31 C
Kudus
Kamis, Februari 12, 2026

Jenuh dengan Rutinitas Bengkel, Muji Pilih Jadi Petani: ‘Lebih Santai dan Menguntungkan’

BETANEWS.ID, KUDUS – Di tepi Jalan Kiai Mojo, Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota Kabupaten Kudus tampak area persawahan. Sawah yang berdampingan dengan SMK Bhakti tersebut terlihat dipenuhi tanaman timun. Beberapa orang terlihat sedang memanen buah yang akrab dijadikan lalapan tersebut. Satu di antaranya yakni Pratin Mujiono (35) yang mantab memilih jadi petani ketimbang kerja di bengkel mobil.

Di sela aktivitasnya memanen, pria yang akrab disapa Muji tersebut sudi berbagi kisah hidupnya selama jadi petani. Dia mengatakan, menekuni pekerjaan jadi petani sejak lima tahun yang lalu. Sebelumnya, ia mengaku kerja di bengkel mobil. Namun, karena jenuh dengan rutinitas di bengkel tersebut, Muji memutuskan untuk jadi petani.

“Sebelumnya saya kerja di bengkel mobil. Setiap hari kerja dari pagi sampai sore, lama kelamaan kok jadi jenuh dengan rutinitas tersebut. Karena jenuh itulah aku memutuskan untuk jadi petani,” ujar Muji kepada Betanews.id, beberapa hari lalu.

-Advertisement-

Baca juga : Kisah Pasangan Muda yang Pilih Jadi Petani Milenial, Kembangkan Sayuran Hidroponik

Menurutnya, jadi petani itu lebih santai. Bisa tidur sewaktu-waktu, serta bisa main ke mana saja tak terkekang sama kerjaan. Yang terpenting kata dia, di sawah ada pekerja yang merawat tanamannya. Jadi bisa dianggap seperti seperti pengusaha.

“Enaknya jadi petani itu lebih santai. Ingin tidur bisa sewaktu-waktu, mau main ya bisa tidak ada yang memarahi. Yang penting kan ada pekerja di sawah yang merawat tanaman. Pokoknya lebih santailah, tapi hasilnya gak kalah,” beber ayah dua anak tersebut.

Pria yang tercatat sebagai warga Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus itu menuturkan, pekerjaan petani yang ditekuninya tersebut diakuinya tidak terlepas dari peran orang tuanya. Sebab ia memang terlahir dari keluarga petani.

“Orang tuaku dulu juga petani, tapi lebih ke tani padi dan jagung. Dulu aku sering bantuin ke sawah. Mungkin dari itu ya saya jadi suka dunia pertanian,” ungkapnya.

Dia mengatakan, awal terjun di pertanian juga menanam padi dan jagung seperti orang tuanya. Namun, dua komoditas tersebut hasilnya kurang memuaskan. Harga turun setiap panen, sedangkan biaya tanam, perawatan, dan pupuk mahal. Selain itu masa panen lama sampai empat bulan.

“Dulu saya juga nanam padi dan jagung tapi gak ada uangnya. Masa panennya lama, giliran panen harganya turun, petani gak dapat apa-apa,” katanya.

Karena itulah, ungkapnya, ia kemudian melirik komoditas yang lebih ada hasilnya, serta masa panennya yang lebih cepat. Di antaranya, melon, bawang merah serta tanaman yang ditanamnya saat ini yakni timun. Menurutnya, dalam menanam tiga komoditas tersebut tetap dibutuhkan kejelian dan musim.

“Jadi tidak boleh serampangan asal tanam. Misal saat ini saya tanam timun, pertimbangannya karena ini awal musim hujan, biasanya harga timun itu bagus. Jika tidak mempertimbangkan musim, hasilnya jadi jelek dan harga panennya juga bisa jeblok,” ungkapnya.

Saat ini ia mempunyai tanaman timun seluas satu hektare. Lahan tersebut merupakan aset Pemerintah Kabupaten Kudus yang dulunya tanah bengkok desa yang ia sewa. Timun yang ditanamnya sudah memasuki masa panen.

“Ini sudah 12 kali saya memanen timun yang saya tanam. Setiap harinya saya bisa memanen sekitar 1,2 ton. Untuk harga timun saat ini antara Rp 2.500 sampai Rp 3 ribu per kilogram,” kata dia.

Baca juga : Suwondo Belasan Tahun Jadi Petani Melon, Tak Kapok Meski Pernah Rugi Ratusan Juta

Jika dirata-rata setiap harinya bisa memanen sekitar satu ton timun dan dikalikan harga Rp 2.500, maka Muji bisa mengantongi uang Rp 2,5 juta. Sedangkan panen timun tersebut berlangsung selama sebulan. Berarti Rp 2,5 juta dikalikan 30 hari hasilnya sekitar Rp 75 juta sebulan.

Melihat hasil yang didapat tersebut, ia mengajak para generasi muda untuk terjun di dunia pertanian. Sebab, sebenarnya jadi petani itu mirip pengusaha, tidak ada yang memerintah karena milik sendiri. Lebih santai dan hasilnya pun menggiurkan, dibanding kerja ikut orang lain.

“Harapannya semoga generasi muda tidak memandang sebelah mata dunia pertanian. Sebab sebenarnya, hasil di dunia pertanian itu lebih menjanjikan,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER