Inspiratif, Pasangan Difabel Ini Pilih Usaha Jahit Agar Tak Bergantung Orang Lain

BETANEWS.ID, KUDUS – Di dalam rumah yang berada di RT 2 RW 3 Dukuh Krajan, Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, tampak dua orang sedang sibuk dengan berbagai macam kain. Sang pria terlihat duduk di mesin jahit, sedangkan sang wanita dapat tugas memotong-motong kain.

Dengan menggunakan alat bantu jalan, wanita berkerudung putih itu terlihat menghampiri penjahit ketika selesai memotong kain sesuai pola. Meski tertatih-tatih, dia terlihat bersemangat dalam bekerja untuk segera menyelesaikan pesanan baju. Semangat pantang menyerah itulah yang selalu dikedepankan pasangan suami istri itu ketika mendirikan usaha jahit pakaian hingga sekarang.

Istri Mulyadi sedang menyetrika pakaian pesanan pelanggan di rumahnya, Kamis (6/8/2020). Foto: Rabu Sipan.

Meski besar dengan raga tak sempurna, Mulyadi (45) (dan istri) mengaku tidak minder. Dia justru punya motivasi untuk hidup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Walaupun punya keterbatasan, dia punya keyakinan harus bisa bekerja dan punya keterampilan, agar bisa menghidupi diri sendiri dan keluarganya.

-Advertisement-

“Saya lahir dalam keadaan normal. Namun pada umur empat tahun, saya kena virus polio. Waktu itu dibawa berobat ibu saya dan disuntik. Setelah disuntik itulah kaki sebelah saya mengalami lemas dan tidak bisa berkembang, hingga mengakibatkan keadaan saya seperti ini,” ceritanya saat ditemui, Kamis (6/8/2020).

Baca juga: Pernah Ditipu Ratusan Juta, Kerja Keras Arif di Bisnis EO Kini Membuahkan Hasil

Karena tak ingin membebani orang lain, Mulyadi muda rajin ikut pelatihan. Satu di antaranya pelatihan keterampilan di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Fisik (BBRSPDF) Prof Dr Soeharso Surakarta. Di tempat tersebut, ia mengambil pelatihan ketrampilan menjahit.

“Setelah dianggap bisa menjahit, saya bersama puluhan teman difabel disalurkan bekerja di perusahaan garmen di Ungaran, Semarang,” ungkapnya.

Setelah bekerja selama lima tahun, dia memutuskan untuk pulang ke Kudus. Di kota kelahirannya, Mulyadi ikut kerja orang yang punya usaha jahitan baju dan belajar desain, gambar pola, memotong kain, dan lain sebagainya.

“Saya di sana kerja lima tahun juga sampai bos saya pindah ke Jakarta. Waktu itu diajak, tapi saya pingin dekat dengan orang tua saya. Jadi akhirnya saya nekat buka usaha jahitan sendiri,” ujarnya.

Baca juga: Kisah Hidup Winarni, 40 Tahun Dedikasikan Hidupnya untuk Dunia Tari

Di usaha yang dirintis sejak enam tahun lalu itu, dirinya menerima jahitan pakaian pria dan wanita. Dari bikin baru hingga permak ia layani. Dia pun kemudian merinci jasa jahit yang diterimanya. Antara lain, bikin seragam sekolah Rp 120 ribu satu stel, permak jeans mulai harga Rp 10 ribu, bikin gaun muslim dan celana panjang pria harganya Rp 70 ribu, kemeja ditarif Rp 70 ribu, permak aneka pakaian mulai Rp 15 ribu, dan jahit masker tarifnya Rp 1 ribu.

Untuk lama pengerjaan, tambahnya, ia biasanya memberi tempo waktu tiga hari sampai sepekan, tergantung ramai atau tidak orderan yang ada. Kalau hasil jahitan, selama ini tidak ada yang komplai, pelanggan malah banyak yang cocok.

“Kata mereka baju bikinan atau hasil permak saya itu nyaman dipakai. Jahitannya juga rapi,” ungkapnya.

Baca juga: Sambil Naik Sepeda Butut, Bu Djumi’ah Keliling Tawarkan Jasa Membersihkan Rumah

Dia bersyukur, meski dengan raga yang tidak sempurna tetap diberi jalan rejeki sama Tuhan. Dia juga berharap usaha jahitnya bisa makin berkembang dan makin besar. Sehingga kelak ia bisa membantu orang yang mengalami nasib sama dengan dia dan istrinya.

“Kalau ada teman difabel yang ingin belajar jahit, dengan senang hati kami akan mengajarinya sampai bisa. Dan tidak dipungut biaya,” tutupnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER