Keadaan menempa gadis ini mempunyai mental sekeras baja. Hidup di tengah laut dengan segala keterbatasan, tak membatasinya untuk memiliki cita-cita tinggi. Tiap hari dia menyeberangi lautan hanya demi untuk bisa belajar di sekolahnya. Inilah kisah Kodriyah, seorang gadis laut yang mengejar cita-citanya menjadi seorang psikolog.

Kodriyah merupakan anak dari Pasijah dan Rukani, mereka adalah satu-satunya keluarga yang bertahan di Dusun Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, yang kini sudah rata menjadi lautan.
Ketika masih SD, Kodriyah masih bisa berangkat sekolah berjalan kaki meski jalan sudah tergenang air laut. Namun, semakin hari ketinggian air laut semakin naik.
Karena itulah, untuk berangkat sekolah dia selalu diantar oleh ibunya. Biasanya dia berangkat pukul 5.30 pagi, diantar Pasijah menggunaka sepeda ketika kondisi jalan masih terlihat.
“Waktu kelas tiga saya ranking satu, dapat hadiah sepeda dari sekolah”
Kodriyah, Putri Pasijah
Namun, tak jarang juga dia harus digendong ibunnya sejauh 1 kilometer untuk berangkat sekolah ketika air laut sedang pasang. Jasa orang tuanya itu tak pernah dia lupakan. Hal itulah yang membuatnya tekun untuk belajar.
Dia masih ingat betul perjuangan orang tuanya ketika hendak mengikuti lomba mewarnai. Saat itu, sepanjang jalan menuju tempat lomba terjadi rob besar, airnya setinggi dada orang dewasa.
Ibunya menggendongnya menuju lokasi lomba. Meski saat itu tak berhasil memenangi lomba, namun dari peristiwa tersebut dia belajar bagaimana kerasnya usaha orang tuanya. Pribadi orangtuanyalah yang membuatnya memiliki mental sekeras baja.
Mulai saat itu, dirinya terus tekun belajar. Usaha yang dilakukan tak sia-sia. Kelas satu SMP Kodriyah menjadi salah satu siswa yang cukup berprestasi. Namanya berada di urutan nomor tiga sebagai mahasiswa berprestasi di sekolahannya.
Selanjutnya, ketika naik di kelas dua SMP, Kodriyah mendapatkan ranking dua di sekolahnya. Bahkan ketika kelas tiga SMP namanya tercatat sebagai siswa paling berprestasi di sekolahnya.
“Waktu kelas tiga saya ranking satu, dapat hadiah sepeda dari sekolah,” kata Kodriyah saat ditemui di rumahnya beberapa waktu yang lalu.
Kini Kodriyah sudah duduk di kelas 12 SMK. Hidup di tengah laut dengan segala keterbatasan, terkadang membuatnya merasa kesulitan. Terlebih ketika terjadi pandemi yang menuntutnya belajar di rumah, dia mengaku sering kesulitan mencari sinyal.
“Kalau hari ini susah sinyal, biasanya saya pindah belajarnya ke hari berikutnya,” ujar gadis yang mengaku memiliki hobi membaca buku tersebut.






