BETANEWS.ID, KUDUS – Aroma harum kue begitu terasa begitu mendekat ke sebuah gerobak berwarna pink yang berada di tepi Jalan Lingkar Utara Kudus. Aroma tersebut berasal dari kue pukis yang dipanggang oleh seorang pria paruh baya, yaitu Marsudi.
Beberapa pukis yang sudah dirasa matang, kemudian diambilnya dan kemudian dibungkus, karena sudah ditunggu pembeli. Marsudi pun kembali memasukkan adonan ke dalam cetakan dengan menambahkan varian rasa sesuai pesanan pembeli.

Baca juga : Jualan Pukis Toping Kekinian di Kudus Ini Punya Omzet Jutaan Sehari
“Kalau untuk varian rasa ada dua, yaitu coklat dan pisang. Sebelumnya pernah coba membuat varian nangka, tetapi rasanya tidak cocok, jadi yang dua varian ini dulu sementara ini,” ujarnya bapak empat anak tersebut.
Dari dua varian yang ada tersebut, harganya tidak beda. Yakni Rp 1.000 per bijinya. Sedangkan untuk paketan, harganya Rp 10 ribu.
Marsudi mengatakan, ia memulai berjualan pukis sejak Desember 2020 lalu, karena usaha sebelumnya terdampak pandemi. Sebelumnya ia yang sudah mempunyai dua gerai atau outlet yang menjual jus. Namun, karena terdampak pandemi, omzetnya menurun. Kemudian, ia pun berjualan jajanan tradisional yaitu pukis.
“Saat ini kalau dalam bentuk adonan menghabiskan satu kilogram adonan. Kalau dibuat per biji, bisa 100 biji per hari. Namun, ini menurun drastis dibandingkan setelah lebaran kemarin, yang bisa menjual hingga 200 biji sampai 250 biji per harinya,” bebernya kepada betanews.id.
Baca juga : Tak Ingin jadi Gunjingan Tetangga Setelah Lulus, Mahasiswa IAIN Kudus Rintis Usaha Kue Balok
Ia mengatakan, mulai membuka lapaknya pukul 6.00 hingga 15.00 WIB. Setelah itu, ia kemudian berjualan pentol dengan berkeliling kampung demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari untuk keluarganya.
“Kalau pemasaran hanya di sini saja dan belum merambah ke online. Setelah jam 3 sore, entah barang habis atau belum, kemudian saya menjual pentol berkeliling. Soalnya untuk kebutuhan hidup keluarga di rumah,” jelas warga Desa Panjang RT 1 RW 3, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu.
Editor : Kholistiono

