Beranda blog Halaman 1888

Mumpung Libur, Rina Ikut Berjaga di Pos Pelayanan Pemudik Kudus

0
Anggota Saka Bhayangkara Polres Kudus ikut berjaga di posko mudik 2017_6
Anggota Saka Bhayangkara Polres Kudus ikut berjaga di posko mudik. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Barisan siswa berseragam pramuka terlihat ikut berbaris pada Apel Gelar Pasukan Operasi Ramadniya Candi 2017, beberapa waktu lalu. Mereka berbaris di sisi barat Alun-alun Simpang Tujuh, menyimak amanat Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) yang dibacakan oleh inspektur apel Bupati Kudus Musthofa.

Mereka yakni anggota Saka Bhayangkara Polres Kudus. Dalam pelaksanaan Operasi Ramadniya Candi 2017, mereka ikut memberikan pelayanan bagi pemudik. Mereka akan ditugaskan untuk menjaga Pos Pelayanan (Pos Yan), Pos Pengamanan (Pos Pam) dan Sub Pos Pam selama arus mudik hingga balik lebaran 2017.

Baca juga: Lia Siap Antar Pemudik Keliling Kudus yang Singgah di Posko Bahagia

Di antaranya siswa pramuka yang bertugas yakni Rina Puji Astuti (16). Siswi di MA NU Assalam Tanjungkarang, Jati, Kudus, mengaku menempati Pos Pelayanan yang berada di depan Terminal Induk Kudus. Menurutnya, bersama 116 temannya sesama anggota Saka Bhayangkara Polres Kudus akan bergantian melayani pemudik yang melewati Kabupaten Kudus. “Sudah dua kali ini saya ikut. Mumpung libur sekolah sekalian ikut kegiatan sosial,” tutunya saat ditemui selepas apel.

Dia menjelaskan, selain ingin membantu sesama saat momentum lebaran, dirinya berjaga Pos Yan karena merasa bosan di rumah saat libur sekolah. Guna mengisi kekosongan, Rina mengaku memilih manfaatkan waktunya untuk ikut membantu melayani pemudik di Pos Yan. “Boring kalau di rumah. Mending ikut membantu di pos pelayanan,” ungkap warga Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Demak.

Menurutnya, sebanyak 116 anggota Saka Bhayangkara Polres Kudus yang ikut dalam Operasi Ramadniya Candi 2017 akan dibagi secara bergantian menjadi dua shift waktu, yakni pukul 08.00 WIB hingga 14.00 WIB. Sedangkan shift selanjutnya  yakni 14.00 WIB hingga 20.00 WIB. Setiap pos akan diisi sekitar lima anggota dari unsur tiga senior dan dua junior. “Rata-rata yang ikut kelas 11 dan 12 SMA,” tambahnya.

Sementara itu, Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning menuturkan, selama kegiatan pengamanan Lebaran. Pihaknya sudah membuat empat Pos Pam dan satu Pos Yan. Serta terdapat juga posko wisata yang dibuat Pemerintah Kabupaten Kudus. Menurutnya, pemudik yang melewati Kabupaten Kudus dapat beristirahat dan menikmati segala fasilitas yang disediakan.

“Pos Yannya ada di depan terminal induk. Untuk Pos Pamnya di antanya di Alun-alun dan di SPBU Krawang,” tuturnya.

Selain memberikan pelayanan di Pos Pam dan Pos Yan, dirinya juga menyebar anggota di tempat-tempat yang berpotensi kemacetan dan rawan kecelakaan. Misalnya tempat rawan kecelakaan di tikungan Dukuh Bancak Jalan Lingkar Selatan Desa Payaman Kecamatan Mejobo. Gurning mengaku sudah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kabupaten Kudus untuk memberi lampu warning light di lokasi tersebut.

“Kita sudah tempatkan anggota di lokasi yang berpotensi kecelakaan. Kita juga sudah koordinasi dengan Dishub untuk memberikan lampu warning light,” jelasnya.

Selain itu, Polres Kudus juga fokus pengamanan di tempat-tempat berkumpulnya masa pada tiga hari menjelang lebaran Hari Raya Idul Fitri. Menurutnya, selain lokasi perbelanjaan dan perbankan pihaknya juga mengamankan lokasi-lokasi pertokoan emas. “Fokus kali ini di perbelanjaan, mal-mal dan perbangkan. Walaupun toko emas bukan pengamanan fokus kita, nanti tetap mereka kita singgahi,” tuturnya.

- advertisement -

Toko Ini Selalu Sediakan Parsel Berbagai Kemasan, Pelanggan Datang Hingga Surabaya

0
Nathalia menunjukkan produk parsel Lebaran di toko Mikey Mouse 2017_6
Nathalia menunjukkan produk parsel Lebaran di toko Mikey Mouse. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Di tepi barat Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus tampak sebuah bangunan lantai dua berwarna putih. Di dalam ruangan lantai bawah aneka dagangan terpajang di rak maupun tersusun di lantai. Di luar toko tampak beberapa kerajang parsel berisi aneka jajanan tersusun rapi di atas meja. Tempat tersebut yakni Toko Mickey Mouse, yang menyediakan aneka parsel dan camilan Lebaran.

Menurut Nathalia Santosa (32), putri pemilik toko, sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang parsel tersebut. Dia mengungkapkan, sudah sekitar lima tahun terakhir toko milik orang tuanya selalu menyediakan parsel setiap menjelang Lebaran. Keunggulan parsel yang disediakan tokonya tersebut, kata dia, aneka jajanan di dalamnya dalam keadaan baru.

“Parsel yang kami sediakan aneka makanan ataupun jajanan di dalamnya itu baru. Maksudnya masa kedaluwarsanya masih lama. Jadi kami tidak pernah mengisi parsel dengan aneka makanan yang sudah mendekati masa kedaluwarsa. Minimal makanan yang kami masukan ke dalam parsel itu masa kedaluwarsanya minimal masih enam bulan,” ujar perempuan yang akrab disapa Nathalia kepada Seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Warga Desa Glantengan, Kota, Kudus tersebut mengungkapkan, Toko Mickey Mouse menyediakan parsel dengan berbagai kemasan. Menurutnya, selain kemasan keranjang tokonya tersebut juga menyediakan parsel dalam kemasan kontainer dan karton. Dia mengaku, membandrol aneka parsel  dengan harga berbeda tergantung isi dalam parsel tersebut.

Untuk kemasan parsel keranjang tuturnya, dijual mulai Rp 150 ribu dengan isi sirup, roti kemasan kaleng, permen, susu, roti kering produksi Toko Mickey Mouse, dan ada beberapa makanan lainnya. Menurutnya, kemasan tersebut ada juga yang dibandrol lebih mahal, tentu berisi lebih banyak aneka makanan dan harganya mahal pula.

“Sama dengan parsel kemasan keranjang, parsel kemasan kardus juga kami banderol mulai Rp 150 ribu perkemasan. Sedangkan kemasan kontainer dibagi menjadi dua, untuk parsel kemasan kontainer kecil dibandrol mulai Rp 150 ribu perkemasan, sedangkan parsel kemasan kontainer ukuran lebih besar kami jual dengan harga mulai Rp 500 ribu. Semua kemasan parsel harga maksimalnya Rp 1 juta perkemasan,” jelasnya.

Perempuan yang baru dikaruniai satu anak tersebut menuturkan, selain memang menyediakan paket parsel, di tokonya itu juga melayani pemesanan pembuatan parsel dengan isi parsel sesuai keinginan para pelanggan. Bahkan terkadang juga ada pemesanan yang minta parsel diisi dengan aneka pakaian juga dilayani.

“Selain menyediakan paket parsel yang di dalamnya kami tentukan sendiri, kami juga menerima pesanan parsel dan isi parsel ditentukan oleh si pemesan tersebut. Tidak melulu makanan, parsel juga bisa diisi dengan pakaian atau yang lainnya. Yang penting harganya sesuai,” ujarnya.

Dia menuturkan, untuk pemesanan aneka parsel yakni sehari sebelum parsel tersebut diambil. Pemesan parsel di Toko Mickey Mouse lumayan banyak dan sudah punya pelanggan tetap tiap tahun. Tidak hanya dari Kudus, tapi ada juga yang dari Pati, Jepara, Semarang hingga Surabaya.

“Lima tahun berjualan parsel, kami belum pernah sekalipun mendapatkan komplain dari pelanggan atau pun pemesan. Entah itu tentang isi dalam parsel maupun kemasan. Semua pelanggan kami puas kemudian menjadi pelanggan tetap hingga sekarang,” ungkap perempuan bermata sipit tersebut.

- advertisement -

Tak Hanya Laris di Dalam Negeri, Sarung Instan Haidar Beberapa Kali di Ekspor Ke Luar Negeri

0
Sarung anak-anak motif kartun 2017_6
Sarung anak-anak motif kartun. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, BAKALAN KRAPYAK – Di RT 2, RW 4 Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus tampak sebuah rumah berwarna krem. Di ruang tengah rumah tersebut tampak beberapa lemari kaca, lemari rak kayu, dan puluhan sarung instan yang tersusun di lantai. Rumah tersebut merupakan milik Kurniati  Setyaningsih (43) sekaligus pemilik Ghaida Collection yang memproduksi sarung instan dan pernah beberapa kali dikirim ke luar negeri.

Kepada seputarkudus.com Nia begitu dia akrab disapa sudi berbagi penjelasannya tentang produk sarung instan yang pernah dipesan hingga manca negara tersebut. Dia mengungkapkan, sejak merintis usaha dan diberi nama Ghaida Collection yang memproduksi mukena pada tahun 2010. Kemudian pada setahun kemudian, dia mengaku mulai mengembagkan usahanya dengan memproduksi sarung instan.

“Produksi sarung instan milikku yang aku beri merk Haidar langsung booming di pasaran. Bahkan beberapa kali Sarung merk Haidar dikirim ke luar negeri. Pertama pada tahun 2012 aku mengirim ke Qatar sebanyak tiga kodi yang berisi 60 pcs sarung instan, kemudian ke Malaysia dan Singapura. Untuk kedua negara terakhir aku tidak tahu pasti jumlahnya karena yang mengirim ke sana agen penjualan Sarung Instan Haidar,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Bakalan Krapyak, Kaliwungu, Kudus itu mengungkapkan, penjualan aneka produk dari Ghaida Collection termasuk Sarung Instan Haidar memang dipercayakan kepada agen penjualan. Bahkan sekarang, kata dia Ghaida Collection mempunyai 20 agen penjualan dan setiap agennya mempunyai ratusan reseller yang tersebar di seluruh Indonesia.

Dia menuturkan, Sarung Instan Haidar memang diminati banyak orang dan sekarang menjadi trend setter. Selain laku di manca negara, sarung instan produksi Ghaida Collection juga sangat laris di dalam negeri. Menurutnya, sarung instan produksinya sudah terdistribusi dari sabang sampai merauke . “Pokoknya dari indonesia timur hingga barat dan dari ujung utara sampai selatan,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai empat anak itu menuturkan, bahkan saking larisnya para agennya tersebut ada yang setiap dua hari sekali membeli Sarung Instan Haidar di rumahnya. Para agennya tersebut setiap mengambil Sarung Instan Haidar minimal 20 kodi atau 400 pcs, dengan pembayaran cash. Menurutnya, Sarung Instan Haidar tersedia dengan berbagai ukuran dari untuk anak usia dua tahun hingga dewasa.

Dia mengaku, selama Ramadan ini permintaan sarung instan yang diberi merk sesuai nama anaknya nomer dua itu meningkat luar biasa. Bahkan sarung instan yang diproduksi saat Ramadan merupakan pesanan para agen. Menurutnya, selama Ramadan ini Ghaida Collection mampu memproduksi sekitar 300 pcs Sarung Instan Haidar sehari. “Tapi ya itu semua produksi tersebut merupakan pesanan semua,” jelasnya.

Dia mengkisahkan, awal membuat sarung instan karena putra keduanya yang bernama Muhammad Yusuf Haidar itu setiap mengenakan sarung pasti kedodoran. Karena itulah dia mengaku membuat sarung instan agar anaknya tersebut agar sarungnya tida kedodoran. Dia mengaku bersukur hasil karyanya tersebut laris dipasaran. Meskipun sekarang banyak yang meniru tapi dia yakin usaha bisa ditiru tapi rejeki Allah yang ngatur.

“Dengan banyak yang meniru tersebut aku selalu berinovasi agar produk sarung instanku tetap jadi best seller. Kini Sarung Instan Haidar kualitasnya aku tingkatkan dengan kualitas kain terbaik, sarung juga aku beri bordir aneka gambar kartun dan lainnya biar makin diminati. Sekarang aku juga berinovasi dengan membuat sarung instan model celana,” ujarnya.

- advertisement -

Sejak Puluhan Tahun Lalu di Menara Ada Ngaji Fiqih yang Membahas Persoalan Sehari-Hari

0
Malam khataman di aula Kantor YM3SK 2017_6
Malam khataman di aula Kantor YM3SK. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Ratusan orang terlihat berbondong-bondong menuju arah kantor Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK). Tampak ratusan orang duduk lesehan di aula kantor tersebut. Banyaknya pengunjung yang datang membuat aula tersebut penuh sesak. Mereka hadir untuk mengikuti kegiatan Malam Khataman Darusan Umum oleh Pengurus Pengajian Pitulasan Masjid Al-Aqsha Menara Kudus.

Banyak di antara pengunjung yang datang mengenakan ikat kepala, berpakaian koko dan bersarung batik. Di antaranya Arif Wibowo (25), yang datang dari Batealit, Jepara. Dirinya mengaku sengaja datang ke kegiatan Malam Khataman Darusan Umum untuk mengetahui pembahasan persoalan Fiqih dalam acara tersebut. Menurutnya, dari setiap pembahasan akan diringkas hasilnya pada Malam Khataman Darusan Umum. Hasil tersebut dikatakan juga dicetak dalam sebuah buku saku.

“Saya itu penasaran dengan hukum memakai parfum beralkohol. Diperbolehkan apa tidak,” tuturnya dengan wajah penasaran, Rabu (21/6/2017).

Menurutnya, dari hasil pembahasan yang dibacakan KH Em Nadjib Hassan, penggunaan minyak beralkohol tidak masalah. Karena penggunaan parfum yang mengandung alkohol termasuk diampuni. Selain itu, pembahasan juga dilanjutkan penggunaan minyak rambut ketika berwudu perlu dibersihkan atau tidak.

“Tadi dari Kiai Nadjib bilang (minyak rambut) tidak harus dibersihkan selagi minyak tersebut berupa jenis minyak cair yang tidak menghalangi aliran air wudlu. Atau jika menggunakan jenis pomade yang jelas menghalangi lajunya air namun menggunaannya jangan keseluruhan rambut. Karena menurut Imam Syafi’i yang wajib mengusap rambut hanya sebagian saja,” jelasnya.

Dari buku tanya jawab yang dimiliki Arif, terdapat 24 pembahasan fiqih yang dibahas selama kegiatan tanya jawab As’ilah di bulan Ramadan tahun 2017. Menurutnya, selain kegiatan tanya jawab yang hanya di malam Selasa juga ada kegiatan darusan dan pengajian umum yang dilaksanakan setelah salat Tarawih.

“Saya pernah ikut enam kali pada tahun ini. Namun saya juga pernah ikut full saat masih sekolah di MTs dan MA Qudsiyyah,” jelasnya yang sekarang bekerja di Jepara.

Sementara itu, Ketua YM3SK KH Em Nadjib Hassan mengungkapkan, penyelenggaraan Darusan Umum dilakukannya dari tanggal 3-27 Ramadan. Menurutnya, usai salat Isya bertempat di aula YM3SK pukul 21.00 WIB hingga 22.00 WIB ada darusan umum. Setelah itu dilanjutkan, pukul 22.00 WIB hingga 23.00 WIB pengajian umum yang pengisinya secara bergantian. Khusus malam selasa ada tanya jawab seputar pembahasan Fiqih dari masyarakat.

“Kegiatan ini Alhamdulillah bisa istiqomah dilaksanakan setiap bulan Ramadan,” ungkapnya.

Dia menceritakan, kegiatan serupa dilaksanakannya sejak tahun 1960. Setiap tahun jamaah yang mengikuti kegiatan mengalami peningkatan. Terutama dua tahun terakhir ini, suasana kegiatan dibuat lesehan di atas tikar.

Untuk pembahasan tanya jawab Fiqih dirinya bersama tim dialogis KH Arifin Fanani, KH M Ulil Albab Arwani, KH Hasan Fauzi merampungkan 24 tema pertanyaan dari masyarakat mengenai permasalahan Fiqih yang dialami sehari-hari. Hasil pembahasan tersebut dicetaknya dan dibagikan kepada jamaah yang hadir. “Dalam pembahasan terdapat juga keterangan dari berbagai macam sumber kitab kuning,” jelasnya.

Malam Khataman Darusan Umum yang diadakan, menurut KH Em Nadjib Hassan rencana awal akan dihadiri oleh KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus). Namun karena sedang sakit akhirnya pembicara digantikan oleh KH Muzamil dari Sumenep Madura yang sekarang tinggal di Yogyakarta.

“Ini tadi saya dapat WA (Whats App) dari Gus Mus katanya badannya belum sehat. Sudah dipijat, dikerok namun belum sehat. Ini juga anak-anak melarang. Mohon maaf dan salam untuk jamaah,” ungkap KH Em Nadjib Hassan yang membacakan isi WA dari Gus Mus.

- advertisement -

Attin Corner Disadur Dari Surat Al Quran Agar Masakan yang Dijual Disukai Banyak Orang

0
Warung Attin Corner, Bae, Kudus 2017_6
Warung Attin Corner, Bae, Kudus. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Beberapa orang tampak datang ke warung yang berada di tepi Jalan Sosrokartono Desa Panjang, Kecamatan Bae, Kudus. Mereka terlihat memilih-memilih aneka lauk yang dijual di warung beratap seng tersebut. Tampak beberapa pelayan dengan cekatan melayani serta membungkus lauk da sayur yang ditunjuk para pembeli. Tempat tersebut yakni Warung Attin Corner yang namanya disadur dari sebuah nama Surat Al Qur’ an yakni Surat Attin.

Menurut Mahmud Subarkah (28), pemilik Warung Attin Corner mengungkapkan, membuka usaha warung yang menyediakan lauk dan sayur sejak 2013. Menurutnya, nama Attin untuk warungnya tersebut disadur dari kitab suci Al-Quran, yakni Surat Attin. Dia berharap dengan memberi nama tersebut aneka lauk peluk hasil masakannya tersebut disukai banyak orang.

Baca juga: Puasa 3 Tahun Lalu Mahmud Membuka Warung Khusus Lauk, Kini Usahanya Semakin Berkembang

“Analoginya Rosulallah Muhammad SAW, Surat Attin itu mampu menyembuhkan segala macam penyakit. Oleh karena itu aku juga menamakan warungku dengan Nama Attin Corner, ya agar aneka jenis masakan yang aku jual disukai orang banyak dan bermanfaat untuk orang lain,” ujar pria yang akrab disapa Mahmud kepada seputarkudus.com beberapa waktu lalu.

Pria warga Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus itu mengaku bersukur kini Attin Corner sudah buka cabang di sebelah utara Graha Mustika tepatnya di depan pabrik Mulyatex. Dia menuturkan, Attin Corner merupakan warung yang menjual aneka lauk pauk, sayur dan mayur terlengkap di Kudus. selain itu harganya juga sangat terjangkau bahkan dibilang sangat murah.

“Attin Corner itu tempat lauk da sayur terlengkap di Kudus. Jadi saat anda butuh lauk dan sayur datang saja ke Warung Attin Corner pasti lauk maupun sayur yang dicari pasti ada,” tawar Mahmud.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu pun kemudian merinci aneka lauk dan sayur yang dijualnya yang terbagi antara menu spesial dan menu utama dan menu biasa. Untuk menu spesial tuturnya, ada burung puyuh balado, ayam kampung bumbu rujak, serta ayam bumbu kecap. Sedangkan menu utama, kata dia, ada sambal ontong pisang, nila bakar, kepala manyung, serta garang asam ayam pedaging dan ayam kampung.

“Selain menu tersebut Attin Corner juga menyediakan panggang terancan, lele bakar serat aneka pepes dan aneka boto. Pepes itu terdiri dari Pepes Kakap, Pepes Pindang, Pepes Besusul dan lainnya. Sedangkan, bothok terdiri dari Botok Petet, Botok lembayung dan Botok tahu da daging,” urainya.

Dia menuturkan, Attin Corner juga menyediakan aneka sayur di antaranya, sayur lodeh, sayur bening, sayur asem, sop dan soto. Sedangkan untuk Bulan Ramadan ini dia mengaku juga menjual aneka takjil di ataranya, kolak, bubur kacang hijau, bubur merah delima dan lainnya.

“Pokoknya Attin Corner itu lauk dan sayurnya lengkap. Dan Ramadan ini juga menyediakan aneka macam takjil. Selama puasa penjualan aneka sayur dan lauk meningkat. Selain menjual di warung aku juga menerima berbagai macam pesanan nasi plus lauk untuk berbagai acara satu di antaranya buka bersama,” ujarnya.

- advertisement -

Teater Djarum Buat Film Berjudul Lathi, Akan Ditayangkan pada Hari Raya Idul Fitri

0
Proses produksi film Lathi karya Teater Djarum, Kudus 2017_6
Proses produksi film Lathi karya Teater Djarum, Kudus

SEPUTARKUDUS.COM, NGEMBALREJO – Di sebuah rumah di tepi Jalan Raya Kudus-Pati, tepatnya di Desa Ngembalrejo, Kecamatan Bae, Kudus, terlihat sejumlah orang sedang menonton film pendek. Sambil menikmati kopi, sesekali mereka tertawa melihat adegan yang lucu dalam film tersebut. Film berjudul Lathi, yang baru saja diproduksi Teater Djarum. Film tersebut khusus untuk ditayangkan pada hari raya Idul Fitri 1438 H, 25 Juni 2017.

Kepada Seputarkudus.com, Asa Jadmiko (41), sutradara film Lathi, sudi berbagi penjelasan tentang film tersebut. Dia mengatakan, ide awal pembuatan film dilatarbelakangi banyaknya oknum pejabat yang hanya bicara tanpa tindakan. Dia memilih kata Lathi sebagai judul, yang memiliki artinya ucapan. Melalui film tersebut pihaknya ingin menyampaikan kritik sosial.

“Ide cerita film Lathi berawal dari kegelisahan saya, karena melihat banyak oknum pejabat yang hanya omong-omong tok (OOT), kemudian muncul ide tersebut. Kami memang ingin mengangkat ide cerita yang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi memiliki nilai kritik sosial,” terang Asa saat ditemui belum lama ini.

Asa, begitu dia akrab disapa, sengaja mengemas cerita yang erat dengan masyarakat lokal Jawa. Menurutnya, masyarakat Jawa biasanya mudah membuat kesalahan tetapi juga mudah untuk memaafkan. Dialog dalam film tersebut juga menggunakan Bahasa Jawa agar mudah dipahami.

Pegiat seni teater di Kudus itu menjelaskan, film Lathi menceritakan ada seorang kiai yang tidak mengakomodir usulan masyarakat. Masyarakat hanya mengiyakan perintahnya tetapi tidak dijalankan. Dalam film tersebut diceritakan, semua memiliki kesalahan, dan hari raya Idul Fitri yang menjadi penyelamat mereka semua.

“Di film ini tidak ada sosok pahlawan, semua memiliki kesalahan masing-masing. Dan hari raya Idul Fitri itulah yang menjadi penyelamat mereka semua. Dengan halal bihalal, mereka bisa salang memaafkan,” jelasnya.

Film Lathi, katanya, berdurasi sekitar 27 menit. Film tersebt akan ditayangkan di Youtube pada tanggal 25 Juni 2017, pukul 6.30 WIB. Selain itu, mereka juga merencanakan agenda nonton bareng pada tanggal 5 Juli 2017, sekaligus halal bihalal.

Sutrimo (38), satu di antara sejumlah aktor film Lathi, menambahkan, produksi dilakukan pada Ramadan ini. Film dibuat karena Teater Djarum tidak ada aktivitas. Daripada tidak ada kegiatan, beberapa anggota berdiskusi untuk mengisi aktivitas. Dan disepakatilah untuk membuat film.

“Waktu itu kami usai pengambilan gambar untuk tugas kantor. Kemudian ngobrol-ngobrol dan muncul ide membuat film dari Mas Asa. Daripada tidak ada aktivitas saat bulan Ramadan, jadi kami setuju (membuat film),” tambah warga Desa Ngembalrejo, Bae, Kudus itu.


Sinopsis

LATHI
“Jaga ati, jaga lathi”

https://youtu.be/d0qp5fHiGAs (tayang 25 Juni 2017)

Lathi adalah lidah, atau dalam film ini dimaksudkan sebagai ucapan. “Lidah tak bertulang”, kata orang, maka ia bisa sesukanya mengucapkan sesuatu, ngomong ini ngomong itu. Tetapi belum tentu apa yang diucapkannya, dilaksanakannya. “Esuk tempe, sore dele”, bisa mencla-mencle.

Memberi usul yang baik dan membangun, kadangkala hanya berhenti di niat. Kadangkala juga malah memperkeruh. apalagi di jaman sekarang ini, dimana orang bisa bebas mengajukan pendapat, malah membuat suasana tambah keruh.

Tetapi Hari Raya Idul Fitri adalah sebuah momentum yang bernilai penting. Segala kesalahan dan kealpaan, segala tutur kata perbuatan yang keruh dan (mungkin) kotor, oleh karunia Idul Fitri, dijernihkan kembali. Jagalah hati, jagalah lathi…

Sutradara: Asa Jatmiko, Kamerawan: Acong Sudarmono, Ilustrasi Musik: Waryoto Giok, Aktor Tamu: Dito Morra – Teater Keset, Kru: Prisbah Kusjito, Rofiq Setiawan, Pemain: Sutrimo Astrada, Sianiek, Purna Irawan, Sriyatun Lala, Masrien Lintang, Bambang Susanto, Heru Nugroho, Kasmin, M. Hafidl Arifi, Abdul Soleh, Sumarlan, M. Isromi, Ngatini, Nur Khamidah, Jasmin Chandra, Umi Setiyani dan Mur Puji Ningsih. Musik Penutup: IDUL FITRI – Gita Gutawa

- advertisement -

Lia Siap Antar Pemudik Keliling Kudus yang Singgah di Posko Bahagia

0
Posko Bahagia layanan bagi pemudik di Kudus 2017_6
Posko Bahagia layanan bagi pemudik di Kudus. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Sejumlah motor operasional Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Kudus terlihat terparkir di depan posko pelayanan mudik di kawasan Taman Tanggulangin Jalan Agil Kusumadya. Beberapa kendaraan juga terlihat terparkir di dekat posko tepat di sebelah selatan Gerbang Kudus Kota Kretek. Posko yang diberi nama Posko Bahagia tersebut selain dilengkapi fasilitas istirahat juga terdapat pelayanan antar untuk berkeliling di Kudus.

Para pemudik nantinya akan di antar oleh petugas Duta Perdagangan dan Duta Pariwisata untuk berkeliling mengunjungi tempat-tempat wisata, kuliner, pusat oleh-oleh dan perbelanjaan. Selain itu, jika pemudik ingin menginap, Pemkab Kudus memberikan layanan gratis penginapan di Hotel Graha Muria, kawasan Pegunungan Muria.

Hal tersebut diungkapkan Cornelia Septanti (22) Duta Perdagangan dari Dinas Perdagangan Kabupaten Kudus. Dia menuturkan, selain menyediakan fasilitas rest area, pihaknya mengaku siap 24 jam mengantar para pemudik untuk berwisata di Kabupaten Kudus.

“Ini sudah tugas kami. Kami siap mengantar pemudik untuk berkeliling di Kudus,” ungkapnya saat ditemui di Posko Bahagia, beberapa waktu lalu.

Lia, sapaan akrabnya, menuturkan, layanan di Posko Bahagia diberikan pemudik selama arus mudik dan balik Lebaran. Lebih jauh dijelaskan dari tanggal 19 Juni hingga 4 Juli 2017, akan ada setidaknya 24 petugas yang secara bergantian akan melayani para pemudik yang mampir.

“Nanti petugas shift-nya bergantian. Shift pertama pukul 7.00 hingga 15.00 sore. Shift kedua 15.00 sampai jam 21.00 malam. Dan terakhir, 21.00 malam hingga 07.00 pagi. Untuk shift malam hanya cowok saja,” tuturnya yang sehari-hari bekerja di Satgas PKL Dinas Perdagangan Kudus sejak bulan April 2013.

Sementara itu, Bupati Kudus Musthofa menuturkan, dalam menyediakan pelayanan untuk pemudik, tahun 2017 ini pihaknya ingin berbeda dari tahun sebelumnya. Pihaknya dirinya membuat Posko Bahagia di Taman Tanggulangin dengan fasilitas, pelayanan dan termasuk suasana yang lebih baik dari tahun sebelumnya.

Posko yang disediakan, selain menyediakan rest area juga memberikan layanan antar pemudik untuk berkeliling di dalam kota Kudus. Dia menjelaskan, bagi pemudik yang ingin makan, belanja dan istirahat akan di antar langsung oleh petugas.

“Seluruh duta wisata baik dijajaran kesehatan, dijajaran pertamanan lingkungan hidup termasuk di jajaran pariwisata ini kita turunkan semua,” ungkapnya.

Dia berharap pemudik yang melewati Kabupaten Kudus melewati dalam kota, tidak melalui jalan lingkar. Dengan begitu, pihaknya bisa memperkenalkan potensi yang dimiliki Kabupaten Kudus. Musthofa mengaku juga sudah menyiapkan armada 12 unit mobil untuk mengantar para pemudik.

“Kami memberikan layanan gratis menginap di Hotel Graha Muria jika ada pemudik yang ingin tinggal sejenak. Semoga kegiatan ini dapat menjadi role model di kabupaten lain,” tambahnya.

- advertisement -

Pemilik Ghaida Collection Ini Klaim Dirinya Seorang Pebisnis, Bukan Pengusaha, Apa Bedanya?

0
Kurniati Setyaningsih (kanan) pemilik Ghaida Collection 2017_6
Kurniati Setyaningsih (kanan) pemilik Ghaida Collection. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, BAKALAN KRAPYAK – Di sebuah rumah yang berada di RT 2, RW 4, Desa Bakalan Krapyak, Kecamatan Kaliwungu, Kudus tampak beberapa lemari etalase kaca yang berisi pakaian. Di sampingnya tampak seorang perempuan mengenakan jilbab warna hitam sedang melayani calon pembeli. Perempua tersebut bernama Kurniati Setyaningsih (43), pemilik Ghaida Collection yang menurutnya dia seorang pebisnis, bukan pengusaha.

Seusai melayani pelanggan, perempuan yang akrab disapa Nia itu sudi memberi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang klaimnya tersebut. Dia mengungkapkan, merintis usaha di bidang fesyen sejak tahun 2010. Saat tu dirinya memproduksi mukena, sarung instan, kaus dan lainnya. Dan sejak usahanya itu mulai berkembang, dia mengaku mengelola uasaha layaknya pebisnis bukan pengusaha.

“Pebisnis sama pengusaha itu beda. Pebisnis mengelola usahanya dengan sistem dan mempercayakan semua bisnisnya dibeberapa bagian kepada orang terpercaya. Sedangkan pengusaha, semua pekerjaan yang meliputi usahanyan diurusi sendiri. Dan saat orangnya jatuh sakit usahanya juga ikut sakit,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Bakalan Krapyak, Kaiwungu, Kudus, itu mengungkapkan, oleh karena itu pebisnis relatif santai dan bisa meluangkan waktu untuk keluarga. Yang penting jangan sampai salah memilih orang untuk mengelola bagian tertentu di usahanya tersebut. Dia mengaku, sekarang untuk bagian produksi dipercayakan kepada satu orang yang punya jiwa kepemimpinan dan membawahi semua pekerja.

Sedangkan pemasaran, tuturnya, dipercayakan kepada admin atau agen penjualan yang sudah punya ratusan reseller yang tersebar di seluruh Indonesia. Dia mengaku, kini ada sekitar 20 agen yang memasarkan fasyen hasil produksi Ghaida Collection.  “Aku bersama suamiku sekarang tinggal membuat desain  pakaian yang sekiranya laku dipasaran dan diminati banyak orang,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikarunia empat anak itu menuturkan, usahanya itu berawal saat dia memutuskan untuk keluar kerja dan ingin fokus mengurus keluarga. Namun disamping itu dia juga berkeingingan agar tetap punya penghasilan untuk membantu ekonomi keluarga.

Kemudian, dia mengaku memutuskan memproduksi mukena. Ide itu berawal saat putrinya itu diajak salat malas serta tidak berkenan mengenakan mukena warna putih. Saat itulah timbul ide untuk memproduksi mukena khusus anak dengan desain dan warna yang tentunya menarik bagi mereka.

“Selain itu pembuatan mukena juga relatif gampang, meski begitu aku ingin membuat mukena yang beda dengan yang lain dan punya karakter. Jadi mukena produksiku itu aku buat berkualitas dengan kain yang berkualitas, desain bagus, dan warna menarik,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai empat anak itu mengatakan, proses produksi tersebut dirinya mengaku mempekerjakan tiga orang tenaga jahit dan obras. Sedangkan dia sendiri mengerjakan desain dan motong kain. Untuk pemasaran awal kata dia, menawarkan mukena hasil produksinya lewat media daring, dari website, Facebook, Instagram dan lainnya, dan tentu dari mulut ke mulut.

Alhamdulillah minat masyarakat terhadap mukena produksiku lumayan bagus. Bahkan dalam kurun kurang dari setahun hutang kain berjumlah Rp 30 juta mampu terbayar lunas, dan tentu masih ada untungnya” ujarnya.

Kini selain mukena kata dia, Ghaida Collection juga memproduksi sarung instan, kaus Muslim dan menjadi agen sepatu, yang masing-masing diberi merk sesuai nama panggilan keempat anaknya. Kini  Ghaida Collection mampu memproduksi dan menjual ratusan pcs mukena, serta sarung instan sehari.

“Aku memang memberi merk aneka fashion hasil produksiku dengan nama keempat anaku, dengan harapan kelak semua anaku sudi melanjutkan usaha yang kami rintis. Semoga mereka bisa menjadi pebisnis sukses sehingga mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang lain,” ujarnya.

- advertisement -

Jelang Lebaran, Masan Bisa Jual Enam Ton Semangka Dalam Sehari

0
Jual semangka sebelum Lebaran 2017_6
Jual semangka sebelum Lebaran. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, MEDINI – Di tepi timur Jalan Kudus-Purwodadi tepatnya di Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kudus tampak sebuah lapak beratap terpal. Di dalam lapak terlihat seorang pria mengenakan kaus warna putih sedang melayani dua orang calon pembeli yang sedang memilih buah berbentuk bulat tersebut. Pria tersebut bernama Masan (42) penjual semangka yang mampu menjual enam ton semangka dalam sehari.

Pria yang akrab disapa Aan itu sudi berbagi penjelasan kepada seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, sudah 16 tahun berjualan semangka. Menurutnya, buah semangka sangat diminati saat hari sedang terik. Bahkan dia mengaku, bisa menjual sekitar enam ton semangka dalam sehari.

“Setiap kemarau, berjualan semangka memang lumayan laris. Karena setiap aku mendatangkan satu truk semangka dengan berat keseluruhan sekitar enam ton itu bisa langsung terjual habis dalam sehari. Padahal saat ini harga semangka lumayan mahal,” ujar A’ an.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu mengatakan, menjual aneka jenis semangka. Ada jenis Semangka Tanpa Biji (TB), ada juga Semangka Black Orange, semangka merah biasa serta Semagka Inul. Menurutnya, untuk harganya dijualnya berbeda, Seamngka Black Orange dan Semangka Tanpa Biji serta Inul dijual dengan harga Rp 7 ribu per kilogram.

“Sedangkan semangka merah biasa aku jual dengan harga Rp 6 ribu perkilogram. Itu untuk pembelian ecer. Untuk para bakul, harga yang aku sebutkan tadi dikurangi masing-masing Rp 1 ribu perkilogram,” jelasnya.

Warga Medini, Undaan, Kudus itu mengatakan, harga semangka yang relatif mahal itu dikarenakan saat ini petani lokal Kudus jarang ada yang menanam semangka. Jadi harga harus dikakulasi dengan ongkos akomodasi. Untuk mendapatkan buah yang memiliki biji bernama kuaci tersebut dia mengaku membeli hingga Lampung, Bali dan seluruh Pulau Jawa.

Selain keberadaannya yang  jauh, buah semangka di musim ini relatif agak langka bahkan setok semangka dari para petani relatif sedikit. Tak jarang dia sering kehabisan. Menurutnya, selain kemarau permintaan meningkat itu menjelang lebaran seperti saat ini. Bahkan sebenarnya, dia bisa menjual lebih banyak lagi semangka seandainya ada setoknya.

Dia mengatakan, sudah memiliki banyak pelanggan (bakul) yang membeli semangkanya tersebut. Puluhan bakul tersebut selalu membeli semangkanya dalam jumlah banyak. Karena memang diakuinya selain menjual secara ecer, A’ an juga melayani pembelian secara grosir.

“Dan setiap aku mendatangkan semangka, mereka para bakul itu aku kabari, dan mereka akan serta merta datang untuk membelinya. Dalam tempo beberapa jam setok semangka di lapaku pasti tinggal sedikit malah terkadang langsung habis.” ujarnya.

Dia mengaku berjualan semangka sepanjang tahun, dan berhenti saat musim hujan. Menurutnya, pada musim hujan sebenarnya ada permintaan dari para pelanggannya namun dia tidak berani berspekulasi lebih jauh. Karena berjualan semangka di musim penghujan rentan dengan kerugian. “Setiap musim hujan datang aku pasti berhenti berjualan semangka. Karena aku itu cari untung bukan cari buntung,” ujarnya.

- advertisement -

Waspadai 11 Titik Rawan Macet di Jalur Mudik Lebaran 2017 Kabupaten Kudus

0
Pasar Kliwon, titik rawan macet jalur pantura Kudus 2017_6
Pasar Kliwon, titik rawan macet jalur pantura Kudus. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Volume kendaraan roda empat dan roda dua di Jalan Jendral Sudirman tampak padat merayap. Kendaraan terlihat menumpuk tepat di laju depan Pasar Kliwon Kudus. Terlihat petugas kepolisian sedang sibuk mengatur lalu lalang kendaraan. Penumpukan kendaraan tidak hanya dikarenakan bertambahnya volume kendaraan, melainkan juga adanya aktivitas di Pasar Kliwon.

Kendaraan pengunjung pasar terlihat di parkirkan di bahu jalan, hingga jalan yang seharusnya dua arah diberlakukan sementara satu arah untuk mengurai kemacetan. Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kudus Didik Sugiharto, Jalan Jendral Sudirman yang berada di depan Pasar Kliwon yakni satu di antara 11 titik kemacetan di Kudus pada arus mudik dan balik Lebaran. Selain di tempat tersebut, terdapat tujuh tempat lainnya yang berpotensi menimbulkan kemacetan saat momen lebaran 1438 Hijriyah.

“Memang lokasi yang macet nanti Jalan depan Pasar Kliwon. Terlebih nanti saat mendekati Lebaran. Penyebabnya ya ada aktivitas di pasar,” tuturnya saat ditemui di Posko Bahagia Taman Tanggulangin belum lama ini.

Dia melanjutkan, ketujuh lokasi yang diwaspadai terjadi kemacetan yakni Simpang Tujuh, kawasan Matahari dan Pasar Bitingan, Terminal Jati, Ada Swalayan, Jalan Kudus-Jepara Kilometer 4, Jalan Kudus-Purwodadi kilometer 8, Pasar Bareng dan Pasar Dawe.

Selain titik kemacetan, Didik juga memberitahukan ada tiga titik rawan kecelakaan yang dilewati para pemudik. Tiga titik itu antara lain Jalan Lingkar Selatan Km 9, Jalan Kudus-Pati kawasan Bulusan, Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo dan Jalan Kudus-Pati kawasan PT Pura Barutama Terban. Menurutnya, kesebelas lokasi tersebut berada di jalur pantura yang sudah masuk kawasan titik macet.

“Kami sudah kordinasi dengan Lantas (Sat Lantas Polres Kudus). Untuk antisipasi lokasi tersebut selain sudah diberi rambu-rambu juga akan ada petugas yang ditempatkan di titik tersebut,” jelasnya.

Selain itu, untuk mengurai kemacetan pihaknya sudah membuat pengalihan arus dengan memanfaatkan jalur alternatif yang sudah dipetakkan. Dia menuturkan untuk kondisi jalan utama dan jalur alternatif di Kudus sudah siap dilewati para pemudik.

Dalam kesiapannya menghadapi arus pemudik yang menggunakan angkutan umum, Dishub Kudus sudah menyiapkan armada bus Angkutan Kota Antar Propinsi (AKAP) sebanyak 118 bus dengan cadangan 19 bus. Sedangkan bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) sebanyak 167 bus dengan cadangan 19 bus. Berikut juga angkutan untuk melayani dalam Kabupaten Kudus sebanyak 651 kendaraan.

“Kami sudah melakukan pemeriksaan kelayakan kendaraan bersama rekan Lantas. Yang sudah layak jalan kami beri stiker,” tuturnya.

Menurutnya, prediksi jumlah penumpang pada arus mudik di Kudus akan meningkat kurang lebih sembilan persen dari tahun 2016 sebesar 117.754 penumpang. Sedangkan saat masa lebaran naik kurang lebih lima persen dari tahun 2016 23.742 penumpang. Saat arus balik penumpang yang menggunakan angkutan umum akan naik lima persen dari data tahun 2016 sebesar 111.494 penumpang.

“Kenaikan hingga sembilan persen saat arus mudik juga bersamaan dengan waktu libur sekolah,” tuturnya.

Sementara itu untuk jumlah angkutan penumpang umum keluar masuk terminal induk pada arus mudik tahun 2017 naik kurang lebih tiga persen dari angka tahun 2016 sebesar 4.165 bus. Sedangkan saat lebaran tiba juga diprediksi naik tiga persen dari tahun 2016 sebesar 1.753 bus. Puncaknya nanti meningkat pada arus balik di mana tahun 2016 jumlah bus 5.433 armada yang diprediksi tahun 2017 naik tiga persen.

- advertisement -

Angkutan Barang yang Masih Berani Melintasi Kudus akan Langsung ‘Dikandangkan’

0
Sejumlah kendaraan melintasi jalan di kawasan Tanggulangin, Kudus 2017_6
Sejumlah kendaraan melintasi jalan di kawasan Tanggulangin, Kudus. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, JATI WETAN – Laju kendaraan terlihat melewati Gerbang Kudus Kota Kretek di Jalan Raya Agil Kusumadya, Kudus. Sejumlah kendaraan pribadi baik mobil maupun motor melaju dari arah Demak. Beberapa hari menjelang Lebaran ini kendaraan barang dilarang melintas, karena akan mengganggu jalur mudik yang di pantura Kudus.

Menurut Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kudus, Didik Sugiharto, truk angkutan barang menjelang Lebaran tidak diperbolehkan melintas di seluruh Jalan Nasional dan Jalan Tol di Pulau Jawa. Hal tersebut dilakukan supaya tidak menimbulkan kemacetan saat arus mudik dan arus balik Lebaran.

Larangan tersebut, menurutnya, sesuai dengan ketentuan dari Surat Keputusan Dirjen Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan RI nomor SK.2717/AJ.201/DRJD/2017. Surat edaran tersebut terkait pengaturan lalu lintas dan pengaturan kendaraan angkuran barang pada masa angkut Lebaran tahun 2017. “Itu secara nasional, bukan hanya di Kudus saja. Jika ada yang melanggar tentu akan ‘dikandangkan’ (diminta parkir darurat),” tuturnya saat ditemui di Posko Bahagia Taman Tanggulangin, Kudus, beberapa waktu lalu.

Didik menjelaskan, pembatasan operasional untuk kendaraan mobil barang atau tambang sudah dimulai tanggal 18 Juni 2017, atau tujuh hari menjelang Lebaran hingga tanggal 3 Juli 2017. Pembatasan operasional diberlakukan bagi kendaraan barang dengan jumlah berat yang diizinkan (JBI) lebih dari 14 ribu kilogram. Serta kendaraan barang yang memiliki tempelan atau truk gandeng.

“Itu kecuali bagi kendaraan pengangkut BBM, POS, bahan pokok atau mobil yang diberi tanda khusus. Misal pengangkut motor mudik gratis Lebaran,” jelasnya.

Angkutan barang yang masih melintas pada enam hari menjelang Lebaran, diakuinya perlu keterlibatan semua pihak tidak hanya Dishub Kabupaten Kudus untuk penindakan, melainkan juga kabupaten lain. Dia meyakini angkutan barang yang terlihat di Kudus tentunya juga melewati Semarang dan Demak. Menurutnya, saat melewati Kota Semarang dan Demak belum diberhentikan petugas yang bersangkutan. “Saya pastikan saat melewati Kudus akan langsung di kandangkan di lokasi parkir,” tuturnya.

Didik memberitahukan, lokasi parkir yang akan digunakannya untuk parkir yakni di Terminal Cargo depan Terminal Induk Kudus dan pangkalan parkir truk di Jalan Kudus-Pati kilometer 09 Jekulo. Menurutnya, daya tampung di Terminal Cargo kurang lebih 100 hingga 120 buah truk angkutan barang. Sedangkan di pangkalan truk Jekulo antara 70 hingga 100 buah truk angkutan barang.

“Nanti jika tidak muat kami akan pergunakan bahu jalan yang dirasa lebih luas dan tidak mengganggu lalu lintas. Misal di Jalan Lingkar Selatan,” terangnya.

- advertisement -

Puasa 3 Tahun Lalu Mahmud Membuka Warung Khusus Lauk, Kini Usahanya Semakin Berkembang

0
Attin Corner, warung khusus lauk di Desa Panjang, Bae, Kudus 2017_6
Attin Corner, warung khusus lauk di Desa Panjang, Bae, Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, PANJANG – Di tepi barat Jalan Sosrokartono Desa panjang, Kecamatan Bae, Kudus tampak sebuah warung beratap esbes. Di warung tersebut tampak beberapa pekerja sedang sibuk melayani para pembeli. Di sudut lain tampak seorang pria mengenakan jaket merah sedang mengamati kegiatan di warung tersebut. Pria itu yakni Mahmud Subarkah (28), pemilik warung Attin Corner.

Sambil mengamati kegiatan di warungnya, pria yang akrab disapa Mahmud itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, mulai merintis usaha Attin Corner yang menjual aneka lauk pauk dan sayur mayur pada tahun 2013. Menurutnya, saat buka pertama kali itu juga pada waktu Ramadan.

“Pada waktu itu kita berfikir untuk memenuhi kebutuhan berbuka puasa untuk masyarakat Kudus. Karena masyarakat Kudus itu kebanyakan orang sibuk dan mungkin tidak sempat masak untuk berbuka puasa. Dan di situ aku melihat peluang dan alhamdulillah responnya sangat bagus,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Pria warga Desa Gribig, Kecamatan Gebog, Kudus itu mengatakan, awal berjualan saat itu hanya menggunakan satu meja, dan sekarang sudah ada beberapa meja. Karena cita rasa aneka lauk pauk dan sayur mayur yang dijualnya cocok dengan lidah para pelanggannya, dia mengaku diminta para pelanggan agar terus berjualan meski tidak bulan puasa.

“Karena tidak ingin mengecewakan para pelanggan, aku pun menuruti kemauan mereka dengan tetap berjualan lauk pauk serta sayuran meski tidak Bulan Ramadan. Dengan aneka menu masakan rumahan lengkap, lezat dan hemat. Usahaku tersebut bisa bertahan hingga sekarang,” ungkapnya.

Pria yang baru dikaruniai satu anak itu mengungkapkan, menjual aneka lauk di antaranya burung puyuh balado yang dijual Rp 8 ribu seporsi, dan Rp 15 ribu dua porsi.  Sedangkan ayam kampung bumbu rujak Rp 15 ribu seporsi. Ada juga ayam bumbu kecap dihargai Rp 5 ribu seporsi. Ada juga garang asem ayam kampung yang dijual dengan harga sangat terjangkau yakni Rp 10 ribu sebungkus.

“Selain garang asam ayam kampung, kami juga menyediakan garang asem ayam pedaging yang kami jual Rp 7 ribu seporsi. Ada juga nila bakar yang kami hargai mulai Rp 12 ribu hingga Rp 15 ribu. Kepala manyung kami jual dengan harga Rp 15 ribu hingga Rp 25 ribu. Khusus untuk kepala manyung kami tidak menyetok banyak, karena harganya agak mahal. Namun begitu kepala manyung pasti habis duluan,” ujarnya.

Selain lauk pauk dia mengaku juga menjual aneka sayur mayur di antaranya, sayur lodeh, sayur bening, sayur asem, sop, dan soto, yang dijual mulai harga Rp 1.500 hingga Rp 3 ribu sebungkus. “Selain menunya lengkap, Attin Corner memang terkenal harganya lebih murah dari pada yang lain. Dan sehari aku mampu menjual ratusan bungkus lauk dan sayur,” ungkapnya.

- advertisement -

Dodol Muria Jaya, Saudara Tua Jenang Kenia yang Diklaim Dodol Pertama di Kudus

0
Produk jenang Kenia dan dodol Muria Jaya, Kudus 2017_6
Produk jenang Kenia dan dodol Muria Jaya, Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Beberapa orang tampak sibuk di dalam satu ruangan rumah yang berada di Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus. Mereka memasukan kemasan jenang maupun dodol ke dalam kardus dan kemudian menyusun rapi di ruangan tersebut. Rumah tersebut yakni tempat pengemasan Jenang Kenia dan Dodol Muria Jaya, dodol yang diklaim pertama diproduksi di Kudus.

Sri Umiyati (45) pemilik usaha tersebut, sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang usaha dodol miliknya. Dia mengungkapkan, usaha pembuatan Dodol Muria Jaya dirintis oleh suaminya yang bernama Muhammad Ma’ruf pada tahun 1997. Suaminya memilih usaha produksi dodol karena pada tahun tersebut di Kota Kretek belum ada orang yang memproduksi dodol.

Baca juga: Jenang Kenia, Jenang Asli Kudus yang Pernah Dipamerkan di Manca Negara

“Kalau jenang kan sudah banyak. Bahkan suamiku itu memang terlahir dari kelaurga pengusaha jenang. Pemilik usaha jenang terkenal di Kudus kan masih kerabat suamiku. Karena kerabatnya sudah punya usaha produksi jenang, suamiku kemudian memilih produksi dodol. Ya agar beda dan tidak ada pesaing dan menyaingi,” ujar perempuan yang akrap disapa Umi tersebut.

Perempuan yang rumahnya masih satu atap dengan tempat pengemasan dodol tersebut mengatakan, berbeda dengan jenang yang terbuat dari beras ketan, Dodol Muria Jaya terbuat dari tape singkong. Menurutnya, karena keterbatasan modal suaminya pertama kali hanya mampu memproduksi dodol dari 20 kilogram tape. Kemudian dodol tersebut dititipkannya di beberapa toko di Yogyakarta dan Semarang dengan sistem dodol laku terjual baru bayar.

“Aku bersyukur Dodol Muria Jaya saat itu langsung laris dan cocok di lidah masyarakat luas. Bahkan berangsur-angsur permintaan meningkat dan dalam kurun waktu setahun produksi Dodol Muria Jaya yang awalnya hanya menghabiskan 20 kilogram tape, meningkat signifikan dengan menghabiskna 300 kilogram tape singkong sehari,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai satu anak tersebut mengungkapkan, untuk memenuhi kebutuhan tape singkong, suaminya bekerja sama dengan 80 pedagang tape dari Pati. Dituturkannya Dodol Muria Jaya dijual dengan harga Rp 16 ribu per pak dengan isi 24 biji dengan berat setengah kilogram. Dodol Muria Jaya kata dia, tersedia enam varian rasa, yakni durian, capucino, sirsat, nanas, cokelat, dan kombinasi rasa.

Dia mengaku, selama Ramadan penjualan Dodol Muria Jaya meningkat, yang tadinya hanya menghabiskan 300 kilgram tape sehari. Selama puasa produksi dodol menghabiskan sekitar 800 kilgram per dua hari. Kini Dodol Muria Jaya juga tidak hanya dipasarkan di Semarang dan Yogayakarta, maupun Kudus. Melainkan seluruh daerah di Jawa dan Bali.

“Kini Dodol Muria produksi kami sudah tersebar seantero Pulau Jawa dan Bali. Dan sejak usaha dodol kami mulai berkembang, pada tahun 1997 kami juga mulai memproduksi jenang yang kami beri merk Jenang Kenia,” ujarnya.

- advertisement -

Jenang Kenia, Jenang Asli Kudus yang Pernah Dipamerkan di Manca Negara

0
Sri Umiyati, pemilik Jenang Kenia asli Kudus 2017_6
Sri Umiyati, pemilik Jenang Kenia asli Kudus. Foto: Rabu Sipan

SEPUTARKUDUS.COM, SUNGGINGAN – Di dalam sebuah bangunan yang berada di Kelurahan Sunggingan, Kecamatan Kota, Kudus, tampak enam kuwali besar berisi adonan jenang. Tampak di atas perapian adonan jenang diaduk menggunakan mesin. Di ruang lain terlihat beberapa perempuan sedang mengiris jenang. Tempat tersebut yakni rumah produksi Jenang Kenia, jenang asli Kudus yang pernah ikut pameran hingga luar negeri.

Kepada Seputarkudus.com, Sri Umiyati (45) istri Muhamad Ma’ruf, pemilik usaha Jenang Kenia, sudi berbagi kisah tentang usahanya tersebut. Dia mengungkapkan, Jenang Kenia memang beberapa kali ikut pameran di dalam negeri. Bahkan pada tahun 2010 Jenang Kenia berhasil mendapatkan juara satu di festival kemasan oleh-oleh makanan khas Jawa Tengah di Semarang.

“Jenang Kenia memang selain dikemas menggunakan kertas juga dikemas unik menggunakan anyaman bambu dan rotan. Setelah juara satu tersebut, Jenang Kenia tiga kali diajak pameran ke luar negeri Pemkab Kudus ke Tiongkok dua kali dan Kamboja sekali,” ujar perempuan yang akrab disapa Umi tersebut.

Warga Sunggingan, Kota, Kudus tersebut menuturkan, Jenang Kenia tersedia dalam berbagai varian rasa, di antranya, mocca, white coffee, capucino, jahe, pandan, coklat, dan susu. Ada juga rasa buah di antaranya, strawbery, sirsak, durian, nanas, nangka dan lainnya. Untuk harga, dibandrol berbeda tergantung kemasan dan isinya.

“Untuk kemasan biasa yakni kertas Jenang Kenia dibandrol Rp 18 ribu per kemasan dengan isi 24. Sedangkan jenang kemasan unik kami jual mulai harga Rp 12 ribu hingga Rp 50 ribu per kemasan,” jelasnya.

Perempuan yang sudah karuniai satu anak itu mengkisahkan, sejak usaha dodol milik suaminya yang dirintis mulai 1997 bekembang, dasawarsa kemudian, tepatnya pada tahun 2007 suaminya mulai berinovasi untuk mengembangkan usahanya dengan memproduksi jenang.

“Produksi jenang kami diberi merek Kenia sesuai panggilan anak kami yang bernama Kitaro Kenioci. Dengan harapan Jenang Kenia bisa sukses dipasaran dan membawa kedamaian. Jadi ya bisa sukses juga selalu damai,” ujarnya .

Dia mengatakan, selama Ramadan ini penjualan Jenang Kenia meningkat. Jika di bulan biasa mampu memproduksi sekitar 200 kilogram sehari, di Bulan Ramadan ini produksi meningkat tujuh kali lipatnya menjadi 1,4 ton sehari.

“Aku bersyukur, sama dengan Dodol Muria Jaya, Jenang Kenia produksi kami juga diminati banyak orang. Kini produku tersebut sudah terdistribusi ke seluruh Pulau Jawa dan Bali. Dan di Kudus penjualan terpusat di tiga toko yakni di Ngembalrejo, Jati Wetan, dan Bakalan Krapyak,” ungkapnya.

- advertisement -

Jauh dari Masjid dan Musala, Penjual Lampion di Rendeng Ini Salat di Tepi Jalan

0
Penjual lampion salat di tepi Jalan Jendral Sudirman, Kudus 2017_6
Penjual lampion salat di tepi Jalan Jendral Sudirman, Kudus 2017_6

SEPUTARKUDUS.COM, RENDENG – Siang itu suara azan dan iqomah terdengar usai dikumandangkan, tanda waktu salat dzuhur telah tiba. Di tepi Jalan Jenderal Soedirman, Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus tampak belasan lampion dengan berbagai bentuk tergantung pada seutas tali rafia. Tak jauh dari lampion-lampion tersebut, terlihat seorang pria sedang salat di atas got yang tertutup. Pria tersebut yakni Kurniawan (45), penjual lampion yang selalu berusaha salat tepat waktu meski berada di tepi jalan.

Seusai salat, pria yang akrab disapa Kus itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang aktivitasnya tersebut. Dia mengungkapkan, selama berjualan lampion dirinya memang menjalankan kewajiban salatnya di tepi jalan. Itu dikarenakan musala dan masjid jaraknya cukup jauh.

“Kalau aku menjalankan salat di pinggir barang daganganku, pembeli pasti menungguku hingga selesai salat. Aku juga selalu berusaha salat tepat waktu karena ingin pahala kok ditunda-tunda. Sedangkan kita itu berharap mendapatkan rejekinya selalu cepat,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Desa Rendang, Kota, Kudus itu mengungkapkan, agama Islam juga memperbolehkan umatnya untuk menjalankan ibadah salat di mana saja tempatnya yang penting dalam keadaan suci. Suci tempat serta pelaku salat juga suci dari khadas besar dan kecil.  Sedangkan untuk wudlu, Dia mengaku menggunakan air yang ditampungnya di botol aqua besar.

“Setiap berjualan lampion di tepi jalan, aku salat Dzuhur dan Ashar juga di tepi jalan. Menurtku salat itu kan di mana saja boleh yang penting suci dan berusaha khusuk. Seusai salat wiridan sebentar dan berdoa agar dagangan laris, sehat dan keluarga bahagia,” ungkap Kus yang mengaku tidak pernah meniggalkan salat lima waktu dan puasa Ramadan tersebut.

Pria yang sudah dikaruniai dua anak itu menuturkan, setiap menjelang Lebaran dirinya menjual aneka berbagai bentuk lampion untuk malam Takbiran. Di antaranya, berbentuk masjid, menara, kapal, Hello Kitty, musala, dan rumah susun. Untuk harga, tutur dia, lampion mushala da rumah susun dijual dengan harga Rp 20 ribu lengkap dengan lampu LED.

Sedangkan lampion bentuk lainnya kata dia dijual Rp 25 ribu per satu lampion beserta dengan lampu LED. Menurutnya, dari aneka bentuk tersebut, lampion bentuk masjid dan menara paling laris dan habis duluan. Sekarang ini lampion yang dijualnya hanya tersisa bentuk kapal dan Hello kitty.

“Bulan Ramadan ini penjualan lampion terbilang laris. Bahkan sepekan berjualan 125 lampion, sekarang hanya tinggal 18 lampion saja. Dan semoga saja dalam dua hari ke depan semua lampionku sudah ludes terjual,” ujarnya yang mengaku mendapatkan aneka lampion dari pengrajin Jepara.

Dia menuturkan, Menyesal karena tidak memesan ke pengrajin lampion dalam jumlah banyak minimal 200pcs atau berapa gitu. Jadi saat mendekati lebaran dia bisa masih punya barang untuk dijualnya. “Aku akui salah prediksi, aku kira tidak begitu laris karena sebelumnya terkadang masih hujan. Kalau tahu lariskan aku bisa memesan lebih banyak. Yah, Mungkin belum rejeki dan rejekiku memang sudah segitu,” kata Kus pasrah.

- advertisement -