Beranda blog Halaman 1898

Khoironi Tak Menyangka, Film Bintang di Langit Jakarta Hasil Garapan Anak-Anak

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Sejumlah orang tampak sibuk mengatur puluhan anak yang sedang asyik bermain di Gedung MWC NU Kecamatan Bae, Desa Purworejo, Kudus. Mereka diarahkan untuk duduk sebelum menyaksikan film yang akan diputar melalui projektor. Mereka akan bersama-sama menyaksikan film Bintang Di Langit Jakarta, untuk pertama kali dalam prelaunching. Satu di antara sejumlah orang yang mengarahkan anak-anak tersebut, yakni Ahmad Khoironi (27).

Prelauncing film Bintang di Langit Jakarta 2017_5
Prelauncing film Bintang di Langit Jakarta. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, Khoironi mengaku tak sabar ingin menyaksikan film garapan Omah Dongeng Marwah tersebut. Setelah menyaksikan, dia mengaku kaget, setelah mengetahui pembuat film Bintang di Langit Jakarta adalah anak-anak. Dia mengatakan tak menyangka, film garapan anak-anak itu sudah seperti film profesional. Menurutnya, akting dan pengambilan gambar pada film tersebut sudah sangat bagus.

Baca juga: Orion Tak Akan Lupa Saat Diusir Satpam Saat Pengambilan Gambar Film Bintang di Langit Jakarta

“Ceritanya juga bagus, tetapi terlalu singkat. Saya seperti kehilangan sebagian cerita karena ada beberapa adegan yang kurang lengkap rasanya. Kalau keseluruhan sangat bagus, saya sempat kaget setelah tahu film ini digarap anak-anak, jadi itu yang membuat istimewa,” ungkapnya, Sabtu (6/5/2017) malam.

Dia datang karena menjadi pendamping PAUD Semai, dari Jepara, yang sedang mengikuti Kemah Dongeng Pendidikan bersama Omah Dongen Marwah, memperingati hari Pendidikan Nasional. Dia berharap suatu saat diperkenankan berbagi ilmu perfileman di sekolah Semai, agar di sana juga bisa membuat film.

“Tadi juga ada guru dari Semai yang bilang kepada saya, dia juga pengen di sekolah belajar membuat film. Sepertinya guru-guru Semai juga tertarik belajar film melihat karya-karya anak Marwah. Jadi kami akan sangat senang kalau teman-teman Marwah mau berbagi ilmu perfilman,” terangnya sambil tertawa.

Orion Bima Wicaksana (15), kameramen dan editor film Bintang Di Langit Jakarta, mengaku banyak mendapat pengalaman dari proses pembuatan film tersebut. Dia menjelaskan film itu termasuk kategori film pendek, dengan durasi sekitar 30 menit.

“Kemarin sebenarnya ada festival film yang mau kami ikuti. Tapi tidak jadi, karena film kami durasinya masih terlalu panjang, jadi kami perlu memotongnya lagi. Film kami durasi 30 menit, dan untuk ikut maksimal 24 menit. Waktunya juga terlalu mepet, jadi lain waktu saja,” jelas Orion.

Orion juga menambahkan, pada akhir bulan Mei mereka akan melakukan launching film di sejumlah tempat. Di antaranya di Kudus, Salatiga, Semarang, Purbalingga dan Jakarta. Selain itu, mereka juga berencana akan mengikuti Festival film di Singapur dan Malaysia.

- advertisement -

All New Yamaha R15 2017, Motor Sport Garang Primadona Kalangan Muda

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Di tepi Jalan Sunan Kudus nomor 82, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah bangunan menjulang tinggi dengan pintu terbuka. Tampak puluhan kendaraan roda dua terpakir rapi menghiasi ruang diler Yamaha Mataram Sakti tersebut. Tepat di depan pintu masuk, terdapat satu unit motor sport berwarna hitam. Motor itu tak lain All New Yamaha R15, motor garang keluaran terbaru 2017 yang kini menjadi primadona kaula muda.

All New Yamaha R15 di diler Yamaha Mataram Sakti Kudus 2017_5
All New Yamaha R15 di diler Yamaha Mataram Sakti Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Kepala Cabang Mataram Sakti Amy Setyo Budi (39), sudi berbagi penjelasan tentang pabrikan motor asal Jepang tersebut. Dia menjelaskan, berbeda dengan keluaran Yamaha R15 yang lama, kini R15 hadir dengan performa mesin yang lebih gahar, yakni 155cc. Menurut dia, motor itu sekarang mengadopsi mesin baru berteknologi Variable Valve Actuation (VVA) yang memiliki tenaga besar namun tetap irit bahan bakar.

Baca juga:

“Berbeda dengan yang dulu, sekarang All New Yamaha R15 tampilan luarnya jauh lebih sporty dan terkesan elegan. Performa mesin juga lebih besar, posisi antara jok depan dan belakang sekarang sudah rata, dan tentunya motor sangat nyaman untuk dikendarai. Untuk kalangan pembeli, dominan dari kalangan anak muda, seperti anak sekolah maupun karyawan,” ungkap Amy begitu dia akrab disapa.

Dia melanjutkan, terkait keunggulan yang disematkan pada motor yang memiliki berat 137 kilogram itu sangat beragam. Di antaranya, lampu depan dan belakang sudah menggunakan teknologi LED, speedometer full digital plus shift timing light, terdapat teknologi lampu hazard, rangka deltabox, suspensi depan up side down, suspensi belakang alumunium rear arm dan dibekali pemilihan ban super besar.

“Pada bagian depan, motor dilengkapi cakram berukuran 283 milimeter yang membuat sistem pengeremannya semakin maksimal. Varian warna yang ditawarkan bagi konsumen ada tiga, warna merah, hitam, dan warna biru. Untuk pelanggan masih sama, kebanyakan dari wilayah Kudus,” ujar Amy yang terlihat mengenakan kemeja warna biru.

Dia menambahkan, untuk setiap pembelian All New Yamaha R15, dia mengaku mematok harga sebesar Rp 35,95 juta per unit. Sedangkan untuk penjualan, katanya, pihak dia secara resmi belum menjual secara banyak. Namun mulai pertengahan bulan April 2017, dia mampu menjual sebanyak tiga unit plus dua unit pembeli inden.

“Sebenarnya All New Yamaha R15 resmi dijual di Kudus pada awal bulan Mei 2017, tapi diler kami diberi kesempatan untuk menjual terlebih dahulu, dengan catatan persedian barang masih dibatasi. Kalau R15 yang lama, penjualan kami bisa mencapai puluhan setiap bulannya,” tambah Amy yang mengaku bekerja di diler Mataram Sakti sudah sekitar 14 tahun.

- advertisement -

Jual Sepeda Ontel untuk Berjualan Bambu, Kini Jamari dan Istri Sudah Naik Haji dan Umroh 3 Kali

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG – Di tepi timur Jalan Lingkar Timur Ngembal Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus tampak ribuan batang bambu tersusun sesuai ukurannya. Di tempat tersebut tampak dua orang pekerja sibuk menaikan bambu ke atas mobil bak terbuka untuk dikirim ke pembeli. Terlihat juga di antara ribuan bambu tersebut, seorang pria berkaus lengan pendek sedang mengamati mereka. Pria tersebut adalah Jamari (47), pemilik usaha penjualan bambu.

Jamari dan istrinya, penjual bambu di Desa Jepang, Kudus
Jamari dan istrinya, penjual bambu di Desa Jepang, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya tersebut Jamari sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, usaha penjualan bambu dirintis oleh istrinya. Usaha itu dimulai pada tahun 1989. Namun, sebelum berjualan bambu, istrinya berdagang di depan sekolah SD di Jepang.

“Pada tahun 1988 di Desa Jepang ada pemilihan Kepala Desa. Karena istri dan pedagang lain di sekolah beda pilihan, kebetulan saat itu yang jadi Kepala Desa itu jagonya istriku. Hingga setelah selesai calonan dan mulai berjualan lagi istriku dikucilkan, tidak disapa dan tidak diajak ngobrol. Karena tidak betah, istriku memutuskan tidak lagi berjualan di sekolah dan ganti berjualan bambu,” ujarnya.

Warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus itu mengungkapkan, untuk bisa berjualan bambu, istrinya harus menjual sepeda ontel serta menguras tabungannya selama kerja di proyek untuk modal. Karena, saat pertama berjualan, istrinya harus menyewa tempat dan membeli bambu satu rit truk dan pembayaran harus di depan.

“Sebelum menempati lokasi yang sekarang, kami harus pindah dan menyewa tempat satu ke tempat lainnya selama 10 tahun. Saat itu untuk menjual habis satu truk bambu yang berjumlah 400 batang istriku harus memerlukan waktu antara sepekan hingga 10 hari,” ujarnya.

Hingga pada tahun 1999, tuturnya, istrinya diberi lokasi berjualan yang cukup luas tanpa sewa oleh orang terpandang di Desa Jepang. Lokasinya sangat strategis, dekat dengan lampu merah Perempatan Jepang. Dan sejak berjualan di tempat tersebut, dia mengaku mulai ikut dan membantu istrinya berjualan bambu

Pria yang sudah dikaruniai tiga anak dan tiga cucu itu mengungkapkan, sejak berjualan di sana, penjualan meningkat drastis. Bahkan hasil dari berjualan bambu, dia bersama istrinya mampu naik haji dan tiga kali umroh. Selain itu dengan berjualan bambu, kini dia mampu memberi modal usaha kepada anak serta menantunya.

“Aku bersyukur dengan berjualan bambu serta atas bantuan lokasi penjualan tanpa sewa, aku bersama keluargaku seolah terangkat derajatnya. Karena aku mulai usaha dari nol dan sekarang Alhamdulillah bisa berkembang. Hasilnya bisa beli beberapa bidang tanah, sawah, bangun rumah, mobil dan memberi modal anak untuk berwirausaha,” ungkapnya.

- advertisement -

Sulimah Berharap Ada Lahan Parkir Baru di Kios Utara GOR Bung Karno

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL) tampak memadati Aula Taman Krida Wergu Wetan Kudus. Mereka duduk sambil mendengarkan beberapa pejabat Kabupaten Kudus yang sedang berpidato. Mereka adalah para PKL yang biasa berjualan di kawasan Taman Wergu. Mereka datang ke tempat itu untuk menghadiri Deklarasi dan Pengukuhan Paguyuban PKL dan Permainan GOR Wergu.

Deklarasi dan Pengukuhan Paguyuban PKL dan Permainan GOR Wergu 2017_5
Deklarasi dan Pengukuhan Paguyuban PKL dan Permainan GOR Wergu. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara PKL yang menghadiri acara tersebut yakni Sulimah (53). Dia berjualan di kios sebelah utara Taman Wergu. Dia mengaku sangat senang dengan terbentuknya paguyuban PKL yang ada di GOR Wergu.

“Memang dari dulu saya berharap ada paguyuban PKL di sini. Misal kalau ada apa-apa kan bisa minta tolong paguyuban,” ungkapnya saat ditemui di saat berlangsungnya kegiatan, Sabtu (6/5/2017)

Penjual lentog Tanjung dan es degan selama 30 tahun di kawasan GOR itu mengungkapkan, sebelum mendapatkan kios dirinya berjualan lesehan di bawah pohon sekitar taman. Menurutnya, saat dirinya mulai berdagang belum ada lapangan bola dan taman. “Dulunya PKL amburadul. Pokoknya tidak tertata,” jelas pedagang yang menempati kios nomor empat dan lima.

Dengan dibentuknya paguyuban, dirinya berharap ada usulan ke dinas terkait untuk membangun kios lagi. Agar para anggota PKL GOR Wergu dapat memiliki tempat yang layak. Selain itu, dia juga mengusulkan agar penataan parkir di kios PKL sebelah utara lebih ditata.

Menurutnya, selama ini jalan depan kios yang sekaligus menjadi tempat parkir sangat padat. Kadang untuk mobil lewat pun kesulitan. “Semoga parkirnya dapat ditata lebih baik atau malah bisa ditambah tempat parkir baru,” tambahnya sambil tersenyum.

Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL GOR Wergu Amin Khundori yang baru saja dikukuhkan menuturkan, terdapat 258 PKL di sana. Menurutnya para PKL tersebut di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus. “Pembina paguyuban ada dua yakni Dinas Pariwisata dan Dinas Perdagangan Kudus,” ungkapnya selepas kegiatan.

Menurutnya, Paguyuban GOR Wergu yang baru saja dikukuhkan berbeda dari paguyuban lainnya di Kudus. PKL yang ada di GOR Wergu bukan hanya berjualan makan dan minuman, tapi juga penyedia jasa arena permaianan, penjual tanaman dan wisata dokar.

“Jumlahnya ada 258 PKL. 17 PKL penyedia arena permainan, Tujuh penyedia jasa dokar wisata dan delapan orang yang menjual tanaman. Selebihnya makanan dan minuman, ” jelasnya.

Amin menjelaskan dengan adanya paguyuban sangat menguntungkan para PKL. Menurutnya, para PKL akan lebih ditata rapi dan tentunya akan menarik minat para pengunjung yang datang.

Dia memberitahu, di tempat PKL berjualan, sekarang sudah diberi daftar harga. Menurutnya hal tersebut upaya dari paguyuban agar para konsumen bisa melihat jelas daftar menu dan barang yang ditawarkan. “Setiap tempat berjualan sudah diberi dafar harga. Ya supaya masyarakat yang datang tidak ada yang ketengkik,” ungkapnya.

Selain itu, kata Amin, adanya paguyuban juga bisa menjadi penyalur aspirasi PKL maupun konsumen kepada Pemerintah Kabupaten Kudus. Bagi PKL maupun konsumen yang mau mengadu seputar PKL di GOR Wegu dapat melalui dirinya maupun anggota paguyuban.

Dia menambahkan, saat ini dirinya sedang mengusulkan untuk pembangunan kios PKL di sebelah selatan Taman Wergu. Menurutnya, untuk kios di sisi utara taman sudah dibangun dan ditempati, tinggal di sisi selatan yang masih menggunakan grobak dan tenda yang masih menyatu dengan dinding stadion.

“Kedepan sepanjang jalan menuju Taman Balai Jagong juga akan ditempati PKL. Depan Perpustakaan (Perpustakaan Daerah Kabupaten Kudus) pun juga,” tambahnya.

- advertisement -

Orion Tak Akan Lupa Saat Diusir Satpam Saat Pengambilan Gambar Film Bintang di Langit Jakarta

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOREJO – Puluhan anak terdiam saat lampu di Gedung MWC Bae, Desa Purworejo, Kecamatan Bae, Kudus, Sabtu (6/6/2017) malam, dimatikan. Tak lama berselang, pada layar putih di depan mereka menampilkan film Bintang di Langit Jakarta. Mereka tampak khidmat menyaksikan film yang disutradarai Tsaqiva Kinasih dan diproduksi Omah Dongeng Marwah tersebut.

Pemutaran perdana film Bintang di Langit Jakarta 2017_5
Pemutaran perdana film Bintang di Langit Jakarta. Foto: Ahmad Rosyidi

Usai pemutaran film, terlihat seorang pria berkaus berwarna orange membawa kamera DSLR di tangannya. Dia adalah Orion Bima Wicaksana (15), kameramen dan editor film tersebut. Orion begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang pengalamanya dalam proses pembuatan film.

Dia mengungkapkan, ada satu momen yang tidak terlupakan saat proses shooting film tersebut. Dia mendapat banyak pengalaman dan teknik-teknik baru, tetapi ada satu momen yang membuatnya merasa bersalah dan itu juga menjadi pengalaman berharga baginya.

“Saat shooting di sebuah gedung, kami sembunyi-sembunyi naik ke atas mencari spot yang bagus. Saat saya sudah menyiapkan kamera dan memasang tripod, ada satpam yang marah-marah mengusir kami. Karena saya takut, jadi saya kemasi dan kabur ke mobil,” terangnya usai pemutaran perdana film itu.

Karena langsung pergi masuk ke mobil, Orion dimarahi Tsaqiva Kinasih. Seharusnya dia masih bisa mengambil video saat satpam itu sedang melakukan negosiasi dengan sutradara yang didampingi seseorang yang membantu proses pembuatan film.

“Momen itu yang membuat saya merasa bersalah, karena melewatkan kesempatan. Padalah pemandangannya sangat bagus dari atas gedung itu,” jelas anak pertama dari dua bersaudara itu.

Menurutnya, banyak momen menarik saat proses shooting, termasuk cerita tentang adiknya, Radian Pasha Bimantara, yang menjadi aktor dalam film tersebut. Ada adegan yang natural, saat shooting hingga larut malam dan adiknya ketiduran. Karena adiknya biasa marah saat dibangunkan, kemudian mereka memanfaatkan momen tersebut agar mendapat momen yang natural.

“Saat adegan adik saya dibangunkan dan diberi minum tetapi tidak mau, itu natural karena memang dia tidur sungguhan. Kalau di rumah dia memang susah dibangunkan, kadang juga sampai ngamung-ngamuk. Untuk pembuatan film ini kami membutuhkan proses kurang lebih selama empat bulan, dan semua berjalan dengan lancar,” tambah warga Desa Panjang, Bae, Kudus.

- advertisement -

Yamaha Aerox 155, Motor Bebek Sport Berfitur Canggih Tanpa Anak Kunci

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Puluhan kendaraan roda dua terlihat terpakir menghiasi ruangan diler resmi penjualan motor Yamaha, Jalan Sunan Kudus nomor 82, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. Beberapa motor itu tampak masih terbungkus plastik tanpa plat nomor kendaraan. Empat di antara motor yang terpakir tersebut yakni Yamaha Aerox 155, motor bebek sport keluaran terbaru dari pabrikan asal Jepang yang hadir dengan kelengkapan fitur canggih.

Yamaha Aerox 155 2017 di Diler Yamaha Mataram Sakti 2017_5
Yamaha Aerox 155 2017 di Diler Yamaha Mataram Sakti. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Amy Setyo Budi (39), Kepala Cabang Mataram Sakti, sudi berbagi penjelasan tentang fitur yang disematkan pada motor tersebut. Amy, begitu dirinya biasa disapa, menjelaskan, motor berkapasitas mesin 155cc itu resmi dirilis dalam tiga varian, yakni Yamaha Aerox 155 VVA S-Version, Aerox 155 VVA R-Version dan Aerox 155 VVA. Satu di antara varian itu, motor dibekali teknologi smart key system yang diklaim pertama di Indonesia.

Baca juga: Yamaha Aerox 155 Hadir di Kudus Maret, Tapi Sudah Ada Ratusan Inden di Harpindo Jaya

“Sebenarnya tidak ada perbedaan yang menonjol dari ketiga varian itu, sama-sama memiliki fitur canggih. Tapi untuk Yamaha Aerox 155 VVA S-Version, fiturnya lebih lengkap saja. Pada bagian pengoperasian kendaraan, motor sudah tidak menggunakan anak kunci. Sedangkan fitur keselamatan, terdapat teknologi anti-lock braking system (ABS) yang berfungsi mengontrol pengereman lebih maksimal,” ungkap Amy sambil sesekali melayani calon pembeli.

Dia melanjutkan, terkait keunggulan yang ditawarkan bagi motor berteknologi blue core itu sangat beragam. Di antaranya, lampu depan dan belakang sudah light-emitting diode (LED), bagasi luas, ban tubeless, speedometer full digital, terdapat fitur pengisian gadget, suspensi belakang lebih stabil dan suara motor pada saat dihidupkan lebih halus. Selain itu, desain pegangan pada bagian belakang motor sudah menyatu dengan bodi, sehingga motor terkesan lebih sporty.

“Untuk penjualan Yamaha Aerox 155, setiap bulan kalau di rata-rata penjualan kami mencapai 20 unit per bulan. Kebanyakan masih didominasi pelanggan dari Kudus, tapi tak jarang wilayah seperti Pati, Jepara maupun Demak juga turut membeli di diler kami. Kalau kalangan, biasanya Anak muda cowok yang sering membeli,” ujar Amy.

Menurutnya,  harga maupun pemilihan warna yang ditawarkan bagi konsumen yang hendak membeli sangat bervariasi. Dia merinci, harga Yamaha Aerox 155 VVA S-Version dijual seharga Rp 27,25 juta, terdiri dari dua warna meliputi warna matte blue dan putih. Yamaha Aerox 155 VVA R-Version dibanderol dengan harga Rp 24,85 juta, terdiri dari satu warna yakni biru.

“Yamaha Aerox 155 VVA, kami jual lebih murah, seharga Rp 22,95 juta, terdiri dari tiga warna meliputi warna kuning, hitam dan putih. Untuk pembelian, diler kami melayani pembayaran secara tunai maupun kredit, harga yang kami tawarkan juga sewaktu-waktu dapat berubah,” tambah Amy yang mengaku menjadi karyawan di Yamaha Mataram Sakti sudah sekitar 14 tahun.

- advertisement -

Kopri PC PMII Kudus Suarakan Pentingnya Pendidikan Bagi Perempuan Melalui Aksi Damai

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Suara megaphone toa terdengar keras saat puluhan orang berjalan melintasi Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (7/5/2017) pagi. Mereka terlihat berjalan beriringan di tengah aktivitas masyarakat pada saat Care Free Day. Mereka merupakan peserta aksi damai gerakan kesadaran perempuan yang tergabung dalam Korps PMII Putri (Kopri) Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kudus.

Ketua Kopri PC PMII Kudus Fitriya Dwi Noor Aini berorasi dalam aksi damai 2017_5
Ketua Kopri PC PMII Kudus Fitriya Dwi Noor Aini berorasi dalam aksi damai. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, koordinator lapangan aksi, Lisa Mayna Wulandari (20), sudi berbagi penjelasan terkait dengan aksi tersebut. Dia menjelaskan, kegiatan itu dilakukan memperingati hari pendidikan nasional (Hardiknas). Dalam momentum itu, dia ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama menyuarakan pentingnya pendidikan tinggi bagi perempuan.

“Tujuan aksi ini, kami ingin menyadarkan warga khususnya kaum hawa bahwa pendidikan tinggi sangatlah penting. Perempuan bukan generasi terpasung yang hanya duduk di rumah sebagai ibu rumah tangga saja. Mereka juga berhak mengenyam pendidikan yang setinggi-tingganya agar kelak dapat mendidik anak-anaknya dengan baik,” ungkap Lisa.

Warga Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kudus, ini mengatakan, meski pemerintah Kudus sudah mencanangkan wajib belajar 12 tahun, hal itu belum sepenuhnya terealisasi secara maksimal. Itu terbukti, masih banyak kaum perempuan di lingkungan tempat dia tinggal yang hanya mengentaskan pendidikan hingga sekolah dasar (SD).

“Pendidikan di Kudus sangat baik, tapi belum begitu maksimal. Soalnya di desa saya, masih banyak perempuan yang hanya lulus SD langsung bekerja di Pasar Kliwon,” ujar Lisa yang tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muria Kudus (UMK).

Sementara itu, Ketua Kopri PC PMII Kudus Fitriya Dwi Noor Aini (23), memberitahukan, kegiatan aksi damai juga diikuti sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam PMII. Mereka di antaranya, Pengurus PC PMII Kudus, PMII Komisariat Sunan Muria, PMII Komisariat Sunan Kudus, dan anggota rayon di lingkup UMK dan Sekolah Tinggi Islam Negeri (STAIN), serta Teater Gerak 11 PMII cabang Kudus.

Fitri, begitu akrab disapa, menambahkan, aksi damai gerakan kesadaran perempuan disuguhkan dengan menampilan teatrikal dari Teater Gerak 11. Menurutnya, dengan terselenggaranya kegiatan itu, dia berharap masyarakat sadar bahwa pendidikan tinggi sangatlah penting. Selain itu, maraknya kekerasan seksual terhadap perempuan di dunia pendidikan harus segera dihentikan dan di hukum secara adil.

“Harapan kami, perempuan semakin sadar tentang pendidikan dan kekerasan terhadap perempuan juga secepatnya harus dihentikan. Dunia pendidikan tempat menuntut ilmu, bukan tempat bagi perempuan untuk dilecehkan. Kami juga berharap, ada kesetaraan hak-hak bagi perempuan dan laki-laki,” tambah Fitri yang menamatkan pendidikan sarjana di UMK.

- advertisement -

Potong Rambut di Barber Shop K3rn Sembilan Kali, Gratis Sekali

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Di tepi selatan Jalan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya di sebelah barat GOR Bung Karno, tampak sebuah bangunan dengan pintu kaca. Di dalam bangunan terlihat dua orang pria sedang memotong ramput para pelanggannya. Tempat itu yakni Barber Shop K3rn, yang memberi promo potong sembilan kali gratis sekali.

K3rn Barber Shop, Jalan HOS Cokroaminoto, Kudus 2017_5
K3rn Barber Shop, Jalan HOS Cokroaminoto, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Murdiyono (20), satu di antara kapster Baber Shop K3rn mengungkapkan, beberapa bulan terakhir tempat kerjanya tersebut membuat promo yakni potong sembilan kali gratis sekali. Namun, promo tersebut berlaku atas nama yang sama dan bukti tersebut ditunjukan melalui kupon yang dikumpulkan para pelanggan.

Baca juga: Lulus SMP, Warga Blora Ini Bekerja di Barber Shop K3rn Kudus untuk Biaya Sekolahnya Nanti

“Promo tersebut sebagai ganti upah potong di Barber Shop K3rn yang naik. Selain itu promo itu juga agar para pelanggan tidak pindah ke tempat pelayanan jasa serupa di Kudus,” ujar pria yang akrab disapa Murdi kepada seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Pria yang berasal dari Blora itu mengatakan, Barber Shop K3rn itu awalnya pertama buka di Semarang pada tahun 2013. Sekarang tuturnya, Barber Shop K3rn sudah memiliki sembilan cabang. Dan baru sekitar setahun buka dua cabang di Kudus, yakni di tepi Jalan Hos Cokroaminoto dan di Kelurahan Wergu Wetan.

Menurutnya, tempat kerjanya tersebut melayani cutting dan hair tattoo. Untuk potong rambut kata dia, ditarif Rp 20 ribu. Sedangkan batik rambut satu sisi dibebankan biaya kepada pelanggan sebesar Rp 25 ribu. Dan batik rambut dua sisi ditarif lebih mahal yakni Rp 35 ribu. Di tuturkannya, Barber Shop K3rn juga melayani hair tattoo full satu kepala yang dibebankan biaya Rp 50 ribu.

“Selain melayani potong rambut dan hair tattoo, kami juga melayani potong, dan merapikan kumis serta jenggot yang ditarif Rp 5 ribu. Kami buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB sampai 21.30 WIB.,” ungkap pria lajang tersebut.

Pria ramah dan selalu mengajak bicara pelanggannya itu mengatakan, dalam sehari tak kurang dari 20 pelanggan yang datang untuk potong rambut maupun hair tattoo di Barber Shop K3rn. Dari 20 pelanggan itu, kata Murdi tempatnya bekerja tersebut mampu merapu omzet sekitar Rp 400 ribu sehari dan Rp 12 juta selama sebulan.

Dia mengungkapkan, bersama satu temannya, mereka bahu membahu melayani para pelanggan yang datang, dan berusaha sebisa mungkin untuk memuaskan para pelanggan dengan hasil potong rambut yang diinginkan. Oleh karena itu setiap selesai potong rambut para kapster mengambil cermin untuk melihatkan hasil potong rambut secara keseluruhan.

“Dengan cermin dobel itu para pelanggan bisa melihat hasil potong rambut secara keseluruhan termasuk bagian belakang. Jadi pelanggan bisa memberi tahu kami mana potongan rambut yang belum rapi atau tidak sesuai keinginan pelanggan, biar kami perbaiki,” ujarnya.

“Aku berharap Barber Shop K3rn makin dikenal dan maikn banyak pelanggan. Karena dengan banyak pelanggan datang, maka penghasilan kami para kapster juga pasti bertambah dengan mendapatkan bonus,” tambah Murdi.

- advertisement -

Bupati Musthofa Ingin Car Free Night Digelar Tiap Malam Minggu

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Suara alunan musik terdengar keras di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (6/5/2017) malam. Di depan pendapa kabupaten, tampak panggung besar lengkap dengan tata lampu. Ribuan orang berkumpul di sekitar panggung, menunggu diluncurkannya kegiatan Car Free Night (CFN) untuk pertama kali oleh Bupati Kudus Musthofa.

Pesta kembang api launching Car Free Night di Simpang Tujuh Kudus 2017_5
Pesta kembang api launching Car Free Night di Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra

Keramaian tidak hanya terlihat di Simpang Tujuh. Jalan Ahmad Yani dan Jalan dr Ramelan juga berubah menjadi lautan manusia. Mereka datang untuk menikmati CFN, sambil menunggu pesta kembang api.

Baca juga: Masyarakat Kudus Tumpah Ruah pada Pembukaan Car Free Night di Simpang Tujuh

Beberapa kali pengisi musik bergantian tampil, kursi sofa di barat panggung terlihat masih kosong. Kursi sofa tersebut sudah diberi nama Bupati Kudus dan pimpinan Forum Koordinasi Pimpinan di Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kudus yang dijadwalkan datang. Namun hinggal pukul 22.22 WIB, Bupati Kudus belum tampak hadir. Sebagian asyarakat yang datang mulai meninggalkan lokasi.

Pukul 23.00 WIB, rombongan Bupati Kudus keluar dari pendapa berjalan menuju panggung. Pembawa acara kemudian mempersilakan Bupati Kudus Musthofa naik ke atas panggung memberi sambutan, sekaligus me-launching Kudus Car Free Night (CFN).

Dalam sambutannya, Musthofa menuturkan kegiatan CFN menjadi aktivitas baru bagi masyarakat Kudus. CFN dapat  dapat menjadi kreativitas dan media ekspresi warganya. Dia menginginkan, kegiatan CFN dapat diadakan setiap malam Minggu. “Jangan tidur sore ya,” tuturnya yang disambut tawa.

Setelah memberi sambutan, bersama sejumlah pejabat Mushofa memencet tombol alarm tanda diluncurkannya program CFN. “Tidak usah sambutan terlalu panjang ya, karena sudah malam,” ungkapnya kepada masyarakat yang masih setia menunggu Musthofa datang. Tak lama berselang, letusan kembang api mengiasi langit jantung Kota Kretek.

Sebelum Musthofa datang, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto menuturkan kegiatan peluncuran program CFN dinilai sukses. Hal tersebut menurutnya, terlihat dari jumlah pengunjung yang terlihat banyak.

Selain, pertunjukan kreativitas pemuda Kudus, terdapat juga PKL di jalur lambat Jalan Dokter Ramelan dan perkumpulan komunitas motor serta mobil. Menurutnya, CFN bisa menjadi aktivitas baru untuk menikmati malam akhir pekan.

“Untuk lalu lintas kendaraanya tadi sempat padat lancar antara pukul 05.00 WIB hingga 20.00 WIB. Namun setelah itu lenggang,” tambahnya.

- advertisement -

Lulus SMP, Warga Blora Ini Bekerja di Barber Shop K3rn Kudus untuk Biaya Sekolahnya Nanti

0

SEPUTARKUDUS.COM, WERGU WETAN – Seorang pria berkaus oblong hitam tampak sedang memotong rambut pelanggannya di Barber Shop K3rn, di Tepi selatan Jalan Wergu Wetan, Kelurahan Wergu Wetan, Kecamatan Kota, Kudus. Sambil memangkas rambut, sesekali dia mengajak ngobrol pelanggannya. Pria tersebut bernama Murdiyono (16), yang tidak melanjutkan sekolah dan kerja menjadi kapster di Barber Shop K3rn, karena tidak ada biaya.

Murdiyono sedang memangkas rambut di Barber Shop K3rn Kudus 2017_5
Murdiyono sedang memangkas rambut di Barber Shop K3rn Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai memotong rambut, pria yang akrab disapa Murdi itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaannya itu. Dia mengungkapkan, lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP) pada tahun lalu. Namun setelah lulus dia memutuskan tidak melanjutkan sekolah karena orang tuanya tidak punya biaya dan terpaksa menerima tawaran kerja dari tetangganya.

“Sebenarnya aku itu ingin sekali bisa mengenyam pendidikan tinggi. Namun apalah daya karena orang tua tiada biaya aku terpaksa menunda keinginanku tersebut. Karena itulah aku menerima tawaran untuk menjadi kapster Barber Shop K3rn, dengan harapan aku bisa mendapatkan penghasilan dan menabung untuk biaya sekolah. Setidaknya nanti aku bisa ikut kejar paket C,” ujar anak ketiga dari lima bersaudara tersebut.

Pria yang berasal dari Blora itu mengatakan, sebenarnya setekah lulus dapat tawaran tiga pekerjaan. Yang pertama kerja di proyek bangunan, kedua berjualan pisang coklat dan ketiga jadi kapster di Barber Shop K3rn. Sebenarnya dia ingin berjualan pisang coklat. Namun karena lokasi berjualan di Jakarta, ayahnya tak memberi izin.

Sedangkan kerja proyek bangunan, tuturnya, ayahnya juga melarang karena pekerjaan tersebut dinilai berat dan panas. Selain itu kerjanya kontrkanya per proyek, saat proyek selesai dirinya akan menganggur atau mencari lagi proyek yang lainnya, agar punya penghasilan. Karena alasan itu dia memilih mengambil tawaran menjadi kapster di Barber Shop K3rn.

“Pertimbanganku menjadi kapster itu agar aku punya ketrampilan. Dan saat aku sudah mahir dan kelak punya modal aku ingin membuka usaha di Blora. Aku bisa menciptakan lapangan kerja untuk saudara serta tetanggaku,” ujarnya.

Dia mengatakan, bekerja di Barber Shop K3rn sekitar delapan bulan. Menurutnya, untuk menjadi pemotong rambut di Barber Shop K3rn dirinya harus lolos masa training selama tiga bulan. Saat selesai training, dia baru dikontrak selama satu setengah tahun. Diakuinya sebelum dipindah ke Kudus dia menjalani masa training di Semarang.

“Sejak ditugaskan di Kudus aku sudah dikontrak. Dan alhamdulillah gajinya lumayan, karena upahnya setara dengan Upah Minimum Kota (UMK) Semarang. Selain itu, menjadi kapster di Barber Shop K3rn juga ada bonusnya. Setiap memotong rambut lebih dari 20 orang sehari, kami mendapatkan Rp 3 ribu per orang. Dan setiap tanggal merah selain hari Ahad, pekerja berhak 50 persen dari omzet yang didapatkan di hari tersebut,” jelasnya.

Dia mengatakan, sejak pertama bekerja di Barber Shop K3rn, dirinya selalu mengirimkan sebagian penghasilannya kepada orang tua, dan sisanya lagi ditabung. Selain ingin melanjutkan sekolah dan punya modal untuk buka usaha, Dia ingin bisa membantu orang tuanya membiayai pendidikan dua adiknya agar tak senasib dengan dirinya.

- advertisement -

Bebat Perut Melorot, ‘Rahwana’ Seram Berubah Lucu dan Penonton pun Tertawa

0

SEPUTARKUDUS.COM, STAIN – Suara teriakan ratusan penonton menyambut Dewi Sinta, Hanoman dan Rahwana memasuki panggung dengan iringan musik. Saat menari, tiba-tiba bebat di perut Rahwana melorot. Sontak penonton yang menyaksikan Lomba Tari Kreasi Tarbiyah, di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), tertawa.

Zakka (kiri) tetap menari di Lomba Tari Kreasi Tarbiyah, meski bebat di perutnya melotot
Zakka (kiri) tetap menari di Lomba Tari Kreasi Tarbiyah, meski bebat di perutnya melotot. Foto: Ahmad Rosyidi

Usai pementasan, kepada Seputarkudus.com, Ahmad Muzakka (19), pemeran Rahwana, mengaku sempat kaget saat bebatnya melorot. Zakka begitu dia akrab disapa, dia merasa tak leluasa bergerak. Meski begitu dia tidak tetap menikmati pementasan meski penonton yang datang menertawainya.

“Ini pengalaman pertama saya menari, jadi sebisanya. Kami memang tidak ada target menang, karena tanpa latihan. Jadi cuma lihat video saja, langsung kami praktekkan ini tadi,” terangnya sambil mengusap keringat.

Zakka menjelaskan, dirinya tidak menargetkan kelompoknya menang dalam lomba tersebut, agar tidak memiliki beban saat menari. Menurutnya, kejadian tersebut menjadi kesan tersendiri bagi pementasannya. “Justru jadi ada kesan tersendiri, kami senang bisa ikut tampil mewakili kelas M semester dua. Penonton juga terhibur tadi, mereka bisa tertawa,” jelasnya.

Gatot Priambodo Agusta (20), ketua panitia kegiatan tersebut, mengungkapkan, kegiatan Festival Tarbiah sudah menjadi acara rutin Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Tarbiah setiap tahun. Dan lomba tersebut merupakan rangkaian festival.

Dalam festival yang digelar, dia mengatakan, untuk kalangan mahasiswa ada 11 lomba, yakni lomba tari kreasi, debat menggunakan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, cipta lagu anak, stand up edukasi, membaca kitab, qiro’ah, senam, membuat media pembelajaran, dan karaoke Arabic.

“Dan untuk lomba tingkat pelajar, ada lomba MTK, biologi, ekonomi, khitobah Bahasa Arab, speak contest, dan karya tulis ilmiah. Acara kami sudah dimulai tanggal 2 Mei 2017, dibuka dengan pengajian istighotsah dan selawat. Acara ditutup dengan inagurasi,” ujar Gatot sapaan akrabnya.

Gatot juga mengungkapkan, ada 60 orang panitia yang ikut terlibat dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Mereka membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan. “Karena panitia banyak, jadi ada sedikit masalah pada komunikasi, tetapi kegiatan tetap berjalan dengan lancar,” tambah anak ketiga dari empat bersaudara itu.

- advertisement -

Masyarakat Kudus Tumpah Ruah pada Pembukaan Car Free Night di Simpang Tujuh

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Gelembung udara terlihat beterbangan di atas Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Sabtu (6/5/2017). Seorang anak mengejarnya dengan rasa riang gembira. Sesekali dia menabrak orang lain, karena terlalu asyik mengejar gelembung. Sejumlah anak lainnya tampak bermain di antara banyaknya kerumunan orang yang datang ke jantung Kota Kretek.

Pembukaan Car Free Night di Simpang Tujuh Kudus 2017_5
Pembukaan Car Free Night di Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra

Sementara itu, panggung besar dengan tata lampu warna-warni berdiri di depan pendapa Kabupaten Kudus. Ratusan orang telah memadati lokasi sekitar panggung, menyaksikan band lokal yang tampil. Panggung tersebut juga akan digunakan untuk launching kegiatan Car Free Night (CFN), yang dihadiri Bupati Kudus dan sejumlah pejabat.

Kegiatan yang baru pertama kali diadakan di Kabupaten Kudus tidak disia-siakan Santoso (30) bersama keluarganya. Dia datang bersama istri, anak dan mertuanya. Dia mengaku sudah lama merencakan untuk datang kegiatan CFN. Menurutnya, sejak Maret lalu, dirinya mendapatkan informasi di sosial media tentang CFN. Akhirnya dirinya datang CFN yang telah tertunda, bersama keluarganya.

“Acara seperti ini sangat bagus. Bisa menjadi alternatif liburan keluarga. Ini anak saya senang sekali bermain,” tuturnya kepada Seputarkudus.com.

Warga Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus mengaku bekerja sebagai wirausaha. Setiap hari dia harus bekerja dan hanya memiliki sedikit waktu untuk keluarga. Adanya CFN di akhir pekan, menurutnya bisa dijadikan tempat untuk menghilangkan penat, rekreasi dan berlama-lama dengan keluarga.

“Tak perlu jauh-jauh untuk rekreasi. Cukup di Car Free Night saja. Semoga kegiatan semacam ini bisa diadakan terus,” tambahnya.

Selama kegiatan CFN, Santoso meminta kepada Pemerintah Kabupaten Kudus agar tempat sampah di beberapa titik ditambah. Terutama, di tempat komunitas motor dan mobil berkumpul. Menurutnya, dengan bertambahnya titik lokasi tempat sampah, mengantisipasi masyarakat membuang sampah sembarangan.

“Dan selanjutnya waktunya, misal mulai pukul 19.00, selesainya maksimal pukul 22.00 saja. Karena mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, terutama anak muda,” jelasnya.

Penambahan titik sampah tersebut juga sama diusulkan pengunjung lain yang datang ke CFN, Dedy Prasetiyo (22). Dia Warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, itu mengaku hanya melihat beberapa titik tempat sampah saja. Menurutnya, penambahan tempat sampah sangat diperlukan agar masyarakat dapat terbiasa membuang sampah pada tempatnya.

Dalam kegiatan CFN, Dedy yang datang bersama kekasihnya mengaku sangat menikmati perhelatan CFN. Menurutnya, kegiatan semacam ini bagus diadakan untuk menikmati hari libur akhir pekan. “Kegiatannya meriah. Lumayan untuk jalan-jalan bersama calon istri,” ungkapnya yang duduk di dekat tiang bendera bersama calon istri dan kedua ponakannya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus Didik Sugiharto saat ditemui di kegiatan CFN mengatakan, kegiatan yang diselenggarakan berjalan sukses dan sesuai rencana. Hal tersebut dapat dilihat indikator banyaknya masyarakat yang datang. Menurutnya, CFN akan terus diadakan pada pekan kedua dan pekan keempat setiap bulan.

“Untuk pekan depan sudah menjelang puasa. Seperti biasanya ada kegiatan Dandangan. Kemungkinan CFN diadakan lagi setelah Lebaran,” jelasnya.

Dalam kegiatan CFN, pihaknya akan menyediakan panggung untuk digunakan ajang kreativitas anak muda di Kudus. Menurutnya, panggung yang disediakan dapat digunakan untuk acara musik maupun kegiatan komunitas lainnya.

“Untuk launcing pertama CFN yang mengisi dari Kecamatan Undaan dan Dawe. Tadi ada band Banyu Putih dari Undaan dan penyanyi Anton Ferdinan dari Dawe,” terangnya.

- advertisement -

Hobi dan Suka Kecantikan, Janda Tanpa Anak Ini Buka Usaha Salon dan Merogoh Kocek Hingga Rp 50 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, GARUNG LOR – Di tepi utara Jalan Kudus – Jepara Desa Garung Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus tampak sebuah bangunan dengan pintu kaca. Di dalam bangunan tersebut terlihat seorang perempuan mengenakan baju warna merah jambu sedang duduk menunggu pelanggan. Perempuan itu bernama Riyani (26), pemilik salon Riyani Jaya yang membuka usaha salon karena hobi dengan dunia kecantikan.

Rani, janda pemilik Salon Rani Jaya 2017_4
Rani, janda pemilik Salon Rani Jaya. Foto: Rabu Sipan

Sambil menunggu pelanggan datang, Rani, begitu dia akrab disapa sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, setelah usaha pertamanya di bidang jasa keuangan yang dirintis mulai tahun 2013 mulai berjalan, dua tahun berikutnya dia membuka usaha salon kecantikan.

“Aku membuka usaha salon itu karena aku suka dengan dunia kecantikan. Karena itu saat usaha pertamaku mulai berjalan dan ada hasilnya, lalu aku memutuskan untuk buka salon kecantikan dengan modal sekitar Rp 50 juta,” ungkap janda tanpa anak tersebut, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, modal tersebut untuk menyewa tempat selama dua tahun serta membeli aneka macam peralatan serta perlengkapan salon. Sebelum buka usaha salon, sambil mengelola usahanya yang dulu dirinya menyempatkan kerja sekaligus belajar perawatan rambut dan kecantikan di salon milik orang lain.

“Tapi aku belajar sekaligus kerja itu tidak lama hanya sekitar dua bulan saja. Saat aku merasa sudah menguasai ilmu serta teknik perawatan rambut dan kecantikan aku memutuskan keluar dan buka salon sendiri yang aku beri nama Salon Riyani Jaya,” ujarnya.

Dia mengatakan, di salon miliknya, dia melayani berbagai macam perawatan rambut. Untuk potong sekaligus cuci rambut ditarif Rp 30 ribu. Creambath dibandrol Rp 70 ribu, sedangkan smoothing serta rebonding dibebankan biaya antara Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung panjang, pendek, tebal dan tipis rambut.

Selain itu, katanya, Salon Riyani jaya juga melayani hair mask atau masker rambut yang ditarif  mulai Rp 75 ribu sampai Rp 150 ribu. Blow dibebankan biaya antara Rp 30 ribu hingga Rp 100 ribu. Sambung rambut dibandrol perhelai Rp 6 ribu sampai Rp 10 ribu. Sedangkan servis rambut dia meminta imbalan antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu.

Sedangkan untuk catok sekaligus cuci rambut, tuturnya, ditarif Rp 30 ribu sampai Rp 40 ribu. Untuk keriting rambut dibanderol Rp 50 hingga Rp 75 ribu. Sedangkan toning dibebankan biaya mulai Rp 100 ribu. Dan untuk merapikan alis serta kumis dan jenggot dia tarif dengan harga Rp 10 ribu.

“Selain perawatan rambut, kami juga melayani aneka perawatan wajah dan kulit tubuh, di antaranya facial, masker wajah, lulur dan lain sebagainya dengan harga yang sangat terjangkau,” ucapnya.

Dia mengatakan, untuk menggaet para pelanggan dirinya mengandalkan usaha lamanya yang setiap hari bertemu klien yang berbeda setiap harinya. Dari aktivitas itu, Rani selalu menyempatkan memberi tahu kepada para klien dia sekarang juga punya usaha salon.

“Aku bersyukur kedua usahaku sekarang sudah mulai berjalan semua dan menghasilkan. Dari dua usaha yang aku rintis dari bawah itu, aku kini bisa membeli kendaraan, tanah kavlingan yang sebentar lagi akan aku bangun rumah,” ujarnya.

- advertisement -

Sejak Menyantap Sate Kambing di Warung Bagong, Warga Demak Ini Ketagihan Datang Lagi dan Lagi

0

SEPUTARKUDUS.COM, GULANG – Seorang pria berkaus oblong tampak lahap menyantap sate kambing di Warung Sate Bagong, Desa Gulang, Mejobo, Kudus. Dengan dahi berkeringat, dia menggigit satu persatu daging kambing yang sudah tercelup bumbu. Pria tersebut bernama Koko Saptono (45), warga Demak yang ketagihan dengan rasa sate di warung legendaris tersebut.

Koko Saptono, pelanggan Warung Sate Bagong, Desa Gulang, Kudus 2017_5
Koko Saptono, pelanggan Warung Sate Bagong, Desa Gulang, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai menyantap satu porsi sate, pria yang akrab disapa Koko itu sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com tentang rasa sate kambing Warung Sate Bagong. Dia mengungkapkan, pertama datang ke Warung Bagong pada tahun 2009.

Baca juga: Warung Sate di Gulang Ini, Saking Larisnya Pernah Habiskan 12 Ekor Kambing, 7.000 Tusuk Sate

“Aku tahu Warung Sate Bagong dari temanku, yang mengatakan di Kudus ada warung sate kambing enak. Karena penasaran aku melacaknya, dan saat ketemu aku langsung pesan satu porsi dan menyantapnya. Benar saja rasanya enak dan mantab. Sejak saat itu setiap ingin makan sate kambing aku pasti datang ke Kudus dan tentunya ke Warung Sate Bagong,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Pria yang dari Dempet, Demak, itu mengatakan, saat pertama datang dulu, Sunipah, perintis warung tersebut masih ada. Kini warung tersebut sudah dikelola keturunannya, tapi rasa satenya tidak ada yang berubah, tetap enak.

“Saat ini aku datang bersama anaku, biasanya aku datang beramai-ramai bersama keluarga besar atau terkadang juga dengan teman kantor. Dan mereka yang aku ajak ke Warung Sate Bagong semuanya merasa puas. Karena lidah itu tak bisa dibohongi. Mereka juga berkomentar sate kambing Warung Bagong memang mantab dan bikin berkeringat,” ungkapnya.

Senada dengan Koko, Eka Aprilia (29), yang datang bersama anak serta suaminya, mengungkapkan, sudah lama berlangganan di Warung Sate Bagong. Dia mengungkapkan, bersama suaminya sudah tidak terhitung lagi berapa kali datang dan menyantap sate, gulai maupun tongseng di warung yang menghadap ke timur itu.

“Apalagi kami itu orang Kudus, jadi setiap ingin menyantap aneka olahan daging kambing pasti aku mengajak suamiku datang ke Warung Bagong. Karena menurutku di Kudus warung sate kambing yang rasanya enak itu ya Warung Sate Bagong. Selain rasanya enak, irisan daging kambingnya itu lumayan gede. Jadi puas makannya,” ungkap Warga Desa Piji, Dawe, Kudus tersebut.

Menurut Hariani (31), anak kedua dari Sunipah perintis Warung Sate Bagong mengungkapkan, sepeninggal ibunya, dia berusaha sebisa mungkin tetap menjaga cita rasa menu yang disajikan.  Dengan irisan daging kambing yang sama besar, Warung Sate Bagong tetap digemari pelanggan.

“Itu terbukti warung kami tetap ramai pembeli hingga sekarang. Warga keturunan Tionghoa juga masih tetap berlangganan di Warung Bagong. Bahkan beberapa kali ada bule dan orang Arab juga yang singgah dan memesan sate serta gulai kambing dalam jumlah banyak,” ujarnya yang mengaku saat ini Warung Sate Bagong sudah buka cabang.

- advertisement -

Jembatan Selesai Dibangun, Kini Hasil Panen Milik Warga Dukuh Sudo Bisa Diangkut Truk

0

SEPUTARKUDUS.COM, KANDANGMAS – Sejumlah orang terlihat sedang memanen tebu di dekat posko TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Dukuh Masin Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kudus. Tak berapa lama mereka membopong tebu untuk dinaikkan ke dalam truk. Untuk menuju bak truk, mereka harus melewati jalan beton yang baru diselesaikan TNI dalam progam TMMD regular ke-98 tahun 2017.

Jembatan di Desa Kandangmas hasil pembangunan TMMD TNI 2017_5
Jembatan di Desa Kandangmas hasil pembangunan TMMD TNI. Foto: Imam Arwindra

Jalan sepanjang 200 meter dengan lebar tiga meter juga tampak dilewati pengendara motor untuk menuju ke sawah. Masyarakat setempat yang sawahnya berada di Dukuh Sudo Desa Kandangmas juga harus melewati jembatan berpagar hijau, yang juga baru saja diselesaikan dalam progam TMMD regular ke-98.

Menurut warga Dusun Masin Desa Kandangmas Sunanto (48), adanya jalan beton baru dan jembatan penghubung Dukuh Masin dan Dukuh Sudo, sangat membantu warga setempat. Terutama dalam menunjang perekonomian. Sebelum jalan beton dan jembatan dibangun, untuk menuju sawah yang berada di Dukuh Sudo, dirinya harus berjalan kaki. Karena harus melewati sungai yang membelah kedua dusun.

“Kalau mau naik motor ya harus muter,” ungkapnya sambil mengecat buk yang berada di atas jalan beton, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, pembangunan tersebut juga sangat membantu saat masa panen tiba. Lahan persawahan yang berada di Dusun Sudo ditanami laos, kencur, telo dan tebu. Saat masa panen tiba, warga setempat menggunakan truk untuk mengangkut hasil panen.

“Sebelum ada jembatan, truknya tetap masuk sungai. Namun kesulitan. Sekarang bisa lebih mudah setelah jembatan dibangun,” ungkapnya.

Sunanto berterima kasih kepada TNI yang mau membangun fasilitas umum di desanya. Menurutnya, pembangunan yang dilakukan lewat progam TMMD sangat membantunya. Dirinya bisa lebih mudah pergi ke sawah. Saat masa panen pun truk pengangkut hasil panen bisa lebih dekat dan mudah.

“Kalau ada progam TMMD lagi. Penguhubung Desa Cranggang dan Dusun Masin sejauh dua kilometer bisa diusulkan untuk dibangun,” tambahnya.

Sementara itu, Assisten Potensi Dirgantara Kepala Staf Angkatan Udara (Aspotdirga Kasau) Marsekal Muda TNI Agus Munandar yang melakukan evaluasi terakhir TMMD di Desa Kandangmas menuturkan, progam TMMD untuk meningkatkan pembangunan daerah. Dengan pembangunan yang bisa dilakukan lebih cepat, masyarakat akan mampu meningkatkan perekonomiannya.

“Tentu kegiatan ini (TMMD) memberikan dampak postif untuk masyarakat. Terutama untuk meningkatkan perekonomian,” ungkapnya saat mengecek jembatan.

Perwira tinggi bintang dua tersebut menjelaskan, sebelum diberi nama TMMD, dulunya kegiatan yang dimaksud bernama ABRI Masuk Desa (AMD). Kegiatan tersebut dimulai sejak tahun 1980. Setiap tahunnya diadakan dua tahun. Namun untuk tahun 2017, Markas Besar TNI (Mabes) menambah menjadi tiga kali dalam setahun. Progam TMMD tambahnya, tidak hanya dilakukan matra TNI Angkatan Darat saja. Melainkan juga tiga matra TNI Angkatan Darat, TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Laut.

“Kegiatan ini positif untuk masyaakat. Yang asalnya masyarakat harus berjalan kaki dan mungkin menggunakan gerobak. Sekarang bisa dilalui dengan truk,” tambahnya.

Komandan Distrik Militer (Dandim) 0722 Kudus Letnan Kolonel Czi Gunawan Yudha Kusuma yang ditemui di lokasi TMMD memberitahukan, progam TMMD regular ke-98 tahun 2017 dimulai tanggal 5 April 2017 dan ditutup pada 4 Mei 2017. Menurutnya, pembangunan fisik yang dilakukan yakni pembuatan jembatan dengan panjang 12 meter, lebar empat meter dan tinggi enam meter.

“Selanjutnya, pembangunan jalan beton sepanjang 200 meter, lebar tiga meter dan tebal 15 meter. Selain itu juga akan ada pembangunan talud dengan panjang 50 meter, lebar 30 sentimeter dan tinggi 1,5 meter,” jelasnya.

- advertisement -