31 C
Kudus
Rabu, November 30, 2022
BerandaPertanianLaguna Greenhouse, Terapkan...

Laguna Greenhouse, Terapkan Milenial Farming Dalam Budidaya Melon untuk Hasil yang Istimewa

BETANEWS.ID, SEMARANG – Milenial farming, kini menjadi cara untuk para milenial menjadi petani yang bisa menghasilkan buah secara optimal dengan cara yang lebih modern.

Hal ini juga yang diterapkan oleh, Arvin Wijaya (27) pemilik Laguna Greenhouse bersama rekannya. Bermula karena tertarik dalam dunia pertanian, mereka mencoba peruntungan dengan cara pertanian konvensional (media tanah).

Namun karena dirasa cara konvensial lebih banyak masalahnya, sehingga tahun 2017, mereka pun mencoba menanam buah melon dengan menerapakan penananaman menggunakan teknologi serta membangun greenhouse.

Arvin menunjukkan tempat air yang digunakan untuk pengairan tanaman melon. Foto: Kartika Wulandari.
- Ads Banner -

Baca juga: Ganjar Takjub Inovasi Petani Muda Asal Kudus, Tanam Melon Tanpa Pestisida

“Dulu awalnya ya dari pertanian konvensional dulu, ya tanam cabai, tomat, melon. Tapi kalau di lahan itu masalahnya banyak sekali. Misal tanaman melon, itu kalau pas musim hujan pasti ancur semua, sedangkan pertanian Indonesia siklus supalinya cuma ada di satu musim, yaitu kemarau. Jadi kalau kemarau pasti semua panen sukses, harga hancur. Terus kalau hujan gagal panen, harganya naik, nah itu siklusnya seperti itu terus jadi lingkaran setan,” katanya.

“Nah jadi ya solusinya harus pakai teknologi, gimana caranya kita bisa menanam terus, dan bisa panen di setiap musim. Akhirnya dengan pengalaman sebelumnya, kita coba pakai teknologi dan kita buka greenhouse di Kudus. Jadi untuk yang di Semarang baru tahun lalu didirikan,”tambahnya.

Arvin melanjutkan, untuk penanaman yang ia terapkan kali ini menggunakan sistem dutch bucket, sehingga penanamanya tidak menggunaan tanah, tetapi menggunakan hidroponik dengan pengairan air jenis RO.

“Di sini kita menggunakan sistem dutch bucket, jadi satu tanaman itu satu ember, dan kita airi 24 jam. Airnya pakai RO, air yang biasa kita konsumsi. Sedangkan pupuk kita buat sendiri, ada 8 jenis pupuk, dari pupuk itu terbuat dari 16 unsur yang kita jadiin satu,” jelasnya.

“Kita juga menggunakan mesin untuk memantau semua tanaman. Jadi kita set progam di sini, mau irigasi airnya jam berapa, rasio pupuknya seperti apa, semua bisa dilihat dari mesin ini,” tambahnya.

Sedangkan untuk bangunan greenhouse, ia menggunakan desain tropical greenhouse. Sehingga desain bangunannya terbuka, jadi udara panas bisa terbuang dari ventilasi yang di atas.

“Kita menerapkan teknologi semua ini juga otodidak, karena saya juga bukan dari jurusan pertanian melainkan jurusan ekonomi di Unika. Jadi semua ini ya dari hasil baca-baca artikel dari Amerika, Israel, Vietnam dan banyak lagi,” akunya.

Adapun kelebihan yang diterapkan dengan teknologi ini, yaitu keberhasilan panen hampir 100 persen, sehingga perusahaan bisa suplay setiap saat dan panenya konsisten.

Selain itu, dalam segi kualitas dan rasa, ia mengaku lebih bergizi dan mempunyai teksture dan rasa yang lebih manis.

“Buah melon yang kita tanam ada dua yaitu melon honey white dan melon hamigua. Untuk kadar manisnya kita ada di angka di atas 13, kalau di bawah itu termasuk gagal,” ujarnya.

“Untuk luas tanah 1,7 hektare, total green housenya ada 4 dan total tanamannya ada 24 ribu tanaman. Dan untuk masa panenya kita melakukan panen 8 hari sekali, sekali panen bisa menghasilkan 7 ton, ” tambahnya.

Karena menggunakan teknologi dan rasa yang premium, harga satu kilo untuk melon yang ia tanam pun cukup tinggi. Untuk melon honey white mempunyai harga Rp 45 per kilogram, sedangkan hamigua Rp 39 ribu per kilogram.

Baca juga : Cerita Sukses Deni dari Selada Hidroponik, Awalnya Nekat Utang Rp 900 Juta

“Ke depanya kita akan fokus menanam honey white, jadi itu produk eklusif. Hanya kita yang punya. Untuk perbedaan rasa, sebenarnya dua-duanya sama-sama manis, cuma beda teksture. Kalau honey white lebih juicy sedangkan hamigua lebih crunchy,” tambahnya.

Kemudian untuk penjualannya, Arvin mengaku masih menyuplai di tiga tempat yaitu Jakarta, Bali, dan Surabaya.

“Untuk suplai paling tinggi 3 kota, yaitu Jakarta, Bali, dan Surabaya. Kalau Semarang masih beberapa toko saja,” katanya.

Editor: Kholistiono

LIPSUS 15 - Ketoprak Pati Pantang Mati

LIPUTAN KHUSUS

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

33,301FansSuka
15,628PengikutMengikuti
4,336PengikutMengikuti
97,028PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler