Saiful Pilih Jadi Tukang Parkir, Heru MasihTetap Ingin Jadi Pengamen

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Bangunan Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) lantai satu dekat musala RT 3, RW 4 Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus tampak dipenuhi warga setempat. Tak hanya di dalam ruangan, puluhanwarga juga tampak duduk di bawah tratak yang didirikan tepat di depan bangunan TPQ. Mereka yakni warga yang sebagian di antaranya menjadi pengemis dan pengamen. Mereka sedang mengikuti Sosialisasi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial oleh Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kudus.

Kepala Desa Demaan Sugiyono (depan) hadir dalam sosialisasi penanganan konflik sosial 2017_5
Kepala Desa Demaan Sugiyono (depan) hadir dalam sosialisasi penanganan konflik sosial. Foto: Imam Arwindra

Di antara warga yang mengikuti sosialisasi tersebut, Saiful Bahri (18). Dia mengungkapkan, dulu dirinya sempat menjadi pengamen, beroprasi di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Namun beberapa bulan terakhir dirinya sudah tidak mengamen dan kini menjadi juru parkir di komplek ruko Jalan Sunan Kudus. “Sekarang saya tukang parkir, sudah tidak ngamen lagi, ” ungkapnya saat ditemui saat kegiatan, Jumat (28/4/2017).

Baca juga: Pemberi dan Pengemis di Kudus Bisa Dipidana

-Advertisement-

Saiful menuturkan, menjadi pengamen menurutnya menyenangkan, apalagi masih muda. Namun dirinya juga tidak memungkiri rasa lelah usai mengamen. Dia menceritakan, Saiful mulai mengamen sejak kelas enam SD. Saat itu dirinya hanya mengamen di di kawasan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Saat masuk SMP, katanya, dirinya mulai mengamen bersama teman-temannya di pasar. Saat SMA, sesekali Saiful juga ikut mengamen di dalam bus. Sdia sudah tidak memiliki ayah dan hidup bersama ibunya. “Ini saya sudah lulus SMA, saya memilih jadi tukang parkir saja, sambil membantu ibu berjualan,” terangnya.

Kini, Saiful menjadi juru parkir di kawasan ruko Jalan Sunan Muria, usai Magrib hingga pukul 22.30 malam. “Ya memang masih ada teman-teman yang ngamen. Karena mengamen bisa dapat uang hingga Rp 70 ribu (sehari),” tambahnya.

Berbeda dengan Saiful, Heru teman sepermainan Saiful, menuturkan, dirinya masih memilih menjadi pengamen. Baginya menjadi pengamen memiliki teman banyak dan menambah pengalaman. Heru memberitahu, dirinya bisa mendapatkan uang sekitar Rp 150 ribu per hari hasil mengamen. “Namun ya masih dibagi dengan teman-teman,” ungkapnya.

Menurunya, dirinya belum ada rencana untuk menjadi pedagang atau tukang parkir seperti Saiful. Dirinya masih ingin seperti hari-hari biasa menjadi pengamen. “Tidak tahu, tinggal nanti,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kesbangpol Kudus Djati Solechah mengungkapkan, kegiatan Sosialisasi Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial yakni tindak lanjut penangan pengemis, gelandangan, dan orang terlantar (PGOT ) di Kabupaten Kudus. Menurutnya, sebelumnya pihaknya  sudah melakukan kegiatan serupa pada akhir bulan Maret 2017.

“Kami hanya ingin harkat dan derajat masyarakat naik. Yang asalnya mengamen, pengemis dialihkan menjadi tukang sapu dan parkir. Kami juga membekali pelatihan berwirausaha. Gratis,” tuturnya selepas kegiatan.

Dia menceritakan, pada kegiatan sosialisasi pertama, banyak masyarakat RT 3 dan RT 4, RW 4 Desa Demaan yang beralih dari menjadi mengemis dan pengamen menjadi tukang sapu taman dan juru parkir. Namun diakui itu tak berlangsung lama. Mereka kembali lagi pada pekerjaan semula. Menurutnya, perlu dilakukan evaluasi agar masyarakat tidak menjadi pengemis dan pengamen.

“Sosialisasi kedua ini kami ajak Kapolsek (Polsek Kota) dan Danramil Kota untuk ikut. Untuk pertama Satpol PP, Dinsos (Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Kudus), PUPR (Perumahan, Kawasan  Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kudus). Kami bentuk Tim Penangangan PGOT,” jelasnya.

Kepala Desa Demaan Sugiyono menambahkan, sebenarnya di daerahnya RT 3 dan RT 4 di RW 4 banyak yang bilang kampung pengemis. Namun menurutnya, yang menjadi pengemis dan pengamen hanya beberapa saja. Dia memberitahu, warga sekitar bantaran Sungai Gelis banyak bekerja sebagai tukang tambal ban, tukang parkir, jualan makanan dan berkerja di bengkel.

“Yang dianggap kampung pengemis hanya di RT 3 dan RT 4, RW 4 saja. Jumlah KK-nya (kepala keluarga) ada 350 KK,” ungkapnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER