Beranda blog Halaman 1889

Juara Cipta Puisi FLS2N Ini Grogi Saat Pertama Kali Baca Puisi di Atas Panggung

0
Fitriana Sari membacakan puisi pada pagelaran Fasbuk, Juni 2017_6
Fitriana Sari membacakan puisi pada pagelaran Fasbuk, Juni 2017. Foto: Ahmad Rosyidi

SEPUTARKUDIS.COM, UMK – Seorang perempuan berkerudung hitam mendapat sambutan tepuk tangan meriah saat memasuki sebuah panggung di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). Sambil memegang dua lembar kertas di tangan, dia lalu membacakan dua puisi di acara yang diselenggarakan Forum Apresiasi Sastra Dan Budaya Kudus (Fasbuk). Puisi tersebut berjudul Thajjud Cintaku, Karya Emha Ainun Najib dan Iqra’ karya Salim Sabendino.

Perempuan itu bernama Fitriana Sari (17). Kepada Seputarkudus.com, dia mengungkapkan, di acara Fasbuk bertajuk Ngabuburit Asyik itulah pertama kali dirinya membaca puisi di depan umum. Meski pernah menjadi juara Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Cipta Puisi tingkat Kabupaten tahun 2016, dan sering menulis puisi, dia mengaku belum pernah membaca puisi di depan umum.

Baca juga: Fasbuk Ajak Penonton Ngabuburit Saksikan Pertunjukan Seni dan Buka Bersama

“Tadi rasanya grogi, tapi ya senang dan lega. Meski sering menulis puisi, dan pernah juara FLS2N Cipta Puisi tingkat Kabupaten. Tapi malah baru pertama kali ini saya baca puisi di depan umum. Ke depan saya ingin mencoba lagi, agar bisa terbiasa dan lebih baik lagi,” ungkapnya kepada Seputarkudus.com, Sabtu (17/6/2017) sore.

Cilik, begitu Fitriana Sari akrab disapa, membaca puisi Tahajjud Cintaku karena menarik dan mudah dipahami. Selain itu dia juga menyesuaikannya dengan momen Ramadan. Menurutnya, puisi tersebut bercerita tentang cinta manusia kepada Tunahnya. Dan pada Ramadan seperti sekarang ini dia merasa banyak orang sedang giat beribadah, sehingga puisi itu pas dengan kondisi bulan Ramadan.

“Puisi itu tentang cinta manusia kepada Tuhannya. Jadi menurut saya sangat bagus dan pas untuk saya baca di acara ini. Selain itu puisi ini juga mudah dipahami,” terang alumni SMA 1 Mejobo itu.

Ketua Fasbuk Arfin Akhmad Maulana (23), menjelaskan, kegiatan Fasbuk pada bulan Ramadan dimulai pukul 15.30 WIB hingga pukul 19.00 WIB. Ada enam pertunjukan, dan ditambah partisipasi penonton. Di antaranya, Driffarossa Aisy Aufa Nuha M, kolaborasi dengan Bagus, mementaskan musikalisasi dan teatrikal sejarah Kudus, Gus Ji Gang.

“Kemudian Aprilia Kurniawati, membacakan puisi. Fitriana Sari, juga membaca puisi. Nian Aviani, mempertunjukan puisi dan pantomim. Aan dan Yahya, musik akustik, terakhir ditutup dengan musik dari Fasbuk sendiri,” tambahnya usai acara.

- advertisement -

Fasbuk Ajak Penonton Ngabuburit Saksikan Pertunjukan Seni dan Buka Bersama

0
Penampilan kelompok seni di atas panggung Fasbuk, Juni 2017_6
Penampilan kelompok seni di atas panggung Fasbuk, Juni 2017. Foto: Ahmad Rosyidi

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Gemuruh sorak-sorak penonton terdengar usai persembahan pertunjukan musik penutup pada Forum Apresiasi Sastra Dan Budaya Kudus (Fasbuk). Karena waktu sudah menunjukan sekitar pukul 19.00 WIB, akhirnya acara bertajuk Ngabuburit Asyik itupun ditutup. Biasanya acara yang diselenggarakan tiap bulan ini diselenggarakan malam hari, kali ini acara diselenggarakan sore sekaligus dimanfaatkan untuk berbuka bersama.

Arfin Akhmad Maulana (23), ketua Fasbuk mengatakan, kegiatan tersebut diselenggarakan Fasbuk bekerjasama dengan HMP SI UMK dan di dukung Djarum Foundation Bakti Budaya. Dia yang juga menjadi vokalis grup musik yang tampil sebagai penutup, mengaku senang dengan apresiasi masyarakat.

“Kegiatan Fasbuk biasa digelar malam hari, edisi khusus Ramadan dirubah sore, karena acara diselenggaakan bertepatan dengan Ramadan. Selain bisa menampilkan kesenian untuk ngabuburit, juga bisa digelar buka bersama,” kata Arifin, Sabtu (17/6/2017) malam.

Arfin mengatakan, kali ini, Fasbuk tetap menggelar kegiatan apresiasi seni dan diskusi seperti biasa. Selain menyajikan pertunjukan musik, puisi dan diskusi, Fasbuk juga menyediakan makan dan minum untuk buka bersama bagi penonton yang hadir.

Dia berharap generasi muda tidak berhenti berkarya dan berkreativitas pada saat puasa Ramadan. “Jadi puasa wajib, ibadah harus, berkarya dan berkreativitas juga jalan terus. Dan saya salut dengan masyarakat Kudus, meski bulan puasa tetap banyak yang antusias untuk datang mengapresiasi kegiatan kami. Pengisi acaranya juga para pemuda dan semua bersemangat,” tambahnya.

Fitriana Sari (17), satu di antara sejumlah orang yang ikut membaca puisi pada acara tersebut, mengaku senang, karena bisa mendapat pengalaman baru. Dia juga mengungkapkan, sebelumnya dia pernah ikut ekstra kurikuler jurnalistik di sekolah. Dia datang keacara Fasbuk bersama delapan temannya.

“Tadi saya datang bersama teman-teman ekstra kurikuler jurnalistik, sekitar delapan orang. Saya senang dengan kegiatan seperti ini, jadi saya sangat mengapresiasi. Semoga lain kali bisa ikut berpartisipasi lagi,” terang warga Desa Loram Wetan, Kecamatan Jati, Kudus itu usai membaca puisi.

- advertisement -

Supa’at Bersyukur Usaha Pembuatan Sandal dan Sepatu Mampu Mengantarkan Kedua Anaknya Jadi Sarjana

0
Produk sepatu sandal yang dibuat Supa'at, Kajeksan, Kudus 2016_6
Produk sepatu sandal yang dibuat Supa'at, Kajeksan, Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, Kajeksan – Di Kelurahan Kajeksan RT 1, RW 1, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah rumah bercat warna hijau. Di teras rumah terlihat seorang pria mengenakan kaus oblong warna coklat sedang sibuk mengoleskan lem pada alas sandal berwarna hitam. Seusai diolesi lem alas sandal tersebut kemudian dijemur. Pria tersebut yakni bernama Supa’at (60), pembuat sandal dan sepatu khusus perempuan.

Sembari melanjutkan aktivitasnya tersebut, Supa’at sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, mulai merintis usaha pembuatan sandal dan sepatu perempuan sejak tahun 1980. Namun sebelumnya, dia mengaku kerja di perusahaan yang memproduksi alas kaki untuk perempuan di Semarang.

Baca juga:  Jelang Lebaran, Permintaan Sepatu dan Sandal Hand Made Karya Supa’at Terus Meningkat

“Aku bekerja selama lima tahun. Setelah aku merasa bisa dan menguasai cara membuat sandal maupun sepatu perempuan aku memutuskan keluar. Karena aku ingin punya usaha sendiri meski kecil-kecilan dan tida kerja terus ikut orang lain,” ujar Supa’at kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Kerjasan, Kota, Kudus itu mengatakan, saat itu dirinya langsung mempekerjakan satu orang untuk membatunya memproduksi sepatu dan sandal khusus perempuan. Menurutnya, sandal dan sepatu hasil produksinya tersebut kemudian ditawarkannya ke para pedagang di Pasar Kliwon Kudus.

Alhamdulillah respon para pedagang di Pasar Kliwon Kudus bagus. Dan setiap hari aku bersama satu orang pekerja saat itu mampu memproduksi sepatu da sandal sebanyak 20 pasang setiap harinya. Dan setiap hari juga aku pasti mengirim sandal da sepatu tersebut ke Pasar Kliwon dengan sistem pembayaran cash atau kontan,” ungkapnya.

Pria yang dikaruniai dua anak tersebut menuturkan, usaha pembuatan sandal yang terbuat dari bahan imitasi tersebut meraih puncak kesuksesan pada tahun 2000. Pada saat itu dia mengaku mampu mempekerjakan 12 orang dan mampu produksi 100 pasang sandal dan sepatu sehari. Menurutnya, saat itu pelanggannya tidak hanya pedagang di Pasar Kliwon, melainkan juga banyak yang berasal dari lain daerah.

Saat itu dirinya juga punya pelanggan pedagang di satu pasar di Semarang, Kendal, Pekalongan, Magelang, bahkan hingga Bali. Kesuksesan tersebutnya bertahan sekitar 10 tahun. Pada tahun 2010 order pemesanan sandal dan sepatu produksinya mulai menurun, bahkan terbilang sepi. Karena itulah para pekerjanya mulai keluar satu demi satu dan akhirnya tidak tersisa satupun.

“Saat itu sandal dan sepatu hasil produksiku kalah bersaing dengan sandal dan sepatu impor yang harganya lebih murah. Karena tidak ingin hanya meratapi nasib, meski sepi order dan tidak punya karyawan aku tetap membuat sandal dan sepatu perempuan. Dan sandal maupun sepatu hasil karyaku, aku tawarkan kepada para pedagang di satu pasar di Semarang dan Kendal,” ujarnya.

Dia bersyukur, karena usahanya tersebut tidak sia-sia dan sandal maupun sepatu buatannya dibeli para pedagang di beberapa pasar di Semarang dan Kendal. Bahkan ada yang berlangganan hingga sekarang. Meskipun kata dia, mengambilnya para pedagang tersebut tidak banyak. Tapi setidaknya sepekan sekali dia mengaku bisa menjual sekitar 100 pasang sandal dan sepatu hasil karyanya.

“Meski penuh liku usaha pembuatan sandal dan sepatu miliku masih bertahan hingga sekarang. Aku juga bersyukur karena dengan usahaku ini aku mampu menyekolahkan kedua anaku hingga jadi sarjana dan sekarang mereka sudah kerja dan punya keluarga,” ungkapnya.

- advertisement -

Selama Ramadan, Ada Buka Bersama di Masjid Ini Setiap Hari

0
Kubah dalam Masjid Sabilul Muttaqin 2017_6
Kubah dalam Masjid Sabilul Muttaqin. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Masjid dengan empat saka beton bercat mengkilat tampak berdiri kokoh dengan pintu masuk berhias gebyok. Masjid yang berada di Dukuh Krajan Lor, Desa Jepang Pakis, Jati, Kudus tersebut eksterior dan ineteriornya dihiasi dengan berbagai ornamen. Masjid itu yang bernama Masjid Sabilul Muttaqin. Selama Ramadan tahun ini, pengurus masjid menyediakan sajian buka bersama setiap hari.

Kepada seputarkudus.com, Muhammad Sulikan (53), anggota takmir masjid sudi memberi penjelasan semua kegiatan di Masjid Sabilul Muttaqin. Dia mengungkapkan, selama puasa masjid yang berada tepat di pojok pertigaan jalan tersebut selalu menyediakan buka puasa. Menurutnya, buka puasa tersebut disediakan untuk mereka yang ke masjid menghadiri pengajian setiap sore.

Baca juga: Sabilul Muttaqin, Masjid di Jepang Pakis nan Indah yang Bentuknya Memanjang ke Utara

“Selama Ramadan Masjid Sabilul Muttaqin ada kegiatan rutin setiap hari yakni pengajian setiap sore mulai pukul 16.30 WIB hingga Maghrib datang. Dan mereka yang datang menghadiri pengajian tersebut mendapatkan buka puasa gratis. Jumlahnya juga lumayan banyak ada sekitar 80 porsi setiap hari,” ujar pria yang akrab disapa Sulikan beberapa waktu lalu.

Pria yang rumahnya berdampingan dengan Masjid Sahibul Muttaqin tersebut mengungkapkan, dana untuk buka bersama tersebut berasal dari swadaya masyarakat setempat. Selain pengajian dan buka bersama, tutur dia, selama Ramadan sama dengan masjid lainnya yakni tadarusan setiap pagi, Tarawih, Tarkim dan lainnya.

Dia menuturkan, masjid Sahibul Muttaqin yang dibangun pada tahun 1992 dan diresmikan oleh KH Asnawi Akhmadi  pada tahun 2011. Selaun digunakan untuk salat, juga difungsikan untuk pemberangkatan serta pemulangan para jemaah haji dari Desa Jepang Pakis.

“Sejak dibangun Masjid Sahibul Muttaqin dan dijadikan tempat pemberangkatan dan pemulangan para jemaah haji. Alhamdulillah setiap tahun rutin warga Desa Jepang Pakis, selalu ada yang menunaikan ibadah haji. Bahkan pada tahun 2006 itu jemaah haji mencapai 26 orang, termasuk diriku,” ungkapnya.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, selama ini warga setempat yang pergi ibadah haji, dan diberangkatkan sudah sangat banyak. Bahkan seingat dirinya, setiap tahunnya warga yang pergi haji selalu lebih dari lima orang.

“Seingatku paling sedikit itu lima orang, dan di tahun lainnya pasti lebih dari jumlah tersebut. Alhamdulillah di Desa Jepang Pakis ini sudah banyak warga yang mampu menunaikan Rukun Islam kelima tersebut. Semoga saja ke depannya makin banyak lagi warga lainnya bisa ke tanah suci untuk ibadah haji,” ujarnya.

- advertisement -

Polisi Peringatkan Pemudik Agar Berhati-Hati Saat Melintasi Tikungan ‘Maut’ di Kudus

0
Jalur mudik di Gerbang Kudus Kota Kretek, perbatasan Kudus dan Demak 2017_6
Jalur mudik di Gerbang Kudus Kota Kretek, perbatasan Kudus dan Demak. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, POLRES – Papan imbauan yang berada di tiang pemisah jalur dua arah Jalan Lingkar Selatan Kudus tampak masih berfungsi baik. Papan tersebut berada sebelum Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Payaman. Dari arah selatan tertulis “Hati-hati Kurangi Kecepatan Rawan Kecelakaan”. Sementara dari arah utara tanda serupa juga ada, ditambah simbol lalu lintas belok kanan dan tanda seru dengan di bawahnya tertulis ‘Tikungan Tajam’.

Jalur tikungan tajam tersebut berada di Jalan Lingkar Selatan Desa Payaman, Kecamatan Mejobo Kudus. Menurut Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Kudus Kompol Tugiyanto, tikungan itu sering terjadi kecelakaan lalu lintas dan memakan korban. Dia berpesan dalam kegiatan mudik dan arus balik masyarakat yang melewati jalur utama pantura  tersebut agar selalu berhati-hati dan mematuhi peraturan lalu lintas.

“Meski sudah ada rambu-rambu peringatan, pemudik agar tetap hati-hati lewat Jalur Lingkar Selatan,” tuturnya saat ditemui di Mapolres Kudus belum lama ini.

Dia menjelaskan, pemudik yang melewati Kabupaten Kudus didominasi pengendara menuju ke Kabupaten Pati, Rembang dan Jepara. Pemudik akan melewati dua jalur yakni jalur pantura dan jalur dalam kota. Menurutnya, pada jalur pantura pemudik akan melewati Jalan Lingkar Selatan sejauh 22 kilometer dengan jarak tempuh 30 menit pada kecepatan 80 kilometer per jam.

Sedangkan dalam kota, katanya, akan menempuh perjalanan 19 kilometer dengan waktu tempuh 20 menit dengan kecepatan 80 kilometer per jam. Menurutnya, selagi tidak ada kecelakaan, arus lalu lintas dipastikan lancar.

“Yang banyak kemacetan nanti malah di dalam kota. Mobilitas masyarakat untuk keluar misal ke Alun-alun Simpang Tujuh tinggi. Terutama nanti pas malam takbir (lebaran Hari Raya Idul Fitri),” jelasnya.

Dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Lintas Sektoral bertempat di Aula Tunggal Panaluan Mapolres Kudus 13 Juni 2017 lalu, dirinya memperkirakan arus kendaraan mudik Lebaran mulai meningkat melewati Kudus tanggal 20 Juni 2017. Puncak arus mudik diperkirakan akan terjadi pada 21-24 Juni 2017. “Cuti bersama tanggal 23-28 Juni 2017. Hari Raya Idul Fitri tanggal 25-26 Juni 2017,” tuturnya.

Sedangkan puncak arus balik, tutur Tugiyanto, diperkirakan akan terjadi pada 30 Juni – 1 Juli 2017. Dalam pengamanan Hari Raya Idul Fitir 1438 Hijriyah, pihaknya menggelar Operasi Ramadniya 2017 dari tanggal 19 Juni hingga 4 Juli 2017. Dalam operasi tersbeut Polres akan menerjunkan 300 personel dari 780 personel yang dimiliki Polres Kudus.

“Ada juga tambahan 102 personel dari Kodim 0722, Dishub, Satpol PP, Dinas Kesehatan dan lembaga lainnya,” tuturnya.

Pihaknya juga membuat empat Pos Pengamanan (Pos Pam), satu Pos Pelayanan (Pos Yan) dan satu sub Pos Pam di jalur-jalur yang dilalui pemudik. Dia meyebut, Pos Yan akan ditempatkannya di depan Terminal A Jati Wetan. Sedangkan untuk Pos Pam ditempatkan di depan Kantor Bupati Kudus, dekat SPBU Kerawang, depan Pasar Swalayan Ada dan depan Plasa Kudus Matahari dan satu sub Pos Pam di depan Pasar Kliwon.

“Personil yang diterjunkan untuk Pos Pam dan Pos Yan 180 personil polisi dan tambahan personel samping 102,” jelasnya.

- advertisement -

Jelang Lebaran, Permintaan Sepatu dan Sandal Hand Made Karya Supa’at Terus Meningkat

0
Supa’at membuat sepatu di rumahnya, Kelurahan Kajeksan, Kota, Kudus 2017_6
Supa’at membuat sepatu di rumahnya, Kelurahan Kajeksan, Kota, Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, KAJEKSAN – Seorang pria terlihat sibuk membuat sandal di teras rumah di Keluarahan Kajeksan, Kecamatan Kota, Kudus. Di teras itu juga tampak puluhan alas sandal yang terbuat dari karet dan puluhan kulit imitasi bahan baku untuk pembuatan sandal. Rumah tersebut yakni tempat pembuatan sandal dan sepatu wanita bermerek Aqilla, milik Supa’at.

Kepada Seputarkudus.com, Supa’at mengungkapkan, selama Ramadan ini penjualan aneka sandal dan sepatu produksinya mengalami peningkatan. Namun peningkatannya tidaklah besar, hanya 20 persen per pekan.

“Meski peningkatannya tidak begitu besar aku tetap bersyukur setidaknya ada peningkatan penjualan, daripada tidak ada. Bulan Ramadan, biasanya aku hanya mampu menjual sekitar 100 pasang sepekan. Sedangkan sebulan menjelang Lebaran ini penjualannya bisa mencapai 120 pasang dalam waktu yang sama,” ujar Supa’at saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Kajeksan, Kota, Kudus tersebut mengungkapkan, dirinya memproduksi sandal dan sepatu khusus perempuan dengan bahan kulit imitasi. Menurutnya, sepatu dan sandal hasil produksinya tersebut sepekan sekali disetorkan kepada para pedagang yang sudah jadi pelanggannya di beberapa pasar di Semarang maupun di Kendal. Pasar-pasar tersebut di antaranya, Pasar Karang Ayu, Pasar Ngalian, Pasar Bojo, Pasar Pagi, Cepiring dan lainnya.

“Aku mengirim sepatu dan sanda hasil produksiku secara gantian dari pasar satu ke pasar lainnya, jadi sekitar sebulan sekali aku mengirim sandal dan sepatu ke pasar yang sama. Aku menjual sandal hasil produksiku dengan harga Rp 25 ribu sepasang, dan Rp 35 ribu untuk sepasang sepatu,” ujarnya.

Pria yang dikaruniai dua anak dan satu cucu itu menuturkan, terkadang juga sandal dan sepatu yang dibuat, dibeli pedagang grosir Kudus. Biasanya pedagang tersebut menjual sandal dan sepatu hasil produksinya ke seluruh daerah di Karesidenan Pati. Tapi jika tidak dibeli pedagang grosir itu, dia akan membawa produk sandal dan sepatunya ke Semarang dan Kendal.

Supa’at menuturkan, sebelum melabeli produknya dengan nama Aqilla, Supaat melabeli produknya dengan merk Lion Star. Menurutnya, pemberian merek tersebut diambil dari nama cucu pertamanya.

“Semoga dengan merek baru sesuai nama cucuku ada harapan baru dengan usahaku. Semoga usahaku bisa makin berkembang dan sandal serta sepatu hasil produksiku makin banyak lagi digemari oleh para kaum hawa,” harap Supa’at.

Dia menuturkan, saat ini hanya seorang diri memproduksi sandal dan sepatu. Dalam sehari dia mengaku mampu produksi sekitar 20 pasang sepatu maupun sandal dengan berbagai ukuran. Sedangkan untuk bahan dasar pembuatan sepatu maupun sandal tersebut dibelinya dari satu toko yang ada di Kudus.

Untuk bentuk sandal dan sepatu, dirinya mengaku mengikuti bentuk dari kulit imitasi yang tersedia di toko tempatnya berbelanja. Dengan keterbatasan bentuk yang disediakan, dia mengaku hanya pasrah dan memproduksi sandal dan sepatu dengan model seadanya. Karena pemilik toko tersebut juga khawatir, jika menyediakan aneka bentuk dan corak, tapi tidak ada yang membeli.

- advertisement -

Sabilul Muttaqin, Masjid di Jepang Pakis nan Indah yang Bentuknya Memanjang ke Utara

0

SEPUTARKUDUS.COM, JEPANG PAKIS – Masjid lantai dua tampak berdiri tepat di pertigaan Jalan Kyai Mojo di Desa Jepang Pakis, Kecamatan Jati, Kudus. Masjid yang didominasi warna hijau tersebut tampak beratap kubah emas dan di bagian depan berdiri menara tunggal. Masjid yang dihiasi dengan ornamen serta tulisan Arab itu bernama Masjid Sabilul Muttaqin, yang dibangun agar masyarakat setempat salat Jumatnya lebih dekat.

Masjid Sabilul Muttaqin, Desa Jepang Pakis, Jati, Kudus 2017_6_19
Masjid Sabilul Muttaqin, Desa Jepang Pakis, Jati, Kudus

Menurut Muhammad Sulikan (53), pengurus Masjid Sabilul Muttaqin sudi berbagi penjelasan kepada seputarkudus.com tentang masjid tersebut. Dia mengungkapkan, Masjid Sabilul Muttaqin dibangun sejak tahun 1992. Pembangunan masjid tersebut karena warga Dukuh Krajan Lor, Desa Jepang Pakis dulu tidak memiliki masjid. Warga melakukan salat Jumat di masjid dukuh lain yang tempatnya lumayan jauh.

“Karena jauh itulah, ada satu dermawan di Dukuh Krajan Lor mewakafkan tanahnya untuk di Bangun Masjid Sabilul Muttaqin. Masjid tersebut berdiri di atas tanah wakaf seluas 330 meter persegi. Namun karena posisinya tanah memanjang dari utara ke selatan, jadi bentuk masjid memanjang tidak memanjang ke barat,” ujar pria yang akrab disapa Sulikan kepada seputarkudus.com.

Pria yang rumahnya berdampingan dengan masjid tersebut mengungkapkan, pembagunan Masjid Salibul Muttaqin memakan waktu sekitar tiga tahun. Namun pada kurun waktu tersebut bangunannya belum sempurna dan harus diperindah dengan berbagai macam ornamen. Dan Masjid punya empat saka terbuat dari beton dan dicat mengkilat tersebut benar-benar selesai pembangunannya pada tahun 2011.

“Masjid diresmikan oleh beliau KH Sya’roni Ahmadi, dan pembanguna masjid menelan biaya sekitar Rp 3 miliar. Dana tersebut berasal dari sawadaya masyarakat Jepang Pakis,” ungkapnya.

Dia menuturkan, Masjid Salibul Muttaqin dibangun dengan desain minimalis serta gabungan bentuk masjid Timur Tengah dengan ciri menara meski hanya satu. Oleh sebab itu agar ada kesan Jawanya, semua pintu masuk masjid dipasangi gebyok yang diperindah dengan ukiran. Bahkan untuk pintu utama masjid gebyoknya terbilang besar.

“Gebyok di pintu utama bagian atasanya diukir dengan lafal Asmaul Husna, serta kanan dan kirinya bertuliskan lafal Allah dan Muhammad. Sedangkan lainnya ukiran khas gebyok Kudus. Begitu juga dengan jendela bawah semua juga ukiran dan tengahnya juga ada tulisannya Allah dan Muhammad,” ujarnya sambil jarinya menunjuk semua jendela yang dimaksud.

Sedangkan bagian dalam masjid, tuturnya, dinding masjid dipasangi granit setengah badan. Begitu juga dengan lantai masjid dan dinding pengimaman bagian dalam. Untuk dinding pengimaman bagian luar dihiasi ornamen serta dipasangi mozaik. Tampak pula di pengimaman sebuah mimbar yang terbuat dari monel.

“Dulu masyarakat setempat memang sepakat untuk membangun masjid yang bentuk modern dan bagus. Agar masyarakat khususnya generasi muda agar dengan suka cita salat di masjid dan menyemarakan masjid dengan berbagai kegiatan ke agamaan. Alhamdulillah selama puasa jamaah salat Teraweh di Masjid Salibul Muttaqin selalu penuh, begitu juga saat Salat Jumat,” ujarnya.

- advertisement -

Belum Ada Satu Jam, Beras dan Gula di Pasar Murah Ramadan Ludes, Sulasih Tak Kebagian

0

SEPUTARKUDUS.COM, PIJI – Ratusan orang berkerumum di stan-stan pasar murah di halaman Kantor Kecamatan Dawe, Kudus. Mereka terlihat menggenggam uang untuk nantinya dibelikan beberapa sembako. Saat pembukaan pasar murah dilakukan Bupati Kudus Musthofa usai, masyarakat yang didominasi perempuan tampak berdesak-desakan untuk mendapatkan sembako yang dijual lebih murah daripada di pasaran.

Pasar murah Ramadan di Desa Piji, Dawe, Kudus 2017_6
Pasar murah Ramadan di Desa Piji, Dawe, Kudus. Foto: Imam Arwindra

Stan yang mengahadap utara tampak memperlihatkan minyak goreng kemasan satu liter, kue kering, buku, gula pasir dan beras. Namun ada pula stan di sisi selatan halaman kecamatan menjual kue kering, sirup dan kebutuhan Lebaran lainnya yang disediakan Hypermart serta beberapa UMKM. Satu truk yang berisi elpiji ukuran tiga kilogram juga terlihat terparkir. Tampak agen yang menyediakannya melayani beberapa masyarakat sudah mengantre.

Dari barang-barang yang dijual di pasar murah, hanya beras dan gula pasir yang habis kurang dari satu jam. Banyak masyakat yang datang tidak kebagihan beras jenis SS yang dikemas lima kilogram tersebut. Termasuk, Sulasih (26) yang mengaku tidak kebagihan beras. Warga Desa Lau, Kecamatan Dawe mengaku sudah ikut mengantre untuk mendapatkan beras seharga Rp 7 ribu per kilogram. “Ini hanya dapat sembilan minyak goreng saja. Saya tidak dapat beras maupun gula pasir,” ungkapnya, Senin (12/6/2017).

Kesembilan minyak goreng masing-masing dibelinya dengan harga Rp 11 ribu. Menurutnya, minyak goreng yang dibeli akan digunakan untuk kebutuhan sisa hari di Ramadan dan Lebaran. Sulasih berencana akan datang di kecamatan lain dalam kegiatan serupa. “Kegiatan ini sangat membantu menekan kebutuhan dapur menjelang lebaran. Semoga terus diagendakan,” jelasnya.

Imam Prayitno, Kepala Bidang Fasilitasi Perdagangan, Promosi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus menuturkan, pasar murah yang diagendakan menjelang hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriyah diawali di Kecamatan Dawe, Gebog dan Kaliwungu. Selanjutnya, tanggal 14 Juni 2017 di Kecamatan Undaan, Jati dan Kota. Dan terakhir tanggal 15 Juni di Kecamatan Bae, Mejobo dan Jekulo.

“Kegiatan ini kerja sama dengan kecamatan-kecamatan di Kudus. Jadi untuk tempatnya di kecamatan,” ungkapnya di sela-sela kegiatan.

Di pasar murah, pihaknya memberikan subsidi untuk pembelian beras, gula pasir dan minyak goreng. Dia menuturkan menyediakan beras SS sejumlah 15 ton, gula pasir 18 ton dan minyak goreng 18 ribu liter. Masing-masing disetiap kecamatan akan diberi beras 1.650 kilogram, gula pasir dua ton dan minyak goreng dua liter.

Dia membandingkan, harga beras SS yang dijualnya di pasar murah yakni Rp 7 ribu perkilogram. Sedangkan di pasaran berkisar Rp 10.500 perkilogram. Begitu juga gula pasir seharga Rp 10 ribu perkilogram dengan harga di pasaran Rp 12.500. Imam melanjutkan, untuk minyak goreng dijualnya 11 ribu per liter dengan harga pasaran berkisar Rp 14.500.

“Di sini juga ada barang-barang dari Hypermart, Pasar Swalayan Ada, Ramayana dan produk UMKM. Untuk LPG dari agen sendiri. Itu bukan bagian dari kami,” terangnya.

Menurut Imam, kegiatan pasar murah juga menyediakan daging kerbau beku yang dijualnya seharga Rp 75 ribu per kilogram. Menurutnya, daging tersebut disediakan oleh agen yang sudah siap stok selama pelakasanaan pasar murah di sembilan kecamatan. “Untuk daging kerbau beku Rp 75 ribu per kilogram,” tambahnya.

- advertisement -

Masjid di Pasuruan Lor Ini Sengaja Dicat Warna Hijau Agar Terasa Adem dan Sejuk

0

SEPUTARKUDUS.COM, PASURUAN LOR – Masjid di Desa Pasuruan Lor, Kecamatan Jati, Kudus ini sebagian atapnya masih berbentuk limas bersusun tiga. Di puncak atapnya berhiaskan mustaka dari monel. Sedangkan sebagian atapnya lagi berbentuk kubah besar dengan warna hijau. Masjid tersebut bernama Masjid Baitul Makmur, yang didominasi warna hijau agar terasa adem dan sejuk.

Masjid Baitul Makmur Pasuruan Lor, Kaliwungu, Kudus 2017_6
Masjid Baitul Makmur Pasuruan Lor, Kaliwungu, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Menurut Dwi Nuryanto (59), takmir masjid tersebut mengungkapkan, Masjid Baitul Makmur dibangun pada tahun sekitar 1950. Masjid sudah dipugar sebanyak dua kali dan pemugaran terakhir masjid dicat dengan warna hijau agar terlihat adem dan terasa sejuk saat berada di dalam masjid.

“Itu harapan para masyarakat di sini. Dengan merasa sejuk dan adem saat ada di masjid, para jamaah bisa merasakan ketenangan saat beribadah. Selain itu kami juga berharap agar masyarakat selalu datang untuk salat berjamaah di Masjid Baitul Makmur,” ujar pria yang akrab disapa Dwi kepada Seputarkudus.com bebebapa waktu lalu.

Warga Desa Pasuruan Lor, Jati, Kudus itu mengungkapkan, selain itu masjid yang berlantai dua itu dinamakan Baitul Makmur agar jamaah di Masjid Baitul Makmur bisa makmur dikehidupan dunia maupun akhirat. Makmur di dunia memiliki maksud, agar jemaah diberi kesehatan dan rezeki berlimpah dan makmur, serta di akhirat bisa masuk surga.

Dia mengatakan, masjid dipugar terakhir pada tahun 1997 dan selesai pada tahun 2005. Masjid diresmikan KH Sya’roni Ahmadi. Menurutnya, pembangunan yang berlangsung hingga delapan tahun itu menelan biaya sekitar Rp 1,4 miliar. Dana berasal dari swadaya masyarakat, seikhlasnya.

“Sistem penarikan dana pembagunan masjid dengan memberikan kaleng ke seluruh warga Desa Pasuruan Lor yang beragama Islam. Dan kaleng tersebut akan diambil oleh pihak panitia pembangunan masjid sebulan sekali. Jadi memang betul-betul seiklasnya,” ujarnya.

Dia menuturkan, Masjid Baitul Makmur berdiri diatas tanah wakaf seluas 1500 meter persegi. Dengan bentuk masjid masih mempertahankan desain masjid-masjid kuno di Jawa dengan atap susun dan satu kubah. Atap masjid berbentuk limas dan bersusun tiga itu ditopang dengan empat tiang atau biasa disebut saka papat.

“Setelah dipugar Masjid Baitul Makmur sekarang jadi tambah luas dan mampu menampung sekitar 1000 jamaah. Sekeliling masjid juga dibangun pagar yang dicat senada dengan warna tembok masjid yakni hijau. Pokoknya warna hijau melambangkan kesejukan dan senada dengan warna lambang NU,” ungkapnya.

- advertisement -

Masjid di Dersalam Ini Rutin Putar Syiir Tanpa Waton Sebelum Adzan Dzuhur

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Waktu menunjukan pukul 11.00 WIB, saat Syiir Tanpa Waton terdengar keras dari masjid di Perumahan Salam Residance, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. Di dalam masjid tersebut tampak seorang pria sedang mengepel. Dia bernama Sunardi (64), satu diantara sejumlah takmir masjid yang biasa azdan Dzuhur di Masjid Istiqomah.

Masjid Istiqomah, Perum Salam Residence, Kudus 2017_6_17
Masjid Istiqomah, Perum Salam Residence, Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

Sambil membersihkan lantai masjid, Sunardi sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang syiir yang rutin diputar di masjid tersebut. Dia mengatakan, hampir setiap menjelang salat Dzuhur dia memutar syiiran tersebut di masjid Istiqomah. Syiir Tanpo Waton diputar sebagai penanda tak lama lagi salat Dzuhur bagi warga sekitar.

“Itu saya putar dari telepon genggam saya, agar jadi penanda salat Dzuhur akan segera dimulai. Kalau syiiran dulu kan masyarakat tahu, sebentar lagi adzan, jadi bisa bersiap-siap dulu,” terang ayah tiga anak itu, belum lama ini.

Kurang lebih sejak dua tahun yang lalu, dia mulai rutin memutar syiir tersebut. Selain untuk penanda menjelang salat Dzuhur, dia juga berharap warga sekitar bisa meresapi syiiran yang diputarnya. Sehingga bisa menyejukan hati dan menjadikan semangat beribadah warga sekitar masjid.

“Saya juga berharap syiir ini bisa diresapi warga, dan menyejukan hati. Jadi melakukan sesuatu bisa didasari rasa ikhlas, dan niat semua karena Allah. Dengan seperti itu hati kita akan tentram dan tidak gelisah menjalani hidup,” tutur kakek yang memiliki enam cucu itu.

Sementara itu, Munaji (67), Ketua Takmir Masjid Istiqomah, syiiran yang rutin diputar setiap menjelang salat Dzuhur sudah menjadi ciri khas masjid tersebut. Seperti nama masjid, dia berharap hal yang baik untuk tetap dipertahankan. Seperti beribadah perlu dilakukan dengan istiqomah, bahkan ditingkatkan.

Dia juga menjelaskan, Masjid Istiqomah berdiri sejak tiga tahun yang lalu. Dan masjid tersebut ditujukan untuk pemukiman baru di Desa Dersalam. ”Masjid Istiqomah ini wakaf dari H Edi Zakaria. Sudah 90 persen jadi, kemudian warga menghimpun dana untuk menyelesaikannya. Masjid ini juga digunakan untuk salat Jumaat baru sekitar satu tahun,” tambahnya.

- advertisement -

PT Djarum Bagikan Total Rp 90,2 M untuk THR, Kartini Akan Gunakan untuk Buat Opor Lebaran

0

SEPUTARKUDUS.COM, PANJUNAN – Wajah Kartini (36) tampak semringah saat sedang melinting rokok di brak SKT BL 53 Djarum Bitingan Lama, Jalan Lukmonohadi, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Perempuan berseragam batik warna merah dan bertopi biru itu tak bisa menyembunyikan rasa gembiranya karena baru saja menjadapatkan uang Tunjangan Hari Raya (THR) dari PT Djarum, tempatnya bekerja.

Karyawan PT Djarum menunjukkan uang THR yang telah diterima 2017_6_15
Karyawan PT Djarum menunjukkan uang THR yang telah diterima. Foto: Imam Arwindra

Karyawan Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang sudah bekerja dari tahun 1999, menuturkan mendapatkan uang THR sebesar Rp 1.740.900. Dia mengaku uang yang didapat tidak langsung dibelanjakan, tapi disimpan hingga Lebaran hari Raya Idul Fitri nanti tiba. “Senang sekali THR-nya sudah turun,” tuturnya saat ditemui Seputarkudus.com, Kamis (15/6/2017).

Kartini merencakan uang THR yang didapat selain digunakan membeli baju untuk kedua anaknya, juga untuk persiapan kebutuhan selama Lebaran. Tidak lupa, dirinya ingin memasak opor bebek untuk sajian Lebaran. Menurutnya, Kartini sangat terbantu dengan adanya uang THR untuk memenuhi kebutuhan Lebaran yang diperkirakan meningkat.

“Ya untuk beli baju dan kebutuhan lebaran. Oh ya, mau buat opor bebek juga,” tuturnya yang tinggal di Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan Kudus.

Karyawan PT Djarum lainnya, Kusmi (37), tampak selesai menghitung uang mengungkapkan senang mendapatkan THR. Dia yang sudah 10 tahun terakhir menjadi tulang punggung keluarga, mengaku akan menggunakan uang tersebut untuk membelikan baju keempat anaknya.

“Sudah 10 tahun saya menjadi tulang punggung keluarga. Suami meninggal. Anak yang paling besar mau naik kelas dua SMA,” jelasnya yang tinggal di Kedungwaru Kidul, Karanganyar, Demak.

Selain baju, Kusmi berencana akan membeli kebutuhan lainnya untuk persiapan Lebaran. Dia mengaku tidak akan langsung membelanjakan uangnya. “Saya dapat Rp Rp 1.740.900,” tuturnya.

Sementara itu, Deputi Manajer Coorporate Affair PT Djarum di Kudus Hardi Cahyana menuturkan, pihaknya membagikan uang THR sejumlah Rp 90.221.840.950. THR tersebut dibagikan kepada karyawan harian 7.355 orang dan karyawan borong 45.094 orang. “Uang tersebut dibagikan sejumlah 52.449 karyawan borong dan harian,” tuturnya.

Dia merinci, karyawan harian mendapatkan uang THR Rp 13.527.148.750, sedangkan karyawan borong Rp 76.694.692.200. Menurutnya, besaran uang yang didapatkan setiap karyawan berbeda-beda sesuai dengan Upah Minimun Kabupaten (UMK). Pihaknya memberitahukan, selain di brak SKT di Kudus, pembagian THR juga dilakukan di 28 brak SKT lain yang tersebar di Kabupaten Jepara, Pati dan Rembang.

Hardi mengibau, para karyawan yang baru saja mendapatkan uang THR agar segera pulang ke rumah untuk segera disimpan. Imbauan tersebut untuk mengantisipasi ancaman tindak kejahatan.  “Kita bagikan THR hari ini (kemarin) secara serentak untuk para karyawan. Harapannya dapat segera digunakan berbelanja untuk kebutuhan lebaran” tuturnya.

- advertisement -

Eli Bisa Jual Ratusan Bungkus Sajian Takjil Sehari, Pantang Pulang Sebelum Habis

0

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Seorang perempuan berbaju batik tampak sibuk melayani pembeli di warung tepi Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus. Dia tampak memasukan beberapa sajian takjil ditunjuk pembelinya ke dalam kantong plastik. Perempuan tersebut bernama Elinawati (58), penjual berbagai macam sajian takjil yang memiliki prinsip pantang pulang sebelum dagangan habis.

Eli berjualan sup buah di Jalan Sunan Muria, Kudus, untuk sajian takjil 2017_6
Eli berjualan sup buah di Jalan Sunan Muria, Kudus, untuk sajian takjil. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Eli, begitu dia akrab disapa, sudi berbagi kisah tentang usahanya. Dia mengungkapkan, selama berjualan dirinya bersama suaminya menanamkan prinsip pantang pulang sebelum dagangannya habis. Karena menurutnya, dagangannya tersebut tanpa bahan pengawet, jadi sehari harus habis. Jika tidak habis, dagangan tersebut bisa basi. Kalaupun tak basi, rasanya akan berubah.

“Aku berjualan makanan khususnya bubur saat Ramadan ini. Aku juga menjual aneka sajian takjil, jadi harus habis dalam sehari. Soalnya jika tidak bisa habis terjual, keesokan harinya sudah tidak bisa dijual karena basi. Oleh sebab itu prinsip tersebut harus kami terapkan, bagaimanapun caranya, daganganku harus habis terjual dalam sehari,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus itu mengungkapkan, mulai berjualan bukur sejak 1993. Namun dia pernah berhenti karena suaminya kecelakaan dan dia harus merawatnya. Dia mengatakan, setiap hari berjualan bubur dan laukpauk. Namun karena saat ini Ramadan, dia menambah sajian takjil untuk dijual.

Di mengatakan, bubur dan takjil yang dibuat dan dijualnya tersebut tidak menggunakan bahan kimia, khususnya pengawet. Jadi dagangannya tersebut tidak bisa bertahan lebih dari sehari semalam. Dia mengatakan, menjual sekitar 11 jenis bubur, di antaranya, bubur kacang hijau, bubur ketan hitam, bubur cenil dan lain sebagainya.

“Setiap hari aku menyediakan sekitar 200 bungkus yang terdiri dari aneka macam bubur yang aku jual Rp 3 ribu per bungkus. Selain itu aku juga menjual aneka makanan takjil, anatara lain, kolak sebanyak 50 gelas plastik, koktail juga 50 gelas plastik, susu kedelai dan lainnya. Ada juga laukpauk, di antaranya, botok dan sayur,” ujarnya.

Selama Ramadan ini, dia mengaku berjualan mulai pukul 12.00 WIB, dan biasanya pada pukul 16.00 WIB  ratusan bungkus dagangannya tersebut sudah habis terjual. Andai belum habis, dia akan menjual dagangannya tersebut keliling ke beberapa orang yang punya usaha.

“Ini juga sebagai tindakan usaha, ya bisa dikatakan menjemput rezeki. Alhamdulillah selama ini responnya bagus kadang pemilik usaha itu belinya langsung puluhan bungkus untuk para pekerjanya,” katanya.

Dia mengatakan, selama Ramadan penjualan aneka dagangannya tersebut meningkat. Menurutnya, peningkatannya sangat signifikan, hingga 40 persen dibanding hari-hari biasa. “Aku juga menerima pesanan. Minimal pesanannya harus 50 bungkus,” ujarnya.

- advertisement -

Operasi Ramadaniya akan Dimulai Minggu Depan, Polres Buka Lima Pos Pam

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Beberapa orang tampak mendirikan tenda di depan Pendapa Kabupaten Kudus. Bagian depan tenda terlihat diberi ornamen gambar ketupat dengan latar belakang hiasan warna biru. Tenda tersebut dibuat untuk Pos Terpadu Kudus Pengamanan Lebaran 2017, selama berlangsungnya Operasi Ramadaniya.

Pospam Lebaran 2017 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus 2017_6
Pospam Lebaran 2017 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra

Pos pengamanan (Pos Pam) selama Lebaran 2017 tersebut akan digunakan Kepolisian Resor (Polres) Kudus. Menurut Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polres Kudus Kompol Tugiyanto, Operasi Ramadaniya 2017 akan dimulai 19 Juni hingga 4 Juli 2017. Pihaknya membuka lima Pos Pam dan pos pelayanan (Pos Yan) di Kudus. “Empat Pos Pam dan satu Pos Yan,” tuturnya kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Pos pelayanan akan ditempatkannya di depan Terminal A Jati Wetan. Sementara itu untuk pos pengamanan ditempatkan di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Klaling, depan Pasar Swalayan Ada dan kawasan Plasa Kudus Matahari. “Sebenarnya sama semua untuk pengamanan dan pelayanan. Namun untuk Pos Yan lebih lengkap,” jelasnya.

Perwira menengah di jajaran Polres Kudus tersebut menyebutkan, nantinya Pos Yan akan dilengkapi fasilitas bengkel, TV, tempat istirahat, tenaga medis, dan ATM. Menurutnya, sambil beristirahat pemudik bisa melakukan transaksi lewat ATM yang disediakan. “Intinya nanti tanggal 19 (Juni 2017) pos sudah siap semua,” tambahnya.

Setiap Pos Yan maupun Pos Pam menurutnya akan dijaga oleh 30 hingga 35 personel polisi. Dengan adanya Pos Yan dan Pos Pam pihaknya berharap pemudik saat melewati Kabupaten Kudus merasa aman. Jika lelah pemudik dapat beristirahat ditempat nyaman dan aman yang telah disediakan.

Kompol Tugiyanto memastikan, jalur lalu lintas di Kudus tidak akan ada kepadatan arus pemudik. Menurutnya, arus pemudik yang datang dari arah Cirebon akan terpecah di kabupaten-kabupaten hingga di Semarang. Di Semarang pun akan terpecah ke Demak, Jepara dan Grobogan. “Kemungkinan nanti pemudik yang lewat berasal dari Kudus sendiri dan Pati,” tuturnya.

Namun pihaknya akan terus melakukan pemantauan dan menerjunkan anggota Polisi lalu lintas (Polantas). Menurutnya, kepadatan akan terjadi di dalam kota sendiri. Masyarakat akan keluar untuk jalan-jalan bersama teman dan sanak keluarganya. “Dulu Jalur Pantura sempat padat karena ada pasar tumpah di depan Jambu Bol. Namun kan sekarang sudah tidak ada lagi. Paling nanti yang padat dalam kota sendiri,” terangnya.

- advertisement -

Eli Jual Aneka Macam Sajian Takjil Tanpa Bahan Pemanis Buatan dan Pengawet

0

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Di Jalan Sunan Muria Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak sebuah warung beratap terpal dan tanpa dinding. Di warung tersebut tampak berbagai macam dagangan dijajakan di atas meja kayu. Di samping meja tampak seorang perempuan setengah baya sedang melayani pembeli. Perempuan tersebut yakni bernama Elinawati (58), penjual aneka makanan takjil yang dibuat tanpa bahan kimia.

Jual sajian takjil untuk berbuka di Glantengan, Kudus 2017_6
Jual sajian takjil untuk berbuka di Glantengan, Kudus. Rabu Sipan

Di sela aktivitasnya melayani pembeli, perempuan yang akrab disapa Eli itu sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, selama Ramadan dirinya menjual aneka makanan takjil. Menurutnya, aneka makanan buatannya sangat aman untuk dikonsumsi karena tanpa dicampuri bahan kimia diantaranya pemanis buatan.

“Makanan takjil buatanku pemanisnya menggunakan gula murni. Jadi tanpa pemanis buatan atau sakarin. Dan daganganku itu tanpa bahan pengawet, jadi sangat aman untuk dikonsumsi setiap hari. Jadi cocok sebagai menu tambahan saat berbuka puasa,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Perempuan warga Desa Rendeng, Kota, Kudus itu mengatakan, berbeda dengan hari biasa, pada saat Ramadan dia mulai berjualan pukul 12.00 WIB. Sedangkan pada hari biasa dia berjualan mulai pagi. Dia menuturkan, menjual aneka makanan takjil di antaranya, kolak yang dijual Rp 6 ribu per porsi, koktail Rp 4 ribu per gelas plastik, dan agaragar dijual Rp 3500 perkemasan. Selain itu dia juga menjual susu kedelai yang dijual seharga Rp 2 ribu per bungkus.

“Pada saat Ramadan ini aku juga tetap menjual aneka bubur yang biasa aku jual di bulan lain dengan harga sama yakni Rp 3 ribu per bungkus. Bubur yang aku jual ada sekitar 11 macam jenis bubur,” ungkapnya sambil tersenyum.

Perempuan yang berjualannya ditemani oleh suaminya tersebut kemudian merinci aneka bubur yang dijualnya tersebut. Di antaranya bubur kacang kulit, dan bubur kacang hijau kupas, bubur ketan hitam, bubur biji salak, bubur cenil, bubur kacang merah, bubur delima, bubur pisang, bubur ketela, bubur jagung, serta bubur sumsum.

“Saya membuat sendiri bubur dan dagangan lainnya, agar bisa menjaga kualitas rasa serta memastikan tanpa bahan pengawet dan pemanis buatan. Karena sekarang banyak pedagang yang curang, demi mendapatkan keuntungan lebih mereka menggunakan bahan-bahan berbahaya,” ujarnya.

Dia mengatakan, selain menjual aneka makanan takjil, dirinya juga menjual aneka laukpauk dan sayur mayur. Di ataranya, sop tahu isi ayam yang dijual Rp 11 ribu per bungkus. Selain itu dia juga menjual aneka botok, antara lain, botok petet, botok teri cabai hijau, botok pepes ikan dan lain sebagainya.

“Sama dengan aneka makanan takjil, aneka masakan laukpauk dan sayur juga tanpa bahan kimia, tanpa bahan pengawet serta micin. Untuk penyedap rasa kami ganti dengan gula dan garam. Pokoknya masakan kami tanpa bahan kimia, karena kami selalu menjaga kepercayaan para pelanggan” ujarnya.

- advertisement -

Mini SUV Ignis 2017, Produk Suzuki yang Diklaim Mirip Mini Cooper

0

SEPUTARKUDUS.COM, DERSALAM – Enam unit kendaraan roda empat terlihat terpakir rapi menghiasi ruangan diler resmi penjualan mobil Suzuki, Diler Remaja Motor, di Jalan Raya Kudus-Pati kilometer 3, Desa Dersalam, Kecamatan Bae, Kudus. Satu di antara mobil yang terpakir yakni Suzuki Ignis. Mobil produksi pabrikan asal Jepang ini diklaim memiliki bodi yang menyerupai Mini Cooper.

Suzuki Ignis 2017 di Diler Remaja Motor Kudus 2017_6
Suzuki Ignis 2017 di Diler Remaja Motor Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Sembari duduk santai di tempat lobi, Training For Traine PT Remaja Adidaya Motor, Aditia Wisnu Wardana (34), sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang mobil tersebut. Dia menjelaskan, mobil yang memiliki panjang sekitar tiga setengah meter serta lebar dan tinggi lebih dari satu setengah meter itu sekilas mirip dengan Mini Cooper. Menurutnya, misal Suzuki Ignis didesain lebih ceper, mobil akan terlihat sama dengan mobil asal Inggris tersebut.

“Sekilas kalau dilihat memang hampir sama bodi pada Suzuki Ignis dengan mobil Mini Cooper. Mobil ini merupakan generasi baru mobil perkotaan dan salah satu trendsetter di kelasnya sebagai mobil mini SUV.  Desain mobil lebih sporty, stylish, dan terkesan mewah. Bahan bakar mobil terbilang irit, cukup satu liter bensin, mobil dapat menempuh jarak hingga 23 kilometer,” ungkap Adit begitu dirinya akrab disapa.

Warga Semarang yang kini berdomisili di Kudus, itu memberitahukan, keunggulan yang disematkan pada mobil berkapasitas lima orang penumpang bertenaga 1,200cc, katanya, sangat beragam. Di antaranya, sudah dibekali remote keyless untuk menghidupkan mesin mobil secara otomatis, bagian kabin mobil terkesan lapang, modern, unik, futuristik dan nyaman. Selain itu, mobil dilengkapi fitur keselamatan dan keamanan super lengkap.

“Varian warna ada banyak, ada warna putih, biru, silver, abu-abu serta warna hitam dan merah yang kini banyak diminati pelanggan. Untuk penjualan setiap bulannya tidak bisa dipastikan, kalau di rata-rata dalam sebulan mencapai enam unit yang laku terjual. Pelanggan inden di diler kami terhitung ada sekitar 10 pelanggan lebih,” ujar Adit yang mengenakan kemeja warna coklat pakaian kantor.

Adit yang mengaku bekerja di diler Remaja Motor Kudus sudah selama enam tahun, ini menambahkan, cara pengoperasian mobil yang lazim disebut transmisi ada dua, meliputi manual transmission (M/T) dan automatic transmission (A/T). Terkait dengan harga, lanjutnya, Suzuki Ignis GL MT dijual seharga Rp 145,5 juta dan Ignis GLX MT dijual dengan harga Rp 165,5 juta. Sedangkan mobil Suzuki Ignis yang paling mahal yakni Ignis GX AT, dibanderol dengan harga Rp 175,5 juta.

“Dari beberapa pelanggan kami yang membeli, kebanyakan dari wilayah Kudus dan Pati. Segmentasi kalangan yang membeli rata-rata dari anak muda, biasanya orang membeli Suzuki Ignis sebagai pilihan mobil kedua. Untuk fasilitas paska pembelian, garansi mesin selama tiga tahun atau maksimal menempuh jarak 10 ribu kilometer. Service gratis sampai 50 ribu kilometer atau selama tujuh kali,” tambah Adit sambil sesekali mengangkat telpon.

- advertisement -