SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Beberapa orang terlihat sedang duduk sambil menunggu antrean teller di Jalur Nugraha Ekakulir (JNE) Express Cabang Mitra Kudus. Sesuai nomor urut, mereka menuju meja teller dengan membawa paketan yang terbungkus. Tampak beberapa teller dengan sigap melayani pengguna jasa yang hendak mengirim paket tersebut.

Menurut Supervisor Marketing JNE Express Cabang Mitra Kudus, Lukman Bayu Murti (41), banyak di antara paket yang dikirim berisi hijab, pakaian, dokumen dan lain sebagainya. Lukman mengatakan, dari ribuan unit barang yang masuk, paling banyak didominasi pengiriman dari bisnis online shop (olshop).
Baca juga: Cukup Menelpon Bebas Pulsa, JNE Express Siap Meluncur Ke Rumah Secara Gratis
“Setiap hari kami menerima antara 1,500 hingga 2 ribu paket untuk dikirim, tapi kalau menjelang Lebaran bisa mencapai 3 ribu paket per hari. Paling banyak dari olshop, bahkan hampir 70 persen barang yang masuk dari usaha olshop. Ada hijab, pakaian, sepatu, aksesoris maupun tas spunbond. 30 persen yang lainnya, paling berupa dokumen dari beberapa perusahaan,” ungkap Lukman saat ditemui di Jalan Bhakti nomor 68, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus.
Warga Semarang yang kini tinggal di Kudus, itu memberitahukan, di dalam mengirim sejumlah paket barang, ada beberapa barang yang tidak bisa dia layani. Di antaranya, benda berbahaya misalnya pisau, gunting dan lain sebagainya. Selain itu, JNE Express tidak melayani pengiriman barang berupa vapor serta rokok ilegal.
“Khawatir nanti merusak paketan barang lain maupun menimbulkan kebakaran sewaktu dikirim lewat udara,” ujar Lukman yang mengaku menjadi karyawan JNE Express sudah selama 15 tahun.
Dia mengatakan, dalam mencari pelanggan, dia mengaku melakukan berbagai langkah promosi. Di antaranya, dengan cara menghubungi pelanggan secara by phone, menyebarkan brosur ke toko maupun instansi pemerintahan. “Biasanya kami juga melakukan promosi melalui sebuah event,” ujarnya.
Dia menambahkan, selain melayani jasa pengiriman paket barang, JNE Express juga melayani masyarakat yang hendak bergabung menjadi agen. Terkait syarat yang harus dipenuhi, meliputi foto copy KTP, mengajukan surat permohonan keagenan, memiliki NPWP, menyertakan pas foto pribadi, foto lokasi maupun denah serta berbadan hukum minimal CV. Untuk biaya administrasi yang harus dipenuhi, katanya, sebesar Rp 7 juta.
“Biaya branding sebesar Rp 4 juta dan Rp 3 juta untuk deposit. Branding meliputi semua yang berhubungan dengan JNE seperti keranjang, seragam, peralatan lain hingga biaya pelatihan. Sedangkan deposit hanya untuk jaminan saja, misal sewaktu saat tidak melakukan kerja sama lagi, uang tersebut dapat diambil,” tambah Lukman yang mengaku baru dikaruniai satu orang anak.

