BETANEWS.ID, KUDUS – Setelah puluhan tahun mendapat julukan Kota Kretek tapi bahan bakunya ambil dari daerah lain, kini mulai muncul petani tembakau di Kabupaten Kudus. Keengganan menanam tanaman berdaun lebar itu karena dianggap cuaca dan tanahnya tak cocok.
Lewat kelompok tani (Poktan) Mbangun Harjo, Desa Menawan, Kecamatan Gebog lah, Kudus mulai mencoba menjadi daerah penghasil tembakau. Jika berhasil, mereka diperkirakan bisa meraup keuntunggan hingga mencapai ratusan juta rupiah.

Koordinator Poktan Mbangun Harjo, Suhardi, mengaku memang belum dikasih tahu harga jual daun tembakau secara pasti oleh Dinas Pertanian dan Pangan (Diapertan) Kudus. Pihaknya hanya ditawari untuk menanam tembakau dan nanti ketika panen akan dicarikan pembeli.
Baca juga: Cukai Rokok Naik Terus, Anak Petani Tembakau Ini Mengeluh Tak Kunjung Ikut Sejahtera
“Karena kami memang petani dan diberi kepastian ada yang membeli ketika panen, kami pun bersedia untuk menanam tembakau. Apalagi kami, kan, warga Kudus yang notabene di Kudus banyak perusahaan rokok,” ujar Suhardi, belum lama ini.
Meski begitu, lanjut Suhardi, pihaknya tetap mencari informasi ke teman-teman petani terkait pasaran harga daun tembakau basah. Dari observasi itu, harga daun tembakau basah berkisar antara Rp6 ribu sampai Rp7 ribu per kilogram.
“Kami menanam tembakau kurang lebih 26 ribu bibit di lahan seluas dua hektare atau 13 ribu bibit per hektarenya. Saat panen, perkiraan kami per bibit bisa menghasilkan kurang lebih empat kilogram daun tembakau basah,” bebernya.
Untuk keseluruhan hasil panen, kata dia, tinggal mengkalikan saja. 4 kilogram dikali 26 ribu pohon tembakau, hasilnya kurang lebih 104 ton untuk dua hektar atau 52 ton per hektarnya.
Baca juga: Pemkab Kudus Akan Beri Pelatihan Petani dan Peternak Pakai Dana Cukai
Kemudian jumlah panen dikali dengan harga pasaran daun tembakau basah yakni Rp7 ribu per kilogram. Hasilnya kurang lebih Rp728 juta untuk luasan dua hektare atau Rp364 juta per hektare dengan masa tanam kurang lebih tiga sampai empat bulan.
“Kami sebelumnya adalah petani palawija. Untuk hasil saya kira lebih menggiurkan tembakau. Oleh karena itu kami berharap bisa berhasil menanam tembakau ini hingga panen. Sehingga nanti para petani lain juga bersedia menanam tembakau di Kota Kretek,” harapnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

