Beranda blog Halaman 1895

Pertama Kali Dibuka di Jawa Tengah, Lazizaa Chicken And Pizza Kudus Pecahkan Rekor

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI LOR – Di tepi utara Jalan Pramuka no 48 Kelurahan Mlati Lor, Kecamatan Kota, Kudus tampak beberapa orang keluar masuk bangunan dengan pintu terbuka. Di dalam bangunan tersebut terlihat beberapa karyawan sibuk menyajikan aneka menu yang dipesan para pelanggan yang tampak mengantre panjang. Tempat tersebut yakni Lazizaa Chicken And Pizza cabang Kudus, menjual menu ayam dan pizza.

Pengunjung Lazizaa Chicken And Pizza Kudus mengantre 2017_5_21
Pengunjung Lazizaa Chicken And Pizza Kudus mengantre. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Supervisor Laziza Chicken And Pizza Kudus Moh Faiz (23), mengungkapkan, sejak dibuka Jumat (5/5/2017), tempat makan yang dia kelola selalu ramai dikunjungi pembeli. Bahkan, sejak grand opening hingga sekarang mampu memecahkan rekor penjualan dari cabang-cabang sebelumnya di sejumlah daerah di Jawa Timur.

“Sejak grand opening hingga saat ini, penjualan aneka menu di Lazizaa Chicken And Pizza masih lebih laris dari dari 39 cabang yang sudah ada. Dari awal buka penjualan kami tetap stabil dan mampu menghabiskan 200 ekor ayam dalam seharidan mampu menjual 275 porsi pizza dengan berbagai ukuran. Berbeda dengan cabang sebelumnya yang mampu mejual separuhnya dari jumlah porsi tersebut,” ungkap pria yang akrab disapa Va saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria asal Sumenep, Jawa Timur, itu mengatakan, Lazizaa Chicken And Pizaa dirintis sejak 2015 di Sidoarjo oleh  Yudha Setiawan. Menurutnya sejak saat itu, Lazizaa Chicken And Pizza sudah memiliki 39 cabang yang tersebar di beberapa daerah di Jawa Timur. Dan pada tahun ini mulai merambah ke sejumlah daerah di Jawa, dan Kudus merupakan cabang pertama di Jawa Tengah.

Sekarang Lazizaa Chicken And Pizza punya 40 cabang termasuk di Kudus kerjasama dengan investor dengan sistem franchise. Dan bagi para investor yang ingin menjadi franchise Lazizaa Chicken And Pizza bisa menghubungi ke nomer 1500455. Menurutnya, tempat kerjanya tersebut menyajikan aneka olahan ayam dan pizza dengan berbagai pilihan paket.

“Untuk menu ayam, kami menyediakan Paket Semur dan Makmur yang dihargai Rp 17 ribu dan Rp 13 ribu. Sedangkan pizaa ada Paket Personal yang dijual mulai harga Rp 22 ribu hingga Rp 30 ribu seporsi. Untuk pizza Paket Reguler dihargai mulai Rp 38 ribu hingga Rp 48 ribu seporsi, tergantung rasa yang dipilih. Ada juga Mini Pizza yang dibandrol Rp 12 ribu seporsi,” jelas pria lajang tersebut.

Pria yang bekerja di Lazizaa Chicken And Pizza selama satu setengah tahun itu mengatakan, selain dua menu tersebut, pihaknya juga menyediakan Steak and Blackpaper yang dibanderol dengan sama yakni Rp 15 ribu seporsi. Ada juga Mini Box BBQ and Blackpaper yang dijual Rp 10 ribu. Selain itu ada menu Chicken Burger dan Big Burger Pizza yang masing dijual dengan harga Rp 13 ribu dan 20 ribu.

“Kami juga menyediakan aneka minuman di antaranya, Milo, Mocca, Latte, Choco Frape, Milk Shake, Ice Cream Cone, Fruite Punch, dan lainnya. Selain itu, kami juga melayani perayaan pesta ulang tahun, yang terbagi menjadi tiga paket yakni Silver Rp 5 ribu per anak, Gold Rp 11 ribu per anak, dan Platinum Rp 11 ribu per anak. Paket tersebut mendapatkan beberapa fasilitas dengan syarat dan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.

- advertisement -

Vivi Pejamkan Mata Saat Naik Ojek Colo Usai Berziarah ke Makam Sunan Muria

0

SEPUTARKUDUS.COM, COLO – Suara kenalpot motor Yamaha King terdengar keras dari arah jalur ojek Makam Sunan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kudus. Mengenakan rompi warna biru, para tukang ojek terlihat sangat lihai menyusuri jalanan aspal yang naik turun dan berkelok dari pangkalan menuju Makam Sunan Muria. Para peziarah yang membonceng tak jarang harus memegang handle jok motor kuat-kuat. Bahkan ada peziarah yang memanfaatkan jaket yang tukang ojek untuk pegangan.

Peziarah naik ojek menuju Makam Sunan Muria, Kudus 2017_5
Peziarah naik ojek menuju Makam Sunan Muria, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Vivi Mega Linda (23), satu di antaranya peziarah yang menggunakan jasa ojek tersebut. Dia ke Makam Sunan Muria bersama tiga orang temannya. Dia mengaku menutup mata saat membonceng ojek usai berziarah menuju tempat parkir kendaraan. Dia mengaku merinding saat saat motor ojek melaju kencang. “Serem banget,” tuturnya saat ditemui Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Dia mengakuk sangat takut saat sesekali melihat jalan terjal dan sisi kiri dan kanannya curam. Selain lebih banyak menutup mata, dirinya juga tak lupa berpegangan jaket tukang ojek. Vivi mengaku baru pertama kali menaiki ojek di sana. “Ini baru pertama kali. Huh, tapi menyenangkan. Saya sudah percaya abang ojek sudah menguasai medan” tuturnya sambil tertawa.

Saat menuju makam, perempuan kelahiran Medan itu lebih memilih menaiki tangga. Menurutnya, kurang lengkap jika tidak mencoba ratusan anak tangga untuk menuju ke makam. “Wah tadi ngos-ngosan. Saya sempat mau menyerah, namun akhirnya sampai juga,” tambahnya.

Vivi yang kini tinggal di Semarang mengaku sangat menikmati pemandagangan puluhan pedagang yang berjajar rapi di sepanjang jalan menuju makam. Selain menjual makanan dan buah khas Pegunungan Muria, ada juga pedagang yang menjual sovenir, pakaian dan pernak-pernik. “Tadi saya sempat beli Parijoto. Ini buahnya. Rasanya asam, saya kira manis,” tuturnya.

Sementara itu, tukang ojek Muria Fitriyanto (29) menuturkan, orang yang baru pertama kali naik ojek kebanyakan takut. Hal itu tak lepas dari kondisi jalan yang terjal dan jurang yang curam di sisi kanan dan kiri jalan. Namun pengunjung tak perlu khawatir, karena menurutnya, tukang ojek yang kebanyakan warga sekitar sudah terlatih. “Pokoknya aman,” tuturnya.

Selama lima tahun bekerja sebagai tukang ojek, dia tidak pernah jatuh. Namun pernah ada rekannya yang jatuh karena kurang konsentrasi. Menurutnya, para tukang ojek harus pada kondisi yang sehat agar bisa melayani pengunjung yang ingin berziarah ke Makam Sunan Muria.

Selama musim ziarah menjelang Ramadan, kata Fitriyanto, setiap hari dirinya mendapat uang Rp 200 ribu. Pada akhir pekan pendapatannya akan bertambah menjadi Rp 500 ribu.

- advertisement -

Elly Persembahkan Puisi untuk Para Politikus yang Suka Umbar Janji Tapi Banyak Menipu

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Puluhan koran tertempel menghiasi latar panggung di Lapangan Basket Universitas Muria Kudus, Sabtu (20/5/2017) malam, di acara Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk). Seorang perempuan terlihat berdiri di atas panggung tersebut, dan kemudian membaca puisi. Sementara tiga orang lainnya, melakukan teatrikal mengiringi pembacaan puisi tersebut.

Elly (kerudung kuning) membaca puisi dalam kegiatan Fasbuk Mei 2017 di UMK
Elly (kerudung kuning) membaca puisi dalam kegiatan Fasbuk Mei 2017 di UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Mereka yang tampil di panggung itu tergabung dalam Teater Bledug dari Sekolah Tinggi Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Kudus. Sri Ellyyanti Octaviyani (20), pembaca puisi tersebut, memilih puisi berjudul Negeri Berbalut Politikus untuk dibacakan dalam kegiatan bertajuk “Hoax Hoex Hoam”. Puisi itu dipilih, karena dirinya sebagai masyarakat merasa sering dibohongi oleh pemerintah.

“Saya membaca puisi itu karena saya merasa pemerintah banyak mengumbar janji saat kampanye. Jadi saya sebagai rakyat merasa dibohongi. Selain itu banyak beredarnya berita hoax membuat kami merasa kesal,” ungkap Lurah Teater Bledug itu kepada Seputarkudus.com usai pentas.

Dia menjelaskan, puisi yang dibacanya merupakan rangkuman dari beberapa artikel yang disusun menjadi puisi. Kemudian dirinya dan teman-temannya Teater Bledug membuat konsep teatrikal. Elly mengaku, mempersiapkan pementasan tersebut membutuhkan waktu lima hari. Karena padat jadwal kuliah saat siang hari, mereka meluangkan lima hari untuk latihan setiap malam, mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB.

“Tadi menceritakan tentang rakyat jelata. Meski tahu tentang kebohongan pemerintah tetapi tidak bisa berbuat apa-apa,” terang warga Desa Mojo Pligen, Kecamatan Cluwak, Pati itu.

Dalam kegiatan rutin diselenggarakan tiap bulan itu, kali ini Fasbuk memilih untuk menyoroti banyaknya berita bohong, atau lebih sering disebut hoax. Dalam acara tersebut, Fasbuk menghadirkan sejumlah narasumber untuk menjadi pemantik dalam diskusi tentang maraknya berita hoax. Mereka di antaranya Akrom Hazami, redaktur di Muria News Com, Mohammad Noor Ahsin, dosen UMK).

Edi Sukirno, Penanggung jawab Fasbuk, menjelaskan, pihaknya mengangkat tema tersebut dengan harapan kalangan pemuda saat ini bisa lebih kritis dan selektif dalam membaca berita. Maraknya berita hoax membuatnya merasa resah. Menurutnya, banyak pemuda yang lebih senang dengan berita-berita hoax karena judul yang menarik, meski isinya belum tentu benar.

- advertisement -

Warga Pati Ini Lebih Mengenal Kudus sebagai Kota Kretek Ketimbang Kota Santri

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Sejumlah orang tampak berkerumun di pintu masuk Emerald Room lantai dua Hotel Griptha Kudus. Mereka adalah peserta diskusi Menguatkan Kudus Kota Santri. Tak beberapa lama, acara dimulai, dan seluruh peserta bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Satu di antara puluhan peserta yang hadir, yakni Siti Aminah (20).

ISNU gelar diskusi Menguatkan Kudus Kota Santri di Hotel Griptha 2017_5
ISNU gelar diskusi Menguatkan Kudus Kota Santri di Hotel Griptha. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, dia mengaku tertarik dan antusias untuk mengikuti kegiatan karena acara itu mendiskusikan sebutan Kudus yang telah lama tidak disebut, yakni Kudus sebagai Kota Santri. Bagi dirinya, kegiatan yang diselenggarakan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) bekerjasama dengan Ftayat NU dan T-IPS Tarbiyah STAIN Kudus, itu memang perlu dilakukan.

“Saya tertarik karena tema pembahasannya. Menurut saya perlu disuarakan kembali Kudus sebagai Kota Santri. Karena saya yang bukan warga Kudus, lebih mengenal Kudus sebagai Kota Kretek,” jelas warga Pati yang kini kuliah di STAIN Kudus, Rabu (17/5/2017) malam.

Dia juga mengngkapkan, acara tersebut sangat menarik karena banyak pendapat dari berbagai sudut pandang. Selain itu juga banyak pendapat dari berbagai kalangan dan latar belakang yang berbeda-beda. Hal itu membuat diskusi menjadi menarik dan membuat Aminah tidak jenuh dalam forum.

Dalam acara tersebut, sejumlah tokoh hadir menyemarakkan acara diskusi. Sejumlah peserta di antaranya pimpinan dan aktivis NU, Muhammadiyah, MUI, tokoh STAIN dan UMK, serta tokoh lintas kelembagaan.

Sri Hartini, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, dalam diskusi mengungkapkan, untuk menguatkan Kudus sebagai Kota Santri dinilai perlu dilakukan. Menurutnya, dulu santri identik dengan sesuatu yang kuno dan tidak menjaga kebersihan. “Santri itu identik dengan gudiken, jadi perlu adanya perubahan dengan menjaga kebersihan, agar tidak identik dengan kuno. Sehingga sebutan Kudus Kota Santri akan diangkat kembali,” terangnya dalam diskusi.

Sedangkan menurut Ilwani, anggota DPRD Kudus, mitos makam Sunan Kudus melengserkan jabatan itu tidak benar. Untuk menguatkan Kudus Kota Santri, dinilai perlu menegaskan mitos tersebut tidak benar. Hal itu perlu dilakukan agar pejabat tidak takut berziarah. “Buktinya saya ziarah malah naik jabatan, jadi itu tidak benar,” jeasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Akhwan Sukandar, mengungkapkan, budaya religius saat ini mulai tergerus oleh budaya modern. “Anak-anak yang dulu habis Maghrib ngaji, sekarang sudah ikut ibunya nonton televisi. Makanya perlu ada perubahan jika ingin mengangkat Kudus sebagai Kota Santri,” ungkap mantan komandan Banser itu.

Kisbanto (39), Ketua ISNU Kudus, menjelaskan, pihaknya mengangkat diskusi tersebut karena secara wacana Kudus sebagai Kota Santri kalah dengan Kudus sebagai Kota Kretek. Sehingga pihaknya menilai perlu ada dorongan dalam pendidikan menguatkan kembali Kudus sebagai Kota Kretek. “Kudus Kota Santri harus diteguhkan kembali melalui pendidikan dan budaya,” tegasnya.

- advertisement -

Sebentar Lagi Frans Printing Terima Cetak Foto Ukuran Jumbo

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Seorang pria mengenakan kaus biru sedang mengamati dua pekerjanya yang sedang mencetak stiker di Frans Printing, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus. Di ruangan lain tampak sebuah mesin baru yang masih dibiarkan dan belum dioperasikan. Mesin tersebut yakni mesin cetak foto untuk ukuran jumbo yang sengaja dibeli pusat cetak digital printing tersebut untuk mengembangkan usahanya merambah pasar cetak foto.

Pelayanan di Frans Printing, Desa Tanjung Karang, Jati, Kudus 2017_5
Pelayanan di Frans Printing, Desa Tanjung Karang, Jati, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Frans, pemilik Frans Printing, belum lama ini dirinya membeli mesin cetak foto untuk ukuran jumbo dengan harga Rp 60 juta. Mesin tersebut untuk melengkapi alat pada usaha digital printing miliknya. Menurutnya dengan mesin tersebut, Frans Printing akan mulai merambah usaha di bidang cetak foto.

Baca juga: Usaha yang Dirintis Bersama Temannya Gagal, Frans Bangkit Buka Digital Printing Modal Kredit

“Dengan mesin buatan Jepang bermerk Canon ini, kami bisa mencetak foto dengan ukuran maksimal. Jika dengan mesin cetak terdahulu paling besar 20 R, dengan mesin ini kami bisa cetak foto dengan ukuran lebar 60 sentimeter dan panjangnya tak terbatas,” ujar Frans kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Desa Tanjung Karang, Jati, Kudus itu mengatakan, untuk hasil gambar cetak foto, mesin baru dibelinya itu sangat mumpuni. Hal tersebut tak terlepas dari mesin tersebut yang menggunakan tinta delapan warna. Dengan tinta itu, gambar yang dihasilkan bisa lebih detail dan sempurna.

“Selain gambar lebih detail dan sempurna, gambarnya juga anti-air. Karena untuk mesin tersebut memang menggunakan tinta original dari Canon dan bukan tinta refil. Aku berharap dengan mesin tersebut aku bisa mengembangkan usahaku,” harap Frans.

Pria yang baru dikaruniai satu putri itu mengaku belum menentukan harga untuk cetak foto menggunakan mesin tersebut. Karena dia masih berhitung agar harga yang ditetapkan nanti sangat terjangkau dan masih tetap ada untungnya. Menurutnya, tidak ingin mengambil untung banyak.

“Kemungkinan tarif cetak foto itu dihitung per sentimeter, namun untuk jelas harganya memang aku belum bisa menentukan. Akan aku trial dulu baru nanti ditentukan harganya. Yang jelas tidak akan mahal dan memberatkan pelanggan,” ujarnya.

Dia berharap dengan mesin tersebut bisa mendatangkan lebih banyak pelanggan. Dengan mesin tersebut pula, diharapkannya para pelanggan punya banyak pilihan untuk mencetak sesuatu. Karena saat mesin tersebut sudah ditentukan harga cetaknya dan beroperasi, Frans Printing sudah biasa melayani, cetak baner, spanduk kain, kartu nama, cetak foto standar,  kini mampu cetak foto ukuran jumbo.

- advertisement -

Suratno Ingin Dandangan Tahun Ini Ada WC Portable Agar Pedagang Tak Buang Air Sembarangan

0

SEPUTARKUDUS.COM, KAUMAN – Ratusan lapak pedagangan di tengah Jalan Sunan Kudus terlihat masih tertutup dengan terpal pukul 10.00 WIB, kemarin. Beberapa pedagang tampak masih ada yang membangun tenda untuk digunakan berdagang selama acara Dandangan. Ada pula yang sudah menata dagangannya untuk dijual sejak hari pertama Dandangan, Selasa (16/5/2017).

Pedagang Dandangan menata dagangannya 2017_5
Pedagang Dandangan menata dagangannya

Satu pedagang di acara Dandangan di antaranya yakni Suratno (38). Dia bersama adik peremuannya tampak sedang menata mainan di lapaknya depan kantor Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK). Dengan mengeluarkan beberapa jenis mainan dari kardus, dia menggantungkan mainan tersebut ke paku yang sudah disediakan. “Malam ini sudah siap dagang,” tutur Suratno kepada Seputarkudus.com, sambil memaku kayu untuk tempat menggantungkan mainan.

Suratno yang menempati lapak ukuran 8×3 meter mengaku sudah berdagang di acara Dandangan 10 tahun terakhir. Menurutnya, dia fokus berjualan mainan setiap kegiatan yang diselenggarakan menjelang Ramadan. Dirinya memberikan harga Rp 5 ribu hingga Rp 300 ribu untuk setiap mainan yang dijualnya. “Saya orang Kudus, rumah saya di Karangbener (Desa Karangbener Kecamatan Bae),” tambahnya.

Selama 10 tahun berdagang, dia mengaku kesulitan saat ingin buang air kecil dan besar. Menurutnya, tidak ada fasilitas water closet (WC) khusus yang diberikan saat berlangsungnya kegiatan Dandangan. Suratno menceritakan, ketika ingin buang air kecil, biasanya dia pergi ke masjid terdekat. “Kalau tidak bisa ngempet ya tinggal lari,” tuturnya sambil tertawa.

Dia berharap kepada Pemerintah Kabupaten Kudus agar menyediakan WC portable agar para pedagang dan pengunjung Dandangan tidak buang air di sembarang tempat. Selain itu dirinya juga merasa wawas ada pencuri datang ke lapaknya saat ditinggal buang air kecil. Menurutnya, tahun lalu ada temannya sesama pedagang sempat kehilangan barang dagangannya. “Biasanya yang dicuri itu pakaian dan jam. Kalau saya alhamdulillah tidak pernah,” jelasnya.

Menurutnya barang yang biasa dicuri, lapak dagangannya berada di sisi timur Sungai Gelis. Dia berharap agar pihak kepolisian dapat ikut membantu menjaga keamanan pedagangan dan pengunjung yang ingin berbelanja. “Patrolinya mungkin lebih diintensifkan lagi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pedagang Kaki Lima (PKL) Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sofyan Dhuri saat ditemui Sabtu (13/5/2017) menuturkan, kegiatan Dandangan yang diadakan menjelang bulan Ramadan 2017 dimulai dari tanggal 16 Mei hingga 26 Mei 2017. Menurutnya, akan diramaikan sekirat 400 pedagang yang akan terfokus di sepanjang Jalan Sunan Kudus.

Selain itu, juga terdapat stan perwakilan dari UMKM Jawa Tengah sejumlah 40 stan yang nantinya akan digunakan para pelaku UMKM dari setiap Kabupaten di Jawa Tengah. Pihaknya juga menyediakan 27 stan batik yang tempatnya bersamaan dengan stan UMKM di Jalan Dokter Ramelan. Menurutnya, keseluruhan pedagang akan ditempatkan di Jalan Sunan Kudus, Jalan Kiai telingsing, Jalan menara, Jalan Pangeran Puger, Jalan Madurekso dan Jalan Wahid Hasyim

Dia melanjutkan, biaya restribusi yang diberikan kepada pedagang setiap meter persegi senilai Rp 2 ribu setiap hari. Angka tersebut sudah ditetapkan sesuai peraturan Bupati Kudus nomor 12 tahun 2012 tentang Pemakaian Kekayaan Daerah. Harga tersebut menurutnya belum termasuk restribusi sampah dan biaya listrik. “Setiap lapaknya ukurannya berbeda-beda. Namun umumnya kaplik 4×6 meter,” jelasnya.

- advertisement -

Usaha yang Dirintis Bersama Temannya Gagal, Frans Bangkit Buka Digital Printing Modal Kredit

0

SEPUTARKUDUS.COM, TANJUNG KARANG – Di tepi Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Tanjung Karang, Kecamatan Jati, Kudus, tampak sebuah ruko dengan pintu kaca. Di dalam terlihat beberapa orang mengoperasikan perangkat komputer. Di ruang lain dua pekerja sedang mengoperasikan mesin cetak berukuran besar. Di samping kedua orang tersebut terlihat seorang pria mengenakan kaus lengan panjang warna biru, sedang mengawasi proses percetakan. Pria tersebut yakni Frans (34), pemiliki Franz Printing.

Frans, pemilik usaha Frans Printing, Jl Kudus-Purwodadi, Tanjung Karang, Jati 2017_5
Frans, pemilik usaha Frans Printing, Jl Kudus-Purwodadi, Tanjung Karang, Jati. Foto: Rabu Sipan

Sembari mengawasi proses percetakan, Frans sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, mulai merintis usaha di bidang digital printing pada tahun 2012. Namun sebelum memiliki usaha tersebut, dia pernah kerjasama dengan temannya untuk membuka usaha pada bidang yang sama. Namun sayang, kerjasama tersebut gagal.

“Sebenarnya aku terjun di dunia usaha digital printing itu sejak tahun 2007. Pada tahun itu aku diminta kerabatku untuk mengelola usaha digital printingnya di Kudus. Namun setelah menikah pada tahun 2011, aku memutuskan membuka usaha serupa. Tapi usahaku tersebut hanya berumur sepekan, karena saat itu aku tergiur tawaran seorang teman untuk kerjasama di bidang usaha yang sama. Sayangnya kerjasama tersebut ada masalah hingga kami pecah kongsi,” ujar Frans saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Tanjung Karang, Jati, Kudus itu mengungkapkan, untuk melanjutkan usahanya tersebut dirinya membeli mesin cetak seharga Rp 300 juta. Karena keterbatasan modal, pembelian mesin tersebut dibelinya secara kredit. Kebetulan saat itu ada orang Jakarta yang percaya padanya untuk membeli mesin cetak.

“Intinya orang Jakarta itu percaya padaku. Kan memang membuka usaha itu harus saling percaya, karena kepercayaan itu sangat penting,” tandas pria keturunan Tionghoa tersebut.

Pria yang baru dikaruniai seroang putri itu mengatakan, Frans Printing melayani cetak baner dengan tarif Rp 16 ribu hingga Rp 75 ribu per meter. Untuk stiker ditarif Rp 75 ribu per meter, sedangkan ID card biayanya Rp 5 ribu per pcs untuk pemesanan minimal 24 pcs. Tapi pesanan ID card kurang dari 24 pcs dihargai Rp 20 ribu per pcs.

Selain itu, katanya, Frans Printing juga melayani cetak kartu nama, undangan, cetak foto dan lainnya. Dia menuturkan, untuk mempromosikan usahanya tersebut, pada awal merintis dirinya berkeliling ke beberapa instansi pendidikan, perusahaan dan resto di Kudus untuk mengajukan penawaran. Menurutnya, responnya sangat bagus.

“Dengan kualitas hasil cetak yang istimewa, tapi harga yang sangat terjangkau dan masih bisa dinego. Untuk pengerjaan cetak di Frans Printing juga relatif singkat, karena setengah hari jadi. Datang pagi siang bisa diambil, begitu juga saat pelanggan pesan siang hari, malamnya sudah bisa diambil,” jelas Frans.

Frans Printing, katanya, buka mulai pukul 8.30 WIB sampai 19.30 WIB. Dengan pelayanan dan kualitas yang diberikan tersebut, kini Frans Printing sudah memiliki banyak pelanggan. Menurutnya, pelanggannya tidak hanya dari Kudus melainkan ada yang dari Semarang, Purwodadi, Demak, Bandung, Jakarta, dan lainnya. “Biasanya orang yang sudah mencetak di Frans Printing, pasti terus menjadi pelanggan tetap,” ujarnya.

- advertisement -

Marak Usaha Berbasis Olshop, Ribuan Paket Masuk JNE Express Kudus Tiap Hari

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Beberapa orang terlihat sedang duduk sambil menunggu antrean teller di Jalur Nugraha Ekakulir (JNE) Express Cabang Mitra Kudus. Sesuai nomor urut, mereka menuju meja teller dengan membawa paketan yang terbungkus. Tampak beberapa teller dengan sigap melayani pengguna jasa yang hendak mengirim paket tersebut.

Pengguna jasa ekspedisi di JNE Express Cabang Mitra Kudus 2017_5
Pengguna jasa ekspedisi di JNE Express Cabang Mitra Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Menurut Supervisor Marketing JNE Express Cabang Mitra Kudus, Lukman Bayu Murti (41), banyak di antara paket yang dikirim berisi hijab, pakaian, dokumen dan lain sebagainya. Lukman mengatakan, dari ribuan unit barang yang masuk, paling banyak didominasi pengiriman dari bisnis online shop (olshop).

Baca juga: Cukup Menelpon Bebas Pulsa, JNE Express Siap Meluncur Ke Rumah Secara Gratis

“Setiap hari kami menerima antara 1,500 hingga 2 ribu paket untuk dikirim, tapi kalau menjelang Lebaran bisa mencapai 3 ribu paket per hari. Paling banyak dari olshop, bahkan hampir 70 persen barang yang masuk dari usaha olshop. Ada hijab, pakaian, sepatu, aksesoris maupun tas spunbond. 30 persen yang lainnya, paling berupa dokumen dari beberapa perusahaan,” ungkap Lukman saat ditemui di Jalan Bhakti nomor 68, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus.

Warga Semarang yang kini tinggal di Kudus, itu memberitahukan, di dalam mengirim sejumlah paket barang, ada beberapa barang yang tidak bisa dia layani. Di antaranya, benda berbahaya misalnya pisau, gunting dan lain sebagainya. Selain itu, JNE Express tidak melayani pengiriman barang berupa vapor serta rokok ilegal.

“Khawatir nanti merusak paketan barang lain maupun menimbulkan kebakaran sewaktu dikirim lewat udara,” ujar Lukman yang mengaku menjadi karyawan JNE Express sudah selama 15 tahun.

Dia mengatakan, dalam mencari pelanggan, dia mengaku melakukan berbagai langkah promosi. Di antaranya, dengan cara menghubungi pelanggan secara by phone, menyebarkan brosur ke toko maupun instansi pemerintahan. “Biasanya kami juga melakukan promosi melalui sebuah event,” ujarnya.

Dia menambahkan, selain melayani jasa pengiriman paket barang, JNE Express juga melayani masyarakat yang hendak bergabung menjadi agen. Terkait syarat yang harus dipenuhi, meliputi foto copy KTP, mengajukan surat permohonan keagenan, memiliki NPWP, menyertakan pas foto pribadi, foto lokasi maupun denah serta berbadan hukum minimal CV. Untuk biaya administrasi yang harus dipenuhi, katanya, sebesar Rp 7 juta.

“Biaya branding sebesar Rp 4 juta dan Rp 3 juta untuk deposit. Branding meliputi semua yang berhubungan dengan JNE seperti keranjang, seragam, peralatan lain hingga biaya pelatihan. Sedangkan deposit hanya untuk jaminan saja, misal sewaktu saat tidak melakukan kerja sama lagi, uang tersebut dapat diambil,” tambah Lukman yang mengaku baru dikaruniai satu orang anak.

- advertisement -

Panggah Angkat Kisah ‘Jeglongan Sewu’ di Grobogan Saat Tampil di Festival Pertunjukan Rakyat

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Sejumlah orang terlihat sedang berkemas di sebuah ruangan di Taman Budaya Kudus, usai pentas di acara Seleksi Pertunjukan Rakyat, Selasa (16/5/2017) siang. Mereka adalah komunitas Mosatika, peserta wakil dari Kabupaten Grobogan. Satu di antara mereka yakni Panggah Rudhita (27), yang menyutradarai pertunjukan yang baru saja ditampilkan. Dalam seleksi itu, dia mengangkat cerita dari persoalan yang erat dengan masyarakat.

Penampilan peserta seleksi Festival Seni Pertunjukan di Kudus 2017_5
Penampilan peserta seleksi Festival Seni Pertunjukan di Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Panggah, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang naskah yang mereka pentaskan dalam acara yang digelar Dinas Komunikasi Dan Informasi (Diskominfo) Kudus. Dalam acara seleksi Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) tingkat Kabupaten dan Kota tersebut, dia juga mengangkat hal-hal yang pernah dialami keluarganya.

Baca juga: Diskominfo Kudus Kali Pertama Gelar Acara Seleksi Pertunjukan Rakyat

“Pertunjukan kami berjudul Kapatuh, yang artinya kebiasaan. Kami mengangkat cerita tentang program pemerintah Jawa Tengah, bebas jalan berlubang. Sesuai dengan persoalan yang dekat dengan masyarakat Grobogan. Tadi juga ada cerita tentang seorang bapak yang pulang terlambat karena macet dan dimarahi istrinya. Itu cerita bapak saya sendiri,” ungkap pria asli Grobogan itu, usai tampil.

Selain terinspirasi kisah bapaknya, dia juga menyampaikan ceritan tentang kakeknya yang meninggal saat perjalanan ke rumah sakit. Karena terjebak di jalan rusak, atau masyarakat sering menyebutnya sebagai “jeglongan sewu“, kendaraan yang membawa kakeknya tidak bisa melaju cepat sehingga terlambat sampai.

Panggah menjelaskan, Mosatika beranggotakan 12 orang. Mereka datang dari banyak latar belakang seni. “Anggota kami ada yang dalang, penyanyi campursari, penari tayub, pemain ketoprak, dan pemusik. Persiapan kami untuk acara iini cukup singkat, hanya 10 hari. Semua yang kami persiapkan sudah berjalan dengan lancar. Tapi ada sedikit kendala pada penataan sound system, sehingga suara saat pementasan kurang terdengar,” keluhnya.

Panggah menjelaskan, dirinya ikut FK Metra mulai tahun 2014, dan ini ketiga kalinya dia menjadi sutradara sejak tahun 2015. Panggah menambahkan, pada tahun 2015 dan 2016 komunitasnya masuk ke final, tahun 2015 menjadi pemenang kedua dan tahun 2016 pemenang ketiga, tingkat Jateng. Dia berharap tahun depan sudah ada generasi baru yang melanjutkan FK Metra Grobogan.

Nanang Usdiarto (56), satu diantara panitia penyelenggara, menjelaskan, pelaksanaan seleksi yang ada di Kudus diikuti 12 peserta dari perwakilan FK Metra kabupaten dan kota. Selain sebagai ajang silaturahmi, kegiatan tersebut juga untuk mendorong pegiat kesenian tradisional di Jawa tengah agar lebih berkembang.

 

- advertisement -

Meski Omzet Tahun Lalu Menurun, Eko Tak Kapok Berjualan Vas Bunga di Dandangan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Di atas trotoar sebelah barat Jalan Pangeran Puger Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus tampak puluhan pot dan guci berjajar rapi. Di sampingnya terlihat satu set meja kursi yang terbuat dari plastik sintetis. Di lapak beratap terpal tersebut, tampak pula seorang pria mengenakan kaus lengan panjang sedang duduk menunggu pembeli. Pria itu bernama Eko Santoso (40), penjual vas bunga, guci dan hasil mebel yang terbuat dari rotan sintetis di Tradisi Dandangan.

Eko Santoso, penjual vas bunga dan guci pada tradisi Dandangan Kudus 2017_5
Eko Santoso, penjual vas bunga dan guci pada tradisi Dandangan Kudus. Foto: Rabu Sipan

Sambil menunggu pembeli, pria yang akrab disapa Eko tersebut sudi berbagi kesan kepada Septarkudus.com tentang aktivitasnya di tradisi Dandangan. Dia mengaku berjualan di tradisi Dandangan Kudus sejak 2005. Dia berjualan aneka vas bunga dan guci. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pada tahun ini dia juga menjual kursi dan meja yang terbuat dari rotan sintetis.

“Di Dandangan tahun ini aku memang tidak hanya menjual vas bunga serta guci saja. Aku juga menjual perabot rumah tangga yang lagi ngehit yakni meja dan kursi yang terbuat dari rotan sintetis.  Aku berharap dengan menjual perabot yang sedang ngehit tersebut bisa mendongkrak omzet di Dandangan tahun ini,” harap Eko saat ditemui di lapaknya, beberapa waktu lalu.

Pria Warga Desa Tenggeles, Kecamatan Mejobo, Kudus itu menuturkan, di Dandangan pada tahun lalu dirinya mampu meraup omzet Rp 60 juta. Selama berdagang di acara Dandangan, grafik penjualannya turun. Karena pada tahun sebelum-sebelumnya Eko pernah mendapatkan omzet hingga Rp 100 juta selama acara Dandangan berlangsung. Meski grafik penjualannya turun, tapi berjualan di Dandangan dinilai tetap efektif.

“Menurutku menjual barang dagangan saat acara Dandangan lebih efektif daripada berjualan secara online. Karena berjualan seperti ini bisa bertatap muka langsung dan calon pembeli, bisa melihat barangnya dan meneliti. Jadi tidak seolah membeli kucing dalam karung,” ujarnya.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu mengatakan, di Dandangan tahun ini dirinya menjual berbagai vas bunga dengan harga mulai Rp 80 ribu untuk ukuran terkecil, dan harga Rp 750 ribu untuk ukuran guci terbesar. Sedangkan untuk bunga bambu dijual Rp 5 ribu pertangkai dan bunga impor dari Tiongkok dihargai Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu.

Selain menjual aneka pot, dia juga menjual kursi dan meja dari bahan sintetis. Untuk kursi gantung dijual dengan harga Rp 2 juta sampai Rp 2,5  juta per pcs. Sedangkan untuk satu set meja makan dibanderol mulai Rp 2 juta dan satu set kursi tamu dijual sama dengan harga kursi gantung.

Sejak berjualan Senin (15/5/2017), dia mengaku sudah mampu menjual pulahan vas bunga dan beberapa set meja makan. Bahkan menurutnya, saat ini dirinya mendapatkan pesanan satu set meja makan dan kursi gantung yang terbuat dari rotan sintetis. Sedangkan untuk jasa pengiriman perabot yang dibeli pelanggan, misal guci dan meja dan kursi dari rotan sintetis tersebut diantar gratis sampai rumah para pembeli.

“Aku berharap di Dandangan tahun ini minat dan daya beli pengunjung tinggi. Dan semoga saja perabot yang terbuat dari rotan sintetis serta pot dan guci daganganku laris dibeli, dan aku bisa mendapatkan omzet lebih banyak dari tahun kemarin,” harapnya.

- advertisement -

Cukup Menelpon Bebas Pulsa, JNE Express Siap Meluncur Ke Rumah Secara Gratis

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di tepi Jalan Bakti, tepatnya ruko nomor 68 Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat beberapa kendaraan pakir silih berganti di halaman Nugraha Ekakurir (JNE) Express Cabang Mitra Kudus. Selang beberapa saat, tampak seorang pria mengendarai roda dua dari arah barat menuju ruko. Pria yang mengenakan kemeja warna merah berpadu abu-abu tersebut tak lain Lukman Bayu Murti (41), Supervisor Marketing JNE Express Cabang Mitra Kudus.

Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Express Cabang Mitra Kudus 2017_5
Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) Express Cabang Mitra Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai dengan suguhan kopi hangat di atas meja, Lukman, begitu dirinya akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang pelayanan di tempat tersebut. Dia menjelaskan, jasa kurir JNE Express melayani pengiriman paket barang maupun dokumen ke penjuru Indonesia. Selain melayani pengiriman, pihaknya juga memiliki layanan pick up order, yakni pengambilan barang ke rumah pelanggan.

“Sebenarnya sudah dari dulu ekspedisi kami melayani pick up order barang ke rumah konsumen, tapi banyak orang yang kurang tahu. Untuk pengambilan barang juga gratis, tidak dipungut biaya sama sekali, meski barang yang perlu kami antar hanya berupa dokumen saja. Caranya, konsumen tinggal hubungi nomor hotline bebas pulsa kami di 0800-156-3563,” ungkap Lukman saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Semarang yang kini menetap di Kudus, itu mengatakan, JNE Express menawarkan berbagai pilihan produk pengiriman barang untuk menyesuaikan kebutuhan pelanggan. Di antaranya, Diplomat Service, Special Service, Yakin Esok Sampai (YES), Regular Service, Ongkos Kirim Ekonomi (OKE), JNE Trucking (JTR) dan Pesanan Oleh-oleh Nusantara (Pesona).

“Masing-masing produk memiliki fungsi yang berbeda. Diplomat Service untuk pengiriman secara langsung ke penerima dan Special Service yakni paket barang yang dikirim dalam waktu satu hari sudah sampai tujuan. Produk YES berarti layanan yang dikirim ke esokan harinya, Reguler Service untuk paket biasa dan OKE adalah layanan pengiriman untuk barang berukuran besar maupun berat dengan harga ekonomis,” ujar Lukman.

Dia menambahkan, produk JTR merupakan layanan pengiriman barang melalui darat dengan berat minimal 10 kilogram. Sedangkan layanan Pesona, jasa kurir yang berfungsi mengantarkan beragam makanan khas nusantara yang dapat dipesan secara online lewat JNE Express. Menurutnya, untuk mendaptkan makanan khas Nusantara yang dipesan oleh pelanggan, dia akan mendatangkan langsung dari daerah asal makanan tersebut.

“Sebagai contoh, konsumen dari Kudus mau makan empek-empek khas Palembang tapi terhalang oleh jarak. Konsumen tinggal menghubungi nomor kami, makanan khas Palembang ke esokan harinya akan kami antar ke tujuan pemesan,” tambah Lukman, ayah satu anak tersebut.

- advertisement -

Satpam PT Pura Ini Gugup Saat Disuruh Jadi ‘Polisi’ Lalu Lintas

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Puluhan anggota satuan pengamanan (Satpam) terlihat berbaris di tempat parkir Taman Bojana. Setelah mendapatkan intruksi dan pemaparan dari anggota Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Kudus, satu per satu mereka terlihat mengatur lalu lintas di perempatan timur jembatan penyebrangan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Mereka ada yang tampak gugup memperagakan 12 gerakan pengaturan lalu lintas.

Pelatihan satpam mengatur lalu lintas 2017_5
Pelatihan satpam mengatur lalu lintas. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara satpam yang mengikuti pelatihan pengaturan lalu lintas tersebut, yakni Sampri (43). Satpam di PT Pura Barutama Kudus itu mengaku grogi saat berada di tengah-tengah perempatan yang menghubungkan Jalan Jendral Sudirman dengan Jalan Sunan Muria dan Jalan Gatot Subroto. Dia gugup lantaran banyak pengendara yang memperhatikan dirinya menjalankan tugas. Namun setelah mencoba beberapa kali, akhirnya dirinya bisa beradaptasi dengan baik.

“Jadi harus fokus dengan pengguna jalan dari semua arah,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com saat ditemui usai kegiatan Pelatihan Gada Pratama, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati Kudus mengaku sudah 20 tahun menjadi Satpam. Menurutnya, selain dibekali kemampuan bela diri, dirinya juga merasa perlu memiliki keterampilan dalam mengatur lalu lintas. Hal tersebut dinggapnya penting untuk meningatkan kemampuan sebagai personal pengaman perusahaan.

Sementara itu, Kanit Pengaturan, Penjagaan, Pengawalan dan Patroli (Turjawali) Polres Kudus Ipda Upoyo menambahkan, dalam pelatihan Gada Pratama pihaknya memberikan keterampilan 12 gerakan pengaturan lalu lintas dan TPTKP ( Tindakan Pertama Tempat Kejadian Perkara). 12 gerakan yang diajarkan di antaranya, mengehentikan arus dari segala arah, menghentikan arus dari arah depan dan belakang serta menjalankan arus dari arah kanan dan kiri petugas. Dia menuturkan, kegiatan yang dimaksud dilakukannya setiap dua tahun sekali.

Anggota Unit Pembinaan Keamanan Swakarsa (Kanitbinkamsa) Polres Kudus Bripka Bambang Siswanto menambahkan, kegiatan pelatihan Gada Pratama dilakukan dari tanggal 8 Mei hingga 22 Mei 2017. Menurutnya, ada 110 Satpam dari perusahaan di Kabupaten Kudus, Pati dan Jepara yang mengikuti kegiatan pelatihan tahap dasar tersebut.

“Personelnya cukup banyak, ada dari PT Djarum, PT Pura, Sukun, PG Trangkil Pati dan PT Huawei Jepara,” ungkapnya.

Selain dibekali keterampilan penjagaan patroli dan pengamanan, anggota Satpam juga diberikan keterampilan untuk mengatur lalu lintas. Hal tersebut diharapkan dapat membantu meminimalisir terjadinya kecelakaan. “Pelatihan kali ini Gada Pratama. Selanjutnya nanti ada Gada Madya menjadi komandan regu dan terakhir Gada Utama Kepala Satpam,” jelasnya.

Selain itu, sebenarnya tugas Satpam masih banyak lagi. Menurutnya, perusahaan tempat mereka bekerja menuntuk para anggota Satpam untuk bekerja secara profesional. Keterampilan lain yang diberikan menurut Bambang yakni, bela diri Polri, menangani tindak pencurian dan kejahatan lainnya. Dia berharap, dengan diberikan pelatihan keterampilan tersebut, satpam mampu menangani tindak kejahatan dan hal lainnya di perusahaan.

- advertisement -

Mukhlisin Dikejar-Kejar Usai Memberi Sedekah pada Seorang Pengemis di Menara

0
Pengemis di komplek Makam Sunan Kudus 2017_5
Pengemis di komplek Makam Sunan Kudus. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Puluhan peziarah terlihat berbondong-bondong berjalan melewati sisi timur Menara Kudus. Mereka melewati sejumlah pedagang dan beberapa becak yang diparkir. Selain itu, peziarah juga menjumpai sejumlah pengemis yang berada di sepanjang jalan menuju Makam Sunan Kudus. Tak hanya itu, beberapa anak kecil juga tampak meminta-minta di dalam kawasan parkir depan Tajug.

Mukhsin (29), adalah satu di antara peziarah yang datang dari Gombong, Kebumen. Dia datang bersama 65 orang dari desanya. Dia mengaku terganggu dengan keberadaan para pengemis. Hal tersebut diungkapkannya kepada Seputarkudus.com, setelah dirinya selesai berziarah dari Makam Sunan Kudus.

Bahkan, kata Mukhlisin, dia mengaku sempat dikejar beberapa pengemis. Hal tersebut bermula saat dirinya memberikan uang kepada seorang pengemis. Karena diketahui pengemis lain, mereka kemudian mengejarnya untuk meminta uang. “Terganggunya kalau ngasih satu, semua temannya minta semua. Misal satu orang dikasih Rp 1.000, semua (pengemis) minta, kan repot juga,” ungkapnya saat ditemui di komplek Menara Kudus, beberapa waktu lalu.

Mukhlisin juga menjumpai pengemis yang berada di kawasan Menara Kudus meminta uang lebih dari satu kali. Menurutnya, setiap ada peziarah yang lewat di depannya langsung dimintai sedekah. Jika tidak diberi, ada yang sampai mengejar. Dirinya menyakini, para pengemis yang berada di Menara Kudus bukan asli warga sekitar. “Pengemis sekarang merantau. Mereka mencari keuntungan,” tambahnya.

Pengemis yang didominasi oleh perempuan dan anak-anak menurut Mukhlisin juga ditemui di beberapa tempat ziarah makam wali lainnya. Menurutnya, di tempat lain pengemis yang datang pun sama berasal dari luar daerah. “Susahnya kalau luar daerah, Satpol PP mengejar dan mereka lari. Namun nanti kembali lagi,” tuturnya.

Setiap tahunnya dirinya mengaku sering melakukan ziarah. Dengan berziarah ke makam-makam wali membuat hatinya merasa tentram setelah menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan hati tentram, katanya, akan membuat ibadahnya berjalan lancar dan rezeki terbuka lebar.

Di tempat  terpisah, Humas Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Deni Nur Hakim mengungkapkan, dirinya melarang pengemis untuk masuk di area komplek masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus. Begitu juga berlaku dengan para pedagang. Menurutnya, larangan tersebut sudah disepakati oleh semua pengurus YM3SK.

“Kesepakatan dari pengurus yayasan (YM3SK) komplek ,asjid, Menara dan Makam Sunan Kudus tidak sepakat adanya pengemis dan pedagang,” tuturnya.

Menurutnya, hal tersebut akan mengganggu peziarah yang datang untuk beribadah. Dia khawatir, keberadaan pengemis dan pedagang yang berada di komplek masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus mengakibatkan buyarnya konsentrasi peziarah yang melakukan ibadah. Apalagi dengan keberadaan pengemis.

“Sebenarnya pengemis itu orang-orang malas. Mereka banyak di luar komplek. Dan itu bukan urusan yayasan lagi, melainkan Pemkab (Pemerintah Kabupaten Kudus),” jelasnya.

- advertisement -

Haidar Selalu Sisihkan Uang Sakunya untuk Menabung Sejak Tahun Lalu

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Ribuan siswa terlihat memadati panggung Car Free Day (CFD) kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Mereka tampak mengenakan seragam olahraga sambil  membawa buku tabungan dan kupon pada kegiatan Launching Gerakan Menabung Bagi Peserta Didik oleh Dinas Pendidikan dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Kudus. Sejumlah hadiah di antaranya sepeda terlihat sudah disiapkan.

Siswa menunjukkan buku tabungan saat launching program gerakan menabung 2017_5
Siswa menunjukkan buku tabungan saat launching program gerakan menabung. Foto: Imam Arwindra

Dari ribuan siswa  PAUD, TK, SD, SMP dan SMA, tampak didominasi oleh siswa SD. Mereka terlihat menanti kupon miliknya terpilih mendapatkan hadiah. Shofian Haidar Aly, siswa SDN 1 Blimbing Kidul Kecamatan Kaliwungu, Kudus, berdiri sambil memegang buku tabungan dan kupon terlihat menatap arah panggung. Sesekali dia bersendawa dengan teman-temannya yang masih satu almamater. “Ini sedang menunggu hadiah,” tutur Haidar dengan singkat, saat berlangsungnya acara pada Minggu (14/5/2017).

Haidar menuturkan, dirinya mengaku mengikuti progam menabung sejak tanggal 23 Oktober 2016. Dia menceritakan harus menyisihkan beberapa uang sakunya untuk ditabung dalam progam tersebut. Terlihat di tabungannya terdapat nominal Rp 80 ribu yang ditabungnya selama enam kali. “Kadang tidak nabung. Tidak punya uang,” tuturnya sambil tersenyum.

Hal senada juga dinyatakan Firman, teman sekelas Haidar. Dia juga mengaku harus menyisihkan uang sakunya untuk ditabung. Dia menuturkan senang bisa menabung seperti teman-temannya. Rencana jika uang sudah berkumpul, Firman ingin membeli sebuah sepeda. “Ini baru segini uangnya,” tuturnya sambil menunjukkan isi buku tabungannya sebesar Rp 100 ribu.

Kegiatan Launching Gerakan Menabung Bagi Peserta Didik, langsung di-launcing oleh Bupati Kudus Musthofa. Tampak Kepala Disdikpora Joko Susilo, jajaran pegawai Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Logam Mulia Sejahtera, pimpinan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan ribuan siswa hadir dalam kegiatan tersebut.

Menurut Sapuan, Kepala Founding KSP Logam Mulia Sejahtera, selaku mitra progam Gerakan Menabung Bagi Peserta Didik, pihaknya sudah memulai kegiatan menabung sejak Bulan September 2016. Menurutnya, terdapat 29.300 siswa yang sudah terdaftar. “Siswa tersebut dari TK, PAUD, SD, SMP dan SMA. Namun didominasi siswa SD,” tuturnya yang mengenakan kaos kerah putih.

Dia menjelaskan, sekolah yang mengikuti tidak hanya sekolah negeri saja, melainkan juga ada sekolah swasta. Tercatat terdapat 17 sekolah swasta yang mengikuti progam menabung tersebut. Pihaknya mengaku tidak memberikan angka minimal dalam menabung. Misalkan ada siswa yang ingin menabung Rp 500, pihaknya akan tetap melayani.

“Progam ini untuk melatih siswa membiasakan menabung. Jadi kami tidak memberikan besaran minimal nominal uang,” tuturnya.

Nantinya, kata Sapuan, uang yang ingin ditabungkan siswa akan dikumpulkan wali kelas masing-masing. Setelah itu, bendahara sekolah akan memberikan uang tersebut kepada Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan di setiap kecamatan. Setiap hari Rabu, petugas dari KSP Logam Mulia Sejahtera akan mengambilnya. “Sejauh ini siswa yang ikut cukup antusias,” tambahnya.

Sementara itu, Bupati Kudus Musthofa mengungkapkan, tujuan meresmikan simpanan untuk pelajar supaya mendidik para pelajar di Kudus agar lebih disiplin dan membiasakan menabung sejak dini. Menurutnya, dengan menabung siswa bisa mempersiapkan masa depannya kelak.

“Dengan menabung bisa melatih dan mendidik siswa untuk persiapan masa depan. Sekolah sudah dibebaskan, SD, SMP, SMA. Walau SMA sudah diambil alih (Pemerintah Provinsi Jawa Tengah) tetap kita bebaskan,” ungkapnya.

Dia melanjutkan, uang yang berada di tabungan kelak bisa digunakan untuk melanjutkan kuliah dan pengembangan keterampilan kursus maupun yang lainnya. Musthofa berharap, anak-anak Kudus harus menjadi juara, menjadi terbaik, terpelajar dan memiliki karakter budi pekerti dan sopan santun yang baik. “Saya titipkan kepada pundak bapak ibu guru sebagai tenaga pendidik, mudah-mudahan di masa akan datang akan bisa terwujud dengan baik,” tambahnya.

- advertisement -

Dishubkominfo Kudus Kali Pertama Gelar Acara Seleksi Pertunjukan Rakyat

0

SEPUTARKUDUS.COM, BAE – Puluhan orang mengenakan beraneka kostum terlihat berkumpul di luar gedung Taman Budaya Sosrokartono Kudus, Selasa (16/5/2017) pagi. Tidak lama berselang, sejumlah orang berseragam meminta mereka untuk segera memasuki aula, karena acara Festival Pertunjukan Rakyat akan segera dimulai.

Seleksi Festival Pertunjukan Rakyat di Taman Budaya Sosrokartono Kudus 2017_5
Seleksi Festival Pertunjukan Rakyat di Taman Budaya Sosrokartono Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Nanang Usdiarto (56), adalah satu di antara panitia dalam acara tersebut. Dia mengungkapkan, acara yang diselenggarakan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kudus itu baru pertama kali digelar di Kudus. Tema yang diangkat yakni “Jateng Gayeng Ora Ngapusi Ora Korupsi”.

Dia menjelaskan, acara Festival Pertunjukan Rakyat ini diselenggarakan untuk menyeleksi Forum Komunikasi Media Tradisional (FK Metra) tingkat Kabupaten dan Kota. “Ini kegiatan Diskominfo Jawa Tengah dan FK Metra Jawa Tengah. Dan Kudus baru pertama kali menjadi penyelenggara. Ini untuk menyeleksi perwakilan FK Metra Jawa Tengah tampil di tingkat Nasional. Tidak hanya di Kudus, tetapi seleksi ini juga dilakukan di Brebes dan Purworejo juga,” ungkap Sekretaris Dishubkominfo Kudus itu, kemarin.

Nanang menjelaskan, acara tersebut sudah menjadi kegiatan rutin setiap tahun Dishubkominfo Jawa Tengah dan FK Metra Jawa Tengah. “Saya berharap akan muncul seniman-seniman dari Kudus di kancah Nasional maupun Internasional,” jelas Pria asli Semarang itu.

Dia menambahkan, Diskominfo Kudus sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk terselenggaranya kegiatan tersebut. Selain itu, pihaknya juga menggandeng FK Metra Kudus untuk mensukseskan kegiatan. Menurutnya, kegiatan yang berlangsung mulai pukul 10.00 WIB, itu berjalan dengan lancar.

Dalam sambutannya, Ketua FK Metra Jawa Tengah, menyampaikan, FK Metra berkomunikasi dengan masyarakat melalui kesenian tradisional. Dan menyampaikan nilai-nilai budaya Bangsa demi menjaga keutuhan NKRI. Dengan seni tradisional yang menggunakan bahasa ibu, harapannya lebih mudah diterima dan dipahami masyarakat.

“Kesenian kita bisa dihadirkan di masyarakat, sekaligus informasi tersampaikan dengan baik. Karena saat ini pemahaman masyarakat sangat tipis, sehingga terjadi penyelewengan dimana-mana. Harapannya dengan menghadirkan kesenian tradisional dapat menyampaikan nilai-nilai budaya Bangsa kepada masyarakat demi menjaga keutuhan NKRI,” terangnya.

- advertisement -