Beranda blog Halaman 1890

Dayat Rasakan Berkahnya Ramadan Saat Sambangi Rumah Yatim di Karangrowo

0

SEPUTARKUDUS.COM, KARANGROWO – Puluhan anak terlihat gembira usai mendapat hadiah saat diselenggarakannya kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan Unit Kreatifitas Mahasiswa (UKM) Jurnalistik Universitas Muria Kudus (UMK). Kegiatan yang dilaksanakan di Rumah Yatim Darul Ulum Al-Qudsy, Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kudus tersebut diikuti sekitar 35 anak.

UKM Jurnalistik UMK Gelar buka bersama di Rumah Yatim Darul Ulum Al-Qudsy 2017_6
UKM Jurnalistik UMK Gelar buka bersama di Rumah Yatim Darul Ulum Al-Qudsy. Foto: Ahmad Rosyidi

Jaya Retriyansyah (22), Ketua UKM Jurnalistik UMK, mengungkapkan, kegiatan tersebut menjadi acara rutin satu tahun sekali. Berawal dari kurang produktifnya organisasi yang dipimpinnya waktu itu, dia berinisiatif untuk melakukan kegiatan bakti sosial. Dia berharap organisasinya akan mendapat berkah dan bisa lebih berkembang.

“UKM Jurnalis ada dua devisi, yaitu Broadcasting dan Pena Kampus. Waktu itu saya ketua Broadcasting, dan saya rasa organisasinya kurang aktif karena banyak kendala. Kemudian saya berinisiatif membuat kegiatan santunan anak yatim. Karena saya rasakan berkahnya, organisasi bisa lebih baik, sekarang saya jadi ketua UKM Jurnalistik dan saya agendakan santunan lagi,” terang Jaya kepada Seputarkudus.com saat berlangsungnya acara beberapa waktu lalu.

Dayat, sapaan akrabnya, juga menjelaskan, kegiatan bakti sosial yang kedua dengan bertajuk Mewarnai Panti Dengan Pelangi Illahi (Merpati) tersebut, akan menjadi kegiatan rutin setiap tahun di akhir periode UKM Jurnalistik.  Dia memilih Rumah Yatim Darul Ulum Al-Qudsy karena dinilai lebih membutuhkan.

“Yayasan yatim piyatu yang besar kemungkinan kebutuhannya sudah tercukupi. Selain itu, anaknya banyak, sehingga nominalnya menjadi lebih sedikit peranaknya,” tuturnya.

Kegiatan yang dimulai pukul 14.00 WIB itu dibuka dengan permainan dan pembagian hadiah. Kemudian dilanjutkan santunan anak yatim, mendongeng, dan ditutup dengan buka bersama. “Kami menyiapkan 50 hadiah, agar semua anak kebagian. Untuk amplop kami membagikan 35,” tambahnya.

Idris Ahmadi (27), penanggungjawab Rumah Yatim Darul Ulum Al-Qudsy, mengungkapkan, Rumah Yatim tersebut berdiri sejak tahun 2010. “Saat ini ada 22 anak yatim, tujuh dari Brebes dan yang lain masyarakat sekitar. Tujuh anak dari Brebes yang di asrama wajib menghafal Al-Quran,” paparnya.

Dia juga menjelaskan, sudah ada donatur yang siap membiayai para penghuni Rumah Yatim hingga perguruan tinggi. Namun dengan syarat anak tersebut minimal hafal 2 Juz. Sehingga mereka diwajibkan tinggal di asrama. “Di yayasan Darul Ulum Al-Qudsy selain Rumah Yatim juga adaTPQ, Madrasah Diniyah, Awaliyah atau setara MI dan Wusto setara MTS. Jadi anak-anak juga sekolah di sini,” tambahnya.

- advertisement -

Dinas Kesehatan Kudus Pindah di Jalan Ganesha, Purwosari

0

SEPUTARKUDUS.COM, NGANGUK – Lembaran kertas dan beberapa kursi masih tergeletak di dalam ruangan kosong di Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, Jalan Diponegoro. Beberapa perabotan di antaranya lemari, kursi dan meja terlihat diangkat menuju mobil pikap di halaman.  Sisa perabotan tersebut akan dibawa menuju kantor sementara di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Kudus, Jalan Ganesha, Kelurahan Purwosari.

Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus di Purwosari 2017_6
Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus di Purwosari. Foto: Imam Arwindra

Menurut Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus Rudi Hermawan Prihatmanto, kantor lama yang berada di Jalan Diponegoro sedang dilakukan pembenahan. Menurut Rudi, ketika pembangunan kantor lama sudah selesai, pihaknya akan kembali melakukan pelayanan di kantor lama. “Ini pindah sementara saja. Kantornya sudah sesak. Kalau mau parkir saja sudah padat,” ungkapnya saat ditemui di kantor sementara Labkesda Kudus, beberapa waktu lalu.

Rudi menjelaskan, sebenarnya renovasi kantor Dinas Kesahatan Kudus sudah direncakankan sejak tahun 2008. Namun berjalan waktu akhirnya rencana tersebut dapat terealisasi di tahun 2017. Menurut Rudi, pekerjaan pembangunan akan mulai dikerjakan tanggal 8 Juni 2017 dan akan berakhir di bulan Oktober 2017. “Anggaranya sesuai pagu Rp 2,8 miliar. Ini sudah selesai lelang,” jelasnya.

Selama kantor dinas lama direnovasi, semua pelayanan di Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus ditempatkan di Labkesda Kudus. Menurutnya, perpindahan secara resmi dilakukannya sejak Senin (5/6/2017). Sebelum itu, pihaknya mengaku sudah memindahkan barang sedikit demi sedikit sebelum bulan Ramadan. “Barang-barang dipindah malah sebelum bulan puasa. Ya bisa dikatakan nyicil lah. Supaya nanti saat resmi pindah bisa langsung pelayanan,” ungkapnya.

Dalam pembangunan dijelaskan, fokus utama pembangunan yakni perluasan lahan parkir. Menurutnya, beberapa bangunan ada yang hanya direhab namuan ada pula yang dihancurkan. Dicontohkan, ruangan yang biasa ditempati Kepala Dinas dan Sekretaris Dinas di bangunan sisi utara sebelah timur. Menurutnya bangunan tersebut dihancurkan dan akan dibuat tambahan lahan parkir. Rencananya nanti, dirinya bersama kepala dinas akan menempati ruangan dua lantai yang sekarang berada di bawah musala.

“Tetap nanti saya di lantai bawah. Supaya lebih mudah. Kan biasa juga untuk menerima tamu,” tambahnya sambil menggambarkan denah bangunan.

Dia berharap, adanya kegiatan rehabilitasi kantor dinas nantinya bisa melayani masyarakat secara maksimal dan lebih nyaman. Masyarakat dapat menaruh kendaraan di lokasi parkir dan tidak meluber di tepi jalan. Menurutnya, selama ini yang dikeluhkan yakni tempat parkir. “Kalau sedang ramai bisa macet. Karena depan dinas kan jalannya nikung,” terangnya.

- advertisement -

Masjid Baitul Mu’minin, Masjid Megah dan Indah Berlantai Dua Yang Dibangun Secara Swadaya

0

SEPUTARKUDUS.COM, UNDAAN LOR – Ruang utama bangunan masjid ini berbentuk limas, dan terdapat sebuah cungkup di bagian atasnya. Sisi serambi masjid terdapat kubah setengah lingkaran berwarna hijau. Tampak sekeliling dinding masjid dipenuhi jendela dan tiang penyangga. Masjid ini bernama Masjid Jami’ Baitul Mu’minin, masjid yang terletak di Desa Undaan Lor gang 24, Kecamatan Undaan, Kudus.

Masjid Baitul Mu'minin di Desa Undaan Lor yang masih menggunakan cungjkup 2017_6_14
Masjid Baitul Mu’minin di Desa Undaan Lor yang masih menggunakan cungjkup. Foto: Sutopo Ahmad

Selepas salat Dzuhur berjamaah, Nadzir Masjid Jami’ Baitul Mu’minin Ahmad Syafi’i (65), sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang masjid tersebut. Dia menjelaskan, masjid yang berdiri di atas tanah sekitar luas 800 meter persegi mengalamai pemugaran selama dua kali. Menurutnya, pembangunan masjid menelan biaya kurang lebih Rp 1 miliar yang diperoleh dari swadaya masyarakat.

“Biaya pembangunan masjid sepenuhnya dilakukan secara gotong royong masyarakat, bahkan 99 persen dari hasil swadaya masyarakat. Pengurus masjid juga tidak pernah minta bantuan kepada pemerintah maupun masyarakat lain desa. Pemugaran masjid pertama kali pada tahun 1985 dan terakhir di tahun 1994,” ujar Syafi’i saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Undaan Lor gang 24 RT 6 RW 4, Kecamatan Undaan, Kudus, ini mengatakan, pembangunan masjid dimulai pada tahun 1964, hingga samapi sekarang masjid sudah berusia lebih dari 53 tahun. Terkait dengan desain masjid, katanya, dibuat warga setempat. Menurutnya, desain masjid dibuat atas masukan dari beberapa tokoh masyarakat, tidak mengadopsi dari masjid manapun.

“Arsitektur masjid Abdul Wahid, takmir masjid Jami’ Baitul Mu’minin. Bagian ruang utama masjid memang sengaja didesain berbentuk limas agar kelihatan nuansa jawanya. Sedangkan serambi masjid dibangun dengan desain lebih moderen, dengan menambahkan kubah di bagian atas masjid. Sebelum di pugar, masjid hanya dapat menampung sekitar 250 jamaah. Kalau sekarang, masjid sudah dapat menampung kurang lebih 800 jamaah,” ujarnya.

Syafi’i menambahkan, hiasan kaligrafi di atas ruang pengimaman masjid berlatai dua tersebut bertuliskan kalimat seruan beribadah. Sedangkan bagian depan dinding masjid, terdapat dua pigura yang bertulisakan panduan niat i’tikaf. Menurutnya, tanah kosong yang berada di selatan masjid, rencana akan dibangun aula gedung serba guna.

“Awal pembangunan rencana akan dimulai setelah hari raya Idul Fitri. Untuk kegiatan masjid selama bulan Ramadan meliputi buka bersama menjelang maghrib berjumlah 60 orang. Mengaji kitab setelah salat Subuh dan setelah salat Tarawih ada kegiatan berupa pengajian umum. Kalau kegiatan lain biasanya dilakukan dalam rangka peringatan hari besar islam,” tambah Syafi’i yang mengaku menjadi Nadzir Masjid Jami’ Baitul Mu’minin sudah selama 25 tahun, terhitung sejak 1992.

- advertisement -

Isna Tak Kesulitan Hafalkan Al-Quran, Baginya yang Paling Berat Melawan Rasa Malas

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Sejumlah santriwati duduk di bangku ruangan kelas MA Muhammadiyah komplek Pondok Pesantren Muhammadiyah Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kudus. Mereka terlihat sedang menghafal ayat Al-Quran yang akan disetor kepada ustazah yang sudah duduk dibangku depan. Saat nama santriwati dipanggil, yang bersangkutan maju ke depan untuk menyetorkan hafalan kepada ustazah.

Penghafal Al-Quran Ponpes Muhammadiyyah Kudus 2017_6
Penghafal Al-Quran Ponpes Muhammadiyyah Kudus. Foto: Imam Arwindra

Setelah dipanggil, ustazah kemudian mendengarkan detail setiap lafal ayat Al-Quran yang dilfalkan. Selain menyimak, dia juga mencatat hasil hafalan santriwati ke dalam buku catatan. Kegiatan serupa tak hanya dilakukan di ruangan kelas MA Muhammadiyah saja, melainkan juga di dalam masjid Al-Falah dan di Pondok Pesantren Muhammadiyah Putra di Desa Singocandi, Kecamatan Kota, Kudus.

Baca juga: Inilah Pondok Pesantren Muhammadiyah Satu-Satunya di Kudus

Isna Agustin Sholihah (18), adalah satu di antara santriwati yang menghafal A-Quran tersebut. Dia yang masih kelas delapan MTs Muhammadiyah, saat ini sudah hafal Juz 30 dan Juz 1. Dia sudah satu tahun menghafal, sejak kelas tujuh MTs. “Untuk yang juz 1 masih diulang-ulang,” ungkapnya saat ditemui di Pondok Pesantren Muhammadiyah, beberapa waktu lalu.

Menurutnya, saat menghafalkan Al-Quran yang susah yakni melawan rasa malas. Selain itu, dirinya juga kerap tergoda dengan temannya yang asyik bermain. Namun saat fokus, dirinya dalam sehari bisa melahap hafalan sejumlah satu halaman. Hafalan tersebut dilakukannya rutin selama tiga kali saat sehabis Salat Ashar, Salat Maghrib dan Salat Subuh. “Kalau ada kesempatan saya ingin hafal 30 juz,” tuturnya yang berasal dari Kecamatan Gajah, Demak.

Kendala yang dihadapi Isna juga berlaku juga untuk Muhammad Hilmi Arif Syauqi (13). Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah yang tinggal di Desa Singocandi, Kecamatan Kota mengaku juga merasa kesulitan saat dirinya merasa malas. Terlebih saat diajak main keluar oleh teman-temannya. “Terkadang saya juga merasa tidak mut menghafal,” tuturnya.

Sebenarnya, tutur Hilmi adanya kesulitas saat menghafal berasal dari santri sendiri. Menurutnya, para ustaz selalu memberikan motivasi dan arahan supaya santri bisa menghafal dengan baik. Selain itu, fasilitas yang diberikan pondok juga sangat baik. Hilmi yang masih kelas satu MTs Muhammadiyah mengaku sudah hafal Juz 30. Namun dirinya merasa masih perlu mengulang-ulang surat Al-Qur’an yang sudah dihafalnya.

“Di sini enak. Kamar bagus tempatnya nyaman. Intinya saya betah,” terangnya yang berasal dari Mijen, Demak.

Berbeda dengan Rauf Amru Amarullah (16). Amru yang sudah duduk di kelas 10 MA Muhammadiyah mengaku pada awal menghafal Al-Quran dirinya kesulitan karena terlalu banyaknya beban pelajaran yang harus diterima. Menurutnya, selain harus menghafal Al-Quran, dirinya juga harus belajar materi pelajaran dari sekolah formal.

Namun lambat tahun karena sudah terbiasa, akhirnya Amru bisa menyesuaikan dengan target hafalan yang diberikan oleh sekolah. “Memang ada targetnya. Setahu saya lulus MTs haru hafal jus 30, lulus MA hafal juz 1 dan 2,” terangnya.

Dalam proses menghafal, Amru mengaku selalu memanfaatkan waktu selepas salat wajib untuk menghafal. Waktu tersebut juga gunakannya untuk mengulang-ulang dan menambah hafalan. Menurutnya, hingga saat ini dirinya sudah hafal juz 30, juz 1 dan 2. “Untuk juz dua masih diulang-ulang,” tambahnya.

Sementara itu, Direktur Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus Nadhif (33) mengungkapkan, Pondok Pesantren Muhammadiyah yang dikelolanya langsung dibawah manajemen kepengurusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus. Selain terdapat pondok untuk tinggal dan mengembangkan keilmuan agama, juga ada MTs dan MA untuk sekolah formal.

“Latar belakang adanya lembaga tersebut karena Muhammadiyah kekurangan akan kader. Kader yang secara penuh tidak hanya pintar organisasi melankan juga ilmu keagamaan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, pihaknya mewajibkan para siswa yang sekolah di MTs dan MA untuk tingga di pondok. Menurutnya, selain untuk memperdalam ilmu agama, para siswa juga dituntut untuk menghafal Al-Quran. Namun yang dihafalkan bukan keseluruhan 30 juz. Melainkan hanya juz 30, juz 1 dan juz 2. Diberitahukan, jumlah santri perempuan maupun laki-laki yang tinggal di pondok yakni sejumlah 383 anak. “Untuk hafalannya ada targetnya. Saat lulus MA mereka harus hafal Juz 30, 1 dan 2,” jelasnya.

- advertisement -

8 Komunitas Gelar Buka Bersama di Golantepus, Ajari Anak-Anak Membuat Prakarya

0

SEPUTARKUDUS.COM, GOLANTEPUS – Sejumlah perempuan terlihat menyiapkan makanan dan minuman di halaman Balai Desa Golantepus, Kecamatan Mejobo, Kudus. Mereka sedang melaksanakan Kegiatan Buka Bersama (Kurma) Ramadan. Sedangkan di dalam aula tampak puluhan anak-anak sedang melipat kertas untuk kerajinan dengan didampingi perwakilan panitia. Kegiatan tersebut terdapat delapan komunitas yang terlibat, ada sekitar 150 anggota.

Kegiatam Buka Bersama (Kurma) Ramadan gabungan komunitas di Kudus 2017_6_12
Kegiatam Buka Bersama (Kurma) Ramadan gabungan komunitas di Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Satu diantara panitia kegiatan yang terlibat dalam kegiatan yakni Tanti Lestari (22). Selaku ketua panitia, dia mengaku sempat kebingungan saat menentukan lokasi pelaksanaan. Setelah melakukan survei tiga lokasi, akhirnya dia dan teman-teman menyepakati untuk melaksanakan di Desa Golantepus.

“Dalam menentukan lokasi pelaksanaan kami memang menentukan sejumlah kreteria, di antaranya, yang ada banyak anak yatim dan kaum duafa. Jadi kami memilih yang paling membutuhkan. Kami sudah mensurvei tiga Desa, dan setelah kami pertimbangkan akhirnya memutuskan di Desa Golantepus ini,” terangnya kepada Seputarkudus.com, Sabtu (10/6/2017) sore.

Tanti, begitu dia akrab disapa, menjelaskan, selain buka bersama, mereka juga memberika santunan bagi anak yatim. Mereka mengumpulkan dana sejak bulan April 2017, dan terkumpul kurang lebih Rp 21 juta. Mereka membagikan santunan kepada 70 anak. Selain berupa santunan materi, mereka juga membagikan sovenir dan tas beserta peralatan sekolah.

”Saat awal kami juga sempat kesulitan mencari dana, karena donatur mulai berdatangan ketika acara kurang dua pekan. Jadi kami sangat bersyukur bisa terkumpul melebihi tahun kemarin yang mendapat Rp 20 juta,” jelas anggota komunitas Kudus Mengajar itu.

Dia juga merinci delapan komunitas yang terlibat dalam kegiatan tersebut, di antaranya Kudus Bergerak, Omah Aksi, Kresek, Komunitas Traveler Kudus, Paguyuban Tuli Kudus, Kudus Mengajar, Yuk Main dan Bank Sampah Sekar Melati. Mereka juga melibatkan perangkat desa setempat untuk pelaksanaan kegiatan.

“Kami memang dari gabungan banyak komunitas. Ini sedang membuat craft (kerajinan kertas), untuk anak-anak membuat lentera dan orang tuanya membuat bros mawar dari bahan kain. Setelah membuat craft ada kegiatan mendongen, yang mengisi dari Omah Dongen Marwah. Pelaksanaan juga kami melibatkan perangkat desa, jadi semua berjalan dengan lancer,” paparnya.

Sodikun (46), kepala Desa Golantepus, mengaku sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan tersebut. Dia berharap agar lebih ditingkatkan lagi dalam membantu masyarakat. Dia juga berharap kegiatan tersebut tidak berhenti dalam satu hari, tetapi bisa berkelanjutan.

“Jadi harapan saya kegiatan ini bisa berlanjut, tidak hanya selesai pada hari ini. Bisa dilanjutkan dengan pelatihan-pelatihan kreativitas, memproduksi sesuatu, agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tutur pria yang sudah di karuniai tiga anak itu.

- advertisement -

Muntira Skin Care Tawarkan Banyak Promo Menaraik pada Bulan Ramadan

0

SEPUTARKUDUS.COM, JANGGALAN – Dua perempuan berbaju hijau tampak sibuk melayani pelanggan yang datang di Muntira Total Health Skin Care Solution, di Jalan Sunan Kudus Desa janggalan, Kecamatan Kota, Kudus. Terlihat beberapa di antara nereka tampak antre sebelum mendaftar untuk perawatan. Pada bulan Ramadan tahun ini, pusat perawatan kecantikan itu banyak memberikan berbagai promo harga menarik.

Perawatan kecantikan di Muntira Skin Care Kudus 2017_6_11
Perawatan kecantikan di Muntira Skin Care Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Marketing Communiction Muntira Total Health Skin Care Solution, Salyla Karima (24), mengungkapkan, selama Ramadan ini pihaknya mengadakan banyak promo harga untuk para pelanggan. Hal tersebut, kata dia, merupakan bentuk perhatian Muntira kepada para konsumen. Pelanggan bisa mendapatkan perawatan dan produk kecantikan yang terjangkau dan berkualitas.

“Sebagai usaha yang bergerak di bidang kecantikan, selama Ramadan in kami menyediakan berbagai macam promo. Ini agar terjangkau semua kalangan dan bisa mematik minat para pelanggan untuk melakukan perawatan dan membeli produk di Muntira,” ujar perempuan yang akrab disapa Salyla kepada Seputarkudus.com saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus itu mengungkapkan, promo harga dan promo perawatan di antaranya, diskon 50 persen untuk pelajar maupun mahasiswa yang melakukan transaksi minimal Rp 150 ribu khusus pada hari Rabu. Menurutnya, sayarat mendapatkan diskon tersebut harus menunjukan kartu pelajar maupun kartu mahasiswa dan promo ini hanya berlaku untuk facial.

Selain itu, katanya, ada juga paket whitening dengan harga Rp 100 ribu dengan mendapatkan body whitening pagi maupun malam. Selain itu, kata dia, ada juga paket hair growth dengan harga Rp 250 ribu yang terdiri dari creambath, radio frekuensi, dan vitamin. Untuk paket facial tradisional dan hair spa ditarif Rp 150 ribu. Ada juga promo diskon 5 persen untuk dermaroller yakni penghilang bopeng dan merangsang kebutuhan collagen.

“Di Muntira juga ada promo transaksi minimal Rp 300 ribu mendapatkan nutritive cream dan transaksi minimal Rp 500 ribu pelanggan berhak mendapatkan mukena. Ada juga promo best Ramadan yakni paket facial seharga Rp 200 ribu yang terdiri facial tradisional, krim malam dan pagi serta sabun,” jelasnya.

Perempuan lajang itu mengatakan, selama puasa ini sudah banyak pelanggan yang datang untuk memanfaatkan promo harga produk dan perawatan di Muntira. Menurutnya, mereka tidak ingin ketinggalan memanfaatkan promo menarik tersebut. Promo itu, kata dia, tidak hanya untuk para member Muntira saja namun berlaku juga untuk mereka yang belum punya member.

“Promo juga berlaku untuk pria, jadi bagi siapa saja yang ingin tampil ganteng dan cantik di Hari Raya Idul Fitri nanti silakan datang ke Muntira,” ujarnya.

- advertisement -

Warga Serbu Pasar Murah Ramadan yang Diselenggarakan Polres Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Di lapangan Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus pagi itu telihat tratak memanjang dengan baner merah putih tepat di bawah atap. Di bawah tratak tampak beberapa stan yang menjajakan aneka produk sembako dan camilan. Tempat tersebut yakni Pasar Murah Ramadan yang diselenggarakan oleh Polres Kudus.

Pasar murah Ramadan yang diselenggarakan Polres Kudus 2017_6_11
Pasar murah Ramadan yang diselenggarakan Polres Kudus. Foto: Rabu Sipan

Terlihat masyarakat sekitar berbondong-bondong mendatangi acara pasar murah tersebut.  Mereka terlihat antusias berbelanja di stan-stan yang. Satu di antara warga yang datang untuk berbelanja yakni Ermia Retno Putri.

Perempuan yang akrab disapa Mia tersebut sudi berbagi kesan kepada Seputarkudus.com tentang pasar murah yang diadakana oleh Polres Kudus tersebut. Menurutnya, dengan adanya pasar murah masyarkat sangat terbantu, sebab berbelanja di sana harganya jelas lebih terjangkau. Di meminta Polres Kudus untuk sering menyelenggarakan acara serupa.

“Dengan pertimbangan harga yang lebih murah tersebut, masyarakat sekitar termasuk aku sangat antusias datang untuk berbelanja. Lihat sendiri kan bagaimana ramainya mereka yang datang untuk berbelanja di pasar murah. Bahkan aku sampai dua kali datang,” ujarnya saat berlangsungnya pasar murah Sabtu (10/6/2017).

Warga Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus tersebut mengungkapkan, kedatangan pertama saat pagi sekitar pukul 8.00 WIB. Dia datang untuk membeli bahan pokok,  di antaranya, beras, gas elpiji, minyak goreng dan gula pasir. Menurutnya, untuk membeli bahan pokok tersebut kalau sedikit terlambat saja sudah tidak kebagian. Karena selain harganya yang lebih murah barangnya juga terbatas.

Dia mengungkapkan, harga elpiji di pasar murah hanya Rp 15 ribu, sedangkan harga normalnya mencapai Rp 20 ribu hingga Rp 22 ribu per tabung ukuran tiga kilogram. Sedangkan gula pasir hanya dijual Rp 11 ribu per kilogram, sedangkan biasanya normalnya Rp 13 ribu per kilogram. Begitu juga dengan beras, yang dijual Rp 35 ribu untuk ukuran 5 kilogram, padahal harga normalnya Rp 50 ribu.

“Yang paing laris memang bahan pokok, sayangnya barangnya terbatas. Meski sudah dibatasi satu orang harus belinya satu saja, namun tetap saja barang pokok tersebut cepat larisnya. Saya Berharap semoga acara pasar murah sering diadakan dan stok bahan pokoknya diperbanyak. Kalau bisa ada kuponnya biar adil dan sama rata,” harap Mia.

Senada dengan Mia, Siti Aminah (56) juga berharap pasar murah sering diadakan di Kudus, terutama saat Ramadan seperti sekarang ini. Karena menurutnya, biasanya saat Ramadan harga bahan pokok sering naik. Dengan adanya pasar murah, masyarakat bisa terbantu karena harga barang di pasar murah tentu lebih murah dari harga pasar pada umumnya.

Warga Pedawang, Bae, Kudus itu mengatakan, datang ke pasar murah untuk membeli mi instan satu karton, coklat wafer stik dua stik dua karton, susu serta kopi sachet lima renteng. Dia mengaku tidak membeli bahan pokok, beras, elpiji, gula pasir, dan minyak goreng, karena datangnya kesiangan jadi tidak kebagian. “Aku tidak membeli bahan pokok, soal tidak kabgian. Jadinya beli lainnya,” ujarnya.

Terlihat pasar murah yang diadakan oleh pihak Polre Kudus tersebut didukung oleh beberapa perusahan nasional di antaranya, Ada Swalayan, terus ada juga Fitbar, Coca Cola, Ramayana, Hypermart, satu stand dari pihak Bayangkari dan lainnya.

- advertisement -

Inilah Motor-Motor yang Digunakan Balap Liar Menjelang Buka Puasa di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, POLRES – Sebanyak sembilan motor terparkir rapi di depan kantor Samapta Bhayangkara (Sabhara) Markas Kepolisian Resor (Mapolres) Kudus. Motor yang tampak sudah pretelan tersebut disatukan menggunakan rantai lalu digembok. Motor-motor tersebut, menurut Kasat Sabhara Polres Kudus AKP Sutopo, yakni motor sitaan dari balapan liar di Kudus.

Anggota Polres Kudus menyita motor yang digunakan balap liar 2017_6_11
Anggota Polres Kudus menyita motor yang digunakan balap liar. Foto: Imam Arwindra

Dia menjelaskan, selama bulan Ramadan pihaknya melakukan giat dengan fokus utama remaja yang melakukan balapan liar menjelang berbuka puasa. Menurutnya, dari awal puasa pasukan yang dipimpinnya menyasar tempat-tempat yang biasa digunakan balapan liar di Kudus. Hasilnya, sembilan motor didapatkan dengan kondisi motor yang sudah tidak standar.

“Paling banyak dapat dari Jalan Lingkar Utara Klumpit. Ada enam motor yang kami bawa,” ungkapnya saat ditemui di ruangannya belum lama ini.

AKP Sutopo melanjutkan, sisa motor selanjutnya didapatkan dari Jalan Bareng Dawe, Krawang Hadipolo sejumlah dua motor dan di Oasis satu buah motor. Pihaknya mengaku akan terus melakukan giat hingga balapan liar yang didominasi para remaja tersebut tidak ada lagi. Menurutnya, giat Cipta Kondisi yang dilakukan dari laporan masyarakat yang mengaku resah akan kegiatan balapan liar. Selain mengganggu pengguna jalan, adanya balapan liar juga berpotensi terjadi kecelakaan.

“Kami biasanya pakai motor trail dan mobil patroli. Setiap menjelang berbuka keliling di tempat-tempat yang biasanya digunakan balapan,” terangnya.

Di tahun 2016 hingga sekarang menurutnya lokasi yang biasa digunakan untuk balapan liar yakni Jalan Lingkar Baru Jati Wetan, Jalan depan Pasar Baru, Oasis dan Jalan Lingkar Utara UMK. Ada juga Jalan Bareng Dawe Krawang Hadipolo, Jalan di Lau Dawe dan Jalan Lingkar Utara Klumpit. Selama operasi tersebut, menurutnya balapan yang dilakukan tidak ada unsur perjudian. Mereka murni iseng untuk mengisi waktu menjelang berbuka.

Perwira pertama tersebut memberitahukan, dalam operasi pihaknya lebih mengedepankan pembinaan. Menurutnya, saat kesatuannya mendatangi lokasi balapan pihaknya juga mengecek kelengkapan kendaraan. Untuk motor yang tidak standar dan tidak lengkap surat-suratnya akan dibawa langsung ke Mapolres. Motor tersebut boleh diambil saat bisa menunjukkan kelengkapan kendaraan. Sedangkan untuk motor yang tidak standar harus membawa sparepart kendaraan untuk langsung dipasang di Mapolres Kudus.

“Setelah itu membuat surat pernyataan yang ditanda tangani ketua RT, RW, Kepala Desa, Camat, Kapolsek dan Bhabinkamtibmas. Ini lebih mengena dari pada ditilang,” jelasnya.

- advertisement -

Kini Kitchen Set di Podojoyonyo Group Sekarang Sudah Bisa Dikredit

0

SEPUTARKUDUS.COM, PURWOSARI – Sejumlah produk furnitur, elektronik dan smartphone terlihat tertata rapi menghiasi ruangan ruko Podojoyonyo Group. Di ujung pintu masuk pelanggan, tepatnya tidak jauh dari meja kasir, tampak sebuah properti kitchen set yang menempel di dinding ruko. Kitchen set yang dulu hanya dapat dibayar secara tunai, sekarang di tempat tersebut sudah melayani pembayaran secara kredit.

Kitchen set Podojoyonyo group
Wahyu Yahsi Wibowo, Owner Podojoyonyo

Sembari duduk santai sambil menunggu calon pembeli yang datang, Wahyu Yahsi Wibowo (31), Owner Podojoyonyo Group, sudi berbagi alasan kepada Seputarkudus.com tentang kredit tersebut. Dia menjelaskan, pembayaran secara kredit dilakukan untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi setiap pelanggan. Menurutnya, pelanggan dulu banyak yang mengeluh karena kitchen set yang dijual hanya dapat dilakukan secara tunai.

Baca juga: Selama Ramadan, Cukup Bawa Rp 200 Ribu Bisa Bawa Pulang Produk Furniture dan Elektronik

“Kalau dulu semua pembelian kitchen set di Podojoyonyo Group harus dibayar cash, tapi sekarang kredit sudah dapat dilayani. Karena banyak pelanggan yang mengeluh menginginkan pembayaran secara kredit,” ungkap Wahyu begitu akrab disapa, waktu ditemui di Jalan Raya Kudus-Jepara nomor 793, Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus, beberapa waktu lalu.

Warga Desa Gribig RT 1 RW 4, Kecamatan Gebog, Kudus, ini mengungkapkan, program kredit kitchen set mulai diberlakukan sejak awal Ramadan saat ini. Terkait dengan syarat pengajuan kredit, katanya, konsumen yang hendak membeli cukup foto copy Kartu Tandap Penduduk (KTP) Suami dan Istri. Misal belum mempunyai pasangan hidup, konsumen masih dapat melakukan kredit.

“Asalkan berumur 21 tahun lebih serta mempunyai gaji tetap, pelayanan kredit kitchen set masih bisa dilakukan. Pengajuan kredit bebas biaya administrasi, kredit maksimal sampai 15 bulan, dan desain suka-suka sesuai ruangan maupun selera pelanggan. Tidak hanya itu, setiap pembelian kitchen set juga akan kami berikan bonus hadiah langsung,” ujar Wahyu yang mengenakan kaus berkerah warna merah.

Pria yang mengaku anak pertama dari tiga bersaudara, ini mengungkapkan, hadiah langsung yang akan diberikan meliputi almari pakaian, karpet lantai, televisi LED dan lain sebagainya. Terkait dengan uang muka yang harus dikeluarkan, lanjutnya, konsumen cukup hanya bayar uang muka sebesar 10 persen. Untuk garansi yang diberikan setiap pembelian produk tersebut selama lima tahun.

“Harga yang kami tawarkan cukup terjangkau, harga mulai Rp 1,6 juta per meter. Misal pelanggan minta bantuan konsultasi untuk mengukur kitchen set yang akan dipasang juga bisa, gratis tanpa dipungut biaya sama sama sekali,” ungkap Wahyu sambil sesekali mengangkat telepon dari calon pembeli.

Dia menambahkan, bahan kitchen set terbuat dari multiplek lapis high pressure laminate (HPL) serta bercat Duco. Keunggulan yang ditawarkan kitchen set yang tak lazim akrab didengar dengan istilah alat dapur  sangat beragam. Di antaranya, kitchen set anti karat, anti gores serta anti jamur. “Pelanggan yang sering memesan dari kalangan ibu-ibu muda. Biasanya pelanggan perumahan, ada yang dari Kudus, Pati serta Jepara,” tambah Wakyu.

- advertisement -

Inilah Pondok Pesantren Muhammadiyah Satu-Satunya di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, KRANDON – Suara lantunan ayat Al-Quran terdengar dari dalam masjid Al Falah komplek Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. Tampak puluhan wanita sedang membaca Al Quran di ruang utama masjid. Namun ada pula dari mereka yang terlihat menghafal dengan disimak beberapa ustazah. Santri yang menghafal Al Quran tidak hanya berada di dalam masjid saja, melainkan juga ada di dalam kelas.

Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus 2017_6_10
Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus. Foto: Imam Arwindra

Di dalam kompleks pondok pesantren tersebut, menurut Direktur Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus Nadhif (33), hanya ditempati santri perempuan saja. Sementara untuk santri laki-laki sudah dipindah di Pondok Pesantren Muhammadiyah yang berada di Desa Singocandi, Kecamatan Bae. Dia mengungkapkan, pondok Muhammadiyah yang dikelolanya yakni satu-satunya pondok milik Muhammadiyah di Kudus yang manajemennya langsung di bawah kepengurusan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus.

“Iya ini satu-satunya pondok Muhammadiyah yang ada di Kudus, ” ungkapnya saat ditemui di komplek Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus, Desa Krandon, Kecamatan Kota Kudus, beberapa waktu lalu.

Sebelum dipindah di Singocandi, untuk santri laki-laki, menurutnya dua tahun yang lalu masih berada satu komplek di pondok Krandon. Karena dinilai semakin banyak santri yang tinggal, akhirnya dibuatkanlah gedung baru di atas tanah 8.000 meter. Di gedung tiga lantai yang berada di Singocandi menurutnya dihuni 187 santri laki-laki. “Untuk di sini (Krandon) terdapat 196 santri putri dari jumlah keseluruhan santri 383 anak,” tambahnya.

Nadhif menjelaskan, Pondok Pesantren Muhammadiyah Kudus memiliki lembaga sekolah formal yakni Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA). Menurutnya, siswa yang bersekolah di MTs maupun di MA Muhammadiyah diwajibkan untuk tinggal di pondok yang disediakan. “Latar belakang adanya lembaga tersebut karena Muhammadiyah kekurangan akan kader. Kader yang secara penuh tidak hanya pintar organisasi melankan juga ilmu keagamaan,” tuturnya.

Berdirinya Pondok

Sambil duduk di kursi ruang tamu, Nadhif menjelaskan adanya Pondok Pesantren Muhammadiyah berawal dari kebutuhan siswa SMA Muhammadiyah yang berasal dari luar daerah. Menurutnya, ketika itu SMA Muhammadiyah tidak memiliki asrama yang digunakan untuk menampung siswa. Karena dinilai perlu, dari kesepakatan pengurus dan wali murid akhirnya dibuatkanlah asrama sekitar tahun 1990 yang terletak di Prambatan. “Saat itu ada 10 anak yang tinggal. Bangunan yang digunakan asrama yakni rumah pengurus,” tuturnya.

Selanjutnya, asrama siswa juga sempat berpindah di gudang tembakau Desa Janggalan sebab bertambahnya siswa. Karena menanggung operasional yang mahal serta kebutuhan akan sekolah kader Muhammadiyah, akhirnya tahun 2000-an dibuatkanlah Pondok Pesantren Muhammadiyah di Krandon.

“Yang dulunya ditangani SMA (Muhammadiyah) diambil alih oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Kudus. Dulu dinilai penting ada sekolah kader, supaya efektif dibuatlah pondok pesantren,” teranganya.

Menurut Nadhif, pengambilalihan pondok bersamaan dengan MTs dan MA Muhammadiyah yang sebelumnya sudah berjalan. Menurutnya, MTs dan MA sudah ada di Kudus sejak tahun 1980-an. Saat itu, MTs masih ikut dengan SD Muhammadiyah dan MA di SMPN 1 Kudus. Jam belajar mengajar pun dilakukan pada siang hari. “Dulu berjalan sendiri-sendiri. SMA senidiri, MTs dan MA pun sama,” ungkapnya.

Akhirnya, di atas tanah 6.000 meter dibangunlah Pondok Pesantren Putra dan Putri serta sekolah MTs dan MA Muhammadiyah. Dalam perkembangannya, tahun 2014 Pondok Pesantren Muhammadiyah membuat bangunan baru di Singocandi yang digunakan untuk pondok putra dan kelas MTs putra. Saat ini di Pondok Muhammadiyah Krandon hanya digunakan untuk tempat tinggal santri putri, sekolah MTs putri dan MA putra dan putri.

“Dulu setiap angkatan hanya dua kelas saja. MTs dua kelas dan MA dua kelas. Sekarang MTs tambah dua kelas lagi menjadi empat kelas. Satu kelasnya rata-rata 30 siswa. Namun saat wisuda MA ada 71 siswa yang ikut. Jadi untuk MA setiap kelasnya lebih dari 30,” terangnya.

Dia menambahkan, sebenarnya, minat masyarakat untuk sekolah dan mondok di Pondok Pesantren Muhammadiyah banyak. Namun karena  kurangnya fasilitas, akhirnya hanya sesuai kuota saja yang bisa masuk. Selama di pondok, para santri akan dibimbing enam ustaz dan delapan ustazah. Selain belajar ilmu agama, mereka juga melakukan tadarus dan hafalan Al-Quran. Menurut Nadhif, setelah lulus MA, santri wajib hafal Juz 30, satu dan dua. “Target itu, namun jika ada yang lebih akan lebih baik,” tuturnya.

Untuk kegiatan lainnya paling banyak dilakukan setelah Salat Ashar. Misalnya, ekstra kaligrafi, seni baca Al-Quran, pidato dan badminton. Juga ada ekstra menjahit dan memasak untuk perempuan. Setelah itu dilanjutkan, pendalaman materi agama setelah Salat Isya’ selama sekitar 40 menit dan seterusnya belajar mandiri.

“Untuk puasa hanya Senin, Kamis dan puasa sunnah saja. Di Bulan Ramadan ini santri konsentrasi pada target hafalan,” tambahnya.

- advertisement -

Efri Beli Kurma di Toko Aziz Putra untuk Takjil Buka Puasa

0

SEPUTARKUDUS.COM, KERJASAN – Dua perempuan tampak sedang memilih kurma di Toko Azis Putra di tepi Jalan Menara, Kelurahan Kerjasan, Kecamatan Kota, Kudus. Terlihat mereka memegangi beberapa kurma dalam kap plastik sambil sesekali menanyakan harga. Satu di antara perempuan tersebut bernama Efrilia Anggraeni (22), yang membeli kurma untuk takjil berbuka puasa.

Penjualan kurma di Toko Azis Putra, Kerjasan, Kudus 2017_6_9
Penjualan kurma di Toko Azis Putra, Kerjasan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai membeli kurma, perempuan yang akrab disapa Efri itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com kebiasaannya itu saat Ramadan. Dia mengatakan, membeli kurma untuk keperluan buka di rumahnya. Menurutnya, buka puasa bersama kurang afdol kalau belum ada kurma yang tersaji.

“Sebagai seorang Muslim sebisa mungkin saya melakukan apa yang menjadi kesunahan kanjeng Nabi Muhammad SAW. Dan pada Bulan Puasa ini berbuka puasa dengan makan kurma itu termasuk kesunahan. Oleh sebab itu acara buka bersama sebisa mungkin ada camilan penyempurna ya ini kurma,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Dina Zulfa, karyawan di Toko Azis Putra, mengungkapkan, pada Ramadan ini penjualan kurma meningkat, bahkan peningkatannya sangat signifikan. Menurutnya, pada bulan selain Ramadan biasanya Toko Azis Putra mampu menjual sekitar tiga karton sepekan. Setiap karton berisi 10 kilogram.

Sedangkan pada Ramadan, kata dia, toko yang tepat berada di depan Menara Kudus itu mampu menjual habis kurma itu sehari. Dalam sepekan, Toko Azis Putra mampu menjual 210 kilogram. Bulan Ramadan ini penjualan murma meningkat hingga tujuh kali lipatnya atau 700 persen.

Dia mengatakan, toko tempatnya bekerja itu menjual aneka kurma dari beberapa negara. “Di Toko Azis Putra menyediakan aneka jenis kurma di antaranya, Kurma Mesir yang kami jual Rp 50 ribu per setengah kilogram, dan Rp 25 ribu untuk seperempat kilogram. Ada juga Kurma Sayer yang kami banderol Rp 25 ribu per setengah kilogram dan Rp 15 ribu seperempat kilogram,” ujar perempuan yang akrab disapa Dina tersebut.

Sedangkan Kurma Tuneese, tuturnya, yakni jenis kurma istimewa yang masih ada gagangnya dijual dengan harga Rp 80 ribu per kemasan, dengan berat per kemasan 800 gram. Selain itu, Toko Azis Putra juga menjual kurma dengan harga Rp 10 ribu per satu kap. Dia menuturkan, di tempat kerjanya tersebut melayani pembelian ecer maupun grosir.

“Selain menjual Kurma kami juga menjual jenang maupun jajanan dari daerah lain. Dan hampir semuanya penjualannya meningkat pada Ramadan. Kami melayani pembelian ecer dan grosir. Dan toko kami juga buka 24 jam setiap hari dan saat puasa kami tutup pada pukul 22.00 WIB,” jelasnya.

- advertisement -

Menara Masjid di Getas Pejaten Ini Tingginya 27 Meter dan Belum Ada yang Menyamai Bentuknya

0

SEPUTARKUDUS.COM, GETAS PEJATEN – Masjid yang berada di tepi barat Jalan Sentot Prawirodirjo, Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kudus, memiliki kubah berwarna hijau. Di bagian depan terlihat dua menara tinggi menjulang dengan kombinasi warna hijau, putih dan kuning. Masjid tersebut yakni Masjid Baitul Mukminin, yang diklaim memiliki desain menara yang tak satupun masjid di Kudus menyamainya.

Masjid Baitul Mukminin Desa Getas Pejaten, Kudus, dengan dua menara di bagian depan 2017_6_9
Masjid Baitul Mukminin Desa Getas Pejaten, Kudus, dengan dua menara di bagian depan. Foto: Rabu Sipan

Menurut, Sutikno selaku pelaksana proyek pembangunan Masjid Baitul Mukminin, dua menara yang berada di sisi kanan dan kiri  masjid didesain seperti masjid yang berada di Arab Saudi. Dia mengklaim, desain menara tersebut di Kudus belum ada yang menyamai.

“Dua menara di Masjid Baitul Mukminin di Kudus itu desain dan bentuknya itu aku samakan persis dengan satu menara masjid yang ada di Arab Saudi. Kami melihat gambar di majalah. Ciri khas menaranya yakni paling atas dibuat bulat elips dan bawahnya ada semacam sirip berwarna emas. Itu saat dilihat dari bawah mirip mahkota,”  kata Sutikno kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kudus itu mengatakan, menara Masjid Baitul Mutaqin tingginya sekitar 27 meter. Selain bentuk dan desain pemilhan warna untuk dua menara tersebut terbilang sangat indah. Menara di masjid lain, biasanya itu dicat dengan satu warna atau dua warna saja. Tapi menara masjid Baitu Mukminin tersebut dicat dengan berbagai warna.

“Meski dicat dengan perpaduan banyak warna, namun menara Masjid Baitul Mukminin tetap terlihat mewah dan megah. Perpaduan warna antara putih, merah jambu, hitam, coklat tua makin membuat kesan indah pada dua menara tersebut. Intinya menara di Masjdi Baitul Mukminin lain daripada yang lain,” ujarnya.

Sutikno mengatakan, Masjid Baitul Mukminin didirikan pada tahun 1913. Menurutnya, pemugaran terakhir pada tahun 2014 hingga sekarang. Pembangunan masih berjalan karena pengerjaan baru mencapai 95 persen. Dari pengerjaan tersebut, kata dia, sudah menelan biaya lebih dari Rp 3 miliar.

“Dana tersebut berasal dari swadaya masyarakat setempat. Untuk yang Rp 3 miliar itu hasil dari swadaya masyarakat. Belum lagi dari para dermawan yang menyumbang berbagai macam matrial untuk pembangun masjid,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan, masjid yang berdiri di atas tanah seluas 625 meter persegi tersebut tampak terlihat elegan. Dengan bentuk bangunan minimalis serta dipadu dengan arsitektur Timur Tengah dengan dua menara yang tinggi menjulang menambah kemegahan Masjid Baitul Mukminin. Selain itu lantai atas dan bawah masjid semuanya dipasang granito. Selain itu Dinding masjid bagian depan serta pengimaman diperindah dengan marmer.

Sekeliling pengimaman, kata dia, juga dihiasi dengan kaligrafi. Tidak ketinggalan lispang dalam juga mendapat sentuhan kaligrafi Ayat Kursi. Semua tiang dicat wash mengkilat senada dengan warna marmer. Semua kusen, pintu dan jendela menggunakan gebyok ukir. “Pokoknya seusai dibangun masjid makin jos dan semoga mampu memantik minat orang untuk salat di masjid,” ujarnya.

- advertisement -

Petugas BNN Gedor Pintu Kos di Megawon, Saat Dibuka Sepasang Muda-Mudi Berada di Dalam

0

SEPUTARKUDUS.COM, MEGAWON – Petugas Polres Kudus dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kudus terus menggedor pintu hitam kamar MGAC1. Hingga dua menit, pintu kamar kos Cendana Jalan Mejobo, Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus, belum juga dibuka. Tak sabar, seorang petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Jawa Tengah berteriak dan menggedor pintu hingga penghuninya keluar.

BNN Provinsi Jateng lakukan operasi narkoba di kos-kos Kudus 2017_6_9
BNN Provinsi Jateng lakukan operasi narkoba di kos-kos Kudus. Foto: Imam Arwindra

“Bentar pak, bentar pak. Kuncinya susah dibuka,” tutur suara perempuan dari dalam kamar kos saat petugas BNN Provinsi Jawa Tengah menggedor pintu dalam operasi yang dilakukan Kamis (8/6/2017) malam.

Saat pintu kamar kos sudah dibuka, terlihat seorang perempuan bergaun merah jambu dan lelaki kurus bertato berdiri di depan kamar mandi dalam. Wanita yang juga memiliki tato di lengan tangan kirinya tersebut terlihat segera menuju kamar mandi untuk mengganti baju. Kedua orang yang tidak memiliki ikatan pernikahan tersebut segera diglandang ke halaman parkir kos untuk dilakukan tes urin.

Saat pemeriksaan urin berjalan sekitar 10 menit, kamar kos MGAC1 yang dihuni dua orang tersebut diperiksa petugas BNN. Petugas tampak memeriksa di dalam almari, tas dan beberapa sudut ruangan kamar yang didominasi gambar anime Doraemon.

Sedangkan penghuni perempuan berdiri di depan kamar sambil terus dicecar pertanyaan oleh petugas BNN lainnya. Perempuan tersebut mengaku bernama DF (21), berasal dari Semarang. Menurunya, dia orang asli Kudus namun sejak kecil sudah hidup dan tinggal di Semarang. “Saya itu tadi kerja. Ini baru pulang bener dan akan langsung kembali ke Semarang,” tutur perempuan yang mengaku bekerja di tempat hiburan di Semarang.

Menurutnya, laki-laki yang sedang diperiksa berimisial G yakni teman dekatnya. Dia tidak tahu menahu teman dekatnya tersebut pengguna narkotika atau tidak. Dia belum lama kenal, dan malam ini laki-laki tersebut akan mengantarkannya kembali ke Semarang. “Saya tidak tahu (dia pengguna narkotika). Saya baru kenal. Dia orang kudus, dia ceweknya banyak,” jelasnya.

DF mengaku datang ke Kudus karena ada panggilan pekerjaan. Selama berada di Kudus, dirinya tinggal di Kamar MGAC1 Kos Cendana. Selebihnya, dia mengaku bekerja dan tinggal di Semarang. “Di Kudus kan saya kerjanya offline. Tadi sudah izin sama bunda untuk balik Semarang,” tambahnya.

Saat dilakukan tes urin, DF terbukti negatif narkoba. Namun teman dekatnya positif menggunakan narkoba.

Kepala Seksi Penyidikan, Penindakan dan Pengejaran BNN Provinsi Jawa Tengah Kompol Sigit Bambang Hartono, mengungkapkan, operasi bersih dari narkoba yang dilaksanakan pukul 22.00 WIB hingga dini hari menemukan dua orang yang terindikasi menggunakan narkotika. Menurutnya, operasi yang dilakukan menyasar rumah kos yang terletak di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus dan di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus.

“Di Megawon kita dapat satu orang yang terindikasi pengguna narkotika dan di Megawon satu orang. Semua cowok,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, operasi pertama dilakukan di kos Kaari Mandiri Desa Ngembalrejo. Di sana terdapat 35 orang penghuni dan pemilik kos yang dites urin. Ditemukan satu orang berinisial ST yang positif menggunakan narkotika. Selanjutnya, operasi dilanjutkan di kos Cendana, komplek ruko Cendana Residence. Di sana terdapat 30 orang yang dites urin. Dan laki-laki inisial G positif menggunakan narkotika.

“Hasilnya, ada satu lagi yang dinyatakan terindikasi positif, sehingga totalnya ada dua orang yang positif metamfetamin. Zat ini biasanya terdapat pada narkotika jenis sabu,” ungkapnya

Menurutnya, kedua orang yang terindikasi narkotika tersebut akan dibawa ke Semarang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Terkait adanya barang bukti, pihaknya tidak menemukan barang bukti dari kedua tempat. Dia menuturkan, operasi bersih dari narkoba yang dilakukannya untuk mewujudkan Jawa Tengah bebas dari narkoba.

- advertisement -

Agus Sudah Susun Grand Planning Wisata Bukit Nggeneng, Ini Awal Munculnya Ide

0
Wisata rumah pohon di Bukit Nggeneng, Rahtawu, Kudus 2017_6_9
Wisata rumah pohon di Bukit Nggeneng, Rahtawu, Kudus. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, RAHTAWU – Seorang pria tampak bersemangat menjelaskan setiap sudut wisata di Bukit Nggeneng Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kudus, kepada pengunjung. Agus Siswanto, pria yang mengenakan topi rimba dan celana sedengkul, itu, menunjukkan beberapa wahana yang sudah jadi maupun tahap perencanaan. Lokasi wisata yang baru dibuka sekitar sebulan tersebut, menurut Agus, dikelola dan dan dikembangkan secara swadaya.

Secara konsep besar, Agus menginginkan wisata Bukit Nggeneng menjadi wisata aktivitas, bukan sekadar wisata swafoto. Dalam perencanaan, lokasi perbukitan tersebut bisa digunakan untuk outbond, camping area dan homestay.

Baca juga: Di Batialit Tak Ada Menara Pandang, Fitriyani Ajak Temannya Ke Bukit Nggeneng Rahtawu

“Kami sudah menyiapkan konsep wisata aktivitas the view of Bukit Nggeneng. Ini masih proses pembuatan. Namun karena dirasa berbeda, para pengunjung sudah ada yang datang,” ungkapnya saat ditemui di lokasi wisata belum lama ini.

Pembuatan tempat wisata menurutnya dilakukannya bersama dua rekannya Teguh dan Sugiyono. Diceritakan, pembuatan wisata di Bukit Nggeneng bermula saat Agus merasa tergelitik melihat pemuda di desanya sering merantau keluar daerah untuk bekerja.

Padahan menurut Agus, di Desa Rahtawu yang masih bagian dari Gunung Muria sangat kaya. Tanahnya subur, airnya melimpah dan potensi wisata pun sangat bagus. Jika bisa dikelola dengan baik, masyarakat Desa Rahtawu diperkirakan tidak perlu lagi bekerja di luar daerah.

“Contoh saja dari sektor pariwisata. Wisata di Rahtawu sangatlah melimpah. Namun sampai sekarang beberapa masih dikelola secara pribadi. Alangkah lebih baik jika dikelola secara swadaya,” tuturnya.

Melihat hal tersebut, muncul ide dalam dirinya untuk membuat wisata alam yang di dalamnya terdapat wahana kekinian dan dikelola secara profesional. Maka Tercetuslah The View of Bukit Nggeneng yang mulai dibangun bulan April 2017. Sebenarnya, Agus sudah merencakan membuat suatu wisata di Bukit Nggeneng sejak tahun 2015. Karena masih bekerja di luar daerah akhirnya barulah di tahun 2017, dirinya bisa memulai merealisasikan gagasan yang sudah lama diimpikan.

“Saya dulu ya juga bekerja di luar daerah. Kerena merasa tidak enak, akhirnya saya merencanakan ini. Lha wong Desa Rahtawu kaya. Mengapa harus bekerja di daerah lain,” jelasnya yang lulus Fakultas Manajemen Universitas Muria Kudus (UMK).

Sebelum membuat wisata Bukit Nggeneng, Agus mengaku sempat melakukan tinjauan ke Semarang dan Yogjakarta. Setelah mendapatkan banyak ilmu, dirinya memantapkan untuk keluar dari pekerjaan dan membuat wisata di Bukit Nggeneng. “Saat itu saya langsung datangi teman saya. ‘Mau ga kamu saya ajak gila-gilaan?” ucapnya.

Akhirnya, rekannya sepakat dan April 2017 mulai membangun satu persatu fasilitas wisata. Wahana yang pertama kali dibuatnya yakni menara pandang setinggi tujuh meter. Sebelum jadi, sudah ada pengunjung yang datang untuk berswafoto. Setelah itu rumah pohon setinggi sembilan meter dan rumah Masha yang lokasinya berada di atas pohon dengan ukuran 2,25 meter kali 2,5 meter pun sudah siap dinikmati pengunjung. Ada pula flying fox yang sementara masih panjangnya 35 meter.

Rencananya menurut Agus, flying fox akan dirubah panjangnya menjadi 60 meter dan tempat semula flying fox akan digunakan untuk fly hammock. Konsep outbond nantinya masih seperti pada umumnya yakni  tracking, jembatan gantung, jaring laba-laba, panjat dinding dan permainan sungai. Dikatakan letak Bukit Nggeneng sekitar 1.000 meter dari sungai desa setempat.

“Untuk homestay pilihannya dua bisa tinggal di rumah warga atau rumah panggung yang nanti disediakan. Ini sangat pas untuk orang kota. Pengunjung bisa merasakan sensasi memberi makan ayam maupun ternak,” tuturnya yang aktif dalam organisasi pemuda desa.

Yang berbeda dari tempat wisata ini dengan yang lain, katanya, sepanjang perjalan menuju lokasi wisata, terdapat kumpulan bunga. Selain ditanam oleh pengelola, bunga tersebut nantinya akan ditanam juga oleh pengunjung. Agus menyediakan bunga dengan nama untuk pasangan muda yang nanti akan ditanam. Untuk perawatan, menurutnya akan dilakukan oleh pengelola secara gratis. “Ini juga kami sedang membangun kafe. Selaian makanan ringan, akan diisi makanan dan minuman khas Desa  Rahtawu,” terangnya.

Saat semua sudah siap, rencana ke depan pihaknya akan mempekerjakan pemuda di desa setempat untuk bersama-sama mengelola wisata Bukit Nggeneng. Selain itu, juga mempersilahkan masyarakat untuk membuat warung guna menambah pendapatan ekonomi keluarga. “Semoga dengan adanya wisata ini masyarakat bisa terbantu ekonominya dan dapat bersama mengelola wisata di Desa Rahtawu,” tambahnya.

- advertisement -

Mahasiswi UMK Ini Manfaatkan Daihatsu Ayla Miliknya untuk Berjualan Frozen Food Saat Ramadan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Mobil warna putih dengan pintu belakang terbuka tampak terparkir di sudut barat laut Simpang Tujuh, Alun-alun Kudus. Di dalam mobil tampak beberapa bungkus produk camilan dan jajanan lain. Di samping mobil tampak seorang perempuan mengenakan jilbab coklat sedang menunggu pembeli. perempuan tersebut bernama Wida Noor Agnesia (21), yang memanfaatkan mobilnya untuk berjualan frozen food.

Wida Noor Agnesia berjualan camilan untuk Ramadan 2017_6_8
Wida Noor Agnesia berjualan camilan untuk Ramadan. Foto: Rabu Sipan

Sambil menunggu pembeli, perempuan yang akrab disapa Wida itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang kegiatannya tersebut. Dia mengungkapkan, pada Ramadan ini dirinya sengaja memanfaatkan mobilnya untuk berjualan di beberapa tempat di Kudus. Dia mengaku tidak khawatir kalau nanti mobilnya tersebut lecet. Karena itu juga buat usaha dan bisa menghasilkan uang.

“Biasanya sebelum Ramadan aku hanya menjajakan aneka jualanku di rumah. Namun karena ini momen Ramadan jadi aku memanfaatkan mobilku untuk mangkal di tempat ramai agar aneka daganganku makin banyak dibeli orang. Ibaratnya itu aku menjemput rezeki tidak hanya menunggu pembeli datang ke rumah,” ujarnya.

Warga Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kudus itu mengatakan, menjual aneka frozen food di antaranya, risole mayo yang dijual Rp 25 ribu, pay susu dihargai Rp 28 ribu, chiztek lumer dibandrol Rp 25 ribu sekotak. Selain itu, dia juga menjual pizza beku yang dijual Rp 40 ribu sekotak, fella cake Rp 35 ribu serta ada fudgie brownie yang dihargai Rp 42 ribu sebungkus. Untuk coco melting, pizza goreng dan melti brownie dijual antara Rp 32 ribu sampai Rp 35 ribu sebungkus.

Perempuan yang masih berstatus mahasiswi Universitas Muria Kudus (UMK) Jurusan Sistem Informatika tingkat akhir itu mengatakan, sudah berjualan aneka jajanan tersebut sejak tahun lalu, tepatnya pada Oktober 2016. Dia mengaku, berjualan agar bisa mendapatkan uang sendiri buat menambah uang saku kuliah dan sehari-hari.

“Sebenarnya sudah lama punya keinginan untuk berjualan tapi belum ada yang cocok. Namun setelah seorang temanku ada yang menjadi agen Qiefa Kitchen aku berniat menjadi reseller. Dan aku menjual aneka makanan yang aku sebutkan tadi lewat online via BBM dan Facebook dengan akun Wida Noor Agnesia,” jelasnya.

Menurutnya, setahun berjualan kini sudah memiliki pelanggan, tidak hanya di Kudus melainkan juga ada yang dari Pati, Purwodadi, Demak dan lainnya. Meski lewat media daring, kata dia selama ini pengiriman barang ke pelanggannya lewat COD. Dia mengaku saat ini berusaha melebarkan sayap dengan menjual aneka snak. Di antaranya Chitato, Chitos, Hello Panda, Jet Z, Pillow dan lain sebagainya.

“Pada Ramadan ini permintaan snack membludak. Bahkan agen sampai kewalan dan kehabisan barang. Semoga saja dengan memanfaatkan mobil Daihatsu Ayla untuk berjualan, daganganku makin laris dan dikenal banyak orang,” ujarnya.

 

 

- advertisement -