Beranda blog Halaman 1899

Warung Sate di Gulang Ini, Saking Larisnya Pernah Habiskan 12 Ekor Kambing, 7.000 Tusuk Sate

0

SEPUTARKUDUS.COM, GULANG – Di tepi selatan sekitar 20 meter dari Jalan Raya Budi Utomo Dukuh Pekeng, Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kudus, tampak sebuah warung dengan baner panjang bergambar Bagong. Di dalam warung tampak beberapa pengunjung sedang menikmati sate kambing yang dihidangkan. Warung tersebut yakni Warung Sate Bagong, yang mampu menjual 7.000 tusuk sate kambing sehari.

Warung Sate Bagong, Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kudus 2017-5
Warung Sate Bagong, Desa Gulang, Kecamatan Mejobo, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Hariani (31), anak kedua dari mendiang Sunipah, perintis Warung Sate Bagong, mengungkapkan, warung yang menjual sate, gule, dan tongseng kambing itu pertama buka pada tahun 1992. Menurutnya, sejak dibuka hingga kini warung tersebut selalu laris dan memiliki banyak pelanggan.

“Saking larisnya dan memiliki banyak pelanggan tersebut. Kami beberapa kali Warung Sate Bagong dalam sehari mampu menjual hingga 7.000 tusuk sate dan menghabiskan 12 ekor kambing. Kami ingat pernah dapat pesanan untuk ulang tahun beberapa perusahaan rokok di Kudus,” kata perempuan yang akrab disapa Ani kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, warungnya masih bisa menghabiskan tiga ekor kambing sehari, saat tidak ada pesanan. Menurutnya, tiga ekor kambing tersebut bisa dijadikan 1800 hingga 2.000 tusuk sate.

“Terkadang kami juga mendapatkan pesanan dari perorangan atau beberapa acara, misalnya, pernikahan reuni, seminar, wisuda, dan lain sebagaianya. Pesanannya itu bisa menacapai 3.000 tusuk sate. Kami berharap selalu dapat pesanan agar pendapatan warung kami lumayan,” ujarnya sambil tersenyum.

Dia mengatakan, untuk harga sate di Warung Bagong dijual Rp 35 ribu per 10 tusuk sate kambing. Harga tersebut untuk sate kombinasi daging dan lemak. Sedangkan untuk sate khusus daging kambing dijual dengan harga lebih mahal, yakni Rp 40 ribu untuk 10 tusuk. Sedangkan nasi dan es teh harga Rp 5 ribu.

“Selain sate, warung kami juga menyediakan tongseng kambing yang dijual dengan harga Rp 35 ribu seporsi dan gule kambing dijual lebih murah yakni Rp 20 ribu seporsi. Sama dengan sate harga ditambah Rp 5 ribu untuk nasi dan es teh,” jelasnya.

Dia mengkisahkan, sebelum buka warung sate, mendiang ibunya pernah kerja di perusahaan rokok. Namun karena suatu hal, ibunya memutuskan keluar. Saat itulah terlintas di pikiran ibunya untuk membuka warung sate, karena neneknya pernah berjualan sate.

“Saat buka warung itu, tanpa di duga warung sate ibuku selalu ramai pembeli dan selalu laris setiap hari. Karena waktu itu warungnya belum ada namanya, atas saran satu pelanggannya warung tersebut diberi nama Warung Sate Bagong. Karena saat itu di Kudus belum ada warung dengan nama serupa,” jelasnya.

- advertisement -

Fatiyah Tak Keberatan Ada Pedagang Baru di Car Free Night, Tapi . . .

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Sejumlah kendaraan tampak melaju di Jalan dr Ramelan selatan Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus. Jalur tersebut terlihat terbagi menjadi dua lajur, untuk mobil dan motor. Jalur lambat yang berada di Jalan dr Ramelan akan ditempati para pedagang pada kegiatan Car Free Night (CFN) malam ini.

Pedagang di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus 2017_5
Pedagang di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra

Munculnya PKL di CFN nanti tentu mengundang reaksi dari para PKL yang sudah lama berdagang di sekitar Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Di antaranya Fatiyah (44), dia yang sudah berdagang 13 tahun di sudut barat laut Alun-alun Kudus. Dia mengaku tidak masalah jika ada pedagang baru saat CFN.

Baca juga: Jangan Lupa, Besok Malam Ada Pembukaan Car Free Night di Simpang Tujuh

Namun, dia meminta agar pedagang CFN tidak masuk wilayah wilayah di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus. “Ya tidak masalah. Lha wong sama-sama cari rezeki. Namun ya jangan masuk kawasan alun-alun,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com belum lama ini.

Menurutnya PKL yang hanya untuk CFN hanya boleh berdagang di tempat yang sudah ditentukan yakni jalur lambat Jalan dr Ramelan. Jika nantinya PKL CFN juga ikut berdagang di sekitar Simpang Tujuh tentu akan merugikan para PKL yang sudah bertahun-tahun berdagang.

“Saya sangat mendukung adanya Car Free Night. Namun ya mohon ditata pedagangnya. Jangan sampai merugikan kami,” tambahnya yang berjualan nasi.

Sama dengan Fatiyah, Cak Din, begitu dia biasa dipanggil, juga mendukung kegiatan CFN. Namun dia meminta agar pedagang CFN tidak masuk kawasan alun-Alun. Dia khawatir warung mi ayam dan bakso yang dikelolanya omzetnya akan menurun. “Kalau PKL ke sini (alun-alun) repot kita,” tuturnya sambil duduk di depan warung bawah baliho.

Menurutnya, warung-warung yang sudah ada Alun-alun Kudus tidak mungkin dipindah di Jalan dr Ramelan. Karena nantinya pasti akan kesulitan untuk mendapatkan air dan saluran listrik. Selain itu tidak mungkin pedagang warung seperti dirinya harus berpindah-pindah. “Kalau pedagang Car Free Night kan sama seperti Car Free Day. Tidak terlalu membawa perlengkapan banyak. Kalau saya pasti susah,” tambahnya.

Cak Din menjelaskan, selama berdagang di sekitar Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus dirinya membayar restribusi Rp 2.500 per malam. Menurutnya, restribusi tersebut sudah termasuk iuran dinas, desa dan sampah. Namun ada juga PKL yang membayar Rp 1.500. Tergantung jenis dagangan yang dijual. “Saya sudah mulai berjualan pukul 16.00 WIB. Biasanya sampai 21.00 WIB,” ungkapnya.

Sementara itu Kabid Pedagang Kaki Lima (PKL) Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus, Sofyan Dhuri menuturkan, sejauh ini ada 320 PKL yang akan berdagang di CFN. Menurutnya, PKL akan menempati Jalur Lambat di Jalan dr Ramelan.

“Yang nanti dipakai untuk dagang hanya Jalur Lambat Jalan dr Ramelan saja. Jalan Ahmad Yani tidak. Kalau Jalan Sunan Kudus sampai Pekojan rencana dibuat parkir,” terangnya.

Selama ada CFN, PKL yang ada di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus akan berjualan seperti biasanya. Menurutnya, ada 63 PKL yang selama ini berdagang di Alun-alun. Dirinya berharap, PKL yang menempati CFN bisa menjaga kebersihan. “Kami sudah ada Satgas PKL. Nanti mereka yang akan memantau,” ungkapnya.

- advertisement -

Toko Pakan dan Perlengkapan Hewan Peliharaan Ini Diklaim Terlengkap di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Beberapa karung pakan dan aksesoris hewan peliharaan tampak tersusun dan tergantung di dalam toko pakan hewan peliharaan, Holy Pet Shop. Di meja kasir, tampak seorang perempuan berjilbab dengan seksama memperhatikan arahan kepada kasir. Perempuan itu bernama Rosana (22), pengelola toko tersebut. Dia mengklaim, Holy Pet Shop merupakan toko perlengkapan hewan peliharaan terlengkap di Kudus.

Produk pakan kucing dan anjing di Holy Pet Shop Kudus 2017_5
Produk pakan kucing dan anjing di Holy Pet Shop Kudus. Foto Rabu Sipan

Seusai mendengarkan intruksi tersebut, perempuan yang akrab disapa Ros itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com, tentang Toko Holy Pet Shop. Dia mengungkapkan, Holy Pet Shop memang menyediakan aneka pakan dan perlengkapan hewan. Pakan tersebut di antaranya, untuk anjing, kucing, kelinci dan  hewan ternak lainnya. Menurutnya, hampir semua perlengkapan hewan ada di toko Holy Pet Shop.

Baca juga: Jualan Pakan Untuk Coba-Coba, Holy Pet Shop Justru Kebanjiran Pelanggan

“Karena alasan itu Toko Holy Pet Shop banyak yang bilang toko perlengkapan hewan paling lengkap di Kudus. Yang bilang itu bukan diriku atau bosku lho ya. Kebanyakan yang ngomong itu para pelanggan,” ungkapnya saat ditemui, beberapa waktu lalu.

Warga Kelurahan Sunggingan, Kota, Kudus itu mengatakan, toko tempatnya bekerja itu menyediakan aneka pakan untuk para hewan peliharaan. Menurutnya, pakan tersebut dijual dengan berbagai kemasan ataupun per kilogram, yang tentunya juga harganya pun berbeda. Selain menjual aneka pakan di Holy Pet Shop juga menyediakan aneka aksesoris hewan peliharaan.

Dia menjelaskan, alat tuntun dijual mulai Rp 12 ribu sampai Rp 230 ribu. Kalung anjing dan kucig dibanderol antara Rp 25 ribu hinnga Rp 50 ribu. Tempat makan dan minum dia jual Rp 12 ribu hingga Rp 230 ribu. Sedangkan tempat tidur kucing dijual dengan harga Rp 350 ribu dan kasur dibandrol Rp 130 rbu  hingga Rp 160 ribu.

“Selain itu Toko Holy Pet Shop juga menjual kandang anjing, kucing, kelinci dan hewan ternak lainnya. Di toko tempatku bekerja juga menyediakan aneka obat dan vitamin untuk hewan peliharan. Dan kami itu sudah terbiasa memberi saran kepada para pelanggan yang memiliki hewan peliharaan sedang sakit,” ujarnya.

Dia mengungkapan, di toko yang beralamt di Jalan dr Lukmono Hadi juga menjual aneka baju anjing dan kucing yang dijual mulai harga Rp 40 ribu sampai Rp 90 ribu per pcs. Harga tersebut tergantung ukuran dan bahan serta bentuknya. Selain itu kata dia, Holy Pet Shop juga menjual kandang hewan peliharaan yang dibanderol Rp 280 ribu yang paling murah dan termahal Rp 4,5 juta.

“Selain menjual aneka pakan dan aksesoris hewan peliharaan, kami juga melayani jasa memandikan anjing dan kucing. Untuk mandi kutu serta mandi jamur kami tarif dengan harga sama yakni Rp 40 ribu. Sedangkan mandi komplit hanya kami tarif Rp 60 ribu. Semua perawatan mandi itu maksimal dua jam,” jelasnya.

Menurutnya, dalam sebulan tak kurang dari 100 ekor anjing dan kucing melakukan perawatan mandi di Holy Pet Shop. Tempat kerjanya tersebut sudah memiliki banyak pelanggan. Tidak hanya dari Kudus melainkan hampir seluruh Karesidanan Pati. Bahkan ada juga yang datang dari Lasem.

“Selain menjual aneka pakan, aksesoris, serta kandang di toko, kami juga menjualnya secera online. Kami juga melayani penitipan anjing yang aku tarif Rp 35 ribu sehari, dan Rp 25 ribu sehari untuk kucing” ungkapnya yang mengaku Toko Holy Pet Shop buka setiap hari.

- advertisement -

Jualan Pakan untuk Coba-Coba, Holy Pet Shop Justru Kebanjiran Pelanggan

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Di tepi timur Jalan dr Lukmonohadi, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah toko yang kaca depannya terlihat gambar kucing dan anjing. Di dalam toko terlihat puluhan kemasan dan karung pakan tersusun rapi di rak dan lantai toko. Tempat tersebut merupakan Holy Pet Shop, yang awalnya dibuka hanya untuk coba-coba.

Toko pakan kucing dan anjing, Holy Pet Shop Kudus 2017_5
Toko pakan kucing dan anjing, Holy Pet Shop Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Menurut Rosana (22), karyawan Holy Ped Shop, mengungkapkan, sebelum punya toko, pemilik usaha itu pakan hewan peliharaan beternak anjing. Karena membutuhkan pakan yang lumayan banyak, bosnya berinisiatif membuka toko pakan anjing dan kucing pada tahun 2012.

“Awalnya bosku itu mencoba saja buka pet shop. Kalaupun tidak laku, kata bosku nanti bisa buat dikasih anjing peliharaannya. Ternyata aneka pakan anjing dan kucing yang dijual di Holy Pet Shop laris dibeli pembeli dan memiliki banyak pelanggan,” ujar perempuan yang akrab disapa Ros, menirukan perkataan bosnya kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Warga Kelurahan Sunggingan, Kota, Kudus itu mengatakan, saat itu bosnya menyewa tempat untuk berjualan selama setahun. Tapi karena tidak boleh diperpanjang, akhirnya bosnya memutuskan membeli tempat yang sekarang ditempati. Menurutnya sejak pindah itu pelanggannya malah makin banyak.

Dia mengatakan, Holy Pet Shop menyediakan aneka pakan untuk hewan peliharaan, di antaranya pakan untuk kucing yang dijual mulai Rp 25 ribu sampai Rp 125 ribu perkilogram. Untuk pakan anjing dijual antara harga Rp 20 ribu hingga Rp 38 ribu per kilogram. Sedangkan pakan kelinci dibanderol Rp 35 ribu per kemasan.

“Semua pakan tersebut ada yang produksi pabrik dengan merk yang sudah sangat terkenal dan pakan hasil produski rumahan yang merknya belum terkenal. Bahkan terkadang juga ada yang belum bermerek sama sekali. Jadi harga itu tergantung dari merk tersebut itu juga,” kata Ros.

Menurutnya, selain pakan Holy Pet Shop juga menyediakan aneka camilan anjing dan kucing. Karena seperti manusia yang terkadang ngemil, dua hewan peliharaan tersebut sangat suka diberi camilan. Di Holy Pet Shop, camilan untuk anjing dijual dengan harga Rp 15 ribu sampai Rp 75 ribu, sedangkan camilan kucing dibanderol mulai Rp 35 ribu hingga Rp 50 ribu perkemasan.

Dia mengungkapkan, dalam sebulan Holy Pet Shop mampu menjual sekitar lima kwintal pakan kucing, anjing, dan kelinci. Sejak buka pertama pada tahun 2012, kini Holy Pet Shop sudah memiliki cabang.

“Holy Pet Shop sekarang itu sudah punya cabang toko di lain daerah. Selain di Kudus, di Semarang ada empat toko dan Salatiga ada satu toko. Jadi sekarang Toko Holy Pet Shop totalnya ada sekitar enam toko,” ungkapnya.

- advertisement -

Meski Lemas Karena Kepanasan, Fahmi Senang Bisa Tampil di Acara Parade Drum Band

0

SEPUTARKUDUS.COM, KIRIG – Waktu menunjukan pukul 12.30 WIB, saat anggota grup drum band MI NU Baitul Mukminin beraksi di lapangan Desa Kirig, Kecamatan Mejobo, Kudus. Di bawah terik, mereka tampil adalam Parade Drum Band yang diselenggarakan Yayasan Assa’idiyyah. Satu di antara anggota grup, yakni Fahmi Rivaldi (11). Dia mengaku lemas karena kepanasan, tapi merasa senang bisa tampil bersama teman-temannya.

Grup drum band MI NU Baitul Mukminin Kudus 2017_5
Grup drum band MI NU Baitul Mukminin Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Fahmi, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tetang penampilannya yang kurang maksimal di acara tersebut. Dia mengaku sempat melakukan kesalahan karena kepanasan, sehingga kurang konsentrasi. Meski begitu dia merasa senang bisa ikut tampil bersama teman-temannya.

“Tadi sempat ada kesalahan, kerena panas sekali. Saya juga lelah dan badan saya pegal-pegal,  jadi badan saya lemes dan membuat susah fokus. Tapi rasanya senang bisa ikut tampil bersama teman-teman,” ungkap anak terahir dari dua bersaudara itu, Selasa (2/5/2017) siang.

Sugeng (40), pelatih drum band MI NU Baitul Mukminin, mengungkapkan, mereka hanya dua kali latihan untuk mempersiapkan pementasan parade itu. Menurutnya, anak didiknya sudah siap karena sudah biasa melakukan latihan rutin setiap Jumat sore. Dia datang bersama kurang lebih 45 anak, dan juga didampingi oleh kepala sekolah.

“Karena informasinya mendadak jadi kami kurang persiapan. Tetapi kami sudah rutin latihan setiap hari Jumat sore. Jadi semua berjalan dengan baik,” terang warga Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus itu.

Sementara itu, Noor Khalim Anwar (48), Ketua Yayasan Assa’idiyyah, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan rangkaian acara Haul KH Ahmad Said Bin Irjam ke-32. Acara haul menjadi kegiatan rutin setiap tahun, dan sudah menjadi progam kerja Desa Kirig bekerjasama dengan Yayasan Assa’idiyyah.

“Sesuai pesan almarhum KH Ahmad Said Bin Irjam, mengutamakan mengaji dan sekolah, selain itu juga bersedekah. Slogan beliau Ayo Ngaji Ayo Sekolah, Makan Bareng Menyelesaikan Masalah. Dalam kegiatan ini kami menyembelih dua ekor kerbau, semua tamu yang hadir kami persilahkan makan,” jelas pria yang dikaruniai dua anak itu.

Dia juga menambahkan, acara haul tersebut dimulai tanggal 28 April 2017 hingga tanggal 2 Mei 2017. Dan ditutup dengan Pengajian Burdah yang akan menghadirkan KH Ali Khumaidi dari Tayu, Pati beserta Jamiyyah Sholawat Burdah Al-Asyiq.

- advertisement -

Jangan Lupa, Besok Malam Ada Pembukaan Car Free Night di Simpang Tujuh

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Pukul 19.00 WIB, puluhan kendaraan roda dua tampak mulai memenuhi tempat parkir di depan air mancur depan Pendopo Kabupaten Kudus. Beberapa personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terlihat berjaga sambil mengarahkan pengendara motor yang ingin menikmati suasana malam di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Suasana Alun-alun Simpang Tujuh Kudus malam hari
Suasana Alun-alun Simpang Tujuh Kudus malam hari. Foto: Arsip Seputarkudus.com

Pada Sabtu (6/5/2017) malam, lokasi tersebut menurut Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus, Didik Sugiharto, akan digunakannya untuk pembukaan pertama kegiatan Car Free Night (CFN). Hal tersebut disampaikannya saat rapat koordinasi checking terakhir launching CFN, Selasa (25/04/2017) bersama dengan sejumlah dinas terakait.

“Ya ini (CFN) sudah pasti diadakan tanggal 6 Mei (2017). Karena setelah 6 Mei nanti ada Dandangan,” tuturnya untuk setelah ditanya perwakilan komunitas mobil dan motor yang ikut kegiatan rapat.

Didik mengatakan, kegiatan CFN yang akan dilaksanakannya telah dinantikan banyak orang. Berubahnya rencana CFN yang pernah dijadwalkan beberapa waktu lalu karena faktor cuaca yang tidak menentu. Dirinya berharap, pada pembukaan kegiatan CFN besok Sabtu malam tidak turun hujan.

“Nanti ada panggung yang diisi hiburan. Yang mengisi band dari Kudus. Itu di Dawe banyak. Nanti bisa Iwan fals-an, Koes Plus-an atau Dangdutan. Yang penting jangan luar Kudus. Banyak pemuda di Kudus yang berbakat,” pintanya kepada peserta rapat.

Untuk pengisi acara, dirinya menyerahkan sepenuhnya kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus dan Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olah Raga Kudus. Kedua dinas terkait tersebut selanjutnya diminta untuk berkordinasi untuk agenda acara. Didik menjelaskan, kegiatan dimulai pada pukul 19.00 WIB hingga 23.00 WIB. Menurutnya, jalan di sekitar Simpang Tujuh mulai ditutup pada pukul 17.00 WIB.

Dalam kegiatan CFN Sabtu malam nanti, selain diramaikan panggung hiburan, juga terdapat pedagang di jalur lambat Jalan Dokter Ramelan. Disebutkan, ada 320 Pedagang Kaki Lima (PKL) yang akan meramaikan kegiatan CFN tersebut. “PKL-nya jangan terlalu banyaknya. Ruas jalannya terbatas. Nanti kesulitan menatanya,” tuturnya kepada perwakilan Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus.

Dia menambahkan, omunitas mobil dan motor juga dilibatkan untuk meramaikan kegiatan CFN. Dia menjelaskan, Jalan Ahmad Yani nantinya akan diisi komunitas mobil dan Jalan Dokter Ramelan akan ditempati komunitas motor. Jalan Ahmad Yani, menurut Didik masih bisa dilewati pengguna kendaraan. Dia menginginkan komunitas mobil agar bisa memparkirkan mobilnya secara serong. Agar pengendara bisa melewati di tengah-tengah.

“Kendaraan yang lewat masih normal seperti biasanya. Cuma nanti lewatnya selatan Ramayana masuk Jalan Ahmad Yani. Saya memastikan padat merayap. Nanti tolong dibantu Pak Cipto,” tuturnya kepaada Kepala Urusan Pembinaan Operasi lalu lintas (KBO Sat Lantas) Polres Kudus Iptu Sucipto.

Didik menambahkan, untuk parkir, pihaknya menyediakan di Jalan Sunan Kudus. Menurutnya, kendaraan tidak diperbolehkan masuk ke dalam kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus saat CFN digelar. “Nanti dititipkan saja,” tambahnya.

Sementara itu, Chusnawati Sa’idah (20), warga Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus mengaku tidak sabar menikmati kegiatan CFN. Menurutnya, CFN yang ada di Kudus bisa dikatakan nomor dua setelah Solo. Dia menuturkan, mengetahui kegiatan CFN semasa presiden Joko Widodo masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Semoga CFN benar-benar bisa diadakan. Kalau nanti molor lagi ya pastinya setelah lebaran,” tuturnya yang masih kuliah di Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muria Kudus (UMK).

- advertisement -

Awal Berjualan Gorden Jalan Kaki Keliling, Kini Viona Punya Lima Toko di Jateng dan Jatim

0

SEPUTARKUDUS.COM, CENDONO – Di tepi barat Jalan Kudus-Colo Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus, tampak sebuah bangunan berwarna hijau. Di dalam bangunan terlihat puluhan gorden tergantung. Di antara puluhan gorden itu tampak perempuan berambut pirang sedang melayani pembeli. Perempuan tersebut bernama Viona Kiki Yupitasari (32), pemilik toko gorden. Sebelum punya toko, dia bersama suaminya merintis usaha penjualan gorden dengan berjualan keliling.

Vio, pemilik Cahaya Gorden di Desa Cendono, Bae, kudus 2017_5
Vio, pemilik Cahaya Gorden di Desa Cendono, Bae, kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani pembeli, perempuan yang akrab disapa Vio itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, sebelum membuka toko untuk berjualan gorden tiga tahun lalu, dia mengaku bersama suaminya terlebih dulu memasarkan gorden keliling.

“Setelah menikah aku bersama suamiku memang berniat buka usaha jualan gorden. Dan agar tahu ilmu dan trik jualan gorden aku rela berjualan keliling jalan kaki. Namun, aku jualan keliling hanya sebulan, setelah merasa sudah paham dan memiliki banyak pelanggan, aku lalu membuka toko yang aku beri nama Cahaya Gorden,” ungkapnya.

Warga Desa Cendono, Kecamatan Dawe, Kudus itu mengungkapkan, di tokonya tersebut menyediakan aneka jenis gorden dengan berbagai bentuk. Menurutnya, untuk gorden dengan ukuran 1×1,5 meter dijual mulai Rp 850 ribu sampai Rp 1,7 juta. Sedangkan yang paling murah yakni Rp 150 ribu dengan ukuran 1×2 meter.

“Harga itu tergantung kain bahan dan berapa sap gorden tersebut. Harga itu juga sudah termasuk pemasangan, jadi pelanggan menerima jadi,” ungkap Vio sambil merapikan album foto aneka gorden yang diperlihatkan pelanggan.

Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak dan menanti kelahiran anak keduanya itu mengatakan, selain menjual gorden, toko Cahaya Gorden juga menyediakan gorden vertikal yang dijual mulai harga Rp 175 ribu sampai Rp 570 ribu. Sedangkan Wallpaper dibanderol mulai Rp 275 ribu hingga 375 ribu per meter. “Selain yang aku sebutkan tadi, Cahaya Gorden juga menyediakan gorden horisontal dan kere,” ungkapnya.

Menurutnya, aneka gorden yang dijualnya sangat berkualitas dan harganya paling murah di Kudus. Oleh sebab itu Cahaya Gorden sudah memiliki banyak pelanggan tidak hanya dari Kudus melainkan juga Karesidanan Pati, Semarang, Solo, Batang, Pekalongan. Bahkan, ada beberapa pelanggannya berasal dari daerah Jawa Timur.

“Karena banyaknya pelanggan tersebut, kini aku sudah memiliki sekitar lima toko yang tersebar beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Khusus penjualan gorden di Toko Cahaya Gorden Kudus aku mampu mendapatkan omzet sekitar Rp 10 juta sebulan,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, menerima pembelian ecer dan permintaan partai besar. Koleksi gorden yang dijualnya ada ratusan jenis dan bentuk. Biasanya para pembeli diperlihatkan album koleksi gorden dan harganya. Saat ini bentuk yang paling diminati gorden minimalis.

“Aku berharap Cahaya Gorden bisa makin berkembang dan aneka gorden jualanku makin diminati dan makin laris. Semoga saja kelak aku bisa menambah toko cabang lagi,” ujar Vio yang mengaku tidak pernah memasarkan aneka gordennya lewat online.

- advertisement -

Kuota PKL Car Free Day Penuh, yang Berminat Bisa Masuk Daftar Tunggu

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Sepanjang Jalan Ahmad Yani selatan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, tampak banyak orang berlalu lalang. Mereka sedang berolahraga atau sekedar jalan-jalan pada Car Free Day (CFD). Tampak juga para pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangannya di sisi timur dan barat Jalan Ahmad Yani hingga Gang 4.

Pedagang di Car Free Day Kudus 2017_5
Pedagang di Car Free Day Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pedagang Kaki Lima (PKL) Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Kudus, Sofyan Dhuri, terdapat 334 PKL yang menggelar dagangannya pada CFD. “Mereka berjualan di barat dan timur Jalan Ahmad Yani, namun hanya sampai Gang 4 saja,” tuturnya saat ditemui di kantor Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus belum lama ini.

Dijelaskan, sebenarnya untuk berdagang di kegiatan Car Free Day cukup mudah. Masyarakat tinggal melampirkan foto copy Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK) dan foto terbaru lalu berkasnya diajukan ke Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Kabupaten Kudus. Petugas akan melakukan verifikasi data yang diajukan oleh calon pedagang. “Syaratnya mudah, yang penting dia (pedagang) benar-benar punya dagangan,” tambahnya.

Namun untuk saat ini, tutur Sofyan, PKL yang ada di kegiatan car free day diakuinya sudah penuh. Dijelaskan, pada CFD setiap Minggu ada 334 PKL yang membuka dagangannya dari pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB. Menurutnya, tempat yang diberikan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kudus sudah penuh.

“Untuk CFD yang digunakan hanya Jalan Ahmad Yani saja. Untuk Jalan Dr Ramelan dan Jalan Sunan Kudus tidak,” terangnya.

Barang dagangan yang berada di Jalan Jendral Ahmad Yani pun menurutnya diatur. Sofyan memberitahukan di sisi timur Jalan Jendral Ahmad Yani diisi dengan kuliner dan sisi barat jalan dagangan yang kering. Di antaranya, baju dan mainan.

Menurut Sofyan pihaknya hanya berwenang untuk mengurus PKL. Sedangkan untuk lokasi berdagang ditentukan oleh Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kudus. “Untuk CFD dan Car Free Night saya hanya berwenang untuk mengurus PKL saja. Jika perlu tambahan lahan untuk berdagang harus kordinasi dulu dengan dinas lain yang bersangkutan,” tuturnya.

Sofyan melanjutnya, pihaknya masih menerima pendaftaran pedagang baru yang ingin berdagang di CFD. Namun pendaftar baru tentunya masuk di daftar tunggu. Menurutnya, masyarakat yang masih dalam daftar tunggu bisa berdagang asalkan pedagang lama sudah tidak berdagang lagi. “Nanti bisa berdagang jika ada anggota yang tidak berdagang lagi. Daftar tunggu bisa langsung menggantikan. Sekarang mereka sudah ada paguyubannya,” terangnya.

- advertisement -

Sebentar Lagi Buat Akta Kelahiran, Kematian dan KK di Kudus Bisa Daring

0

SEPUTARKUDUS.COM, PENDAPA – Jari tangannya tampak membuka aplikasi di smart phone Samsung warna emas. Dia menunjukkan aplikasi Android Dukcapil Kudus dengan background Menara Kudus dan logo Pemerintah Kabupaten Kudus di sisi kanan pojok bawah. Aplikasi yang dimiliki Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kudus itu, menurut Sekretaris Dinas Dukcapil Putut Winarno, yakni layanan daring (online) administrasi kependudukan yang bisa di akses oleh masyarakat.

Sekretaris Disdukcapil Kudus Putut Winarno menunjukkan aplikasi kependudukan 2017_5
Sekretaris Disdukcapil Kudus Putut Winarno menunjukkan aplikasi kependudukan. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, aplikasi berbasis Android tersebut nantinya bisa mengurus administrasi kependudukan, di antaranya pembuatan Akta Kelahiran, Akta Kematian dan Kartu Keluarga (KK). Namun lanjut Winarno, aplikasi yang bisa diunduh gratis di Play Store tersebut masih proses perbaikan dan pengembangan. Setelah benar-benar siap, masyarakat segera bisa menggunakan.

“Yang sudah ada baru Akta Kelahiran dan Kematian saja. Masih proses pengembangan lagi,” ungkapnya saat ditemui pada kegiatan Sosialisasi Kebijakan Kependudukan dan Pencatatan Sipil Tahun 2017 di Aula Sekretaris Daerah lantai empat, beberapa waktu lalu.

Dia merencanakan, aplikasi yang bisa di install di smart phone tersebut nantinya juga bisa untuk mengurus Kartu Keluarga (KK). Selain itu, juga ada fitur petunjuk penggunaan dan tanya jawab dengan masyarakat. “Ini masih kurang lengkap. Nanti akan kami lengkapi. Setelah itu didaftarkan di Google agar bisa di-approve” tuturnya sambil menunjukkan fitur aplikasi tersebut.

Menurut Win, ada beberapa kesulitan yang masih dialami Dinas Dukcapil Kudus terkait pelayanan daring, yakni situs Dinas Dukcapil kadang-kadang tidak berfungsi. Dikatakan, pihaknya masih harus mempersiapkan dengan baik pelayanan daring yang akan digunakan di Dukcapil Kudus.

Dia memberikan bocoran, masyarakat yang akan memanfaatkan pelayanan daring dengan menggunakan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang disertai nomor telepon untuk mendaftar. Selanjutnya, jika berkas tidak lengkap, pemohon akan mendapatkan konfirmasi berupa short message service (SMS) dari petugas Dinas Dukcapil Kudus. “Berkas-berkas tersebut dipotret melalui hand phone setelah itu dikirimkan,” tambahnya.

Saat pengambilan berkas di Kantor Pelayanan Dinas Dukcapil Kudus, katanya, berkas-berkas yang bersangkutan harus dibawa untuk dilakukan proses verifikasi. Menurut Win, selain lebih cepat, penggunaan pelayanan daring diklaim juga bisa mengurangi antrean. “Tinggal verifikasi data, langsung dapat berkasnya,” tuturnya.

- advertisement -

Saiful Pilih Jadi Tukang Parkir, Heru MasihTetap Ingin Jadi Pengamen

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Bangunan Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) lantai satu dekat musala RT 3, RW 4 Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus tampak dipenuhi warga setempat. Tak hanya di dalam ruangan, puluhanwarga juga tampak duduk di bawah tratak yang didirikan tepat di depan bangunan TPQ. Mereka yakni warga yang sebagian di antaranya menjadi pengemis dan pengamen. Mereka sedang mengikuti Sosialisasi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kudus.

Kepala Desa Demaan Sugiyono (depan) hadir dalam sosialisasi penanganan konflik sosial 2017_5
Kepala Desa Demaan Sugiyono (depan) hadir dalam sosialisasi penanganan konflik sosial. Foto: Imam Arwindra

Di antara warga yang mengikuti sosialisasi tersebut, Saiful Bahri (18). Dia mengungkapkan, dulu dirinya sempat menjadi pengamen, beroprasi di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Namun beberapa bulan terakhir dirinya sudah tidak mengamen dan kini menjadi juru parkir di komplek ruko Jalan Sunan Kudus. “Sekarang saya tukang parkir, sudah tidak ngamen lagi, ” ungkapnya saat ditemui saat kegiatan, Jumat (28/4/2017).

Baca juga: Pemberi dan Pengemis di Kudus Bisa Dipidana

Saiful menuturkan, menjadi pengamen menurutnya menyenangkan, apalagi masih muda. Namun dirinya juga tidak memungkiri rasa lelah usai mengamen. Dia menceritakan, Saiful mulai mengamen sejak kelas enam SD. Saat itu dirinya hanya mengamen di di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Saat masuk SMP, katanya, dirinya mulai mengamen bersama teman-temannya di pasar. Saat SMA, sesekali Saiful juga ikut mengamen di dalam bus. Sdia sudah tidak memiliki ayah dan hidup bersama ibunya. “Ini saya sudah lulus SMA, saya memilih jadi tukang parkir saja, sambil membantu ibu berjualan,” terangnya.

Kini, Saiful menjadi juru parkir di kawasan ruko Jalan Sunan Muria, usai Magrib hingga pukul 22.30 malam. “Ya memang masih ada teman-teman yang ngamen. Karena mengamen bisa dapat uang hingga Rp 70 ribu (sehari),” tambahnya.

Berbeda dengan Saiful, Heru teman sepermainan Saiful, menuturkan, dirinya masih memilih menjadi pengamen. Baginya menjadi pengamen memiliki teman banyak dan menambah pengalaman. Heru memberitahu, dirinya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 150 ribu per hari hasil mengamen. “Namun ya masih dibagi dengan teman-teman,” ungkapnya.

Menurunya, dirinya belum ada rencana untuk menjadi pedagang atau tukang parkir seperti Saiful. Dirinya masih ingin seperti hari-hari biasa menjadi pengamen. “Tidak tahu, tinggal nanti,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kudus Djati Solechah mengungkapkan, kegiatan Sosialisasi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial yakni tindak lanjut penangan pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT ) di Kabupaten Kudus. Menurutnya, sebelumnya pihaknya  sudah melakukan kegiatan serupa pada akhir bulan Maret 2017.

“Kami hanya ingin harkat dan derajat masyarakat naik. Yang asalnya mengamen, pengemis dialihkan menjadi tukang sapu dan parkir. Kami juga membekali pelatihan berwirausaha. Gratis,” tuturnya selepas kegiatan.

Dia menceritakan, pada kegiatan sosialisasi pertama, banyak masyarakat RT 3 dan RT 4, RW 4 Desa Demaan yang beralih dari menjadi mengemis dan pengamen menjadi tukang sapu taman dan juru parkir. Namun diakui itu tak berlangsung lama. Mereka kembali lagi pada pekerjaan semula. Menurutnya, perlu dilakukan evaluasi agar masyarakat tidak menjadi pengemis dan pengamen.

“Sosialisasi kedua ini kami ajak Kapolsek (Polsek Kota) dan Danramil Kota untuk ikut. Untuk pertama Satpol PP, Dinsos (Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kudus), PUPR (Perumahan, Kawasan  Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kudus). Kami bentuk Tim Penangangan PGOT,” jelasnya.

Kepala Desa Demaan Sugiyono menambahkan, sebenarnya di daerahnya RT 3 dan RT 4 di RW 4 banyak yang bilang kampung pengemis. Namun menurutnya, yang menjadi pengemis dan pengamen hanya beberapa saja. Dia memberitahu, warga sekitar bantaran Sungai Gelis banyak bekerja sebagai tukang tambal ban, tukang parkir, jualan makanan dan berkerja di bengkel.

“Yang dianggap kampung pengemis hanya di RT 3 dan RT 4, RW 4 saja. Jumlah KK-nya (kepala keluarga) ada 350 KK,” ungkapnya.

- advertisement -

Xoxo, Toko Komputer dan Laptop yang Diklaim Terlengkap di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Di depan toko, tepatnya di Jalan Sunan Muria nomor 29, Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat beberapa kendaraan terpakir. Di dalamnya, sejumlah laptop dan aksesoris tampak tertata rapi menghiasi sekeliling ruangan. Toko tersebut yakni Xoxo Computer, toko yang melayani penjualan laptop, komputer, networking, printer dan berbagai aksesoris pendukung lainnya.

Toko Xoxo Computer, Jalan Sunan Muria, Glantengan, Kota, Kudus 2017_5
Toko Xoxo Computer, Jalan Sunan Muria, Glantengan, Kota, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Person In Charger (PIC) Xoxo Computer Teresia Nunik (25), mengatakan, toko tempat dia bekerja berdiri sudah lebih dari sepuluh tahun, tepatnya sejak maret 2007. Menurutnya, harga yang ditawarkan bagi setiap pembelian di toko tempat dia bekerja sangat terjangkau. Selain itu, toko yang berlokasi di samping pabrik jenang Mubarok itu diklaim penjual terlengkap bebagai produk komputer dan laptop, serta aksesorisnya.

Baca juga: Garansi Hingga Dua Tahun, Penjualan Laptop Asus di Xoxo Computer Tak Terbendung

“Keunggulan toko kami dibanding dengan toko lainnya, kami menawarkan harga yang lebih murah, terjangkau untuk semua kalangan. Display produk kami paling lengkap dan tata layout ruang toko juga bagus. Sebisa mungkin, kami memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen yang datang,” ungkap Nunik, saat ditemui di Xoxo Computer, belum lama ini.

Perempuan asal Yogjakarta yang kini menetap di Kudus, itu memberitahukan, harga yang ditawarkan bagi setiap pembeli berbeda-beda, tergantung jenis produk yang hendak dibeli. Dia merinci, untuk mouse dijual antara harga Rp 15 ribu hingga Rp 500 ribu, keyboard dijual seharga Rp 30 ribu hingga Rp 300 ribu dan cartridge printer dibanderol seharga Rp 96 ribu hingga Rp 300 ribu per unit.

Headset kami jual mulai harga Rp 25 ribu, paling mahal sekitar Rp 1 juta. Sedangkan untuk printer di toko kami, merek Canon kami jual berkisar harga Rp 550 ribu hingga Rp 2 juta per unit, HP seharga Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta per unit dan Epson harganya cukup mahal, berkisar Rp 1,6 juta hingga Rp 7 juta untuk ukuran cetak yang lebih besar, yaitu kertas A3,” ujar Nunik yang mengenakan kemeja hitam berpadu oranye tersebut.

Dia menambahkan, selain menjual berbagai kebutuhan alat komputer, katanya, Xoxo Computer juga melayani servis komputer, laptop dan printer. Menurutnya, toko buka setiap hari mulai pukul 8.00 WIB hingga pukul 20.30 WIB. Khusus di hari minggu dan hari libur nasional, katanya, toko libur.

“Untuk pembelian, toko kami melayani setiap pembayaran secara tunai maupun kredit. Tidak hanya di Kudus, Xoxo Computer juga bisa dijumpai di toko cabang pembantu kami yang berada di daerah Pati,” tambah Nunik sambil sesekali melayani calon pembeli yang datang.

- advertisement -

Tak Pernah Promo, Penjualan Produk di Central Elektronik Capai 1.000 Unit Sebulan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Di tepi Jalan Sunan Kudus nomor 76, tepatnya di Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah toko berdinding kaca. Sejumlah alat elektronik maupun perabotan rumah tangga tampak berjajar rapi sesuai jenis dan merek menghiasi ruangan. Di sudut belakang toko, terlihat seorang pria mengenakan kaus abu-abu sedang duduk sambil sesekali melihat layar laptop. Dia tak lain Yudi Irawan (33), pemilik toko Central Elektronik Kudus.

Yudi Irawan, pemilik Central Elektronik 2017_4
Yudi Irawan, pemilik Central Elektronik. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai dan melayani beberapa pembeli yang datang, Yudi, begitu akrab disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penjualan produk elektronik di tokonya. Dia menjelaskan, toko berdiri sudah sekitar delapan tahun, lebih tepatnya sejak 2010. Menurutnya, toko yang dia kelola tidak pernah melakukan promosi untuk pemasaran. Namun setiap bulan tokonya bisa menjual 1.000 unit produk per bulan.

Baca juga: Laris Manis, Tiap Bulan 200 Unit TV LED Polytron Terjual di Toko Central Elektronik

“Toko kami memang tak pernah melakukan promosi untuk memperkenalkan produk kepada konsumen. Toko kami juga letaknya strategis dekat dengan perkotaan maupun jalan raya, jadi tak perlu promosi semua orang pasti sudah tahu. Bahkan untuk penjualan, setiap bulan kami mampu menjual antara 500 hingga 1.000 unit semua produk, baik elektronik maupun alat rumah tangga,” ungkap Yudi yang mengaku meneruskan usaha orang tuanya.

Warga Kelurahan Wergu Kulon, Kecamatan Kota, Kudus, ini mengatakan, di toko dia sekarang, elektronik yang dijual bisa dikatakan terlengkap di area Kudus. Di antaranya, dia menjual televisi LED, kulkas, mesin cuci, dispenser, kipas angin, rice cooker, blender, air conditioner (AC) dan masih banyak yang lainnya. “Untuk kebutuhan alat elektronik, di jamin toko kami lengkap, tinggal di pilih saja sesuai kebutuhan,” ujar Yudi.

Dia memberitahukan, keunggulan yang dimiliki tokonya dibanding dengan toko elektronik lain, yakni ketersedian produk. Selain itu, tempat untuk berjualan juga luas dan masing-masing produk elektonik yang dijual sudah terdapat seorang sales promotion girl (SPG) maupun sales promotion man (SPM).

“Jadi konsumen yang hendak membeli bisa di layani dengan baik sekaligus tahu keunggulan dari setiap elektronik yang kami tawarkan,” ungkapnya.

Sementara itu, dia menambahkan, pelanggan yang sering membeli kebutuhan elektronik di tempat dia menyeluruh hingga se-Eks Karesidenan Pati. Namun yang paling dominan tetap dari wilayah Kudus. Terkait dengan pelayanan, katanya, toko dia juga melayani jasa pengiriman barang ke rumah konsumen yang membeli.

“Bagi konsumen yang berada di wilayah Kudus semua gratis, tidak akan kami pungut biaya dalam mengantarkan elektonik yang dibeli. Tapi untuk wilayah seperti Jepara, Pati dan sekitarnya, ada biaya tambahan bagi konsumen misal ingin kami antarkan barangnya. Untuk pembelian, semua bisa dilakukan dengan pembayaran secara tunai maupun kredit,” tambahnya.

- advertisement -

Pemberi dan Pengemis di Kudus Bisa Dipidana

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Dengan mengenakan kemeja batik bercorak merah dan hijau, Sutrimo tampak serius berbicara di depan masyarakat RT 3 dan RT 4 di RW 4 Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. Dia juga menggunakan proyektor untuk menjelaskan beberapa pemaparan dalam kegiatan Sosialisasi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kudus.

Warga RT 3 dan RT 4 di RW 4 Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus
Warga RT 3 dan RT 4 di RW 4 Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Sutrimo yang menjabat sebagai Kepala Bidang Pelayanan Rehabilitasi Sosial, Bantuan Perlindungan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kudus, melarang pengemis dan gelandangan untuk beroperasi di Kudus. Menurutnya, jika warga RT 3 dan RT 4 di RW 4 Desa Demaan yang masih mengemis dan menjadi gelandangan, pihaknya mengancam akan memindahkan ke tempat penampungan di Semarang.

“Kalau masih tetap mengemis, nanti saya akan pindahkan ke Semarang. Purun mboten (mau tidak) ?,” tanyanya kepada warga setempat yang hadir, Jumat (28/4/2017) malam.

Dia menjelaskan, kegiatan yang dilakukan bersama Kesbangpol Kudus yakni tindak lanjut penanganan pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT ) di Kabupaten Kudus. Menurutnya, selain diancam untuk dipindah di Semarang, dirinya juga mengancam pidana penjara paling lama enam minggu dan maksimal Rp 10 juta bagi PGOT yang masih beroperasi.

“Bagi PGOT, setiap orang yang melakukan kegiatan mengemis baik perorangan maupun kelompok dengan alasan atau cara dengan membawa alat apapun diancam pidana dengan tuntutan paling lama 6 minggu (kurungan) atau denda paling banyak Rp 10 juta,” sebutnya.

Selanjutnya, Sutrimo memberitahukan, bagi pemberi uang untuk pengemis juga mendapatkan ancaman pidana, yakni hukuman pidana kurungan paling lama 10 hari atau denda paling sedikit Rp 1 juta. Menurutnya, peraturan tersebut sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kudus yang masih dalam proses pengesahan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kudus. “Ini Perdanya masih dalam pengesahan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kudus Djati Solechah tak menampik adanya Ranperda tersebut. Menurutnya perda tersebut dinuat untuk penanggulangan gelandangan, pengemis dan anak jalanan. “Ini sudah dievaluasi. Tinggal persetujuan dari DPRD. Kan tahu DPRD keadaanya (konflik) belum selesai,” ungkapnya selepas kegiatan.

Menurutnya, sanksi untuk pemberi dan penerima yakni kurungan enam minggu atau denda Rp 10 juta. Pihaknya ingin PGOT meninggalkan kebiasaanya lamanya untuk hidup lebih baik serta mengangkat harkat dan martabat. “Kegiatan ini sudah mendapatkan backup dari keamanan, Polsek Kota dan Danramil Kota,” tambahnya.

Dia menjelaskan, para pengemis selain ditawari menjadi tukang sapu dan petugas parkir, juga akan mendapatkan pelatihan dari dinas terkait secara gratis. Dia menuturkan, pelatihan yang diberikan di antaranya yakni setir mobil dan servis hand phone. “Ini juga kepala desa sudah ada komunikasi dengan para pengusaha di Kudus. Mereka mau menerima untuk dijadikan tenaga kerja,” tuturnya.

- advertisement -

Laris Manis, Tiap Bulan 200 Unit TV LED Polytron Terjual di Toko Central Elektronik

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Sejumlah perabotan elektronik terlihat tertata rapi menghiasi ruangan Toko Central Elektronik, Jalan Sunan Kudus nomor 76, Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus. Tepat di tengah ruangan, tampak beberapa televisi LED bermerek Polytron berjajar di atas etalase kaca dengan ukuran yang bervariasi. Menurut pemilik toko Yudi Irawan (33), TV tersebut merupakan satu di antara produk televisi yang saat ini paling banyak diminati pembeli.

Karyawan Polytron di Central Elektronik Kudus 2017_5
Karyawan Polytron di Central Elektronik Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Yudi, begitu akrab disapa, sudi berbagi penjelasan tentang alasan kenapa pelanggan memilih televisi tersebut. Dia menjelaskan, keunggulan yang disematkan pada televisi pabrikan asal Kudus itu cukup banyak. Di antaranya, tampilan gambar pada televisi lebih jernih sekaligus unggul di suara.

“Di toko kami TV LED Polytron laku keras. Kalau dihitung, setiap bulan kami mampu menjual sebanyak 200 unit semua ukuran, baik 32 inchi hingga 50 inchi untuk ukuran yang paling besar. Untuk keunggulan yang di tawarkan ada banyak, tapi biasanya pelanggan memilih TV Polytron karena menang di suara, gambar lebih jernih, harga yang pasti terjangkau,” ungkap Yudi.

Warga Kelurahan Wergu kulon, Kecamatan Kota, Kudus, ini mengatakan, selain menjual televisi bermerek Polytron, dia juga melayani penjualan televisi semua merek dan beberapa kebutuhan elektronik lainnya. Dia antaranya ada merek Samsung, Panasonic, Toshiba, Hitachi, LG, Arisa dan masih banyak merek yang dia jual lainnya.

“Semua lengkap, yang pasti kami memberikan garansi bagi setiap pembelian di toko kami,” ujar Yudi sambil sesekali melayani pembeli.

Dia memberitahukan, untuk harga yang ditawarkan bagi setiap konsumen berbeda-beda, tergantung produk elektronik yang dibeli. Misalnya, televisi 32 inchi dia jual berkisar Rp 2 juta hingga Rp 2,6 juta, 43 inchi dijual seharga Rp 3,75 juta hingga Rp 4,5 juta dan kulkas seharga Rp 1,4 juta hingga Rp 2 juta untuk satu pintu. Sedangkan produk AC dia jual seharga Rp 2 juta hingga Rp 4 juta dan untuk mesin cuci satu tabung dijual mulai harga Rp 1,9 juta.

Yudi menambahkan, penjualan produk elektronik secara keseluruhan di toko yang tak jauh dari Menara Kudus itu, didominasi merek LG, setelah itu diikuti oleh merek Samsung, Panasonic dan Toshiba. Dia mengatakan Selain di lokasi tersebut, dia mempunyai cabang pembantu di Jalan HOS Cokroaminoto, Kelurahan Mlati Norowito, Kecamatan Kota, Kudus.

“Kami buka setiap hari. Pada Senin hingga Sabtu mulai buka pukul 8.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Khusus di hari Mnggu, toko mulai buka seperti hari biasa, namun mulai tutup pada pukul 17.00 WIB. Pelanggan kami menyeluruh hingga se-Karesidenan Pati. Sejumlah produk elektronik yang kami jual juga kami dapatkan langsung dari pabrik,” tambah Yudi.

 

- advertisement -

Demi Terbang Papat, Mona Rela Pulang Larut Malam untuk Hadiri Acara Fasbuk

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sejumlah alat musik rebana berbagai ukuran digantung di atas panggung di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), Minggu (30/4/2017) malam. Malam itu, grup Terbang Papat Mushlihul Wildan dengan gitaris asal Kudus Budi Kentos dijadwalkan tampi. Seorang perempuan duduk di baris kedua penonton, saat acara dimulai. Dia adalah Monalisa Anggraini (14), yang mengaku rela pulang larut malam demi pementasan tersebut.

Monalisa (tengah) datang ke acara Fasbuk di UMK bersama temannya
Monalisa (tengah) datang ke acara Fasbuk di UMK bersama temannya. Foto: Ahmad Rosyidi

Dalam acara Forum Apresiasi Sastra Dan Budaya Kudus (Fasbuk) bekerjasama dengan HMP SI dan didukung Djarum Foundation Bakti Budaya tersebut, Mona, begitu dirinya akrab disapa, datang karena penasaran dengan Terbang Papat. Dia mengaku sudah sering mendengarkan musik yang dihasilkan dari kulit lembu tersebut. Namun, kali ini dirinya baru pertama kali menyaksikan pertunjukan musik Terbang Papat.

Baca juga: Usai Saksikan Kolaborasi Rebana dan Musik Rock, Ragil Ingin Belajar Musik Terbang Papat

“Kalau musik rebana saya sudah sering dengar. Waktu di Sekolah Dasar (SD) saya pernah ikut ekstra kurikuler rebana di sekolah. Saya juga sudah dikenalkan oleh orang tua musik-musik tradisional sejak TK. Menurut saya musiknya enak, dan lebih sederhana alatnya,” terang warga Dukuh Beru, Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kudus itu.

Mona datang ke acara Fasbuk karena mendapat informasi dari pelatih teater di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 Gebog, yang juga menjadi ketua Fasbuk. Karena penasaran dengan musik Terbang Papat, akhirnya dia bersama empat teman anggota teaternya menghadiri acara tersebut.

“Saya tidak masalah pulang malam, karena saya penasaran dengan pertunjukan musik Terbang Papat. Yang penting saya sudah izin orang tua, dan orang tua juga mengizinkan untuk kegiatan positif seperti ini,” jelas anggota Teater Essa, SMP 1 Gebog itu.

Qomarul Adib, yang hadir menjadi narasumber diskusi usai pementasan, menjelaskan, Terbang Papat menjadi seni musik yang sangat murah dan sederhana. Karena hanya memerlukan dua jenis alat musik, yakni terbang (rebana) dan jidur. Dia mengajak generasi muda untuk melestarisan warisan kesenian tradisional ini.

Menurutnya, menjaga kesenian tradisional agar tidak tergerus oleh budaya asing menjadi tanggungjawab bersama. “Maka dari itu perlu harmonisasi, menyelaraskan musik tradisional agar bisa diminati generasi muda. Jadi bukan hanya orang tua yang bermain musik tradisional,” ungkap pemerhati seni dan budaya itu.

- advertisement -