25 C
Kudus
Sabtu, Februari 29, 2020
Beranda Ekonomi Cerita Berliku Bless...

Cerita Berliku Bless Collection, Salah Desain Hingga Ditinggal Sales

SEPUTARKUDUS.COM, TUMPANG KRASAK – Di tepi jalan gang Desa Tumpang Krasak, Kecamatan Jati, Kudus, tepatnya di depan SD 2 Tumpang Krasak, tampak sebuah rumah bercat hijau. Di ruang belakang rumah tersebut tampak beberapa perempuan sedang sibuk dengan mesin jahit dan selembar kain. Tempat Rumah tersebut yakni tempat produksi aneka pakaian wanita dengan label Bless Collection.

Produksi gamis dan busana muslim di Bless Collection Kudus 2017_6_6
Produksi gamis dan busana muslim di Bless Collection Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Ning Fatimah, pengelola Bless Collection, sudi berbagi kisah tertang awal mula merintis usaha tersebut. Dia mengungkapkan, Bless Collection adalah sebuah label pakaian yang diproduksi serta dirintis oleh orang tuanya sejak 1983. Menurutnya, setelah menikah kedua orang tuanya langsung membuat usaha konveksi. Ibunya mampu membuat pola secara ototdidak dan bapaknya yang bertugas memasarkan pakaian hasil produksi.

Baca juga: Gamis Tapki Produksi Bless Collection Digadang Jadi Trend Seller Lebaran Tahun Ini

“Pakaian hasil produksi dari konveksi orang tuaku dipasarkan ayahku berkeliling ke beberapa daerah di Jawa Tengah, di antaranya Blora, Weleri, Pekalongan, Kendal dan daerah lainnya. Namun setahun produksi dan berjualan pakaian hasilnya impas, tidak untung dan tidak rugi,” ujar dara yang akrab disapa Ning tersebut beberapa lalau.

Warga Desa Tumpang Krasak, Jati, Kudus itu mengatakan, meski impas namun kedua orang tuanya tidak patah arang. Mereka tetap berkarya dengan memproduksi dan menjual aneka jenis pakaian perempuan. Hingga di tahun berikutnya, orang tuanya mampu mendapatkan hasil dari jerih payahnya dan mampu membangun rumah yang awalnya kepang menjadi tembok.

Setelah mampu membangun rumah, tuturnya, orang tuanya tetap memproduksi pakaian dan menjualnya seperti biasa berkelana dari daerah satu ke daerah lain. Namun sayangnya, pada tahun 1995 desain baju yang diproduksi ibunya tak sesuai pangsa pasar. Hal itu mengakibatkan stok barang melimpah dan tidak terjual dan punya utang ke toko kain sebanyak Rp 10 juta.

“Karena stok pakaian yang melimpah tersebut, ibuku meminta tolong tetangga yang kebetulan seorang sales pakaian yang tidak punya barang. Dengan modal kepercayaan sales tersebut bersedia menjual stok pakaian ke Nusa Tenggara Barat. Dan dalam tempao dua pekan, pakaian sebanyak tiga karung besar yang berisi 300 pcs habis terjual dengan pembayaran kontan,” ungkapnya.

Anak keempat dari lima bersaudara itu menuturkan, karena saling menguntungkan kerjasama pun berlanjut dan setahun kemudian orang tuanya mampu membeli kios di Pasar Kliwon Kudus. Sejak punya kios, penjualan pakaian meningkat tajam. Bahkan saat itu orang tuanya punya 10 sales yang mampu menjual ribuan pakaian sepekan.

Dari hasil penjualan yang meningkat tersebut, kata Ning, pada tahun 2005 kedua orang tuanya dan eyangnya mampu naik haji. Namun sepulang dari haji, tepatnya pada tahun 2006, beberapa salesnya berhenti memasarkan produk pakaian orang tuanya. Mereka juga meninggalkan utang antara Rp 30 juta hingga Rp 50 juta per orang. “Saat itulah kedua orang tuaku merasa berada dititik terendah dalam menjalankan usaha,” ujarnya.

Namun, kata dia, orang tuanya tetap memproduksi pakaian perempuan dan dipasarkannya sendiri ke beberapa daerah tetangga dan toko di Pasar Kliwon. Bahkan dia mengaku sudah dewasa dan ikut memasarkan pakaian itu secara keliling menemani ibunya.

“Dengan perjuangan tanpa menyerah itu, pada tahun 2016 Pemerintah Kudus mengajak orang tuaku untuk ikut beberapa pameran di Kudus dan beberapa daerah di Jawa Tengah. Sehingga produk pakaian orang tuaku dikenal di banyak daerah. Sejak itu produksi dan penjualan pakaian milik orang tuaku mulai stabil. Dan mampu membiayai beberapa anaknya termasuk diriku untuk kuliah,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

20,013FansSuka
13,439PengikutMengikuti
4,320PengikutMengikuti
8,940PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler

Perajin Miniatur Menara Kudus Kewalahan Penuhi Permintaan Pasar

BETANEWS.ID, KUDUS - Suara mesin kompresor terdengar di sebuah rumah di Desa Bacin RT 08 RW 03, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus. Seorang...

300 Kontainer Briket Arang Asal Jateng Setiap Bulannya Diekspor ke Penjuru Dunia

BETANEWS.ID, SEMARANG – Dalam sebulan, tidak kurang dari 300 kontainer briket arang asal Jateng diekspor ke berbagai penjuru dunia. Di mana, untuk...

Pelajar MAN 1 Kudus Buat Plastik Bisa Dimakan, Raih Medali Emas di Malaysia

BETANEWS.ID, KUDUS - Dua remaja perempuan mengenakan jilbab berwarna putih tampak sedang membuat edible film di ruangan Labotarorium Kimia, Madrasah Aliyah Negeri...

Tak Patah Arang Kalah Bersaing, Parman Banting Setir dari Usaha Gypsun ke Ornamen Rumah

BETANEWS.ID,KUDUS - Seorang pria mengenakan kaus putih tampak membersihkan tumpukan ornamen yang ada di depan sebuah rumah. Dia yakni Suparman (60), pemilik...

Awalnya Produk Spring Bed Rusbandi Sering Ditolak Toko, Sekarang Justru Diburu Konsumen

BETANEWS.ID,KUDUS - Di sebuah halaman sebuah rumah tampak tiga pria sedang memotong dan merakit kayu untuk dibuat kasur. Satu di antaranya yakni...

Dimas, Penyandang Down Syndrome Curhat ke Ganjar Soal Potongan Rambutnya

BETANEWS.ID, SEMARANG – Didampingi ibunya, Detty Supriastuti, Dimas Adi Saputra tampak malu-malu saat bertemu orang nomor satu di Jawa Tengah, Ganjar Pranowo....

Ganjar Minta Calon Jemaah Umrah yang Gagal Berangkat Akibat Kebijakan Arab Saudi Tidak Dipungut Biaya Tambahan

BETANEWS.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta Kementerian Agama (Kemenag) Jateng gencar melakukan sosialisasi, termasuk memastikan calon jemaah umrah tidak...