Patuhi Nasihat Orang Tuanya, 20 Tahun Sukoyo Jadi Pembajak Sawah Gunakan Sapi

BETANEWS.ID, KUDUS – Siang itu Sukoyo (54) tampak duduk di pedati, raut wajah lelah tampak menghiasi. Ia beristirahat dengan menyandarkan punggungnya ke dinding pedati, setelah membajak sawah petani tebu menggunakan bajak tradisional yang ditarik dua ekor sapi. Ia beristirahat, setelah proses membajak sawah digantikan oleh kakaknya.

Pria warga Dukuh Kemang, RT 4 RW 5 Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus itu menuturkan, sudah menekuni jadi pembajak sawah menggunakan alat tradisional yang ditarik dua ekor sapi selama 20 tahun. Pekerjaan itu merupakan warisan dari sang ayah.

Baca juga : Bajak Sawah dengan Tenaga Sapi Masih Tetap Eksis di Kudus

-Advertisement-

“Bisa dibilang kerjaan ini warisan dari orang tuaku. Sebab dulu ayahku itu juga pembajak sawah menggunakan alat tradisional yang ditarik menggunakan sapi. Ayahku juga berpesan kepada anak-anaknya termasuk saya untuk ternak sapi, dan sapinya nanti bisa digunakan untuk kerja bajak sawah para petani,” ujar Sukoyo kepada Betanews.id, Sabtu (21/8/2021).

Sukoyo menuturkan, mendapatkan nasihat seperti itu dari ayahnya, ia dan saudaranya yang pria pun mematuhinya. Sampai saat ini, ia dan dua saudaranya memang ternak sapi dan digunakan untuk jasa bajak sawah para petani.

“Saya itu enam bersaudara, tiga pria dan tiga perempuan. Yang pria sampai sekarang memelihara sapi, dan dimanfaatkan untuk membajak sawah para petani. Saya sendiri punya tiga ekor sapi,” ujar kakek satu cucu tersebut.

Sukoyo pun melepas capingnya dan digunakan untuk mengipasi wajahnya. Hal itu dilakukan biar wajahnya terasa adem di tengah sengat sinar Matahari. Kemudian ia pun melanjutkan memberi penjelasan.

Dia menuturkan, membajak sawah menggunakan sapi bisa dibilang kerjaan musiman. Sebab, jasanya akan banyak digunakan para petani tebu saat memasuki Bulan Agustus sampai Oktober.

“Bisa dibilang tiga bulan itu panen bagi saya. Sebab pada bulan itu, saya bisa kebanjiran orderan membajak sawah lahan tebu,” ungkapnya.

Menurutnya, Bulan Agustus banyak tebu para petani yang sudah dipanen dan tunasnya mulai bertumbuhan. Sehingga untuk menyuburkan tanahnya diperlukan pembajakan. Karena tunasnya sudah tumbuh, sehingga pembajakan tidak bisa menggunakan mesin modern.

“Kalau menggunakan mesin traktor, malah akan merusak tunas tebu. Sehingga petani lebih memilih menggunakan jasa bajak tradisional yang ditarik oleh sapi,” jelasnya.

Biasanya, lanjut Sukoyo, pengerjaan pembajakan lahan tebu itu dikerjakan setengah hari, pagi sampai siang. Hal itu bukan karena sapinya tidak kuat digunakan bajak sawah seharian penuh. Sebab, sore harinya digunakan untuk mencari rumput sebagai pakan sapinya.

“Sore itu waktu untuk cari pakan sapi, biar sapi tidak kelaparan. Kalau sudah ada setok pakan, saya pun berani membajak sawah seharian penuh,” bebernya.

Menurutnya, dalam waktu setengah hari, ia bisa membajak sawah dua sampai tiga kotak. Satu kotak luasnya sekitar 1400 meter persegi. Sedangkan ongkos yang diterimanya mulai Rp 180 ribu sampai Rp 200 ribu per kotak.

“Upah tersebut kita masih dapat makan dan minum. Dalam sebulan kami bisa membajak sawah sekitar 60 sampai 90 kotak,” ujarnya.

Dia mengatakan, setelah tiga bulan tersebut order bajak sawah akan berkurang, bahkan tidak ada sama sekali. Kemudian Ia pun akan menernak sapi miliknya seperti biasa.

“Ya kalau tidak ada order bajak sawah, sapi saya pelihara seperti biasa. Sapi saya kan tiga, satu jantan dan dua betina. Kalau lagi mujur setiap tahunnya sapi ku itu bisa beranak,” ungkapnya.

Baca juga : Kisah Bagus, Jadi Operator Traktor Sejak Kelas Tiga SMP Demi Bantu Orang Tua

Selain itu, kata dia, kalau tidak ada orderan ia pun akan kerja apa saja untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Terkadang ikut nyangkul di sawah, terkadang juga jadi buruh bangunan. Ia pun mengaku, bahwa kerjaannya itu tidak akan diwariskan kepada anaknya.

“Kayaknya anak saya tidak saya suruh untuk melanjutkan kerjaan saya ini. Saya punya dua anak dan semuanya tidak ada yang suka bertani, apalagi bajak sawah tradisional,” ujarnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER