Beranda blog Halaman 1896

Penjual Es Jus Buah Segar Ini Selalu Dikerumuni Pembeli, Tiap Malam Raup Omzet Rp 2 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Di pojok Aluna-lun Simpang Tujuh Kudus, tepatnya di tepi jalur pedestrian depan Masjid Agung Kudus, terlihat seorang pria mengenakan kaus dan topi warna hitam sedang sibuk membuat es jus aneka buah. Tampak dia dengan cekatan memasukan buah segar serta gula pasir ke dalam tabung blender yang sudah terisi air. Pria tersebut bernama Muhammad Kasin (35) penjual es jus buah.

Lapak ss jus di Simpang Tujuh Kudus dengan harga serba Rp 5 ribu 2017_5
Lapak ss jus di Simpang Tujuh Kudus dengan harga serba Rp 5 ribu. Foto: Rabu Sipan

Seusai jus buahnya jadi dan dituang ke dalam gelas plastik, dia kemudian memberikannya kepada para pembeli yang sudah antre di depan dan samping gerobaknya. Sembari melayani pelanggan, pria yang akrab disapa Kasin itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengaku, berjualan mulai tahun 2002. Menurutnya, sebelum berjualan jus buah buah segar, dirinya terlebih dulu berjualan es degan, wedang ronde, hingga nasi sop. Namun sayangnya ketiga usahanya itu hanya bertahan masing-masing setahun saja.

“Pada awal memulai usaha aku memang mencari-cari mana dagangan yang cocok dan diminati para pembeli. Setelah melewati ketiga daganganku yang hanya bertahan masing-masing satu tahun tersebut, aku lalu memutuskan berjualan es jus buah segar. Karena menurutku, buah itu suatu yang menyehatkan dan es menyegarkan, jadi pasti banyak yang suka,” ungkapnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus itu mengatakan, benar saja sejak berjualan es jus buah segar, dagangannya tersebut selalu ramai pembeli dan laris. Bahkan dalam waktu separuh malam dia mengaku mampu meraup omzet Rp 2 juta. Jumlah tersebut saat malam hari biasa, saat malam akhir pekan, dia mengaku mampu mendapatkan omzet Rp 2,7 juta dalam tempo waktu sama.

Dia mengungkapkan, hal tersebut tak terlepas dari buah yang dijadikan jus lumayan banyak. Sehingga es jus buatannya terlihat kental karena banyak buah. Jadi buah itu tidak hanya untuk aroma saja. Dan untuk pemanisnya, Kasin terlihat menggunakan gula pasir asli.

“Saya itu berharap yang minum jus buah daganganku itu selain merasakan segar juga menyehatkan. Oleh karena itu aku menggunakan gula pasir dan tidak menggunakan pemanis buatan. Meskipun sebenarnya lebih menguntungkan menggunakan pemanis buatan, tapi itu tidak menyehatkan,” ujarnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengungkapkan, selain itu es jus buah segar dagangannya dijual dengan harga yang sangat terjangkau yakni Rp 5 ribu per gelas. Menurutnya, harga tersebut untuk semua jus buah dagangannya, di antaranya, jus buah mangga, strawberi, jeruk, buah naga, apel, nanas dan lainnya. Selain buah, dia juga menjual es jus sayur, yakni brokoli dan wortel.

Dia mengaku, berjualan setiap hari mulai pukul 16.00 WIB sampai pukul 23.00 WIB. Menurutnya, saat ini dirinya sudah memiliki banyak pelanggan. Dan tak jarang mereka memesan es jus buah segar dalam jumlah banyak. “Aku berharap es jus buah segar buatanku makin diminati banyak orang dan selalu laris serta selalu habis terjual,” harapnya.

- advertisement -

Suzuki New Ertiga Diesel Hybrid, Mobil Berbahan Bakar Solar, 1 Liter Bisa Tempuh 22 KM

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Lima unit kendaraan roda empat terlihat terpakir rapi menghiasi diler resmi penjualan mobil Suzuki Remaja Motor,  di Jalan Raya Kudus-Pati kilometer 3, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. Satu di antara mobil yang terpakir yakni Suzuki New Ertiga Diesel Hybrid. Mobil produksi pabrikan asal Jepang ini diklaim irit bahan bakar namun tetap bertenaga.

Agung Hidayat, Head Sales Suzuki Remaja Motor Kudus 2017_5
Agung Hidayat, Head Sales Suzuki Remaja Motor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai di tempat lobi seusai dari meating, Sales Head PT Remaja Adidaya Motor, Agung Hidayat (35), sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang mobil tersebut. Dia menjelaskan, mobil yang memiliki panjang sekitar empat meter serta lebar dan tinggi lebih dari satu setengah meter itu berbahan bakar solar. Menurutnya, cukup dengan satu liter solar, mobil dapat menempuh jarak hingga 22,6 kilometer.

Baca juga:

“Tidak ada perbedaan yang menonjol antara Suzuki Ertiga yang dulu dengan sekarang, yang membedakan cuma konsumsi bahan bakarnya saja. Suzuki New Ertiga yang sekarang menggunakan mesin diesel dan dibekali teknologi hybrid. Bahan bakar memakai solar dengan kapasitas mesin sebesar 1,248 cc, jadi mobil lebih irit dan bertenaga,” ungkap Agung saat ditemui di Suzuki Remaja Motor, beberapa waktu lalu.

Warga Asal Jakarta yang kini berdomisili di Jepara, memberitahukan, keunggulan yang disematkan pada mobil berkapasitas tujuh orang penumpang, katanya, sangat beragam. Di antaranya, ruang kabin cukup luas, suhu air conditioner (AC) dapat diatur dalam konisi panas maupun dingin dan spion kabin fleksibel. Selain itu, mobil itu dibekali fitur gear shift indicator yang berfungsi memberikan rekomendasi pemindahan gigi terbaik.

Terkait dengan fitur keselamatan, lanjutnya, mobil didukung dual airbag dan sistem pengereman anti-lock braking sytes (ABS). Tidak hanya itu, mobil juga dilengkapi tiga titik sabuk pengaman yang siap menunjang keamanan dan keselamatan dalam berkendara. “Suspensi depan dan belakang juga sangat baik, dapat meredam setiap guncangan maupun getaran saat dikendarai,” ujar Agung yang mengenakan kemeja warna krem.

Dia menambahkan, cara pengoperasian mobil yang tak lazim disebut dengan transmisi, katanya, hanya ada satu varian, yakni manual transmission (M/T). Untuk pembelian setiap unit mobil itu, diler tempat dia bekerja membadrol dengan harga Rp 224,9 juta. Menurutnya, harga itu merupakan on the road (OTR) khusus wilayah Kudus.

“Harga sangat sebanding dengan keunggulan yang diberikan. Untuk penjualan masih banyak Suzuki Ertiga yang dulu, kisaran empat hingga enam unit yang bisa kami jual setiap bulannya. Kalau pilihan warna ada tiga, meliputi warna abu-abu, silver serta warna putih yang sering laku terjual,” tambah Agung yang mengaku mulai bekerja di diler Remaja Motor sejak 2008, tepatnya sudah lebih dari sembilan tahun.

- advertisement -

Usaha Tegelnya Tutup, Sartono Agbas Dirikan Usaha Produksi Sirup Popi, Kini 800 Botol Terjual Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Di tepi barat jalan Desa Getas Pejaten No 54, Kecamatan Jati, Kudus, tampak Rumah Makan Gentong Sehat. Di samping rumah makan tersebut ada bangunan mirip gudang yang  di dalamnya beberapa orang tampak sibuk mengemas sirup. Mereka berbagi tugas, sebagian ada yang mengisi sirup ke dalam botol dan sebagiannya lainnya menutup dan memberi segel botol yang sudah terisi. Tempat tersebut merupakan tempat produksi Sirup Popi yang dirintis sejak 1985.

Nickal Agbas, generasi kedua Sirup Popi dan Kecap Basela, Kudus 2017_5
Nickal Agbas, generasi kedua Sirup Popi dan Kecap Basela, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Nickal Agbas (35), Manajer Pemasaran Baston Food, mengungkapkan, Sirup Popi dirintis ayahnya, Sartono Agbas (63), pada tahun 1985. Menurutnya, sebelum membuka usaha produksi sirup ayahnya memiliki usaha pembuatan tegel. Selain menekuni usahanya tersebut, ayahnya juga menjadi penyuplai gula pasir ke perusahaan sirup di Jakarta dan Surabaya.

Baca juga: Sirup Popi, Produk Baston Food Kudus yang Dibuat dari Gula Asli dan Tanpa Pengawet

“Dari usaha sambilan itu, ayahku terbersit ide untuk membuka usaha pembuatan sirup. Dan Karena usaha tegelnya mulai kalah bersaing dengan produk keramik di pasaran, ayahku pun memutuskan menutup usaha tegelnya. Beliau kemudian menginvestasikan modalnya untuk membuka usaha pembuatan sirup yang diberi nama Sirup Popi, yang produksinya di bawah naungan Baston Food,” ujar pria yang akrab disapa Nick kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Putra pertama dari Sartono Agbas itu mengungkapkan, saat itu ayahnya dibantu ibunya untk membuat sirup berkualitas dengan rasa yang enak agar diminati banyak orang. Menurutnya, kedua orang tuanya berbagi tugas. Ayahnya mendapat tugas memilih bahan baku sirup berkualitas yang sudah menjadi keahlian beliau. Sementara ibunya bertugas meracik aneka bahan tersebut agar menjadi sirup berkualitas bagus.

Untuk pemasaran sirup, tuturnya, ayahnya merekrut tenaga pemasaran yang diterjunkan ke beberapa pasar tradisional di semua wilayah Karesidan Pati. Saat itu untuk mengenalkan Sirup Popi kepada masyarakat luas, produk sirup dititipkan kepada para pedagang di pasar tradisional dengan sistem laku terjual baru bayar. Tapi diakuinya, agar Sirup Popi dikenal masyarakat luas ayahnya membutuhkan waktu sekitar lima tahun.

Alhamdulillah dengan kerja keras ayahku dan tim produksi maupun pemasaran sekarang Sirup Popi sudah dikenal banyak orang di wilayah Karesidenan Pati. Kini dengan banyaknya peminat, para pedagang setiap membeli Sirup Popi pasti bayar cash. Karena mereka percaya dengan kualitas sirup produksi kami dan pasti laku terjual,” ujarnya mantab.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, kini Baston Food mampu menjual Sirup Popi sekitar 800 botol sehari. Saat Bulan Ramadan jumlah penjualan bisa naik hingga tiga kali lipat. Menurutnya, Sirup Popi dijual seharga Rp 17 ribu per botol dengan isi 620 mililiter. Harga tersebut pembelian dengan botol. Saat pembelian tanpa botol harga dikurangi Rp 1 ribu per botol.

“Sirup Popi diproduksi dengan berbagai varian rasa yakni, frambose, melon, nanas, jeruk, leci, jambu biji, coffee moca, kawis, dan rosen. Ada juga Sirup Popi dengan rasa jahe. Alhamdulillah dari sekian banyak rasa tersebut semua digemari para pelanggan. Semoga usaha kami makin berkembang dan Sirup Popi makin diminati banyak orang dan menjangkau pasar lebih luas lagi,” ujarnya.

- advertisement -

Fotografer Ini Terpana Lihat Model Fashion Show dengan Latar Bendung Wilalung

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIREJO – Zaki Mushoffa terlihat bersiap-siap mengambil gambar menggunakan kamera digital single lens reflex (DSLR) miliknya. Dia telah membidik gambar sejumlah model yang berjalan di atas Bendung Wilalung. Namun, dirinya harus berebut tempat dengan fotografer lain yang juga telah siap dengan kameranya. Suara shooter kamera terdengar beriringan, ketika sejumlah pasangan model berjalan mendekat ke arah selatan. Para model yang berjalan di atas karpet merah pun terlihat berpose di atas bendungan peninggalan Pemerintah Kolonial Belanda tersebut.

Fashion show di Waduk Wilalung, Desa Kalirejo, Undaan, Kudus 2017_5
Fashion show di Bendung Wilalung, Desa Kalirejo, Undaan, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com, Zaki mengaku sudah datang di Bendung Wilalung sejak pagi. Dirinya datang untuk mengikuti lomba foto, dalam kegiatan Gebyar Kebangkitan Perempuan Undaan 2017, Minggu (14/5/2017). Dia mengaku antusias karena lokasi yang digunakan lebih natural dan mengandung unsur sejarah. “Saya itu lebih suka tempat-tempat natural daripada modelnya di atas panggung atau di dalam gedung,” ungkapnya selepas kegiatan.

Warga Desa Medini, Kecamatan Undaan, itu menjelaskan, lokasi natural seperti di Bendung Wilalung menghadirkan suasana asri dan indah. Selain itu, terdapat nilai sejarah yang diberikan dari bangunan peninggalan Belanda tersebut. Dia menyayangkan, kegiatan cat walk di atas bendung dimulai lebih dari pukul 09.00 WIB. Menurutnya, foto yang dihasilkan kurang maksimal karena cahaya matahari terlalu tinggi.

Selain itu, beberapa make up model yang tampil pun ada yang luntur. Zaki menuturkan, sebenarnya dirinya lebih suka model yang tidak menggunakan make up terlalu tebal. Hal tersebut karena lokasi yang digunakan untuk foto suasana yang menyatu dengan alam. “Cukup mengenakan pakaian bagus dan make up alakadarnya saja akan lebih bagus,” jelasnya yang suka dunia fotografi sejak kelas dua SMA tersebut.

Sementara itu, Camat Undaan Catur Widiyanto menuturkan, kegiatan fashion show yang diikuti 11 pasangan di Bendung Wilalung merupakan kelanjutan kegiatan tahun sebelumnya yang diselenggarakan di hutan jati Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan. Menurutnya, tahun 2016 lalu nuansa yang diberikan yakni Hutan Kendeng. Sedangkan kali ini dirinya ingin mengangkat nuansa penyelematan aset sejarah Bendung Wilalung.

“Ini upaya untuk mengajak masyarakat ikut serta menjaga Bendung Wilalung. Kemungkinan tahun depan ada lagi nuansa pertanian. Kalau tidak di Desa Larikrejo, di Wates,” tuturnya.

Kegiatan tahunan yang diadakan Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan Karang Taruna Kecamatan Undaan, selain fashion show, juga ada lomba fotografi, aerobik, edukasi kader PKK dan lomba lari sejauh 5 kilometer. Selain itu, kegiatan Gebyar Kebangkitan Perempuan Undaan 2017 juga menyediakan kuliner khas Undaan serta band hiburan dari pemuda Undaan sendiri.

“Disamping uri-uri sejarah, juga mencari bakat seni, kemampuan seni, kemampuan dalam hal tata busana, tata boga dan sebagainya,” tuturnya di depan Bendung Wilalung yang dibangun Belanda tahun 1908.

- advertisement -

Usaha Olshop Dominasi Pengiriman di J&T Express Burikan, Sehari Kirim 150 Paket

0

SEPUTARKUDUS.COM, BURIKAN – Di tepi Jalan Bakti, Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah ruko bercat warna biru dengan dinding terbuka. Di dalamnya, tampak beberapa orang sedang duduk sambil sesekali mengecek kembali barang yang hendak dikirim. Satu di antara mereka yakni Cannigia Candra Bagaskara (23), Supervisor Marketing J&T Express Burikan Kudus.

Pengiriman barang di drop point J&T Express Burikan, Kudus 2017_5
Pengiriman barang di drop point J&T Express Burikan, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai di tengah aktivitas melayani sejumlah pelanggan yang datang, pria satu anak ini, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang pelanggan ekspedisi tersebut. Dia menjelaskan, kebanyakan pelanggan yang sering menggunakan jasa pengiriman barang di tempat yang dia kelola dominan dari area Kudus. Menurutnya, dari sekian banyak pengiriman barang yang di antar, kebanyakan berupa hijab dan obat herbal.

Baca juga: Mau Kirim Barang Tak Ada Kendaraan, Pulsa pun Habis, Telepon J&T Express Saja

“Kami melayani pengiriman paket barang seluruh penjuru di Indonesia, terkecuali benda-benda yang berbahaya. Dalam sehari, barang yang kami antar bisa mencapai 150 unit pengiriman. Kebanyakan berupa paket barang hijab, soalnya bisnis online shop (olshop) di Kudus sangat banyak. Selain itu, paling obat herbal herbal juga banyak,” ungkap Aska, sapaan akrab Cannigia Candra Bagaskara, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Karang Bener, Kecamatan Bae, Kudus, ini mengatakan, J&T Express menyediakan dua jenis pilihan paket bagi masyarkat yang ingin meggunakan jasa pengiriman barang. Di antaranya, paket VIP dan paket reguler. Namun terkait dengan pelayanan, tidak ada perbedaan yang signifakan. Perbedaannya, paket VIP ditujukan bagi pelanggan tetap dan paket regular bagi masyarakat umum.

“Baik paket VIP maupun reguler, kami memberikan potongan harga pada saat melakukan pengiriman dengan J&T Express. VIP kami berikan cashback, sedangkan reguler kami berikan diskon. Khusus paket reguler, setiap pengiriman barang dengan berat dua kilogram diskon 10 persen, tiga hingga empat kilogram diskon 20 persen dan pengiriman barang mulai 5 kilogram ke atas kami berikan diskon 30 persen dari harga yang telah ditetapkan,” ujar Aska.

Dia menambahkan, diskon tersebut merupakan program dari perusahaan dalam rangka meningkatkan profit pengiriman paket barang. Menurutnya, program itu sebenarnya sudah lama dilakukan, yakni dimulai sejak awal Januari dan berakhir hingga akhir Juni 2017. Selain dengan cara demikian, dia juga melakukan promosi melalui media sosial untuk mencari pelanggan yang lebih banyak.

“Dalam mencari pelanggan, kami melakukan berbagai cara. Seperti melakukan promosi lewat media sosial, membagikan brosur maupun menawarkan secara langsung ke toko-toko yang sekiranya membutuhkan layanan ekspedisi. Kami juga melayani pengiriman barang yang di beli lewat online seperti Lazada, Bukalapak maupun OLX,” tambah Aska.

- advertisement -

Sirup Popi, Produk Baston Food Kudus yang Dibuat dari Gula Asli dan Tanpa Pengawet

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Beberapa orang tampak sibuk mengisi ratusan botol dengan cairan sirup di dalam ruang produksi di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus. Di ruangan lain tumpukan krat berisi botol sirup siap untuk dikirim ke pelanggan. Di dalam gudang terlihat puluhan karung gula pasir akan digunakan bahan baku pembuatan sirup. Tempat tersebut yakni tempat produksi Sirup Popi yang dibuat tanpa pemanis buatan dan tanpa bahan pengawet.

Produk sirup Popi hasil produksi Baston Food Kudus 2017_5
Produk sirup Popi hasil produksi Baston Food Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Nick Agbas (35), Manajer Pemasaran Baston Food sudi berbagi penjelasan terkait produk Sirup Popi tersebut. Dia mengatakan, sirup buatan asli Kudus ini dirintis pada tahun 1985. Sejak awal, Sirup Popi hanya menggunakan gula pasir sebagai pemanis, tanpa sedikitpun pemanis buatan dan pengawet.

“Bahannya gula pasir sebagai pemanis itu merupakan ciri khas sirup yang kami produksi, dan kami pertahankan sampai sekarang. Selain itu sirup ini juga tanpa bahan pengawet. Jadi Sirup Popi sangat sehat untuk dikonsumsi,” ujar Nick saat ditemui beberapa waktu lalu.

Anak pertama dari Saptono Agbas (63), pendiri Baston Food, itu mengungkapkan, orang tuanya mendirikan Baston Food bertujuan menjadi perusahaan yang mempunyai merek dan produk yang selalu mengedepankan mutu, dan menjadi pilihan utama masyarakat luas. Selain itu, pihaknya ingin Baston Food mampu memberikan kepuasan bagi para pelanggan, karyawan, rekanan, dan masyarakat luas.

“Dengan visi misi itu, kami selalu menjaga kualitas produksi Sirup Popi agar mampu membuat produk sirup yang manis dan cocok di lidah dan sehat karena tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan. Oleh karena itu Sirup Popi mampu menjadi market leader di beberapa daerah di Karesidenan Pati. Di antaranya, Demak, Jepara, Pati dan Rembang,” tuturnya.

Di tiga daerah tetangga tersebut, katanya, Sirup Popi mampu menguasai pasar. Dan sirup yang diproduksi sudah terdistribusi ke semua pasar di sejumlah daerah tetangga itu. Di Rembang, Sirup Popi sangat digemari dan familiar di telinga masyarakat setempat. Bahkan di sana masyarakat fanatik dengan Sirup Popi. “Orang mau beli es sirup saja, ngomongnya ke pedagang itu, beli es Popi,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, beberapa tahun terkahir, selain memproduksi Sirup Popi, Baston Food juga memproduksi sirup merek Sirup Basela. Menurutnya, kedua sirup tersebut diproduksi dengan konsep sama yakni menggunakan gula pasir untuk pemanis dan tanpa bahan pengawet. Namun yang membedakan hanya varian rasanya.

“Kami berharap semua varian rasa dari Sirup Popi dan Sirup Basela makin diminati masyarakat luas. Dan semoga saja ke depan pemasaran Sirup Popi dan Basela bisa semakin luas hingga menjangkau pasar di daerah Jawa Barat dan Jawa Timur,” harap Nick.

- advertisement -

Mau Kirim Barang Tak Ada Kendaraan, Pulsa pun Habis, Telepon J&T Express Saja

0

SEPUTARKUDUS.COM, BURIKAN – Di depan ruko di Jalan Bhakti Desa Burikan, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat beberapa kendaraan terpakir. Di antara motor yang terpakir, tampak satu unit kendaraan box roda tiga bergambar Deddy Corbuzier. Ruko tersebut yakni tempat penyedia jasa pengiriman, J&T Express Burikan Kudus.

Pengirim menyerahkan barang di drop point J&T Burikan, Kudus 2017_5
Pengirim menyerahkan barang di drop point J&T Burikan, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Supervisor Marketing J&T Express Burikan Kudus, Cannigia Candra Bagaskara (23), sudi berbagi penjelasan tentang keunggulan ekspedisi tersebut. Dia menjelaskan, keunggulan yang ditawarkan bagi setiap konsumen yang melakukan pengiriman barang melalui J&T sangat beragam. Satu di antaranya, gratis jemput di tempat tanpa pungutan biaya sama sekali.

“Keunggulan ekspedisi di tempat kami, yang jelas, pengiriman barang ke tujuan sangat cepat dan terpercaya. Kami juga memberikan pelayanan berupa gratis jemput barang di tempat konsumen tanpa harus kami patok minimal order. Misal customer kebingungan mau kirim barang, tinggal telpon nomor hotline call center 0800-100-1188, kami siap menjumput barang hingga ke rumah,” ungkap pria yang biasa disapa Aska, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Karangbener, Kecamatan Bae, Kudus, ini melanjutkan, untuk menelpon nomor hotline, konsumen tak perlu khawatir dikenakan tarif biaya menelpon. Menurutnya, sambungan telepon gratis, meski tidak mempunyai ketersediaan saldo pulsa untuk komunikasi. “Nomor hotline call center kami bebas pulsa,” ujar ayah satu anak tersebut.

Dia mengatakan, terkait dengan tarif harga ekspedisi, katanya, harga menyesuaikan dengan jarak maupun berat paketan barang yang diantar. Misalnya, kiriman barang dari Kudus ke Jakarta maupun Surabaya, dipatok tarif Rp 16 ribu per kilogram, Kudus ke Bandung tarifnya Rp 20 ribu per kilogram dan untuk Kudus ke Solo, tarif yang dibebankan ke konsumen sebesar Rp 12 ribu per kilogram.

“Yang pasti, ada harga ada kualitas. Semua barang yang kami antar juga ada asuransinya, kami pasti ganti misal peketan barang yang diantar rusak maupun tidak sampai ke tujuan. Untuk lama pengiriman, tidak bisa dipastikan. Biasanya luar pulau estimasi sekitar tiga hari barang sudah sampai, pulau jawa selama dua hari dan untuk area Jawa Tengah paling satu hari,” ungkapnya.

Dia menambahkan, J&T Express Burikan Kudus merupakan drop point, buka setiap hari tanpa libur. Menurutnya, waktu jam kerja dimulai pukul 7.30 WIB hingga pukul 22.00 WIB. “Selama 24 jam, drop point kami selalu ada orang. Jadi, meski sudah tutup, pengiriman barang tetap kami terima,” tambah Aska yang mengaku sudah selama satu tahun menjadi karyawan J&T Express.

- advertisement -

Ikut Meriahkan Dandangan, Wahana Hiburan Pentas Lumba-Lumba akan Buka Hingga 28 Mei

0
Pentas lumba-lumba Festival Dandangan di Lapangan HW 2017_5
Pentas lumba-lumba Festival Dandangan di Lapangan HW. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Sore itu, di sudut Lapangan HW, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat beberapa orang dewasa sambil menggendong anak sedang antre membeli tiket. Seusai mendapatkan tiket, secara tertib mereka masuk dan naik ke sebuah panggung besar dan tertutup. Di dalamnya , mereka tampak duduk rapi di tribun untuk menonton pertunjukan yang segera mulai. Tempat tersebut yakni wahana pentas lumba-lumba dan aneka satwa laut.

Kepada Seputarkudus.com, Manajer Operasional Divisi Traveling Show pentas lumba-lumba tersebut Nurfaidin (41), mengungkapkan, pertunjukan lumba-lumba dan aneka satwa tersebut sudah mulai sejak Jumat, 21 April 2017 lalu, dan akan berakhir pada Minggu, 28 Mei 2017. Menurutnya, tujuan dari wahana hiburan tersebut yakni pengenalan secara langsung satwa yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi kepada masyarakat luas, khususnya anak-anak dalam bentuk atraksi.

Baca juga: Azil Tak Menyangka Lumba-lumba Bisa Berkenalan dengan Penonton di Lapangan HW

“Dan khusus untuk Kudus tahun ini, kami juga ingin ikut berpartisipasi untuk menyemarakkan tradisi Dandangan yang sudah ada di Kota Kretek sejak lama,” ujar pria yang akrab disapa Nur, saat ditemui di ruangannya, beberapa waktu lalu.

Pria asal Semarang itu mengatakan, wahana hiburan tersebut mementaskan lumba-lumba, satu ekor singa laut dan dua ekor linsang atau berang-berang. Ketiga jenis satwa tersebut akan beratraksi sesuai intruksi dari pelatih agar menghibur para penonton yang datang, sebagai sarana edukasi.

Pertunjukan pertama kata dia, dua ekor linsang akan menunjukan atraksi main bola basket, mengibarkan bendera, berjoget serta berjualan bakso dengan cara mendorong gerobak. Setelah itu, singa laut menunjukan kebolehannya menghibur para penonton, yakni dengan menjawab pertanyaan penjumlahan dengan cara membunyikan lonceng. Selain itu  singa laut juga jago main basket dan bisa bergaya saat diajak selfie.

“Sedangkan acara puncak dimeriahkan oleh maestro atraksi satwa laut yakni dua ekor lumba-lumba. Sepasang mamalia laut itu akan beratraksi melompati lingkaran, bermain hola hop di moncongnya sambil berenang, serta berdiri di atas permukaan air. Lumba-lumba tersebut juga bisa menjawab pertanyaan penjumlahan dengan cara menyundul bola sesuai jawaban dari pertanyaan para penonton,” jelasnya.

Pria yang sudah bekerja di wahana tersebut selama delapan tahun itu mengungkapkan, saat ini pagelaran tiga jenis satwa tersebut sudah separuh waktu dari jadwal yang ditentukan. Menurutnya, selama ini minat masyarakat Kudus terhadap pagelaran lumba-lumba dan satwa lainnya sangat bagus. Sehari tidak kurang dari 150 orang datang untuk menyaksikan.

“Jumlah tersebut saat hari biasa. Pada akhir pekan, Sabtu, Minggu maupun tanggal merah jumlah pengunjung bisa mencapai 500 orang. Tiket masuk harganya Rp 30 ribu untuk tribun dan VIP Rp 50 ribu. Khusus untuk rombongan pelajar dan guru harga tiket masuk lebih murah yakni separuh dari harga tiket tribun,” ungkapnya.

- advertisement -

Johan Bahagia, Tiga Hari Lagi Dia Tak Tidur di Kamar Rutan yang Sempit dan Penuh Sesak

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Seorang pria masih mengenakan kaus oranye berkerah hitam usai membersihkan lingkungan Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Kudus. Johan Marta (33), nama pria tersebut, selalu mengumbar senyum kepada siapa saja. Maklum saja, beberapa hari lagi, tepatnya 18 Mei 2017, dia dinyatakan bebas. Dia mengaku tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya karena akan segera bisa bertemu kembali dengan keluarga di rumahnya Nalumsari, Jepara.

Warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Kudus 2017_5
Warga binaan di Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Kudus. Foto: Imam Arwindra

Saat ditemui Seputarkudus.com, di Rutan Negara Kelas II B Kudus, Johan mengaku lega akhirnya akan segera bisa menghirup udara bebas setelah menempuh masa kurungan selama satu setengah tahun. Dia dihukum karena terlibat kasus penggelapan. “Lega dan senang. Akhirnya bisa bebas,” ungkapnya sambil tersenyum.

Baca juga: Johan Tak Jenuh Lagi Dalam Penjara, Dia Isi Waktu Buat Kerajinan Miniatur dan Keset

Selama di Rutan, dia mengaku banyak mengisi waktu dengan membuat kerajinan. Dia membuat produk miniatur dari bahan stik es krim. Strik tersebut dipotong sesuai bentuk dan ukuran, lalu kemudian disusun menjadi produk miniatur. Produk yang dibuat bersama rekan sesama warga binaan, di antaranya miniatur Menara Kudus, kapal layar, bingkai foto, dan lain sebagainya.

Di dalam rutan, Johan menempati kamar yang jumlah penghuninya melebihi kapasitas. Seperti terlihat di sel kamar 4 dekat ruang Bimbingan Kerja (Bimker), tertulis kapasitas kamar delapan orang, tapi diisi 11 orang. Dengan keadaan tersebut, Johan mengaku tidak masalah. Dia bisa menyesuaikan untuk hidup berdampingan bersama rekan-rekannya. “Tidak ada geng-gengan di rutan, semua saudara,” jelasnya.

Selama tinggal di rutan dia harus tidur berdesak-desakan. Namun hal tersebut membuatnya tetap merasa nyaman. Menurutnya, dirinya mendapatkan perlakuan baik dari rekan sesama narapidana dan petugas lapas. Para petugas lapas memberikan pelayanan terbaik serta melakukan pengamanan ketat. “Enak kok. Tapi ya saya sudah cukup. Tidak mau lagi (masuk penjara),” tuturnya.

Setelah keluar dari penjara, Johan berencana akan usaha bisnis interior bersama saudaranya di Nalumsari, Jepara. Menurutnya, dia akan memulai hidup baru lebih baik dari sebelumnya.

Sementara itu, Kepala Rutan Kelas II B Kudus Budi Prayitno memberitahukan, jumlah tahanan dan narapidana yang mendekam di Rutan yakni 234 orang. Menurut Budi, Rutan kelas II B hanya memiliki kapasitas 94 orang. Dirinya mengakui Rutan yang berada di Jalan Sunan Kudus mengalami kelebihan kapasitas.  “Lebihnya itu 100 sepuluh persen,” ungkapnya yang masih mengenakan seragam dinas warna biru.

Untuk mengantisipasi kelebihan kapasitas tersebut, pihaknya mengaku hanya bisa menyiasati dengan cara memutasi narapidana ke lembaga permasyarakatan (LP) lain. Selain itu, narapidana diberi kesempatan untuk pembebasan bersyarat, cuti menjelang bebas dan cuti bersyarat.

“Sejauh ini, progam tersebut sudah berjalan baik. Banyak warga binaan yang mendapatkan progam bebas bersyarat,” tambahnya.

Budi memberitahukan, dengan kondisi kelebihan kapasitas, pihaknya tetap melakukan pengamanan dan bimbingan kepada penghuni lapas. Dicontohkan, saat terdapat warga binaan baru, mereka akan ditempatkan pada ruangan masa pengenalan lingkungan (Mapelaning).

Di tempat tersebut, katanya, warga binaan akan diberi arahan serta penjelasan terkait kewajiban, larangan dan sanksi selama tinggal di lapas. Hal tersebut dilakukan agar cepat mengenal lingkungan sekitar. “Diarahkan, supaya bisa lebih cepat menyesuaikan,” tambahnya.

Dia menambahkan, jika ada warga binaan yang mentalnya down, pihak lapas akan memberikan konseling, agar masalah yang dihadapi dapat terselesaikan. Menurut Budi, lingkungan di lapas juga diberikan taman dan kebun. Selain untuk sarana berkebun, juga bisa menjadi wahanan olah raga dan rekreasi bagi warga binaan.

- advertisement -

Inilah Logo Kabupaten Kudus yang Benar Sesuai Perda Nomor 5 Tahun 1969

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Sejarawan Kudus Edy Supratno terlihat membolak-balik lembaran-lembaran kertas saat berdiskusi di kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus. Pada lembaran paling muka, tertulis Lambang Daerah Kabupaten Kudus tahun 1969. Dalam diskusi itu, Edy menjelaskan logo Kabupaten Kudus yang sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kudus nomor 5 tahun 1969.

Diskusi logo Kabupaten Kudus di kantor PWI Kudus 2017_5
Diskusi logo Kabupaten Kudus di kantor PWI Kudus. Foto: Imam Arwindra

Kepada peserta yang hadir, Edy mengatakan berkas tersebut didapatkan saat dirinya berada di Universitas Leiden Belanda tahun 2014. Dia menjelaskan, isi dari buku itu mengatur tentang lambang Kabupaten Kudus. Sejauh pengamatan Edy, dari beberapa logo Kabupaten Kudus beberapa tempat, banyak yang tidak sesuai dengan perda.

Baca juga: Waduh, Banyak Bagian di Logo Kabupaten Kudus yang Digunakan Pemkab Ternyata Salah

“Kita harus tahu dulu, selain perda nomor 5 tahun 1969 ada perda lain atau tidak. Kalau tidak ada, beberapa gambar banyak yang tidak pas dengan Perda nomor 5 tahun 1969,” ungkap mantan komisioner Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Kudus tersebut, saat berdiskusi bertajuk Mencari Lambang Daerah Sesuai Perda 5/1969, Kamis (11/5/2017).

Ketidak sesuaian tersebut terdapat di delapan tempat yang diabadikan Edy melalui kameranya. Lokasi itu di antaranya di situs resmi Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri), situs Pemerintah Kabupaten Kudus, Pendapa Kabupaten Kudus, mobil Dinas Kabupaten Kudus, dan sejumlah tempat lainnya.

Ketidak sesuaian tersebut terlihat dari warna, bentuk, jumlah dan kata. Edy mencontohkan logo Kabupaten Kudus yang berada di Pendapa Kabupaten Kudus dan situs Pemerintah Kabupaten Kudus kuduskab.go.id. Disebutkan, sesuai perda semboyan yang terdapat pada logo yakni Nagri Carta Bhakti yang berarti daerah makmur dan taat kepada pemerintahan pusat. Namun pada logo Kabupaten Kudus yang berada di Pendapa tertulis karta, bukan carta.

Dari segi warna, kata Edy, pada logo di Pendapa Kabupaten Kudus, bintang di atas menara berwarna coklat, begitu juga dengan Menara Kudus dan keris. Seharusnya, bintang berwarna kuning melambangkan keteguhan beragama, Menara Kudus berwarna merah bata dan keris berwarna hitam. Dua batang tebu berwarna merah juga tidak sesua dengan bentuk dan warnanya.

Edy menjelaskan, pada website Pemkab Kudus, ada banyak ketidaksesuaian. Antara lain, jumlah rangkaian kapas berjumlah sembilan, empat tingkat lantai Menara Kudus berwana coklat, lima rokok berwarna putih bertali hitam, keris berwarna hitam, kemudi kapal yang tampak tidak berbentuk kemudi dengan warna hijau, serta dua batang tebu yang tidak sesuai bentuk dan warnanya.

Padahal, seharusnya, empat tingkat lantai Menara Kudus berwana putih, lima rokok berwarna putih bertali merah, keris berwarna hitam, kemudi kapal berwarna merah bata berjari sembilan dan dua batang tebu berwana merah beruas enam dan berdaun sembilan.

“Kata-katanya juga ada yang tidak sesuai. Di buku milik pemerintah tertulis 20 lilin. Yang benar pilin, bukan lilin. Pilin itu benang lawe tenun,” tambahnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, berdasarkan Perda Kabupaten Kudus nomor 5 tahun 1969 yang mengatur tentang lambang Kabupaten Kudus, lambang logo Kudus hiasan ukir-ukiran dengan tulisan KUDUS berwarna putih dengan background merah. Pada sisi kiri logo terdapat delapan rangkaian buah kapas berwarna dasar hitam. Pada sisi kanan setangkai padi 17 butir berwarna kuning dengan dasar hitam.

Bintang yang berada di atas Menara Kudus berwarna kuning dengan menara berwarna merah. Empat tingkat lantai menara berwarna putih dengan langit-langit berwarna biru muda. Di dalam menara, terdapat keris eluk sembilan berwarna hitam dan pohon beringin berwarna hijau. Di kanan dan kiri menara terdapat dua gunung berwarna biru tua dengan warna putih di sisi puncaknya. tanah yang berada di bawah gunung berwarna hijau dan di bawahnya terdapat lima rantai berwarna kuning emas dengan dasar hitam.

Selain itu, katanya, di atas semboyan Nagri Carta Bhakti terdapat bendera merah putih. Lima batang rokok kretek berwarna puith bertali merah menjukkan daerah industri kretek dan lima bermakna kelahiran peraturan daerah pada bulan Mei. Dua batang tebu berwarna merah batu berluas enam dan berdaun sembilan. Kemudi kapal yang diapit dua batang tebu berjari-jari sembilan dengan benang lawe berwarna putih berpilin 20 melambangkan industri tenun.

“Jumlah dua puluh melambangkan lahirnya lambang 20 Mei 1969. Keseluruhan bagian lambang terdapat di dalam pelisir berwarna kuning emas melambangkan kebulatan tekad pemerintah dan rakyat daerah Kabupaten Kudus menuju masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila,” tuturnya.

- advertisement -

Ini Sebabnya Penjualan Oppo A37 di Toko BUB Lebih Tinggi Dibanding Oppo F1s

0

SEPUTARKUDUS.COM, MIJEN – Sejumlah produk handphone bermerek Oppo terlihat tertata rapi di dalam sebuah etalase, tepatnya di Jalan Jepara-Kudus No. 523, Desa Mijen RT 1 RW 4, Kecamatan Kaliwungu, Kudus. Tidak jauh dari etalase, tampak seorang pria mengenakan kemeja putih sedang melihat layar handphone. Pria tersebut yakni Kalimi (25), karyawan Bina Usaha Bersama (BUB), yang melayani penjualan produk Oppo.

Kalimi (25), karyawan Bina Usaha Bersama (BUB) Kudus 2017_5
Kalimi (25), karyawan Bina Usaha Bersama (BUB) Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu calon pembeli yang datang, Kalim, begitu akrab disapa, sudi berbagi penjelasan tentang penjualan ditempatnya bekerja tersebut. Dia mengatakan, produk yang paling laku terjual di bulan Januari kemaren yakni Oppo A37, dengan angka penjualan 25 unit. Sedangkan Oppo F1s, dalam jangka satu bulan hanya mampu terjual sebanyak lima unit.

Baca juga: Di Toko Bina Usaha Bersama, Pembeli Tak Harus Bayar Tunai, Kredit pun Bisa Dilayani

“Penjualan paling banyak di sini Oppo A37, dengan penjualan sebanyak 25 unit per bulan. Di tempat kedua dan ketiga ada Oppo F1s serta Oppo A39, yang masing-masing terjual sebanyak lima unit per bulan. Pengaruhnya, dari segi harga lebih murah dan spek yang ditawarkan tinggi,” ungkap kalim sambil memegang HP di tangannya.

Warga Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus, ini melanjutkan, Oppo A37 memiliki banyak keunggulan. Di antaranya layar lima inch, random access memory (RAM) dua gigabyte (GB),16 GB memori internal, bodi metal, layar Corning Gorilla Glass IV, kamera depan 5 megapixel (MP) dan belakang 8 MP. Sedangkan F1s mempunyai kelebihan di kamera depan 13 MP dan belakang 16 MP. Untuk layarnya berukuran lima setengah inchi.

Dia mengatakan, kebanyakan konsumen yang membeli dari wilayah Kudus, selain itu juga ada dari wilayah Jepara dan Demak. Untuk harga, dia merinci, A37 seharga Rp 1,999 juta dan F1s dijual dengan harga Rp 3,499 juta. “Tapi kalau F1s New beda lagi harganya, Rp 3,899 juta,” ujarnya.

Pri yang mengaku lulusan Sekolah Teknik Menengah (STM) di Kudus, ini menambahkan, khusus pembelian di BUB, pihaknya memberikan berbagi fasilitas. Seperti garansi mesin satu tahun, garansi aksesoris Hp enam bulan yang meliputi baterai, handset serta charger. Selain itu, juga ada fasilitas software untuk selamanya.

“Kalau dihitung, dalam jangka satu bulan kemaren di bulan Januari, kami sudah menjual sebanyak 35 unit produk Oppo. Tidak hanya Oppo, Samsung juga ada disini,” tambahnya.

- advertisement -

Indahnya Warna-warni Cahaya Lampion di Dukuh Winong pada Malam Nisfu Sya’ban

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIWUNGU – Suara teriakan anak-anak memeriahkan pembagian hadiah di acara Festival Bodho Beratan di Dukuh Winong, Desa Kaliwungu, Kaliwungu, Kudus. Tepat di depan panggung, terlihat sejumlah anak berdiri sambil menatap kupon undian hadiah yang mereka pegang. Satu di antara anak-anak tersebut yakni Aditia Firmansah (6). Dia mengaku senang bisa ikut acara yang diselenggarakan Ikatan Remaja Islam Nahdlatussyubban (IKARI) itu.

Festival Bodho Beratan di Dukuh Winong, Desa Kaliwungu, Kaliwungu, Kudus 2017_5
Festival Bodho Beratan di Dukuh Winong, Desa Kaliwungu, Kaliwungu, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Adit, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang keikutsertaannya dalam acara yang bertepatan dengan malam Nisfu Sya’ban tersebut. Dia mengaku membawa lampion mobil-mobilan. Karena tidak ada yang membuatakan, dia harus membeli lampion itu untuk bisa ikut memeriahkan kegiatan.

“Saya beli mobil-mobilan, karena kakak saya tidak bisa membuatkan. Ini lagi menunggu pembagian hadiah, jadi saya lihat kupon kalau disebut biar bisa langsung naik panggung,” terang anak terakhir dari dua bersaudara itu, Kamis (11/5/2017) malam.

Sementara itu, warna-warni lampion menghiasi setiap sudut jalan di kampung tersebut. Ada lampion kecil yang dibawa saat akan melakukan kirab, dab ada pula lampion beraneka bentuk dengan ukuran cukup besar.

Para remaja di sejumlah kampung desa setempat membuat lampion miniatur berbagai bentuk. Erwin Setiawan (18), remaja musala wetanan, mengungkapkan, remaja di kampungnya mendapat anggaran Rp 30 ribu untuk membuat miniatur mobil. Karena tidak cukup memiliki waktu, akhirnya mereka membuat lampion miniatur kontainer sebisanya.

“Kami membuat kontainer, acara pukul 19.00 WIB, karya kami baru jadi pukul 18.00 WIB. Karena terburu-buru jadi kurang maksimal. Kami menghabiskan anggaran Rp 50 ribu. Anggaran yang diberikan panitia masih kurang. Tidak masalah, yang penting kami bisa meramaikan acara,” jelas pria yang akarab disapa Bedes itu.

Muhammad Robi Arianto (21), Ketua Panitia Festival Bodho Beratan, menjelaskan, acara tersebut sudah menjadi kegiatan rutin IKARI sejak 2008. Dalam kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB tersebut, panitia membagikan sekitar 150 hadiah kepada peserta. Mereka mempersiapkan kegiatan tersebut selama satu bulan.

Dana untuk kegiatan tersebut dari iyuran panitian dan sumbangan donatur. “Panitia ada 70 orang, pemuda dan pemudi yang ikut IKARI. Tadi peserta berjalan mulai dari Masjid Jami’ Al-Azis hingga Lapangan Rogomoyo. Tadi juga dimeriahkan grup musik dari desa kami, El-Laska Nasyedcustic,” ungkap Robi sapaan akrabnya.

Feri Andriawan (26), mantan ketua IKARI tahun 2008-2011, menambahkan, kegiatan Bodho Beratan sudah menjadi budaya sejak dahulu, memperingati Nifsu Sya’ban. Acara dikemas menjadi acara festival baru mulai tahun 2008. Untuk regenerasi IKARI, mereka juga mewajibkan tiga musala di Dukuh Winong untuk ikut berpartisipasi membuat karya.

“Kegiatan ini juga untuk menopang eksistensi desa kami yang sudah dinobatkan menjadi Desa Wisata. Di Desa kami ada budaya, pencak silat, ukir, gebyok, dan makam Mbah Rogomoyo. Jadi kami sebagai generasi muda harus menjaga budaya dan potensi desa yang ada,” tambahnya.

- advertisement -

Waduh, Banyak Bagian di Logo Kabupaten Kudus yang Digunakan Pemkab Ternyata Salah

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Layar warna putih terpampang di ruang aula kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Kudus, Jalan Gang Masjid Agung, Desa Demaan, Kecamatan Kota. Layar proyektor tersebut menampilkan delapan logo Kabupaten Kudus yang terpampang di beberapa tempat. Logo yang terdapat di beberapa tempat tersebut menurut sejarahwan Kudus Edy Supratno tidak sesuai dengan Peraturan Daerah (Perda) nomor 5 tahun 1969.

Sejarawan Kudus Edy Supratno menjelaskan tentang logo kabupaten Kudus di kantor PWI 2017_5
Sejarawan Kudus Edy Supratno menjelaskan tentang logo kabupaten Kudus di kantor PWI. Foto: Imam Arwindra

Sejumlah lokasi yang memampang logo tersebut antara lain di situs Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia (Kemendagri), situs pemerintah kabupaten dan pendapa kabupaten, mobil dinas kabupaten, baner peserta sosialisasi peluang kerja ke luar negeri sektor perawat BNP2TKI. Selain itu juga di panji bendera kabupaten, Rumah Sakit Umum Lukmonohadi, serta di buku Pesona Tersembunyi Daya Tarik Wisata Kudus Tahun 2015 Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus.

Hal tersebut sontak mengejutkan beberapa anggota PWI Kudus dalam diskusi bertajuk Mencari Lambang Daerah Sesuai Perda 5/1969. Ketua PWI Kudus Saiful Annas, mengaku cukup terkejut saat Edy Supratno mengungkapkan banyak lambang logo Kabupaten Kudus yang terdapat di beberapa tempat tidak sesuai dengan perda. “Cukup mengejutkan, ternyata banyak yang tidak sesuai perda,” tuturnya saat selepas kegiatan.

Dalam diskusi yang dihadiri sejumlah tamu undangan itu, Edy Supratno mengungkapkan, beberapa gambar dalam logo banyak yang tak sesuai dengan perda. Menurutnya, jika belum ada perda lain, lambang pada logo Kabupaten Kudus masih menganut dengan Perda Kabupaten Kudus nomor 5 tahun 1969.

“Kita harus tahu dulu, selain perda nomor 5 tahun 1969 ada perda lain atau tidak, karena Perda tahun 1969 yang mengatur tentang lambang Kabupaten Kudus. Kalau tidak ada, beberapa gambar dalam logoo banyak yang tidak pas dengan Perda nomor 5 tahun 1969,” ungkapnya dalam diskusi yang berlangsung pada Kamis (11/5/2017) lalu.

Menurutnya, kesalahan tersebut terlihat jelas pada warna, bentuk, jumlah dan kata-kata. Edy mencontohkan, pada lambang logo Kabupaten Kudus terdapat keris. Sesuai Perda nomor 5 tahun 1969 keris yang dimaksud berwarna hitam. Namun ada beberapa gambar yang berwarna coklat bahkan putih. Padahal warna tersebut memiliki arti. Misalnya hitam pada keris, melambangkan sifat kesatria.

“Selain itu ada juga kata-katanya yang tidak sesuai. Di buku milik pemerintah tertulis 20 lilin, yang benar berpilin bukan lilin. Berpilin itu benang lawe tenun,” tambahnya.

Begitu juga dengan semboyan Nagri Carta Bhakti, kata Edy, berarti daerah yang makmur dan taat kepada pemerintah pusat. Namun di logo yang berada di pendapa kabupaten, Nagri Karta Bhakti. Tentu hal tersebut mengubah arti dari semboyan yang diinginkan.

- advertisement -

Azil Tak Menyangka Lumba-lumba Bisa Berkenalan dengan Penonton di Lapangan HW

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Puluhan pengunjung duduk rapi di tribun penonton wahana hiburan lumba-lumba dan aneka satwa di  Lapangan HW Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus. Tampak di antara penonton, seorang pria mengenakan kaus oblong bersama istri dan anaknya. Mereka sangat antusias mendekat ke kolam. Azil Maskur (32), nama pria tersebut, mengaku kaget dan seketika menjauh saat lumba-lumba mendekatinya.

Azil bersama keluarganya menyaksikan pertunjukan lumba-lumba 2017_5
Azil bersama keluarganya menyaksikan pertunjukan lumba-lumba. Foto: Rabu Sipan

Seusai menjauh, pria yang akrab disapa Azil itu sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalamannya berkenalan dengan mamalia laut tersebut. Dia mengungkapkan, saat ada suara mikrofon untuk mengajak para penonton berkenalan dengan lumba-lumba, dia bersama istri dan anaknya mendekat ke kolam. Saat lumba-lumba mendekat dan mengibaskan ekornya hingga membuat percikan air dan mengenainya dan pengunjung lain.

“Aku kira kenalannya itu lumba-lumba mendekat dan bisa dipegang atau bagaimana gitu. Ini malah lumba-lumbanya datang dan membuat air kolam muncrat lumayan banyak hingga mengenai badan kami. Aku dan penonton lainnya kaget, teriak dan spontan mundur menjauh tapi kami langsung tertawa. Karena jujur kami sangat terhibur,” ungkap pria yang berprofesi menjadi dosen tersebut.

Pria warga Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus itu mengatakan, datang ke wahana lumba-lumba dan aneka satwa bersama istri, anak seta keponakannya. Menurutnya, datang ke wahana tersebut untuk memberikan hiburan kepada anak semata wayangnya dan keponakan. Namun, dia bersama istrinya mengaku juga sangat terhibur.

“Niat awalnya menonton lumba-lumba dan aneka satwa untuk memberikan hiburan kepada anak dan keponakan kami. Tapi jujur selain anak dan keponakan kami yang terhibur, kami yang dewasa juga sangat terhibur. Aku bersama istriku dari tadi ketawa terus saat menyaksikan pertunjukan,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Ikbaludin (20) yang datang bersama kekasihnya. Dia mengaku sangat terhibur dengan pertunjukannya. Apalagi saat singa laut bisa memasukan bola ke keranjang dan aneka atraksi lumba-lumbanya. Meski bukan lagi anak-anak, dia mengaku tetap terhibur dan senang dengan aneka atraksi yang dipertunjukan.

“Aku bersama pacarku baru pertama menonton pagelaran lumba-lumba dan satwa lainnya. Selama ini kami kan hanya mendengar kepiawaian lumba-lumba hanya memalui cerita teman dan paling menonton lewat televisi. Oleh karena itu saat di Kudus ada ataraksi lumba-lumba, aku mengajak pacarku untuk nonton dan ternyata dia juga suka, dari tadi senyum-senyum dan selalu bertepuk tangan,” ungkap pria yang akrab disapa Ikbal tersebut.

Sementara itu, para pengunjung yang kebanyakan duduk di tribun sangat terhibur dengan aneka atraksi yang dipertunjukan. Mereka tampak selalu tersenyum dan selalu memberikan tepuk tangan saat lumba-lumba berhasil mempertunjukan atraksi sesuai instruksi pelatih. Apalagi saat lumba-lumba beratraksi, riuh para pengunjung seolah tak terbendung.

Tampak beberapa pengunjung tersebut mengabadikan momen-momen tertentu atraksi lumba-lumba dan aneka satwa menggunakan handphone mereka. Saat pertunjukan usai, para penonton juga sangat antusias antre berswafoto dengan lumba-lumba meski tidak gratis.

“Bagi para pengunjung yang ingin foto bareng dengan lumba-lumba dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 40 ribu. Dan ongkos foto dibayarkan saat sesi pengambilan gambar. Cetakan hasil pemotretan bisa langsung diambil di loket samping penjualan tiket,” jelas Nurfaidin selaku Manajer Operasional Divisi Traveling Show pagelaran lumba-lumba.

- advertisement -

Kuliner Burung Goreng di Kalirejo Ini Fenomenal, Kalau ke Undaan Jangan Lupa Dicoba

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIREJO – Di tepi barat Jalan Kudus-Purwodadi, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus tampak bangunan dua lantai. Di dalam bangunan lantai bawah tampak seorang perempuan setengan baya mengenakan daster sedang sibuk menggoreng burung untuk dihidangkan kepada para pembeli. Perempuan tersebut bernama Tumisih (52), generasi ketiga Warung Bu Tun yang menjual menu khas yakni burung goreng, atau sering disebut iwak manuk.

Kuliner iwak manuk Desa Kalirejo, Undaan, Kudus 2017_5
Kuliner iwak manuk Desa Kalirejo, Undaan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani para pembeli, Tumisih sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang warungnya tersebut. Dia mengungkapkan, warung miliknya itu dirintis oleh neneknya, Rasimah. Ibunya, Muntirah, kemudian meneruskan pengelolaan warung, dan sejak tahun 1997 warung tersebut dia kelola.

“Sebenarnya ibuku itu meninggal pada tahun 2010. Namun karena tiga tahun sebelumnya beliau sering sakit-sakitan, beliau memintaku untuk mengelola. Aku pun bersedia saja karena memang sebelumnya sudah terbiasa membantu ibuku memasak di warung. Warung ini sudah dikenal banyak orang dan lumayan laris. Sayang juga kalau tidak diteruskan,” ungkapnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Perempuan yang tinggal satu atap dengan bangunan warungnya tersebut mengatakan, Warung Bu Tun dikenal sebagai warung yang menyajikan aneka hidangan burung sawah. Di antaranya, burung kuntul, mliwis, peruk, pelung, sirmbokmbok, blekok, belibis dan bangau. Menurutnya, harga untuk iwak manuk juga berbeda, tergantung ukuran burung sawah tersebut.

“Untuk ukuran burung paling kecil harganya Rp 13 ribu per ekor, ukuran sedang Rp 16 ribu hingga Rp 50 ribu, tergantung dari jenis burungnya. Sedangkan burung belibis dijual Rp 60 ribu, dan paling mahal itu burung bangau yang dijual Rp 110 ribu per ekor, karena ukurannya yang lebih besar,” jelasnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak pria itu mengungkapkan, dalam sehari warungnya mampu menjual sekitar 100 ekor burung goreng. Warungnya tersebut hanya menyajikan burung goreng, tidak menyajikan burung dengan olahan lain. Kecuali, kata dia, saat pelanggan memesan dalam jumlah tertentu.

“Goreng saja lumayan memerlukan waktu lama, apalagi kalau disajikan dengan cara lain pasti lebih lama lagi. Karena itu kami memasak burung dengan sajian lain saat ada pelanggan yang pesan. Saat belum ada yang pesan, kami belum berani memasaknya, karena akan berpengaruh rasa lauk burung tersebut,” ujarnya.

Dia mengatakan, meski sudah tiga generasi, Warung Bu Mun masih tetap ramai pembeli dan makin banyak pelanggan. Menurutnya, pelanggannya tidak hanya warga Kudus, tapi juga datang dari Jepara, Demak, Pati, Purwodadi, Blora dan bahkan ada yang datang dari Semarang.

“Aku berharap menu lauk burung goreng yang aku jual makin laris dan makin diminati banyak orang. dan semoga ini selalu ramai pembeli agar kelak satu dari menantuku ada yang tergoda dan minat meneruskan usaha warung ini,” harap Tumisih.

- advertisement -