Beranda blog Halaman 1891

Masjid Jami’ Al Falah, Masjid Hijau nan Megah yang Bisa Tampung Ribuan Jamaah

0

SEPUTARKUDUS.COM, LORAM WETAN – Bangunan masjid ini berlantai tiga dengan halaman cukup luas dominan warna hijau. Di depan masjid berdiri sebuah gerbang terbuat dari bahan semen bertuliskan Masjid Jami’ Al Falah yang terletak di tepi Jalan Pattimura Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus. Pembangunan masjid berkubah hijau tersebut menelan biaya hingga 1,5 miliar, hasil dari swadaya masyarakat.

Masjid Jami’ Al Falah Desa Loram Wetan, Kudus 2017_6_8
Masjid Jami’ Al Falah Desa Loram Wetan, Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Menurut Muhammad Jasri (50), Takmir Masjid Jami’ Al Falah, masjid tersebut berdiri kurang lebih sekitar tahun 1971, hingga sekarang sudah berumur 46 tahun. Jasri, begitu dirinya disapa, mengungkapkan, sejak awal dibangun hingga berdiri megah seperti saat ini, masjid sudah mengalami pemugaran selama empat kali. Pemugaran terakhir dilakukan mulai tahun 2010 yang direhab pada bagian lantai atas masjid.

“Pembangunan masjid sepenuhnya dari hasil swadaya masyarakat setempat. Semua dilakukan dengan cara gotong royong. Untuk awal berdiri masjid terus terang saya sedikit lupa, seingat saya masijid dibangun pada tahun 1971. Kalau dihitung,  pembiayan masjid mulai awal sampai akhir pembangunan menelan biaya kurang lebih Rp 1,5 miliar,” ungkap Jasri waktu ditemui Seputarkudus.com di kantor MI NU Tarbiyatul Islam, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Loram Wetan RT 4 RW 4, Kecamatan Jati, Kudus, ini menjelaskan, lantai dasar masjid dibangun menggunakan granit. Sekeliling dinding ruang masjid dilapisi lantai berwarna ungu dan bagian tengah masjid terdapat ukiran gebyok sebagai pembatas. Sementara itu, lantai dua masjid dikellilingi tulisan kaligrafi Asmaul Husna.

“Pada bagian lingkaran kubah ruang utama bertuliskan Ayat Kursi dan bagian bedug masjid buatan Jepara terukir kalimat seruan mari beribadah. Arsitektur masjid dari masyarakat setempat yakni H Subadi yang sekarang diteruskan oleh Bapak Sukir. Kalau melihat desain yang dibuat, Masjid Jami’ Al Falah mengadopsi desain dari masjid Timur Tengah,” ujar Jasri.

Pria yang mengaku sudah selama delapan tahun menjabat sebagai Takmir Masjid Jami’ Al Falah, ini mengatakan, sebelum dilakukan pemugaran, masjid tersebut hanya mampu menampung sekitar 5 ratus jamaah. Setelah adanya pemugaran, masjid sekarang sudah dapat menampung kurang lebih 2 ribu jamaah. Terkait dengan agenda masjid selama Ramadan, lanjutnya, agenda tetap sama seperti tahun lalu, satu di antaranya kegiatan santunan anak yatim.

“Agenda tetap sama sebenarnya dengan tahun lalu, ada santunan anak yatim yang rencana akan dilakukan pada tanggal 17 Ramadan. Santunan dilaksanakan sore hari dan malamnya akan diisi agenda khotmil Qur’an  dalam rangka Nuzulul Qur’an,” tambah Jasri yang saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala MI NU Tarbiyatul Islam.

- advertisement -

Biasanya Reni Jual Soto, Saat Ramadan Jual Lauk, Omzet Sehari Rp 1,6 Juta

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Seorang permpuan tampak sedang menjajakan dagangannya di tepi Jalan Sosrokartono, Desa kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Sambil menata dagangannya di atas meja, sesekali dia juga melayani pemebeli yang datang. Perempuant tersebut bernama Sureni (57) penjual soto yang beralih menjual aneka lauk-pauk dan sayur mayur saat Ramadan.

Bu Reni jualan lauk saat Ramdan 2017_6_7
Bu Reni jualan lauk saat Ramdan. Foto: Rabu Sipan

Seusai memperisapkan dagangannya tersebut, perempuan yang akrab disapa Reni sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang dagangannya tersebut. Dia mengungkapkan, selain Ramadan dirinya berjualan soto. Namun sejak empat tahun lalu, setiap datang bulan puasa dia berjualan aneka lauk-pauk dan lainnya karena tidak sempat untuk berjualan soto.

“Sebenarnya banyak juga orang yang menanyakan soto, karena ingin makan soto buatan saya saat buka puasa. Namun karena keterbatasan tenaga saya tidak sempat untuk membuat soto. Menyiapkan dagangan lauk pauk dan sayur mayur saat menjelang Maghrib saja sudah kewalahan,” ujarnya, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Kaliputu, Kota, Kudus tersebut mengatakan, dirinya sudah berhitung kenapa lebih memilih berjualan lauk pauk daripada soto. Menurutnya, berjualan soto saat Ramadan ramai pembelinya juga pasti saat Maghrib. Sedangkan di sisi lain dia juga harus menyiapkan dan melayani mereka yang ingin membeli lauk pauk serta sayur mayur untuk berbuka puasa.

“Karena alasan itu aku harus memilih satu, dan aku lebih memilih menjual lauk pauk dan sayur mayur untuk mereka yang akan berbuk, karena pasti lebih banyak yang membutuhkan dan membeli,” ungkap Reni.

Perempuan yang dikaruniai tujuh anak dan tiga cucu tersebut mengatakan, menjual lauk-pauk di antaranya, berbagai macam botok. Ada botok teri, petet, udang, dan lain sebagainy yang dijual Rp 1500 perbungkus. Ada juga aneka pepes, di antaranya, pepes pindang di jual Rp 7500, pepes bandeng Rp 10 ribu, pepes kakap Rp 15 ribu, Pepes wader dan besusul masing-masing dijual Rp 2 ribu per bungkus.

“Selain itu aku menjual urak-arik teri , balado terong, begedel, opor ayam, panggang mangut garang asem dan lain sebagainya. Khusus garang asem aku jual dengan harga Rp 17 ribu per bungkus. Aku jual sayur lodeh, bening dan sayur asem. Semua lauk yang aku jual tidak sepenuhnya aku bikin sendiri, namun ada beberapa yang titipan dari orang lain,” jelasnya.

Dia mengatakan, selain lauk pauk dirinya juga menjual beberapa takjil di antaranya, kolak, koktail, jus sirsak dan tomat. Menurutnya, dari semua lauk pauk yang dijualnya tersebut setiap magrib selalu habis dibeli para pembeli. kalaupun tersisa paling beberapa bungkus saja.

“Namanya berjualan ada kalanya laris dan ada saatnya kurang laris. Saat laris aku mampu mendapatkan uang Rp 1,6 juta sehari. Terkadang juga mendapatkan uang Rp 1,2 juta. Tergantung barang jualanku, kalau banyak ya mendapatkan uang banyak, begitu juga sebaliknya. Karena hampir semua daganganku lumayan diminati para pembeli,” ujarnya.

- advertisement -

Santri Yanbu’ul Qur’an Asal Jakarta Timur Ini Sering Menangis Saat Kangen Orang Tua

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Sejumlah anak terlihat asyik bermain prosotan di selatan gedung dua lantai Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-anak Putra. Tampak ada pula yang bermain mangkok putar, tangga majemuk dan sepak bola yang lokasinya masih satu kompek. Mereka yakni para santri penghafal Al-Quran yang sedang menikmati waktu istirahat usai mengikuti sekolah formal di MI NU Tahfidhul Qur’an Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS).

Santri Yanbu'ul Qur'an Kudus menghafal ayat sebelum setoran 2017_6_8
Santri Yanbu’ul Qur’an Kudus menghafal ayat sebelum setoran. Foto: Imam Arwindra

Di antara santri yang bermain Ahmad Zaidan Fathul Mubarok (7). Dia sudah berada di pondok selama satu tahun, dan mengaku sering bermain selepas sekolah. Jika tak bemain dengan teman-temannya, dia merasa kesepian dan ingin pulang. “Kalau ingin pulang ya nangis,” tuturnya kepada Seputarkudus.com, beberapa waktu lalu.

Baca juga:

Zaidan sapaan akrabnya, mengungkapkan, orang tuanya biasa menjenguk dirinya setiap satu bulan sekali. Menurutnya, dia bisa pulang hanya saat liburan pondok saja. Selebihnya harus tinggal di dalam pondok. Dia memberitahukan, saat tidak ada kegiatan Zidan mengaku rindu dengan orang tuanya. Terlebih saat malam hari sebelum tidur. “Kangene pol (sangat kangen),” tutur santri asal Jakarta Timur tersebut.

Begitu juga Sauqi, teman bermain Zaidan yang memiliki nama lengkap Muhammad Sofwan Kamil (8). Sauqi mengaku juga sering menangis saat sedang rindu dengan orang tuanya. Menurutnya, selain menjelang tidur, dia ingat orang tuanya saat kesulitan menghafal Al-Quran. Dia mengaku ingin segera menyelesaikan hafalannya dan kembali pulang. “Saya baru hafal 14 juz,” ungkap Sauqi yang berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur.

Berbeda dengan Pranata Muhammad (7), yang rumahnya dekat dengan Masjid Agung Jawa Tengah, Semarang. Dia mengaku betah tinggal di pondok. Menurutnya, di awal mondok dia sering menangis. Namun karena temannya banyak, akhirnya selama satu tahun dia sudah tidak menangis lagi. “Tapi kadang-kadang ya nangis,” tuturnya sambil tertawa.

Sementara itu, pengurus Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Anak-anak Putra, Moh Asyroful Khotim mengungkapkan, anak-anak yang masih berusia antara tujuh tahun tersebut memang biasa menangis. Menurutnya, mereka menangis karena rindu dengan orang tuanya. “Ya sudah biasa. Mereka kan masih anak-anak, wajar,” ungkapnya.

Menyikapi hal tersebut, dirinya hanya memastikan anak-anak sehat dan baik-baik saja. Dia memberikan kepastian kapan waktu dijenguk orang tua dan libur sekolah. Setelah kepastian diberikan, mereka akan diam dan kembali beraktivitas seperti sedia kala. “Seperti tadi ada anak yang nangis ingin pulang. Setelah saya bilang tanggal 14 Juni 2017 nanti akan dijemput orang tua, ya sudah dia diam. Yang penting anak ada kepastian,” jelasnya.

Dia memberitahukan, selain libur sekolah pihaknya memberikan waktu satu bulan sekali untuk kunjungan wali santri. Hal tersebut dilakukannya di hari Jumat pertama setiap bulan. Wali santri wajib datang ke pondok untuk berkunjung supaya mengetahui perkembangan anaknya.

Dia menjelaskan, santri yang tinggal di pondok sebanyak 316 anak. Jika hanya kedua orang tua anak yang menjenguk sudah terdapat  900 orang. Belum lagi jika adik, kakek dan saudaranya ikut, akan ada 1.000 lebih orang yang berada di lokasi pondok. “Yang penting orang tua ikhlas melepaskan anaknya. Karena nanti akan berpengaruh terhadap perkembangan anak,” ungkapnya.

Supaya anak tidak terlalu ingin pulang, pihaknya juga sering mengadakan kegiatan. Menurutnya saat tidak ada aktivitas belajar, dirinya membuat kegiatan di antaranya renang, ziarah dan berbagai perlombaan. Selain itu, santri juga diberi tontonan film supaya mereka bisa berlibur. “Di sini tidak boleh bawa HP. Nonton televisi pun bukan acara-acara TV, melainkan film-film kartun anak-anak,” jelasnya.

Selama membimbing anak, Asyroful Khotim mengaku banyak mengalami kesulitan. Kesulitan terbesar yakni memahamkan anak saat melakukan sesuatu. Seperti contoh tidak diperbolehkan naik pohon karena khawatir jatuh. Saat anak diberi pengertian, mereka justru penasaran dan mencobanya. Bahkan saking penasaran, santri yang lain ikut mencoba. Mereka akan berhenti, apabila ada yang pernah jatuh. “Ya gitulah anak-anak. Mereka memang waktunya untuk bermain,” ungkapnya

Menurutnya, di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-anak Putra terdapat 27 ustaz Al-Quran dan 12 ustaz murabbi yang selalu mendampingi mereka saat di pondok. Dia menjelaskan, ustaz Al-Quran yakni yang mendampingi mereka untuk menghafal Al-Quran, sedangkan ustaz murabbi yang membantu santri memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

- advertisement -

Ramadan Datang, Penjual Nasi dari Semarang Sedia Jasa Penukaran Uang

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Sepeda motor matik tampak terparkir di sebelah utara Jalan Sunan Kudus Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus, tepatnya di depan Toko Tiga Enam. Di atas  sepeda motor tersebut tampak uang kertas berjajar rapi sesuai nominalnya. Di sampingnya terlihat seorang perempuan mengenakan kaus waran kuning sedang duduk. Perempuan tersebut bernama Muktiati Safitri (30), penyedia jasa penukaran uang.

Jasa penukaran uang di Kudus jelang Lebaran 2017_6_5
Jasa penukaran uang di Kudus jelang Lebaran. Foto: Rabu Sipan

Sambil menunggu penukar uang, perempuan yang akrab disapa Fitri itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang jasanya tersebut. Dia mengungkapkan, menekuni jasa penukaran uang sejak lima tahun lalu, yang khusus dikerjakannya saat Ramadan. Diakuinya, pada Ramadan tahun ini dirinya baru dua hari mulai membuka jasa penukaran uang di Kudus.

“Ramadan ini, aku baru dua hari ini buka jasa layanan penukaran uang. Modal Rp 50 juta yang aku pinjam dari saudaraku. Karena pinjam modalnya ke saudara sendiri jadi tanpa jaminan dan bunga. Uang tersebut lalu aku tukarkan kepada seseorang yang sudah menukarkan uang di Bank Indonesia (BI)” ujarnya beberapa waktu lalu.

Perempuan yang berasal dari Pedurungan, Semarang itu mengungkapkan, uang modal tersebut harus dikembalikannya pada Hari Raya Idul Fitri. Dia mengatakan, menyediakan aneka pecahan uang berbagai macam nominal di antaranya, Rp 2 ribu, Rp 5 ribu, Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu. Menurutnya, dia mengambil untung 10 persen dari nominal uang yang ditukarkan.

“Minimal penukaran harus Rp 100 ribu. Jadi saat ada yang menukarkan uang Rp 100 ribu mereka harus memberi uang Rp 110 ribu. Itu juga berlaku untuk penukaran dengan nominal lebih besar. Dan 10 persen tersebut tidak akan aku naikan saat mendekati Hari Raya Idul Fitri,” jelasnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, dua hari membuka jasa penukaran uang dirinya mengaku peminat penukar masih sepi. Meski begitu ada saja orang menukarkan uang kepada dirinya. Untuk saat ini sehari dia mampu menukarkan uang sekitar Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta.

“Di Pekan pertama Ramadan peminat penukar uang masih sepi. Biasanya ramainya nanti saat sepekan sebelum Hari Raya Idul Fitri. Pada waktu itu aku biasanya mampu menukar uang sampai Rp 10 juta sehari. dan puncaknya nanti saat dua hari menjelang Lebaran, aku mampu menukarkan uang hingga Rp 20 juta sehari,” ungkapnya.

Dia menuturkan, pekerjaan menjadi jasa penukaran uang dilakukannya saat Ramadan saja. Seusai Lebaran dia mengaku akan beraktivitas sepertia biasa, yakni berjualan nasi di pasar. Dia mengaku, setiap Ramadan memang libur berjualan nasi. Itu dilakukannya karena tidak ingin mengganggu orang menjalankan ibadah puasa.

“Karena saat Ramadan tidak ada kegiatan, lima tahun yang lalu aku ikut tetanggaku yang sudah terlebih dulu menekuni pekerjaan jasa penukaran uang. Karena hasilnya lumayan aku pun bertahan hingga sekarang,” ujarnya.

- advertisement -

Mahasiswi UMK Ini Lebih Giat Produksi Bakso Ikan Asin di Bulan Ramadan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Di sebuah rumah kotrakan di Desa Dersalam, Bae, Kudus, terlihat dua orang perempuan sedang menggoreng ikan teri. Usai menggoreng ikan, mereka kemudian menghaluskan ikan terdebut dan dicampur kedalam adonan. Mereka adalah Miftahul Inayah (21) dan Khusnul Farida (21), mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) yang lolos Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) tahun 2017.

Inayah dan Farida, mahasiswi UMK, memproduksi bakso ikan asin 2017_6_7
Inayah dan Farida, mahasiswi UMK, memproduksi bakso ikan asin. Foto: Ahmad Rosyidi

Miftah, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang keikutsertaannya dalam PKMK. Dia dan kelompoknya membuat bakso ikan asin karena belum pernah melihat ada pengolahan ikan asin menjadi produk lain. Selain itu juga harga ikan teri lebih murah jika dibanding dengan daging sapi.

“PKMK kami berjudul Baksin (Bakso Ikan Asin Instan) Inovasi Olahan Ikan Asin Makanan Khas Kabupaten Pati. Ini karya kami bertiga, saya dari Pati, Khusnul Farida dari Rembang dan Ahmad Edi Waluyo dari Jepara,” ungkapnya saat ditemui Seputarkudus.com belum lama ini.

Mereka mengajukan PKMK pada bulan November 2016, dan mendapat pengumuman lolos pada bulan Maret 2017. Dari sekian banyak yang mengajukan hanya 11 kelompok yang lolos dan mendapat biaya pembinaan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) senilai Rp 10 juta. Dari dana tersebut mereka berencana akan membuat usaha bersama.

“Rencana kami akan membuat usaha bersama dari dana tersebut. Saat ini kami baru produksi sedikit, tapi bulan Ramadan ini rencana akan lebih sering memproduksi. Akan kami titipkan di toko-toko dan warung yang ramai pengunjung,” terang mahasiswi progdi Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE), UMK itu.

Farida, begitu Khusnul Farida akrab disapa, menambahkan, bulan Ramadan ini mereka akan lebih giat memproduksi agar produknya lebih cepat dikenal. Mereka akan memasarkan dengan cara bekerjasama dengan sejumlah toko yang ada di Kudus dan Pati.

“Saat ini baru terlaksana dua, waktu Daandangan kami menaruh produk di stan produk UMKM Pati dan di Warung Delima depan UMK. Kami juga berjualan di kampus dan di Car Free Day. Respon pembeli cukup bagus, malah ada saran sekalian jual nasi, karena enak kalau di buat lauk” paparnya sambil tertawa.

Menurutnya, dalam waktu dekat ini akan ada monitoring dan evaluasi, kemudian ada pengumuman masuk Pekan Mahasiswa Nasional atau tidak. “Maka dari itu kami perlu lebih giat lagi di bulan Ramadan ini. Menurut saya momennya pas, karena Bakasin ini bakso goreng jadi bisa dimakan saat berbuka ataupun sahur,” ungkap mahasiswi progdi Manajemen, FE, UMK itu.

Farida juga menjelaskan, produknya bisa bertahan sekitar 4 hari. Dan kali ini dia memproduksi untuk dititipkan di sejumlah toko di Pasar Pragola, pusat oleh-oleh khas Pati. Selain di Pati, dalam waktu dekat ini mereka juga berencana bekerjasama dengan toko Jenang Karomah. Produk Bakasin dijualnya dengan harga Rp 7 ribu per kemasan, berisi 10 bakso.

- advertisement -

Selama Ramadan, Cukup Bawa Rp 200 Ribu Bisa Bawa Pulang Produk Furniture dan Elektronik

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Di tepi Jalan Kudus-Jepara, tepatnya di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat sebuah ruko dengan dinding terbuka. Di dalamnya, tampak seorang pria mengenakan kaus berkerah warna merah sedang duduk sambil sesekali melihat layar handphone. Pria tersebut tak lain Wahyu Yahsi Wibowo (31), Pemilik Podojoyonyo Group, penjual produk furnitur dan elektronik. Selama Ramadan ini, toko yang dia kelola mengadakan promo, hanya bayar 200 ribu, konsumen bisa membawa pulang sejumlah furnitur dan elektronik.

Produk yang dijual Podojoyonyo Group Kudus 2017_6_6
Produk yang dijual Podojoyonyo Group Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Di sela-sela aktivitasnya melayani calon pembeli, Wahyu, begitu dirinya disapa, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang promo tersebut. Dia menjelaskan, program promo dilakukan selama bulan Ramadan. Sebelum ada promo, konsumen diharuskan membayar administrasi sebesar Rp 200 ribu sekaligus pembayaran kredit angsuran pertama.

“Program berlaku selama bulan Ramadan, tapi hanya untuk pembelian furnitur dan elektronik saja. Sedangkan untuk pembelian smartphone, ada biaya administrasinya, sebesar Rp 100 ribu. Cukup bayar Rp 200 ribu sekaligus tanpa DP (down payment), sekarang konsumen bisa bawa pulang furnitur dan elektronik di tempat kami,” ungkap Wahyu kepada Seputarkudus.com waktu ditemui di toko Podojoyonyo Group.

Warga Desa Gribig RT 4 RW 3, Kecamatan Gebog, Kudus, ini mengatakan, terkait syarat pengajuan kredit, katanya, cukup foto kopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) beserta Kartu Keluarga (KK). Menurutnya, proses pengajuan kredit setiap pembelian di Podojoyonyo Group lebih mudah dan cepat. Untuk jangka waktu angsuran, lanjutnya, maksimal selama 15 bulan.

“Selain itu, kami juga ada beberapa promo lain seperti pembelian kasur busa diskon 50 persen. Pembelian sofa ruang tamu dapat potongan harga sebasar Rp 500 ribu. Semua yang saya jual bergaransi, ada yang garansi satu tahun, ada yang garansi sampai 15 tahun, tergantung produk apa yang dibeli,” ujar Wahyu, anak pertama dari tiga bersaudara.

Dia menambahkan, toko yang berlokasi tidak jauh dari Pasar Swalayan ADA buka setiap hari mulai pukul 9.00 WIB hingga 21.00 WIB. Menurutnya, harga springbed yang ditawarkan bagi setiap konsumen mulai harga Rp 1,1 juta untuk ukuran 1,6 x 2 meter. Sedangkan untuk sofa ruang tamu dijual mulai harga Rp 3,8 juta.

“Harga yang kami tawarkan cukup terjangkau, tergantung produk apa dulu yang mau dibeli. Untuk pelanggan, hampir semua yang datang membeli dari wilayah karisidenan Pati. Untuk produk yang dibeli, kami siap mengantarkan sampai ke tujuan pembeli,” tambah Wahyu sambil sesekali mengangkat telepon dari calon pembeli.

- advertisement -

Andri Ajak Anak dan Istrinya ke Plasa Telkom Saat Tim Kesayangannya Masuk Final

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRAMAT – Ratusan orang tampak memenuhi halaman Plasa Telkom Group di Jalan Jendral Sudirman No.66-68, Desa Kramat, Kota Kudus, Minggu (4/6/2017) dini hari. Dalam acara Nonton Bareng (Nobar) Final Liga Champion tersebut, dua klub Italia dan Spanyol dipertemukan, yakni Juventus dengan Real Madrid. Satu di antara pengunjung yang datang, yakni Adrianus Tyas (32). Dia datang bersama anak dan istrinya, untuk mendukung Juventus.

Andri bersama anak dan istrinya saat menonton laga final Liga Champion 2017_6_6
Andri bersama anak dan istrinya saat menonton laga final Liga Champion. Foto: Ahmad Rosyidi

Kepada Seputarkudus.com, dia mengatakan, dia datang bersama keluarga karena memiliki nazar. Dia berjanji akan mengajak serta anak dan istrinya untuk nobar, jika tim kesayangannya masuk ke final Liga Champion.

“Ini saya datang bersama anak dan istri. Dulu saya punya nazar, kalau Juve masuk final saya akan nonton bareng,” ujar Andri saat nonton bersama anak dan istrinya di Plasa Telkom, beberapa hari lalu.

Saat pertandingan sudah dimulai, suara gemuruh sorak-sorak penonton terdengar pada menit ke-20, saat Cristiano Ronaldo berhasil menjebol gawang Nyonya Tua, julukan Juventus. Selebrasi pendukung Real Madrid tidak berselang lama. Pada menit ke-27, pendukung Juventus bergantian melakukan selebrasi lebih meriah dengan menyalakan obor saat Mario Mandzukic mencetak gol penyeimbang. Babak pertama berakhir imbang 1-1.

Andri mengaku kurang puas dengan permainan tengah Juventus. Menurutnya, Paulo Dybala tidak tampil seperti pertandingan sebelumnya. “Lini tengah Juve masih kurang menurut saya, karena Dybala tidak bermain seperti biasanya. Permainannya saya lihat kurang hidup. Dani Alves sudah bagus, tetapi masih belum tampil maksimal juga,” terang warga Desa Mlati Norowito, Kota Kudus itu saat jeda babak pertama.

Berbeda dengan Andri, pendukung Real Madrid, Beni Setiawan (21), mengaku senang dengan lini tengah Real Madrid pada pertengahan babak pertama. Menurutnya permainan tim favoritnya itu semakin membaik jika disbanding awal babak pertama.

Peluit babak kedua dimulai, Real Madrid mulai menguasai pertandingan lebih baik dibandingkan Juventus. Memasuki menit ke-61, Casemiro melepaskan tendangan jarak jauh yang gagal dihentikan Buffon. Bola sempat mengenai kaki Sami Khedira dan mengarah kesudut kanan gawang dan menjadi gol, kedudukan 2-1.

Tiga menit setelah gol Casemiro, Cristiano Ronaldo kembali mencetak gol ke gawang Gianluigi Buffon. Umpan silang Luka Modric disambar Cristiano Ronaldo dari jarak dekat. Tertinggal 1-3, Juventus melakukan tiga pergantian pemain. Juan Cuadrado yang masuk menggantikan Andrea Barzagli menit ke-66 harus keluar lapangan pada menit ke-84 karena menerima dua kartu kuning.

Kehilangan satu pemain membuat Juventus semakin kesulitan mencetak gol ke gawang Real Madrid. Terbukti, Real Madrid menambah gol melalui Marco Asensio pada menit ke-90. Laga berakhir 4-1 untuk kemenangan Real Madrid.

Eko Apriyanto (24), panitia kegiatan nobar, menjelaskan, kegiatan tersebut dilaksanakan oleh Juventus Club Indonesia (JCI) Kudus dan Pena Real Madrid Indonesia (PRMI) Kudus. Acara Nobar yang dihadiri sekitar 700 orang itu diseponsori Super Soccer, Telkom Indonesia, Genz Clothing, Yasika FM, Mie Sedap, The Javana dan akringan Barcode.

- advertisement -

Cerita Berliku Bless Collection, Salah Desain Hingga Ditinggal Sales

0

SEPUTARKUDUS.COM, TUMPANG KRASAK – Di tepi jalan gang Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kudus, tepatnya di depan SD 2 Tumpang Krasak, tampak sebuah rumah bercat hijau. Di ruang belakang rumah tersebut tampak beberapa perempuan sedang sibuk dengan mesin jahit dan selembar kain. Tempat Rumah tersebut yakni tempat produksi aneka pakaian wanita dengan label Bless Collection.

Produksi gamis dan busana muslim di Bless Collection Kudus 2017_6_6
Produksi gamis dan busana muslim di Bless Collection Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Ning Fatimah, pengelola Bless Collection, sudi berbagi kisah tertang awal mula merintis usaha tersebut. Dia mengungkapkan, Bless Collection adalah sebuah label pakaian yang diproduksi serta dirintis oleh orang tuanya sejak 1983. Menurutnya, setelah menikah kedua orang tuanya langsung membuat usaha konveksi. Ibunya mampu membuat pola secara ototdidak dan bapaknya yang bertugas memasarkan pakaian hasil produksi.

Baca juga: Gamis Tapki Produksi Bless Collection Digadang Jadi Trend Seller Lebaran Tahun Ini

“Pakaian hasil produksi dari konveksi orang tuaku dipasarkan ayahku berkeliling ke beberapa daerah di Jawa Tengah, di antaranya Blora, Weleri, Pekalongan, Kendal dan daerah lainnya. Namun setahun produksi dan berjualan pakaian hasilnya impas, tidak untung dan tidak rugi,” ujar dara yang akrab disapa Ning tersebut beberapa lalau.

Warga Desa Tumpang Krasak, Jati, Kudus itu mengatakan, meski impas namun kedua orang tuanya tidak patah arang. Mereka tetap berkarya dengan memproduksi dan menjual aneka jenis pakaian perempuan. Hingga di tahun berikutnya, orang tuanya mampu mendapatkan hasil dari jerih payahnya dan mampu membangun rumah yang awalnya kepang menjadi tembok.

Setelah mampu membangun rumah, tuturnya, orang tuanya tetap memproduksi pakaian dan menjualnya seperti biasa berkelana dari daerah satu ke daerah lain. Namun sayangnya, pada tahun 1995 desain baju yang diproduksi ibunya tak sesuai pangsa pasar. Hal itu mengakibatkan stok barang melimpah dan tidak terjual dan punya utang ke toko kain sebanyak Rp 10 juta.

“Karena stok pakaian yang melimpah tersebut, ibuku meminta tolong tetangga yang kebetulan seorang sales pakaian yang tidak punya barang. Dengan modal kepercayaan sales tersebut bersedia menjual stok pakaian ke Nusa Tenggara Barat. Dan dalam tempao dua pekan, pakaian sebanyak tiga karung besar yang berisi 300 pcs habis terjual dengan pembayaran kontan,” ungkapnya.

Anak keempat dari lima bersaudara itu menuturkan, karena saling menguntungkan kerjasama pun berlanjut dan setahun kemudian orang tuanya mampu membeli kios di Pasar Kliwon Kudus. Sejak punya kios, penjualan pakaian meningkat tajam. Bahkan saat itu orang tuanya punya 10 sales yang mampu menjual ribuan pakaian sepekan.

Dari hasil penjualan yang meningkat tersebut, kata Ning, pada tahun 2005 kedua orang tuanya dan eyangnya mampu naik haji. Namun sepulang dari haji, tepatnya pada tahun 2006, beberapa salesnya berhenti memasarkan produk pakaian orang tuanya. Mereka juga meninggalkan utang antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per orang. “Saat itulah kedua orang tuaku merasa berada dititik terendah dalam menjalankan usaha,” ujarnya.

Namun, kata dia, orang tuanya tetap memproduksi pakaian perempuan dan dipasarkannya sendiri ke beberapa daerah tetangga dan toko di Pasar Kliwon. Bahkan dia mengaku sudah dewasa dan ikut memasarkan pakaian itu secara keliling menemani ibunya.

“Dengan perjuangan tanpa menyerah itu, pada tahun 2016 Pemerintah Kudus mengajak orang tuaku untuk ikut beberapa pameran di Kudus dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Sehingga produk pakaian orang tuaku dikenal di banyak daerah. Sejak itu produksi dan penjualan pakaian milik orang tuaku mulai stabil. Dan mampu membiayai beberapa anaknya termasuk diriku untuk kuliah,” ujarnya.

- advertisement -

Ponpes Yanbu’ul Quran Anak-Anak Kudus Gunakan Metode Klasik Hafalkan Al-Quran

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Dengan mengenakan seragam warga ungu putih bersarung hijau, sejumlah anak terlihat berbondong-bondong membawa Al-Quran menuju lantai dua Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-anak Putra, Kudus. Selain itu, mereka ada juga yang berjalan menuju musala pondok untuk setoran hafalan kepada masing-masing ustaz.

Santri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus menyetor hafalan 2017_6_6
Santri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Kudus menyetor hafalan. Foto: Imam Arwindra

Sementara itu di lantai dua gedung pondok, santri berusia antara 6-7 tahun, terlihat mengulang-ulang bacaan ayat Al-Quran yang akan disetorkan. Satu demi satu mereka melantunkan hasil hafalannya kepada ustaz . Hafalan yang dilakukan menurut pengurus Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Anak-anak Putra, Moh Asyroful Khotim, setiap pertemuan menyetor hafalan antara dua hingga lima juz. Dalam sehari, dirinya menyebutkan terdapat tiga kali pertemuan kegiatan belajar mengajar Al quran.

Baca juga: Santri Yanbu’ul Qur’an Kudus Anak-Anak, Datang Dari Sabang Hingga Merauke Menghafal Al-Quran

“Mereka tidak merasa kesulitan. Karena sudah biasa. Kalau di sini metode yang digunakan yakni metode klasik,” ungkapnya saat ditemui di Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Anak-anak Putra, Jalan KH. Muhammad Arwani, Krandon, Kudus, beberapa waktu lalu.

Dia menjelaskan, metode klasik yang digunakan untuk menghafal Al-Quran yakni dengan cara musyafahah, resitasi, takrir dan mudarasah. Setiap hari para santri diminta untuk mengulang hasil hafalannya kepada ustaz. Metode ini menurut Asyroful Khotim, menginginkan santrinya benar-benar bisa membaca Al-Quran secara bil ghoib (hafal). Selain itu, santri juga diharapkan bisa membaca Al-Quran (khatam binnadhor) sesuai dengan tajwid yang benar.

“Menghafal Al-Quran juga ada yang menggunakan metode modern, enam bulan sudah khatam. Namun ya sudah benar-benar khatam atau khatamnya hanya menghafal bukan membaca,” ungkapnya.

Asyroful Khotim menerangkan, ada beberapa metode modern menghafal Al-Quran hanya dengan mendengar tidak membaca. Menurutnya, hal tersebut sangat berbahaya ketika anak yang menghafalkan Al-Quran sudah dewasa. Kelak ketika diminta mengajar Al-Quran, dia tidak bisa menjelaskan bacaan ayat Al-Quran. “Syarat untuk masuk di sini harus bisa membaca Al-Quran. Itu syarat mutlak,” tambahnya.

Dalam kegiatan belajar menghafal Al-Quran, dia memberitahukan setiap pertemuan maksimal setor lima juz kepada ustaz. Menurutnya, setiap terdapat tiga kali pertemuan. Target lima juz tersebut dianggapnya sudah sesuai dengan kondisi dan tenaga anak usia enam hingga tujuh tahun. “Setiap satu ustaz membimbing 10 anak,” terangnya.

Pemberlakuan target hafalan tersebut diberikan saat anak sudah terbiasa menghafal. Menurutnya, untuk santri baru, pihaknya memberikan target hafalan surat-surat pendek di juz 29 dan 30 saja. Hal tersebut diakuinya sesuai perintah KH Ulin Nuha Arwani dan KH Ulil Albab Arwani yang menyesuaikan dengan nafas anak-anak.

“Untuk yang baru, lima ayat atau empat sampai lima baris. Ini juga berlaku untuk santri yang masih dikarantina. Nanti kalau sudah selesai, akan langsung memulai dari juz satu” ungkapnya.

Menurut Asyroful Khotim, setiap tahun terdapat 50 anak yang menjadi santri Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-anak Putra. Sebagian besar mereka khatam 30 juz dengan waktu belajar selama empat hingga lima tahun. Namun diakuinya ada juga anak yang baru dua tahun belajar sudah khatam. Menurutnya, anak-anak tersebut kategori anak yang cerdas, penurut dan taat pada peraturan pondok. “Dan yang tak kalah penting, ada ikhtiyar orang tuanya ikhlas anaknya belajar,” tambahnya.

Selain menghafal Al-Quran, santri yang berjumlah 316 anak juga sekolah formal di MI NU Tahfidhul Qur’an Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) dari pukul 07.30 WIB hingga 12.00 WIB. Mereka belajar 28 mata pelajaran seperti sekolah formal pada umumnya. “Sekolah dan pondok masih satu komplek. Jadi siswa tidak akan keluar dari gerbang,” jelasnya yang sudah menjadi pengurus pondok selama enam tahun.

- advertisement -

Santri Yanbu’ul Qur’an Kudus Anak-Anak, Datang Dari Sabang Hingga Merauke Menghafal Al-Quran

0

SEPUTARKUDUS.COM,  KRANDON –  Musala di dalam Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-Anak Putra Kabupaten Kudus terlihat penuh dengan ratusan anak yang akan melaksanakan salat Ashar. Mereka telihat baris di setiap saf, sementara beberapa ustaz bersarung terlihat mengarahkan. Sesekali mereka diingatkan untuk beberapa gerakan salat yang dianggap kurang sesuai. Anak-anak yang sedang belajar salat tersebut yakni para santri penghafal Al-Quran di pondok tersebut.

Anak-anak penghafal Al-Quran di Ponpes Yanbuul Quran Kudus 2017_6_5
Anak-anak penghafal Al-Quran di Ponpes Yanbuul Quran Kudus. Foto: Imam Arwindra

Menurut Pondok Tahfidh Yanbu’ul Qur’an Anak-Anak Putra, Moh Asyroful Khotim, selain belajar menghafal A-Quran, anak-anak yang usianya rata-rata tujuh tahun tersebut juga belajar salat, bertata karma baik dan mandiri. Dia menjelaskan, santri yang sebanyak 316 anak di pondok tersebut berasal dari Sabang sampai Merauke.

“Memang benar dari Sabang sampai Merauke. Karena hampir setiap  daerah di Indonesia ada perwakilan, meskipun hanya satu anak,” ungkap Asroful saat ditemui di kantor pondok, beberapa waktu lalu.

Dirinya memberitahukan, santri di pondok tersebut ada yang berasal dari Bali, Banyuwangi, Banten, Kalimantan dan Sulawesi. Namun santri yang mondok di Yanbu’ul Qur’an Anak-Anak Putra didominasi dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Menurutnya, setiap tahun pondok menerima 50 santri yang sudah lulus seleksi tahap satu dan dua. “Ajaran 2017-2018 sudah dilakukan 21 Mei 2017. Ini sudah seleksi tahap dua yakni karantina,” tuturnya.

Pada pendaftaran tahun ajaran 2017-2018, pihaknya menerima pendaftar 160 anak. Setelah dilakukan seleksi tahap satu tersisa 66 anak yang mengikuti tahap kedua yakni karantina selama 21 hari. Anak-anak yang berusia antara enam hingga tujuh tahun akan dinilai perkembangan bacaan Al-Quran, daya ingatan hafalan dan sikapnya selama di pondok. Dan yang terpenting anak tersebut bisa mandiri. “Nantinya akan diambil 50 anak dan 16 anak dipulangkan,” jelasnya.

Seleksi yang dilakukan menurutnya sudah sesuai dengan ketentuan pondok. Adanya pemahaman masyarakat yang dianggap dipersulit untuk belajar di Yanbu’ul Qur’an, menurutnya tidak benar. Pihaknya melakukan seleksi secara selektif supaya anak benar-benar sudah siap. Jika , jika anak tidak siap, mereka akan tertekan dan berakibat malas dalam menghafal Al-Quran.

“Jadi  tidak ada dipersulit. Ini untuk tujuan anak supaya benar-benar siap. Siap menghafal, mental dan tidak manja lagi dengan orang tuanya,” ungkapnya.

Setelah lulus seleksi tahap kedua, katanya, mulai hari Senin 12 Juni 2017, anak-anak tersebut akan resmi menjadi santri di Yanbu’ul Qur’an anak-anak. Mereka akan belajar menghafal Al-Quran hingga khatam 30 juz. Namun berjalannya waktu dalam setahun anak tidak memenuhi target hafalan dan diindikasi tidak mempu mengembangkan kompetensinya, maka tanggung jawab pendidikan akan diserahkan kembali kepada orang tua.

“Untuk khatam 30 juz biasanya empat sampai lima tahun. Namun ada juga anak yang baru dua tahun sudah khatam,” terangnya.

Asyroful Khotim memberitahukan, pondok Pesantren Yanbu’ul Quran yang dibawah naungan Yayasan Arwaniyyah memiliki delapan unit pesantren di Kudus. Yakni Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Dewasa Putra dan Putri,  Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran remaja putra di Bejen, Pondok Tahfidh Yanbu’ul Quran Anak-anak Putra di Krandon dan Pondok Tahfidh Yanabi’ul Quran Anak-Anak Putri di Karangmalang Gebog.

Selain itu, ada Pondok MTs dan MA Tahfidh Yanbu’ul Quran Putra di Menawan, Ma’had Al Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Quran (MUS-YQ) Lil Banin di Kwanaran dan Ma’had Al Ulumisy Syar’iyyah Yanbu’ul Quran (MUS-YQ) Lil Banat di Kerjasan.

“Di luar Kudus, Yayasan Arwaniyyah juga memiliki unit di Pati dan Batam. Untuk di Pati membuat SMP namun masih proses, sedangkan di Batam sudah ada namun untuk para pekerja yang ingin belajar menghafal Al-Quran. Di Batam kan banyak pekerja dari luar kota. Mereka diberikan tempat untuk belajar menghafal Al-Quran. Jadi bekerja sambil menghafalkan Al-Quran,” tambahnya.

- advertisement -

Gamis Tapki Produksi Bless Collection Digadang Jadi Trend Seller Lebaran Tahun Ini

0

SEPUTARKUDUS.COM, TUMPANG KRASAK – Di ruang tamu rumah di Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kudus tampak puluhan pakaian perempuan tergantung di hanger. Di anatara pakaian tersebut tampak sebuah gamis dengan kombinasi resleting di depan, serta beberapa kancing berlapis kain dengan warna senada dengan warna gamis. Gamis tersebut bernama gamis tapki hasil produksi Bless Collection yang digadang menjadi tren penjualan Lebaran tahun ini.

Ning Fatimah, pemilik Bless Colection 2017_6_5
Ning Fatimah, pemilik Bless Collection. Foto: Rabu Sipan

Menurut Ning Fatimah (23), pengelola sekaligus putri perintis Bless Collection mengungkapkan, Lebaran tahun lalu Gamis Tapki juga sudah menjadi pakaian yang banyak dipesan para pelanggannya. Dan hal tersebut diperkirakan berlanjut di Lebaran tahun ini, karena sebelum Ramadan, Bless Colection sudah lima kali produksi gamis model tersebut.

“Setiap pesanan itu berkisar dari 150 pcs hingga 200 pcs gamis tapki. Berarti sebulan sebelum puasa kami sudah memproduksi tidak kurang dari 750 pcs. Saat Ramadan kami juga sempat mendapatkan order 200 pcs dan dalam tempo empat hari sudah ludes semua,” ujar Ning kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Mahasiswi Universitas Muria Kudus (UMK) jurusan Ekonomi Manajemen semester enam itu mengatakan, saat ini dirinya bersama kakak dan ibunya sedang mendesain gamis syar’i dan blouse. Dia berharap produksi dua pakaiannya tersebut bisa diterima pasar dan diminati kaum hawa.

Dia mengatakan, selain memproduksi gamis tapki, Bless Colection juga memproduksi beberapa pakaian khusus perempuan. Untuk gamis tapki yang dijual antara Rp 100 ribu sampai Rp 115 ribu per pcs. Selain itu ada gamis penuh motif yang dibandrol mulai Rp 90 ribu hingga Rp 100 ribu per pcs, dan Tunik Diamond dijualnya dengan harga Rp 90 ribu per pcs.

“Khusus untuk Tunik Diamond, selama Ramadan ini kami mendapatkan order dari satu toko di Pasar Kliwon agar mengirim pakaian tersebut sebanyak-banyaknya. Namun karena keterbatasan sumber daya serta modal kami mengirim semampu kami,” ujar perempuan lajang tersebut.

Dia mengaku, produksi serta penjualan aneka pakaian perempuan di Bless Collection di Bulan Ramadan ini meningkat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Namun jumlah tersebut masih belum seberapa dibanding tahun lalu. Soalnya di tahun lalu, tuturnya, dia bersama ibu, kakak serta keluarganya sering lembur, dan tidur hanya sebentar agar bisa memenuhi orderan dari para pelanggan.

“Meski begitu kami tetap bersyukur masih bisa mendapatkan order hingga masih bisa produksi. Soalnya di tahun ini ekonomi lagi susah, bahkan banyak usaha serupa yang lebih besar malah memilih berhenti produksi. Oleh sebab itulah kami bersyukur dan sebisa mungkin agar usaha yang dirintis orang tuaku jangan sampai berhenti, tetap berkarya dan semoga saja makin berkembang,” ujarnya sambil tersenyum.

- advertisement -

Sediakan Puluhan Jenis Kain, Toko Nana Jaya Diklaim Toko Kain Terlengkap di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Di tepi timur Jalan HM Subchan ZE Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus tampak bangunan dengan rolling door terbuka. Di dalam bangunan terlihat ratusan rol kain yang tertata di rak kayu serta sebagian menumpuk di tengah bangunan. Tempat tersebut yakni Toko Nana Jaya yang diklaim sebagai toko kain terlengkap di Kudus.

Toko Nana Jaya Jalan Subchan ZE Kudus 2017_6
Toko Nana Jaya Jalan Subchan ZE Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Fiki Ismah (36) selaku pemilik Toko Nana itu mengungkapkan, tokonya tersebut memang dikenal sebagai toko kain terlengkap di Kota Kretek. Klaim tersebut bukan dari dirinya, melainkan dari para pembeli dan para pelanggannya. Menurutnya, Toko Nana memang terbilang lengkap, karena tokonya tersebut menyediakan lebih dari 30 macam jenis kain.

Baca juga: Ramadan Kali Ini Toko Nana Jaya Bisa Jual 30 Rol Kain Sehari

“Di toko ku ini menjual lebih dari 30 jenis kain. Di antaranya. Kain PE, Kain Lakos PE, Kain Melamin, kain Fleece, Combat, Combat 24S, Combat 30 S, Kain Premium, Cardet Premium, Kain Hyget, Kain Diadora, Kain Adidas, Kain Lotto, dan masih banyak lainnya lagi. Pokoknya jenis kainnya itu lebih 30,” jelas perempuan yang akrab disapa Fiki kepada seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Perempuan Warga Desa Janggalan, Kota, Kudus itu mengatakan, selain jenis kain yang lengkap, kain-kain tersebut juga tersedia dengan berbagai pilihan warna. Menurutnya, di tokonya tersebut khusus menjual kain bahan untuk pembuatan kaus dan celana untuk olah raga. Bukan kain untuk pembuatan gaun, baju, celana kantoran dan lainnya.

“Pokoknya kain untuk pembuatan kaus dan celana olah raga dan kaus-kaus lainnya, di Toko Nana Jaya Gudangnya. Semuanya tersedia pilihan warna juga lengkap. Melayani pembelian grosir maupun ecer. Untuk pembelian grosir harganya dihitung per kilogram dan ecer dihitung per meter,” ujarnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, sebenarnya dirinya itu generasi kedua pemilik Toko Nana Jaya. Menurutnya, toko tersebut dirintis oleh ayahnya pada tahun 1982. Dan setelah ayahnya meninggal pada tahun 2003, Toko Nana Jaya yang berada di Kudus diwariskan padanya. Karena selain di Kudus, Toko Nana Jaya juga ada di Jepara yang dikelola ibunya, dan di Pati dikelola oleh adiknya.

Dia menuturkan, pada waktu dulu Toko Nana Jaya persediaan kainnya belum selengkap sekarang. Saat masih dikelola ayahnya di toko miliknya tersebut paling tersedia sekitar 10 aneka jenis kain. Dan sejak dia kelaola toko tersebut menyediakan lebih dari 30 aneka jenis kain dengan pilihan warna yang lengkap.

“Dulu ayahku punya tiga bos yang menyuplai kain di Toko Nana Jaya. Sejak aku kelola, sekarang ada sekitar delapan bos yang menyuplai kain di tokoku, dan semuanya dari Bandung. Sekarang pelangganku juga tidak hanya dari Kudus, melainkan seluruh wilayah Karesidenan Pati, dan Semarang. Dan aku mampu menjual ratusan kilogram kain sehari,” ujarnya.

- advertisement -

Di Batialit Tak Ada Menara Pandang, Fitriyani Ajak Temannya Ke Bukit Nggeneng Rahtawu

0
Menara pandang di Bukit Nggeneng, Desa Rahtawu, Kudus 2017_6_3
Menara pandang di Bukit Nggeneng, Desa Rahtawu, Kudus. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, RAHTAWU – Bangunan tujuh meter berbahan bambu tampak berdiri kokoh di Bukit Nggeneng  Dukuh Jambu Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus. Bangunan yang terdiri dari tiga lantai terlihat ramai digunakan sejumlah orang untuk berswafoto. Para pengagum panorama alam tersebut juga tak melewatkan rumah pohon tak jauh darigardu pandang tersebut, untuk mendapatkan foto terbaik dari ketinggian sembilan meter.

Kepada Seputarkudus.com, pengunjung Bukit Nggeneng, Fitriyani (19) sudi berbagi penjelasan dan kesan tentang lokasi wisata di ujung utara Kudus tersebut. Dia mengatakan, lokasi bukit berada sekitar 800 meter dari Kantor Kepala Desa Rahtawu. Dengan menaiki motor, dirinya harus melewati jalur aspal menanjak menuju bukit. Ketika sampai di lokasi, dia mengaku kagum dengan suasana alam Desa Rahtawu yang indah. Dia bisa melihat rimbunan pepohonan dan keindahan bukit-bukit Pegunungan Muria.

“Tempatnya bagus unik, menarik dan alamnya indah. Di Batealit (Jepara) tidak ada,” ungkapnya saat ditemui di lokasi beberapa waktu lalu.

Fitriyani bersama lima temannya datang dari dari Batealit, Jepara. Dia mengungkapkan, di daerahnya belum tersedia wisata menara pandang. Menurutnya, yang sudah ada yakni di antaranya wisata hutan pinus dan air terjun. Karena sedang ramai dibincangkan di sosial media, dirinya ingin mencoba sensasi berwisata menara pandang di Bukit Nggeneng Rahtawu. “Ya biasa anak muda. Kami mencari yang sedang ngehits,” tuturnya sambil tertawa.

Menurutnya, selama berada di atas gardu pandang, dia ingin berlama-lama menikmati indahnya alam Rahtawu. Selain udaranya yang sejuk, lokasinya pun jauh dari bisingnya lalu lalang kehidupan perkotaan. Fitriyani mengaku baru pertama kali datang ke Rahtawu. Jika ada kesempatan dirinya akan datang kembali untuk menikmati indahnya alam Rahtawu.

“Memang niatnya ke sini (Bukit Nggeneng Rahtawu). Tadi  ceritanya  kita sempat kesasar ke arah Puncak Songolikur,” tambahnya.

Sementara itu, pengelola wisata Bukit Nggeneng Rahtawu Agus Siswanto mengungkapkan, wisata Bukit Nggeneng Rahtawu mulai rancangnya satu bulan yang lalu. Sebenarnya hingga sekarang fasilitas wisata yang disediakan belum lengkap sesuai perencanaan. Namun karena ada beberapa yang sudah jadi, para wisatawan sudah berbondong-bondong untuk berkunjung. “Ini sebenarnya belum selesai semua. Pas pembangunan menara pandang saja sudah ada yang ingin naik untuk berselfie (swafoto),” ungkapnya.

Diakuinya hal tersebut setelah foto pembangunan menara pandang diunggahnya di akun sosial media. Setelah itu, banyak pengunjung yang datang untuk berfoto. Agus menjelaskan, saat ini di Bukit Nggeneng Rahtawu terdapat menara pandang setinggi tujuh meter, rumah pohon setinggi enam meter dan rumah Masha yang berada di atas pohon berukuran 2,25 meter x 2,5 meter.

“Sebenarnya nama Rumah Masha itu yang memberi nama pengunjung sendiri. Kalau kami dulu beri nama Rumah Pohon Beratap. Namun ya sudahlah ikut keinginan pengunjung saja. Alasannya sih rumahnya sama milik Masha dalam serial kartun Masha and The Bear,” jelasnya.

Selain itu, juga sudah ada flying fox dan camping ground. Menurutnya, untuk flying fox sejauh 35 meter bersifat sementara saja. Nantinya flying fox akan dirubah sejauh 60 meter dengan perekat antarpohon besar. Dan tempat yang semula flying fox akan menjadi fly hammock. “Untuk toilet sudah ada. Ini kami baru mengecor pembangunan kafe,” tambahnya.

Agus melanjutkan, tema wisata yang diberinya nama The View of Bukit Nggeneng menurutnya tidak hanya memberikan konsep wisata swafoto saja, melainkan wisata aktivitas. Dia melanjutkan, wisata yang dikelola secara swadaya menurutnya akan dibuatkan lokasi outbond. Selain itu, juga ada homestay yang lokasinya masih satu komplek di Bukit Nggeneng.

“Untuk biaya masuknya Rp 5 ribu. Pengunjung bisa swafoto sepuasnya di lokasi wisata. Namun untuk flying fox kita kenakan biaya sendiri Rp 10 ribu,” jelasnya.

- advertisement -

Ramadan Kali Ini Toko Nana Jaya Bisa Jual 30 Rol Kain Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Beberapa pekerja tampak sibuk menyiapkan kain yang dipesan para pembeli di Toko Nana Jaya yang berada di Desa Janggalan, Kecamatan Kota, Kudus. Di pojok toko tersebut terlihat seorang perempuan mengenakan jilbab sedang duduk mengawasi kegiatan di toko tersebut. Sesekali dia tampak memberi intruksi atau memanggil para pekerjanya lewat pengeras suara. Perempuan tersebut bernama Fiki Ismah (36), pemilik toko kain yang diklaim terlengkap di Kudus.

Toko kain Nana Jaya di Kudus 2017_6_3
Toko kain Nana Jaya di Kudus. Foto: Rabu Sipan

Perempuan yang akrab disapa Fiki itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penjualan selama Bulan Ramadan. Dia mengungkapkan, Toko Nana miliknya menjual aneka jenis kain, namun tidak menjual bahan untuk gamis dan baju muslim. Meski begitu penjualan kain di tokonya tersebut mengalami peningkatan di bulan puasa.

“Meski tokoku tidak menjual kain untuk bahan pembuatan gamis dan pakain muslim, namun pada bulan Ramadan ini penjualan kain meningkat. Sebelum bulan puasa aku biasanya mampu menjual sekitar 10 hingga 15 rol kain. Saat bulan puasa ini aku mampu menjual lebih dari 30 rol sehari,” ujarnya.

Dia mengungkapkan, satu rol kain tersebut beratnya sekitar 25 kilogram. Dan jika sehari mampu menjual 30 rol saja serta dikali 25 kilogram itu totalnya ada 750 kilogram. Jadi Toko Nana di Bulan Ramadan ini mampu menjual kain hampir satu ton sehari.

Dia menuturkan, tokonya tersebut menyediakan aneka jenis kain. Di antaranya kain PE yang dijual dengan harga Rp 46 ribu hingga 50 ribu per kilogram. Kain Higet dijual mulai Rp 42 ribu sampai Rp 45 ribu, katun dibandrol mulai Rp 95 ribu hingga Rp 97 ribu per kilogram serta masih banyak jenis kain lainnya.

“Aneka kain tersebut untuk bahan kaus. Di antaranya, kaus olahraga, kaus seragam komunitas, kaus seragam pekerja dan lain sebagaianya. Kenaikan penjualan tersebut dikarenakan bulan puasa tahun ini juga bertepatan dengan tahun ajaran baru sekolah. Jadi banyak pemilik usaha konveksi kaus olahraga yang berbelanja di Toko Nana dan tentu akan mendongkrak penjualan,” ujarnya.

Perempuan yang sudah dkaruniai dua anak itu mengatakan, sebenarnya hampir setiap tahun ajaran baru pasti bertepatan dengan bulan puasa. Dan hal tersebut seolah menjadi berkah tersendiri bagi dirinya. Dia mengaku menjual aneka kain dagangannya tersebut secara grosir maupun ecer. Untuk mendapatkan harga grosir pelanggan harus membeli kain minimal satu kilogram.

“Untuk mendapatkan harga grosir pembelian minimal satu kilogram. Sedangkan pembelian kurang dari berat tersebut harga kain akan dibandrol dengan harga per meter,” ujarnya dan kemudian mengangkat telpon.

- advertisement -

Sumiyatun Siap Mundur dari PNS Usai Dapat Dukungan 8 PAC PDI Perjuangan

0

SEPUTARKUDUS.COM, PEGANJARAN – Suara teriakan terdengar dari gang masuk barat SPBU Peganjaran Jalan Panjang Lingkar Utara Desa Peganjaran, Bae, Kudus. Teriakan tersebut dari puluhan orang berbaju merah. Mereka tampak mengepalkan tangan ke atas sambil membawa baner bertuliskan ‘Pengurus Ranting dan PAC PDI Perjuangan Siap Mendukung dan Mengusung Hj Sumiyatun, S.H Sebagai Calon Bupati Kudus 2018’.

Bakal calon bupati Kudus 2018 Sumiyatun mendapat dukungan 8 PAC PDI Perjuangan 2017_8
Bakal calon bupati Kudus 2018 Sumiyatun mendapat dukungan 8 PAC PDI Perjuangan. Foto: Imam Arwindra

Mereka adalah perwakilan delapan Pengurus Anak Cabang (PAC) serta Pengurus Ranting PDI Perjuangan Kudus. Mereka ingin Kepala Dinas Perumahan Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (PKPLH) Kudus Sumiyatun menjadi calon Bupati Kudus periode 2018-2022 dari partainya.

Tak lama berselang, perwakilan PAC tersebut menyerahkan map warna merah berisi dukungan kepada Sumiyatun. Farid Ghozali Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Gebog menuturkan, bersama tujuh PAC lainnya, dia menginginkan Sumiyatun untuk menjadi calon Bupati Kudus dari partainya. Menurutnya, pernyataan sikap tersebut juga didukung hampir 100 ranting dari jumlah 132 desa di Kudus.

“Delapan PAC (PDI Perjuangan) mendukung Hajah Sumiyatun untuk menjadi bakal calon Bupati Kudus. Minus Undaan (PAC PDIP Kecamatan Undaan),” ungkapnya saat ditemui di depan rumah Sumiyatun, Desa Peganjaran, Bae, Kudus, Kamis (1/6/2017).

Farid melanjutkan, dalam rapat penjaringan bakal calon nanti, pihaknya menginginkan Sumiyatun yang berlatar belakang birokrat dipasangkan dengan kader PDI Perjuangan. Hal tersebut karena Sumiyatun yang masih menjabat sebagai Kepala Dinas PKPLH dianggap berprestasi. Dia mengatakan, munculnya nama Sumiyatun merupakan aspirasi masyarakat.

“Ibu Hajah Sumiyatun kinerjanya baik di dinas. Prestasinya juga baik mendapatkan tiga Adipura Nasional dan piala presiden. Selain itu beliau berhasil mengubah wajah Kudus. Meski beliau PNS, komunikasi dengan kader pengurus PAC dan Ranting (PDI Perjuangan Kudus) juga baik. Beliau juga komitmen untuk membesarkan partai bahkan siap menjadi kader partai. Geh kan bu?,” tuturnya sambil menghadap ke arah wajah Sumiyatun yang berdiri tepat di sisinya.

Menurutnya, sesuai Pasal 11 ayat 1 poin A peraturan PDI Perjuangan Nomor 4 Tahun 2015 tentang Rekrutmen dan Seleksi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, setiap PAC di kota maupun kabupaten bisa mengusulkan sebanyak-banyaknya dua bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Pengusulan nama bakal calon kepala daerah dan wakil kepala daerah harus sesuai syarat ketentuan partai dan juga memperhatikan usulan kader.

Saat ditanya tentang pencalonan Ketua DPRD Kudus Masan sebagai bakal calon Bupati Kudus, Farid mengungkapkan Masan tidak bisa mencalonkan atau dicalonkan dari PDI Perjuangan selama masih menjadi pimpinan DPRD. Hal tersebut menurutnya sudah diatur dalam perturan partai Pasal 6 ayat 1 peraturan partai Nomor 4 Tahun 2015.

Dia menyebutkan, dalam pasal tersebut berbunyi pimpinan DPRD kabupaten atau kota dan Pimpinan DPRD propinsi dilarang untuk mencalonkan atau dicalonkan sebagai calon kepala daerah dan wakil kepala daerah. Mengingat jabatan tersebut strategis di dalam partai. Hal tersebut guna menciptkan kebijakan partai menjadi kebijakan pemerintah daerah.

“Kalau mundur (dari pimpinan DPRD Kudus) sebelum penjaringan kami bisa mengusulkan. Tapi ini delapan PAC tetap mengusulkan Hajah Sumiyatun,” jelasnya.

Sumiyatun yang berada dilokasi mengungkapkan, dirinya siap jika dicalonkan menjadi calon bupati Kudus. Bahkan lebih jauh, dirinya siap keluar dari PNS bila hal tersebut sesuai dengan peraturan untuk menjadi calon kepala daerah. “Ini kehendak masyarakat. Saya siap sesuai aturan,” tegasnya.

- advertisement -