BETANEWS.ID, KUDUS – Acara Talkshow yang digelar di Gedung SBSN lantai 2 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus, Kamis (30/5/2024), tampak semakin menarik ketika seorang anak petani tembakau ikut bersuara. Perempuan asal Kecamatan Purwodadi, Grobogan itu, mempertanyakan kenaikan cukai rokok yang tidak berdampak pada kesejahteraan petani tembakau.
Saat ditemui usai acara, perempuan bernama Siti Zuwaroh (19) itu berbagi kesan kepada Betanews.id tentang acara yang diselenggarakan Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) IAIN Kudus itu. Ia mengaku sudah mendapat jawaban atas pertanyaan tersebut.
Baca Juga: Tinjau Proyek Kolam Retensi, Masan: ‘InsyaAllah Banjir di Jati Akan Terselesaikan’
“Awalnya kan saya bertanya-tanya kenapa harga rokok naik tapi petani tidak ikut sejahtera. Ternyata banyak faktor yang mempengaruhi harga tembakau,” ungkap mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis Syariah (MBS) itu.
Ia menjelaskan, bahwa harga tmebakau menyesuaikan kualitas tembakaunya. Karena tembakau sangat sensitif terhadap cuaca, sehingga saat cuaca tidak bagus harganya juga ikut turun.
“Mulai dari perawatan, proses memperlakukan tembakau setelah panen juga pengaruh harga ternyata. Selain itu juga menyesuaikan kebutuhan pabrik juga, sehingga mempengaruhi harga,” katanya sambil tersenyum.
Perempuan yang akrab disapa Zuwa itu juga baru sadar, bahwa korelasi harga cukai dan tembakau tidak berkaitan. Karena kenaikan cukai merupakan kewajiban mengikuti aturan pemerintah. Dan tujuannya untuk pengendalian peredaran rokok.
“Ternyata 60 persen dari harga jual rokok itu untuk negara. Pabrik hanya kebagian 40 persen saja. Itu saja masih kepotong modal produksi dan membayar karyawan juga,” bebernya.
Meski sudah mengetahui alsannya, Zuwa berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan kondisi petani agar lebih sejahtera. Menurutnya, masih banyak petani tembakau di desanya yang masih belum sejahterah.
“Harga kan kadang naik, kadang turun, padahal mau tidak mau industri rokok butuh petani tembakau. Kalau cukai rokok sangat besar yang masuk ke negara, tolong petaninya juga diperhatikan agar ikut sejahtera,” ucapnya.
Sementara itu, Zuvan Dwi Budiharso (22), selaku Ketua Dema IAIN Kudus menambhakan, bahwa pihaknya berharap melalui kegiatan tersebut dapat menambah pengetahuan mahasiswa. Menurutnya, literasi tentang kretek sangatlah penting. Selain sudah menjadi budaya, rokok juga memberi sumbangsih besar bagi negara.
“Sumbangsih rokok kan besar bagi negara ini. Jadi mahasiswa harus tahu, sebenarnya apa yang terjadi pada regulasinya, kondisi industrinya dan lain-lain. Alhamdulillah tadi banyak informasi baru bagi kami,” jelas warga Desa Berugenjang, Undaan, Kudus itu.
Baca Juga: Ingin Pasar Tradisional Bersih dan Nyaman, Masan Minta Percepatan Revitalisasi
Ditambah lagi, dirinya masih sering melihat rokok ilegal yang beredar. Maka dari itu, mahasiswa butuh mendapat edukasi agar tidak mengkonsumsi rokok tersebut.
“Saya masih sering lihat kok yang jual rokok ilegal. Harapannya mahasiswa bisa memahami dan tidak ikut mengkonsumsi rokok ilegal,” imbuhnya.
Editor: Haikal Rosyada

