Suara bising lalu-langan kendarang terdengar dari sebuah rumah dengan pintu penuh ukiran, di Desa Mantingan, RT 20 RW 06, Kecamatan Tahunan, Jepara. Rumah itu milik Sutarya, seorang pemerhati ukir di Jepara. Sambil memegang buku tentang ukir di tangannya, sore itu dia sudi berbagi penjelasan tentang ukir kepada Tim Liputan Khusus Beta News.

Sutarya, pemerhati industri ukir Jepara. Foto: Kaerul Umam

Sutarya menceritakan awal kejayaan industri ukir di Jepara. Dia mengatakan, industrialisasi kerajinan ukir dan furnitur di Jepara telah terjadi sejak awal abad 19, yakni pada masa RA Kartini. Pada masa Pahlawan Emansipasi Wanita tersebut, produk ukir Jepara telah mulai diekspor ke sejumlah negara.

“Namun jauh sebelum itu, ukir Jepara sudah dikenal secara luas. Pada masa Ratu Kalinyamat, produk-produk kapal telah diekspor ke sejumlah negara lain,” tutur dosen di Universitas Islam Nahdhatul Ulama (Unisnu) Jepara tersebut.

Kita ini sudah krisis tenaga kerja, mau bagaimana. Mungkin munculnya industri padat karya (industri manufaktur) juga bisa menjadi sebab.

Maskur Aulia, Presidium HIMKI

Pada tahun 90-an, industri ukir di Jepara sangat booming. Produksi ukir dan mebel terjadi di seluruh wilayah. Banyak warga luar daerah datang ke Jepara untuk bekerja. Dan angka ekspor produk ukir dan furnitur saat itu meningkat signifikan.

“Saat itu 35 persen penduduk Jepara bekerja di sektor pengolahan kayu ini. Seluruh kecamatan, termasuk Karimun Jawa, juga menjalankan industri ini,” tutur Sutarya.

- advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini