Beranda blog Halaman 1973

KHR Asnawi dan KH Turaichan, Pahlawan di Kudus Berjuang Melalui ‘Tinta’

0

SEPUTAR KUDUS – KHR Asnawi dan KH Turaichan Adjury Assarofi (Tajusyarof), merupakan nama-nama yang sudah mafhum di kalangan masyarakat Kudus sebagai ulama. Dua keturunan Syech Ja’far Sodik (Sunan Kudus) tersebut sangat dikenal karena keilmuannya. Keduanya juga turut berjuang semasa prakemerdekaan dan pascakemerdekaan melalui “tinta”.

Berbagai sejarah yang tertutur melalui lisan yang masih ada di kalangan masyarakat Kauman Mendara Kudus, khususnya santri, pada masa hidupnya KHR Asnawi adn KH Turaichan turut berjuang melawan penjajah. Namun, beliau tidak berperang mengangkat senjata, namun melalui pendidikan.

Menurut penuturan cucu KHR Asnawi, KH Minan Zuhri Asnawi (almarhum), kakeknya sering diburu penjajah, baik pada masa pendudukan Belanda maupun Jepang. Pidato-pidato KHR Asnawi di hadapan masyarakat, khususnya umat Islam, dianggap provokatif dan membahayakan pemerintahan kolonial. Kiai yang juga menciptakan syaif Sholawat Asnawiyah tersebut, merupakan sosok yang sangat berpengaruh pada saat itu.

Keteguhannya dalam memperjuangkan kemerdekaan, dilakukan KHR Asnawi melalui pengajaran kepada masyarakat. Beliau mendirikan sebuah madrasah di Kenepan, tak jauh dari kompklek Menara Kudus, untuk mengajarkan ilmunya. Madrasah tersebut dipercaya sebagian masyrakat Kudus, sebagai sekolah pertama yang berdiri di Kota Kretek. Madrasah Kenepan tersebut, kini telah berubah menjadi Madrasah Qudsiyyah.

Perjuangan memerdekakan bangsanya, tak hanya dilakukan melalui pendidikan dengan mengajarkan ilmu kepada masyarakat. Namun, KHR Asnawi juga aktif dalam dunia pergerakan. Beliau merupakan salah satu pendiri organisasi massa terbesar di Indonesia saat ini, yakni Nahdhatul Ulama (NU). Bersama sejumlah kiai di Jawa, termasuk KH Hasyim As’ari dan KH Wahab Hasbullah, KHR Asnawi mendirikan NU sebagai alat perjuangan melawan penjajah melalui perkumpulan.

Hal sama juga dilakukan KH Turaichan. Beliau aktif mengajarkan ilmu kepada masyarakat di Kudus pada masa penjajahan. Keteguhannya itu, membuat pemerintah kolonial sempat geram karena beliau aktif memberikan pendidikan kepada masyarakat. Hal itu tentu dinilai pemerintah kolonial membahayakan kedudukan mereka di Indonesia.

KH Turaichan, juga mendirikan sebuah sekolah di lingkungan Kauman Menara Kudus. Sekolah tersebut diberi nama Taswiqut Thulab Salafiah (TBS). Ada sebuah cerita yang berkembang di kalangan santri hingga saat ini, KH Turachan sempat mengelabuhi pemerintah kolonial dengan keberadaan sekolah tersebut.

Berdasarkan cerita yang berkembang tersebut, pemerintah kolonial pernah mendatangi sekolah itu. Dia menanyakat apa kepanjangan dari TBS. Dijawab KH Turaichan, bahwa TBS kepanjangan dari Taswiqut Thulab School. Dan sekolah tersebut mengajarkan ilmu-ilmu umum dari Eropa, bukan ilmu agama.

Konon, jawaban tersebut dipercaya pemerintah kolonial, sehingga keberadaannya tidak dicurigai. Sehingga aktivitas pendidikan di TBS yang mengajarkan ilmu agama, bisa tetap berlangsung, bahkan hingga saat ini. Wallahu A’lam. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Jurnalis Membingkai Kudus Dalam 2 Dimensi

0
SEPUTAR KUDUS – Seorang pengunjung melihat karya foto yang dipamerkan di Plasa Kudus, Jumat (15/8/2014). 

SEPUTAR KUDUS – Ada sebuah istilah, foto memiliki seribu kata untuk mengungkap peristiwa. Mungkin hal inilah yang membuat 15 jurnalis di Kudus membuat acara pameran foto di Plasa Kudus lantai 3, mulai 15-20 Agustus 2014. Dalam pameran tersebut, sebanyak 63 karya foto “membingkai” sejumlah peristiwa, sosok, dan bangunan, dipamerkan ke masyarakat.

Sejumlah jurnalis yang memamerkan karya foto itu, di antaranya Andreas Fitri Atmoko (LKBN Antara), Faisol Hadi dan Nico Kurnia Jati (Koran Muria), Hendriyo Widi (Kompas), Saiful Anas dan Ruli Aditiyo (Suara Merdeka), Ulin Nuha dan Eko Julianto (Radar Kudus), dan sejumlah pewarta foto lainnya.

Sejumlah karya foto yang dipamerkan, antara lain mengabadikan peristiwa bencana banjir dan tanah longsor pada Januari 2014, pembongkaran replika Menara Kudus dan di kawasan Tanggulangin, dan pejuangan pegawai honorer K2 yang menuntut haknya.

Pameran ini merupakan kegiatan kedua yang diselenggarakan para jurnalis di Kudus. Sebelumnya, pada tahun 2006 pameran serupa juga diselenggarakan di tempat yang sama. Namun, pada saat itu diselengarakan Kelompok Wartawan Kudus (Kawanku).

Dengan pameran foto yang diselenggarakan oleh jurnalis ini, semoga bisa menjadi refleksi semua kalangan. Termasuk masyarakat Kudus dan pemerintah daerah dalam menyikapi semua peristiwa yang terjadi. Foto yang bisa berbicara tanpa kata-kata, semoga juga bisa menjadi saksi sejarah yang bisa digunakan gerenasi berikutnya akan peristiwa yang tergambar. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Menanti Kiprah Muka-Muka Baru di DPRD Kudus

0
Malik Khoirul Anam

SEPUTAR KUDUS – Pelantikan anggota DPRD Kudus 2014-2019 rencananya akan dilaksanakan pada 21 Agustus 2014. Masyarakat menanti kiprah anggota dewan untuk mengawal pembangunan di Kota Kretek. Selain muka lama yang kembali duduk di kursi dewan, ada sejumlah muka baru yang muncul. Sebagian dari mereka merupakan kelompok muda.Bagaimana kapasitas dan kapabilitas mereka dalam mengemban aspirasi rakyat saat duduk di kursi dewan nanti?

Ada sejumlah nama baru dalam daftar calon anggota legislatif (caleg) terpilih dalam Pemilihan Umum Legislatif 4 April lalu. Di antaranya Agus Imakudin dan Nurhudi. Dua nama ini baru pertama kali menjadi caleg yang akan dilantik. Agus Imakudin, merupakan kader PDIP Kudus, yang saat ini menjabat sebagai Ketua PAC PDIP Kecamatan Kota. Sedangkan Nurhudi merupakan kader Partai Gerindra, yang masuk dalam jajaran kepengurusan partai berlambang kepada Garuda di tingkat kabupaten itu (Koran Muria, 14 Agustus 2014).

Nama Nurhudi sejak lama muncul dalam sejumlah gerakan buruh di Kudus, beberapa tahun lalu. Dia aktif menjadi penggerak buruh Jambu Bol yang tidak mendapatkan haknya dari perusahaan. Dalam sejumlah aksi yang dilakukan para buruh, dia muncul dan mendapingi mereka. Saat itu dia aktif sebagai pengurus Federasi Serikat Buruh Demokrasi Seluruh Indonesia (FSBDSI) Kabupaten Kudus. Dia mengawal kepentingan para buruh, bersama aktor gerakan lain, di antaranya Eny Mardiyanti dan Noor Hartoyo, yang saat ini menjadi Wakil Ketua DPRD Kudus.

Sedangkan Agus Imakudin, namanya cukup mencuat menjelang hari pemilihan Pileg 2014. Gambarnya terpampang dalam alat peraga kampanye (APK) yang tersebar di banyak titik sudut kota. Popularitasnya menanjak, seiring banyaknya APK yang dipasang. Popularitas berbuah suara, merupakan konsekuensi logis dan wajar dalam pemilihan langsung. Namun, masyarakat belum melihat secara jelas kiprah dirinya selama ini.

Sebenarnya, ada sejumlah nama lagi caleg merupakan kelompok muda yang juga aktor gerakan yang ikut dalam pemilihan. Namun sayang, mereka tidak terpilih dan masuk dalam daftar yang akan dilantik. 

Semoga saja, kelompok muda yang terpilih menjadi anggota dewan bisa memberikan nuansa baru di DPRD Kudus nanti. Masyarakat berharap, mereka bisa memberi perubahan positif dalam membawa amanat dan aspirasi rakyat. Di tangan mereka kita berharap, pembangunan di Kudus benar-benar dikawal atas nama kepentingan rakyat, bukan kepentingan partai, golongan, apalagi kepentingan pribadi. 

Penulis:
Malik Khoirul Anam
Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Kudus

Ingin mengirim artikel serupa, baca ini

- advertisement -

Desa Wisata Wonosoco, Lestarikan Alam dengan Tradisi dan Budaya

0
SEPUTAR KUDUS – Resik-resik sendang
Desa Wisata Wonosoco, Kecamatan
Undaan, Kabupaten Kudus.

SEPUTAR KUDUS – Suara gamelan mengalun di antara lebatnya hutan jati, di kaki Gunung Blalak, tak jauh dari Sendang Dewot, Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Sabtu (9/8/2014). Sejumlah warga desa hikmat menyaksikan pagelaran Wayang Klithik yang diiringi gamelan tersebut.

Pagelaran wayang kayu khas desa tersebut, merupakan satu dari sejumlah acara yang digelar masyarakat di sana. Rangkaian acara itu dibuat sebagai bentuk rasa syukur atas sumber air yang terus mengalir, mencukupi kebutuhan masyarakat.

”Tuhan telah memberikan kita sumber air dari gunung yang melimpah. Kita harus menjaganya. Jangan menebang pohon, agar bencana tidak menimpa kita,” ujar Sutikno, dalang dalam pagelaran wayang tersebut.

Kepala Desa Wonosoco Setiyo Budi mengatakan, selain pagelaran Wayang Klithik, kemarin, masyarakat juga resik-resik sendang. Sumber air tersebut dibersihkan dari lumpur yang mengendap, dan banyaknya daun dari pepohonan yang jatuh di aliran sumber air tersebut.

Selain kegiatan tersebut, sebelumnya, warga membuat acara kirab keliling desa, Kamis (7/8). Hasil bumi Desa Wonosoco, dibuat gunungan untuk diarak. Dari pemuda, sesepuh desa, hingga anak-anak, sangat antusias mengikuti acara tersebut.

”Hingga hari ini (kemarin), acara telah berlangsung selama tiga hari. Acara akan ditutup dengan pagelaran Wayang Klithik, di lokasi sumber air lainnya, besok (hari ini),” tutur kepala desa yang baru memimpin beberapa bulan terakhir.

Menurutnya, tradisi itu telah berlangsung sangat lama, dan akn terus dilestarikan. Selain menjaga tradisi dan kebudayaan, acara tersebut juga untuk selalu mengingatkan warga untuk menjaga lingkungan. Air merupakan kebutuhan penting bagi kehidupan. Sendang yang menampung sumber air dari pegunungan, harus tetap dijaga.

”Menjaga air agar tetap keluar dari sendang, kami harus tetap melestarikan hutan dan pepohonan. Jangan sampai pepohonan menjadi ditebang tanpa mempertimbangkan sumber air. Karena ini menyangkut kebutuhan primer masyarakat di sana,” tutur Setiyo.

Dia menambahkan, Wayang Klithik merupakan warisan leluhur Desa Wonosoco, dan selalu digunakan untuk tradisi memberi penghormatan pada alam. Oleh karenanya, generasi muda telah dilatih agar bisa memainkan wayang tersebut.

- advertisement -

Benarkah Orang Kudus Pelit?

0

SEPUTARKUDUS.COM – Menjadi orang Kudus, bisa dikatakan susah-susah gampang. Banyak masyarakat di daerah lain menganggap orang Kudus memiliki kelebihan dalam bidang ilmu. Banyak juga masyarakat daerah lain menilai, orang Kudus sebagai orang yang ulet dalam bidang usaha dan mandiri. Namun, tak sedikit masyarakat di daerah lain justru menganggap orang Kudus sebagai orang yang pelit.

Tak jarang pertanyaan bahwa orang Kudus pelit, sering dilontarkan masyarakat di daerah lain, ketika bertemu dengan orang Kudus. Tentu ini pertanyaan yang sulit dijawab. Bagaimana tidak, untuk mengklarifikasi atau membuat narasi jawaban tentu perlu pembuktian. Lalu, bagaimana untuk membuktikan orang Kudus bukan masyarakat yang pelit.

Dilihat dari tradisi yang berkembang di masyarakat Kudus, mungkin ada beberapa hal yang bisa dibuat justifikasi masyarakat di daerah lain, bahwa orang Kudus memang pelit. Hal itu terlihat dari kemasan sajian makanan tradisional yang sangat populer, yakni Soto Kudus. Mangkuk yang digunakan penjual masakan ini, bisa dibilang kecil, jika dibanding dengan mangkuk yang dibuat untuk menyajikan soto dari daerah lain, Soto Semarang misalnya.

Tak hanya itu, masakan khas Kudus lain yang juga menggunakan wadah cukup mungil, yakni Lenthog Kudus. Makanan yang lazim disebut lontong di daerah lain ini, menggunakan piring kecil dalam penyajiannya. Piring yang digunakan, lebih kecil jika dibanding piring yang digunakan untuk menyajikan Nasi Gandul di Pati.

Hal lain yang juga bisa dijadikan pembenaran masyarakat di lain daerah, ketika  Lebaran tiba. Hidangan makanan kecil yang disuguhkan di atas meja diwadahi toples, baik berukuran kecil maupun besar. Namun, mulut toples banyak yang mengatakan terlalu kecil. Sehingga ukuran tangan orang dewasa tidak cukup untuk mengambil makanan atau camilan dalam jumlah banyak.

Hal tersebut, memang tidak serta-merta bisa dijadikan dasar sebagai pembenaran bahwa masyarakat Kudus pelit. Karena, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, kata pelit bermakna orang yang tidak suka memberikan sedekah. Tentu, persepsi masyarakat di daerah lain yang menyatakan masyarakat Kudus pelit, dengan beberapa justifikasinya, tidak sesuai dengan pengertian kata tersebut dalam kamus.

Terlepas dari hal itu semua, persepsi publik yang menilai masyarakat Kudus pelit, sah-sah saja disematkan. Namun, bagi orang Kudus, anggapan pelit dari masyarakat di lain daerah tersebut mungkin bermksud menilai bahwa orang Kudus pandai hemat, tidak mudah terbawa arus konsumtif, serta memiliki jiwa kemandirian.

Anggapan ini, mungkin tidak lepas dari peran dua wali yang ada di Kudus, yakni Sunan Kudus dan Sunan Muria. Dua sosok tersebut memberikan pembangunan karakter masyarakat di Kudus sejak dulu, sebagai individu maupun masyarakat majemuk yang ulet baik dalam bidang usaha maupun perdagangan. Hemat dan mempergunakan sesuatu sesuai porsinya, merupakan satu kunci sukses membangun usaha dan perdagangan.

Sunan Kudus, merupakan panglima perang sekaligus pemangku bidang ekonomi pada masa kerajaan Demak. Selain dikenal sebagai seorang yang berilmu, Sunan Kudus juga sangat dikenal sebagai sosok yang kaya. Jiwa wirausaha banyak ditularkan kepada masyarakat Kudus saat itu, terutama yang bermukim di Kauman, atau sekitar Kota Lama Kudus. Masyarakat yang bertempat tinggal di sebelah barat Sungai Gelis atau lazim disebut masyarakat Kudus Kulon itu, dikenal sebagai pengusaha sukses, ulet dan mandiri.

Hingga kini, masyarakat Kudus Kulon dikenal sebagai juragan-juragan sukses. Berbagai bidang usaha yang masih digeluti masyarakat di sekitar komplek Makam Sunan Kudus, antara lain pembuatan pakaian jadi, percetakan, pembuatan kaligrafi, dan usaha perdagangan. Banyak produsen pakaian di sana, yang menyetor produk ke Pasar Kliwon sebelum dikirim ke sejumlah di kawasan Pantura Timur, hingga ke luar Jawa.

Sedangkan Sunan Muria, memberi pengetahuan bercocok tanam dan berdagang kepada masyarakat di kawasan Muria, selain menyebarkan ajaran Islam. Sama halnya dengan apa yang diajarkan Sunan Kudus, Sunan Muria juga mengajarkan masyarakat Kudus tentang kemandirian.

Masyarakat di kawasan Muria, diajarkan Sunan Muria untuk memanfaatkan lahan yang ada untuk bercocok tanam. Yang masih dikenal hingga kini sebagai sejarah tutur, Sunan Muria mengajarkan masyarakat menanam tebu. Hal itu, mungkin bisa menjadi bukti, banyaknya masyarakat di lereng Muria yang menanam tebu, untuk diproduksi menjadi gula Jawa. Saat ini, masih bisa ditemukan masyarakat di lereng Muria yang memproduksi gula Jawa, antara lain di Desa Samirejo, Kecamatan Dawe.

Di sekitar Makam Sunan Muria, saat ini juga masih banyak warga yang menjual hasil buminya kepada para peziarah yang datang dari berbagai penjuru daerah di Jawa. Sejumlah hasil bercocok tanam yang dijual, antara lain pisang, umbi jangklong, kayu pakis dan parijotho.

Masyarakat di luar daerah boleh menganggap masyarakat Kudus sebagai orang yang pelit. Namun mereka juga tentu setuju, masyarakat Kudus memiliki keuletan dan jiwa kemandirian. Lalu, apakah masih ada rasa dongkol dengan anggapan pelit tersebut? Anggap saja mereka yang menganggap pelit tidak lebih sukses daripada kita yang ulet dan mandiri. (*)

- advertisement -

Urak Wedalan, Tradisi Berbagi Saat Tarawih di Kudus

0

Gembira dengan datangnya bulan puasa adalah perasaan yang mungkin dirasakan oleh sebagian besar muslim di Indonesia, tak terkecuali di Kudus. Berbagai acara digelar untuk menyambut bulan yang penuh berkah ini, dari menggelar tradisi dandangan yang digelar beberapa minggu sebelum bulan puasa tiba, hingga menggelar kirab budaya yang menggambarkan tokoh-tokoh para wali penyebar agama Islam di Kudus.

Tentu hal ini tidak saja menggambarkan sebuah ritus masyarakat di Kudus yang setiap tahun digelar untuk menyambut bulan puasa saja, namun juga sebagai ungkapan kegembiraan dan kebersamaan.

Namun, ada satu tradisi di salah satu daerah di Kudus yang sangat unik dan mungkin tak banyak masyarakat yang tahu, tradisi tersebut adalah Urak Wadalan. Daerah tersebut terletak di kecamatan Undaan, tepatnya di desa Berugenjang. Desa yang berada di tengah-tengah hamparan berpuluh hektar sawah dan disebut Joko Heryanto (Pemerhati budaya di Kudus) sebagai desa yang amboi ini menjalankan tradisi tersebut setiap bulan puasa secara turun temurun.

Urak Wadalan adalah tradisi memberikan jajan pasar kepada jemaah sholat tarawih di masjid dan mushola. Tradisi yang dilakukan dengan sukarela oleh masyarakat ini dilaksanakan dengan memberikan sepotong kayu yang bertulis “Urak Wadalan-Sak Kuasane ” (Urak Wadalan – seikhlasnya) sebagai sebuah tanda yang diberikan kerumah-rumah warga secara bergiliran.

Mekanismenya, jika hari ini sebuah rumah warga mendapatkan kayu tersebut maka besok malamnya pemilik rumah warga itu mendapatkan giliran untuk memberikan jajan pasar ke masjid atau mushola. Keesokan harinya kayu tersebut harus diberikan kepada tetangga rumah di sebelahnya, yang berarti pemilik rumah tersebut mendapatkan giliran untuk malam selanjutnya. Dan begitu seterusnya hingga malam takbiran tiba.

Tradisi Urak Wadalan ini diurus oleh pengurus takmir masjid. Pengurus takmir masjid membagi desa kedalam kering atau wilayah-wilayah, dimana ada warga yang harus memberikan jajan pasar ke masjid, ada yang harus memberikan jajan pasar ke mushola sesuai dengan letak rumah warga di wilayah lingkungan mana warga itu tinggal, di dekat masjid atau di dekat mushola.

Jajan pasar yang diberikan tidak ditentukan secara spesifik, baik jenis maupun jumlahnya. Umumnya warga memberikan jajanan berupa kerupuk, bakwan, tahu isi, roti, apem dan sejenisnya. Jajanan tersebut dibagikan kepada jamaah seusai sholat tarawih, tanpa terkecuali seluruh jamaah mendapatkan bagian. Tak jarang suasana masjid atau mushola menjadi gaduh saat jajanan dibagikan, karena banyak anak-anak kecil yang berebut memintanya. Dan hal inilah yang menjadikan suasana tak terlupakan bagi anak-anak kecil tersebut, termasuk saya.

Tradisi Berbagi dalam Kebersamaan

Urak Wadalan yang berarti kayu sedekah memberikan warna tersendiri bagi masyarakat Berugenjang. Tradisi yang dilaksanakan sejak dahulu ini menyebabkan masyarakat larut dalam kebersamaan, baik dalam suasana saat dibagikannya jajanan pasar tersebut maupun saat penyiapannya.

Jajan pasar dibagikan saat sholat tarawih selesai dilaksanakan oleh jamaah, ada jamaah yang membawanya pulang, ada juga jamaah yang memakannya di tempat sembari ngobrol di serambi masjid atau mushola. Tanpa memandang status sosial, seluruh jamaah membaur dalam suasana kekeluargaan.

Dalam menyiapkan jajanan pasar yang akan diberikan kepada jamaah taraweh ini sebagian besar warga membuatnya sendiri di rumah, dan umumnya tetangga-tetangga rumah datang untuk membantunya, ada juga tetangga yang datang dengan membawa bahan baku untuk membuat jajanan tersebut. Meskipun ada pula warga yang membeli jajanan tersebut dari pasar, akan tetapi hal tersebut tak mengurangi suasana kebersamaan yang akan muncul dalam peristiwa tahunan ini.

Meskipun tradisi berbagi di saat bulan puasa banyak dilakukan oleh kebanyakan warga muslim di Kudus, akan tetapi ada hal yang sangat khas dari tradisi Urak Wadalan yang tidak ditemui di daerah manapun di Kudus; yakni dilakukannya sebuah tradisi oleh masyarakat Berugenjang dengan sebuah mekanisme yang unik, menggunakan piranti berupa kayu sebagai simbolnya, dan tradisi yang unik ini membawa sebuah berkah kebersamaan bagi sesama.

Meskipun jajanan yang diberikan sangatlah sederhana, namun hal tersebut tidak mengurangi suasana kebersamaan. Suasana kebersamaan ini tentu akan memberi makna tersendiri bagi masyarakat Berugenjang yang sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai petani.

Bulan puasa yang melipat gandakan pahala, banyak dimanfaatkan muslim untuk berbagi kepada sesamanya, namun tentu niat dan tendensi masing-masing orang tidaklah sama. Ada yang melakukannya dengan ikhlas untuk berbagi, ada pula yang sengaja mengambil momentum bulan puasa untuk tebar pesona di tengah-tengah masyarakat.

Semoga banyaknya tradisi berbagi di bulan penuh berkah ini tidak sekedar menjadi ritual tahunan yang tanpa makna, namun lebih dari itu tradisi berbagi seperti Urak Wadalan bisa menjadi titik tolak dan inspirasi untuk pelaksanaan kegiatan kemasyarakatan yang lain di luar bulan puasa.(Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

WOW, Gadis Cantik Ini Jual SIM Card Harga Rp 5 Juta di The Bakulans

0

SEPUTAR KUDUS – Ada-ada saja barang yang dijual di forum jual beli The Bakulans. Seorang gadis pemilik akun bernama Kaori, menjual sebuah SIM card Indosat yang diklain sebagai nomor cantik, dengan harga cukup fantastis, Rp 5 juta. Penawaran tersebut diposting di forum yang memiliki anggota 62.000 orang itu, pada Jumat (13/6/2014), sekitar pukul 13.00 WIB.

Nomor Indosat yang diklaim sebagai nomor cantik itu, yakni 085 628 01234. Berdasarkan keterangannya, nomor tersebut telah diaktivasi. Sekitar satu jam sejak tawarannya itu di-posting, sekitar 53 anggota forum memberikan komentarnya. Namun, hanya 3 orang anggota yang membubuhkan like di posting tersebut.

Sejumlah anggota The Bakulans ada yang menawar nomor tersebut melalui komentar. Ada sejumlah pemilik akun juga mencoba menego harga yang ditawarkan. Bahkan, ada yang mau memberi harga selangit, namun dengan nada bercanda. Namun, sebagian besar anggota The Bakulans, menanggapi posting-an tersebut secara bercanda.

Candaan yang dilontarkan sejumlah pemilik akun di forum tersebut, cukup beragam. Salah satu pemilik akun, Hendro Jaya Kesuma, bersedia membeli nomor tersebut dengan harga yang ditawarkan, namun sekaligus beserta penjualnya. Sedangkan pemilik akun Sang Kurang, dengan nada bercanda bresedia membarter nomor tersebut dengan mobil Xenia. Bahkan, pemilik akun Kaleng Nophel bersedia membayar nomor tersebut dengan harga selangit, Rp 20 juta plus Mitsubishi Pajero Sport.

Forum jual beli The Bakulans, merupakan forum yang dibuat berbentuk grup Facebook. Anggota forum ini, kebanyakan merupakan pemilik akun yang berdomisili di Kudus dan sekitarnya. Barang yang dijual anggota forum ini, sangat beragam. Ada yang menjual rumah, mobil, sepeda motor, pakaian, laptop, ponsel, hingga SIM card, seperti apa yang dijual Kaori. Untuk melihat postingan Kaori tersebut, silakan cek di sumbernya langsung. (Mase Adi Wibowo)

Artikel terkait: 
Fenomena Media Sosial di Kudus Saat Banjir dan Longsor 

- advertisement -

Perusahan di Kudus Inilah yang Mencetak Surat Suara Pilpres 2014

0
SEPUTAR KUDUSPT Pura Barutama, Kudus.

SEPUTAR KUDUS – Siapa yang tak tahu perusahaan percetakan yang satu ini. Kebesaran namanya telah tersiar hingga seantero negeri, saat mencetak uang kertas beberapa tahun lalu. Perusahaan ini juga memenangkan banyak proyek pemerintah, antara lain pembuatan STNK, BPKB, ujian nasional, dan banyak lagi yang lain.

PT Pura Barutama, itulah nama perusahaan yang ada di Kudus yang mengerjakan sejumlah proyek milik pemerintah. Pada Pilpres 2014 ini, perusahaan yang terletak di Jalan R Agil Kusumadya, dan Jalan Kudus-Pati ini mencetak 13,5 juta kertas suara. Belasan juta kertas suara pilpres tersebut untuk pemilihan di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara.

Seperti ditulis kantor berita Antara, kertas suara pilpres tersebut telah mulai dicetak pada 10 Juni 2014 lalu. Proses cetak yang dibutuhkan perusahaan skala internasional tersebut, selama delapan hari. Dan, jumlah pegawai yang terlibat dalam proses cetak sebanyak 600 pegawai.

Perusahaan tersebut juga berkewajiban untuk pendistribusian ke kedua provinsi tersebut. Distribusi kertas suara itu akan dimulai pada 14 Juni 2014 hingga 24 Juni 2014, atau selama 10 hari. Kertas suara tersebut akan didistribusikan ke masing-masing kota dan kabupaten di Aceh dan Sumatera Utara, melalui jalur darat dan udara. Untuk pendistribusiannya, PT Pura Barutama melibatkan 36 petugas keamanan.

Bisa dibayangkan bukan, betapa besar perusahaan ini, yang harus mengerahkan ratusan pegawainya untuk mencetak belasan juta kertas suara. Dan, proses yang dibutuhkan untuk mencetak hanya 10 hari.

- advertisement -

Wisudawan Terbaik Ini Diantar Ayahnya Menggunakan Becak

0
Raeni, mahasiswi terbaik di Unnes diantar ayahnya menggunakan becak saat wisuda.

SEPUTAR KUDUS – Cerita berikut saya jamin menguras emosi para pembaca, ini seperti cerita-cerita di dalam sebuah film. Seorang mahasiswi cantik bernama Raeni, yang belajar di Pendidikan Akuntantsi Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Semarang (Unnes), pagi itu (Selasa, 10/11/2014) akan mengikuti wisuda.
Selain cantik, mahasiswi yang dinobatkan sebagai wisudawan terbaik dengan IPK 3,96. Yang banyak menjadi perhatian, bukan karena kecantikan dan prestasinya, namun karena dia berangkat wisuda diantar ayahnya, Mugiyono, menggunakan becak.

Senyum mengembang keduanya tampak saat tiba di lokasi wisuda, di kampusnya. Mengenakan kebaya lengkap dengan toga, wajah Raeni tampak cerah pagi itu. Hal tak berbeda juga ditunjukkan Mugiyono, yang selalu menebar senyum kepada siapa saja. Tak ada raasa malu maupun canggung, tampak dalam wajahnya. Dia justru tampak bangga, karena anaknya berhasil menjadi yang terbaik, meski dirinya hanya seorang tukang becak.

Becak yang digunakannya itu, merupakan kendaraan yang sehari-hari dipakai untuk mencari nafkah. Setiap hari, Mugiyono mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal. Dengan becak itulah, Mugiyono menghidupi keluarganya, termasuk membiayai kuliah Raeni. Sebagai tukang becak, penghasilan Mugiyono tak menentu. Kadang sehari bisa mendapat Rp 50.000, namun tak jarang jika sepi penumpang, dia hanya bisa membawa pulang Rp 10.000.

Sepetri dikutip laman resmi Unnes, sebelum menjadi tukang becak, Mugiyono merupakan buruh di sebuah perusahaan kayu lapis di Kendal. Setelah tidak bekerja lagi di sana, dia memutuskan untuk menarik becak. Selain itu, untuk menambah penghasilan, dia menjadi penjaga malam di sebuah sekolah di Kendal. Upah yang diterima dari sekolah, sebesar Rp 450.000.

Menjadi seorang anak dari keluarga kurang mampu, tidak membuat Raeni kecil hati. Dia justru mampu menunjukkan prestasinya. Hal itu dibuktikannya saat meraih beasiswa Bidikmisi di kampusnya. Tak hanya itu, dia juga tercatat berkali-kali meraih IPK 4, luar biasa. Prestasinya tersebut mampu dipertahankannya hingga lulus, sehingga dinobatkan menjadi wisudawan terbaik.

Seusai menempuh pendidikannya di Unnes, Raeni berniat melanjutkan jenjang pendidikannya lebih tinggi. Dia saat ini tengah mengincar beasiswa lagi, untuk bisa belajar di Inggris. Sebagai orangtua, Mugiyono mengaku sangat bangga, sekaligus mendukung keinginan anaknya untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya. Dia juga sangat mendukung, agar anaknya mampu meraih cita-citanya untuk menjadi seorang guru.

Cerita di atas, sangat inspiratif. Bagaimana seorang anak dari keluarga kurang mampu, bisa membuktikan kepada khalayak sebagai yang terbaik. Segala keterbatasan tidak menjadi halangan, namun justru menjadi penyemangat. Salut. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Debat Capres, Jokowi-JK Dinilai Lebih Unggul Warga Sosial Media

0
SEPUTAR KUDUS – Pasangan Capres Jokowi-JK pada debat capres. Foto Antara

SEPUTAR KUDUS – Hasil debat capres pertama, pasangan capres dan cawapres Jokowi-JK dinilai lebih unggul oleh kalangan pengguna media sosial (sosmed) di Kudus. Kalangan sosmed menilai, jawaban-jawaban Jokowi-JK  dianggap lebih substantif dan solutif ketimbang pasangan Prabowo Hatta, yang dinilai normatif.

Bagi pengguna sosmed pendukung pasangan Jokowi-JK yang diusung PDIP, didukung Partai Nasdem, PKB, dan Hanura, jawaban-jawaban yang dilontarkan menuju pada pokok pertanyaan. Selain itu, jawaban keduanya juga konkrit, substantif dan sistematis. Banyak yang menilai, itu tidak lepas dari pengalaman keduanya yang menjadi praktisi pemerintahan.

Dari segi artikulasi, Jokowi dinilai polos dan apa adanya dalam memberi pemaparan jawaban dari moderator. Diksi atau pemilihan katanya juga tidak terlalu banyak menggunakan kata yang sulit dipahami, tapi Jokowi justru sebaliknya. Artikulasi yang cenderung lamban dengan nada dan tempo yang rendah, dinilai menunjukkan jati diri jokowi yang polos.

Pada pertanyaan tentang banyaknya peraturan dan lembaga yang tumpang tindih antara pusat dan daerah, Jokowi memaparkan jawaban yang solutif. Menurutnya, hal itu bukan sesuatu yang “sulit-sulit amat”. Itu bisa diatasi dengan politik anggaran, penggunaan sistem satu pintu dengan pengelolaan teknologi informasi. Selain kebijakan dan aturan daerah sinkron dengan kebijakan pusat, pemerintah pusat juga bisa memantau perkembangan kebijakan tersebut secara riil, menggunakan teknologi informasi. Dalam hal ini, pengguna sosmed di Kudus menilai, Jokowi-JK pada debat  capres cawapres pertama ini, menang telak.

Sedangkan pasangan capres cawapres Prabowo-Hatta yang diusung dan didukung partai Koalisi Merah Putih, jawaban-jawaban mereka dinilai terlalu mengawang. Prabowo dinilai terlalu banyak menggunakan diksi yang besar, dengan artikulasi yang menggebu-gebu. Banyak jawaban Prabowo yang dilontarkan dengan gagasan besar, namun tanpa gagasan konkrit.

Sedangkan pada segmen pertanyaan antar-capres dan cawapres tentang diskriminasi hukum, banyak pengguna sosmed menilai jawaban Hatta Rajasa tak sejalan dengan kenyataan. Menurut Hatta, supremasi hukum harus ditegakkan dan tidak tajam ke atas dan tumpul ke bawah. Hal itu dinilai tidak sejalan kasus tabrakan yang menyebabkan dua orang meninggal, yang melibatkan anaknya. Hal tersebut menjadi olok-olok pengguna media sosial.

Apapun hasil dari debat capres ini, bagi pendukung kedua calon, tentu tidak akan berpengaruh banyak pada perolehan suara 9 Juli mendatang. Namun, bagi massa mengambang atau swing voters, debat capres sangat berpengaruh. Tentu, dari mana sudut pandang swing voters pada debat capres tersebut. Apakah penilaian tersebut dari penampilan, artikulasi, diksi, atau substansi jawaban-jawaban yang dinyatakan kedua pasangan capres dan cawapres. (Mase Adi Wibowo).

Artikel terkait lainnya:
Pesan KH Sya’roni Ahmadi kepada Jokowi
Ini Petuah Gus Mus pada Masyarakat Menjelang Pilpres 2014

- advertisement -

Ini Pesan KH Sya’roni Ahmadi ke Jokowi

0
SEPUTAR KUDUS – KH Sya’roni Ahmadi, Kudus.

SEPUTAR KUDUS – Kiai karismatik di Kudus, KH Sya’roni Ahmadi memberi pesan dan nasihat kepada Tim Pemenangan Capres dan Cawapres Jokowi-JK wilayah Kudus. Nasihat tersebut diberikan, saat tim tersebut berkunjung di kediamannya, Sabtu (7/6/2014). Tim pemenangan Jokowi datang ke kediaman KH Sya’roni, dipimpin Musthofa, yang merupakan ketua tim.

Rombongan tim tersebut datang, untuk meminta restu dari kiai yang akrab disapa Mbah Sya’roni. Restu tersebut, tentu agar pasangan Jokowi-JK terpilih sebagai presiden dalam Pilpres 2014 yang akan berlangsung pada 9 Juli mendatang. Namun, tidak ada kata dukungan yang terucap dari Kiai Sya’roni, melainkan hanya memberi sejumlah pesan dan nasihat.

Selain itu, Musthofa yang juga Bupati Kudus meminta doa kepada beliau, agar pelaksanaan Pilres 2014 di Kudus berlangsung sukses. Dia berharap, pelaksanaan even lima tahunan untuk menentukan pemimpin itu, tidak ada kendala berarti yang dihadapi.

Nasihat KH Sya’roni yang diberikan, di antaranya, jika Jokowi terpilih sebagai presiden pada Pilpres 2014, dia diminta untuk bisa memegang amanah. Dia juga berpesan, agar setelah menjadi presiden, jadilah pemimpin yang berwibawa.

Jadilah pemimpin yang berwibawa dan mampu mengemban amanah. Selain itu pemimpin juga harus mencintai rakyat,” ujarnya, seperti ditulis Antara.

Selain itu, beliau juga berpesan, jika Jokowi kelak terpilih menjadi presiden, harus berani menegakkan keadilan. Selain itu, Jokowi juga harus melayani masyarakat dengan tulus hati, dan tidak membeda-bedakan golongan atau kelompok. Masyarakat kecil maupun besar, harus dirangkkul dengan merakyat, tanpa pandang bulu. “Pemimpin juga harus menegakkan kebenaran, kejujuran, dan mampu mengayomi masyarakat yang membutuhkan bantuan,” ujar Kiai Sya’roni. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Ini Petuah Gus Mus Pada Masyarakat Menjelang Pilpres 2014

0
SEPUTAR KUDUS – KH Musthofa Bisri (Gus Mus), Facebook.

SEPUTAR KUDUS – Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2014, penting bagi masyarakat calon pemilih melakukan instropeksi diri. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Tholibin, Rembang, KH Musthofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus, memberikan petuahnya. Petuah ini, semoga bisa menjadi bahan instropeksi dan renungan, untuk bagaimana kita bersikap dalam Pilpres 2014.

Diketahui, menjelang pesta demokrasi ini, banyak pendukung capres dan cawapres, baik Jokowi-JK maupun Prabowo-Hatta, tak segan melakukan kampanye negatif, bahkan kampanye hitam. Berikut ini petikan petuah Gus Mus kepada masyarakat, yang diposting melalui akun Facebook beliau, bagaimana menyikapi Pilpres 2014 yang segera akan digelar.

“Apabila kalian mendukung calon pemimpin tentunya kalian tidak sekedar mendukung, tapi menginginkan agar calon kalian itu benar-benar menjadi pemimpin. Untuk itu tentunya kalian perlu mempengaruhi orang agar juga mendukung calon kalian. 

Cara yang paling baik mempengaruhi orang agar ikut mendukung, ialah dengan menonjolkan kebaikan-kebaikan calon kalian. Bukan dengan memburuk-burukkan calon pemimpin saingan. Mengapa? Sebab, dengan memburuk-burukkan calon pemimpin saingan, pasti akan dibalas dengan hal yang sama. Dan dengan demikian, kedua calon pemimpin akan terlihat buruk semua di mata masyarakat yang hendak kalian pengaruhi. 

Apabila masing-masing ‘menghitamkan’ yang lain, siapakah kemudian yang terlihat ‘putih’ untuk dipilih? Pikirkanlah ini dan jangan pernah lupa bahwa semua calon pemimpin yang sedang bersaing bukanlah orang-orang asing. Mereka semua adalah putera-putera Indonesia yang menginginkan kebaikan Indonesia. Indonesia kita semua. Semoga Allah memberi hidayah kepada kita dan melindungi kita semua dari adu-domba setan yang terkutuk.

Mudah-mudahan, petuah tersebut bisa memberikan pencerahan bagi kita semua. Dan kita senantiasa bisa berpikir jernih menjelang Pilpres 2014. Sebagaimana yang ditulis Gus Mus dalam statusnya di akun Facebook beliau, kita jangan sampai terjebak dalam kekaguman semu, kemudian menilai buruk calon lain. Apalagi melakukan kampanye buruk, dan menghasut orang lain untuk melakukan hal yang sama. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Kampanye Hitam Pilpres 2014 Kudus Kelewat Batas

0
Gambar remix yang diuplod di grup Facebook Forum Silaturahmi Rakyat dan Calon Wakil Rakyat.

SEPUTAR KUDUS – Menjelang perhelatan Pemilu Presiden (Pilpres) 2014 pada 9 Juli nanti, menyisakan keprihatinan banyak pihak. Bagaimana tidak, black campaign atau kampanye hitam yang menyerang capres, Jokowi dan Prabowo dari pendukung masing-masing, bisa dibilang kelewat batas. Serangan tersebut, dilakuan para pendukung kepada capres lawan, baik melalui perdebatan lisan, maupun melalui media sosial.

Kampanye hitam banyak dilakukan para pengguna media sosial di antaranya Facebook, Twitter, Blackberry Messanger, Whats Up, dan lain sebagainya.  Hal ini juga dilakukan  masyarakat di Kudus. Kampanye hitam itu, tak jauh dari tema-tema agama, capres boneka, capres duda, dan sejumlah isu yang sebenarbnya tak berkaitan langsung dengan kepemimpinan mereka jika terpilih sebagai presiden.

Kampanye hitam yang dilakukan para pengguna media sosial, tak hanya dilakukan melalui kata-kata. Banyak dari mereka yang melakukan kampannye hitam melalui gambar remix yang diolah sedemikian rupa. Banyak dari gambar tersebut, yang bisa dikatakan tak layak, karena terlalu melecehkan martabat capres tersebut. Gambar remix itu, juga dibubuhi kata-kata, yang juga tak pantas dicantumkan.

Di sebuah grup Facebook Forum Rakyat dan Calon Wakil Rakyat, banyak anggota yang terang-terangan menyatakan dukungannya pada salah satu capres. Bahkan, banyak di antara mereka menunjukkan keunggulan capres yang didukung, baik melalui tautan sebuah berita dari media nasional, maupun melalui gambar remix, atau sekedar posting tulisan.

Namun, tak sedikit di antara anggota grup tersebut, secara terang-terangan menyerang capres lain melalui tautan sebuah berita dari media nasional, maupun melalui gambar remix, atau sekedar posting tulisan. Jelas, ini bukan sesuatu yang sehat, jika tema-tema dalam perdebatan dalam grup tersebut tak menyangkut visi dan misi capres, melainkan isu sara dan pelecehan melalui gambar remix.

Dalam gambar di samping kiri, terlihat sebuah gambar hasil penggabungan dari empat gambar. Tak ada tulisan dari gambar yang diposting dalam grup tersebut. Namun, jelas gambar ini bisa dikatakan melecehkan salah satu capres. Bagaimana tidak, salah satu capres, yakni Prabowo Subianto yang saat ini tak memiliki istri dibandingkan dengan Presiden Amerika, Presiden SBY, dan capres lawannya (Jokowi), sedang bercium mesra dengan pasangan mereka. Namun, Prabowo justru ditunjukkan ketika dicium kuda kesayangannya.

Dalam grup tersebut, juga ada sebah posting gambar yang dibubuhi sebuah tulisan, yang belum jelas sumber dan kebenarannya. Dalam gambar di samping, ditunjukkan Jokowi saat mudanya yang duduk bersanding dengan istrinya. Di bawah gambar tersebut ditulis sebuah nama tambahan, yang banyak dipercaya masyarakat sebagai nama baptis. Jelas, gambar tersebut merupakan serangan yang ke Jokwi melalui SARA. Karena, capres tersebut selama ini dikenal sebagai seroang muslim. Serangan seperti ini, tidak hanya sekali menimpa capres bersangkuta. Pada pencalonannya di pilkada Jakarta, serangan serupa juga terjadi. Partai pengusung Jokowi, PDIP dalam akun resmi Facebook, mengklarifikasi gambar itu, dan menunjukkan gambar hasil scan surat nikah seorang Muslim.

Media sosial memang sulit dikontrol. Sehingga kampanye hitam seperti ini sulit untuk dicegah. Satu-satunya yang bisa mencegah hal ini, yakni diri kita sendiri. Tak hanya dalam dunia nyata, etika dan kepatutan juga harus tetap dijaga, meskipun di dunia maya yang satu dengan yang lain tak saling berhadapan secara langsung. (Mase Adi Wibowo)

daripada kampanye hitam, lebih baik melihat video lucu di bawah ini.

- advertisement -

Inilah Daftar Kepala Desa di Kabupaten Kudus Periode 2013

0
SEPUTAR KUDUS – Pelantikan Kepala Desa di Pendapa Kabupaten Kudus. 

SEPUTAR KUDUS – Pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) di 116 desa di Kudus, digelar secara serentak pada 24 November 2014 dan diikuti 286 calon. Pelantikan kades telah digelar pada Desember 2014 lalu, di Pendapa Kabupaten Kudus. Dalam pemilihan kali ini, surat suara masih menggunakan simbol hasil pertanian di Kudus. Di antaranya, Padi untuk nomor urut satu, Ketela untuk nomor urut dua, Jagung untuk nomor urut tiga, Kelapa untuk nomor urut empat, dan Kacang untuk nomor urut lima.

Berikut daftar kepala desa di Kudus hasil pemilihan serentak yang diselenggarakan pada 24 November 2014 lalu. Semoga bermanfaat.

KECAMATAN BAE
1. PEGANJARAN: MUNAJI (KETELA)
2. PANJANG: ARIF DARMAWAN (PADI)
3. PURWOREJO: NOOR CHAMID (KETELA)
4. BACIN: TRI ELIS SUSILOWATI (PADI)
5. PEDAWANG: MOH RIFAI (PADI)
6. DERSALAM: SETYA GUNAWAN WW (KETELA)
7. KARANGBENER: SANDUNG HIDAYAT (KETELA)
8. GONDANGMANIS: ZUMROTUS SAIDAH (PADI)
9. BAE: AGUNG BUDIYANTO (KETELA)
10. NGEMBALREJO: MOH ZAKARIA (PADI)

KECAMATAN GEBOG
1. RAHTAWU: SUGIYONO (KETELA)
2. MENAWAN: MOCH SHOLIKHIN (PADI)
3. GONDOSARI: HARYANTO (PADI)
4. JURANG: MIFTAHUL HUDA (PADI)
5. KEDUNGSARI: MADEKUN (KETELA)
6. PADURENAN: ARIF CHUZAIMAHTUM (PADI)
7. KARANGMALANG: ASRIKHAH (JAGUNG)
8. KLUMPIT: SUBADI (PADI)
9. BESITO: NUR KHOSIM (PADI)
10. GRIBIG: ABDULLAH RAIS (PADI)

KECAMATAN JATI
1. NGEMBAL KULON: ARIMI (KETELA)
2. TUMPANGKRASAK: BAMBANG GUNARJO (PADI)
3. MEGAWON: NURASAG (KETELA)
4. JEPANGPAKIS: SAKRONI (PADI)
5. LORAM WETAN: NOOR SAID (KETELA)
6. GETASPEJATEN: INDARTO (PADI)
7. TANJUNGKARANG: SUMARNO (PADI)
8. JETISKAPUAN: SUDIRNO (KETELA)
9. JATI KULON: SUGENG PRASETYO (PADI)
10. JATI WETAN: SUYITNO (KETELA)
11. PASURUHAN LOR: NOR BADRI (PADI)
12. PASURUHAN KIDUL: SUNARTO (PADI)
13. PLOSO: BAMBANG GIYATA (PADI)

KECAMATAN KALIWUNGU
1. BAKALANKRAPYAK: SUSANTO (KETELA)
2. PRAMBATAN LOR: KASMARI (PADI)
3. PRAMBATAN KIDUL: MUHAMMAD ANDHI BAKHTIAR (KETELA)
4. GARUNG LOR: SITI ROFI’AH (KETELA)
5. GARUNG KIDUL: A’AN SETYAWAN (PADI)
6. KARANGAMPEL: SUWARDI (KETELA)
7. MIJEN: SUKRI (KETELA)
8. KALIWUNGU: SITI MARLIYANAH (PADI)
9. PAPRINGAN: MASRUDI (PADI)
10. SIDOREKSO: MUCHAMAD ARIFIN (KETELA)
11. GAMONG: NORYANTO (KETELA)
12. BANGET: SUYADI (KETELA)
13. KEDUNGDOWO: DAROJATUN (PADI)
14. SETROKALANGAN: EDI SISWANTO (KACANG)
15. BLIMBING KIDUL: –

KECAMATAN KOTA
1. NGANGUK: LINA ERNAWATI (KACANG)
2. GLANTENGAN: ANA MARYATI (KACANG)
3. KAUMAN: ROFIQUL HIDAYAT (PADI)
4. DAMARAN: M SAID ROMADHON (PADI)
5. SINGOCANDI: FREDDY ANDRIYANTO (PADI)
6. MLATI LOR: RINI MARYANI (PADI)
7. KRANDON: NOOR ROSYID (KETELA)
8. BARONGAN: BAMBANG JUNIATMOKO (JAGUNG)
9. BURIKAN: SLAMET WIBOWO (PADI)
10. DEMAAN: –
11. KRAMAT: SENSUS TULISTYONO (KETELA)
12. RENDENG: M YUSUF (KETELA)
13. DEMANGAN: ALEX FAHMI (PADI)
14. JANGGALAN: FATKHURROHMAN (PADI)

KECAMATAN MEJOBO
1. GULANG: MILA SUSANTI (KETELA)
2. JEPANG: INDARTO (KETELA)
3. PAYAMAN: SAYUDI (KETELA)
4. KIRIG: KAHARYUDI (PADI)
5. TEMULUS: PURWATI (PADI)
6. KESAMBI: AJI NUGROHO S (KETELA)
7. JOJO: SAMSUL HIDAYAT (KETELA)
8. TENGGELES: AMIN SANTOSO (KETELA)

KECAMATAN UNDAAN
1. BERUGENJANG: KISWO (PADI)
2. GLAGAHWARU: MAHMUDI (PADI)
3. KALIREJO: AGUS HARIYANTO (KETELA)
4. KARANGROWO: HERI DARWANTO (PADI)
5. KUTUK: SUPARDIONO (KETELA)
6. LAMBANGAN: MASIJAN (KETELA)
7. LARIKREJO: RISWOTO (KETELA)
8. MEDINI: AGUS SUGIANTO (PADI)
9. NGEMPLAK: SUTRISNO (PADI)
10. SAMBUNG: ASTUTI WIDYAWATI (PADI)
11. TERANGMAS: SUDARNO (KETELA)
12. UNDAAN KIDUL: MUMTAMAM (PADI)
13. UNDAAN LOR: EDI PRANOTO (KETELA)
14. UNDAAN TENGAH: EKHLAS PRASOJO (PADI)
15. WATES: SIRIN (PADI)
16. WONOSOCO: SETIYO BUDI (PADI)

KECAMATAN JEKULO:
1. TERBAN: AGIL WIDODO (KETELA)
2. SADANG: JAMILIN (PADI)
3. PLADEN: ZUBAEDI (PADI)
4. KLALING: SAHRI (KETELA)
5. JEKULO: EDRIS (KETELA)
6. HONGGOSOCO: BAIDOWI (PADI)
7. GONDOHARUM: RUSLAN (KETELA)
8. BULUNG KULON: RUSLAN (PADI)
9. BULUNGCANGKRING: MUHAMMAD HUSNAN (KETELA)
10. TANJUNGREJO : YULI LUKMAWATI ERA W (KETELA)
11. HADIPOLO: WAWAN SETIAWAN (KETELA)
12. SIDOMULYO: KUNARDI (PADI)

KECAMATAN DAWE
1. COLO: JONI AWANG RISTIHADI (KACANG)
2. KUWUKAN: SULARNO (KETELA)
3. JAPAN: SIGIT TRI HARSO (PADI)
4. KAJAR: VICKES YUDHA BURNAWAN (JAGUNG)
5. LAU: HERU SETIAWAN BUDI SUTRISNO (JAGUNG)
6. PUYOH: RAMENDHAN (PADI)
7. KANDANGMAS: SHOFWAN (KACANG)
8. CENDONO: MUHLISH (PADI)
9. SOCO: NYOTO (KETELA)
10. PIJI: NURUL MUSTAIN (PADI)
11. SAMIREJO: AWANG INDRA K (PADI)
12. MARGOREJO: AKHMAD BASKORO (PADI)
13. DUKUHWARINGIN: ARIS ISTIYANTO (PADI)
14. TERGO: BAMBANG KUSUDIARSO (PADI)
15. REJOSARI: MARSUDI (PADI)
16. TERNADI: ISWANTO (PADI)
17. CRANGGANG: SRI SHOLEKHAH (KETELA)
18. GLAGAH KULON: SUKARWI (KETELA)

- advertisement -

Suara Warga NU ke Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta?

0

SEPUTAR KUDUS – Pemilihan Presiden 2014 tinggal sebulan lagi. Para pendukung capres dan cawapres pun kini telah menyatakan keunggulan tokoh yang mereka dukung. Baik disampaikan melalui berbagai pertemuan, maupun melalui media massa dan sosial media.

Kabuapten Kudus, mayoritas warganya merupakan warga Nahdhatul Ulama (NU) atau Nahdhiyyin. Kemana suara mayoritas ini akan dilabuhkan, ke Jokowi-JK atau Prabowo-Hatta?

Secara bentuk, NU bukanlah organisasi politik. Hal ini sesuai dengan ditegaskannya posisi dalam khittoh yang dicetukan pada masa Kepengurusan almarhum Gus Dur. Namun, sejak dulu organisasi ini membebaskan warganya untuk memiliki pilihan politik.

Dari para tokoh NU, Partai Kebangkitan Bangsa dilahirkan. Partai ini juga telah diklaim rumah besar warga Nahdhiyyin dalam politik praktis, meski tak semua warga NU masuk dalam gerbong paryai pimpinan Muhaimin Iskandar ini.

Dalam pilpres tahun ini, PKB telah menyatakan dukungannya pada pasangan Jokowi-JK. Bahkan, Cak Imin -sapaan akrab Muhaimin Iskandar- berujar akan memberikan sekitar 12 juta suara untuk pasangan ini, tentu termasuk suara warga Nahdhiyyin di Kudus.

Dalam Pemilu Legislatif April lalu, PKB memperoleh suara cukup signifikan. Ditambah lagi, kini beberapa tokoh PKNU yang gagal mengukuti pemilu tahun ini, bergabung kembali ke PKB. Basis dukungan dua partai ini, di Kudus cukup besar. Dalah hitungan kertas, tentu dukungan warga Nahdhiyyin di Kudus yang mendukung dua partai tersebut, akan memberikan dukungan pada pasangan Jokowi-JK. Belum lagi, warga NU yang berafiliasi dengan partai selain dua partai hijau tersebut.

Namun, sebagaimana banyak dikutil, politik adalah seni dari segala kemungkinan. Gus Dur pun pernah menyatakan, warga NU falam politik tidak kemana-mana, namun ada di man -mana. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -