha Alzena Skincare dan Klinik Bintara sebelum akhirnya banyak donatur ikut bergabung.

Ke depan, pihak yayasan berencana menambah dua hingga tiga cabang baru di Kecamatan Jaken, Juwana, dan Margoyoso. Selain itu, mereka juga tengah merintis wadah pelatihan keterampilan bagi anak disabilitas agar bisa mandiri secara ekonomi.

“Kami ingin punya wadah seperti Depnaker khusus anak disabilitas, agar mereka bisa berkarya sesuai potensinya tanpa batas,” tegas Novi.

Editor:Suwoko

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER