31 C
Kudus
Rabu, Juni 29, 2022
spot_img
BerandaKUDUSMelihat Prosesi Tradisi...

Melihat Prosesi Tradisi Ampyang Maulid di Loram Kulon di Masa Pandemi

BETANEWS.ID, KUDUS – Dua gunungan yang berisi jajanan, buah-buahan dan kerupuk (ampyang) serta seratus nasi kepal digotong dari Balai Desa Loram Kulon menujuk Masjid Wali At Taqwa yang jaraknya 100 meter. Puluhan orang tampak mengiringi dua gunungan tersebut.

Setelah sampai, dua gunungan tersebut kemudian diletakkan di serambi masjid. Kemudian, panitia dan peserta melanjutkan acara doa bersama dan makan bersama.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari tradisi Ampyang Maulid yang sudah rutin digelar di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Tradisi tersebut untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Tradisi Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kudus. Foto: Kartika Wulandari.
- Ads Banner -

Baca juga : Digelar Sejak Penjajahan Belanda, Ini Makna Nasi Kepal Ampyang Maulid

Karena masih dalam kondisi pandemi, tradisi Ampyang Maulid digelar secara sederhana. Hal ini sama dengan tahun 2020 lalu, yang juga digelar tanpa adanya kirab.

“Kemarin kami sudah koordinasi untuk tetap melakukan tradisi ini secara sederhana. Jadi, selama pandemi dari tahun 2020 dan tahun ini kita menyelenggarakan Ampyang Maulid ini dengan sederhana,” kata Kepala Desa Loram Kulon, Muhammad Safii, Selasa (19/10/21).

Lalu untuk rangkaian kegiatan tradisi Ampyang Maulid, lanjut Safi, sudah dilakukan mulai Selasa pagi dengan acara Loram Berselawat, kemudian baru siangnya digelar tradisi iring-iringan.

“Kegiatannya sudah dimulai sejak pagi, yaitu kegiatan Loram Berselawat, terus baru siangnya iring-iringan dengan menyediakan dua gunungan,” ucapnya.

Safii menuturkan, sebelum adanya pandemi, biasanya ada ribuan nasi kepel dan puluhan gunungan yang dikirab saat acara Ampyang Maulid.

“Sebelum pandemi, kita menggelar kegiatan dengan sangat meriah.Tahun sebelumnya ada kirab yang kerja sama Pemdes Loram Wetan, kita iring-iringan dari Loram Wetan ke Loram Kulon. Saat kirab, kami bisa menyediakan seribu kepel,” jelas dia.

Sementara itu, Juru Pelihara Masjid Wali Loram Kulon Afroh Amanudin menjelaskan, tradisi Ampyang Maulid adalah acara untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Menurutnya, tradisi ini adalah bentuk ekpresi warga Loram Kulon menyambut hari kelahiran Rasulullah.

“Ampyang Maulid itu suatu tradisi untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sehingga tradisi ini juga sebagai bentuk ekspresi warga Loram Kulon untuk menyambut adanya hari Maulid,” jelas Afroh.

Baca juga : Melestarikan Tradisi Ampyang Maulid di Masa Pandemi

Ia mengatakan, tradisi ini sudah dilakukan secara turun temurun. Afroh menjelaskan, kata Ampyang berasal dari sebutan kerupuk yang diartikan menjadi Ampyang oleh masyarakat Desa Loram Kulon. Sehingga Ampyang itu dari nama kerupuk yang diikatkan di gunugan, yang menjadi ciri khas.

“Tradisi ini sudah dilakukan pada zaman Sultan Hadirin sekitar tahun 1560 an. Itu dilihat dari gapura yang didirikan pada 1596, masjid 1497. Berarti setelah itu,” ucap Afroh.

Editor : Kholistiono

Lipsus 14 - Penerapan Teknologi Bambu untuk Tanggul Laut Tol Semarang Demak

Tinggalkan Balasan

31,944FansSuka
15,127PengikutMengikuti
4,332PengikutMengikuti
80,005PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler