Beranda blog Halaman 1897

Johan Tak Jenuh Lagi Dalam Penjara, Dia Isi Waktu Buat Kerajinan Miniatur dan Keset

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Budi Johan (33) tampak serius memilah-milah kain perca yang tertumpuk dilantai depan sel kamar nomor 4 Rumah Tahanan (Rutan) Negara Kelas II B Kudus. Dengan cermat, dia memilah helaian kain perca untuk disesuaikan warnanya.

Penghuni Rutan Kudus membuat kerajinan dari stik es krim 2017_5
Penghuni Rutan Kudus membuat kerajinan dari stik es krim. Foto: Imam Arwindra

Kain perca yang sudah dipilah, dibawa ke ruang Bimbingan Kerja (Bimker) untuk disatukan dengan cara dianyam. Tampak tiga rekan Johan sedang menganyam kain perca menggunakan batang besi yang sudah dimodifikasi. Dengan telaten mereka menyatukan lembaran kain perca menjadi bagian-bagian keset. Selanjutnya, dua orang di depan ruang Bimker menyatukan bagian keset tersebut menjadi sebuah keset utuh.

Menurut Johan, penghuni  Rutan Kudus, setiap hari dirinya melakukan aktivitas tersebut bersama rekannya sesama penghuni. Johan yang sebelumnya terlibat kasus narkoba, mengaku senang dapat ikut serta membuat kerajinan keset. Dia mengaku jenuh jika setiap hari hanya diam dan tidur dibalik jeruji besi. “Jenuh di kamar, mending ikut buat kerajinan,” ungkapnya saat ditemui di Rutan, beberapa waktu lalu.

Pria berkulit putih dan mata sipit itu menuturkan, untuk membuat kerajinan keset, dirinya belajar dari awal secara otodidak. Namun tetap mendapatkan bimbingan dari petugas Rutan. Selain membuat keset bersama 16 rekannya, dirinya juga membuat kerajinan berbahan stik es krim. Stik tersebut dibuat menjadi miniatur Menara Kudus, kapal, tempat tisu dan wadah korek api.

“Untuk membuat miniatur perlu waktu berminggu-minggu,” tambah Johan yang harus berada di penjara selama empat tahun.

Sementara itu, rekan Johan, Abdullah Zaini (34), mengaku berterima kasih kepada kepala Rutan karena diizinkan membuat kerajinan. Menurutnya, adanya aktivitas membuat kerajinan, dirinya tidak merasa jenuh saat berada di penjara. “Kegiatan ini sangat bagus untuk teman-teman yang kena hukuman panjang,” tutur Zaini yang terkena kasus penggelapan.

Dalam sehari, katanya, Zaini dan rekan-rekannya mampu menghasilkan enam hingga sepuluh keset. Hasil kerajinan tersebut akan dijual di luar Rutan. Dia mengungkapkan, tidak terlalu sulit membuat anyaman keset. “Mungkin saja setelah keluar bisa usaha seperti ini,” tambahnya yang mendekam selama tiga tahun.

Budi Prayitno, Kepala Rutan Kelas II B Kudus menuturkan, kegiatan yang dilakukan yakni bagian progam Direktorat Jendral Pemasyarakatan berupa pembinaan kemandirian dan pembinaan mental. Dalam pembinaan kemandirian, selain membuat keset pihaknya juga melatih tahanan untuk membuat kreativitas dari bahan baku stik es krim. Menurutnya, stik es krim tersebut dibuat miniatur, tempat tisu dan wadah korek api. “Kami juga punya cucian mobil dan motor di depan Rutan,” ungkapnya.

Hasil dari kerajinan menurutnya akan dijual di sekitar Kabupaten Kudus. Dia menceritakan, beberapa waktu lalu 100 buah keset dipesan alumni SMP di Kudus untuk kegiatan reuni. Setiap keset, pihaknya membanderol harga Rp 15 ribu.

“Tahanan yang mengikuti pembinaan kemandirian sejumlah 19 orang yang sudah terseleksi. Kegiatan ini untuk bekal kehidupannya mereka saat kembali ke masyarakat. Semoga tidak melakukan tindak pidana dan dapat hidup lebih baik,” tambahnya.

- advertisement -

Di Toko Bina Usaha Bersama, Pembeli Tak Harus Bayar Tunai, Kredit pun Bisa Dilayani

0

SEPUTARKUDUS.COM, MIJEN – Lalu lalang kendaraan roda dua dan roda empat terlihat ramai melintasi Jalan Kudus-Jepara. Di tepi jalan itu, tampak sebuah ruko yang diatasnya tertulis Bina Usaha Bersama (BUB), toko yang menjual berbagai produk elektronik, furnitur dan gawai. Tidak hanya melayani pembayaran tunai, ruko tersebut diketahui juga melayani pembayaran secara kredit.

Toko Bina Usaha Bersama di Kudus 2017_5
Toko Bina Usaha Bersama di Kudus. Foto Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Yesica Carnella (32), pengelola toko BUB, sudi berbagi penjelasan terkait dengan penjualan sejumlah produk di tempatnya tersebut. Yesica, begitu dia akrab disapa, mengatakan, pusat penjualan yang sebenarnya berlokasi di daerah Mayong, Kabupaten Jepara. Sedangkan BUB yang ada di wilayah Kudus, merupakan bagian dari anak Cabang.

“Sebenarnya pusat BUB ada di Mayong, Jepara. Sedangkan yang di Kudus ini bagian dari anak cabang. Produk yang kami jual ada furnitur, elektronik, handphone (HP) dan laptop juga ada. Selin cash, kami juga melayani pembelian secara kredit,” ungkap Jesica saat ditemui di toko BUB, Desa Mijen RT 1 RW 4, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Wanita yang sudah dikaruniai tiga orang anak ini menjelaskan, untuk bisa melakukan pembayaran secara kredit, pihaknya memberikan berbagai syarat. Diantaranya, foto copy kartu tanda penduduk (KTP), foto copy kartu keluarga (KK) dan minimal produk yang dibeli seharga Rp 1,5 juta. “Tapi khusus HP minimal seharga Rp 2 juta. Setiap pembelian juga tidak perlu memberikan uang muka terlebih dahulu,” ujarnya.

Dia melanjutkan, furnitur yang dia jual berbagai macam, meliputi sofa, meja belajar, lemari pakian maupun dapur, baik dari kayu maupun palastik juga tersedia di ruko. Untuk elektronik, produk yang dijual meliputi televisi LED, air conditioner (AC), kipas angin, mesin cuci, kulkas, kompor gas, sound system serta peralatan rumah tangga lainnya. “Semua lengkap di sini. Khusus HP, sementara kami hanya menjual Oppo dan Samsung,” ungkapnya

Sembari menunggu calon pembeli yang datang, Dia menambahkan, harga yang dijual di BUB bervariasi, tergantung produk yang hendak dibeli. Misalnya mesin cuci, kisaran harga Rp 1,2 juta hingga Rp 3 juta, kemudian sound sytem, dijual mulai harga Rp 350 ribu hingga Rp 1,8 juta. Menurutnya, semua barang yang dijual dia dapatkan langsung dari distributor yang berada di Semarang.

“Ruko kami buka setiap hari, mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Kalau penjualan semua merata, baik dari furnitur, elektronik maupun gadget tidak ada yang lebih dominan,” tambahnya.

- advertisement -

Mata Alan Berkaca-Kaca Saat Keluarganya Saksikan Penobatannya Sebagai Mas Duta Wisata

0

SEPUTARKUDUS.COM, PENDOPO – Gemuruh suara tepuk tangan dan teriakan menggema saat juara Mas Dan Mbak Duta Wisata Kudus tahun 2017 diumumkan di Pendapa Kabupaten Kudus, Rabu (10/5/2017) malam. Mata seorang peserta terlihat berkaca-kaca usai mendapat selempang tanda juara. Pria itu yakni Alan Ragil Maulana (16). Dirinya tak menyangka bisa terpilih sebagai Mas Duta Wisata Kabupaten Kudus tahun ini.

Alan Ragil Maulana, Mas Duta Wisata Kabupaten Kudus 2017
Alan Ragil Maulana, Mas Duta Wisata Kabupaten Kudus 2017. Foto: Ahmad Rosyidi

Alan, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang keikutsertaannya dalam ajang tersebut. Dia mengaku tak menyangka bisa terpilih karena lawannya banyak yang sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sedangkan dirinya masih duduk di bangku SMA. Dia sangat terharu lantaran keluarga dan teman-temannya menyaksikan penobatan dirinya sebagai Mas Duta Wisata.

Baca juga:

“Mata saya berkaca-kaca karena saya terharu, tidak menyangka, saya masih SMA dan saya juga merasa masih banyak kekurangan. Saya juga terharu karena keluarga dan temen-teman yang datang mendukung saya menyaksikan semua ini,” jelas murid SMAN 1 Kudus, kelas 11 IPS 1, usai acara.

Alan mengikuti Mas Dan Mbak Duta Wisata Kudus 2017 karena ingin mengembangkan bakatnya di bidang entertainment. Dia merasa percaya diri karena mendapat juara Competition Kartini Kartono di SMAN 1 Kudus tahun lalu. Selain itu dia juga menjadi Ambassador 2016 di SMAN 1 Kudus.

“Saya merasa punya bakat bidang akting dan pembawa acara. Saya juga pernah mendapat pemeran pembantu terbaik di Festival Teater Pelajar tahun 2015. Jadi saya ingin mengembangkan bakat saya bidang entertainment. Selain itu kakakku yang pernah ikut 12 besar finalis Mas Dan Mbak Duta Wisata tahun 2005/2006, jadi menambah motivasi saya untuk ikut,” ungkap warga Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus itu.

Menurut pria yang memiliki hobi mendengarkan musik Rock dan berteater itu, Kudus memiliki potensi wisata yang besar. Kudus memiliki banyak destinasi wisata, terutama wisata alam dan wisata religi. Menurutnya, wisata di Kudus sudah dikenal seantero Jawa, bahkan Indonesia.

Alan juga yakin, semua masyarakat Kudus akan mendukungnya untuk mengembangkan potensi Wisata yang ada. “Banyak Kota yang terkenal karena wisatanya. Dan Kudus itu bisa jadi pusat wisata di Jawa Tengah kalau dikembangin lagi,” tambah anak terakhir dari tiga bersaudara itu.

Sementara itu, dalam sambutannya, Bupati Kudus Mustofa berpesan, menjadi duta wisata harus memiliki sifat kepemimpinan dan komunikasi yang baik untuk mempromosikan wisata di Kudus. Dia juga menaruh harapan yang besar dengan seluruh peserta, khususnya terpilih menjadi juara, agar mampu membangun komunikasi dan berjejaring yang baik.

- advertisement -

Belasan Tahun Kerja Ikut Orang, Suwadi Nekat Buat Usaha Produksi Susu Murni Modal Utang

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Di selatan Jalan sekitar 15 meter dari Jalan Siliwangi Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus tampak dua  bangunan setengah permanen dengan lantai cor beton. Di satu bangunan tersebut dalamnya terlihat lima ekor sapi. Di antara sapi itu tampak seorang pria jongkok memerah susu dengan ember tembaga di sampingnya. Pria tersebut adalah Suwadi (47), pemilik usaha pemerah susu sapi murni.

Suwadi sedang memerah susu sapi di kandang miliknya 2017_5
Suwadi sedang memerah susu sapi di kandang miliknya. Foto: Rabu Sipan

Seusai memerah susu, Suwadi sudi meluang waktu untuk berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, dirinya memulai usaha ternak sapi perah pada tahun 1998. Menurutnya, sebelum membuka usaha perah susu sapi, dirinya mengaku terlebih dulu bekerja di usaha perahan susu milik orang lain selama 12 tahun. Tempatnya bekerja dulu terbilang besar, dan dirinya bekerja di bagian perawatan sapi dan pemasaran susunya kepada konsumen.

Baca juga: Meski Tak Besar, Usaha Produksi Susu Murni Milik Suwadi Bisa Biayai Anaknya Hingga Perguruan Tinggi

“Pada saat itu produksi susu di tempatku bekerja mulai menurun sedangkan permintaan susu murni meningkat. Oleh sebab itu aku nekat membeli sapi perah susu dari Boyolali, dengan modal hutang kepada saudara dengan jaminan sepeda motor,” ungkapnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria yang dikaruniai dua anak itu mengatakan, saat memiliki sapi perah yang sudah bisa menghasilkan susu murni, dirinya masih bekerja di tempat kerjanya. Namun tindakannya tersebut sempat ditentang bos tempatnya bekerja. Sehingga dia memutuskan keluar dan fokus pada usahanya.

Setelah keluar kerja dan ingin bisa menghasilkan susu murni lebih banyak, pada tahun 1999 dia mengaku membeli satu lagi sapi perah. Menurutnya, dengan memiliki dua ekor sapi, Suwadi mampu mendapatkan sekitar 20 liter sehari dengan harga saat itu Rp 3 ribu per liter. Menurutnya, dengan dua ekor sapi perah tersebut hasil dari penjualan susu berangsur-angsur mampu untuk melunasi hutang modal pembelian sapi.

“Aku bersyukur karena dari hasil penjualan susu murni sapi perah itu aku bisa melunasi hutang modal untuk membeli sapi perah. Dari hasil penjualan tersebut aku juga bisa menabung hingga pada tahun 2002 mampu beli seekor sapi perah lagi. Jadi total aku memiliki tiga ekor sapi perah,” tuturnya.

Dia mengatakan, dengan memiliki tiga ekor sapi perah produksi susunya juga makin banyak, penghasilannya pun meningkat. Saat ini Suwadi sudah memiliki sembilan ekor sapi. Namun yang sapi perahnya hanya lima ekor saja, sedangkan yang empat ekor merupakan anak dari sapi perah dan berjenis kelamin jantan.

Dari lima ekor sapi perah tersebut, kini dia mampu menghasilkan sekitar 40 liter susu sehari dengan harga saat ini Rp 12 ribu per liter. Sedangkan empat ekor sapi jantan yang merupakan anak dari sapi  perah tersebut, tetap dirawat dan dipelihara karena saat besar nanti harganya bisa mencapai puluhan juta rupiah per ekor.

“Aku berharap semua sapi perahku bisa produktif dan menghasilkan susu murni yang banyak dan semoga usaha pemerahan susu kami bisa makin berkembang. Dan kami juga bisa membangun kandang yang lebih tinggi serta luas agar bisa buat kunjungan pendidikan anak sekolah TK maupun Paud,” harapnya.

- advertisement -

Warga Jepara Ini Kesal Karena Kalah Keren dari Sujiwo Tejo

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Sejumlah orang terlihat mendekat dan meminta swafoto saat Sujiwo Tejo tiba di Arjuna Resto, di Jalan Lingkar Utara, Desa Gondangmanis, Bae, Kudus, Selasa (9/5/2017) malam. Tampak seorang pemuda bertopi hitam muncul dari belakang Sujiwo Tejo kemudian meminta foto. Dia adalah Muhammad Ghofurrur Rohim (27), yang datang ke acara Tajug Syahadat ke-5 dengan tema “Ngaji Kitab Tuhan Maha Asyik”.

Gopunk (kanan) bersama Sujiwo Tejo saat hadir pada Tajug Syahadat 2017_5
Gopunk (kanan) bersama Sujiwo Tejo saat hadir pada Tajug Syahadat,. Foto: Ahmad Rosyidi

Gopunk, begitu Muhammad Ghofurrur Rohim akrab disapa, mengaku tertarik untuk datang ke acara tersebut karena ada Sujiwo Tejo. Menurutnya, budayawan yang mendapat predikat Presiden Jancuker itu adalah orang yang bebas.

Baca juga: Presiden Jancuker Sujiwo Tejo: Jangan Pernah Lakukan Sesuatu dengan Kebencian!

“Sujiwo Tejo kan orang yang bebas, sak penake dewe, unik. Kadang saya juga ingin mengikuti beliau yang hidupnya santai, tidak ada beban. Tapi saya masih belum bisa sebebas beliau, saya cuma berusaha santai menjalani hidup ini. Sebenarnya saya serik pada beliau, karena lebih keren daripada saya,” ujar warga Desa Menganti, Kecamatan Kedung, Jepara itu, sambil tertawa.

Dia mengaku senang bisa foto selfie barsama Sujiwo Tejo. Dan ini kelima kalinya Gopunk menghadiri acara diskusi dengan narasumber Sujiwo Tejo. Dia tertarik dengan pembawaan dan perkataan Sujiwo Tejo yang tidak wajar. Hal itu menjadikan dirinya merasa semakin tertarik.

“Ini yang kelima kalinya saya menghadiri acara dengan pembicara Mbah Jiwo. Menurut saya, hal yang menarik dan membuat saya ingin datang adalah perkataannya yang dalam,” ungkap pria yang dikaruniai satu anak itu.

Sujiwo Tejo dalam diskusi mengungkapkan, Tuhan itu maha asyik. “Kita kan bisa berdoa dengan cara yang asyik. Tuhan, saya ini sudah belajar dengan maksimal, mbok ya dikasih nilai yang bagus. Begitu kan asyik, tidak monoton,” terangnya.

Sementara itu, narasumber yang juga hadir dalam acara tersebut, Anis Ba’asyin, menambahkan, asyik itu ketika seseorang merindukan dan dirindukan.

“Seperti saat kita setelah salat, kita salam kekanan dan kekiri. Kita salam kekanan dengan semua kebaikan, dan kita juga salam kekiri dengan semua keburukan. Karena baik dan buruk semua kehendak Tuhan,” jelasnya.

- advertisement -

Presiden Jancuker Sujiwo Tejo: Jangan Pernah Lakukan Sesuatu dengan Kebencian!

0

SEPUTARKUDUS.COM, GONDANGMANIS – Ratusan orang tempak berdesakan di depan panggung menyaksikan musik Sendhon (Apresiasi Antologi Puisi) dan Tajug Band sebagai pembuka acara Tajug Syahadat edisi ke-5, Selasa (9/5/2017) malam. Acara yang diselenggarakan di Arjuna Resto Kedai Kopi Ndeso, Jalan Lingkar Utara, Desa Gondangmanis, Bae, Kudus, itu menghadirkan seniman sekaligus budayawan kenamaan, Sujiwo Tejo.

Sujiwo Tejo (bertopi) saat tampil dalam Tajug Syahadat di Arjuna Resto 2017_5
Sujiwo Tejo (bertopi) saat tampil dalam Tajug Syahadat di Arjuna Resto. Foto: Ahmad Rosyidi

Selain Sujiwo Tejo, acara yang mengangkat tema “Ngaji Kitab Tuhan Maha Asyik” itu juga menghadirkan sejumlah seniman lainnya. Di antaranya budayawan dari Pati Anis Sholeh Ba’asyin, dan seniman kaligrafi Muhammad Assiry, yang juga pemilik Arjuna Resto.

Suara gemuruh tepuk tangan disertai tawa terdengan saat Sujiwo Tejo diberi kesempatan berbicara kepada para pengunjung. “Kita itu tidak perlu menipu diri, kalau marah ya marah saja. Kadang kita marah tapi memohon dengan cara berpura-pura kepada Tuhan,” kata Sujiwo Tejo dengan ekspresi yang mengundang tawa.

Menurutnya, Tuhan itu Maha Asyik. Semua atas kehendak Tuhan, sehingga tidak boleh melakukan sesuatu dengan kebencian. “Ada kejahatan, kita wajib melawannya, tetapi tidak dengan kebencian. Karena semua itu kehendak Tuhan, jadi semua hanya menjalankan peran dari Tuhan,” tuturnya.

Dia mencontohkan, dirinya memiliki teman polisi yang tugasnya menangkap bandar narkoba. Kemudian dia bertanya kepada temannya tentang perasaannya saat menangkap bandar narkoba.

“Teman saya itu menjawab, saya tidak tahu, pokoknya saya basmi saja. Kemudian saya bertanya lagi, apa anakmu pemakai? Kemudian dia diam dengan mata berkaca-kaca, tidak, tetapi keponakan saya, hingga over dosis. Itu karma, karma itu ada. Jadi jangan melawan kejahatan dengan kebencian,” Jelas Presiden Jancukers, julukan Sujiwo Tejo.

Sementara itu, menurut Anis Sholeh Ba’asyin, sesama manusia kita tidak boleh saling menghakimi. Baik maupun buruk yang terjadi saat ini, tidak bisa disimpulkan akan terjadi hal yang sama di waktu mendatang.

“Semua ini bukan milik kita, harta, tubuh, bahkan jantung ini juga bukan milik kita. Yang kita miliki hanya kesadaran, dan semua didasari cinta. Kita marah, mencubit, memukul, semua karena cinta. Jadi seperti orang tua yang mendidik anaknya,” terangnya.

Zakiya Fitriani (25) moderator acara tersebut, menjelaskan, Tajug Syahadat sudah menjadi acara rutin Arjuna Resto Kedai Kopi Ndeso setiap bulan. Dan acara tersebut diselenggarakan setiap pekan pertama di awal bulan.

“Ini sudah menjadi acara rutin setiap bulan. Tetapi berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya, kali ini terasa istimewa karena ada Sujiwo Tejo. Saya juga baru pertama kali ini menjadi moderator dengan narasumber tingkat nasional, jadi gerogi,” tambahnya.

- advertisement -

Siswi Penghobi Karate Ini Tampil Selembut Mungkin Saat Berjalan di Atas Panggung Grand Final

0

SEPUTARKUDUS.COM, PENDAPA – Secara beriringan, 12 pasangan Mas dan Mbak Duta Wisata Kudus berjalan menuju panggung di aula Pendapa Kabupaten Kudus, Rabu (10/5/2017) malam. Mereka terlihat bergandengan dan berjalan perlahan sambil mengumbar senyum kepada undangan yang hadir. Saat keseluruhan peserta Grand Final sudah berjajar rapi, gemuruh tepuk tangan terdengar meriah.

Grand final Mas dan Mbak Duta Wisata Kabupaten Kudus 2017_5_11
Grand final Mas dan Mbak Duta Wisata Kabupaten Kudus. Foto: Imam Arwindra

Ke-12 pasangan peserta masing-masing mendapat giliran untuk menjawab pertanyaan yang disiapkan dewan juri. Pertanyaan dari juri tersebut dibagi dua sesi, setiap sesi ada enam pasangan yang mendapat kesempatan menjawab pertanyaan. Ada yang menjawab pertanyaan menggunakan Bahasa Indonesia, bahkan Bahasa Inggris.

Baca juga: 

Satu di antara 24 peserta yang masuk ke Grand Final, yakni Shafira Apriliani Iswanto (17), yang berpasangan dengan Adam Fachrudin. Shafira, sapaan akrabnya, tampak menebar senyum saat berjalan ke hadapan juri. Peserta nomor 52 itu terdengar fasih menjawab pertanyaan dengan menggunakan Bahasa Inggris.

Usai tampil, kepada Seputarkudus.com dirinya sudi berbagi cerita tentang keikutsertaannya dalam ajang tersebut. Dia mengaku tak grogi saat tampil di hadapan juri, meski ajang ini pertama kali diikutinya. “Tadi (menjawab pertanyaan) menggunakan Bahasa Inggris. Alhamdulillah tidak grogi,” tuturnya sambil tersenyum.

Shafira kini masih duduk kelas 11 IPA 8, SMA 1 Kudus. Dia mengaku tidak minder walau harus bersaing dengan peserta yang sebagian besar sudah masuk perguruan tinggi. “Sama sekali tidak minder. Sebenarnya di sekolah saya suka karate, namun kali ini saya ingin berperilaku menjadi wanita  yang lembut,” jelas warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota.

Tidak ada persiapan khusus untuk mengikuti grand final Duta Wisata. Menurutnya, dia hanya berlatih sendiri tentang kepribadian dan etika bertutur kata dan berjalan. Selain itu, dirinya hanya bermodal semangat dan dukungan penuh dari orang-orang yang berada didekatnya. “Dari SMA 1 Kudus tidak hanya saya saja, ada yang lain,” tambahnya.

Nur Khamid Wakil Ketua Bidang Kesiswaan SMA 1 Kudus yang ikut mendampingi siswanya menuturkan, pihaknya memang mengakui mengirimkan beberapa siswanya untuk mengikuti kegiatan tahunan tersebut. Menurutnya, ada tiga siswi dan satu siswa yang diseleksi dengan ketat untuk mewakili SMA 1 Kudus.

“Seleksi kami lakukan sesuai dengan kriteria proposal dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus. Sebenarnya kami mau mengirimkan sembilan. Namun akhirnya mengirimkan empat saja,” tuturnya.

Dia menuturkan, walau masih pelajar SMA pihaknya tidak minder bersaing dengan mahasiswa bahkan dari kalangan umum. Terbukti, juara didapatkan siswanya bernama Alan Ragil Maulana. Khamid memberitahu, muridnya yang menjadi juara pertama masih duduk di kelas 11 IPS 1. “Alhamdulillah tadi ada yang mendapat juara. Namanya Alan. Walau sibuk di OSIS dia bisa menorehkan prestasi,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus mengungkapkan, diadakannya kegiatan Pemilihan Mas dan Mbak Duta Wisata Kudus 2017 untuk mencari bibit duta wisata yang dapat mempromosikan aset pariwisata yang ada di Kudus. Selain itu, nantinya juga mewakili Kudus dalam pemilihan duta wisata tingkat Jawa Tengah.

Dia memberitahu, dalam proses seleksi ada 52 peserta dari 21 laki-laki dan 31 perempuan. Setelah diseleksi diambil 12 pasangan yang nantinya akan merebutkan juara satu, dua dan tiga. Harapan satu, dua dan tiga. Serta juara photogenic dan juara favorit.

Bupati Kudus Musthofa yang yang datang membuka acara ingin peserta duta wisata di Kudus maupun di kabupaten-kabupaten sekitar bisa berjejaring dan bersinergi. Menurutnya, dengan saling mengenalnya antara duta wisata, dapat berkomunikasi secara utuh di dunia yang serba digital. “Ingat, duta wisata ini menjadi kepanjangan tangan pemerintah. Sifat kepemimpinan dan jejaring yang kuat perlu dimiliki para duta wisata,” tuturnya.

Dalam kegiatan Grand Final Pemilihan Mas dan Mbak Duta Wisata Kudus 2017, juara diraih Alan Ragil Maulana dan Hima Choirun Nisyak. Sedangkan pemenang kedua Abdullah Faqih dan Lidya Mega, serta pemenang ketiga Raynaldi Abdillah dan Zuldia Illiyati.

- advertisement -

Sifa Tak Takut Tidur di Tenda Saat Kemah Dongeng Pendidikan, Kalau Ada Hantu Dibacakan Doa

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Sejumlah tenda dome terlihat berjajar di depan gedung Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Bae, Desa Purworejo. Di dalam tenda terdapat beberapa anak-anak sedang bermain. Ada pula yang baru menenteng tas dan bantal untuk dimasukkan ke dalam tenda. Mereka adalah siswa Omah Dongeng Marwah dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Semai Jepara yang sedang melakukan kegiatan Kemah Dongeng Pendidikan.

Kemah Pendidikan Omah Dongeng Marwah 2017_5
Kemah Pendidikan Omah Dongeng Marwah 2017. Foto: Imam Arwindra

Saat dilangsungkan kegiatan menggambar di ruang aula Gedung MWC NU Bae, Maulida Naela Syifa (9), peserta kegiatan, mengaku sangat senang bisa mengikuti kegiatan Kemah Dongeng Pendidikan. Menurutnya, dirinya sudah bosan berada di rumah. Dia ingin merasakan suasana berbeda tidur di luar rumah bersama teman-temannya.

“Saya tidak takut jika tidur di tenda. Kalau ada ular tinggal diberi garam. Kalau ada hantu dibacakan doa,” tuturnya yang tampak polos saat berlangsungnya kegiatan, Sabtu (6/4/2017).

Di samping Syifa, Jihan Patricia Kirana (8) menyela, dia bersama temannya sesungguhnya ingin sekali mengikuti kemah yang pernah diadakan setahun lalu, tepatnya pada bulan Agustus 2016. Ketika itu, dia hanya bisa melihat teman-temannya yang tampak asyik mengikuti kegiatan Kemah Dongeng Kemerdekaan. “Sudah setahunan saya menunggu untuk ikut kegiatan kemah,” jelasnya.

Berawal dari melihat kegiatan kemah yang diselenggarakan pertama dulu, Jihan akhirnya ikut Omah Dongeng Marwah dan dapat mengikuti kegiatan berkemah pada momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Nadila Alayya (9) yang satu tenda bersama Syifa dan Jihan memiliki alasan yang sama. Menurutnya, dengan berkemah mengajarkannya untuk bisa lebih mandiri. Selain itu, juga dapat memiliki teman baru. Ketiga anak tersebut, ternyata masih sekolah di kelas yang sama SDN 2 Purworejo.

Sementara itu, panitia kegiatan Ulin Noor Baroroh menuturkan, pihaknya menyelenggarakan Kemah Dongeng Pendidikan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Menurutnya, kegiatan yang diadakan hari Sabtu-Minggu (6-7/5/2017) dibingkai dengan tema “Melatih Kemandirian, Memupuk Kebersamaan”. “Kemah ini permintaan langsung dari anak,” ungkapnya saat kegiatan berlangsung.

Dia menjelaskan, sebelumnya Omah Dongeng Marwah pernah mengadakan kegiatan serupa pada peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-71. Kegiatan Kemah Dongeng Kemerdekaan yang dilakukan tanggal 20 Agustus 2016, selain berkemah dan mendongeng, juga terdapat pemutaran film Macan Putih Muria yang dibuat anak-anak Omah Dongeng Marwah sendiri.

Kali ini pada Kemah Dongeng Pendidikan, panitia juga memutarkan film pendek Bintang Di Langit Jakarta, yang menurut Ulin buah karya dari anak-anak Omah Dongeng Marwah. Untuk rangkaian kegiatan, di antaranya ada estafet bola, sekoci kertas, bermain holahop, sepak bola dan menggambar. “Di akhir acara juga ada mencipta lagu yang dinyanyikan bersama,” tambahnya dengan jumlah peserta 60 an anak.

- advertisement -

Meski Tak Besar, Usaha Produksi Susu Murni Milik Suwadi Bisa Biayai Anaknya Hingga Perguruan Tinggi

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEKULO – Sembilan ekor sapi terikat di kandang di Desa Jekulo RT 4, RW 7, Kecamatan Jekulo, Kudus. Tampak sebagian sapi sedang lahap memakan ampas tahu yang diberikan. Tak jauh dari sapi-sapi itu makan, terlihat seorang pria sedang memerah susu sapi. Susu hasil perahan kemudian ditampung dalam ember tembaga. Tempat tersebut yakni termpat pemerahan susu murni rumahan milik Suwadi.

Suwadi, pemilik usaha produksi susu murni di Desa Jekulo, Kudus 2017_5
Suwadi, pemilik usaha produksi susu murni di Desa Jekulo, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Suwadi (47) mengungkapkan, dia menekuni usahanya tersebut sejak tahun 1998. Meski usahanya belum bisa dikatakan besar, namun selama ini hasilnya dinilai cukup. Dari hasil usaha itu dirinya mampu untuk membiayai keluarga dan menyekolahkan dua anaknya hingga perguruan tinggi.

“Aku bersyukur dari hasil usaha perahan susu itu mampu untuk membiayai dua anaku kuliah. Bahkan yang sulung sudah lulus sarjana dan sekarang menjadi guru. Aku berharap usahaku ini tetap lancar agar biaya kuliah anaku yang bungsu tidak terganggu. Karena memang sandaran ekonomi keluargaku hanya dari usaha perahan susu sapi murni saja,” ungkap Suwadi saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria yang tempat tinggalnya berjarak sekitar 15 meter dari kandang sapi perah itu mengatakan, selain untuk biaya sekolah dua anaknya, hasil dari usaha perah susu murni tersebut bisa untuk memperbaiki rumah dan dijadikan dua lantai. Selain itu dia juga bisa membeli tanah sawah untuk ditanami rumput gajah sebagai pakan sapi.

Dia mengaku memiliki sembilan ekor sapi. Namun sapi perahnya hanya lima ekor, karena yang empat ekor itu berjenis kelamin jantan. Menurutnya, ke empat sapi tersebut merupakan anak dari susu perah tersebut. Dan dari lima ekor sapi perah tersebut, Suwadi kini mampu menghasilkan sekitar susu murni sebanyak 40 liter sehari yang diperah dua kali sehari.

“Susu murni hasil perahan kami rebus dan dikemas. Setiap kemasan berisi 250 gram susu. Sejak 2010, selain rasa natural kami juga menyajikan susu kemasan dengan aneka rasa yakni susu coklat, susu capucino, susu strawberi, susu madu, susu jahe, susu jeruk, dan rasa buah lainnya,” ujarnya.

Dia mengatakan, sejak mengemas susu murni dengan aneka rasa itu, susu produksinya mulai diminati banyak orang dan kini sudah punya banyak pelanggan. Di antaranya beberapa warung dan pemiliki usaha kafe atau pengolahan susu skala rumahan di Kudus. Menurutnya, beberapa kali dia juga mendapat pesanan susu dengan aneka rasa dari beberapa sekolah di Kudus dengan jumlah sekitar 50 kemasan.

“Sebenarnya beberapa kali kami juga mendapatkan pesanan susu murni dari antaranya Demak dan Jepara. Namun order tersebut terpaksa kami tolak, karena hasil susu perah sapi kami yang masih terbatas dan hanya cukup untuk memenuhi permintaan susu murni para pelanggan lama kami,” ungkapnya.

- advertisement -

Polisi Siapkan 34 Ribu Lembar Tilang, Kapolres: Oprasi Dilakukan Pukul 12.00 Hingga 16.00 WIB

0

SEPUTARKUDUS.COM, POLRES – Sejumlah kendaraan roda dua diperiksa Kepala Kepolisian Resort Kudus (Kapolres) AKBP Agusman Gurning di halaman Markas Kepolisian Resort Kudus (Mapolres). Tampak pula dua mobil patwal dengan bagasi terbuka tidak luput dari pemeriksaan. Pengecekan itu dilakukan untuk memastikan kelayakan kendaraan yang akan digunakan dalam Operasi Patuh Candi 2017.

Kapolres Kudus Agusman Gurning memeriksa kendaraan untuk Operasi Patuh Candi 2017_5
Kapolres Kudus Agusman Gurning memeriksa kendaraan untuk Operasi Patuh Candi 2017. Foto: Imam Arwindra

Sebelum mengecek kendaraan, Agusman sempat memimpin gelar pasukan gabungan Polres Kudus, TNI, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus. Dia juga menyematkan pita warna biru di pundak kiri kepada anggota tiap lembaga.

Menurut Agusman, Operasi Patuh Candi 2017 digelar untuk cipta kondisi menjelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Kegiatan akan diadakan selama 14 hari, dimulai tanggal 9 Mei 2017 hingga 22 Mei 2017. “Untuk waktunya ya seperti operasi biasanya, antara pukul 12.00 (WIB) hingga 16.00 (WIB),” ungkapnya usai mengecek kelengkapan armada, Selasa (9/5/2017).

Dia menjelaskan, Operasi Patuh Candi 2017 dilakukan serentak di seluruh Indonesia. Berbeda dengan Operasi Simpatik, Operasi Patuh Candi lebih mengutamakan tindakan represif penegakan hukum berupa penilangan bagi pelanggar lalu llintas. Namun pihaknya, tetap tidak mengesampingkan kegiatan preemtif dan preventif yang mengedepankan senyum, sapa dan salam.

“Kegiatan ini juga untuk persiapan mudik Lebaran. Ini kami lakukan untuk mengurangi laka lantas (kecelakaan lalu lintas) sebelum Lebaran,” jelasnya.

Saat ditanya titik lokasi operasi, Agusman mengungkapkan, operasi akan digelar di lokasi-lokasi yang sering terjadi kecelakaan. Lokasi itu di antaranya, Kecamatan Kota, Jati, Mejobo dan Jekulo. Menurutnya, dengan menyasar tempat-tempat yang sering terjadi kecelakaan, pihaknya dapat menurunkan angka kecelakaan lalu lintas dan terciptanya kondisi keamanan, keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas.

“Personel yang kami terjunkan 160 anggota. Ada juga dari TNI, Dishub dan Satpol PP,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasatlantas) Polres Kudus AKP Eko Rubiyanto menuturkan,  pihaknya menargetkan 34 ribu lembar tilang dalam Operasi Patuh Candi 2017. Target tersebut diambil karena melihat pelanggar lalu lintas di Kudus setiap tahun meningkat. Menurutnya, peningkatan telihat tahun 2015 menuju tahun 2016. Pada Operasi P atuh Candi 2016 lalu, target yang ditentukan yakni 27 ribu lembar tilang.

“Ini upaya menekan laka lantas (kecelakaan lalu lintas) dan fatalitas korban kecelekaan lalu lintas. Karena sebentar lagi puasa, maka perlu bersama-sama untuk menciptakan Kudus yang kondusif,” tambahnya.

- advertisement -

Harga Lebih Terjangkau, Oppo A37 Jadi Incaran Ibu-Ibu yang Gemar Narsis

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Di tepi Jalan Tanjung nomor 63, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah ruko dengan dinding terbuka. Di dalamnya, puluhan handphone tertata rapi berjajar sesuai jenis di atas etalase kaca. Tampak seorang wanita mengenakan kaus berkerah warna hitam sedang sibuk menempel poster di dalam ruko. Wanita itu bernama Meylani Dwi Prasetyani (19), Promotor Oppo di Kudus, Permai Jaya Cellular.

Memel menunjukkan produk Oppo A37 di Permai Jaya Cellular Kudus 2017_5
Memel menunjukkan produk Oppo A37 di Permai Jaya Cellular Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari menunggu calon pembeli yang datang, Memel, begitu dirinya disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penjulan produk Oppo di tempat tersebut. Dia menjelaskan, Oppo A37 merupakan handphone brand asal Negeri Tirai Bambu yang paling laku terjual. Menurutnya, khusus penjualan Oppo A37, setiap bulan konter tempat dia bekerja mampu menjual sekitar 26 unit per bulan.

Baca juga: Oppo A57 Resmi Hadir Dengan Kamera 16 MP dan RAM 3 GB

“Paling laku di tempat kami Oppo A37, sebulan bisa sampai 26 unit yang terjual. Biasanya pembeli dari kalangan ibu-ibu muda yang suka selfie. Tapi tak jarang anak muda maupun orang tua juga ada yang membeli. Dari segi harga yang pasti lebih terjangkau, makanya di konter kami paling dominan terjual,” ungkap Memel yang mengaku telah menjadi Promotor Oppo sejak enam bulan lalu.

Warga Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati, ini mengatakan, terkait keunggulan yang diberikan bagi setiap user yang membeli sangat beragam. Di antaranya, Oppo A37 memiliki kamera depan beresolusi 5 megapixel (MP) dan belakang sebesar 8 MP. Selain itu, katanya, handphone itu sudah disematkan RAM 2 GB, penyimpanan internal 16 GB sekaligus penambahan microSD sebesar 128 GB.

“Keunggulan, layar 5 inch, menggunakan koneksi jaringan 4G LTE, bagian layar sudah dilapisi pelindung Corning Gorilla Glass yang membuat semakin aman sewaktu kebentur maupun terkena goresan kunci kendaraan ketika di taruh di kantong. Kebutuhan daya baterai juga sudah 2630 mAh serta desain tampilan lebih menarik dan stylish dengan bahan metal alumunium alloy,” ujar Memel.

Dia menambahkan, harga yang di tawarkan setiap unit Oppo A37 sekitar Rp 2 juta, terdiri dari dua warna meliputi gold dan rose gold. Menurutnya, di antara dua warna itu, gold merupakan warna yang paling dominan diminati oleh konsumen. Untuk pelanggan, kebanyakan dari wilayah Kudus yang sering membeli.

“Tidak hanya dari Kudus saja, daerah seperti Jepara dan Demak biasanya juga ada yang datang untuk membeli di konter kami. Untuk daerah Pati, sementara belum ada, soalnya di sana sudah ada penjualan smartphone Oppo,” tambah Memel sambil sesekali berbincang dengan konsumen yang datang.

- advertisement -

Oppo A57 Resmi Hadir Dengan Kamera 16 MP dan RAM 3 GB

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Sejumlah smartphone Oppo terlihat tertata rapi di dalam etalase kaca, di Permai Jaya Cellular, Jalan Tanjung, Kramat, Kota, Kudus. Smartphone itu terlihat masih terbungkus dus berbalut plastik. Satu seri di antaranya Oppo A57, keluaran terbaru handphone brand asal tirai bambu yang dibekali RAM 3 gigabyte (GB) dan penyimpanan 32 GB.

Permai Jaya Cellular
Oppo A57 di Permai Jaya Cellular Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai tidak jauh dari etalase, Promotor Oppo Meylani Dwi Prasetyani (19), sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang keunggulan dari handphone tersebut. Memel, begitu dirinya disapa, menjelaskan, Oppo A57 resmi dijual di konter tempat dia bekerja mulai akhir april 2017. Menurutnya, handphone itu memiliki kamera depan beresolusi 16 megapixel (MP) dan belakang 13 MP yang dilengkapi LED flash.

“Keunggulan ada banyak, RAM 3 GB, penyimpanan internal 32 GB dan micro SD berkapasitas maksimal 256 GB. Sudah terdapat tombol sensor sidik jari untuk membuka kunci layar, mengusung layar lebar 5,2 inchi dan pada bagian layar sudah dilengkapi pelindung corning gorilla glass 4 yang dapat melindungi benturan maupun goresan. tentunya, Oppo A57 sangat cocok memang bagi pecinta selfie,” ungkap Memel.

Warga Desa Kedungbulus, Kecamatan Gembong, Pati, ini melanjutkan, untuk koneksi jaringan internet sudah menggunakan teknologi 4G. Sedangkan desain tampilan handphone, mengusung bahan full metal alumunium yang tentunya terkesan lebih menawan dan elegan. Terkait dengan daya baterai, katanya, di sokong dengan daya bertenaga 2900 mAh.

“Oppo A57 menawarkan tiga varian warna, meliputi warna gold dan rose gold. Untuk harga, yang pasti cukup terjangkau dan sebanding dengan spesifikasi yang diberikan, seharga Rp 3,2 juta per unit,” ujar Memel waktu di temui di Jalan Tanjung nomor 63, Desa Kramat, Kecamatan Kota, Kudus, sekaligus tempat konter Permai Jaya Cellular.

Sementara itu, dia menambahkan, konter yang tidak jauh dari Simpang Tujuh Alun-alun Kudus itu buka setiap hari mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Selain melayani penjualan handphone bermerek Oppo, katanya, konter juga menjual handphone dengan merek lainnya. Menurut dia, sejumlah handphone yang dijual kepada konsumen semua berupa baru, tidak melayani penjualan handphone setengah pakai.

“Dari sekian banyak merek handphone yang kami jual, semuanya handphone baru. kami juga melayani penjualan asesoris, kartu perdana maupun service handphone,” tambah Memel yang mengenakan kaus berkerah warna hitam seragam kerja.

- advertisement -

Dara Honggosoco Ini Dua Kali Ikuti Duta Wisata, Ingin Angkat Wisata Kudus ke Kancah Nasional

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Delapan mobil dengan atap terbuka tampak berjajar di GOR Bung Krarno Kudus, Selasa (9/5/2017) sore. Terlihat sejumlah orang berseragam pink dengan nomor di dadanya menaiki mobil tersebut. Mereka adalah para finalis Mas dan Mbak Duta Wisata Kudus 2017, yang bersiap melakukan Kirab Duta Wisata Kudus.

Lidyamega Handari Putri Finalis Mas dan Mbak Duta Wisata Kudus 2017_5
Lidyamega Handari Putri Finalis Mas dan Mbak Duta Wisata Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Satu di antara finalis yang mengikuti kirab yakni Lidyamega Handari Putri (19), peserta nomor 34. Dara yang akrab disapa Megy itu, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang motivasinya mengikuti Duta Wisata. Dia mengaku tertarik mengikuti ajang tersebut karena melihat potensi wisata yang ada di Kudus.

“Motivasi saya mengikuti Duta Wisata Kudus karena saya melihat potensi wisata yang ada di Kudus. Selain itu, saya merasa masih banyak masyarakat Kudus yang lebih suka berwisata ke daerah lain, padahal di Kudus banyak pilihan tempat wisata. Jadi saya ingin ikut berperan dalam memperkenalkan wisata yang ada di Kudus,” terang warga Desa Honggosoco, Jekulo, Kudus itu, usai kirab.

Wanita yang biasa menjadi pembawa acara dan bernyanyi di kafe itu menjelaskan, sebelumnya dia sudah pernah mengikuti Mas dan Mabak Duta Wisata Kudus pada tahun 2015. Tetapi saat itu dirinya hanya menjadi pemenang ketiga. Dan kesempatan kali ini dia mencaba ikut lagi untuk yang kedua kalinya.

“Sepertinya saat ini wisata di Kudus sudah mulai mendapat perhatian. Dan harapan saya ke depan wista di Kudus bisa lebih dikenal masyarakat, dari luar daerah, luar pulau, maupun sekala nasional,” ungkap anak pertama dari tiga bersaudara itu.

ke-24 finalis tersebut merupakan peserta yang lolos ke grand final yang akan diselenggarakan Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kudus. Kegiatan yang dimulai pukul 15.00 WIB hingga pukul 17.30 WIB itu, menggandeng Klub HDCI Kudus, komunitas mobil Jeep Offroad dan VW.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, serangkaian kegiatan pada pemilihan Mas dan Mbak Duta Wisata Kudus tahun 2017 ini ditambah dengan acara kirab. Rute kirab pada acara tersebut, melai dari GOR Bung Karno Kudus, kemudian menuju Jalan Lingkar Ngembal, Jalan Lingkar Utara, melewati Pendopo Kudus, dan kembali lagi ke Gor Bung Karno Kudus.

- advertisement -

Melihat Fasilitas WC Portable Milik BPBD Kudus yang Disediakan Saat Launching CFN

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Dua water closet (WC) portable terlihat di perempatan Jalan Dokter Ramelan. WC warna biru dengan tinggi sekitar dua meter tersebut diletakkan tepat di samping papan nama jalan. Dua WC portable juga terlihat di Gang 4 Jalan Jenderal Ahmad Yani. Empat WC portable tersebut disediakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus pada kegiatan Kudus Car Free Night (CFN), beberapa waktu lalu.

WC portable milik BPBD Kudus pada acara CFN 2017_5
WC portable milik BPBD Kudus pada acara CFN. Foto: Imam Arwindra

Beberapa pengunjung CFN tampak bergantian memanfaatkan fasilitas tersebut. Satu di antara pengunjung yang memanfaatkan fasilitas tersebut  Rian Saputra (21) anggota komunitas yang ikut berpartisipasi di acara CFN itu mengaku terbantu dengan disediakannya WC portable.

Menurutnya, selama berkumpul dengan rekannya di komunitas motor, dia kerap kesulitan mencari toilet. karena tidak ada fasilitas, mau tidak mau dirinya harus kencing di bawah pohon maupun di sembarang tempat. “Ya begitulah, kalau sudah tidak tahan, mau bagimana lagi,” tutur Rian, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, WC portable yang disediakan juga sudah lengkap. Di dalamnya ada closet jongkok, bak air dan juga tisu. Kebersihan di dalamnya pun terbilang cukup baik. “Kalau CFD (Car Free Day) dan di Taman Balai Jagong ada juga malah bagus,” tuturnya.

Relawan BPBD Kudus Cahyono Tembel (30) yang menjaga WC portable menuturkan, selain dua WC portable di perempatan Jalan Dokter Ramelan, dua lainnya juga diletakkan di Gang 4 Jalan Jendral Ahmad Yani. Menurutnya, disediakannya WC portable milik BPBD Kudus karena permintaan dari Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus untuk kegiatan CFN.

“Sementara ini hanya untuk CFN saja. Untuk CFD belum ada permintaan,” tuturnya sambil duduk di depan dua WC portable.

Di tempatkannya WC portable di perempatan jalan masuk Jalan Dokter Ramelan memang diperuntukkan khusus untuk masyarakat yang datang pada kegiatan CFN. Selain itu, juga untuk komunitas motor dan mobil yang berkumpul di Jalan Dokter Ramelan dan Jalan Jendral Ahmad Yani. “Di dekat sini juga ada PKL (Pedagang Kaki Lima). Jadi mobilitas cukup banyak,” jelasnya.

Menurutnya, WC portable yang disediakan berkapasitas toren air 250 liter dengan septic tank kapastitas 500 liter. Terdapat closet jongkong, bak air kapasitas 50 liter, lampu, tisu, gantungan baju, tempat sampah dan cermin. Dalam kegiatan CFN yang sudah menggunakan sekitar 30. Diperkirakan satu WC portable dapat dipergunakan sekitar 50.

Untuk kegiatan launching Kudus Car Free Night, katanya, WC portable itu sudah berada di lokasi sejak pukul 08.30 pagi. Menurutnya, WC portable disediakan hingga pukul 23.00 malam. Sebelum ada WC portable Cahyono memperkirakan, masyarakat yang biasanya berakhir pekan di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, biasanya buang air di toilet Pemerintah Kabupaten Kudus dan di musala-musala di dekat Alun-alun.

- advertisement -

Sebulan Terjual Puluhan Ribu Batang Karena Jamari Hanya Jual Bambu Berkualitas dan Murah

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Beberapa orang tampak berada di antara tumpukan batang bambu di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Mereka ada yang menaikan batang bambu ke atas mobil bak terbuka, ada pula yang memilih bambu dan dikumpulkan sesuai ukurannya. Sementara sebagian lainnya ada yang membuat perkakas dari bambu. Di tempat penjualan bambu tersebut, puluhan ribu batang bambu terjual dalam sebulan.

Tempat penjualan bambu di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus 2017_5
Tempat penjualan bambu di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Jamari, pemilik usaha penjualan bambu tersebut, mengatakan, menjual bambu berbagai ukuran dengan harga yang relatif murah. Menurutnya, harga bambu yang dia jual tergantung ukuran besar atau kecil bambu. Untuk yang paling kecil dijual dengan harga Rp 3 ribu sebatang, ada juga yang Rp 5 ribu, Rp 7 ribu, Rp 8 ribu, Rp 10 ribu hingga yang paling mahal Rp 20 ribu sebatang.

Baca juga: Jual Sepeda Ontel untuk Berjualan Bambu, Kini Jamari dan Istri Sudah Naik Haji dan Umroh 3 Kali

“Harga tersebut untuk penjualan ecer, sedangkan untuk pembelian dalam jumlah banyak harga tersebut masih bisa berkurang. Apalagi untuk pembangunan masjid, musala maupun tempat ibdah lainnya harga bisa kami kurangi. Selain berjualan kami juga tetap ingin beramal,” jelas Warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Pria yang sudah dikaruniai tiga cucu itu mengungkapkan, untuk pembelian ecer ongkos pengiriman ditanggung oleh pembeli. Sedangkan pembelian dalam jumlah banyak minimal 19 batang, bambu akan dikirim sampai alamat yang tertera dalam nota. Diakuinya saat ini sudah memiliki banyak pelanggan. Selain untuk proyek beberapa kali dia mengirim bambu untuk pembuatan kandang ayam.

“Pelanggan kami itu sudah banyak. Bahkan beberapa proyek di Kudus, Pati, Jepara, sampai Lasem itu beberapa kali membeli bambu ditempatku. Selain itu kami juga sering mengirim bambu untuk kandang peternakan ayam di Kudus, Pati, dan daerah lainnya. Karena selain murah bambu yang kami jual juga berkualitas bagus,” ujarnya.

Jamari mengaku sebisa mungkin menjaga kepercayaan pelanggan dengan selalu memberikan bambu yang bagus meski pembeli tersebut tidak bisa datang ke tempatnya. Dia juga mengaku tidak takut rugi saat bambu yang jelek tidak laku. Dia punya solusi agar bambu yang kurang bagus tapi tetap laku terjual.

“Bambu dengan kualitas kurang bagus pasti selalu tersisih dan tidak dipilih oleh pembeli. Karena itu aku berinisiatif bambu tersebut aku buat sesek yang aku jual dengan harga Rp 23 ribu. Lumayan peminatnya banyak juga kok. Bahkan beberapa kali aku mendapatkan pesanan dalam jumlah banyak,” ungkap Jamari sambil memegang kerajinan sesek.

Dia menceritakan, usaha penjualan bambu tersebut dirintis pertama kali oleh istrinya, sejak tahun 1989 silam. Lokasinya berjualan saat ini bukanlah tempat awal istrinya berjualan bambu. Menurutnya sejak pidah ke tempat yang sekarang, penjualan bambu meningkat drastis. Karena sebelum pindah untuk menghabiskan satu truk yang berisi 400 batang bambu memerlukan waktu sepekan hingga 10 hari.

“Sejak pindah lokasi itu, aku mulai ikut berjualan. Memang kami akui sejak berjualan di tempat sekarang derajat kami seakan terangkat. Dulu istriku bisa menjual 400 batang bambu sepekan itu sudah bagus. Namun sejak pindah lokasi dan aku ikut berjualan, Alhamdulillah sekarang kami bisa menjual bambu 25 truk sebulan. Dan setiap satu truknya berisi sekitar 800 batang bambu. Jadi totalnya, kami bisa menjual sekitar 20 ribu batang bambu sebulan,” ungkapnya.

 

- advertisement -