Beranda blog Halaman 1893

Daihatsu Zirang Kudus Kenalkan New Astra Daihatsu Ayla 2017

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Satu unit kendaraan roda empat berwarna orange terlihat terpakir di dalam stan berukuran 3×6 meter, di Jalan Dokter Ramlan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Kota, Kudus. Mobil itu tampak masih terbungkus oleh plastik tanpa plat nomor kendaraan resmi. Mobil yang memiliki kapasitas penumpang lima orang tersebut tak lain New Astra Daihatsu Ayla.

Agus Muzani, Sales Force Daihatsu Zirang Kudus 2017_5
Agus Muzani, Sales Force Daihatsu Zirang Kudus. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Muhammad Agus Muzani (32), Sales Force Daihatsu Zirang Kudus, mengatakan, mobil yang memiliki dimensi panjang sekitar tiga setengah meter serta lebar dan tinggi lebih satu setengah meter itu hadir dalam dua varian mesin berbeda. Menurutnya, mesin mobil ada yang berkapasitas 1.000cc dan ada juga yang dibekali mesin berkapasitas 1.200cc.

“Daihatsu Ayla yang terbaru total keseluruhan tipe mobil berjumlah 14 varian, yang terdiri dari delapan varian dengan mesin 1.000cc dan enam varian yang mengusung mesin berkapasitas 1.200cc. Untuk Varian warna tersedia enam pilihan meliputi warna orange, merah, silver, hitam, abu-abu serta putih yang sekarang banyak diminati,” ujar Muzani saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dia menambahkan, harga yang ditawarkan bagi setiap pengujung yang hendak membeli mobil itu berbeda-beda, katanya, tergantung tipe mobil maupun cara pengoperasian kendaraan. Dia memberitahukan, untuk harga New Astra Daihatsu Ayla terendah berupa Ayla 1.0 D Manual Transmition (M/T) MI dijual dengan harga Rp 99,05 juta. “Paling mahal berupa Ayla 1.2 R Deluxe Automatic Transmition (A/T) MI yang dijual seharga Rp 153,35 juta.” katanya.

Dia menambahkan, mobil city car terbaru produk asal Jepang itu dipromosikan melalui berbagai cara, tak terkecuali di tradisi Dandangan beberapa waktu lalu. Menurutnya, dengan cara demikian, pihak diler tidak perlu bersusah payah dalam mencari calon pembeli.

“Sangat efektif melakukan promosi seperti itu. Karena Dandangan setahun sekali dan banyak pengunjung yang datang, baik dari Kudus maupun wilayah sekitarnya. Walaupun kadang pengunjung tidak langsung membeli, tapi setidaknya mereka tahu mobil terbaru dari kami berupa New Astra Daihatsu Ayla,” ungkapnya.

 

- advertisement -

Di Sini Para Penderita Gangguan Mental Dilatih Memasak, Salat, Hingga Bisa Mandiri

0

SEPUTARKUDUS.COM, BULUNG KULON – Sulani tampak masih sibuk membolak-balik nasi di dalam dandang. Pria berkaus abu-abu dan peci putih itu ingin memastikan nasi yang akan digunakan untuk makan malam benar-benar sudah matang. Saat nasi sudah dipastikan matang, bersama rekannya dia kemudian menata nasi itu di atas piring plastik.

Pondok rehabilitasi gangguan mental Yayasan Jalma Sehat Kudus 2017_5
Pondok rehabilitasi gangguan mental Yayasan Jalma Sehat Kudus. Foto: Imam Arwindra

Setelah hari tampak petang, dirinya membawa nasi yang sudah diberi sayur dan telur dadar untuk diberikan kepada rekan-rekannya sesama penghuni Yayasan Jalma Sehat, di Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Tempat tersebut merupakan tempat rehabilitasi penderita gangguan jiwa dan cacat mental.

Dia yang memiliki nama lengkap Sulani Bagus Dwisiro, selain bisa memasak, juga sudah bisa salat. Sebelum itu, menurutnya dirinya sudah bisa bangun tidur mandiri, mandi dan berpakaian dengan baik. Sulani menuturkan, dirinya berada di tempat rehabilitas karena sakit dan ingatan belum pulih.

“Setiap malam Selasa saya belajar agama dan mengaji. Selain itu juga dilatih untuk bekerja dan memasak,” tuturnya yang ditemui Seputarkudus.com belum lama ini.

Warga Desa Tanjung Karang Kecamatan Jati, Kudus, itu sudah delapan bulan berada di Yayasan Jalma Sehat. Dia mengaku betah dan kondisinya pun mulai membaik.

Selain itu rekan Sulani, ada sejumlah penghuni lainnya yang mengalami sakit mental, di antaranya Bobi Imam Tobroni. Dia memiliki kondisi sama seperti Sulani, namun kini juga sudah mulai membaik. Bobi menuturkan, saat tinggal di Yayasan Jalma Sehat diperlakukan baik hingga dirinya sembuh. Selama satu tahun tinggal di tempat rehabilitasi itu, dia mengaku diberi tempat tinggal, makan, obat bahkan perkerjaan.

“Saya di sini karena sakit. Saya seperti anak kecil, kalau ada masalah langsung tidak terkendali,” tuturnya sehabis membuat batu bata.

Selama bekerja memproduksi batu bata, dia digaji oleh yayasan. Uang tersebut, digunakan untuk membeli es, rokok dan lainnya. Di tempat rehabilitasi itu, Bobi juga diajarkan salat dan mengaji. Menurutnya masih banyak temannya yang belum sembuh dan terpaksa ditempatkan di ruangan khusus yang terkunci. “Di sini enak banyak temannya,” tuturnya yang berasal dari Kabupaten Wonogiri.

Sementar itu, pengelola Yayasan Jalma Sehat Agus Salim (47) menuturkan, tempat rehabilitasi penderita gangguan jiwa dan cacat mental sekarang ini dihuni 45 pasien. Menurutnya, saat pertama kali didirikan tahun 2014 ada 205 pasien yang tinggal. Karena sudah sembuh, mereka kembali ke keluarganya masing-masing.

“Ada pula yang sudah dua tahun di sini, namun dia tidak mau pulang. Dia sudah sembuh. Mungkin di rumah tertekan,” tuturnya.

Dia menjelaskan, yayasan rehabilitasi penderita gangguan jiwa dan cacat mental yang dikelolanya hanya khusus pasien laki-laki saja. Menurutnya, untuk pasien perempuan pihaknya belum memiliki fasilitas sarana prasarana pendukung. Agus mengakui, fasilitas tempat yang dimilikinya sekarang pun masih kurang. “Untuk perawatnya pun baru ada dua dan dokter spesialis satu,” tambahnya.

Selama tinggal di tempat rehabilitasi, pasien diajarkan hal-hal dasar di antaranya mandi, merapikan diri, makan dan pengetahuan agama. Selain itu, pasien juga diajak jalan-jalan di sekitar tempat rehabilitasi supaya mereka merasa tenang. “Kalau obat dan terapi pasti. Tak sampai satu tahun biasanya sudah sembuh. Ada juga yang baru lima bulan sudah sembuh,” jelasnya.

Untuk pasien yang sudah bisa mengendalikan diri sendiri, pihaknya mengajari untuk bekerja. Di antaranya membuat batu bata, beternak kambing dan memasak. Namun Bagi pasien yang belum sembuh masih harus tinggal di tempat yang terkunci.

Selama Bulan Ramadan, pasien yang berada di Yayasan Jalma Sehat juga diajari untuk salat Tarawih, tadarus Al-Quran dan kitobah. Menurutnya, saat pasien sudah benar-benar sehat mereka siap membaur dengan masyarakat di daerah asalnya. “Mungkin juga ada potensi kesana menjadi mubaligh,” tuturnya yang pernah mondok di Jombang.

- advertisement -

Masjid Jami Al Hamid Mlati Kidul, Masjid Tiga Lantai Satu-Satunya di Kudus

0

SEPUTARKUDUS.COM, MLATI KIDUL – Masjid yang berada di pojok lampu merah Pejagan tampak tinggi menjulang di antara bangunan di sekitarnya. Bangunan masjid yang didominasi warna hijau dan kubah warna kuning emas tersebut tampak berada sangat dekat dengan Jalan Pattimura, Kelurahan Mlati Kidul, Kecamatan Kota, Kudus. Masjid tersebut bernama Masjid Jami Al Hamid. Masjid itu dipugar menjadi tiga lantai agar mampu menampung para jamaah.

Masjid Jami Al Hamid Desa Mlati Kidul 2017_5
Masjid Jami Al Hamid Desa Mlati Kidul. Foto: Rabu Sipan

Kepada Seputarkudus.com, Ketua Takmir Masjid Jami Al Hamid, Muhammad Akhsanul Haq (50), mengungkapkan, masjid tersebut dibangun sejak zaman Belanda. Namun, dia mengaku tidak tahu persis kapan tahun didirikannya masjid itu. Yang dia ketahui bangunan masjid sudah mengalami tiga kali pemugaran. Terakhir dipugar karena tak mampu menampung banyaknya jamaah. Bahkan saat salat Jumat, jamaah yang hadir sebelum direnovasi, mengular hingga ke jalan raya.

“Oleh karena itu Masjid Jami Alhamid sekitar tahun 2004 dipugar menjadi tiga lantai agar mampu menampung semua jemaah yang melakukan ibadah. Khususnya ibadah salat Jumat. Karena para pengurus masjid yakin masyarakat Kudus itu semakin sadar untuk melakukan salat,” ungkap pria yang akrab disapa Akhsan itu, kepada Seputarkudus.com saat ditemui beberapa waktu lalu.

Warga Kelurahan Mlati Kidul, Kota, Kudus itu menuturkan, proses pemugaran untuk membangun masjid menjadi tiga lantai membutuhkan waktu sekitar 10 tahun. Selama Dasawarsa tersebut pemugaran Masjid Jami Al Hamid menelan biaya hingga Rp 1,1 miliar. Menurutnya, dana tersebut didapatkan dari iuran masyarakat setempat, Pemerintah Kabupaten Kudus, serta para dermawan dan dermawati yang berasal dari daerah luar Kudus.

Setelah dipugar kini Masjid Jami Al Hamid terlihat megah, berkubah emas mirip satu masjid di Depok Jawa barat. Bangunan bertingkat itu berlantai granit terdiri dari beberapa tiang berdiameter 60 sentimeter dengan warna kuning keemasan. “Kayaknya masjid yang berlantai tiga di Kudus itu hanya Masjid Jami Al Hamid,” ujar Akhsan.

Sedangkan untuk proses pembangunan masjid, katanya, dipercayakan kepada tenaga ahli dalam pembangunan. Dia juga satu di antara pengurus takmir Masjid Jami Al Hamid. Untuk arsitektur bangunan serta kecakapan masjid semua ide orang tersebut. “Dan itu dilakukannya swadaya tanpa dibayar. Alhamdulillah setelah pemugaran selesai pada tanggal 8 Februari 2014 dan diresmikan oleh KH Sya’roni Ahmadi, kami khususnya masyarakat di sini puas dengan hasilnya,” ujarnya.

Pria yang menjabat kepala Takmir Masjid Jami Al Hamid sejak tahun 2014 itu mengungkapkan, tidak tahu persis bangunan mesjid tersebut mangadopsi arsitektur dari mana. Tapi dengan konsep masjid berkubah dan ada menaranya kemungkinan saja Masjid Jami Al Hamid berdesain ala masjid di Timur Tengah. “Kayaknya sih berdesain ala Timur Tengah, Tapi aku tidak tahu pasti,” ungkapnya.

- advertisement -

Supriyadi Terbantu Ada Orang Bersedia Membersihkan Makam Keluarganya di Kaliputu

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Seorang pria mengenakan sarung dan peci tampak sedang menunggui orang yang sedang membersihkan dua makam di area Makam Sedo Mulyo Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Setelah dua makam tersebut bersih dari rumput, pria berpeci lalu memberikan uang kepada orang yang membersihkan makam. Setelah itu, dia ditemani oleh putrinya membaca doa makam keluarganya itu. Pria tersebut bernama Supriyadi (50), seorang peziarah di makam tersebut.

Warga berziarah ke makam keluarganya di Makam Sedo Mulyo, Kaliputu, Kudus 2017_5
Warga berziarah ke makam keluarganya di Makam Sedo Mulyo, Kaliputu, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai ziarah Supriyadi sudi berbagi penjelasan kepada Seputarkudus.com tentang penyedia jasa pembersihan makam. Dia mengungkapkan, setiap menjelang Ramadan dirinya berziarah ke makam leluhur di Makam Sedo Mulyo. Setiap berziarah, saat melihat makam leluhurnya dipenuhi rumput, dia selalu minta bantuan kepada penyedia jasa pembersihan makam. Dia mengaku sangat terbantu.

Baca juga: Jelang Ramadan, Pembersih Makam di Kaliputu Bisa Kantongi Rp 1 Juta Sehari

“Aku merasa dengan adanya para penyedia layanan jasa pembersihan makam sangat membantu para peziarah untuk membersihkan makam, termasuk diriku. Karena saat pergi berziarah aku tidak mungkin membawa peralatan pembersih rumput. Karena selain merepotkan, pembersihan makam juga makan waktu. Oleh karena itu aku menggunakan jasa layanan pembersihan makam. Proses pembersihan lebih cepat dan aku bisa berbagi rezeki kepada mereka menjelang Bulan Suci,” ujar warga Ngembalrejo, Bae, Kudus tersebut.

Berbeda dengan Supriyadi, Purwasita (29) yang sore itu berziarah ke makam orang tuanya mengungkapkan, selama ini belum menggunakan jasa layanan pembersihan makam. Karena memang selain rutin berkunjung ke makam leluhurnya tersebut, dia mengaku makam ke dua orang tuanya saat ini juga bersih dari rumput dan tumbuhan lainnya,

Pria warga Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kudus itu mengatakan, ziarah kubur ke makam kedua orang tua tidak hanya saat menjelang Bulan Suci Ramadan. Namun setiap Kamis sore, dirinya pasti menyempatkan berkunjung ke makam orang tuanya untuk berdoa. “Karena keadaan makam orang tuaku yang bersih dan rapi tersebut, aku belum menggunakan jasa pembersih makam,” ungkap Itok yang senja itu berziarah dengan ditemani istrinya.

Sementara itu, menurut Santoso (54), penjaga makam sekaligus penyedia jasa pembersihan makam menuturkan, dia bersama temannya yang juga menyediakan jasa serupa memang tidak pernah memaksa para peziarah untuk menggunakan jasanya. Dia mengaku, bekerja saat ada yang meminta, saat tidak ada mereka duduk sambil menunggu para peziarah memintanya untuk membersihkan makam.

“Kami tidak pernah memaksa para peziarah untuk menggunakan jasa kami. Saat tidak ada permintaan kami hanya duduk sambil mengobrol dan akan bekerja saat ada yang menyewa jasa kami. Kami juga tidak mematok harga tertentu, ongkos seiklasnya,” jelasnya.

Pria yang menggantungkan hidupnya di makam sejak usia delapan tahun itu mengungkapkan, meski beberapa peziarah tidak menggunakan jasanya. Namun mereka lupa posisi makam leluhurnya, dengan senang hati dia menunjukan makam tersebut. Karena diakuinya hampir hafal letak dan pemilik nisan yang ada di area makam tersebut.

“Dan aku tidak meminta imbalan untuk itu. Selain melayani pembersihan makam, bersih langsung bayar, aku juga melayani pembersihan makam bulanan, itu juga seiklasnya,” ujar pria yang sudah dikaurniai satu cucu tersebut.

- advertisement -

Salat Tarawih Pertama di Masjid Menara, Mulai Setelah Isya dan Selesai Pukul 21.16 WIB

0

SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Suara bacaan ayat Al-Quran terdengar merdu saat berlangsungnya salat Tarawih pertama di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus.  Puluhan jamaah terlihat memadati saf yang berdekatan dengan imaman di ruang utama masjid. Sementara itu, pada saf belakang puluhan jamaah terlihat ada yang beristirahat.

Tarawih di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus 2017_5
Tarawih di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Foto: Imam Arwindra

Satu di antara yang ikut salat Tarawih, Saifullah Annas (24), yang menempati saf tengah. Setelah salat tarawih yang selesai pukul 21.16 WIB, dia menuturkan, sengaja datang ke Masjid Al-Aqsa untuk melakukan salat Tarawih pertama, setiap tahun. “Kalau Tarawih pertama biasanya memang di sini (Masjid Al-Aqsa). Namun salat selanjutnya biasanya di Tajug,” tuturnya sambil tertawa.

Dia mengungkapkan, tidak memiliki alasan khusus mengapa Tarawih pertama dilakukan di Masjid Al Aqsa. Namun menurutnya hal tersebut sering dilakukannya saat salat tarawih pertama di Ramadan. Annas memberitahukan, selama Ramadan dirinya tidak salat Tarawih di Masjid Al Aqsa, kadang dia pindah di Tajug, selatan masjid.

“Tarawihnya tidak setiap malam di sini (Masjid Al-Aqsa). Biasanya malam pertama di sini. Nanti selanjutnya di Tajug. Pas tarawih terakhir kembali ke Masjid lagi,” jelasnya.

Salat tarawih pertama menurut Annas dipimpin oleh KH Abdul Basit Abdul Qodir, surat yang dibaca yakni Surat Albaqarah. Setiap dua rakaat salat Tarawih dilakukan lebih kurang selama 5-6 menit dan selesai pukul 21.16 WIB. Menurut Annas, setiap salat tarawih menyelesaikan satu juz. “Ya lumayan lama. Kalau ingin sebentar ya di Tajug,” tambahnya.

Sementara itu, Humas Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Deni Nur Hakim mengungkapkan, di komplek masjid, terdapat dua tempat pelaksanaan salat Tarawih, yakni di Masjid Al Aqsa dan Tajug, selatan masjid. Menurutnya, pelaksanaan Tarawih di masjid setiap malam menghatamkan satu juz.

“Untuk yang di masjid khusus dalam satu malam atau pelaksanaan salat Tarawih membaca surat Al-Quran sebanyak satu juz. Sehingga selama satu bulan Ramadan bisa khatam Al-Quran,” jelasnya.

Sedangkan di Tajug, katanya, sama seperti masjid umumnya, membaca surat-surat pendek. Menurutnya, tarawih yang dilakukan di komplek masjid berjumlah 23 rakaat. Dia merinci, 20 rakaat untuk salat Tarawih dan tiga rakaat untuk salat Witir.

Selama Ramadan, Deni memberitahukan, di Masjid Al-Aqsa setelah salat Subuh ada pengajian tafsir Al-Quran yang diisi oleh KH Sya’roni Ahmadi. Sedangkan, setelah salat Ashar, ada mengajian kitab oleh Muhammad Faruq.

“Setelah salat Tarawih bersama juga ada kegiatan pengajian umum. Insya Allah kegiatan akan dilaksanakan mulai tanggal 3 Ramadan hingga 27 Ramadan 1438 Hijriyah,” terangnya.

- advertisement -

Ada Kudus di Dalam Museum Jenang Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya

0
Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya, Jalan Sunan Muria, Kudus 2017_5
Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya, Jalan Sunan Muria, Kudus. Foto: Imam Arwindra

SEPUTARKUDUS.COM, GLANTENGAN – Sejumlah mobil dan motor tampak memadati tempat parkir di depan bangunan dua lantai Jalan Sunan Muria, Desa Glantengan, Kota, Kudus. Pengunjung yang datang terlihat keluar dan masuk di Mubarok Sentra Bisnis dan Budaya tersebut. Di lantai pertama, tampak beraneka ragam olahan jenang dan makanan ringan tertata rapi disetiap rak. Dengan keranjang warna kuning, para pengunjung mengambil jajanan tersebut untuk dibuat oleh-oleh.

Di sisi utara terdapat tangga untuk menuju lantai dua. Bangunan dengan luas 1.000 meter persegi tersebut ternyata memiliki Museum Jenang. Tampak miniature Menara Kudus setinggi lima meter di tengah bangunan, yang akan membuat pengunjung yang melihatnya akan terkagum.

Pada sisi selatan museum terdapat patung laki-laki yang sedang mengaduk jenang di atas kuali besar. Di sampingnya juga terdapat alat parut kelapa, pemeras santan  dan alat tumbuk, yang menurut Public Relation dan Guide Museum Jenang Ika Hapsari Enggarwati (24), alat-alat yang dimaksud dulunya digunakan untuk memproduksi jenang.

Ika menceritakan, generasi pertama jenang Mubarok yakni pasangan H Mabruri dan Hj Alawiyah yang memulai bisnis jenang sejak tahun 1910. Menurutnya alat produksi yang digunakan masih menggunakan cara manual. Dia memperkirakan, satu kuali besar dapat membuat adonan jenang antara 15 hingga 20 kilogram dengan membutuhkan waktu lima jam. Alat tersebut menurutnya berlanjut hingga generasi kedua jenang Mubarok yang dilanjutkan oleh H Achmad Shochib, anak pasangan H Mabruri dan Hj Alawiyah.

“Jenangnya saat itu masih besar-besar. Ukurannya sekitar 250 gram. Jualannya pun masih di Pasar Bubar yang sekarang menjadi Taman Menara,” tuturnya sambil menunjukkan diorama kondisi Pasar Bubar, saat ditemui beberapa waktu lalu.

Dari diorama yang dibuat tampak menggambarkan suasana pasar yang sangat ramai. Para pedagang pun terlihat berjualan di dalam gubug beratap genting. Ada pula yang mumbuat lapak beralaskan tikar. Dagangan yang dijual tidak hanya buah-buahan dan kebutuhan setiap hari, melainkan juga ada pedagang jenang tepat di bawah pohon beringin.

“Beringin yang ada di diorama itu ya beringin yang ada di dekat Menara (Menara Kudus) sekarang,” jelasnya.

Menurutnya, pada generasi kedua tahun 1940-1992, H Achmad Shochib membuat brand jenang bernama Jenang Sinar Tiga Tiga. Dan tahun 1992 sampai sekarang dilanjutkan generasi ketiga Muhammad Hilmy yang membuat perusahaan CV Mubarokfood Cipta Delicia.

“Itu foto generasi pertama dan kedua. Untuk generasi ketiga Pak Hilmy (Muhammad Hilmy) fotonya berada di sisi utara,” tuturnya sambil menunjukkan foto yang dimaksud.

Bangunan dua lantai milik Mubarokfood tersebut menurutnya mengusung konsep Sentra Bisnis dan Budaya. Dia menjelaskan, pada lantai pertama terdapat 25 produk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dari Kudus dan luar Kabupaten Kudus.

Dia menambahkan, lantai dua terdapat museum yang berisi alat produksi jenang tempo dulu dan modern. Selain itu juga terdapat miniatur Menara Kudus, Rumah Adat Kudus, gebyok rumah joglo, Al-Quran ukuran besar, diorama Pasar Bubar, dan miniatur suasana Menara Kudus dan Masjid Al-Aqsa yang terbuat dari stik es krim. Ada pula 16 galeri Kudus tempo dulu serta foto 17 Bupati Kudus dari tahun 1890 hingga sekarang.

“Tidak hanya ada rumah di dalam rumah, tapi ada Kudus di dalam Museum Jenang,” jelasnya sambil tersenyum.

Sejak pertama kali di-launching 24 Mei 2017, menurut Ika, sudah ada ratusan pengunjung yang datang. Selain untuk mencari oleh-oleh, para pengunjung juga bisa menikmati Museum Jenang secara gratis. “Konsepnya ada toko untuk memperkenalkan produk, namun sekaligus menjadi destinasi wisata,” ungkapnya.

- advertisement -

Meski Sudah Datang Empat Kali di Dandangan, Isti Tak Lewatkan Malam Puncak

0

SEPUTARKUDUS.COM, DANDANGAN – Pada malam puncak Tradisi Dandangan terlihat ribuan orang memenuhi kiri dan kanan lapak para pedagang yang di sepanjang Jalan Sunan Kudus. Mereka datang ke Dandangan ada yang berniat membeli sesuatu, namun tak jarang pula yang hanya sekadar jalan-jalan. Satu di antaranya Istirokhah (20) yang datang ke malam puncak Dandangan bersama teman-temannya.

Masyarakat berdesakan di tradisi Dandangan malam terakhir 2017_5
Masyarakat berdesakan di tradisi Dandangan malam terakhir. Foto: Rabu Sipan

Seusai berjalan berkeliling bersama tiga orang temannnya, dia beristirahat di Taman Menara Kudus. Sambil istirahat perempuan yang akrab disapa Isti itu sudi berbagi kesan jalan-jalan di malam terakhir Tradisi Dandangan Kudus. Dia mengungkapkan, di Dandangan tahun ini dirinya sudah datang empat kali. Meski begitu, pada malam puncak Dandangan dirinya memutuskan datang lagi sekaligus menyambut Ramadan di sana.

“Jalan-jalan di malam terakhir Dandangan niatnya hanya untuk refreshing dan cuci mata,” ujar Isti, Jumat (27/5/2017) malam.

Warga Desa Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kudus, itu mengatakan, datang ke malam puncak Dandangan karena ingin menyaksikan ramainya malam terakhir di tradisi tahunan tersebut. Menurutnya, dalam perjalanan sempat gerimis, namun hal tersebut tidak menyurutkan niatnya untuk datang ke Dandangan.

“Tadi waktu perjalanan ke sini sempat gerimis. Namun aku yakin meskipun gerimis, malam terakhir Dandangan pasti ramai dan banyak pengunjung. Dan benar di Dandangan sangat ramai pengunjung. Menurutku malam ini paling ramai,” ujarnya.

Senada dengan Isti, Ulul Uliyanto (20) datang ke malam terakhir Tradisi Dandangan karena ingin melihat ramainya malam puncak Dandangan. Menurutnya, pada tahun ini dirinya belum pernah datang ke Dandangan. Dia mengaku sengaja datang di malam puncak Dandangan Kudus karena dirinya percaya setiap momen pasti ramainya itu saat puncaknya.

“Meski tadi sempat gerimis tapi itu tidak membuatku semang, malam terakhir Dandangan akan sepi pengunjung. Karena aku percaya malam puncak Dandangan pasti ramai,” ujarnya.

Berbeda dengan mereka berdua, Nurul Aini (20) yang datang bersama temannya itu mengatakan, malam puncak Dandangan kalah ramai dibanding malam sebelumnya. Tuturnya, mungkin saja hal tersebut dikarenakan ada salat Tarawaih.

“Aku datang ke Dandangan tahun ini sudah dua kali. Kemarin sama pacarku dan beli boneka, sedangkan di malam terakhir  Dandangan aku datang bersama temanku. Menurutku malam puncak Dandangan kurang ramai dibanding malam sebelumnya. Mungkin karena tadi sempat gerimis dan ada salat Tarawih,” ujarnya.

- advertisement -

Tabuh Bedug Dandangan Penanda Awal Ramadan yang Tak Lekang di Makan Zaman

0

SEPUTARKUDUS.COM, MENARA – Aula Masjid Al-Aqsa,Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, terlihat dipenuhi masyarakat usai salat Ashar ditunaikan. Selang beberapa saat kemudian, tampak enam orang pria mengenakan baju koko warna putih dan ikat kepala berjalan beriringan menuju puncak Menara Kudus. Mereka adalah petugas tabuh bedug Dandangan, penanda awal dimulainya Ramadan.

Tabuh bedug di Menara Kudus sebagai penanda awal Ramadan 2017_5
Tabuh bedug di Menara Kudus sebagai penanda awal Ramadan. Foto: Sutopo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Afi Alfarizi (27), satu di antara petugas tabuh bedug, mengatakan, satiap tahun menjelang Ramadan, pihak Menara Kudus selalu melaksanan penabuhan bedug. Ini kali kedua dirinya mendapatkan tugas menjadi penabuh bedug. Menurutnya, tidak ada persiapan khusus untuk melaksanakan tabuh bedug. Dia mengaku sudah terbiasa karena sejak kecil sering bermain dan mendengarkan tabuh bedug di Menara Kudus.

“Tidak ada persiapan khusus sama sekali, ya mengalir begitu saja. Sejak duduk di MI (Madrasah Ibtidaiah) saya sudah sering bermain bedug di Menara, latihan menabuh bedug juga tidak pernah. Belajar saya ya secara otodidak, hanya mendengarkan masyarakat dulu sering menabuh bedug,” ungkap Afi saat ditemui usai melakukan tabuh bedug Dandangan.

Warga Desa Damaran RT 3 RW 2, Kecamatan Kota, Kudus, ini mengungkapkan, tabuh bedug Dandangan dimulai pukul 15.30 WIB hingga pukul 16.30 WIB. Dalam menyambut datangnya Ramadan, katanya, setiap malam selama Ramadan di Menara Kudus juga digelar tabuh bedug yang dimulai sekitar pukul 23.30 WIB hingga pukul 00.30 WIB.

“Pelaksanaan biasanya dilakukan di malam hari sampai dini hari. Petugas yang menabuh bedug Masyarakat sekitar Menara. Misal masyarakat sekitar Menara ingin belajar cara menabuh bedug juga dipersilakan untuk ikut,” ujar Afi.

Sementara itu, Humas Yayasan Masjid, Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) Deni Nur Hakim yang juga turut menyaksikan penabuhan bedug, menjelaskan, tabuh bedug Dandangan merupakan tradisi turun temurun yang dimulai sejak zaman Sunan Kudus. Tradisi Dandangan sebagai penanda awal Ramadan itu tetap dilakukan hingga sekarang.

Deni menambahkan, selama bulan Ramadan, pihaknya telah menyiapkan beberapa kegiatan. Di antaranya, setelah salat Subuh akan diisi pengajian tafsir Al-Quran oleh KH Sya’roni Ahmadi. Sedangkan selepas salat Ashar, ada pengajian kitab yang akan diisi oleh Muhammad Faruq.

“Setelah salat Tarawih bersama juga ada kegiatan pengajian umum. Insya Allah kegiatan akan dilaksanakan mulai tanggal 3 Ramadan hingga 27 Ramadan 1438 Hijriyah,” tambah Deni.

- advertisement -

Meski Sempat Dihentikan Bupati, Gunadi Lega Teatrikal Visualisasi Dandangan Berjalan Lancar

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Alunan musik terdengar mengiringi visualisasi tradisi Dandangan di Alun-alun Kudus, Jumat (26/5/2017) sore. Terlihat dua orang memerankan pedagang yang dikerumuni pembeli. Pedagang tersebut tampak saling berebut pelanggan. Tak berapa lama kemudian, Bupati Musthofa sempat menghentikan pertunjukan itu. Selain bertanya tentang maksud pertunjukan, dia juga memberi masukan untuk memberi prolog terlebih dahulu agar penonton bisa paham.

Visualisasi Dandangan di Simpang Tujuh Kudus 2017_5
Visualisasi Dandangan di Simpang Tujuh Kudus. Ahmad Rosyidi

“Pokoknya hati-hati yang pentas, karena akan saya komentari terus. Kalau saya tidak paham, akan saya tanyakan. Mumpung saya masih menjadi Bupati belum Gubernur,” terangnya yang disambut dengan tepuk tangan anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kudus yang ikut menghadiri kegiatan tersebut.

Gunadi Siswo Nugroho (48), selaku sutradara pementasan visualisasi dhandhangan bertajuk “Rampak Bedhug Dhandhangan” tersebut, menjelaskan ada sedikit miskomunikasi antara narator yang menggunakan Bahasa Jawa. Menurutnya sudah cukup jelas, tetapi ada sedikit bagian yang mungkin kurang dipahami penonton. Tetapi secara keseluruhan berjalan dengan lancar.

“Tadi memang sempat dihentikan Pak Bupati. Mungkin ada sedikit miskomunikasi karena naratornya menggunakan Bahasa Jawa. Persiapan kami singkat, hanya sembilan hari. Menurut saya, untuk sebuah karya memang cukup dipaksakan,” jelasnya kepada Seputarkudus.com usai acara.

Pria yang akrab disapa Gunadi itu juga menjelaskan, pementasan tersebut bercerita tentang Kudus zaman dahulu. Saat Sunan Kudus hendak menabuh bedug tanda awal Ramadan, banyak masyarakat Kudus yang hadir menyaksikan. Karena ada keramaian, kemudian mengundang pedagang untuk berjualan.

“Tadi diujung pementasan ada adegan melihat hilal, kemudian dilaporkan kepada ulama. Kami tidak berani memerankan Sunan Kudus, jadi kami simbolkan para ulama. Tadi juga ada pedagang mainan otok-otok, kodok-kodokan. Selain itu juga ada lentog, legen, dawet, mewakili makanan tradisional,” ungkapnya.

Dia juga mengungkapkan, pementasan tersebut antara perpaduan eandratari dan teater, tetapi lebih dominan sendratari. Gunadi juga menambahkan, pementasan tersebut melibatkan sejumlah kelompok teater yang ada di Kudus. Di antaranya, Teater Samar, Teater Tiga Koma, Teater Sekam, Teater Gatang, Teater Tali Jiwa, Teater Sembilan.

“Selain itu ada juga Komunitas Kansu dan Komunitas Pojok Kidul. Kami juga dibantu sanggar tari Ciptaning Asri dan Forum Komunikasi Terbang Papat (FKTP),” tambah warga Desa Besito, Kecamatan Gebog, Kudus itu.

 

- advertisement -

Tim Hisab dan Rukyat Tak Melihat Hilal dari Atas Gedung UMK, Tapi Yakin Sudah Muncul

0

SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Tiga theodolit dan satu teropong putih terlihat terpasang di beberapa titik lantai atas Gedung J Universitas Muria Kudus (UMK), Jumat (26/5/2018). Alat-alat tersebut digunakan sejumlah orang untuk melalukan rukyatul hilal penentuan awal Ramadan 1438 hijriyah.

Perukyat dari Badan Hisab Rukyah Daerah Kudus memantau hilal di UMK 2017_5
Perukyat dari Badan Hisab Rukyah Daerah Kudus memantau hilal di UMK. Foto: Imam Arwindra

Tim dari Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Kabupaten Kudus itu terlihat sudah menyiapkan peralatannya untuk memantau hilal dari gedung enam lantai itu sejak pukul 17.27 WIB hingga 18.01 WIB. Menurut Ketua Tim Ahli BHRD Kabupaten Kudus Muhammad Agus Yusrun Nafi’, dirinya bersama timnya tidak melihat hilal dari Gedung UMK. Hilal tak terlihat karena terhalang awan tebal.

“Saya ulangi adakah yang melihat hilal?” Tanya Nafi’ yang langsung mendapat jawaban tidak dari beberapa perukyat yang berada di lokasi.

Dia menjelaskan, dari lokasi yang digunakan rukyat awal Ramadan menurutnya sudah memenuhi kriteria. Tidak terhalang oleh pohon maupun benda-benda lainnya. Namun karena cuaca yang kurang mendukung, karena pemantauam hilal terhalang oleh awan. “Lokasi ini sudah memenuhi kriteria. Lebih baik dari pada di Colo. Kalau di Colo selain tempatnya kurang representatif juga akan terhalang oleh kabut,” jelas pengasuh Pondok Pesantren Sirajul Hannan, Jekulo, Kudus.

Nafi’ memberitahukan, tinggi hilal yakni delapan derajat. Dengan umur bulan 14 jam, 41 menit 55 detik. Menurutnya jarak matahari dengan posisi hilal (elongasi) mencapai sembilan derajat dengan keadaan miring ke selatan. “Mohon kita fokus selama 30 menit untuk melihat hilal,” tambahnya saat memberikan peringatan kepada para perukyat.

Menurutnya dengan posisi tinggi hilal delapan derajat sudah dipastikan dapat melihat hilal. Karena minimal tinggi hilal untuk bisa dilihat yakni kurang lebih dua derajat. Namun karena terhalang oleh awan tebal. Hilal belum bisa dilihat dari gedung UMK. “Di Kudus hanya di UMK saja. Namun ini hilal sudah bisa dilihat di Manado, Tanjung Kodok dan Blitar,” terang Nafi’ yang juga Ketua Lajnah Falakiyah NU Cabang Kudus.

Nafi’ meyakini, puasa sudah dapat dilakukan besok Sabtu (27/5/2017). Namun alangkah lebih baik masyarakat menunggu hasil sidang isbat yang dilakukan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia.
“Untuk yang melakukan rukyat hari ini ada BHRD Kabupaten Kudus, Kudus Astronomi Club, Qudsiyyah dan Pon Pes Sirajul Hannan Jekulo, Al-Kawaakib Kudus,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kudus Noor Badi yang datang di lokasi rukyat menuturkan, kegiatan rukyat dan hisab yakni bagian tradisi dan upaya untuk mengetahui awal penentuan awal bulan puasa. Menurutnya, upaya tersebut tidak dilalukan di Kudus saja, melainkan juga di daerah-daerah lain. “Jadi disebar, ada yang dari daerah utara, selatan dan daerah lainnya untuk mengetahui hilal sebagai penentu awal puasa, ” ungkapnya.

Selain penentuan awal puasa, metode rukyat juga dilakukan untuk menentukan awal tahun baru hijriyah dan satu syawal. Menurutnya, nanti dari hasil tersebut akan dilaporkan ke Kementerian Agama untuk menjadi bahan pada sidang isbat.

Dia mengungkapkan, secara perhitungan tinggi hilal yang mencapai delapan derajat seharusnya hilal sudah bisa dilihat. Namun karena awan yang tebal, akhirnya hilal belum bisa terlihat. “Tahun kemarin kita sudah ikhtiyar. Hari ini kita juga ikhtiyar. Untuk keputusan kita ikuti hasil sidang isbat saja,” tambahnya.

- advertisement -

Arifin Tak Butuh Masker Saat Bersihkan Sisa Miras, Meski Bau Alkohol Amat Menyengat

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Beberapa petugas kebersihan berseragam merah terlihat sibuk membersihkan pecahan botol di Simpang Tujuh, Kudus. Dengan menggunakan cangkul, mereka terlihat mengumpulkan pecahan botol untuk dipindah ke dalam bak truk. Meski harus menginjak pecahan botol dan mencium aroma alkohol yang menyengat, mereka tampak tak mengenakan masker.

Petugas membersihkan sisa pemusnahan miras di Simpang Tujuh Kudus 2017_5
Petugas membersihkan sisa pemusnahan miras di Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra

Dengan mengenakan sepatu karet dan boat, tak sampai setengah jam mereka sudah memindahkan pecahan botol. Menurut petugas  kebersihan dari Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Kudus Muhammad Arifin, pecahan botol miras tersebut akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Desa Tanjungrejo, Jekulo, Kudus.

Baca juga: 10 Bulan Polres Kudus Sita Ribuan Botol Miras, Jelang Ramadan Dimusnahkan

“Dibuangnya nanti di TPA Tanjungrejo. Memang setiap tahunnya seperti itu,” ungkapnya saat ditemui usai membersihkan pecahan botol setelah pemusnahan miras hasil oprasi yang dilakukan Polisi Resor (Polres) Kudus periode Agustus 2016 sampai dengan Mei 2017, Rabu (24/5/2017).

Arifin mengaku sudah terbiasa membersihkan pecahan botol dan merasakan aroma menyengat dari miras. Menurutnya setiap ada kegiatan pemusnahan miras, dia selalu mendapatkan tugas untuk membersihkan sisa–sisa pecahan botol. “Ah sudah biasa, setiap tahun pasti ada,” jelasnya yang sudah bekerja selama 10 tahun.

Saat  menghirup aroma cairan miras yang tercecer, dia juga tidak merasakan pusing maupun ingin muntah. Menurutnya, sangking terbiasanya, Arifin sudah tahan dengan aroma alkohol. Supaya tidak terkena pecahan botol, dirinya cukup hanya mengenakan sepatu karet. “Kalau yang muda-muda seperti mereka pasti tidak tahan,” tuturnya sambil menunjuk petugas kebersihan lain.

Dia mengaku heran pada pelaksanaan pemusnahan miras menjelang bulan Ramadan tahun 2017, jumlah miras yang dihancurkan tampak sedikit. Tahun-tahun lalu, botol miras yang dihancurkan 6.000 botol lebih. “Kalau ini paling hanya tiga ribuan. Tahun ini lebih sedikit,” terangnya.

Sementara itu dalam pelaksanaan Pemusnahan Miras Hasil Oprasi Pekat Jajaran Polisi Resor (Polres) Kudus periode Agustus 2016 sampai dengan Mei 2017, dalam laporan yang dibacakan Kabag Ops Polres Kudus Kompol Tugiyanto, Polres Kudus mendapatkan 4.350 botol miras dari berbagai merek, putihan 1.328 liter dan dua liter oplosan.

 

- advertisement -

BPC PHRI Kudus Launching Website dan Logo untuk Angkat Destinasi Wisata

0

SEPUTARKUDUS.COM, BARONGAN – Di lantai dua hall Eagle Coffee Kudus, terlihat sejumlah orang sedang duduk sambil sesekali meminum teh maupun kopi yang dihidangkan di atas meja. Di depan mereka, tampak berdiri seorang pria yang sedang menjelaskan tentang website dan logo Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kudus terbaru. Pria tersebut adalah Tris Suyitno, Ketua Harian Badan Pimpinan Cabang (BPC) PHRI Kudus.

Ketua Harian BPC PHRI Kudus Tris Suyitno menjelaskan website dan logo 2017_5
Ketua Harian BPC PHRI Kudus Tris Suyitno menjelaskan website dan logo. Foto: Sutpo Ahmad

Kepada Seputarkudus.com, Tris, begitu dirinya disapa, mengatakan, tujuan terselenggarannya acara itu sebagai penunjang destinasi pariwisata di Kabupaten Kudus. Menurutnya, dengan adanya peluncuran website dari BPC PHRI Kudus, diharapkan bisa menarik maupun wisatawan domestik serta manca negara untuk berkunjung.

“Tujuan launching website dan logo oleh PHRI kudus sebagai sarana penunjang pariwisata. Dengan adanya website ini, kami harapkan bisa menjembatani stakeholder yang ada untuk memajukan pariwisata di Indonesia, khususnya Kudus,” ungkap Tris saat ditemui seusai launching, di Jalan Jendral Sudirman nomor 1, Desa Barongan, Kecamatan Kota, Kudus.

Dia mengatakan, semakin banyak wisatawan yang berkunjung, diharapkan dapat membantu memajukan perekonomian di daerah. Menurutnya, website www.phrikudus.com berisi tentang seputar PHRI, hotel dan restoran sekaligus info terkait desa wisata Kudus. “Pariwisata di Kudus sangat bagus, hanya kurang promosi dan terkesan berjalan sendiri-sendiri,” ujar Tris perwakilan dari Hotel King’s Kudus.

Tris memberitahukan, kepengurusan PHRI kudus terbentuk dan mulai ditetapkan oleh Badan Pimpinan Daerah (BPD) Semarang sejak 2013 dan berakhir hingga 2018. Terkait dengan jumlah keanggotaan, katanya, terdapat 34 anggota yang terdiri dari 26 hotel dan 8 restoran. “Delapan restoran yang bergabung termasuk Mubarokfood Cipta Delicia,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Yuli Kasianto yang hadir dalam acara tersebut, mengatakan, PHRI Kudus harus dapat menjadi warna bagi perkembangan pariwisata di kota Kudus. Dia mengimbau, bagi semua pihak yang berkecimpung di dunia perhotelan dan restauran agar benar-benar memberikan pelayanan yang terbaik bagi pengunjung yang datang.

“Bagi semua pengurus PHRI Kudus, kami mengimbau agar benar-benar menjaga apa yang namanya pelayanan. Baik dari segi kebersihan, sumber daya manusia (SDM) maupun cara penyajian dalam menghidangkan makanan. Penyajian yang bagus supaya menjaga nama baik Kudus,” ungkap Yuli waktu menyampaikan sambutan di hadapan seluruh anggota BPC PHRI Kudus.

- advertisement -

Jelang Ramadan, Pembersih Makam di Kaliputu Bisa Kantongi Rp 1 Juta Sehari

0

SEPUTARKUDUS.COM, KALIPUTU – Langit di ufuk barat mulai memerah saat banyak warga memanjatkan doa di Makam Sedo Mulyo, Jalan Sosrokartono, Desa Kaliputu, Kecamatan Kota, Kudus. Terlihat pula beberapa orang tampak sibuk membersihkan makam. Satu di antaranya Kasdono (54). Dia membersihkan makam karena diminta sejumlah peziarah dan berharap mendapat imbalan.

Sejumlah orang membersihkan makam di Kaliputu, Kota, Kudus 2017_5
Sejumlah orang membersihkan makam di Kaliputu, Kota, Kudus. Foto: Rabu Sipan

Seusai membersihkan makam, pria yang akrab disapa Dono itu sudi berbagi kisah kepada Seputarkudus.com tentang pekerjaannya itu. Dia mengungkapkan mulai menjadi pembersih makam di sana sejak delapan tahun lalu. Menurutnya, dalam kurun waktu tersebut setiap menjelang Ramadan, dia beserta pembersih makam lainnya mendapatkan banyak mendapat permintaan peziarah.

“Setiap menjelang Bulan Puasa kami (pembersih makam) banyak mendapat permintaan dari peziarah. Biasanya sepekan menjelang Ramadan, masyarakat melakukan ziarah kubur. Dan para peziarah itu biasanya menggunakan jasa kami untuk membersihkan makam para leluhurnya. Selama ramai peziarah itu aku bisa mendapatkan upah antara Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta sehari.” ujarnya, kemarin.

Warga Desa Kaliputu, Kota, Kudus itu mengungkapkan, tidak mematok besaran upah untuk membersihkan makam. Dia mengaku menerima berapapun pemberian para para peziarah. Tapi, biasanya mereka memberi imbalan mulai dari Rp 10 ribu, Rp 20 ribu, bahkan hingga Rp 100 ribu untuk satu makam.

“Bahkan beberapa peziarah itu ada yang memberi Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu, biasanya itu yang datang daerah yang jauh,” ujar pria yang juga sering menjadi penggali kubur tersebut.

Senada dengan Dono, Santoso (54) yang juga sering diminta membersihkan makam di Makam Sedo Mulyo, mengatakan setiap sepekan menjelang Ramadan makam selalu ramai peziarah. “Makam Sedo Mulyo itu makam umum untuk beberapa desa. Oleh karena itu yang dimakamkan di tempat ini sangat banyak. Sehingga saat menjelang puasa itu selalu ramai peziarah,” ujarnya tanpa mau menyebut nominal.

Dia menambahkan, tahun lalu dirinya mampu mendapatkan uang Rp 1,5 juta sehari dari upah membersihkan makam. sama dengan pembersih makam yang lain, dia juga mengaku tidak mematok harga tertentu. Hal tersebut dilakukannya karena tidak ingin membebani para peziarah.

- advertisement -

10 Bulan Polres Kudus Sita Ribuan Botol Miras, Jelang Ramadan Dimusnahkan

0

SEPUTARKUDUS.COM, SIMPANG TUJUH – Ribuan botol minuman beralkohol terlihat tertumpuk di atas tikar pandan Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. Tampak kendaraan berat menghadap disiapkan utnuk menggilas ribuan botol minuman tersebut pada kegiatan Pemusnahan Miras Hasil Oprasi Pekat Jajaran Polisi Resor (Polres) Kudus. Botol-botol tersebut merupakan barang bukti miras periode Agustus 2016 sampai dengan Mei 2017.

Pemusnahan barang bukti miras di Simpang Tujuh Kudus 2017_5
Pemusnahan barang bukti miras di Simpang Tujuh Kudus. Foto: Imam Arwindra

Suara letusan dan botoh kaca terdengar saat kegiatan pemusnahan miras menjelang puasa tersebut. Aroma menyengat dari cairan beralkohol membuat beberapa orang yang berada di lokasi harus menutup hidung. Tampak minuman yang dimusnahkan di antaranya, minuman jenis putihan, anggur merah, anggur kolesom, bir.

Dari berita acara kegiatan yang dibacakan oleh petugas berseragam Sabhara, jumlah barang bukti yang dimusnahkan ada 2.895 botol Berdasarkan data miras yang dimusnahkan dari Polres Kudus, putihan ada 1409 liter, anggur merah 648 botol, anggur kolesom 350 botol dan bir 493 botol.

Sedangkan hasil operasi dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Kudus yang ikut dimusnahkan jumlah keseluruhan sebanyak 1731 botol. Terdapat alkohol jenis putihan 279 botol, anggur merah 336 botol, dan anggur kolesom 168 botol, serta bir 572 botol.

Dalam laporannya, Kabag Ops Polres Kudus Kompol Tugiyanto, operasi miras yang dilakukan Polres Kudus terdapat 4.350 botol dari berbagai merek. Selanjutnya, ditingkatkan lagi melalui Operasi Pekat periode Agustus 2016 sampai dengan Mei 2017, menyita 3.949 botol miras, oplosan 2 liter dan putihan 1.049 liter. “Dan hasil operasi Satpol PP sejumlah 1.731 botol yang terdiri berbagai merek,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Kompol Tugiyanto, Polres Kudus dalam periode Agustus 2016 sampai dengan Mei 2017 juga menangani kasus sejumlah 273 kasus. Menurutnya, dari jumlah 273 kasus yang sudah disidangkan yakni 21 kasus. “Yang sudah dipersidangkan 21 kasus yakni pencurian ringan empat orang dan penjual miras 17 orang,” jelasnya.

Sementara itu, Kapolres Kudus AKBP Agusman Gurning yang berada dilokasi kegiatan menuturkan, minuman beralkohol merupakan ibunya kejahatan. Dalam keilmuan kriminal disebutnya sebagai mother of crime. Menurutnya, setiap orang yang sudah meminum minuman beralkohol akan berpotensi melakukan tindak kekerasan bahkan pemerkosaan.

“Giat akan terus kita tingkatkan, dengan bersinergi bersama pemerintah daerah. Intinya tidak tolerir Miras ada di Kudus,” ungkapnya.

Dia memastikan, selama ini miras yang ada di Kudus bukanlah produksi asli Kudus melainkan luar Kabupaten Kudus. Menurutnya, selama masih ada masyarakat yang masih mengonsumsi miras, di Kudus akan tetap ada pedagang yang menjajakan miras. “Kita ketahui bersama, selama masih ada market, selama masih konsumennya, barang itu akan masuk (Kudus),” tambah.

Saat bulan Ramadan nanti, dia berpesan kepada organisasi masyarakat dan elemen masyarakat agar tidak melakukan sweeping lokasi makanan dan hiburan. Menurutnya, jika ada elemen masyarakat yang mengetahui perihal yang kurang pas maupun penjual miras agar diinformasikan kepada polisi. Dirinya melarang masyarakat untuk melakukan operasi sendiri.

Dia juga mengancam, jika ada anggota kepolisian Polres Kudus yang berani mem-backing-i pedagang miras, dirinya tidak segan-segan menegakkan hukum Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kudus nomor 12 Tahun 2004 Tentang Minuman Beralkohol.

“Apabila ada oknum yang mem-backing-i, kami akan tetapkan hukum Perda Miras sebagaimana mestinya, siapapun oknumnya,” tambahnya.

- advertisement -

Alhamdulillah, Mbah Yatin Jual Ribuan Gerabah di Tradisi Dandangan

0

SEPUTARKUDUS.COM, DEMAAN – Di tepi barat Jalan Pangeran Puger Desa Demaan, Kecamatan Kota, Kudus tepatnya di pojok Barat Laut Perempatan Kojan tampak sebuah lapak yang berisi ratusan kreweng dan celengan. Di lapak tersebut terlihat seorang perempuan setengah baya sedang menjajakan aneka dagangannya di Dandangan Kudus. Perempuan tersebut bernama Yatin (55), penjual aneka gerabah yang sudah menjual ribuan kreweng di Dandangan tahun ini.

Mbah Yatin asal Mayong menjual gerabah di Dandangan Kudus 2017_5
Mbah Yatin asal Mayong menjual gerabah di Dandangan Kudus. Foto: Rabu Sipan

Kepada seputarkudus.com Yatin sudi berbagi penjelasan tentang berjualan di Tradisi Dandangan tahun ini. Dia mengungkapkan, meski acara Dandangan belum usai dirinya mengaku sudah mampu menjual aneka gerabah sebanyak 10 keranjang besar. Menurutnya, satu keranjang besar itu berisi sekitar 400 kreweng. Sedangkan keranjang yang berisi gerabah lainnya paling bisa muat sekitar 30 hingga 50 pcs saja.

Baca juga: Puput Rela Habiskan Libur Ujian dengan Bantu Neneknya Berjualan di Dandangan

“10 keranjang besar itu kebanyakan aku isi dengan kreweng. Setidaknya ada tujuh keranjang yang aku isi dengan kreweng. Sedangkan yang lainnya aku isi dengan celengan berbagai bentuk, serta mainan timbangan. Sebanyak 10 keranjang tersebut sudah habis terjual dan kini dalam tahap penjualan 10 keranjang lainya. Semoga saja bisa habis terjual,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Perempuan yang berasal dari Mayong, Jepara itu mengatakan, setiap tahun rutin ikut berjualan di gelaran tradisi Dandangan Kudus. Dia mengaku berjualan sejak belum punya cucu dan sekarang sudah punya lima cucu. Dan selama itu, dirinya selalu menjajakan aneka gerabahnya lebih awal Dandangan. Begitu juga dengan tahun ini, dia mulai berjualan sepekan sebelum acara Dandangan dimulai.

Diakuinya, pada Tradisi Dandangan tahun ini daya beli pengunjung turun drastis. Bahkan tuturnya, penjualan saat ini belum ada sepuruhnya dibanding Dandangan tahun lalu. Dia mengatakan, pada tahun lalu selama 17 hari mampu menjual aneka gerabah sebanyak dua mobil bak terbuka yang berisi sekitar 40 keranjang besar. Dari penjualan tersebut dia mengaku mampu mendapatkan uang sekitar Rp 15 juta.

“Aku memang baru mampu menjual sekitar 10 keranjang besar yang berisi aneka gerabah. Dan jumlah tersebut belum ada separuhnya dibanding Dandangan tahun lalu. Semoga saja diwaktu yang tersisa ini aku bisa menjual gerabah lebih banyak, setidaknya separuh dari total tahun kemarin,” ungkapnya.

Perempuan yang sudah dikaruniai lima cucu itu mengungkapkan, menjual aneka gerabah di antaranya, kreweng yang dijualnya dengan harga Rp 15 ribu per 10 pcs, atau harga ecernya Rp 1500 per pcs. Sedangkan celengan kelinci kecil dijualnya Rp 10 ribu per pcs, untuk celengan besar yang berbentuk Semar, Labu dan lainnya dihargai Rp 20 ribu per pcs.

“Selain itu aku juga menjual kendi yang aku jual dengan harga Rp 30 ribu per pcs. Panci yang terbuat dari tanah liat aku hargai Rp 3 ribu per pcs. Sedangkan celengan kura-kura aku jual dengan harga Rp 25 ribu per cps. Serta mainan berbentuk timbangan aku tawarkan antara harga Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu per unit,” jelasnya.

- advertisement -