BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria mengenakan topi tampak berada di antara ribuan tanaman timun yang menjalar pada trajak bambu. Dia terlihat menyibak tanaman hijau tersebut dan memetik buah timun satu-persatu dan dimasukkan ke dalam ember. Setelah penuh, timun-timun tersebut dimasukkan ke dalam karung khusus. Pria tersebut yakni Pratin Mujiono (35) seorang petani timun.
Di sela-sela memanen, warga Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus tersebut mengatakan, menanam timun dengan luas sekitar satu hektare. Tanaman timunnya kini sudah memasuki masa panen, bahkan sudah selama dua pekan berturut-turut, buah yang biasa dijadikan lalapan itu ia panen.
Baca juga : Jenuh dengan Rutinitas Bengkel, Muji Pilih Jadi Petani: ‘Lebih Santai dan Menguntungkan’
“Proses pemanenan timun itu biasanya selesai selama sebulan, bahkan lebih. Jadi butuh waktu dua pekan lagi untuk menyelesaikannya. Sedangkan untuk harga, saat ini harga timun lagi bagus,” ujar pria yang akrab disapa Muji kepada Betanews.id beberapa hari yang lalu.
Muji mengatakan, harga timun saat ini lagi bagus, antara Rp 2.500 sampai Rp 3 ribu per kilogram. Dengan harga tersebut, petani sudah dapat untung. Apalagi jika naik jadi Rp 4 ribu per kilogramnya, dia bisa makin untung lagi. Dia pun kemudian menghitung karung di pematang sawah bagian tengah yang berisi timun hasil panennya. Beberapa ada yang sudah diikat atasnya, menandakan sudah penuh.
“Masih kurang, belum dapat 35 karung. Tanaman timun saya ini luasnya sekitar sayu hektar. Setiap harinya saya panen 35 karung. Setiap karungnya bobotnya antara 35 sampai 40 kilogram. Jadi setiap harinya saya itu bisa memanen timun sekitar 1,2 ton,” ungkapnya.
Terlihat ada pekerjanya datang membawa satu ember timun. Kemudian pekerja tersebut memasukan timun yang dibawanya ke dalam karung. Namun, timun yang akan dimasukkan tersebut disortirnya. Timun berukuran besar justru dibuang ke tanah dan berserakan di samping karung berisi timun berukuran kecil.
“Jenis timun yang saya tanam ini adalah timun jenis baby. Biasanya untuk lalapan, sehingga yang laku itu malah yang ukurannya kecil. Kalau yang besar gak laku,” tandas pria yang sudah dikaruniai dua anak tersebut.
Untuk penjualan hasil panen yang melimpah tersebut, Muji tidak khawatir. Sebab setiap sorenya ada tengkulak yang sudah jadi langganan datang untuk membeli. Dia mengaku, memilih menanam timun karena satu di antaranya pemasarannya gampang, serta masa tanam hingga ke panen itu waktunya singkat.
“Saya memilih menanam timun itu karena bisa cepat panen. Waktu tanam hingga panen hanya butuh waktu sekitar sebulan, setelah itu panen terus selama sebulan lagi. Jadi perputaran uangnya cepat dan tidak bikin kantong jebol,” jelasnya.
Sedangkan untuk perawatannya, lanjut Muji, menanam timun relatif lebih santai bila dibanding dengan menanam melon atau bawang merah. Menurutnya, jika tanaman timun penyemprotannya sekitar sepekan dua kali. Lebih sedikit dibanding tanaman melon dan bawang merah yang butuh penyemprotan dua hari sekali.
Dia mengaku hafal perbandingan itu, karena ia menanam tiga komoditas tersebut. Menurutnya, dalam satu tahun, lahan yang ia sewa tersebut di tanami tiga komoditas itu secara bergantian, sembari melihat kondisi musim dan harga pasar. Sehingga tanamannya mudah dirawat tidak mengalami gagal panen, serta sewaktu panen harganya tidak anjlok.
Baca juga :Â Kisah Pasangan Muda yang Pilih Jadi Petani Milenial, Kembangkan Sayuran Hidroponik
Ia menanam timun di musim awal datangnya hujan atau labuhan. Menurutnya, tanaman timun tidak butuh air tapi juga tidak bagus bila kekurangan air. Sedangkan ia memilih menanam melon, saat jelan Bulan Ramadan. Sebab saat Bulan Ramadan, harga buah-buahan termasuk melon itu bagus. Sedangkan di antara dua komoditas tersebut, ia juga menanam bawang merah.
“Sama dengan pekerjaan lainnya, jadi petani juga harus cerdas, jangan ngawur. Tetap harus memperhatikan musim dan harga jual saat panen. Sehingga perawatan tanaman lebih mudah karena didukung oleh musim, saat panen juga dapat harga jual terbaik,” ujar Muji.
Editor : Kholistiono

