Beranda blog Halaman 1892

Agar Identitas dan Sejarah Masjid Tak Hilang, Masjid Al-Huda Pertahankan Miniatur Menara Kudus di Atapnya

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Di tepi barat Jalan Sosrokartono Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus tampak masjid berlantai dua. Masjid yang didominasi warna putih tersebut atasnya dihiasi dua menara dan satu kubah. Terlihat dua menara yang tampak tinggi menjulang mengapit mustaka yang mirip dengan cukup di Masjid Menara Kudus. Masjid tersebut yakni Masjid Al Huda.

Masjid Alhuda Desa Panjang, Kudus 2017_6_3
Masjid Al-Huda Desa Panjang, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Muhammad Yahya (50), Nadzir Masjid Al-Huda, mengungkapkan, masjid yang dibangun pada tahun 1950 an tersebut sudah dipugar dua kali. Menurutnya, sejak awal dibangun dan saat pemugaran yang pertama, Masjid Al Huda memiliki cungkup dihiasi miniatur Menara Kudus dilengkapi dengan mustaka. Dan benda tersebut masih dipertahankan hingga sekarang.

“Meski dipugar dua kali dan termasuk pemugaran yang terakhir dengan merubah total bentuk dan desain, namun kami tetap sepakat untuk mempertahankan miniatur Menara Kudus lengkap dengan mustakanya. Agar identitas serta sejarah masjid tidak hilang,” ujar pria yang akrab disapa Yahya kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Desa Panjang, Bae, Kudus itu mengatakan, pemugaran terakhir dikarenakan masjid sudah tidak mampu menampung jamaah, serta ada beberapa bagian atap yang sudah rapuh. Karena alasan keselamatan dan saat itu masjid sudah ada kas sekitar Rp 200 juta, maka disepakati oleh semua masyarakat setempat agar Masjid Al-Huda dipugar total dengan bentuk yang modern.

“Untuk desain masjid kami percayakan pada saudara Afif warga Desa Besito, Gebog, Kudus.  Sedangkan biaya pembangunan masjid menghabiskan uang sekitar Rp 2,2 miliar. Dan Dana tersebut berasal dari swadaya masyarakat setempat tanpa minta bantuan dari pihak luar,” ujarnya.

Dia mengatakan, meski tidak pernah minta bantuan dan mengajukan proposal ke pihak luar, misalnya perusahaan maupun instansi pemerintah dan lainnya di Kudus, tapi tak jarang ada beberapa dermawan yang menyumbang. Karena tidak ingin menghalangi orang beramal, sumbangan tersebut tetap diterima panitia pembangunan masjid.

Dia mengatakan, pembangunan masjid berada di tanah wakaf seluas 800 meter persegi itu membutuhkan waktu sekitar setahun. Namun diakuinya dalam jangka waktu tersebut keadaan masjid belum sempurna. Bahkan sampai sekarang masih ada beberapa pembangunan ornamen untuk mempercantik bangunan Masjid Al-Huda.

Menurutnya, sekarang masjid sudah tampak lebih modern, dengan bentuk minimalis bercampur desain Timur Tengah, Masjid Al Huda terlihat megah. Lantai masjid juga beralaskan granit, lespang bagian dalam juga dipercantik dengan kaligrafi sebuah ayat suci. Begitu juga dengan dinding sekeliling pengimaman yang dipercantik dengan ornamen serta kaligrafi ayat kursi.

“Sekarang setelah dipugar dan diperbesar, Masjid Al-Huda sudah mampu menampung jamah salat Jumat dan salat Teraweh. Namun untuk Salat Idul Fitri dan Idul Adha jamaah tetap meluber hingga ke jalan,” ungkapnya.

- advertisement -

Penjualan Siwalan dan Legen Meningkat Saat Ramadan, Sikan Tambah Lapak utnuk Berjualan

0

SEPUTARKUDUS.COM, MEGAWON – Ribuan buah lontar atau lazim di sebut siwalan tampak menumpuk di tepi Jalan Mejobo Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus. Di sebelahnya terlihat seorang pria mengenakan baju lengan pendek warna hitam sedang memutar tutup botol yang berisi air legen. Tak berapa lama kemudian pembeli datang. Dia melayani pembeli tersebut dengan sangat ramah. Pria tersebut yakni Siran (41), penjual siwalan dan legen yang di Ramadan ini menambah lapak penjualan.

Penjual legen saat Ramadan di Kudus 2017_5
Penjual legen saat Ramadan di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kapada Seputarkudus.com, Siran sudi berbagi penjelasan tentang penambahan lapak penjualan siwalan dan air legen tersebut. Dia mengungkapkan, memasuki Ramadan permintaan akan siwalan dan air legen meningkat. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk menambah lapak dagangannya menjadi enam, yang sebelumnya hanya tiga lapak. Itu dilakukannya agar mampu mendistribusikan siwalan dan air legen hingga ke pelosok Kudus.

Baca selengkapnya: Siran Sudah Berjualan Legen Keliling Jawa, Kini Betah di Kudus dan Tak Mau LagiPindah

“Sebenarnya rencananya aku buka delapan lapak penjualan. Namun karena dua pedagangku belum siap jadi sementara ini hanya enam. Enam lapak tersebut aku sebar dibeberapa pelosok Kudus. Di antaranya di Desa Tanjung Karang, Desa Jepang, Garung Lor, depan Stain Kudus, dan pusatnya di sini Desa Megawon,” ujarnya.

Pria asal Tuban, Jawa Timur, itu mengungkapkan, selama Ramadan ini penjualan air legen dan siwalannya meningkat. Di bulan puasa, satu lapak bisa menjual sekitar 80 botol air legen sehari. Menurutnya, jumlah tersebut lebih banyak sekitar 30 botol dibanding bulan biasa. Begitu juga dengan siwalan, menurutnya saat puasa mampu menjual sekitar 20 bungkus dengan harga per bungkus Rp 10 ribu isi delapan dan Rp 6 ribu isi lima sisir siwalan.

“Itu untuk satu lapak, sedangkan untuk semua lapak jumlah penjualan bisa mencapai ratusan botol dan ratusan bungkus siwalan. Bahkan tak jarang di beberapa lapak tersebut sering kehabisan. Barang sudah habis namun masih banyak pembeli yang datang ingin membeli air legen,” ujarnya yang mengaku menjual air legen dengan harga Rp 6 ribu per botol.

Pria yang sudah dikaruniai satu anak itu mengakui saat Ramadan permintaan air legen dan siwalan memang meningkat. Itu dikarenakan buah dan air legen yang asli dari Tuban itu sangat menyegarkan saat diminum untuk berbuka puasa. Bahkan saat Ramadan ini dirinya mendatangkan sekitar 2.000 butir siwalan, dan setiap butir berisi sekitar tiga sisir siwalan.

“2000 gelondong siwalan itu akan habis dalam waktu sekitar sepekan. Saat ini baru tiga hari puasa sudah terjual sekitar seribu butir. Jadi kayaknya sesuai prediksiku, jumlah 2000 gelondong siwalan pasti terjual habis sepekan,” jelasnya.

- advertisement -

Pertama Dibangun Menggunakan Tanah Liat, Kini Masjid Alfalah Berdiri Megah

0

SEPUTARKUDUS.COM, GRIBIG – Dua menara tinggi menjulang dan sebuah kubah tampak menghiasi masjid yang berada di Dukuh Muneng, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus. Masjid yang terlihat minimalis saat dilihat dari depan itu dipenuhi oranamen dan tulisan arab di sekiling pintu masuk masjid. Masjid tersebut yakni Masjid Jami’ Al Falah, masjid yang sebelumnya memiliki bangunan lama hanya menggunakan perekat tanah liat.

Masjid Jami’ Al Falah Desa Gribig, Kaliwungu, Kudus 2017_5
Masjid Jami’ Al Falah Desa Gribig, Kaliwungu, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut KH Basyar, Nadzir Masjid Alfalah, mengungkapkan, Masjid Jami’ Al Falah dibangun sejak 1966. Namun pada tahun 2002 masjid tersebut dipugar karena umur bangunan yang sudah tua dan rapuh. Selain itu pada pertama membangun masjid tersebut tidak menggunakan semen untuk merekatkan batu bata, melainkan hanya menggunakan tanah liat.

“Karena bangunan sudah rapuh tersebut, kami bersama masyarakat lainnya berinisiatif untuk memugar masjid dengan model kekinian agar kokoh dan megah. Sekarang bisa dilihat sendiri hasilnya, meski Masjid Al falah tidak begitu besar namun terlihat megah,” ujarnya kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Dia mengungkapkan, pembiayaan pemugaran masjid yang berukuran sekitar 10 x 15 meter tersebut menghabiskan uang Rp 1,2 miliar. Dana tersebut berasal dari iuran warga Dukuh Muneng setiap bulan serta jimpitan setiap malam yang dikumpulkan ikatan remaja masjid setempat. Sedangkan untuk arsitektur bangunan masjid, menurutnya diadopsi desain beberapa masjid di Indonesia.

“Untuk desain Masjid Jami’ Al Falah memang diambil dari beberapa masjid yang sudah ada di Indonesia. Agar terlihat megah, arsitektur masjid mengadopsi desain Timur Tengah dengan khas menara dan kubah. Sedangkan dalam masjid diberi ciri khas Kudus dengan menggunakan gebyok ukir untuk tiga pintu masuk masjid,” ujarnya.

Selain itu kata dia, pengimaman masjid juga dipercantik dengan menggunakan gebyok besar nan tinggi yang dipenuhi dengan ukiran. Menurutnya, gebyok berukir khas Kudus serta berwarna coklat itu memiliki tinggi sekitar enam meter dan lebar sekitar empat meter. Lantai masjid juga menggunakan granit makin menambah kesan megah Masjid Jami’ Al Falah.

Tidak hanya lantainya saja, tuturnya, dinding dalam masjid bagian depan juga terpasang granit. Sedangkan di pengimaman tampak sisi kanan dan kiri terpajang sebuah mimbar penuh ukir serta tulisan Arab, dan jam bandul berwadahkan kayu jati menambah khas Jawa. “Kami memang meronavsi masjid menjadi megah agar para jama’ah betah dan sudi salat berjama’ah di masjid Al falah,” ungkapnya.

- advertisement -

Siran Sudah Berjualan Legen Keliling Jawa, Kini Betah di Kudus dan Tak Mau LagiPindah

0

SEPUTARKUDUS.COM, MEGAWON – Di tepi utara Jalan Mejobo Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus tampak sebuah meja dipenuhi botol berisi air putih pekat. Di samping meja tersebut terlihat seorang pria sedang melayani seorang pembeli. Pria tersebut bernama Siran (41) penjual legen dan buah lontar atau lazim disebut siwalan, di Kudus. Sebelum berjualan di Kota Kretek, dia berjualan keliling di seluruh kota besar di pulau Jawa.

Penjual legen di Jalan Sosrokartono, Kudus 2017_5
Penjual legen di Megawon, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai melayani pembeli, Siran sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, mulai berjualan siwalan sejak tahun 1996, mulai tahun tersebut dirinya berkeliling seluruh kota besar di Pulau Jawa. Di antaranya, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Sidoharjo, Banyuwangi dan masih banyak lagi yang lainnya.

“Pokoknya seluruh kota-kota besar di Pulau Jawa sudah aku singgahi untuk berjualan siwalan dan legen. Namun penjualan di beberapa kota besar tersebut tak sesuai harapanku. Hingga pada tahun 2004 aku memutuskan berjualan di Kudus. Dan Alhamdulillah bisa bertahan hingga sekarang,” ujarnya.

Pria yang berasal dari Tuban Jawa Timur tersebut mengungkapkan, betah berjualan di Kudus karena daya beli masyarakat Kudus lumayan tinggi terhadap buah lontar maupun legen, dibanding daerah sebelumnya. Selain itu, tuturnya, faktor jarak juga menjadi pertimbangan untuk memilih berjualan. Karena kalau terlalu jauh, ongkos pengiriman juga mahal dan tentu akan mempengaruhi keuntungan. Bahkan terkadang tidak untung alias rugi.

Oleh sebab itu, dia mengaku, sejak berjualan di Kudus tidak ingin pindah ke daerah lain. Bahkan saat ini, kata dia, anak dan istrinya juga sudah diajak hidup di Kudus dengan mengontrak sebuah rumah. Menurutnya, selain daya beli masyarakat yang tinggi, jarak Kudus dan Tuban hanya dipisahkan dua kabupaten saja, yakni Pati dan Rembang.

“Jadi ongkosnya masih sangat terjangkau dan saat aku kalkulasi, masih ada sisa. Karena itulah aku berjualan siwalan dan legen bertahan hingga belasan tahun dan tak berniat pindah ke daerah lain. Andai tidak menguntungkan, kenapa juga aku bertahan di kota ini,” ujarnya.

Pria yang baru dikaruniai satu anak tersebut menuturkan, sebenarnya selain berjualan siwalan dan legen dirinya juga punya pekerjaan lain yakni menjadi tukang ojek di sekitar Masjid Menara Kudus. Namun, karena saat Ramadan para peziarah sepi bahkan terbilang tidak ada, dia kemudian fokus ikut berjualan.

“Biasanya selain bulan puasa aku itu ngojek di Masjid Menara Kudus, dan untuk penjualan siwalan dan legen aku pasrahkan kepada para pekerjaku yang aku gaji harian. Alhamdulillah sejak berjualan siwalan dan legen di Kudus, kini aku malah punya dua penghasilan, yakni berjualan legen dan siwalan serta menjadi tukang ojek di area wisata Masjid Menara Kudus,” ujarnya.

- advertisement -

Laila Bersyukur Indonesia Memiliki Pancasila dan Hari Lahirnya Kini Diperingati

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Ratusan peserta upacara peringatan Hari Lahir Pancasila terlihat mulai berbaris menempati tempat yang sudah ditentukan. Mereka berdiri menghadap tiang bendera merah putih di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Upacara yang diikuti peserta dari berbagai elemen tersebut berlangsung hikmat meski cuaca terik dan berlangsung saat bulan puasa.

peringatan Hari Lahir Pancasila di Simpang Tujuh Kudus 2017_5
Peringatan Hari Lahir Pancasila di Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara ratusan peserta yang mengikuti upacara yakni Laila Fitriyana (16), siswa SMKN 1 Kudus. Siswi berseragam Pramuka itu mengaku kuat mengikuti upacara walau sedang berpuasa. Menurutnya, dia sangat senang bisa mengikuti upacara Hari Lahir Pancasila di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

“Ini upacara pertama kali saya. Dari SMP saya belum pernah mengikuti upacara Hari Lahir Pancasila,” ungkapnya usai kegiatan, Kamis (1/6/2017).

Laila mengaku bersyukur Indonesia memiliki Pancasila sebagai idiologi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai pada kelima sila Pancasila sangat sesuai dengan kondisi negara Indonesia yang beraneka ragam agama, suku dan ras. “Pokoknya Pancasila the best, tidak perlu diganti,” tambahnya.

Dia menjelaskan, pada peringatan Hari Lahir Pancasila, sekolah tempat dirinya belajar libur. Setahu Laila, baru kali ini peringatan Hari Lahir Pancasila aktivitas belajar mengajar diliburkan. Menurutnya, dari kalender yang berada di rumahnya pun pada tanggal 1 Juni 2017 berwarna merah. “Ini di sekolah juga ada upacara. Tapi selepas upacara langsung pulang. Mungkin sudah menjadi hari libur nasional,” tuturnya yang tinggal di Desa Sidorekso, Kecamatan Kaliwungu, Kudus.

Bupati Kudus Musthofa yang hadir sebagai inspektur upacara menuturkan, pada peringatan hari lahir Pancasila menjadi hari libur nasional. Menurutnya, hal tersebut sesuai dengan Keputusan Presiden (Kepres) Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila. “Karena ini sudah Kepres sambutan yang saya sampaikan sesuai dengan amanat presiden,” tuturnya.

Dalam pidato yang dibacakan, pemerintah mengajak meneguhkan komitmen agar lebih mendalami, menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Selain itu dari rumusan Pancasila tanggal 1 Juni 1945, piagam Jakarta 22 Juni 1945 dan rumusan final Pancasila 18 Agustus 1945, mengingatkan kodrat bangsa Indonesia yakni keberagaman. “Itulah Bhineka Tunggal Ika kita,” ungkapnya.

Upacara Hari Lahir Pancasila di Kudus, menurut Musthofa sudah dilakukannya bersama kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Kudus sejak empat tahun yang lalu. Namun kali ini Presiden Joko Widodo sudah membuat Kepres bahwa tanggal 1 Juni untuk melakukan upacara Hari Lahir Pancasila. “Ini sudah resmi (ada) Kepres. Sekarang semua mengikuti,” tambahnya.

Dalam pelaksanaan upacara di Kudus, menurut Musthofa, kebinekaan itu tercermin dari banyaknya tokoh masyarakat dan tokoh lintas agama yang datang. “Sudah pernah saya katakana, Kudus itu replika Indonesia. Semua ada di Kudus,” jelasnya.

- advertisement -

Waterboom Mulia Wisata Donasikan Hasil Uang Parkir Ke Masjid Desa Lau

0

SEPUTARKUDUS.COM, LAU – Di tepi timur Jalan Kudus-Colo Km 12 Desa Lau, Kecamatan Dawe, Kudus tampak sebuah bangunan memanjang berlantai dua. Bangunan yang di atas pintu masuknya terdapat patung Kingkong tersebut memiliki halam luas dan dijadikan tempat parkir. Tempat tersebut yakni Waterboom Mulia Wisata yang hasil parkirnya didonasikan ke masjid desa setempat.

Wahana air Waterboom Mulia Wisata, Kudus 2017_5
Wahana air Waterboom Mulia Wisata, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada seputarkudus.com, Kharirotus Sa’adah (45), Manajer Waterboom Mulia Wisata, sudi berbagi penjelasan tentang hasil uang parkir di wahana tersebut. Dia mengungkapkan, hasil parkir para pengunjung yang didapat disumbangkan ke Masjid Al Munawaroh di Desa Lau. Menurutnya, hal tersebut wujud sumbangsih Waterboom Mulia Wisata ke desa setempat.

Baca juga: Tarik Pengunjung Saat Ramadan, Waterboom Mulia Wisata Jorjoran Promo

“Waterboom Mulia Wisata itu punya misi agar bisa menjadi sarana edukasi, seni, budaya, bisnis, sosial, wisata air dan alam. Dan sosialnya kami wujudkan satu di antaranya dengan mendonasikan uang parkiran ke Masjid Al Munawaroh di Desa Lau,” ujar perempuan yang akrab disapa Khoriroh beberapa waktu lalu.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, sebenarnya sebelum uang parkir didonasikan ke masjid, parkir di Waterboom Mulia Wisata dikelola sejumlah warga. Namun karena sering bermasalah dengan menaikan tarif parkir, manajemen memutuskan agar uang parkir Waterboom Mulia Wisata disumbangkan ke masjid setempat.

Dia mengatakan, keinginan tersebut didukung remaja masjid dan tokoh masyarakat Desa Lau. “Parkiran dikelola oleh preman selama dua tahun. Sejak 2013 hingga sekarang dan semoga saja bisa selamanya uang parkir kita donasikan untuk masjid desa setempat. Setelah kepotong pajak dan upah pekerja parkir,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, selain donasi tersebut sumbangsih lainnya yakni tiket masuk seluruh warga Desa Lau, Dawe, Kudus hanya Rp 15 ribu. Bahkan gratis untuk warga Desa Lau yang satu Rukun Tetangga (RT) dengan Waterboom Mulia Wisata. Selain itu, seluruh pelajar se Kecamatan Dawe dan Gebog tiket masuk waterboom hanya Rp 15 ribu per orang.

Oh ya satu lagi, kami juga menyediakan tiket khusus masuk Waterboom Mulia Wisata untuk santri seharga Rp 10 ribu per orang khusus hari Jumat,” jelasnya.

Warga Desa Gondoharum, Jekulo, Kudus itu mengatakan, Waterboom Mulia Wisata buka sejak tahun 2010. Sejak itu wahana yang dibangun di atas tanah seluas sekita 1,5 hektare tersebut sudah punya sekitar 2.000 member. Untuk menjadi member, kata dia, pengunjung harus membuat kartu member seharga Rp 25 ribu. Sedangkan keuntungan menjadi member pengunjung bisa mendpatkan diskon tiket masuk serta saat berbelanja di area wahana.

Dia berharap, ada kepekaan dan kepedulian pemerintah tentang proteksi pariwisata yang terintegritasi di lereng Muria. Sehingga antara obyek wisata satu dengan yang lainnya bisa bersinergi. “Bukan berkompetisi tapi bersinergi dan itu butuh peran pemerintah. Kami sudah mulai, saat ada rombongan pengunjung dari lain daerah, kami memberi tahu kepada mereka potensi Kota Kretek yang menarik untuk dikunjungi,” ujarnya.

- advertisement -

Arifin Tak Menyangka, Lukisan Pembuat Jenang di Mubarok Terbuat dari Tempurung Kelapa

0

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Gambar berukuran 2,5 meter persegi memperlihatkan dua orang sedang mengaduk jenang di atas kuali ukuran besar. Lokasi gambar tersebut berada  di sisi selatan ruangan Museum Jenang di gedung dua lantai Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya, Jalan Sunan Muria, Kudus. Gambar proses pembuatan jenang dengan cara manual, menyatu dengan ornamen lainnya di tembok dengan ukuran panjang keseluruhan enam meter. Uniknya gambar tersebut dibuat dengan bahan tempurung kelapa bekas bahan baku pembuatan jenang.

Patung dan lukisan pembuat jenang di Museum Jenang Kudus 20178_5
Patung dan lukisan pembuat jenang di Museum Jenang Kudus. Foto: Imam Arwindra

Beberapa pengunjung tampak mengamati gambar tersebut. Di antara mereka juga ada yang berswafoto tepat di depan gambar berbahan tempurung kelapa. Zaenal Arifin (63) satu di antara pengunjung yang mengamati gambar proses pembuatan jenengan itu. Sesekali dia mencoba memegang gambar tersebut untuk mengobati rasa penasaran.

Baca juga: Ada Kudus di Dalam Museum Jenang Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya

“Gambarnya bagus sekali. Batok (tempurung) kelapanya pun jadi halus,” tuturnya saat ditemui belum lama ini di Museum Jenang.

Selelah melihat gambar dan beberapa alat manual pembuatan jenang, dirinya baru mengetahui proses membuat jenang. Sebelumnya, dia tidak tahu sama sekali cara membuat jenang.  Menurutnya, saat berada di Kudus Arifin pasti membeli oleh-oleh jenang. “Tadi memang niatnya ke sini (Museum Jenang). Tadi saat belanja di bawah (lantai satu) dengar kabar ada museum di atas (lantai dua),” jelasnya.

Menurutnya, adanya Museum Jenang yang masih baru di Kudus sangat bagus untuk generasi muda. Anak-anak muda dapat mengerti proses pembuatan jenang dari secara manual hingga menggunakan mesin modern. Serta dapat melihat beberapa bangunan bersejarah, budaya dan peradaban di Kudus melalu miniatur dan galeri foto. “Baru pertama kali saya ke sini. Tempatnya nyaman dan bagus,” tambahnya.

Sementara itu, Maysaroh (30) pengunjung museum yang datang bersama keluarganya menuturkan merasa nyaman dengan fasilitas yang disediakan di Museum Jenang. Menurutnya, selain bisa digunakan untuk liburan alternatif keluarga, Museum Jenang juga menjadi tempat bagi anak-anaknya untuk mengenal budaya di Kudus. “Lokasinya juga bagus untuk selfie (swafoto). Ada miniatur Menara Kudus, rumah adat Kudus, alat pembuatan jenang, diorama pasar dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Warga Jepara itu sengaja datang ke lokasi museum karena merasa penasaran. Selain itu, juga untuk mengajak anaknya yang sedang libur sekolah di SMP Al Islam Kudus. Menurut Maysaroh, anaknya yang masih SMP juga tinggal di pondok dekat SMP Al Islam Kudus. Karena sedang libur, akhirnya waktu tersebut digunakan keluarga tiga anak tersebut untuk berlibur di museum. “Tempat in bisa menjadi liburan alternative keluarga,” tuturnya.

Public Relation dan Guide Museum Jenang Ika Hapsari Enggarwati (24) mengungkapkan, sejak pertama kali di-launching tanggal 24 Mei 2017, sudah ada 200 lebih pengunjung yang datang. Selain mereka bisa berbelanja produk jenang Mubarok dan produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) berjumlah sekitar 25 lebih produk, pengunjung juga dapat menikmati fasilitas Museum Jenang di lantai dua.

Menurutnya, produk UMKM yang terdapat di Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya tidak hanya berasal dari Kudus saja, melainkan ada dari Surabaya dan Karawang. “Pengunjung bisa berbelanja sambil berwisata,” tuturnya.

Pada gambar proses pembuatan jenang di sisi selatan museum diakuinya memang terbuat dari tempurung kelapa. Menurutnya, tempurung tersebut berasal dari limbah kelapa bahan baku pembuatan jenang. Gambar tersebut dibuat oleh Mbah Dahlan yang rumahnya masih di sekitar lokasi museum. “Untuk jumlah tempurung dan lama mengerjakannya saya kurang begitu jelas. Namun untuk gambar tersebut menggambarkan tentang proses pembuatan jenang dengan cara manual,” jelasnya.

- advertisement -

PMI Kudus Rangkul Warga Kristen untuk Donor Darah Saat Warga Muslim Berpuasa

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI KULON – Ratusan kantong darah terlihat tersimpan di lemari pendingin ruang penyimpanan Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kudus. Tampak pada kaca lemari pendingin tertulis nama empat golongan darah A, B, AB dan O. Darah-darah tersebut menurut Humas UUD PMI Kudus, Praptiningsih, tersimpan dalam lemari es dengan suhu dua hingga enam derajat.

Praptiningsih menunjukkan stok darah di PMI Kudus 2017_5
Praptiningsih menunjukkan stok darah di PMI Kudus. Foto: Imam Arwindra

Pada tanggal 27 Mei 2017, menurutnya UUD PMI Kudus memiliki stok darah sebanyak 902 kantong darah sehat dan 28 kantong darah yang masih dikarantina. Prapti merinci, dari jumlah 902 kantong darah sehat terdapat golongan darah A 223 kantong, B 310 kantong, AB 76 kantong dan O 293 kantong. Sedangkan untuk darah karantina sejumlah 28 terdapat golongan darah A Sembilan kantong, darah B tujuh kantong, AB satu kantong dan O 11 kantong.

Baca juga: Meski Puasa, Abdul Mukti Donorkan Darah Pertama Kali Demi Anaknya yang Terkena DBD

“Semoga selama puasa hingga Lebarah stoknya cukup. Karena di bulan Ramadan pendonor sepi,” tuturnya saat ditemui di ruangannya, belum lama ini.

Setiap Ramadan, pihaknya mengaku kesulitan dalam mencari pendonor darah. Hal tersebut diakuinya karena para pendonor darah di Kudus sebagian besar berpuasa. Mereka takut dapat mempengaruhi kesehatan dan mengakibatkan puasa batal. Sepinya stok darah saat bulan Ramadan menurutnya juga tidak hanya terjadi di Kudus saja, melainkan di seluruh Indonesia.

Prapti menceritakan, bulan Ramadan tahun 2015 lalu, stok darah yang dimiliki UUD PMI Kudus tidak mencukupi hingga Lebaran. Menurutnya, dipertengahan bulan puasa stok darah sudah habis. Berbeda dengan bulan Ramadan di tahun 2016, menurutnya stok darah bisa bertahan hingga Lebaran tiba. Dirinya berharap Ramadan tahun 2017, stok darah bisa stabil bertahan hingga Lebaran.

“Kita akan usahakan mencari pendonor. Agar hingga Lebaran tidak kehabisan. Karena darah sangat dibutuhkan,” jelasnya.

Untuk mengupayakan supaya stok darah selama Ramadan stabil, pihaknya mengaku mengandalkan umat Kristiani untuk mendonorkan darah. Dia mengagendakan akan melakukan donor darah di Rumah Sakit Mardi Rahayu dan mendatangi tujuh gereja yang ada di Kudus. Prapti berharap mendapatkan 150 kantong darah di Rumah Sakit Mardi Rahayu dan juga 150 kantong di tujuh gereja.

“Nanti di Mardi Rahayu tanggal 10 (Juni 2017) dan untuk di gereja tanggal 4, 10 dan 18 Juni (2017),” ungkapnya.

Selain di Rumah Sakit Mardi Rahayu dan tujuh gereja, pihaknya juga akan membuka tempat donor di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus pada tanggal 10-11 Juni 2017. Nantinya akan ada petugas dari PMI yang membuka stan donor darah dari pukul 17.00 WIB hingga 21.00 WIB. Selain itu, di kantor UDD PMI Kudus setiap harinya juga membuka pelayanan donor darah hingga pukul 21.00 WIB. Semua hal tersebut dilakukan supaya stok darah di Kudus bisa stabil.

“Kalau buka pelayanan donor di masjid tidak efektif. Tahun lalu saya pernah buka di masjid JHK (Gedung Jam’iyyatul Hujjaj Kudus), namun sama sekali tidak ada yang mau donor,” tambahnya.

Dia memberitahukan, stok darah 902 kantong yang dimiliki UUD PMI sekarang menurutnya masih aman. Dikatakan tidak aman jika stok darah di angka 400-500 kantong. Dan melimpah jika kantong darah mencapai 1.000 lebih. Menurutnya, saat bulan Ramadan permintaan darah akan meningkat saat menjelang lebaran. Hal tersebut diakuinya karena banyaknya permintaan pasien yang terjadi kecelakaan lalu lintas.

“Setiap hari selama 24 jam UUD PMI akan buka untuk melayani permintaan darah. Biasanya kalau bulan Ramadan yang paling banyak karena kecelakaan dan melahirkan. Namun ada juga yang operasi,” jelasnya.

- advertisement -

Tarik Pengunjung Saat Ramadan, Waterboom Mulia Wisata Jorjoran Promo

0

SEPUTARKUDUS.COM, LAU – Beberapa anak tampak bermain di dalam kolam yang ada wahana ember tumpah. Terlihat beberapa anak tersebut ceria bermain dan sesekali berdiam diri menunggu ember menumpahkan air. Tempat tersebut yakni di Waterboom Mulia Wisata. Pada Bulan Ramadan ini, wahana permainan tersebut banyak mengadakan promo diskon harga.

Kolam renang Waterboom Mulia Wisata Kudus 2017_5
Kolam renang Waterboom Mulia Wisata Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Khorirotus Sa’ adah (45), Manajer Waterboom Mulia Wisata, mengatakan, bulan puasa ini pihaknya menawarkan banyak promo harga untuk menarik minat pengunjung. Karena saat puasa biasanya minat masyarakat untuk datang ke Waterboom Mulia Wisata berkurang. Dengan diadakan banyak promo harga menurutnya minat pengunjung bisa meningkat.

“Berbeda dengan bulan lainnya yang hampir selalu ramai pengunjung. Saat Bulan Ramadan pengunjung relatif berkurang. Karena itu kami banyak mengadakan promo harga. Satu di antaranya menggratiskan tiket masuk bagi mereka yang ingin mengadakan acara buka bersama dengan nuansa di pinggir kolam,” ujar perempuan yang akrab disapa Khoriroh kepada seputarkudus.com.

Warga Desa Gondo Arum, Kecamatan Jekulo, Kudus itu menuturkan, sebenarnya para pengunjung harus membeli tiket seharga Rp 25 ribu saat masuk area waterboom. Namun, khusus bagi para pengunjung yang ingin buka bersama, maka tiket tersebut digratiskan. Para pengunjung tersebut juga bebas, bisa membawa makanan dari luar atau membeli makanan dan minuman di Resto Mulia Wisata yang sudah tersedia.

“Promo tersebut untuk para rombongan pengunjung yang datang pukul 16.00 WIB. Tapi saat pengunjung datangnya sebelum jam tersebut, dikenakan biaya separuh dari harga tiket masuk yakni Rp 12.500 per orang,” jelasnya.

Perempuan yang bekerja di Waterboom Mulia Wisata sekitar tujuh tahun itu mengatakan, harga tersebut juga berlaku untuk para pengunjung yang datang secara rombongan dengan minimal jumlah 10 orang. sedangkan para pengunjung yang datang sendiri atau kurang dari jumlah minimal yang ditentukan, mereka tetap mendapatkan diskon 20 persen per orang.

Selain itu, tuturnya, di Bulan Ramadan tahun ini Waterboom Mulia Wisata juga memberikan tiket gratis kepada para pendengar Radio Suara Kudus. Menurutnya, jumlahnya ada 200 tiket, dengan ketentuan para pendengar radio yang ingin mendapatkan tiket gratis, mereka harus mampu menjawab kuis yang diadakan Radio Suara Kudus.

“Untuk Bulan Ramadan ini kami sudah memberikan sekitar 200 tiket gratis dengan ketentuan yang berlaku. Kami juga sudah memberikan lebih dari 500 tiket diskon ke beberapa orang dan rombongan dengan harapan mereka akan datang lagi saat promo tersebut masih berlaku,” ungkapnya.

Dia menuturkan, Waterboom Mulia Wisata yakni wahana permainan air yang terdiri dari kolam renang anak serta dewasa, kolam arus, kolam ember tumpah, body sligh, serta kolam khusus atlet. Dan khusus untuk para atlet tiket masuk hanya seharga Rp 15 ribu. “Selain permainan air di Waterboom Mulia Wisata juga ada out bond yang tiketnya Rp 40 ribu per orang,” ujarnya.

- advertisement -

Masjid Al-Firdaus, Masjid dengan Dua Menara yang Tampak Megah dan Indah

0

SEPUTARKUDUS.COM, GRIBIG – Masjid yang terletak di Jalan Raya Sudimoro, Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus, ini memiliki dua buah menara yang menjulang tinggi. Menara tersebut mengapit kubah berwarna merah berkombinasi putih. Di bagian depan masjid, terdapat kubah-kubah kecil berwarna emas mengelilingi halaman masjid sebagai pagar. Masjid tersebut yakni Al-Firdaus, masjid Muhammadiyah yang tampak indah dan megah.

Masjid Al Firdaus Desa Gribig, Kaliwungu, Kudus 2017_5
Masjid Al Firdaus Desa Gribig, Kaliwungu, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai seusai salat Dzuhur, Takmir Masjid Al Firdaus, Rabu Asyhari (76), sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang masjid tersebut. Dia mengungkapkan, masjid dominan warna merah marun itu dibangun sekitar tahun 1925. Masjid sudah mengalami perbaikan sebanyak tiga kali, biaya pembangunan diambil dari hasil swadaya masyarakat.

“Masjid Al-Firdaus merupakan masjid Muhammadiyah terbesar se-Kabupaten Kudus. Masjid berdiri sebelum saya dilahirkan, kurang lebih sekitar 1925. Pembangunan masjid belum sepenuhnya selesai, kira-kira ditarget menelan biaya hingga Rp 5 miliar dari swadaya masyarakat,” ungkap Asyhari.

Warga Desa Gribig RT 1 RW 4, Kecamatan Gebog, Kudus, ini mengatakan, masjid berdiri di atas tanah luas sekitar 2 ribu meter persegi.  Sebelum direnovasi, masjid dulu berdiri seluas tanah 100 meter persegi. Dia mengaku kurang begitu tahu desain dan arsitektur masjid. Yang dia ketahui, dua buah menara di bagian depan mengadopsi desain dari Masjid Nabawi di Madinah.

“Saya kurang tahu tentang desain dan arsitekturnya. Yang saya tahu arsitekturnya dari warga sini, Pak Rumadi. Masjid terakhir mulai direnovasi pada tahun 2012, hingga sekarang sudah hampir tujuh tahun mengalami perbaikan. Rencana, bangunan tengah masjid akan diberikan tembok pembatas dari gebyok,” ujar Asyhari sambil memperlihatkan lokasi yang akan diberi gebyok.

Dia menjelaskan, di ruang utama masjid bagian dalam kubah bertuliskan lafal Ayat Kursi yang melingkar seirama bentuk kubah. Depan masjid dan bagian imam, tertuliskan lafal Allah dan Muhammad. Setelah direnovasi, katanya, masjid sekarang mampu menampung sebanyak 2 ribu jamaah.

Dia menambahkan, dalam menyambut bulan Ramadan, pihak Masjid Al-Firdaus telah menyiapkan beberapa kegiatan. Di antaranya, kultum Ramadan setelah salat Witir dan pengajian sore setiap hari menjelang berbuka puasa. Selain itu, setiap hari minggu pagi akan diisi kegiatan berupa kajian Islam.

“Nanti juga ada kegiatan berupa iktikaf Ramadan yang dimulai pada saat malam ke sepuluh terakhir Ramadan. Ada juga santunan zakat mal yang rencana ditasyarufkan mulai 25 Ramadan dan zakat fitrah mulai 29 Ramadan,” tambah Asyhari.

- advertisement -

Kisah Pendirian Yayasan Jalma Sehat, Agus Tak Tega Melihat Orang Gila Tak Terurus

0

SEPUTARKUDUS.COM, BULUNG KULON – Lokasi pengeringan padi di Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo, Kudus tampak ramai digunakan sejumlah anak untuk bermain. Beberapa karung padi sudah tertata rapi di dalam karung putih yang bersandar di tembok bangunan penggilingan. Mesin penggiling pun juga sudah tidak terdengar bunyinya. Hanya ada suara kambing dan beberapa orang yang sedang sibuk membuat batu bata pukul 15.00 WIB sore.

Penghuni Yayasan Jalma Sehat, Bulung Kulon, Kudus 2017_5
Penghuni Yayasan Jalma Sehat, Bulung Kulon, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di samping tempat penggilingan padi, terdapat ruang tertutup yang terkunci dari luar. Tampak puluhan laki-laki sedang berada di dalamnya. Mereka ada yang sedang tiduran, ada yang senyam-senyum sendiri, ada pula  yang tampak melamun dengan tatapan kosong. Tertulis di sisi depan ruangan baner warna kuning ‘Yayasan Jalma Sehat Pusat Rehabilitas Gangguan Jiwa dan Cacat Mental’.

Baca juga: Di Sini Para Penderita Gangguan Mental Dilatih Memasak, Salat, Hingga Bisa Mandiri

Menurut pengelola Yayasan Jalma Sehat Agus Salim (47), tempat tersebut yakni yayasan untuk merehabiliasi penderita gangguan jiwa dan cacat mental. Yayasan yang berada di lingkungan penggilingan dan pengeringan padi menurutnya sudah ada di Kudus sejak tahun 2014. “Sejak berdiri pada tahun 2014 sudah ada 205 pasien. Kalau sekarang tinggal 45 orang,” tuturnya saat ditemui belum lama ini.

Agus, sapaan akrabnya, menceritakan, dirinya mendirikan tempat pengobatan penderita gangguan jiwa dan cacat mental karena merasa iba akan kondisi yang dialami mereka. Dia mengaku tidak tega dengan penderita gangguan jiwa dan cacat mental yang seolah-olah tidak terurus oleh negara dan dipandang sebelah mata. Akhirnya dirinya merasa tersentuh untuk membuat yayasan rehabilitasi, supaya mereka dapat sembuh dan masa depannya bisa berjalan dengan baik.

“Ini sekaligus menjadi tabungan akhirat. Mengelola mereka untuk membina masa depan,” jelasnya yang mengenakan peci hitam berkaca mata.

Pihaknya mengaku tidak memberikan tarif  khusus untuk pasien yang berobat di tempatnya. Dia hanya memberikan syarat, saat pasien dititipkan di Jalma Sehat ada pihak keluarga atau yang bertanggung jawab, agar asal usulnya jelas. Dirinya juga mengaku sering menerima orang yang berkebutuhan khusus dari hasil operasi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kudus. Hal tersebut diterimanya karena jelas ada yang mengantar dan bertanggungjawab.

“Intinya di sini tidak mematok biaya. Monggo kerso (silahkan) jika  mau dititpkan,” tambahnya.

Agus mengakui, fasilitas rehabilitasi yang dimiliki sekarang memang masih kurang tidak selengkap seperti Rumah Sakit Jiwa. Menurutnya, pernah ada orang yang datang menitipkan keluarganya namun meminta tempat khusus dan very important person (VIP). Karena tidak adanya fasilitas, dirinya hanya mempersilahkan tempat seadanya.

“Saat itu kami hanya menawarkan tempat seadanya. Ya memang gini bu tempatnya. Kalau monggo kerso (berkehendak) silakan. Kalau tidak geh mboten nopo-nopo (tidak apa-apa),” tuturnya sambil menirukan saat Agus bertemu dengan keluarga pasien.

Namun akhirnya, keluarga pasien menitipkan di Jalma Sehat. Dia memberitahukan, pasien yang direhabilitasi di Jalma Sehat menurutnya tidak sampai satu tahun. Biasanya dengan jangka waktu lima bulan sudah sembuh. Selain diberikan obat, makan dan tempat tinggal, pasien juga diberi terapi khusus. Di antaranya, olahraga dan jalan-jalan.

“Ini ada pasien namanya Imam, dia sudah dua tahun di sini. Sebenarnya dia sudah sembuh. Dia sudah bisa beternak, mencari rumput. Mungkin kalau di rumah tertekan. Akhirnya dia memilih di sini,” terangnya.

Di Jalma Sehat, sementara ini hanya menerima pasien laki-laki saja. Menurutnya, untuk pasien perempuan pihaknya belum siap karena kurangnya fasilitas. Selama mengelola tempat rehabilitasi, pasien yang sudah bisa mandiri dikeluarkan dari kamar yang terkunci. Mereka diajari bekerja seperti membuat batu bata, memasak dan beternak kambing.

Diakuinya, kamar pasien yang belum sembuh pernah jebol pintunya. Saat itu pikirannya tidak terkendali. Namun hal tersebut mampu diatasinya dengan cepat. Kini ruangannya sudah diperbaiki dan ditambah pengamanan tambahan.

“Selama di sini terkhusus saat Ramadan, pasien juga diajari salat tarawih, tadarus dan khitobahan. Semoga saat sudah sembuh dan kembali di masyarakat mereka dapat beradaptasi dengan cepat,” tuturnya.

- advertisement -

Jual Boneka Lengkap dengan Harga Super Murah, Jami Raup Omzet Puluhan Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Trotoar selatan Jalan Sunan Kudus tepatnya di depan bangunan sebelah barat Indomart Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus tampak dipenuhi puluhan aneka boneka. Di antara boneka tampak seorang perempuan mengenakan jilbab sedang melayani calon pembeli. Perempuan itu bernama Jami (60), penjual aneka boneka di tradisi Dandangan, yang mampu meraup omzet jutaan rupiah.

Jual boneka di tradisi Dandangan Kudus 2017_5
Jual boneka di tradisi Dandangan Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada seputarkudus.com Jami sudi berbagi kesan selama berjualan di Dandangan tahun ini. Dia mengungkapkan, sejak dibukanya acara tradisi Dandangan tahun ini, lapaknya selalu ramai pembeli. Menurutnya, selama tiga hari berjualan dirinya mampu meraup omzet Rp 7 juta. Dan uang tersebut sudah diberikannya kepada putranya untuk berbelanja lagi boneka.

“Tiga hari pembukaan Dandangan di Kudus tahun ini aku mampu meraup omzet Rp 7 juta. Dan setiap hari biasanya akan ada peningkatan omzet. Karena semakin lama para pengunjung Dandangan semakin ramai dan otomatis boneka yang terjual juga semakin banyak. Pada Dandangan tahun lalu aku mampu meraup omzet Rp 60 juta selama 10 hari, semoga saja Dandangan tahun ini aku mampu mendapatkan omzet lebih dari itu,” ujarnya.

Perempuan dari Ungaran, Jawa Tengah itu mengungkapkan, biasanya saat ramai pembeli itu pada akhir pekan. Pada hari itu biasanya dia mampu mendpatakan uang hingga Rp 6 juta. Dia menuturkan, sudah ikut acara Tradisi Dandangan Kudus selama delapan kali. Selama keikutsertaannya tersebut, dia mengaku hanya berjualan puluhan bahkan ratusan boneka dengan berbagai bentuk. Menurutnya, boneka yang dijualnya sangat lengkap dan lumayan diminati para pembeli.

“Selain lengkap aku juga menjual aneka boneka dengan harga grosir meskipun dibeli secara ecer. Jadi sangat murah, lebih murah dari harga tempat lain. Apalagi saat para pengunjung Dandangan Kudus membeli boneka dengan jumlah banyak pasti akan aku kasih potongan harga,” ujarnya sambil tersenyum.

Perempuan yang sudah dikaruniai lima anak dan tujuh cucu itu menuturkan, di dandangan tahun ini dengan dibantu anaknya, dirinya menjajakan sekitar 40 karung besar. Menurutnya, di dalam puluhan karung tersebut di dalamnya ada ratusan boneka dengan berbagai bentuk dan ukuran. “Pokonya jumlahnya banyak dan kami tidak menghitungnya,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, menjual boneka dengan harga berbeda tergantung bentuk model dan ukuran. Untuk boneka ukuran paling kecil dia jual dengan harga Rp 25 ribu per pcs. Boneka Hello Kitty ukuran tanggung dibandrol Rp 150 ribu per pcs. dan yang paling besar boneka beruang dijual dengan harga lebih mahal yakni Rp 500 ribu per pcs. “Itu harga ecer, untuk pembelian banyak harga masih bisa berkurang,” ujarnya.

- advertisement -

Meski Berlatih Singkat, Anak Berkebutuhan Khusus Al-Achsaniyyah Terampil Mainkan Rebana

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEDAWANG – Suara rebana terdengar menggema dari dalam musala Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah Desa Pedawang,  Kecamatan Bae, Kudus. Rebana itu dimainkan delapan orang berbaju koko putih dan bersarung. Mereka tampak terampil membawakan lagu berjudul “Kota Kudus”. Delapan orang tersebut merupakan santri berkebutuhan khusus yang baru beberapa bulan berlatih rebana.

Santri Ponpes Al-Achsaniyyah bermain rebana 2017_5
Santri Ponpes Al-Achsaniyyah bermain rebana. Foto: Imam Arwindra

Di Pondok Pesantren Al-Achsaniyah para anak didik berkebutuhan khusus dibimbing untuk menjadi anak yang mandiri. Selain mendapatkan terapi, pendidikan agama dan formal, anak mereka juga diberi materi kesenian, termasuk rebana.

Satu di antara santri yang ikut belajar rebana yakni Aldena Akmal Valencia Rizqi (14). Kepada Seputarkudus.com dia mengaku baru tiga bulan belajar rebana. Menurutnya, sudah ada lima lagu yang dikuasai bersama rekan-rekannya. Selama belajar rebana, dirinya mengaku tidak menjumpai kesulitan yang berarti. Dia mengaku lebih senang memegang alat jidor ketimbang peralatan rebana lainnya.

“Saya sudah bisa lima lagu, ‘Kota kudus’, ‘Ya Rahman Ya Rakhim’, ‘Sluku-Sluku Batok’, ‘Assalamualaika Ya Rasulallah’, ‘Kisah Sang Rasul’,” tuturnya saat ditemui usai kegiatan rebana di pondok pesantrennya, beberapa waktu lalu.

Akmal mengaku selama dua tahun tinggal di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah, juga belajar mengaji Al-Quran, Asmaul Khusna dan salat. Pada bulan Ramadan, Akmal juga melakukan ibadah puasa sehari penuh. Dirinya mengaku betah tinggal di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah. “Saya di sini supaya pintar,” tuturnya yang berasal dari Cepu, Blora.

Hal senada juga diungkapkan Muhammad Kautsar Hendriko (23). Dia yang sudah tinggal satu tahun di pondok mengaku merasa senang dan ingin segera lulus. Selama tinggal di pondok, dia menuturkan sudah diajari untuk mandiri, belajar agama, salat dan mengaji. Serta tidak lupa berlatih seni rebana.

Dalam tim rebana, dirinya mengaku bertugas menjadi vokal. Hendriko menuturkan sudah bisa menguasai lima lagu yang siap ditampilkan bersama group rebananya. Lagu Dia mengaku sudah terbiasa melantunkan lagu-lagu pop dan qosidahan. “Lagunya (lagu rebana) mudah untuk dipahami,” tutur anak asal Yogjakarta tersebut.

Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah Mohammad Faiq Afthoni menuturkan, di pondok terdapat 92 anak berkebutuhan khusus. Selama tinggal di pondok mereka diajari untuk mandiri, belajar pendidikan agama dan seni. Seni yang diajarkan di antaranya musik dan rebana. “Di sini ada kelas kejuruan kecil dan besar, SDLB (Sekolah Dasar Luar Biasa) pendidikan agama, musik, olahraga dan rebana,” ungkapnya.

Menurutnya, untuk berkebutuhan khusus yang ikut rebana untuk mereka yang sudah bisa mandiri. Di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah, terdapat 11-15 anak yang sudah mandiri. Diceritakan, mereka sudah pernah tampil saat ada lomba antar desa di Desa Pedawang bulan lalu. Dengan adanya siswa rebana, Faiq berharap anak-anak didikanya dapat menjadi lebih mandiri dan bisa melakukan syiar agama islam. “Ini vokalis lagunya juga sudah banyak lagu yang dikuasai,” tambahnya.

Selama bulan Ramadan, di Pondok Pesantren Al-Achsaniyyah ABK juga diajari untuk belajar mengaji dan salat. Khusus untuk anak yang sudah mandiri mereka diberi tambahan tadarus dan salat Tarawih. Anak-anak tersebut menurut Faiq juga wajibkan untuk puasa. Menurutnya, dari 15 anak tersebut puasanya mampu sampai Maghrib. “Jadi mereka kami ajari untuk berpuasa. Untuk sahur dan bukanya bersama-sama,” tambahnya.

- advertisement -

Meski Puasa, Abdul Mukti Donorkan Darah Pertama Kali Demi Anaknya yang Terkena DBD

0

SEPUTARKUDUS.COM, JATI KULON – Raut muka Abdul Mukti (31) tampak menahan sakit saat jarum selang kantung darah ditusukkan pada tangan kanannya. Sesekali dirinya terlihat memejamkan mata sambil berbaring di atas ranjang berwarna merah. Dengan dibantu petugas Unit Donor Darah (UDD) Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Kudus, Mukti sedang melakukan donor darah untuk anaknya yang terkena penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Donor darah saat brepuasa 2017_5
Donor darah saat brepuasa. Foto: Imam Arwindra

Kepada Seputarkudus.com Mukti mengatakan, sudah enam hari ini anaknya dirawat di Rumah Sakit Buah Hati Kudus. Anaknya yang masih berumur 11 tahun membutuhkan darah O untuk penyembuhan. Saat melakukan donor darah Mukti mengaku sedang menjalankan ibadah puasa. “Ini demi anak. Nanti kalau masih kuat puasa ya dilanjut. Kalau tidak kuat mau apa lagi,” tuturnya saat ditemui ketika dirinya sedang donor darah, akhir pekan lalu.

Warga Desa Lambangan, Kecamatan Undaan, Kudus, itu sebelum melakukan donor darah sudah mencari stok darah ke banyak tempat. Dia juga datang UUD PMI Kudus untuk melihat stok. Karena stok darah kategori plasma kaya trombosit atau platelet rich plasma (PRP) habis, dirinya harus berdonor darah. “Baru pertama kali ini saya donor. Anak saya sudah kritis,” tambahnya.

Menurut Humas UUD PMI Kudus Praptiningsih, pada 27 Mei 2017 UUD PMI Kudus memiliki stok darah sehat 902 kantong dan darah karantina 28 kantong. Dia merinci, dari jumlah 902 kantong darah sehat terdapat golongan darah A 223 kantong, B 310 kantong, AB 76 kantong dan O 293 kantong. “Untuk trombosit dan plasma tidak ada stok. Makanya bapaknya harus donor sendiri,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, tidak adanya stok darah PRP juga terpengaruh dengan masa kedaluwarsa darah yang terbilang singkat hanya enam jam. Menurutnya, saat pasien butuh plasma dan trombosit harus ada pendonor yang langsung mendonorkan darahnya. Berbeda untuk kategori darah lengkap. Menurut Prapti untuk darah biasa dapat bertahan selama 35 hari. Selebihnya akan dibuang karena sudah expired.

“Darah disimpan dengan suhu dua sampai enam derajad. Jika lebih dari 35 hari ya sudah expired,” terangnya.

Prapti berharap, selama bulan Ramadan stok darah yang dimilikinya akan memenuhi kebutuhan hingga Lebaran tiba. Dirinya mengaku tidak akan memberikan stok darah yang ada di UUD PMI Kudus kepada kabupaten lain selagi kebutuhan stok darah di Kudus belum melimpah. Menurutnya, angka 902 kantong darah dianggapnya masih setabil. Dikatakan melimpah jika di atas 1.000 kantong darah.

“Kalau tidak aman antara 400 sampai 500 (kantong darah). Semoga stok yang ada bisa sampai lebaran,” tambahnya.

- advertisement -

Butuh 10 Tahun Bagi Cipto untuk Kembangkan Usahanya Jualan Sepatu dan Sandal

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Siang itu, Sucipto (52) tampak sibuk melayani pembeli yang datang ke lapaknya. Di lapak tersebut dirinya menjajakan beraneka ragam dan bentuk sepatu. Ada sepatu berbahan kulit, imitasi, sepatu untuk pria dan wanita, serta beragam bentuk dan warna. Dia yang datang jauh dari Surabaya, berharap sepatu yang dijual laris dibeli masyarakat di Kudus.

Cipto menunjukkan produk sepatu yang dia jual di lapaknya
Cipto menunjukkan produk sepatu yang dia jual di lapaknya. Foto: Rabu Sipan

Lapak yang dia buat untuk berjualan terletak di di Jalan dr Ramlan, tepatnya di belakang Bank Central Asia (BCA) Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Ratusan pasang sepatu dan sandal memenuhi lapak miliknya. Lapaknya selalu ramai pembeli yang datang. Saking ramainya pembeli, Cipto mendapat omzet hing Rp 7 juta sehari.

Seusai melayani para pembeli pria yang akrab disapa Cipto itu sudi berbagi kesan tentang kepada seputarkudus.com tentang usahanya. Dia mengungkapkan, datang jauh dari Surabaya ke Kudus berjualan sepatu dan sandal, karena potensi penjualan produknya di Kota Kretek cukup bagus.

“Penjualannya bagus, stabil dan terkadang juga naik dari tahun sebelumnya. Tahun ini juga penjualannya juga bagus, daya beli pengunjung terhadap sepatu dan sandal yang aku jual sangat baik. Dalam sehari aku mampu menjual sekitar 80 pasang dan aku mampu meraup omzet Rp 7 juta sehari,” ujarnya saat ditemui di lapaknya saat berjualan di tradisi Dandangan, beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan, pada tahun ini dia menjual sepatu olahraga , sepatu kulit, sandal kulit dan sejumlah produk lainnya. Sepatu kulit dia jual mulai Rp 50 ribu hingga Rp 135 ribu per pasang. Sedangkan sepatu kulit dibandrol mulai harga Rp 85 ribu hingga Rp 245 ribu sepasang. Selain sepatu, tutur Cipto juga menjual sandal kulit antara harga Rp 95 ribu sampai Rp 125 ribu sepasang.

“Untuk harga kami sangat fleksibel dan bisa ditawar. Karena kami memang tidak menjual aneka sepatu dan sandal kami dengan harga mahal. Saat ada yang menawar dan aku masih dapat untung pasti aku lepas sesuai tawaran para pelanggan. Meski bisa ditawar, dijamin sepatu dan sandal yang aku jual kualitasnya oke punya,” ujarnya.

Pria yang dikaruniai dua anak itu mengkisahkan mulai berjualan sepatu dan sandal sejak 18 tahun yang lalu. Menurutnya, sebelum berjualan dua alas kaki tersebut dirinya terlebih dulu punya usaha jasa tiket kapal selama dua tahun. Namun sayangnya usaha tersebut hasilnya tak seberapa, hingga dirinya tergiur untuk mengganti usaha dengan berjualan sepatu dan sandal kulit.

“Pada waktu itu aku tergiur itu karena lihat temanku yang lebih dulu merintis usaha serupa. Kok kayaknya lebih enak jualan sepatu dan sandal. Penghasilannya bisa diandalkan untuk menafkahi keluarga. Karena alasan itu, aku nekat berjualan sepatu, dengan bekal enam pasang saja,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, sepatu enam pasang tersebut ditawarkannya ke beberapa kantor di Surabaya. Menurutnya, butuh 10 tahun untuk membesarkan usaha berjualan sepatu dan akhirnya berjualan sandal juga. Setelah usahanya besar, delapan tahun lalu mulai ikut berjualan di sejumlah even di beberapa daerah.

“Selama ini aku sudah menjual sepatu dan sandalku ke semua daerah di Jawa Timur dan Bali, Untuk Jawa Tengah Semarang, Solo ke timur dan Yogyakarta. Aku berjualan di daerah tersebut saat ada pameran. Selama ini penjualan sepatu dan sandal kulit di acara even sangat bagus khususnya Dandangan Kudus. Pembelinya dan pengunjungnya banyak, sewa tempanya juga sangat terjangkau,” ujarnya.

- advertisement -