Beranda blog Halaman 1972

Monumen Komando Daerah Muria, Sejarah yang Terlupakan

0
monumen komando daerah muria

SEPUTAR KUDUS – Glagah Kulon secara administratif merupakan desa yang berada di Kecamatan Dawe, Kudus. Desa ini secara geografis termasuk desa yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pati, lebih tepatnya dengan kecamatan Gembong.

Sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kota ini ternyata menyimpan sejarah indah, dalam kisah heroik pertempuran muria yang tiada duanya. Bagaimana tidak? saat pemerintahan sipil Kudus lumpuh (dikuasai Belanda) para pejuang mendirikan pemerintahan militer Kudus yang berpusat di desa ini. Bupati militer saat itu Kapten Kahartan, menjadikan desa ini menjadi pusat komando perjuangan di Kudus.

Di tempat inilah, pasukan elit Macan Putih yang berjumlah 40 personil didirikan. Pasukan Macan Putih ini begitu terkenal di kalangan masyarakat sekitar Muria dan ditakuti tentara Belanda. Dalam penyergapan di wilayah Trowelo, Gembong, pasukan ini menyerang iring-iringan pasukan Belanda dan membunuh komandannya bernama kapten Van der Deisyen (keterangan Mbah Darsono, 95)

Menurut Nasir Sidiq, mantan perangkat desa setempat, masyarakat Glagah Kulon sangat aktif membantu eksistensi para pejuang. Mulai dari spionase intelejen hingga logistik. Semuanya diberikan tanpa pamrih demi perjuangan kemerdekaan negeri ini.

Untuk mengenang perjuangan kemerdekaan di desa ini, maka atas jasa baik seorang kontraktor jalan raya pada 1970 dibangun lah Monumen komando daerah Muria. Masyarakat sekitar juga menjuluki Monumen komando macan putih (KMP). Bangunan ini didirikan di bekas rumah milik Mohdirono Sarbo, yang memang pada masa revolusi digunakan sebagai markas utama Bupati Kahartan.

Almarhum Lisiyas, veteran yang ikut berjuang di area Muria bercerita, pihaknya punya keinginan untuk membuat monumen ini lebih ‘hebat’ tapi sayangnya itu baru sebatas mimpi karena tak ada dana.

Pemerintah daerah seyogyanya lebih memperhatikan aset sejarah ini. Walaupun berada di wilayah pelosok, Monumen komando daerah Muria tercatat pernah menjadi “kantor bupati”. Tentunya sejarah ini tak boleh dilupakan begitu saja, agar generasi muda dapat mengetahui dan mempelajarinya.

Penulis:

Danar Ulil
- advertisement -

UMK Bangun Muria Hospital di Ringroad Utara

1
muria hospital kudus
SEPUTAR KUDUS – Desain bangunan Muria Hospital

SEPUTARKUDUS.COM – Universitas Muria Kudus (UMK) segera akan memiliki sebuah rumah sakit yang diberi nama Muria Hospital. Lokasi rumah sakut tersebut terletak di Jalan Ringroad Utara, Desa Peganjaran, Kecamatan Gebog, Kudus. Lokasi rumah sakit itu tak jauh dari United Futsal Stadium. Pembangunan kini telah dimulai dilakukan. 

Pembangunan Muria Hospital UMK berlokasi di lahan kering, milik kampus tersebut. Rencananya, rumah sakit tersebut akan berdiri tujuh lantai, lengkap dengan fasilitas kesehatan. 

pembangunan muria hospital

Berdasarkan desain gambar yang dibuat, bangungan Muria Hospital memiliki gaya arsitektur futuristik. Terdiri dari berbagai lantai bertingkat dan memiliki halaman untuk parkir. Rumah sakit ini menyediakan berbagai fasilitas kesehatan, sebagaimana rumah sakit lain yang ada saat ini.

Gagasan pembangunan rumah sakit telah dimulai pada saat Prof DR dr Sarjadi (alm) memimpin UMK. Gagasan tersebut tak lepas dari latar belakang Sarjadi yang juga merupakan seorang dokter. Gagasan pembangunan Muria Hospital, juga tak lepas dari ide UMK untuk membuat satu fakultas baru, yakni Fakultas Kedokteran.

Dibangunnya Muria Hospital ini, menambah lagi daftar rumah sakit di kabupaten terkecil di Jawa Tengah. Beberapa rumah sakit lain yang telah berdiri, di antaranya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Lukmonohadi, Rumah Sakit Umum (RSU) Mardirahayu, Rumah Sakit Islam (RSI) Sunan Kudus, Rumah Sakit Umum (RSU) Aisyiyah, dan sejumlah rumah sakit lainnya.

rs-muria-hospital

rs muria hospital kudus

rumah-sakit-muria-hospital
- advertisement -

Pro dan Kontra Hari Lahir Kabupaten Kudus

0

Penulis: Danar Ulil Husnogroho

SEPUTAR KUDUS – Selasa, 23 September 2014 lalu Kabupaten Kudus genap berusia 465 tahun. Kota kecil yang berada di sebelah selatan Gunung Muria memasuki usia yang bisa dibilang tua dengan berbagai dinamika peradabannya. Dengan julukan “Kota Kretek” dan “Kota Santri” yang begitu populer di kalangan masyarakat luas, ternyata hari lahirnya menuai kontroversi.

Meski hari jadi Kabupaten Kudus telah ditetapkan sejak 23 September 1549 Masehi melalui Peraturan Daerah (Perda) nomor 11 tahun 1990 tertanggal 6 Juli 1990, beberapa pihak masih mempersoalkan kebenaraan dari sisi historisnya.

Bahkan Central Riset dan Manajemen Informasi (Cermin) News edisi 6, September 2001, pernah menurunkan tulisan Meluruskan Sejarah Hari Jadi Kota Kudus. Tulisan sepanjang satu halaman itu diakhiri dengan kalimat “Kita harus berani mengambil sikap untuk meluruskan sejarah. Dengan menampilkan sejarah sub versi yang berbasis kepada kebenaran historis, untuk menandingi sejarah versi resmi yang berbasis pada kekuasan dan hegemoni”.

Sejarah Perda nomor 11 tahun 1990, diawali dengan penelitian sejarah dari Universitas Gajah Mada (UGM) yang diketuai Djoko Suryo dengan anggota antara lain Sukirman selaku sejarawan dan Inajati Romli selaku arkeolog.

Sedangkan dasar pijakan mereka sebagai bahan historis adalah tentang tokoh yang akhirnya disepakati Sunan Kudus yang bernama asli As- Sayyid Dja’far Shodiq. Kemudian pijakan kedua tentang tahun. Ada dua sumber yang dapat dirujuk tim dari UGM tersebut, yaitu Condro Sengkolo Memet yang ada di Masjid Langgardalem yang rumit penafsirannya. Kemudian Condro Sengkolo Lombo yang ada di mihrab Al Masjidil Aqsha Menara, sebuah simbolisasi yang secara jelas menyebut angka, yaitu 956 Hijriah.

Selain itu, pijakan tentang tanggal ada tiga pilihan. Pilihan pertama yaitu tanggal 1 Ramadhan yang selama ini ditengarai dengan tradisi Bedug Dhandhangan berasal dari Sunan Kudus saat mengumumkan awal bulan puasa yang ditandai dengan pemukulan bedhug yang berbunyi dhang-dhang. 

Pilihan kedua tanggal 10 Muharram yang ditandai dengan tradisi Buka Luwur Kanjeng Sunan Kudus. Dan pilihan ketiga adalah 12 Rabi’ul Awwal yang merupakan peringatan kelahiran nabi Muhammad SAW. 

Akhirnya tim UGM bersama tokoh masyarakat Kudus sepakat Hari Jadi Kota Kudus jatuh pada tanggal 1 Ramadhan 956 Hijriah atau tanggal 2 Oktober 1549 Masehi. Sementara almarhum KH Turaichan Adjuhri Es-Syarofi (kiai ahli falak Kudus) mengkoversi tanggal 3 Oktober 1549 M. Namun dalam Perda yang ditanda-tangani Bupati Kudus Kolonel Soedarsono itu menjadi 23 September yang hingga sekarang masih tetap diberlakukan. 

Selain hal tersebut, ada juga penelitian yang dilakukan Claude Guillot dan Ludvik Kalus (Ilmuan Perancis) yang menetapkan tanggal 28 Rajab 956 H. Namun, Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK), KH EM Najib Hasan, mengkritisi hasil pembacaan ahli dari Perancis yang telah dibukukan, kata 28 Rajab dalam bahasa arab tidak ditemukan dalam catatan prasasti.

Dari uraian diatas kita perlu bijak memahami dasar historis kelahiran Kudus, yang bersumber dari kajian para peneliti sejarah yang objektif. Seyogyanya Pemerintah Kabupaten Kudus merangkul berbagai pihak, mulai dari peneliti sejarah, akademisi hingga tokoh masyarakat untuk “rembugan bareng” menyikapi kontroversi hari lahir Kabupaten Kudus. Sehingga hari lahir “Kota Kretek” dengan adagium “GUSJIGANG” ini dapat diterima semua pihak.






Penulis Danar Ulil Husnugraha
Ketua Komunitas JENANK (Jaringan Edukasi Napak Tilas Kabupaten Kudus)

- advertisement -

Dalang Wayang Klithik, Menjaga Warisan dalam Keterbatasan

1
SEPUTAR KUDUS – Sutikno bersama keluarganya sebelum berangkat mendalang.

SEPUTAR KUDUS – Kini Wayang Klithik telah dikenal luas. Bukan hanya karena keunikan wayang tersebut, namun juga semangat sejumlah pihak melestarikan dan mengembangkan wayang kayu itu menjalar ke sejumlah daerah. Popularitas Sutikno sebagai satu-satunya dalang Wayang Klithik ikut terangkat, meski sehari-hari dirinya hidup dalam keterbatasan.

Sutikno sering diundang untuk tampil di berbagai acara di luar kota. Termasuk di Semarang, sejumlah pihak sering mengundangnya. Sutikno diminta mempertunjukkan Wayang Klithi, tidak hanya dalam even-even kebudayaan, namun juga even lain di dalam kampus dan acara pemerintahan. 

Ketenaran dan kekaguman sebagian masyarakat terhadap dirinya, tak berbanding dengan kehidupannya sehari-hari. Sutikno kini tinggal di sebuah rumah, yang bukan miliknya sendiri. Rumah tersebut ditinggali Sutikno, berkat keprihatinan Pemerintah Desa Wonosoco. Rumah yang ditinggali bersama istri dan satu anaknya, yang masih berumur sekitar tiga tahun, sebagai balasan pemerintah desa karena jasanya sebagai dalang Wayang Klithik.

“Sehari-hari bekerja serabutan. Kadang ke sawah, kadang menjadi kuli bangunan. Tergantung siapa yang membutuhkan tenaga saya,” ujar Sutikno.

Sutikno mengatakan, tak semua yang menaruh perhatian terhadap Wayang Klithik dan dirinya selalu memiliki niat baik. Terkadang ada sejumlah pihak yang memanfaatkan keahlian unik yang dimilikinya menjadi dalang Wayang Klithik. Dia bercerita, pada suatu acara dia diundang untuk ndalang membawakan Wayang Klithik. Honor yang diberikan, ternyata dipotong oleh perantara dirinya dengan panitia. 

“Masak honor dia (perantara) dengan saya hampir sama. Saya ndalang semalam suntuk. Lah dia tidak melakukan apa-apa,” keluhnya. 

Meski begitu, pria yang hanya lulus sekolah dasar (SD) itu tidak begitu mempersoalkannya. Baginya, rezeki sudah ada yang mengatur. Dia berharap bisa membahagiakan keluarga, dan tetap menjadi dalang Wayang Klithik. Kini dia aktif mendidik sejumlah pemuda di Desa Wonosoco menjadi dalang seperti dirinya. Dia ingin ada banyak generasi penerus yang bisa mewarisi dirinya sebagai dalang Wayang Klithik.

- advertisement -

Sutikno, Satu-satunya Dalang Wayang Klithik Desa Wonosoco

0
SEPUTAR KUDUS – Sutikno dalang Wayang Klithik Desa Wonosoco.

Tangannya begitu terampil memainkan wayang di Sendang Gading, Desa Wonoco, Kecamatan Undaan, beberapa waktu lalu. Dia memainkan wayang yang tak biasa, Wayang Klithik. Terbuat dari kayu berbentuk pipih, dan bukan wujud tokoh-tokoh dalam cerita Mahabarata sebagaimana wayang kulit pada umumnya. Wayang dimainkannya itu merupakan tokoh-tokoh kerajaan dalam kisah Majapahit.

Sejumlah warga desa menonton pertunjukan tersebut, tak jauh dari mata air Sendang Gading. Tak hanya para pria, sejumlah perempuan dan anak-anak juga menyaksikan kemeriahan pertunjukan itu.

Sutikno, adalah dalang yang memainkan pertunjukan wayang tersebut. Dirinya begitu terampil memainkan wayang, sekaligus mengisahkan cerita dalam setting kerajaan yang melegenda di Tanah Air. Dia merupakan pawaris dalang Wayang Klithik, yang bisa dikatakan satu-satunya di Kudus, Jawa Tengah, atau bahkan di Indonesia. Dia mewarisi kemahiran mendalang wayang khas tersebut, dari ayahnya, Sumarlan.

Hari itu, Sutikno memainkan wayang dalam tradisi Resik-Resik Sendang, yang selalu dilakukan setiap tahun. Tradisi tersebut telah berlangsung sangat lama di desa tersebut. Dalam tradisi tersebut, pentas Wayang Klithik merupakan hal wajib yang harus dilakukan. Tradisi itu bertujuan menjaga mata air yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat di desa ujung kabupaten.

“Sebenarnya dulu saya belajar menjadi dalang yang memainkan wayang kulit dengan cerita Mahabarata. Karena saya merupakan keturunan tokoh dalang di desa ini untuk memainkan Wayang Klithik dalam tradisi Resik-Resik Sendang, saya kemudian belajar,” ujar Sutikno kepada pada Agustus lalu.

Saat ini, dirinya menggantikan ayahnya menjadi dalang tetap dalam pertunjukan Wayang Klithik, setiap digelarnya tradisi Resik-Resik Sendang. Pertunjukan wayang tersebut digelar dua kali di dua dari tujuh sendang yang terdapat di desanya. Dua sendang tersebut yakni Sendang Dewot dan Sendang Gading.

Kini, Sutikno merupakan satu-satunya dalang yang bisa memainkan Wayang Klithik, lengkap dengan ceritanya. Belum ada satupun dalang yang bisa memainkan wayang khas desa tersebut, lengkap dengan ceritanya.

“Saya ingin tetap dikenal dan dikenang sebagai dalang Wayang Klithik. Saya bangga bisa mempertahankan warisan leluhur kami. Ini bukan sekadar pertunjukan yang menghibur. Ini adalah warisan yang tetap harus kami jaga, sampai kapanpun,” tutur Sutikno.

- advertisement -

Wayang Klithik Desa Wonosoco, Warisan Tak Ternilai

0

SEPUTAR KUDUS – Wayang Klithik Desa Wonosoco.

SEPUTAR KUDUS – Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, merupakan satu-satunya di Kudus, bahkan mungkin di Jawa Tengah, yang memiliki Wayang Klithik. Desa yang terletak di ujung selatan kabupaten itu, hingga kini masih menjaga warisan tak ternilai tersebut.

Satu-satunya dalang di Desa Wonosoco yang bisa memainkan wayang tersebut, Sutikno menjelaskan, disebut Wayang Klithik, karena saat dimainkan berbebunyi “klikthik”. Wayang tersebut terbuat dari kayu seperti wayang golek, namun berbentuk pipih menyerupai wayang kulit.

Dia menceritakan, wayang tersebut merupakan warisan para leluhur di Desa Wonosoco. Wayang Klithik selalu dimainkan saat digelarnya tradisi Resik-Resik Sendang. Tradisi itu selalu diselenggarakan setiap satu tahun sekali.

Tradisi Resik-Resik Sendang, merupakan bentuk syukur masyarakat desa setempat karena karunia mata air yang memberi kehidupan bagi masyarakat. Di desa tersebut memiliki sembilan mata air. Tradisi Resik-Resik Sendang diselenggarakan di dua sendang, dari sembilan sendang yang ada. Dan pagelaran Wayang Klithik, tak bisa dipisah dari tradisi tersebut. 

“Berbeda dengan wayang kulit pada umumnya, Wayang Klithik membawakan cerita tentang Majapahit, bukan Mahabarata. Cerita yang diangkat, asli dari Indonesia,” ujar Sutikno.

Sutikno mewarisi kemahiran memainkan Wayang Klithik dari ayahnya, Sumarlan. Dia merupakan dalang yang juga diberi mandat untuk memainkan Wayang Klithik, setiap digelarnya tradisi Resik-Resik Sendang. Dari ayahnyalah, dia belajar cara memainkan wayang, dan membawakan cerita tentang kerajaan Majapahit. 

Asal muasal keberadaan Wayang Klithik tersebut, Sutikno mengaku tidak mengetahuinya secara pasti. Pagelaran wayang setiap tradisi desa tersebut, telah berlangsung sejak lama. Dia tidak mengetahui awal keberadaan wayang yang membawa cerita kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara tersebut.

Meski begitu, dia bertekad akan mempertahankan tradisi tak ternilai warisan dari leluhurnya itu. Kini, dia bersama pemerintah desa setempat melakukan pembinaan terhadap generasi muda di desanya untuk belajar mendalang. Selain itu, di bersama pemerintah desa juga terus mempromosikan Wayang Klithik. 

- advertisement -

Kelas Sosial Sebuah Bak Truk

0

Oleh Malik Khoirul Anam
(Pengurus PMII Cabang Kudus)

SEPUTAR KUDUS – Seringkali kita melihat gambar di berbagai tempat tak terkecuali di jalan yang tanpa kita tahu maksud dan tujuannya. Seperti contoh saat kita berkendara di jalan raya yang tidak jarang kita melihat bak truk yang bergambar wajah seseorang. Dan dari deretan gambar-gambar yang banyak kita jumpai, gambar wajah Soekarno, Che Guevara dan Iwan Fals cukup mendominasi.

Entah karena memang hobi, iseng atau karena tren banyaknya, para pemilik truk memuat gambar-gambar tersebut di bak kendaraannya. Lalu siapa para tokoh tersebut dan mengapa para awak truk yang kebanyakan para buruh memuat gambar mereka. Tentu para sopir atau kernet memiliki alasan memuat gambar mereka, karena para tokoh tersebut pilihan merupakan orang pilihan pada zamanya.

Dalam strukur masyarakat dikenal kelas sosial. Di mana ada pemilik modal dan buruh. Hal tersebut memungkinkan terjadinya ketimpangan sosial di dalam struktur masyarakat. Dan selalu dirugikan adalah para buruh karena sering mendapat perlakuan tidak adil. Misal, upah buruh yang tak layak karena tidak sesuai dengan apa yang dikerjakan. Meminjam istilah dalam Karl Marx sering disebut nilai lebih.

Tak dapat dipungkiri bahwa teori manusia yang paling sederhana adalah agar bisa tetap survive atau bertahan hidup dan agar bisa mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Belum lagi jika mereka sudah berkeluarga dan harus mencukupi kebutuhan dirinya sendiri dan keluargannya.

Lebih jauh, bahwa dalam Islam diterangkan, bahwa tugas utama manusia di bumi adalah “khalifah fil ard” yang artinya menjadi pemimpin di bumi. Penjabarannya, menjadi pribadi manusia dan pemimpin yang mampu menjadi suri tauladan buat sesamanya untuk menuju jalan kebaikan dan keadilan. Dan buruh adalah satu dari beberapa struktur masyarakat yang secara ekonomi serba pas-pasan dan masih dalam taraf berjuang untuk dirinya sendiri serta keluarganya.

Menjadi tanggung jawab negara untuk menciptakan kesejahteraan tanpa membeda-bedakan kelas sosial di masyarakat. Dan ketiga tokoh yang gambarnya akrab dengan bak truk itu adalah orang yang bekerja untuk membela kemanusiaan pada zamannya. Jadi tidak heran jika masyarakat kususnya kaum buruh akrab dengan ketiga tokoh itu.

- advertisement -

Persiku Degradasi, Pecinta Bola Kudus Berduka

0

oleh: Danar Abdullah

SEPUTAR KUDUS – Sabtu, 23 Agustus 2014 merupakan hari di mana ribuan pecinta bola di Kudus menangis dan berduka. Bagaimana tidak, klub sepakbola kebanggaannya Persiku (Persatuan Sepakbola Indonesia Kudus) dinyatakan degradasi dari Liga Divisi Utama. Dan yang menyesakkan dada, tim yang mengubur Macan Muria (julukan Persiku) adalah seteru abadinya, PSIR Rembang. Persiku takluk 2-0 di Stadion Krida, Rembang.

Tiga klub yang sebelum laga terakhir berada di bawah Persiku, Persipur Purwodadi, PPSM Magelang dan Persip Pekalongan, sukses menyalip di tikungan akhir melalui kemenangannya masing-masing. Entah, siapa yang patut disalahkan atas kegalalan ini. Yang pasti harga diri penggemar bola Kudus menukik tajam di titik nadzir.

Rentang waktu 2008-2014 di Liga Divisi Utama menjadi nostalgia, yang jika diingat dinamikanya semakin mumbuat duka. Masih terekam kuat dalam memori saat saya masih duduk di kelas V SD (tahun 2003). Saat itu Persiku Kudus mulai berbenah diri menyambut kompetisi Divis II A Regional Jawa Tengah. Ekspektasi pecinta bola Kudus begitu hebat menyambut kehadiran tim Persiku sejak 1994 mati suri (tidak ikut kompetisi).

Tak kurang, pelatih sekelas Edy Paryono yang membawa PSIS juara Divisi Utama Liga Indonesia didatangkan untuk membawa Macan Muria promosi. Stadion Wergu Wetan bergelora setiap Macan Muria berlaga. Pada musim kompetisi 2003/2004 Persiku sukses merebut posisi kedua di Liga Divisi II A Jawa Tengah.

Suporter Persiku juga tak mau kalah mendukung tim pujaannya. Saat itu dibuat gebrakan luar biasa yang masuk rekor MURI dengan membuat benderasuporter sepakbola terbesar di Indonesia oleh Suporter Macan Muria (SMM).

Prestasi pun berlanjut di musim kompetisi 2005/2006 saat Persiku menjadi juara Divisi II Nasional. Di final, Macan Muria mengalahkan Perserang Serang. Tiket promosi pun digenggam menuju Liga Divisi I Nasional. Di sana ternyata hanya cukup dua musim Persiku berlaga (2006/2007 dan 2007/2008). Karena pada 2008 Macan Muria masuk ke kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia melalui tangan dingin Pelatih Subangkit.

Rentang waktu 6 tahun (2008-2014) menjadi masa-masa penuh dinamika bagi Persiku. Di satu sisi masalah finansial menjadi masalah klasik menghadapi kompetisi. Bahkan sampai mengantarkan ke babak play off laga hidup mati bertahan di Liga Divisi Utama melawan Persis Solo di musim kompetisi 2009-2010.

Namun terdapat juga prestasi di tahun 2011 saat menjuarai turnamen MNC Cup di Rembang. Hingga akhirnya pada 2014 ini menjadi tahun kelam bagi Persiku Kudus.
Sulit membayangkan, bagaimana hancurnya perasaan pecinta Macan Muria terhadap nasib tim pujaannya. Semoga secepatnya Persiku kembali ke Liga Divisi Utama.

- advertisement -

Persiku Degradasi, Taring Macan Muria Tak Lagi Bertuah

0

SEPUTAR KUDUS – Klub sepak bola kebanggan Kota Kretek Persiku Kudus harus menelan pil pahit di musim pertandingan kali ini. Taring Macan Muria tak lagi memiliki tuah untuk menaklukkan lawan-lawannya. Dirundung masalah bertubi-tubi, dari persoalan manajemen hingga finansial, klub yang pernah mencicipi kasta tertinggi Liga Indonesia ini akhirnya jatuh ke jurang degradasi.

Kepastian Laskar Macan Muria terperosok di jurang paling bawah Liga Utama musim ini, setelah takluk dari musuh bebuyutannya, PSIR Rembang dengan skor 2-0 tanpa balas, di kandang lawan. Anak-anak Persiku tak mampu menahan gempuran anak-anak Laskar Dampo Awang, dan tak cukup kuat menjebol pertahanannya.

Kekalahan dan prestasi terburuk yang dialami Persiku tahun ini, merupakan puncak carut-marutnya pengelolaan klub oleh manajemen. Bahkan, cerita sedih para pemain yang tak mendapat hak gaji beberapa bulan beberpa waktu lalu, hingga tak mendapat jatah makan lagi di mes mereka, mewarnai buruknya kondisi Macan Muria. Para pemain sempat mogok latihan, dan pulang kampung meninggalkan mes mereka, dilakukan karena tak mendapat hak yang harus mereka terima sebagai pemain bola profesional.

Nasi sudah menjadi bubur. Kenyataan pahit harus diterima semua pihak, termasuk suporter dan masyarakat yang mendukung dan membanggakan Macan Muria. Bisa jadi degradasi yang dialami Persiku tahun ini, membuat para pendukung mengalami dejavu, seolah ini hanya mimpi. Namun inilah kenyataan.

Pergantian manajemen menjelang akhir musim beberapa bulan lalu, ternyata tak cukup ampuh, setidaknya untuk mempertahankan Macan Muria di kasta tengah Liga Divisi Utama musim ini. Manajemen baru, terbukti tak cukup ampuh memberikan harapan bagi publik pecinta sepak bola di Kudus. Bahkan, manajemen baru benar-benar membuktikan mimpi buruk dan ketakutan pendukung Persiku bahwa klub kebanggaan mereka akan gagal musim ini.

Ini harus menjadi cermin bagi siapapun yang mengaku mencintai Macan Muria. Era sepak bola profesional yang mengharamkan penggunaan uang rakyat untuk membantu klub secara finansial, harus difahami secara mendalam. Kondisi tersebut harus menjadi titik tolak, tidak hanya bagi manajemen, namun juga semua pihak, termasuk para tokoh dan pendukung.

Manajemen, ke depan harus berfikir bagaimana bisa mengangkat lagi Macan Muria agar bisa mengaum. Manajemen tidak boleh memiliki kepentingan apapun, selain mengangkat prestasi Persiku secara profesional. Dengan begitu, manajemen tidak akan lagi kesulitan mendapat dana untuk menggaji pemain dan pelatih secara layak, dan membuat pertandingan tandang di Gor Wergu Wetan menjadi hiburan bagi masyarakat.

Dengan begitu, manajemen akan mudah mendapat dukungan sponsor. Apalagi, sebagai kota industri, Kudus memiliki banyak perusahaan besar yang tentu akan memberi dukungan besar jika memang prestasi Persiku mampu memberi kebanggan. Tak usah khawatir adanya larangan sponsor produk rokok, karena ada perusahaan lain selain produsen rookok yang akan mau membantu.

Bagi para suporter, dukungan nyata yang harus diberikan tidak hanya teriakan dan nyanyian dukungan untuk Laskar Muria. Dukungan harus diberikan secara riil, dengan membeli tiket pertandingan, tanpa potongan harga, apalagi tiket cuma-cuma. Karena klub-klub profesional membuktikan, dana dari tiket cukup besar untuk menyokong keberlangsungan klub.

Degradasi bukan akhir dari segalanya. Kesempatan masih terbuka lebar untk Laskar Macan Muria kembali mengaum dan membuat musuh-musuhnya ciut nyali. Dengan catatan, pengelolaan klub benar-bemar dilakukan secara peofesional, tanpa kepentingan lain, termasuk kekuasaan maupun kepentingan kantong pribadi. Persiku tak hanya milik manajemen yang memegang legal formal penglolaan, namun publik oecinta sepak bola di Kudus juga memiliki hak untuk bangga dengan klub sepak bola yang memiliki sejarah panjang di kancah persepakbolaan di tanah air ini. Bravo Macan Muria. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Bijaklah Saat Bertinteraksi di Dunia Maya

0

SEPUTAR KUDUS – Dunia maya, termasuk jejaring sosial, yang memuat interaksi netizen (pengguna internet) melalui jaringan internet tak sesimpel yang dibayangkan. Sebagaimana kehidupan nyata, dunia maya memiliki norma-norma dan asas kepatutan yang tak boleh dilanggar. Ada etika tak tertulis saat berinteraksi yang tetap harus ditaati.

Kemudahan akses internet membuat jumlah netizen berkembang pesat, tak terkecuali di Kudus. Hal itu juga ditunjang dengan biaya dan perangkat yang kian hari kian murah dan canggih. Apalagi, munculnya media jejaring sosial yang memanjakan netizen untuk saling berinteraksi, membuat mereka semakin nyaman berlama-lama berkomunikasi dan berinteraksi melalui jaringan kawat.

Namun, tak jarang pengguna internet sering bersikap kelewat batas. Mereka tak mengindahkan etika, sehingga memposting ungkapan yang kadang tak pantas. Hal ini sering terihat dalam komentar-komentar yang diunggah merespon tulisan atau gambar, artikel, atau status pengguna jejaring sosial lainnya. Kata-kata yang ditulis, tak jarang pedas, keras, bahkan tak pantas.

Mungkin, tidak segannya netizen menulis kata-kata tersebut karena interaksi yang berlangsung tak saling bertatap muka. Dan mungkin saja, itu berani dilakukan karena tak saling mengemal pengguna internet satu sama lain. Serta, mungkin akun yang digunakan merupakan akun anonim, yang tak dikenali pengguna inyernet lain. Sehingga mereka secara bebas mengekspresikan hal-hal di luar batas etika.

Internet sebenarnya merupakan teknologi informasi yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.  Kecanggihannya bisa memangkas jarak dan tak terbatas waktu. Bahkan saat ini teknologi informasi bisa menyuguhkan audio visual secara real time yang bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi jarak jauh. Teknologi ini berkembang begitu cepat, dan tak bisa dibendung. Baik teritorial, negara, hingga pembatasan-pembatasan melalui aturan, tak mampu menangkisnya.

Selayaknya, teknologi informasi yang bermanfaat ini bisa digunakan secara bijak. Etika dan aturan moral tak terrulis, teyap harus ditaati. Sehingga, interaksi yang terbangun melalui jaringan internet tetap sehat, dan memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. 

Penulis: Syaifudin Bachri, aktif dalam Jaringan Gusdurian Kudus.

- advertisement -

Anggota DPRD Kudus Dilantik, PMII Gelar Tahlilan di Gedung Dewan

0
SEPUTAR KUDUS – Anggota PMII Cabang Kudus menggelar tahlilan dan doa bersama di depan gedung DPRD Kudus. 

SEPUTAR KUDUS – Anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus menggelar tahlilan di depan gedung DPRD Kudus, Kamis (21/8/2014). Kegiatan tersebut digelar menyambut anggota DPRD Kudus periode 2014-2019 yang dilantik kemarin.

Koordinator kegiatan Malik Khoirul Anam mengatakan, tahlilan tersebut sengaja dilaksanakan untuk mendoakan anggota deaan yang dilantik. Anggota PMII Kudus, kata mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) semester 9 itu, berharap 45 anghota dewan yang dilantik bisa amanah.

Menurutnya, selama ini citra buruk anggota legislatif disematkan masyarakat karena kinerja yang buruk. Sebagian besar anggota legislatif lebih mementingkan kepentingan golongan dan pribadi, ketimbang kepentingan rakyat yang merek a wakili.

“Dengan acara tahlilan dan doa bersama ini, mudah-mudahan mereka mendapat bimbingan dan petunjuk. Mereka bisa mengemban tugas dari rakyat dan memperjuangkan aspirasi sebaik-baiknya,” ujar Anam.

Dalam kegiatan tersebut, kata Anam, anggota PMII Kudus sengaja mengenakan sarung dan peci. Pakaian tersebut dikenakan untuk menyesuaikan kegiatan yang dilaksanakan. “Karena acaranya tahlilan dan doa bersama, selayaknya kami mengenakan pakaian yang rapi, sebagaimana yang kenakan masyarakat saat menggelar acara seperti ini. Meskipun, tujuan dan lokasi acara tidak lazim, sebagaimana masyarakat menggelar tahlilan,” jelasnya.

Acara tersebut mendapat pengawalan petugas keamanan yang bersiaga di lokasi pelantikan anggota dewan tersebut. Petugas keamanan tidak hanya dari Polres Kudus, namun juga Satpol PP Kudus. Acara berlangsung hikmat, dan anggota PMII membubarkan diri secara tertib.

Pengirim: Pengurus PMII Cabang Kudus

- advertisement -

Menanti Gebrakan Presiden Mahasiswa UMK yang Baru

0

SEPUTAR KUDUS – Gerakan mahasiswa, khususnya dari organisasi intra kampus dalam beberapa tahun terakhir ini seakan mati suri. Wajah-wajah eksekutif mahasiswa yang dulu sering muncul di di media massa, tak tampak. Apakah mungkin kondisi Kudus dianggap telah mapan oleh tokoh-tokoh mahasiswa intra kampus. Ataukah mereka tak paham tentang kondisi sosial yang terjadi di masyarakat.

Saat ini di Kudus berdiri dua kampus besar, dan memunculkan tokoh-tokoh mahasiswa di tengah masyarakt. Dua kampus tersebut, yak Universitas Muria Kudus (UMK) dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus. Tokoh-tokoh mahasiswa tersebut, pada medio 2003 hingga 2009 berperan aktif dengan tokoh mahasiwa ektra kampus dan elemen masyarakat lainnya, mendorong perubahan di Kudus.

Setelah medio tersebut, tak terdengar lagi “teriakan” para eksekutif mahasiwa dari dua kampus itu. Terjadi degradasi gerakan dan pemikiran mahasiswa. Bahkan, terjadi “kriminalisasi” gerakan dan pemikiran kritis mahasiswa, yang berkembang di antara mahasiswa. Entah dari mana penggembosan gerakan tersebut. Bisa jadi dari dalam kampus, dan bisa jadi dari kejenuhan dan kebosanan terhadap kondisi sosial pasca-Reformasi.

Pada Rabu (20/8/2014 dini hari, terpilih presiden mahasiswa baru dalam Kongres Mahasiswa di Gedung Rektorat UMK. Mahasiswa terpilih menjadi presiden, yakni Mujib Soleh. Dia merupakan mahasiwa yang selama ini aktif terlibat gerakan dan pemikiran di organisasi ektra kampus. Organisasi kemahasiswaan ektra tersebut, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sunan Muria.

PMII merupakan organ ekstra kemahasiswaan yang memiliki garis hirarkis hingga ke tingkat nasional. Sejumlah tokoh nasional yang dulu bergabung dengan PMII, di antaranya Muhaimin Iskandar dan Nusron Wahid. Dua sosok tersebut pernah menjadi ketua umum organisasi tersebut.

Terpilihnya Mujib sebagai presiden mahasiswa baru, dan dari organ gerakan dan pemikiran ekstra kampus, menjadi beban sekaligus tantangan dan kesempatan. Dengan pengalaman dan keilmuan yang selama ini di organ mahasiswa ekstra kampus terbesar di Kudus itu, seharusnya ada pembeda dengan eksekutif mahasiswa yang beberapa tahun terakhir ini tak tampak. Semoga. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Kakuati, Bahasa Jawa Khas Kudus Ternyata Unik

8
SEPUTAR KUDUS – Ilustrasi Bahasa Jawa khas Kudusan.

SEPUTAR KUDUS – Anda sedang mendengar orang berbicara odhak ndandeh, odhak ndenger, nggonem, engko pek, ape mangkat, puteh, ngeleh, piye tah, lapo tah, hola-holo, atau umpatan khas, kakuati, berarti anda sedang ada di Kota Kretek, Kudus. Kata, frasa, dan ungkapan tersebut merupakan beberapa di antara kata dalam Bahasa Jawa khas Kudus, yang hingga kini masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari. 

Beberapa Bahasa Jawa Kudusan yang mudah dikenali, kata “mu” yang menunjukkan kepemilikan, berubah menjadi “em”. Misalnya, nggonmu berubah menjadi nggonem, atau mbokmu berubah menjadi mbokem. Contoh lain, klambimu berubah menjadi klambiem atau klambinem, sepatumu berubah menjadi sepatuem atau sepatunem.


Di dalam Bahasa Jawa Kudusan, kata yang diakhiri “ih” berubah menjadi “eh”. Misalnya kata putih menjadi puteh, kata ngelih berubah menjadi ngeleh, kata ngalih berubah menjadi ngaleh. Contoh kata lain yang sering diucapkan, kata mulih berubah menjadi muleh.   

Kata khas lainnya dalam dialeg masyarakat Kudus yang masih sering digunakan, yakni “tah”. Kata tersebut serupa dengan kata “sih”, yang digunakan masyarakat Jepara, dan “leh” oleh masyarakat di Pati. Misalnya, piye sih, oleh masyarakat Kudus akan berubah menjadi piye tah. Contoh lain, lapo leh, oleh masyarakat Kudus akan berubah menjadi lapo tah.


Kurang lengkap jika tidak menginventaris umpatan dalam tulisan ini. Seperti di daerah lainnya, masyarakat di Kudus juga memiliki umpatan-umpatan khas yang masih bisa didengar hingga saat ini. Di tingkatan umpatan paling rendah, dan banyak masyarakat Kudus melafalkannya, yakni kakuati. Di grade yang lebih tinggi ada kata kangkrengane. Kata tersebut mirip kata kakekane, sebuah umpatan khas Semarang.

Kata umpatan yang dilafalkan dengan nada lebih tinggi, yakni dianthoki, atau sering diperpendek menjadi thoi. Kata tersebut mirip dengan kata jancuk, umpatan khas Jawa Timuran. Dan, umpatan dengan level nada tertinggi, yakni menyebut organ tubuh seseorang yang diumpat, ditambah akhiram “em”. Misalnya, mataem, cangkemem, ususem, dan lain sebagainya. Sedangkan kata yang khas yang untuk menilai orang yang kurang pandai, digunakan kata hola-holo. Kata tersebut serupa dengan kata pekok, yang sering diucapkan orang Semarang. 

Sejumlah kata lain Bahasa Jawa khas Kudusan, di antaranya ndipek (disik) atau sering dipendekkan menjadi pek. Kata opo-opo atau sering dipendekkan menjadi popo, di Kudus berubah menjadi ndandeh. Sedangkan kata ngerti, di Kudus akan berubah menjadi ndenger. Dan kata ameh atau meh, di Kudus akan berubah menjadi ape.


Sebenarnya ada banyak kata atau frasa dan ungkapan khas Kudusan lainnya. Namun, karena keterbatasan waktu riset, membuat tulisan ini sedikit dangkal, karena hanya bersumber dari tutur masyarakat sehari-hari. Jika ada yang serius membuat riset tentang Bahasa Jawa khas Kudusan ini lebih dalam, bahkan bisa dibuat menjadi kamus, tentu akan sangat menarik, bukan?   

Penulis: 
Mase Adi Wibowo

- advertisement -

Merdeka Itu Ketika Tak Ada Jalan Rusak di Kudus

0
SEPUTAR KUDUS – Jalan penghubung desa di Gribik, Kudus, rusak.

SEPUTAR KUDUS – Masyarakat memiliki pandangan berbeda tentang makna kemerdekaan. Namun, bagi masyarakat di Kecamatan Undaan, khususnya yang terdampak bobroknya infrastruktur jalan, mungkin akan menilai, merdeka itu ketika tidak ada jalan rusak.

“Kudus itu kota industri,  kabupaten yang relatif lebih maju dibanding dengan kabupaten lain di Pantura timur. Pembangunannya relatif bagus dibanding kabupaten lain. Tak mungkin ada inftrastruktur jalan rusak”

Kalimat tersebut mungkin benar, tapi juga bisa salah. Benar memang, jalan-jalan perkampungan, khususnya di Kecamatan Undaan, bisa dikatakan tak ada yang jelek. Bahkan sebagian besar dibuat dari beton, mulus. Tapi salah jika dikatakan tidak ada jalan rusak. 

Di jalan penghubung Desa Kalirejo dan Desa Berugenjang, kondisinya memprihatinkan karena rusak parah. Demikian halnya dengan kondisi penghubung Desa Glagah Waru dan Desa Kuthuk. Kondisi tersebut telah berlangsung beberapa tahun terakhir, tanpa ada upaya perbaikan.

Kenapa jalan kampung bisa bagus, sedangkan jalan penghubung desa kondisinya memprihatinkan? Jalan kampung dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Jangankan jalan, gapura desa saja yang hanya kebutuhan tersier masyarakat, didibangun sedemikian megahnya. Apalagi jalan yang merupakan kebutuhan primer masyarakat.

Lalu, kanapa jalan penghubung desa dibiarkan dengan kondisi seperti itu? Tanyakan saja pada pemangku kebijakan di kabupaten salah satu penyumbang pajak tembakau terbesar di Indonesia ini. Merdeka!!! (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -

Sholawat Asnawiyah, Bukti Cinta KHR Asnawi Terhadap Bangsa Ini

0
Kiai Haji Raden (KHR) Asnawi

SEPUTAR KUDUS – Syair yang digubah KHR Asnawi dalam Sholawat Asnawiyah begitu indah untuk diresapi. Dalam beberapa bait, satu di antara pendiri tokoh pendiri organisasi massa terbesar di Indonesia ini, menulis syair berisi kecintaanya terhadap bangsa.

// Aman aman aman aman // Indonesia Raya aman // Amin amin amin amin // Ya Robbi Robbal alamain //

Syair tersebut di atas merupakan penggalan dari sejumlah bait Sholawat Asnawiyah. Dalam syair itu tertulis harapan KHR Asnawi terhadap Indonesia. Dalam syair juga diselipkan doa beliau kepad Tuhan yang Maha Esa.

Sholawat Asnawiyah masih sering dilafalkan dalam acara-acara yang diselenggarakan masyarakat, misalnya saat pengajian, atau bahkan puji-pujian yang dilantunkan di masjid dan mushola, sebelum sholat fardlu. Pupularitas sholawat yang diciptakan KHR Asnawi ini, bahkan diamalkan masyarakat saat ini, meski tanpa mengetahui sosok penciptanya.

Dalam sholawat Asnawiyah, tergambar sanagt jelas bagaimana kecintaan pemangku agama dan pemimpin umat saat itu. Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) saat itu tidak hanya dinilai sebagai wujud negara atau nation state, namun juga entitas kultur, budaya, dan keberadaan para leluhur pendahulu.

Saat ini, muncul berbagai ide yang mempertanyakan kembali ide Pancasila dan UUD 45. Konsepsi yang dibuat para pendiri bangsa untuk membentuk negara yang besar dengan segala keberagamannya. Ide itu sengaja dimunculkan, dengan atas nama agama dan predikat Indonesia sebagai negara dengan jumlah Muslim di dunia.

Ide-ide yang merongrong Pancasila dan UUD 45 tersebut, sebenarnya telah muncul, sebelum NKRI diproklamasikan 69 tahun lalu. Namun, para tokoh pendiri bangsa, termasuk para kelompok Islam inklusif mampu meredam ide tersebut.  Mereka bersama kelompok nasionalis menganulis teks Piagam Jakarta, yang tak sejalan dengan konsepsi Piagam Madinah.

Sholawat Asnawiyah, sebagaimana konsepsi Pancasila dam UUD 45, mampu menginternalisasi ide keberagaman, perdamaian, dan kesetaraan dalam keadilan. Konsep yang dituangkan dalam gubahan syair sholawat, ternyata sangat diterima masyarakat, khsusnya umat Islam, hingga saat ini.

Kata “Islam” memiliki makna damai. Islam tidak diturunkan untuk menghapus perbedaan, apalagi menolak perbedaan dengan kekerasan. Sholawat Asnawiyah, merupakan satu wujud makna Islam, yang diejawantahkan mellaui kecintaan terhadap bangsa ini. Bangsa menghargai perbedaan, melindungi hak-hal sosial, dan memberi kedamaian. (Mase Adi Wibowo)

- advertisement -