Mungkin tak ada yang menyangka, klub bulutangkis sebesar PB Djarum berawal dari aktivitas rekreatif karyawan sigaret kretek tangan (SKT) yang berolahraga mencari keringat. Namun, begitulah sejarah awal berdirinya satu di antara klub bulutangkis terbesar di Indonesia saat ini.

Patung Super Smash di kompleks GOR Djarum Jati, Kudus. Foto: Ist

Hal itu diceritakan Ketua PB Djarum, Yoppy Rosimin menceritakan, kepada Tim Lipsus Beta News, saat ditemui di GOR Djarum Jati, beberapa waktu lalu. Yoppi menceritakan, kegiatan bulu tangkis yang dilakukan karyawan SKT itu terjadi sekitar tahun 1960-an. Usai bekerja, para karyawan SKT di brak Jalan Bitingan Lama (sekarang Jalan Loekmonohadi), berlatih bulutangkis setiap sore.

Awalnya tidak berpikir bisa sebesar sekarang. Bisa dibilang hanya untuk cari keringat lah.

Yoppy Rosimin | Ketua PB Djarum

Para karyawan harus menyingkirkan peralatan produksi, sebelum net beserta tiangnya didirikan. Awalnya hanya ada satu lapangan. Berjalannya waktu, lapangan pun bertambah. Tak hanya karyawan Djarum, warga sekitar pabrik juga ikut datang bermain bulutangkis.

“Awalnya tidak berpikir bisa sebesar sekarang. Bisa dibilang hanya untuk cari keringat lah. Dulu produksi kan ga pakai meja, lesehan, jadi peralatan produksinya disingkirin dulu,” ujar Yoppy kepada Tim Lipsus Beta News.

Karena aktivitas tersebut berjalan konsisten, Yoppy menyebut kemudian muncul ide pendirian klub bulutangkis. Klub didirikan untuk mengatur aktivitas olahraga tepok bulu tersebut. Tidak diketahui pasti, kapan klub didirikan. Akhirnya disepakati, PB Djarum berdiri pada 28 April 1969. Tanggal dan bulan dipilih, sesuai dengan tanggal lahir Robert Budi Hartono, pemilih perusahaan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini