Pengairan Sawah Terganggu, Pemdes Pasuruhan Lor Tahan Satu Alat Berat Untuk Normalisasi

BETANEWS.ID, KUDUS – Seorang pria mengenakan seragam coklat tampak sedang bercengkerama dengan tamunya di sebuah ruangan Balai Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Beberapa saat kemudian, tamunya itu pamit meninggalkannya di dalam. Pria itu adalah Nur Badri, Kepala Desa Desa Desa Pasuruhan Lor.

Setelah menemui tamunya, dia berbagi penjelasan kepada betanews.id tentang perbaikan tanggul yang jebol 2 Januari 2021 lalu. Meski perbaikannya sudah selesai, tetapi pihaknya menahan satu alat berat untuk normalisasi saluran pengairan lahan pertanian di sana.

“Sekarang sudah normal, tetapi masih ada satu alat berat dari PUPN yang kami tahan. Alat itu untuk mengambil tanah dari Utara saluran tanggul jebol yang digunakan untuk pengairan lahan pertanian. Karena lumpur dan tanah imbas banjir harus diambil,” katanya, Senin (11/1/2021).

-Advertisement-

Badri begitu sapaan akrabnya memprediksi, normalisasi saluran pengairan pertanian itu akan selesai dalam waktu tiga hari. Menurutnya, warga akan senang jika sudah dinormalisasi dan petani tidak merugi.

Baca juga: Empat Hari Galang Dana, PMII IAIN Kudus Serahkan Bantuan Ke Posko Banjir Pasuruhan Lor

Selain normalisasi saluran pengairan untuk pertanian. Tanggul yang diperkirakan berlubang karena hewan itu juga sudah mulai diperbaiki. Dirinya memprediksi jika lubang tersebut disebabkan banyaknya pohon di sana.

“Kemungkinan bocor dari akar-akar tersebut. Karena sela-sela akar itu jadi ada hewan menggali lubang di sana. Bisa tikus, garangan, atau ular,” bebernya,

Kepala Desa dua periode itu mengaku tahu persis tanggul yang bocor di sana. Bahkan, rembesan air yang menggenang bisa terjadi setidaknya lima kali dalam satu tahun. Saat ini, yang jebol sudah ditutup, tapi yang bocor-bocor masih belum 100 persen teratasi.

“Sudah diusulkan ke Pemkab, lokasi Jembatan Kencing ke Selatan maupun ke Utara wilayah Pasuruhan Lor untuk meminta pohon dihilangkan. Insyaallah petani akan senang tidak dengan hal ini. Normalisasi sudah dimulai tahun kemarin, tetapi belum selesai, targetnya Agustus tahun ini,” jelasnya.

Baca juga: Kemen PUPR Anggarkan Rp 67 Miliar untuk Normalisasi Sungai Wulan

Dia menambahakan, bantuan masih terus berjalan hingga saat ini. Selain diberikan kepada warga, bantuan juga diolah menjadi makanan di dapur umum. Makanan tersebut diberikan kepada korban banjir dan relawan.

Pihaknya memberi makan tiga kali sehari, pagi, siang, dan sore, selama empat hari. Dalam sehari setidaknya menyediakan 1.200 hingga 1.500 bungkus pada 2 hingga 5 Januari 2020 kemarin.

“Mulai tanggal 6 hingga 7 Januari 2020 berkurang, kami hanya menyediakan 250 porsi untuk relawan penanggulangan tanggul saja. Kemudian tanggal 8 hingga 9 Januari 2021 kami sediakan 150 bungkus bagi relawan kerja bakti,” rincinya.

Badri berharap, dengan kejadian banjir ini warga menjadi lebih berhati-hati. Khususnya warga dukuh Boleng untuk terus memonitor tanggul. Kalau ada rembesan langsung dilaporkan agar bisa segera ditanganin.

“Supaya tidak terjadi lagi tanggul jebol seperti kemarin. Saya ingin ada talud untuk memperkuat tanggul. Sudah saya usulkan tetapi belum terealisasi,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER