31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaBudayaMelestarikan Tradisi Ampyang...

Melestarikan Tradisi Ampyang Maulid di Masa Pandemi

BETANEWS.ID, KUDUS – Puluhan warga dengan dominasi baju putih tampak berjalan pelan menuju Masjid Wali Loram Kulon, Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Kamis (29/10/2020). Mereka mengiringi empat orang yang memikul satu gunungan yang berada di tengah arak-arakan. Sesampainya di masjid, para pria yang memikul tandu kemudian menaruh gunungan itu di tengah-tengah warga yang sudah menunggu untuk didoakan. Kirab secara sederhana tersebut adalah tradisi Ampyang Maulid untuk memperingati maulid atau hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Kepala Desa Loram Kulon, Muhammad Safi’i mengatakan, tradisi Ampyang Maulid tahun ini digelar berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya ada belasan gunungan yang dikirab warga, tetapi tahun ini hanya ada satu gunungan saja.

Puluhan warga mengelilingi gunungan dalam tradisi ampyang maulid di Masjid Wali Loram Kulon, Kamis (29/10/2020). FOto: Ahmad Rosyidi.

“Ada yang berbeda kirab tahun ini, karena ada satu gunungan yang dikirab. Padahal biasanya yang dikirab ada 10 gunungan. Ini karena masih dalam masa pandemi Covid-19,” katanya kepada betanews.id.

- Ads Banner -

Baca juga: Belum Ada Sumber Sejarah Wafatnya Sunan Kudus, Tradisi Buka Luwur Tak Dinamai Haul

Safi’i menjelaskan, acara kirab gunungan dimulai dari Balai Desa Loram Kulon menuju Masjid At Taqwa atau yang akrab disebut Masjid Wali Loram Kulon. Gunungan yang dikirab tersebut berisi sejumlah makanan, seperti nasi kepel Ampyang Maulid, lauk, hingga buah-buahan.

Setelah sampai di Masjid Wali Loram Kulon, gunungan tersebut diletakkan di tengah-tengah warga yang hadir pada tradisi itu. Ratusan warga yang hadir di sana juga selalu diimbau untuk selalu menjalankan protokol kesehatan, seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak.

Setelah doa bersama, gunungan yang dihiasi sejumlah makanan itu dibagikan kepada warga yang hadir. Meski tidak semeriah biasanya, pihaknya tetap menggelar acara tersebut demi menjaga tradisi yang ada.

“Meski sederhana, yang terpenting kita tetap memperingati hari besar kelahiran Nabi Muhammad SAW. Selain itu juga melestarikan budaya di Loram Kulon yang akan terus kami jaga,” tandas Safi’i.

Baca juga: Melihat Tradisi Buka Luwur Eyang Dempok Soponyono Kaliputu di Masa Pandemi

Salah satu warga penerima nasi kepal, Denis Sofiati mengaku senang dengan tetap diperingatinya trasdisi Ampyang Maulid ini, meski digelar sederhana. Apalagi, tradisi ini sudah berjalan turun temurun, sehingga perlu tetap dilaksanakan walaupun di tengah pandemi.

Perempuan yang akrab disapa Denis itu juga mengaku lebih nyaman dengan acara sederhana tersebut, karena tidak ada rebutan nasi.

“Ini dibagi satu-satu, biasanya kan rebutan. Jadi lebih bagus dari pada kroyokan seperti biasanya. Nanti nasi ini saya bawa pulang. Saya makan dengan keluarga,” tutup Denis.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler