Dia mengatakan, memasuki tahun 2002 dan 2003, industri ukir dan mebel di Jepara mulai meredup. Hal ini disebabkan adanya penurunan kualitas produk, karena para perajin menggunakan kayu seadanya. Suplai yang semakin kecil, membuat bahan baku menjadi semakin mahal.

“Karena pada waktu itu ada order banyak, otomatis kualitas bahan baku menurun, karena suplainya kecil. Ya jelas, kualitas produknya jadi menurun. Akhirnya, permintaan ekspor semakin berkurang karena kualitas produknya menurun,” ujar Sutarya.

Dari waktu ke waktu, industri ukir dan mebel di Jepara, kata Sutarya, semakin menurun. Hal itu diperparah dengan pandemi Covid-19, yang membuat pengusaha semakin terjepit. Bagaimana tidak, permintaan pasar terhadap produk yang semakin kecil, membuat pengusaha tak bisa berbuat banyak.

Maskur Aulia, Dewan Presidium HIMKI. Foto: Kaerul Umam

Industri Ukir Krisis Tenaga Kerja

Sementara itu, Maskur Aulia (46), yang saat ini menjabat sebagai Dewan Presidium di DPP Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), mejelaskan, saat ini terjadi krisis pekerja di industri ukir dan mebel. Para pengusaha kesulitan mencari tenaga untuk membuat produk.

Menurutnya, ada banyak faktor yang mempengaruhi krisis tenaga kerja di industri mebel di Jepara. Datangnya padat karya pada industri manufaktur di Jepara, memberikan peluang baru bagi masyarakat. Menjadi pengukir, dinilai lebih sulit dibanding bekerja di pabrik.

- advertisement -

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini