Desa Mulyoharjo, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara merupakan desa cikal bakal seni ukir Jepara, yang kini dikenal sebagai sentra industri seni patung kayu. Desa yang dulu kerap disebut belakang gunung itu, terkenal dengan ukiran macan kurungnya.
Pada masa kejayaan Kota Ukir, seorang perajin ukir menjadi idola masyarakat Jepara. Bahkan, banyak orang dari daerah lain datang untuk belajar dan bekerja di sana. Namun miris, perajin ukir yang dulunya jadi idola, kini mulai dipandang sebelah mata oleh generasi muda.

Kepada Tim Liputan Khusus Beta News, perajin ukir sekaligus pemilik usaha Kandang Macan, Agus Setia Budi (47) mengatakan, minat generasi muda untuk menjadi perajin ukir di Jepara mulai menurun. Kebanyakan dari mereka lebih memilih untuk bekerja dan menghasilkan uang lebih cepat, dibandingkan dengan mengukir.
Pernah saya membuat story di Facebook, yang berminat belajar membuat patung gratis di tempat saya, tapi tidak ada yang respon
Agus Setia Budi, Pengukir Patung di Jepara
“Dulu perajin ukir menjadi idola di masyarakat Jepara. Taruhlah sebagai contoh, dulu jika melamar wanita dengan status pengukir, akan diterima bagus oleh calon mertua. Namun untuk saat ini sudah berbeda,” beber pria yang akrab disapa Agus saat ditemui di tempat kerjanya, beberapa waktu yang lalu.






