31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaBudayaMelihat Tradisi Buka...

Melihat Tradisi Buka Luwur Eyang Dempok Soponyono Kaliputu di Masa Pandemi

BETANEWS.ID, KUDUS – Iring-iringan kuda putih dan sebuah delman terlihat berjalan pelan dari Jalan Sosrokartono. Dengan diikuti beberapa orang dibelakangnya, mereka ternyata hendak menuju rumah Kepala Desa Kaliputu, Soeyadi. Sesampainya di sana, mereka kemudian membawa Soeyadi dan istri ke Gang 2, RT 01 RW 02 Desa Kaliputu, Kecamatan Kota Kudus.

Rupanya, kirab secara sederhana itu hendak menuju pesarean Eyang Dempok Soponyono sebagai rangkaian prosesi bukak luwur di makam tersebut. Beberapa hal yang ditampilkan dalam kirab itu seperti barongan, rombongan rebana dan pembawa obor, terus juga ada dua orang Duta Wisata Kudus, dan tentunya kain penutup cungkup Pesarean Eyang Dempok Soponyono.

Acara kirab sebagai bagian dari tradisi Buka Luwur Eyang Dempok Soponyono Kaliputu yang dilaksanakan setiap 15 Suro. Titis Widjayanti.

Ketua Panitia Bukak Luwur Muslikhan mengatakan, setiap 15 Suro (Muharram) di Desa Kaliputu ada acara tradisi buka luwur Eyang Dempok Soponyono. Karena ada pandemi, acara yang biasanya dilaksanakan secara meriah diganti dengan penuh kesederhanaan.

- Ads Banner -

Baca juga: 26.074 Bungkus Nasi Jangkrik Khas Menara Dibagi ke Seluruh Kecamatan di Kudus

“Sebenarnya malam ini cuma seremonial saja. Kalau buka luwurnya sudah kemarin malam. Membersihkan, terus mengganti renda dan sebagainya. Makanya malam ini cuma ganti cungkup saja,” paparnya, Selasa (1/9/2020).

Dia melanjutkan, rangkaian acara yang dilaksanakan mulai dari penyerahan cungkup dari Kepala Desa kepada sesepuh Desa Kaliputu dan dilanjutkan dengan pembagian santunan kepada 17 anak yatim piatu. Setelah itu ada pembecaan doa serta selawat yang dihadiri cukup banyak warga. Acara selanjutnya adalah penggantian cungkup makam dan diakhiri dengan pemotongan tumpeng dan makan bersama.

“Ini yang ke 10 kali. Sebenarnya setiap tahun, tepat di malam 15 Muharram pasti ada kirab semacam ini. Untuk menghormati dan mendoakan Eyang Dempok. Tujuannya supaya kami warga Kaliputu selalu dilindungi dan diberikan kesehatan, serta kelancaran rejeki,” beber dia.

Baca juga: Tak Ada Kirab Budaya, Tradisi Tebokan Jenang Terlaksana Secara Sederhana

Meski dilaksankan sederhana, Muslikhan tidak menyangka jika tetap disambut cukup meriah oleh warga. Karena sejak persiapan dua minggu sebelumnya, para panitia sepakat untuk mengurangi adanya kerumunan warga, mengingat masih dalam kondisi pandemi.

“Secara konsep, kami sepakat tahun ini benar-benar sederhana. Tapi antusias warga ternyata tetap besar. Seperti rombongan barongan tadi, itu inisiatif warga sendiri,” tukas dia.

Editor: Ahmad Muhlisin

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler