31 C
Kudus
Selasa, Juni 25, 2024

Bajak Sawah dengan Tenaga Sapi Masih Tetap Eksis di Kudus

BETANEWS.ID, KUDUS – Di area persawahan Desa Dersalam, tepatnya di belakang Perumahan Salam Residence, Kecamatan Bae, Kudus, tampak seorang pria paruh baya sedang membajak sawah menggunakan alat tradisional. Bajak yang terbuat dari kayu itu ditarik dengan dua sapi. Pria tersebut yakni Sukoyo (54), penyedia jasa bajak tradisional.

Di tengah terik panas matahari serta peluh yang membasahi tubuhnya, dengan telaten Sukoyo menjalankan sapinya agar bajaknya tertarik dan menyingkap lapisan tanah sawah bagian atas. Sesekali ia menyambuk kedua sapinya agar jalannya lebih cepat dan lurus sesuai yang diharapkan.

Bila sudah sesuai harapan, sembari memegangi ujung bajak, ia melantunkan lagu langgam Jawa untuk menghibur diri dari beratnya kerja dan panas sengat Sang Surya. Saat ujung tajam bajaknya lengket dangan tanah, ia pun memberhentikan langkah kedua sapinya kemudian membersihkannya.

-Advertisement-

Baca juga : Kisah Bagus, Jadi Operator Traktor Sejak Kelas Tiga SMP Demi Bantu Orang Tua

“Kalau bajak lengket dengan tanah, harus segera dibersihkan. Sebab, jika singkal bajak tertutup tanah, nanti tidak bisa untuk membajak,” ujar Sukoyo kepada Betanews.id, Sabtu (21/8/2021).

Setelah bersih, ia pun kemudian melanjutkan membajak. Ia cambuk lagi kedua sapinya, dan dengan langkah berat kedua ternaknya pun berjalan lagi. Terlihat sapi yang digunakan membajak satu jantan dan yang satunya lagi betina. Sebenarnya, kata dia, lebih bagus jantan semua, lebih kuat.

“Untuk membajak tanah ini sapinya bebas. Bisa betina semua, atau pun jantan semua. Tapi bagusnya itu jantan semua lebih kuat,” ungkap warga Karangbener, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus tersebut.

Setelah berjalan dan sampai di ujung sawah bajaknya diberhentikan. Kemudian ia berjalan ke Glodok atau pedati yang biasa ditarik sapi untuk istirahat. Sedangkan, proses pembajakan dilanjutkan oleh kakak Sukoyo.

“Istirahat dulu mas, yang bajak gantian. Sebab sapi yang kami gunakan itu memang milik berdua. Yang jantan itu milik saya dan yang betina itu milik kakak saya,” seloroh ayah dua anak tersebut.

Sembari istirahat, Sukoyo pun melanjutkan memberi penjelasan. Dia mengatakan, setiap memasuki Bulan Agustus sampai Oktober, order bajak sawah menggunakan ternak sapi mulai banyak. Tepatnya setelah musim tebang tebu. Tunas tebu yang mulai tumbuh itu, kemudian tanahnya dibajak lagi biar subur.

“Sebab ini tidak bisa menggunakan traktor modern. Jika menggunakan bajak mesin justru akan merusak tunas tebu yang mulai tumbuh. Jadi meski kuno, bajak menggunakan sapi ini memang masih dibutuhkan,” ujarnya sembari melepas capingnya dan dibuat kipas-kipas.

Untuk ongkos bajak menggunakan ternak, lanjut dia, ditarif mulai Rp 180 ribu sampai Rp 200 ribu. Itu masih dapat makan dan minum. Harga Rp 200 ribu, bila lahannya belum dirapikan menggunakan cangkul.

Dia menuturkan, selama ini yang menggunakan jasa bajak ternaknya memang kebanyakan petani tebu. Namun, ada beberapa juga petani padi, terutama yang lahannya di medan sempit atau lahan miring.

Baca juga: Cepat dan Hemat, Petani di Berugenjang Gunakan Mesin Modern untuk Panen Kacang Hijau

“Untuk pelanggan, selain tetanggaku warga Karangbener, juga ada warga Desa Dersalam, Desa Piji, Honggosoco, Hadipolo dan lainnya,” ungkapnya.

Ia mengaku, mulai membajak sekitar pukul 06.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB. Dalam tempo setengah hari itu setidaknya ia mampu membajak dua kotak sawah.

“Per kotaknya itu luasnya 1.400 meter persegi. Kebanyakan memang sudah langganan. Namun, saya juga siap jika ada pelanggan baru,” ucapnya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

42,000FansSuka
13,322PengikutMengikuti
30,973PengikutMengikuti
140,000PelangganBerlangganan

TERPOPULER