31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaBudayaDigelar Sejak Penjajahan...

Digelar Sejak Penjajahan Belanda, Ini Makna Nasi Kepal Ampyang Maulid

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan orang tampak khidmat mengikuti acara doa bersama yang digelar di Masjid Wali Loram Kulon, Kamis (29/10/2020). Di tengah-tengah mereka, tampak gunungan berisi nasi kepal yang ditata sedemikian rupa bersisian dengan buah-buahan, kerupuk, dan beberapa makanan lain. Setelah acara berakhir, beberapa orang pria langsung membagikan nasi-nasi tersebut kepada warga yang datang. Salah satu dari pria tersebut adalah Afroh Amanuddin, pengurus masjid tersebut.

Selepas acara, Afroh menjelaskan kepada betanews.id tentang sejarah Ampyang Maulid tersebut. Dia mengatakan, trasidi Ampyang Maulid sudah dilaksanakan secara rutin sejak puluhan tahun lalu. Dulu saat masih dalam masa penjajahan Belanda, nama tradisi tersebut adalah ancakan. Namun, saat diadakan kembali pada 1996, banyak masyarakat menghias tandu-tandu dengan kerupuk.

Pembacaan Maulid Diba’ Nabi Muhammad SAW dalam tradisi Ampyang Maulid di Masjid Wali Loram Kulon, Kamis (29/10/2020). Foto: Ahmad Rosyidi.

“Nah kebetulan bagi masyarakat itu dinamakan ampyang. Kemudian pada Tahun 2010 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus mengubah nama menjadi Ampyang Maulid,” kata Pengurus Masjid At Taqwa yang biasa disebut Masjid Wali Loram Kulon itu.

- Ads Banner -

Baca juga: Melestarikan Tradisi Ampyang Maulid di Masa Pandemi 

Pemberian nama Ampyang Maulid ini dikarenakan kerupuk ampyang dijadikan sarana untuk memperingati Maulid Nabi, sehingga menjadi Ampyang Maulid.

Afroh melanjutakan, jika gunungan tersebut terdapat makna sendiri. Yaitu berawal dari tradisi masyarakat yang memiliki hajat, yang berdoa di masjid dengan membawa nasi kepal beserta kerupuk sejumlah tujuh buah.

“Nasi kepal ini awalnya sebagai tradisi masyarakat yang memiliki hajat. Kemudian berdoa di masjid dengan memberikan sejumlah tujuh bungkus nasi kepal. Tujuh itu memiliki filsafat Jawa, yaitu pituduh atau pinulung. Dengan memberikan sedekah di masjid semoga mendapatkan pertolongan, petunjuk yang baik,” tuntasnya.

Baca juga: Melihat Tradisi Wiwit Kopi di Lereng Pegunungan Muria di Masa Pandemi

Di sisi lain, Kepala Desa Loram Kulon, Muhammad Safi’i mengatakan, tradisi Ampyang Maulid tahun ini digelar berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ada belasan gunungan yang dikirab warga, tetapi tahun ini hanya ada satu gunungan saja.

“Ada yang berbeda kirab tahun ini, karena ada satu gunungan yang dikirab. Padahal biasanya yang dikirab ada 10 gunungan. Ini karena masih dalam masa pandemi Covid-19,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler